Robin melangkah pelan. Wajahnya murung sejak keluar dari perpustakaan. Dalam perjalanannya, tak henti ia melirik ke belakang. Memastikan jika saja ada pria berambut hijau yang datang menyusulnya. Namun sayang, tidak ada tanda-tanda keberadaan pria itu sejak kemarin. Ketika Robin mengira pria itu akan menepati janjinya untuk menemaninya bekerja di hari minggu, ia justru tak menampakkan batang hidungnya.

"Olivia-chan! Konbanwa."

"Konbanwa, Bellmere-san." Robin memaksakan senyumnya. Sejujurnya sedang tak ingin mengunjungi toko sayur milik Bellmere saat ini karena ia merasa sedikit lelah. Namun ingat telah memesan beberapa lauk untuk membuat unagi sehingga tak mungkin ia tak datang untuk mengambil pesanannya.

"Apa sesuatu terjadi di perpustakaan hari ini?" tanya Bellmere menangkap kegelisahan di wajah pelanggan setianya.

Robin menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Bellmere-san. Aku hanya sedikit lelah."
"Kau ini, selalu saja memaksakan dirimu."

Gadis berambut hitam itu tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu aku tak akan berlama-lama. Sebentar ya, ku ambil pesananmu."

Robin mengangguk. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah radio yang bertengger di atas kabinet bersamaan dengan berita yang terdengar dari sana.

'... Kepala Polisi Sakazuki juga meyakinkan pada media bahwa ia dan timnya telah benar-benar mengetahui lokasi tersangka dan akan mengirimkan armada polisi dalam jumlah besar. Wakilnya, Issho-san juga mengabarkan bahwa setidaknya polisi prefektur akan terlibat dalam upaya penangkapan ini.

'"Akan ku pastikan setelah ini kasus akan tertutup dengan sempurna. Masyarakat dapat melanjutkan aktivitas dengan tenang, dan masyarakat Pulau H–"'

"Apa kau suka radio baruku?" Pertanyaan Bellmere mendistraksi konsentrasi Robin. Membuat gadis itu menoleh ke arahnya seketika.

"Apa kau baru membelinya, Bellmere-san?"

"Begitulah, ada toko elektronik yang baru saja buka diujung jalan. Dan mereka menawarkan banyak diskon di sepuluh hari pertama pembukaannya," jawab Bellmere antusias.

Robin terkekeh. "Kau benar-benar jeli dalam hal tersebut, Bellmere-san."

"Tentu saja. Ekonomi semakin tidak stabil saat Perang Dingin masih terjadi seperti ini," ujarnya seraya menyerahkan kantung plastik putih berisi bahan makanan pada Robin.

Gadis itu meraihnya. "Terima kasih, Bellmere-san."

"Hai, dou itasimashite," balas Bellmere sambil mengibaskan tangannya. "Oh iya, Olivia-chan. Apa kau punya waktu besok sore?"

"Besok sore?"

"Iya. Anak bungsuku baru kembali dari kebun jeruk kami di Wakayama. Aku ingin membuat masakan lebih banyak sebagai perayaan atas panen tahun ini. Kau mau ikut?"

Robin nampak berfikir. Sementara ia memiliki janji dengan Zoro untuk mengembalikan bukunya sebelum pria itu menggunakannya kembali rabu ini.

"Ano... sepertinya aku tidak bisa, Bellmere-san."

"Astaga. Apa kau mau bilang kalau kau tak diizinkan pulang lebih cepat oleh pria besar itu?" tanya Bellmere berkacak pinggang.

"Bu-bukan itu... aku hanya–,"

"Ayolah, ini bukan hal yang sering ku lakukan. Selain karena kau pelanggan setiaku, aku juga ingin mengenalkanmu pada putri bungsuku. Ia pasti senang memiliki teman sebaya," bujuk Bellmere keras kepala.

Robin menghela nafas panjang. Sudah lama sejak ia menghadiri acara makan malam. Sejujurnya, ia sendiri rindu dengan hangatnya percakapan yang beradu dengan kepulan asap makanan yang baru saja matang. Rindu bercengkrama dengan manusia lain saat malam tiba. Ia bahkan hampir lupa bagaimana rasanya memiliki teman cerita saat malam tiba.

Mungkin menyetujui ajakan Bellmere bukan ide yang buruk.

"Hmm... baiklah." Robin akhirnya mengiyakan.

"Aha! Itu jawaban yang ingin ku dengar. Kau benar-benar anak baik, Olivia-chan." Bellmere berseru riang.

Melihatnya, seulas senyum tersunging di bibir Robin."Kalau begitu, aku akan sampai disini jam 5 sore besok. Aku mungkin harus membantu Saulo-san membereskan perpustakaan sebelum ku pergi."

"Tak masalah. Asalkan kau datang."

"Tentu saja, Bellmere-san. Kalau begitu, aku permisi dulu." Gadis itu membungkukkan tubuhnya.

"Hai, hai. Terima kasih sekali lagi Olivia-chan! Hati-hati di jalan!"

"Ja matta, Bellmere-san."

"Matta ne!" seru Bellmere sambil melambaikan tangannya sampai menghilang di sudut jalan.

Malam ini terang. Banyak pejalan kaki yang memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di halte atau stasiun lantaran ingin menikmati lebih lama semburat oranye yang beradu dengan warna keabuan seraya berbincang dengan teman. Keindahannya juga menembus kaca kereta. Membentuk panorama di kedua retina berwarna biru safir milik gadis berwajah sendu. Ia menoleh ke sekitar. Mendapati banyaknya pelajar dan karyawan dalam kereta yang membawanya ke Shinagawa sore itu. Gadis itu melirik pantulan dirinya di kaca. Ia tak ada diantara keduanya.

Sudah sepuluh tahun terakhir sejak Robin bercita-cita mengenakan seragam sekolah. Namun usianya akan melewati batas pendidikan sekolah menengah atas dalam beberapa bulan ke depan. Ia juga tak yakin apakah bisa meneruskan ke perguruan tinggi setelah ini. Ia hanya bisa bersyukur karena Saulo mengizinkannya membaca semua buku di perpustakaan tuanya. Dan tentu saja, karena pria itu mau menemaninya berlari di sepuluh tahun terakhir hidupnya. Menghindari berbagai macam cerca dan maki. Melawan segala ancaman. Serta membunuh tatapan keji yang ditujukan padanya. Saulo, meski tragedi yang mempertemukan mereka, namun menjadi satu-satunya yang Robin miliki di dunia.

Gadis itu membuka pintu rumahnya. Sebuah apartemen sempit yang hanya terdiri dari dapur, kamar mandi dan ruang tidur. Tak ada siapapun disana. Tak ada suara apapun yang menyambutnya saat ia tiba. Hanya hening. Hanya gelap.

Robin terdiam. Kemudian melangkah lambat.

"Tadaima," ujarnya datar.

Ditaruhnya dengan asal kantung makanan yang diberikan Bellmere padanya di lantai dapur. Ditatapnya satu-satunya figura yang bertengger di dinding rumah tersebut. Sebuah foto keluarga.

"Mama." Gadis itu melanjutkan. "Bukankah kau seharusnya mengatakan okaeri? Aku sudah sampai. Aku sudah... sampai." Robin bergetar. Tubuhnya secara perlahan terduduk di lantai. Ia memeluk dirinya. Membiarkan air mata mengalir di pipinya. Tangisnya pecah. Ia terisak.

"Mama... aku tak ingin berlari lagi. Ku mohon, katakan pada mereka. Aku... aku tak ingin berlari lagi." Robin menggumam. Menumpahkan semua fikirannya. Tangan kanannya memegang dadanya kuat-kuat. Menekan rasa sakit yang ditahannya selama bertahun-tahun belakangan. "Ku mohon, aku ingin hidup. Aku... aku ingin hidup. Mama... aku takut."

Gadis itu semakin menjatuhkan tubuhnya. Membiarkan letihnya berguguran bersama dengan air mata yang tak henti membasahi wajahnya. Hingga akhirnya waktu membuatnya tertidur dalam isak.

O • O • O

"Apa dia tak datang lagi?"

"Hmm?"

"Pria berambut lumut itu. Apa dia tak datang lagi?"

Hening lama. Robin mengamati keluar jendela sebelum meyakinkan dirinya untuk menggeleng perlahan. "Tidak. Sepertinya, tidak."

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Robin telah membalut dirinya dengan sweater merah muda dan menyampirkan tas nya di bahu kiri. Kedua tangannya menjinjing sebuah paper bag berisi kotak makanan. Rambut panjangnya diikat satu ke belakang. Ia begitu cantik dengan taburan tipis bedak dan lipstik merah muda.

"Ma... dia mungkin benar-benar sibuk sekarang." Saulo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Boleh aku menitipkan bukunya padamu, Saulo-san? Dia mungkin membutuhkannya besok."

"Aku? Mana boleh begitu. Kau yang meminjamnya, kau juga yang harus mengembalikannya."

"Tapi..." Robin kembali melihat keluar jendela. "Ia bahkan tak datang hari ini."

"Kalau begitu kau yang harus menemuinya," ujar Saulo tenang. Membuat semburat merah di pipi halus Robin. "Ia datang meminjamkan bukunya padamu. Maka kau harus bertanggung jawab mengembalikannya bukan?"

"A-aku..."

"Ma... sudah hampir jam makan malam. Kau harus bergegas. Pergilah, ku izinkan kau datang terlambat besok pagi untuk menemui Zoro dan mengembalikan bukunya." Saulo mengangkat satu tangannya. Pria itu berusaha menghindari pertanyaan Robin dengan menyibukkan dirinya di meja administrasi.

Gadis itu bergeming.

"Hei! Apa yang kau tunggu? Cepat pergilah. Kau bilang wanita itu sangat menunggu kedatangan–" "Saulo-san." Robin membungkukkan badannya. "Terima kasih banyak."

Saulo mengangkat kembali kepalanya. Mengamati baik-baik gadis kecilnya yang kini telah beranjak dewasa. Gadis kecilnya yang dulu begitu rapuh, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mampu mengendalikan kekhawatirannya. Waktu benar-benar mengajarinya begitu banyak hal.

Saulo tersenyum. "Hati-hati dijalan, Olivia," ucapnya lembut.

"Kau juga, Saulo-san."

"Bersenang-senanglah."

Robin mengangguk. Kemudian melenggang pergi.

Hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki untuk mencapai rumah Bellmere. Letaknya tak jauh di belakang toko buah dan sayurnya. Sebuah rumah dua lantai sederhana yang terjepit diantara bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya. Hampir tidak terlihat lantaran sedikit menjorok ke belakang. Pagarnya terbuat dari kayu tua yang kokoh. Ada halaman berukuran kecil berisi pohon jeruk setelah melewatinya. Beberapa tanaman lain juga menggantung di teras rumah. Membuat gradasi warna yang manis antara bangunan putih dan pagar coklat tua.

Robin mengetuk pintunya. Bisa ia dengar sahutan dari dalam rumah tak lama kemudian.

"Aha Olivia-chan! Irrashai!" Bellmere merentangkan tangannya tepat setelah ia membuka pintunya. Mereka berpelukan sejenak. "Akhirnya kau datang. Ayo, masuk masuk."

"Ojyamashimasu," balas Robin dengan senyum terbaiknya.

Bellmere menggelengkan kepalanya. "Maaf kalau sedikit berantakan ya," bisiknya sambil memimpin Robin menuju ruang makan.

Rumah Bellmere mungkin tidak terlalu besar. Tapi begitu sejuk dan nyaman. Ada lorong di depan mereka yang memiliki dua shoji di sisi kiri. Setelah melewati genkan, shoji pertama yang ia lewati berisi ruang keluarga. Ada satu meja berbentuk persegi berukuran sedang di pusat ruangan dengan kabinet panjang tak jauh di sekitarnya. Ruangan itu terhubung dengan ruangan di shoji kedua. Berisi dapur dan ruang makan. Sementara ada satu pintu kayu yang Robin duga sebagai toilet di ujung lorong dibawah tangga menuju ke lantai dua. Seorang wanita berambut oranye dengan gaun rumahan berwarna merah muda turun dari sana.

"Ah! Nami." Langkah mereka terhenti di depan shoji kedua. Bellmere seketika menarik tangannya. "Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang. Kenalkan Olivia, ini Nami, putri bungsuku. Dan Nami, ini Olivia yang sering ku ceritakan padamu." Ia bulak-balik melirik Robin dan putrinya.

"Oh hai, aku Nami. Yoroshiku onegaishimasu." Gadis berambut oranye itu tersenyum ramah. Ia mengulurkan tangannya.

"Hai, Nami. Yoroshiku." Robin balas menjabat tangannya. Senyumnya masih mengembang.

"Terima kasih sudah menjadi pelanggan setia kami."

"Terima kasih juga untuk jeruknya pekan lalu," balas Robin.

Hening sebentar. Kemudian mereka tertawa kencang.

"Hai, hai, ayo kita ke ruang makan." Bellmere mengingatkan.

Sudah ada Nojiko ketika mereka tiba di ruang makan. Wanita itu masih sibuk dengan sup misonya seraya berdebat dengan seorang pria tua berwajah kesal yang duduk di balik meja makan. Ia tampak tidak ramah. Dengan kumis tebal dan kemeja coklat yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Tangannya mengatuk-atuk meja tidak sabar. Matanya lekat mengikuti Nojiko sejak tadi.

"Apa sebenarnya yang dilakukan perempuan jaman sekarang? Apa kemampuan mereka hanya sebatas ramen instan?" gerutu pria tua itu.

"Diamlah, Gen-san. Atau kau hanya akan makan nasi tanpa apapun," tukas Nojiko kesal.

"Astaga! Mereka juga mudah marah. Apa kalian menstruasi setiap hari?"

"Gen-san!"

Bellmere mendekat pada pria tersebut. "Gen-san, kenalkan pelanggan setiaku, Olivia," ujarnya berusaha mengalihkan perhatianya.

Genzo lantas melirik. Matanya membola saat melihat Robin yang sudah berdiri tak jauh di sampingnya. "Ooh, Kami-sama! Siapa yang mengundang wanita seksi ini?"

"Berhenti merayu wanita yang lebih muda darimu, kakek tua!" teriak Nami kesal.

"Konbanwa, Gen-san. Aku Olivia." Robin membungkukkan badannya.

"Olivia-chan. Mari-mari, duduk disampingku. Sini," rayu Genzo seraya mengetuk-ngetuk bangku kosong di sampingnya.

Robin terkekeh. "Biarkan aku membantu Nojiko dulu."

"Ah, tidak perlu. Kau tamu kami, biarkan itu menjadi urusanku," sanggah Nami.

"Tentu, tentu. Biarkan mereka berdua belajar memenuhi dapur ini dengan asap. Duduklah disampingku, Olivia-chan," sahut Genzo lagi. Membuat Nami hampir saja melayangkan tinjunya.

"Ah aku hampir lupa. Aku membawa unagi untuk kalian." Robin mengangkat kotak bekalnya.

"Wah, unagi buatanmu?" tanya Bellmere antusias.

Robin mengangguk. Menyerahkan kotak bekal itu pada Bellmere dan kedua anaknya.

"Kelihatannya lezat," sahut Nojiko saat melihat isinya.

"Tak kusangka kau benar-benar pandai memasak," tambah Bellmere lagi.

"Kau berlebihan, Bellmere-san."

"Hora! Lihat itu, Nami, Nojiko! Belajar banyaklah dari Olivia-chan!" Genzo berteriak lagi.

"Berisik kakek tua!" balas Nami.

"Apa kau bilang?!"

"Kakek tua!"

"Dasar tidak sopan!"

"Ini mulutku, bukan mulutmu, kakek tua!"

"Nami!"

"Diamlah!"

"Oi, Nojiko!"

"Fufufu, mereka menyenangkan." Robin terkikik.

Sudah lama sejak ia merindukan suasana makan malam seperti saat ini. Dimana tak hanya ada dirinya, tapi juga ada manusia lain yang duduk bersamanya. Entah untuk bercerita, atau mendengarkan keluh kesah yang lainnya. Lelahnya terangkat seketika. Malam ini, ia putuskan untuk tak ingin menyesali apapun. Tak ingin memikirkan apapun. Tak mau tau apapun. Tak ingin mengingat kenyataan bahwa ia seorang Nico Robin. Mereka memanggilnya Olivia, dan ia akan menjadi Olivia hingga makan malam ini berakhir.

O • O • O

Notes:

Genkan: Tempat menaruh sepatu setelah pintu masuk, umum berada dirumah tradisional Jepang