"Ichi!"
"Angkat tangan kalian lebih tinggi!"
"Hai!"
"Ni!"
"Mocca, angkat tanganmu."
Tak! Takk! Takk!
"San!"
"Momonosuke, perhatikan kuda-kudamu!"
"Hai!"
Pagi itu, dojo sibuk seperti biasa. Belasan anak beradu shinai membuat berisik salah satu kamiza di bangunan utama. Di antara mereka, seorang pria berambut hijau melipat tangannya di depan dada. Berjalan lambat di sekitar ruangan, mengawasi dengan teliti setiap gerakan tangan dan kaki murid-muridnya.
Seorang pria berkacamata datang dengan sedikit tergesa-gesa di sela-sela waktu tersebut. Kakinya mengendap-endap mendekati pria dalam kendo gi dan hakama hijau tua yang tampak serius di pusat kamiza. Ia mengusap telapak tangannya. Mengatasi rasa gugup yang selalu hinggap tiap kali akan berbicara dengan pria tersebut.
"Senpai..." panggilnya berbisik. Tak ada respon.
Melihat pria berambut hijau itu tetap pada posisinya, ia melanjutkan. "Senpai! Zoro senpaai..."
Kali ini Zoro menoleh. Diliriknya pria berkacamata yang kini sudah berdiri di sampingnya. "Ada apa, Johnny?"
"Ada yang mencarimu."
"Mencariku?"
Johnny mengangguk. "Seorang wanita cantik. Apa dia kekasihmu?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
Zoro terdiam. Tak butuh waktu lama baginya untuk menebak dengan pasti siapa yang datang. "Gantikan aku disini," titahnya sebelum pergi meninggalkan kamiza.
"Dengan senang hati, Zoro senpai!" Johnny memberi hormat. Kemudian mulai berkeliling mengamati belasan anak yang berlatih di sekitarnya. "Ayo, lebih semangat!"
Zoro menghentikan langkah saat melihat gadis itu tengah berdiri memunggunginya. Tanpa ia sadari nafasnya tertahan. Dapat ia rasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Entah karena bahagia, sedih, kecewa, atau karena amarah yang memuncak. Tapi bersamaan dengan itu semua, ia tau ia lega. Lega bisa mengetahui bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Darimana kau tau tempat ini?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Zoro terkesiap. Mengutuk dirinya sendiri atas basa-basi yang ia ajukan.
"Oh, Zoro." Gadis itu berbalik. Sedikit terkejut menyadari pria yang ia cari sudah berdiri di belakangnya. "Tak sulit menemukan dojo di Tokyo."
"Apa kau mengunjungi semuanya?"
"Ini dojo ketiga yang ku datangi. Untung saja aku tak perlu mencari dojo ke empat," jawab gadis itu tenang.
Wanita ini.
"Mau apa kau kemari?"
"Bukumu. Bukankah kau membutuhkannya besok?"
Ia masih ingat.
"Taruh saja disana, aku masih banyak pekerjaan." Setelah menunjuk lemari kecil di sudut lorong, Zoro berbalik. Kakinya dengan berat melangkah kembali ke kamiza. Beruntung, wanita itu kembali memanggilnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Langkah Zoro terhenti. Diliriknya kembali wanita itu dari sudut matanya. "Ada apa?"
"Kau tak datang ke perpustakaan sejak Senin kemarin. Kau tidak masuk sekolah hari ini. Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?" kini Zoro benar-benar mengutuk mulutnya dalam hati. Apa benar ia harus mengatakan hal ini?
"A-apa maksudmu?"
Pria berambut hijau itu berbalik. Mengamati lekat-lekat gadis di depannya. "Sekarang, katakan padaku. Apakah aku harus memanggilmu Nico Robin?"
Robin terkesiap. Dapat ia rasakan jantungnya berhenti berdetak. Nama itu. Bagaimana bisa?
"K-kau...?"
"Seseorang bernama Kuzan yang memberitahuku."
"Ku-Ku...zan? Dia... disini? Di Tokyo?" suara Robin bergetar. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
Zoro terdiam. Dapat ia lihat retina biru itu tergenang. Air mata bertumpuk di antaranya. Air mukanya pucat pasi luar biasa.
"A-apa..." Gadis itu berusaha tenang. Ia atur nafasnya sebaik mungkin agar bisa mengendalikan emosinya. Setelah beberapa detik, ia melanjutkan. "A-apa kau... baik-baik saja? D-dia... tidak melakukan hal yang buruk padamu kan?"
"Apa-apaan kau ini?" tanya Zoro sedikit berteriak. Bagaimana bisa gadis ini justru memikirkan orang lain saat ia tau ada pria misterius yang mengejarnya?
"Zoro... ma-maafkan aku."
"Pergilah."
Robin terkesiap. Hening sesaat sebelum pria itu berbalik memunggunginya. "Pergilah, atau akan ku panggil polisi."
"Zoro...?" Gadis itu terpaku. Dalam beberapa detik tak percaya pada apa yang didengarnya. Benarkah yang tadi itu keluar dari mulut Zoro? Apa semarah itu pria ini padanya?
"Ba-baiklah, aku pergi. Maaf... sudah mengganggumu." Robin berbalik. Dengan terbata ia langkahkan kakinya meninggalkan dojo.
Zoro menelan ludah. Diliriknya lagi gadis itu dari sudut matanya. Tangannya bergetar menaruh buku sejarah miliknya di atas lemari kecil di sudut lorong sebelum ia berjalan pergi.
Astaga. Apa yang sudah ku lakukan.
Robin melangkah gontai. Kini, ia tau Tokyo tak lagi sama. Ia harus segera meninggalkan kota ini secepatnya. Untuk kesekian kalinya, berlari lagi. Diliriknya sekitar dengan waspada. Sejak mengetahui fakta ia ada disini, perasaanya jadi bertambah cemas. Apa ia benar-benar tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Zoro? Bagaimana jika ia mengetahui kedekatannya dengan Bellmere dan keluarganya? Apa terjadi sesuatu pada Saulo?
Membayangkan hal tersebut, gadis itu semakin mempercepat langkahnya. Namun sayang, tubuhnya tiba-tiba beku saat menyadari seseorang telah menunggunya di halte bis tak jauh di depannya.
"Arara..." Pria itu menyeringai. Mengangkat botol sakenya ke udara.
"K-kau..."
"Hisashiburi dane, Nico Robin!"
Robin menahan nafasnya. Meyakini apa yang ia lihat. Pria yang tak asing untuknya. Pria yang sudah membuatnya berlari dalam sepuluh terakhir hidupnya. "A-Aokiji."
"Ma... Tak kusangka kau bertambah tinggi setelah dua tahun terakhir."
"B-bagaimana bisa kau disini?"
"Bagaimana bisa? Hmm... Eto, are..." Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Entahlah." Ia meneguk sakenya. Setelah meyakini isinya telah tandas, ia lempar botolnya ke tempat sampah yang tak jauh berada di sampingnya.
"Jadi," lanjutnya. "Apa yang kali ini harus ku lakukan pada buronan sepertimu?"
Robin tercekat. Tanpa ia sadari ia hampir kehilangan keseimbangannya. Tanpa fikir panjang ia gerakan kakinya dengan cepat. Berlari sejauh yang ia bisa.
"Ara..." Aokiji mengeluarkan sesuatu dari mantelnya. Sebuah pisau sepanjang 15 centi dengan mata putih kebiruan yang berkilat. Ada ornamen timbul berbentuk burung Pheonix berwarna biru di gagang putihnya. Pria itu menggenggamnya erat-erat. Kemudian lekas menyusul gadis yang telah mendahuluinya setelah memastikan tak ada orang lain selain mereka berdua dalam jangkauan pandangannya.
Robin menoleh ke belakang. Nafasnya memburu tak karuan. Aokiji hanya berjarak dua ratus meter dari dirinya. Pisaunya terhunus tajam, siap menerkam. Pandangannya kukuh tertuju padanya. Gadis itu menoleh. Mencari seseorang yang mungkin saja bisa membantunya. Namun nihil. Hanya ada seorang perempuan belia yang nampak ketakutan melihat mereka di ujung jalan.
Tidak, mencari bantuan hanya akan memperburuk keadaan. Tidak akan ada satu pun orang yang sudi percaya pada tersangka seperti dirinya. Bagaimana jika justru polisi datang beramai-ramai menangkapnya? Bagaimana jika mereka ikut menahan Saulo? Bagaimana jika Bellmere dan keluarganya ikut terjebak dalam situasi ini? Dan Zoro?
Robin memejamkan matanya, mengatur nafasnya yang terengah. Keringat tak henti mengucur di kening dan pelipisnya. Perlahan, ia menghentikan langkah. Melihat dengan seksama keadaan disekitarnya. Hingga kemudian, ia temukan gang sempit yang tersembunyi di ujung jalan. Diliriknya Aokiji dari sudut matanya, lalu ia arahkan pria itu kesana.
"Ma... Apa ia sudah menyerah sekarang?"
Robin mengamati tembok tinggi di hadapannya. Juga tembok-tembok tinggi yang saat ini mengitarinya. Entah harus bersyukur atau justru menyesal karena sudah menjebak dirinya sendiri disana. Tak ada benda apapun yang dapat ia genggam untuk melawan atau sekedar melindungi dirinya. Hanya ada serpihan dedaunan dan kayu lapuk yang berterbangan tertiup angin yang berhembus lebih kencang pagi itu.
"Menggali kuburanmu sendiri?"
Gadis itu menoleh. Aokiji sudah berada tak jauh di depannya. "Coba saja kalau kau berani!" serunya. Berusaha melawan ketakutannya meski ia menyadari suaranya masih bergetar hebat.
"Arara... Kau jadi lebih berani sekarang," ejek Aokiji seraya berjalan mendekat. Tangan kanannya masih menggenggam pisaunya dengan erat.
"Apa kau ingin membunuhku?"
"Menurutmu?"
"B-berjanjilah satu hal padaku."
Langkah Aokiji terhenti. Satu alisnya terangkat. Jaraknya kini kurang dari seratus meter menuju gadis di depannya.
"Jangan dekati Saulo!"
"Tch. Kekanakan sekali."
"Berjanjilah, kau dan yang lain tak akan pernah menyentuhnya lagi setelah ini." Robin berkata lemah. Air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya. Namun kenyataan bahwa ia tetap menatap tajam lawannya membuat Aokiji tak lagi meremehkan permintannya. Pria itu menunggu. Sementara nafas menggebu tak beraturan mengisi kekosongan diantara mereka.
"Bagaimana jika aku juga membunuhnya setelah mendapatkan darahmu?"
"Aku percaya padamu."
Aokiji terperanjat. Kata-kata itu tepat menusuk perasaannya. Seketika ia berlari dan mengangkat pisaunya tinggi-tinggi di udara. Robin tepat berada di hadapannya. Tak bergeming, tak berusaha melawan. Hanya memejamkan matanya ketika pisau itu telah siap menghujam jantungnya.
Ctang!
Suara besi yang saling bersentuhan membuat mata Robin kembali terbuka. Di hadapannya, telah berdiri seorang pria dalam kendo gi dan hakama hijau tua. Pria yang telah mengusirnya dengan kasar beberapa menit sebelumnya.
"Z-zoro?"
"Pergilah," sahut pria itu. Masih berupaya menahan pisau milik Aokiji dengan Wado Ichimonji dan Shandai Kitetsu di tangannya. Satu pedang lain terikat kuat di pinggulnya. Pria ini, sejak kapan?
"Ma... Aku ingat siapa dirimu," ujar Aokiji seraya melompat mundur ke belakang. "Tak kusangka kau masih peduli pada gadis yang sudah berbohong padamu."
"Pergilah," kata Zoro lagi pada Robin yang masih membeku di tempatnya. "Pergi atau akan ku biarkan pria ini menangkapmu."
Robin tersentak. Menyadari kebodohannya. Bukan waktunya ia disini. Ia harus pergi, harus meninggalkan kota ini.
Namun baru saja akan berlari, Aokiji menahannya. Beruntung, ia berhasil menghindar. Pisau tajam itu dengan mulus melewati wajahnya. Membuat jantung Robin berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Tidak, ia tak boleh mati. Setelah sepuluh tahun berlari, ia tak boleh mati disini.
Gadis itu menoleh, lalu terkesiap saat melihat Aokiji sudah siap menghunuskan lagi pisau ke leher jenjangnya. Ia berlari berusaha menghindar. Zoro menghalau di belakangnya.
Ctang!
"Perhatikan lawanmu, tuan!" ujar Zoro tenang.
Aokiji hanya tersenyum menyeringai. Ia dorong pisaunya kuat-kuat hingga membuat Zoro sedikit mundur ke belakang. Namun Zoro ayunkan pedangnya hingga memberikan jarak diantara mereka.
Lalu dalam sepersekian menit kemudian, kedua pedang itu kembali beradu dengan lawannya. Memberikan banyak perlawanan yang dengan mudah ditangkis oleh Aokiji dan pisaunya. Zoro memutar, mencari celah. Berusaha menebas pinggang kiri Aokiji yang terbuka. Sayangnya pria itu berhasil menghindar ke sisi yang lainnya. Menuju bintik buta pria berambut hijau di depannya.
Mata Zoro bergerak cepat. Mengikuti langkah Aokiji sembari menghindari ayunan pisaunya. Zoro melompat, menguatkan pertahanannya dengan menyilangkan pedangnya di udara.
"Nitoryuu, sai kuru!"
Ctang!
Suara besi yang saling bertemu terdengar jelas di udara. Aokiji berhasil menangkisnya. Membuat senjata mereka saling beradu untuk kesekian kalinya. Pria bermantel itu tersenyum tipis. Terbaca sudah kelemahan pria di hadapannya.
"Kau terlalu lambat, Roronoa-san," cibir Aokiji tenang. Membuat Zoro menaikkan tensi permainannya. Ia serang lawannya dengan cepat. Membiarkan pertahanan di lengannya terbuka. Hingga akhirnya, Aokiji berhasil memberikan luka di bahu kirinya.
"Argh!" Zoro mengerang. Dingin seketika menjalar di sekujur tubuhnya. Bahunya terasa beku. Tangan kirinya mendadak sedingin salju. Sudah ia duga, pria itu tak mungkin hanya menggunakan pisau biasa untuk memproteksi dirinya.
Suara erangan Zoro berhasil membuat Robin berhenti dari pelariannya. Gadis itu terdiam menutup mulutnya saat melihat darah segar membasahi kendo gi pria berambut hijau di belakangnya.
"Zoro!"
"Pergi!"
Melihat itu, Aokiji berlari. Ia arahkan mata pisaunya menuju leher jenjang Robin. Zoro tak tinggal diam, ia ayunkan pedangnya di udara. Ia siapkan kuda-kuda untuk mempertahankan kekuatannya. Baru saja Aokiji berbalik, Zoro dengan cepat membuat pisau putih itu terbang di udara. Pria itu terengah, mengatur nafasnya.
"Zoro," panggil Robin lagi.
"Jangan buat aku mengulanginya, Robin. Pergi!" Kali ini, pria berambut hijau itu berteriak dengan kasar. Membuat gema di antara tembok-tembok tinggi yang berdiri di sekitar mereka. Membuat gadis di depannya terperanjat karena menyadari namanya diteriakkan dengan lantang. Ia terdiam, kemudian berlari dan berbelok di ujung jalan. Meninggalkan Zoro dan Aokiji yang masih saling memberikan tatapan waspada diantara mereka.
"Arara..." Pria berkacamata bulat itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau yakin membiarkan tersangka itu pergi?"
"Diamlah." Zoro memejamkan matanya. Merasakan perih yang muncul di bahu kirinya. Ia ambil sehelai kain dari saku hakama nya lalu ia ikat kuat-kuat di kepalanya.
"Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?"
"Melindunginya."
Satu alis Aokiji terangkat. Lengannya seketika meraih sesuatu dari dalam mantelnya. Sebuah pedang bermata bening kebiruan. Ada serpihan rerumputan yang mengisi porosnya. Gagangnya membentuk balok es yang terpahat berantakan. Membuatnya nampak kokoh dan dingin di saat yang bersamaan.
Zoro menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian membuka matanya kembali secara perlahan. Memicingkannya pada Aokiji yang masih berdiri tenang di depannya. Ia tarik satu lagi pedang yang tertinggal di pinggulnya, kemudian ia selipkan di mulutnya. "Santoryuu," gumamnya bersiap, memasang kuda-kudanya.
"Ice saber!" Aokiji berlari.
"Tatsu maki!"
O • O • O
Robin tiba di perpustakaan dengan terengah-engah. Jantungnya berdegup tidak karuan. Terutama ketika papan kayu bertuliskan kata 'tutup' terpampang di jendela besarnya. Dengan cepat, gadis itu menghamburkan diri masuk ke dalamnya.
Disana, sudah ada Saulo dan seorang wanita berambut merah muda. Berbicara serius dengan raut wajah penuh kecemasan. Dapat ia lihat Saulo mendengarkan dengan baik penjelasan yang diberikan perempuan di hadapannya, hingga kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Robin terdiam. Merasa tak asing dengan perempuan yang berdiri di depannya.
"B-Bellmere-san?"
Mereka berdua menoleh. Air mukanya berubah lega saat melihat siapa yang datang.
"Oh, Robin-chan!" Bellemere berseru. Memeluk gadis itu dengan hangat. "Kukira sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Robin terkejut. "K-kau tau?"
"Ah, bagaimana aku menjelaskannya ya?" Bellmere melepaskan pelukannya. Mengamati Saulo yang tengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ano... Kami, sebenarnya merupakan teman lama, Robin. Kami sama-sama bekerja di kepolisian sepuluh tahun lalu. Bellmere berhenti setahun setelahku. Setelah aku menceritakan semua kejadian tentangmu padanya." Saulo berkata perlahan. Memberi ruang pada gadis bermata biru itu untuk mencerna semuanya.
"Maafkan kami karena tidak mengatakannya padamu sejak awal, Robin-chan." Bellmere menambahkan. "Kami hanya tidak ingin membuatmu khawatir."
"Ti-tidak masalah, Bellmere-san. Aku... aku hanya sedikit takut." Robin menghapus air matanya. Ia sunggingkan senyum tipis semampunya. Tubuhnya masih bergetar meski ia merasa lega disaat yang bersamaan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Bellmere lembut.
Robin tersentak, mendadak ingat sesuatu. "Aokiji! Saulo-san, Aokiji, dia disini. Kita harus pergi!"
"Astaga, kau sudah bertemu dengannya?" tanya Saulo cemas.
"Ya–" Robin mendadak menghentikan ucapannya. Ada yang janggal dari pertanyaan pria besar itu barusan. "Apa maksudnya aku sudah bertemu dengannya? Apa kau juga? Apa Aokiji mendatangimu?"
"Robin-chan, itu tak penting lagi. Dengar, Sakazuki dan bawahannya mulai bergerak. Ia mungkin akan tiba di sini dalam waktu singkat, kalian harus segera pergi dari sini. Tokyo bukan lagi pilihan yang baik," terang Bellmere sambil memegang kedua bahu Robin dengan lembut.
Saulo mengangguk, memberi isyarat pada Robin untuk menyetujui saran yang Bellmere ajukan pada mereka.
"Tapi... kemana?"
"Pergilah ke perkebunanku di Wakayama untuk sementara waktu. Aku sudah memberikan alamat lengkapnya pada Saulo. Ada seseorang bernama Sanji yang berjaga disana. Dan jika mereka bertanya tentang kalian, katakan saja bahwa kau adalah keponakanku. Mengerti?" ujar Bellmere menjelaskan.
Robin terdiam, kemudian memeluk Bellmere erat. Tubuh wanita ini, ia hangat. "Maaf sudah merepotkanmu, Bellmere-san. Maafkan aku."
Bellmere tersenyum. Mengelus lembut rambut gadis belia dalam pelukannya. "Kau anak baik, Robin-chan. Aku senang membantumu."
Mereka melepaskan pelukannya. Saling memandang satu dengan lainnya sebelum melirik jam dinding yang berdetak kencang di dinding ruangan. "Sebaiknya kalian bergegas," ucap wanita berambut merah muda itu mengingatkan.
Saulo mengangguk. Dengan sigap ia membereskan meja administrasinya. Dibantu Robin dan Bellmere mengumpulkan segala catatan penting yang ia punya.
"Baiklah, Bellmere. Ku titipkan sisanya padamu," kata Saulo saat persiapannya telah selesai.
"Tenang saja, kau bisa mengandalkanku."
Robin mendadak teringat sesuatu. "Bellmere-san, boleh aku menitipkan sesuatu padamu?"
"Apa itu, Robin-chan?"
Gadis itu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Setelah menuliskan sesuatu di atasnya, ia serahkan kertas tersebut pada Bellmere yang memandangnya heran.
"Apa ini?"
Robin menghela nafas panjang. "Jika nanti ada pria berambut hijau yang datang ke perpustakaan ini, ku mohon, tolong berikan ini padanya," ujar gadis itu pelan.
Bellmere tersenyum. "Ah, baiklah, aku mengerti."
"Terima kasih, Bellmere-san."
"Tak perlu berterima kasih, kau berhak mendapatkannya." Bellmere berujar sedih. "Maafkan kami karena tak memiliki banyak kekuatan untuk membelamu sejak awal."
Robin menggelengkan kepalanya. "Aku tau kalian pasti sudah melakukan yang terbaik."
"Percayalah, Robin-chan. Akan ada waktunya dimana kau akan hidup dengan tenang. Kau tak akan berlari lagi. Akan ku usahakan itu. Akan kami usahakan untukmu."
Robin tersenyum. "Ter-,"
"Sekarang pergilah." Bellmere memotong ucapan Robin. Tak ingin mendengar gadis itu berterima kasih untuk ke sekian kalinya.
Saulo berjalan mendekat ke arah mereka. "Baiklah kalau begitu Bellmere, kami pergi dulu."
"Hati-hati dijalan."
"Jaga dirimu baik-baik, Bellmere-san."
"Hai! Sampai bertemu lagi, Olivia-chan!" seru Bellmere saat melihat Saulo dan Robin mulai menghilang dari pandangannya.
O • O • O
Zoro menghentikan langkahnya tepat disaat ia melihat Saulo keluar dari perpustakaan. Pria besar itu terlihat sedikit kesulitan saat mengunci pintu kayu dihadapannya lantaran besi kunci yang mulai berkarat. Ia menoleh ke kanan. Mendapati seorang pria berambut hijau mengamatinya dari kejauhan.
"Oh, Zoro-san?" tanyanya memastikan ia tak salah menyebut nama pria tersebut.
"Konnichiwa, Saulo-san." Zoro membungkukkan badannya. "Apa perpustakaanmu tutup lebih awal?"
"Begitulah," jawabnya seraya mendekat pada Zoro. "Olivia sedang pulang cepat hari ini. Maka dari itu aku memutuskan untuk juga pulang lebih awal. Sulit untuk seorang pria tua sepertiku beres-beres sendirian hingga malam. Hahaha." Ia tertawa lantang.
Zoro tersenyum simpul.
Saulo kembali mengamatinya. "Apa kau butuh sesuatu, Zoro-san? Berniat mengambil buku sejarahmu kembali?"
"Kau tau?"
"Tentu saja. Tadi sore Olivia menitipkannya padaku. Tapi ku bilang padanya untuk bertanggung jawab dan mengembalikan sendiri apa yang telah ia pinjam."
"Ah, begitu."
Saulo tersenyum. "Ada pesan yang ingin kau sampaikan padanya, anak muda?"
"Hmm." Zoro menundukkan kepalanya. Berfikir sejenak kemudian kembali memandang pria besar dihadapannya. "Sejujurnya, aku kesini untuk mencarimu, Saulo-san."
Saulo mengernyit. Telunjuk kanannya menunjuk wajahnya sendiri. "Mencariku?"
"Ya." Zoro mengangguk. "Kalau kau memiliki waktu, bisakah bicara sebentar? Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu."
"Are?" Saulo tertawa. Kemudian tersenyum nakal ke arah Zoro. "Apa ini mengenai Olivia?"
Zoro tersenyum tipis. Kemudian menggeleng mantap. "Bukan. Bukan Olivia. Tapi Robin. Nico Robin."
O • O • O
Hai semuanya!
Maaf karena sempat hiatus beberapa bulan belakangan. Bukan karena tak ingin melanjutkan, hanya saja, kemarin sempat benar-benar kehabisan kosa kata dan buntu dengan apa yang harus ku tulis :"(
Beruntung scene keren Zoro di Wano akhirnya muncul dan membuatku... ting! mendapatkan semangat lagi untuk melanjutkan cerita ini. Dan tentu saja, karena membaca review kalian yang begitu penasaran dengan kelanjutannya :"D
Terima kasih untuk kalian yang terus mengikuti ceritaku. Kalian benar-benar baik!
Setelah ini kisah mereka akan lebih rumit. Tapi semoga kalian tak bosan membacanya.
Untuk karakter yang lain... hmmm. Biar ku jawab nanti ya. Hihi
Masih ku tunggu reviewnya. Dan terima kasih banyaaaaak :"D
