Halooo, terima kasih atas review kalian yang tak kusangka masih menunggu dan mengikuti cerita ini. Aku benar benar terharu :")
Baiklah, sebelumnya, menjawab begitu banyak yang penasaran tentang apakah akan ada karakter lain yang muncul, seperti Luffy misalnya. Hmm...
Sejak awal aku membuat ini, sebenarnya tak terfikirkan akan memunculkan mereka semua karena khawatir ceritanya akan semakin meluas. Sementara fokusku disini hanya pada Zoro dan Robin. Dan karena aku ingin membuat cerita senyata mungkin, agak sulit untukku membayangkan Chopper atau Jinbei dalam bentuk manusia. Hehehe. Maka dari itu, sungguh maafkan diriku, bagi kalian penggemar crew yang lain, semoga tak mengurangi antusias kalian membaca fict ini. Sebagai gantinya, akan aku usahakan memunculkan mereka semua. Tapi bersabarlah, mereka mungkin akan muncul di Chapter yang tepat. Hihi :p
Sekali lagi, ku tunggu review dari kalian semua. Terima kasih sudah mampir dan memberiku semangat. Astagaa kalian benar-benar baik!
Selamat membaca! Dan ah ya - gatal sekali rasanya melihat Hiyori bersama Zoro di chapter terakhir :((
Credits to: Eichiiro Oda
O • O • O
Kedai ramen itu dipenuhi pengunjung. Kebanyakan dari mereka mengenakan kemeja rapi, dengan dasi yang telah melorot – bahkan beberapa diantara mereka telah menanggalkannya, dan tas jinjing bewarna hitam besar. Di sudut lain, beberapa pelajar tengah asyik menghabiskan ramen mereka seraya membicarakan Dragon Ball, manga yang baru saja memulai debutnya beberapa bulan lalu di majalah Weekly Shonen Jump, dan mendadak tenar seantero Jepang. Mereka tertawa. Tak mengubris wajah cemas dari dua orang pria yang duduk diantara dari mereka.
"Jadi, kau sudah tau?" Saulo meneguk gelas sake keduanya.
Zoro mengangguk. Wajahnya lurus mengamati mangkuk ramennya yang telah tandas.
"Yah," pria dihadapannya terdiam. Mantelnya telah disampirkan ke kepala kursi. Meninggalkan kemeja lengan panjang berwarna biru bergaris putih di tubuhnya. "Dia punya alasan untuk melakukan itu."
"Kau tau alasannya?"
"Hmm. Aku tak yakin aku bisa mengatakannya padamu, Zoro-san."
"Lalu," Zoro mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya. "Apa kau mengetahui hal ini, Saulo-san?" tanyanya seraya menunjukkan sebuah poster pencarian pada Saulo.
Pria tua itu terbelalak. Ia hampir saja menjatuhkan gelas sake dalam genggamannya.
"Kau?" katanya kalut. "Darimana kau mendapatkan ini?"
"Seseorang memberikannya padaku sepulang dari Festival Hanami."
"Seseorang? Sebutkan padaku ciri-cirinya!"
"Ma..." Zoro berusaha mengingat. "Dia tinggi, lebih tinggi dariku. Dengan rambut keriting dan kacamata berbentuk bulat. Tidak terlalu kurus, tapi juga tidak terlalu gemuk. Seingatku ia mengenakan mantel coklat dan membawa tas ransel di pundaknya. Ia menyampaikan salam untukmu dari Ku–,"
"Aokiji," gumam Saulo gemetar. Ia tak menyangka pria itu kembali menemukan mereka.
"Kau mengenalnya?" tanya Zoro kebingungan melihat perubahan raut wajah pria paruh baya dihadapannya.
Saulo menghela nafas panjang. "Ya. Dia yang membuat kami hidup berpindah-pindah selama sepuluh tahun terakhir." Ia meneguk kembali sakenya. Berusaha tetap bersikap tenang.
Zoro menautkan kedua alisnya. "Apa maksudmu? Apa kau–"
"Zoro, apa aku bisa percaya padamu?"
Pria berambut hijau itu terdiam. Sedikit terkejut karena Saulo tiba-tiba bangkit dan memegang bahunya.
"Saulo-san, tenanglah." Ia mendorong pelan pria tambun itu untuk duduk kembali di bangkunya. "Ada apa sebenarnya? Tentu saja kau bisa percaya padaku."
"Kumohon, jaga Robin bila sesuatu yang buruk terjadi padaku. Dia tidak bersalah. Dia baru berusia delapan tahun ketika menyaksikan Pulau Hashima meledak di hadapannya. Dia bahkan tidak menyadari ibunya tewas karena gas beracun memenuhi seluruh pulau." Saulo memegang keningnya. Perlahan membuat tangannya turun untuk menutupi matanya yang mulai mengeluarkan air mata. Ia menunduk. Pengaruh sake membuatnya semakin buruk. "Kumohon. Aku tak akan berani bertemu dengan Olivia di kehidupan selanjutnya bila sesuatu terjadi pada Robin."
"Saulo-san." Zoro berusaha menenangkannya. "Bicaralah perlahan. Katakan padaku apa yang kau maksud dengan Pulau Hashima? Bukankah surat kabar mengatakan tak ada penduduk yang tersisa dalam insiden itu?" tanya Zoro mengingat sebagian kecil dari berita besar mengenai pulau tersebut sepuluh tahun lalu.
"Tidak." Saulo menggelengkan kepalanya. "Robin berasal dari sana. Aku datang bersama dengan Aokiji dan pihak kepolisian yang lain untuk menghancurkan pulau itu."
"K-kau?" Zoro menatap pria didepannya tak percaya.
Saulo meneguk lagi sakenya. Menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka kembali memori kelamnya. "Negara ini masih memiliki sisa tawanan perang hingga sepuluh tahun lalu. Mereka dijauhkan dari kontak dengan dunia luar, dibiarkan kelaparan, dan dibiarkan bekerja secara paksa sepanjang harinya." Saulo mengecilkan suaranya. "Sebagian besar dari mereka bekerja di Pulau Hashima. Melakukan penambangan batu bara hingga tergantikan oleh minyak bumi sepuluh tahun silam. Tak ada yang ingin membiarkan para tawanan itu lepas setelah pemerintah menyadari mereka tak lagi berguna disana. Tentu saja, tak ingin keburukan negara ini tersebar ke dunia luar karena telah menahan warga negara asing bahkan jauh setelah perang dunia selesai."
Zoro terdiam. Mendengarkan dan mencerna dengan seksama. Denting gelas yang beradu serta ramainya suara canda dan tawa di sekitar mereka tak mendistraksi konsentrasinya.
"Ide gila kemudian muncul di kepala Sakazuki – kau tau? Dia yang menjadi kepala polisi menggantikan Sengoku-san tahun lalu. Ia bilang pada semua orang dalam forum untuk menghancurkan Pulau Hashima. Menjadikannya terlihat seperti sebuah kecelakaan."
"Dan semua orang setuju?"
"Itu hal gila, Zoro-san. Tentu saja ada banyak orang yang berfikir dua kali sebelum menyetujuinya. Pulau itu tak hanya berisi tawanan, tapi juga penduduk sipil yang tak bersalah!" Saulo mendengus kesal. Mendesah berat dan mengusap wajahnya dengan gusar. "Ma... Biar bagaimanapun, ini aib bagi Jepang. Tak ada orang yang ingin memulai kembali perang yang sudah mereda. Satu persatu dari peserta forum akhirnya mengakui ide Sakazuki. Sengoku-san tak bisa berbuat banyak, dan akhirnya menunjuknya untuk memimpin dan bertanggung jawab atas misi tersebut." Pria itu bercerita dengan nada rendah. Tangan kirinya menggoyang-goyang gelas sake di tangannya dengan lambat. Ia menghela nafas panjang. "Lalu aku terjebak disana. Ambil bagian dalam misi yang ku tolak mentah-mentah saat pertama kali Sakazuki menyuarakannya. Sungguh, Zoro-san. Bertemu Robin dan Olivia adalah satu-satunya hal yang ku syukuri dari misi biadab itu."
O • O • O
Zoro menggeliat sekali saat menyadari seseorang mengguncang tubuhnya. Bukan guncangan yang lembut. Hampir seperti paksaan. Diikuti oleh suara nyaring yang ringan dan renyah. Menyuruhnya bangun dari tidur siangnya yang nyaman.
"Oi, Zoro." Panggil orang tersebut sekenanya. Tangannya masih terus mengguncang dengan kasar. "Zoro! Zoro!"
Pria berambut hijau itu membuka matanya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk ke retinanya. Ia mengamati sekeliling. Seorang pria berhidung panjang dengan kacamata oranye yang bertengger di kepalanya, tengah mengamatinya dari bangku di seberang. Matanya bergerak memberi isyarat yang tak Zoro mengerti apa maksudnya. Sementara di depannya, seorang wanita cantik berambut hitam panjang meliriknya melalui sudut mata. Berbisik sejenak pada pria berhidung panjang tadi, kemudian kembali melihat ke depan.
Zoro mengangkat kepalanya. Merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi sebelum akhirnya menyadari seorang pria berambut hitam – sedikit berantakan, dengan luka gores dibawah mata kirinya, tengah mengamatinya sejak tadi. Zoro terdiam. Kemudian menggerakkan wajahnya memberi isyarat 'ada apa denganmu?'.
Pria tadi ikut menggerakkan kepalanya. Secara berlebihan. Berupaya sebaik mungkin untuk menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
Kening Zoro berkerut samar. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Menjawab pertanyaanmu," jawab pria itu santai.
"Kau tau apa yang ku tanyakan?"
Pria itu terdiam, kemudian menoleh pada pria berhidung panjang dan wanita cantik di seberangnya. "Oi, Ussop! Hancock! Kalian tau apa yang Zoro tanyakan?" tanyanya tanpa berupaya mengecilkan volume suaranya.
"Baka yaro, Luffy! Sssh! Sssh!" seru Ussop dengan nada rendah. Satu telunjuknya tertempel di mulutnya.
Sementara Hancock hanya menundukkan kepalanya. Menyembunyikannya dibalik lipatan tangannya diatas meja.
"Ussop! Luffy! Apa yang kalian ributkan?"
"Kyaa! Riku-sensei!"
Guru mereka menyadari suara yang ditimbulkan di belakang kelas.
"Ano... Ussop memintaku membangunkan Zoro." Luffy menjawab seraya menunjuk pria berhidung panjang yang tengah mengangguk-angguk di belakangnya.
"Hmm?" Mata Riku-sensei beralih pada pria berambut hijau yang tengah menguap di bangku belakang. "Jawab pertanyaanku, Roronoa-san. Kapan Perang Dunia II terjadi?"
Zoro tersentak. Matanya melirik salah satu kertas warna warni berisikan rangkuman penting yang tertempel di halaman buku sejarahnya.
"Ah... Dimulai pada tahun 1939, berakhir di tahun 1945," jawab pria itu berusaha tenang.
"Lalu, apa yang menyebabkan itu terjadi?"
Zoro melirik lagi kertas tersebut. "Hmm... Invasi Jerman ke Polandia?"
"Kapan Jepang melakukan invasi ke Tiongkok?"
"Tahun 1937."
"Bagus. Kalau begitu jangan biarkan otak cerdasmu itu tertidur," ujar Riku-sensei sarkatis. Setelah itu kembali menyibukkan diri pada catatan di papan tulisnya dan menjelaskan bagian-bagian penting pada murid-muridnya.
Hancock lantas berbisik ke belakang. "Ini berita besar. Ku kira tak ada apapun di balik kepala lumutnya."
Ussop mengangguk. Mata mereka tertuju pada pria berambut hijau di seberangnya. "Apa kau fikir saat tertidur tadi dia melihat masa depan? Seperti bisa tahu apa yang seharusnya ia jawab?"
"Itu tak masuk akal, Ussop."
"Oi, oi. Tak ada yang tak mungkin bukan?"
"Wah, tak ku sangka kau pintar juga," sahut Luffy kagum seraya mengamati Zoro di belakangnya. Mulutnya menyeringai membentuk senyuman yang melebar.
Sementara Zoro mengalihkan pandangannya keluar jendela. "Hanya keberuntungan," gumamnya.
"Tidak, aku percaya kau pasti benar-benar pintar." Luffy bersikeras.
"Terserah kau saja."
Buku sejarah yang terbuka di depannya, ternyata tak kembali dalam keadaan sama seperti semula. Ia telah terisi penuh dengan puluhan kertas warna warni berisi catatan-catatan penting yang – harus Zoro akui – sangat membantunya. Ditulis dengan huruf tegak yang rapih dan mudah terbaca. Penuh mulai dari halaman awal hingga ke belakang. Beberapa soal yang terdapat dalam buku tersebut bahkan telah diisi dengan baik dan benar. Ah, entahlah. Hancock yang memeriksanya pagi tadi. Dan gadis itu, tentu saja heran setengah mati karenanya.
Sudah satu minggu sejak kejadian yang menyebabkan bahu kirinya terluka. Meski lukanya membaik, Zoro tak akan pernah lupa dari mana ia bisa mendapatkan cedera tersebut. Juga tak akan pernah lupa betapa takut dan kalutnya wanita itu. Bagaimana cara ia berteriak menyuruhnya pergi, hingga ancaman yang ia layangkan padanya. Sungguh naif. Kini ia benar-benar menyesal telah melakukannya. Setidaknya, ia menyesal karena telah berteriak dengan begitu kasar. Wanita itu, Zoro tau betul ia hanya butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya.
Zoro melangkah lambat. Angin dingin yang mendominasi membuatnya mengantungkan kedua tangannya di saku celana. Matanya lurus menatap jalan didepannya hingga kemudian terhenti pada satu bangunan tua bertuliskan besar 'perpustakaan' diatasnya.
Pekan lalu, ia masih dapat melihat dari jendela besar bangunan tersebut – seorang pria bertubuh tambun di balik meja administrasi dan seorang gadis belia yang nampak asik dengan buku-bukunya. Biasanya mereka akan tersenyum ketika pengunjung masuk melalui pintu dan menjelaskan banyak hal mengenai perpustakaan mereka. Ia masih ingat senyum gadis itu ketika datang menyambutnya. Masih ingat bagaimana gadis itu menyerukan namanya. Hingga antusias yang tergambar jelas di matanya.
Kini, bangunan tersebut terlihat usang. Dengan dedaunan berwarna kekuningan yang mendominasi terasnya. Debu berterbangan di sekitarnya. Tanaman yang menggantung di sisi-sisi pintu mengering. Sementara sebagian besar rak diselimuti oleh kain putih panjang.
Zoro terdiam. Mereka benar-benar telah pergi.
"Roronoa-san?" panggil seseorang secara tiba-tiba dari belakang.
Pria yang disebutkan melirik ke asal suara. Didapatinya wanita berambut merah muda dalam balutan kemeja biru tua dan celemek coklat tengah mengamatinya dengan seksama.
Wanita itu mengangguk. Melipat tangannya di depan dada. "Tak salah lagi, rambut hijaumu itu. Pasti kau orang yang dimaksud oleh Olivia-chan."
Zoro terkejut. "Kau mengenalnya?"
"Tentu saja! Oliv – ah, tidak. Robin-chan adalah pelanggan setiaku, tahu." Wanita itu merendahkan suaranya. Kemudian tersenyum senang saat melihat wajah pria di depannya begitu penasaran tentang bagaimana bisa ia mengetahui semuanya. Ia melanjutkan, "Ikutlah denganku, ada yang Olivia-chan titipkan untukmu," tambahnya. Seraya melangkah lebih dulu meninggalkan bangunan tua di depan mereka.
O • O • O
Zoro menyandarkan tubuhnya. Tatapannya masih terus mengamati satu lembar kertas putih yang terlipat rapi di atas meja tepat dihadapannya. Sementara segelas teh hijau panas mengepul di sampingnya.
Pria itu mendesah.
"Tenanglah, Robin-chan tak bermaksud bohong padamu." Bellmere berkata seraya menaruh sepiring buah segar di atas meja. "Ia hanya terlalu lelah menerima begitu banyak penghianatan. Aku mengerti itu." Wanita paruh baya itu mengambil tempat duduk di seberang Zoro.
"Ini, hanya terlalu sulit ku pahami," gumam Zoro pelan. "Bukankah semua orang menyadari betapa bodohnya berita ini? Bagaimana bisa seorang gadis berusia delapan tahun membunuh ratusan jiwa?"
"Kau tau? Terkadang kita lebih memilih untuk tidak terlibat pada hal yang rumit. Penduduk di negara ini sudah terlalu lelah untuk berurusan dengan hukum dan pemerintahan. Bukan karena mereka tak bisa berfikir jernih, hanya saja, kehidupan mereka jauh lebih berharga. Dan harga buronan gadis itu, astaga. Kau bisa hidup tenang selama lima tahun lebih dengan uang sebanyak itu." Bellmere menyisip teh hijaunya.
Zoro mengalihkan pandangannya ke seberang. "Apa kau juga ada disana, Bellmere-san?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tapi aku ada dalam forum. Beruntung, Sengoku-san memintaku melakukan misi yang lain." Ia tersenyum samar. "Setahun setelah itu, Saulo menceritakan semuanya padaku. Tentang bagaimana Sakazuki dan yang lainnya melemparkan bom asap berisi gas berbahaya ke seluruh pulau, menghancurkan seluruh kapal nelayan dan kapal transportasi penduduk. Juga menghancurkan bangunan dengan bom dan senjata-senjata besar mereka. " Mata wanita itu menerawang. "Bayangkan, Zoro. Tiga pembangkit listrik terbesar disana diledakkan bersamaan. Juga di sepanjang jalur pertambangan. Tak ada tempat bagi mereka untuk lari. Bahkan tembakkan membabi buta ditujukan pada mereka yang berusaha melarikan diri di lautan."
Zoro tercengang. Tak menyangka kejadian sebenarnya begitu jauh berbeda dari apa yang diberitakan melalui media. "Lalu, bagaimana Robin bisa melarikan diri?"
"Saulo menemukan Robin dan Olivia – ibunya, di dekat reruntuhan sebuah bangunan. Diantara begitu banyak tubuh yang tak lagi bernyawa, ibu dan anak itu masih berada disana. Sayangnya, Olivia sudah dalam keadaan kritis ketika Saulo tiba. Sementara Robin bertahan karena ibunya menutupi hidungnya dengan kain basah yang menetralisir udara beracun disekitar mereka. Tapi tentu saja, Robin hampir mati kalau Saulo terlambat sedikit saja tiba di rumah sakit."
Pria berambut hijau itu menahan nafasnya. Membayangkan rentetan kejadian itu sungguh membuatnya mual. Gadis sekecil itu harus kehilangan keluarga dan kerabatnya, juga hampir mati ditangan orang-orang yang menjadikannya buronan selama sepuluh tahun belakangan.
"Ini gila," gumam pria itu geram. Tangannya mendadak terkepal. "Harus ada seseorang yang membongkar kebohongan ini."
"Aku tahu. Seseorang sedang mengupayakannya."
"Benarkah?"
Bellmere mengangguk.
"Siapa dia?"
"Aokiji."
O • O • O
Suasana dingin dan sepi menyambutnya ketika pintu rumah itu terbuka. Dapur adalah hal pertama yang ia lihat setelah menaruh sepatunya di genkan. Ada sebuah pintu besi di samping kabinet dapur yang mengarah ke toilet. Di seberangnya, hanya ada shoji yang dibiarkan terbuka dan menampakkan ruangan sederhana berukuran sepuluh meter persegi. Tak ada apapun disana kecuali futon, lemari kayu berukuran sedang dan sebuah meja kecil dengan sepasang bantal duduk di kedua sisinya. Hanya ada satu daya tarik di ruangan tersebut. Yakni sebuah figura berisi foto keluarga yang menggantung di salah satu dinding. Ada sepasang pria dan wanita disana. Sedang tersenyum pada kamera. Wajah mereka terlihat ramah, dengan setelan kemeja dan jas kecoklatan. Sedangkan si wanita nampak anggun dengan dress floral berlapis cardigan warna senada dengan rambutnya yang keperakan. Di pangkuan wanita tersebut, duduk seorang gadis belia berambut hitam pekat – persis ayahnya dalam foto tersebut. Dalam gaun tanpa lengan berwarna merah muda selutut. Ia memiliki mata biru dan hidung mancung seperti ibunya, serta senyuman yang manis warisan dari keduanya.
Zoro tersenyum tipis. Membayangkan betapa bahagianya Nico Robin saat foto ini diambil.
Bellmere menitipkan kunci rumah gadis itu padanya saat ia akan pergi. Entah untuk apa. Namun mengingat tak ada banyak hal yang ingin ia kerjakan di rumah, maka ia putuskan untuk singgah dan melihat-lihat. Tentu saja, perjalanannya dari Shinjuku ke Shinagawa memakan waktu cukup lama lantaran pria itu memiliki kesulitan dalam memilih rute tujuan. Atau mudahnya: buta arah.
Sudah pukul sebelas malam ketika pria itu tiba disana. Ia rebahkan sebagian tubuhnya pada futon yang terhampar. Kedua tangannya terangkat di udara, memegang tinggi-tinggi surat yang dititipkan Nico Robin untuknya. Pria itu menghela nafas berat. Lalu bangkit duduk dan mendekat pada meja.
Zoro baru menyadari ada sebuah buku catatan tertinggal disana. Persisnya, hanyalah tumpukkan kertas berukuran A5 yang digabung menjadi satu dan dijahit oleh benang wol di salah satu sisinya. Meski terlihat usang, namun buku tersebut terisi penuh catatan yang tertulis rapi dan lengkap. Beberapa lembaran kertas berisi rangkuman sejarah. Beberapa yang lainnya berisi matematika, bahasa, sains, hingga lukisan sketsa. Zoro membulak balik halamannya. Lalu berhenti pada satu lembar kosong yang hanya berisi satu kertas berwarna merah muda. Kertas warna warni yang sama seperti yang tertempel pada buku sejarahnya. Bukan berisi rangkuman, melainkan sebuah catatan sederhana bertuliskan,
Terima kasih, bukumu. Atas ilmunya, dan kesempatanku mengenal satu lagi orang baik sepertimu.
Zoro tertegun. Matanya lekat mengamati tulisan tersebut dalam diam. Fikirannya kembali terbawa ke saat dimana ia berteriak kasar pada gadis itu sepekan sebelumnya.
"Pergilah, atau akan ku panggil polisi."
Ia menunduk. Perlahan, ia buka surat yang sejak tadi berada dalam gengamannya.
Untukmu, Roronoa Zoro.
Percayalah, meski kau bukanlah orang pertama yang diam-diam ku bohongi, tapi kau satu-satunya orang yang ku takut kau akan marah padaku karenanya.
Ku tau, maafku takkan mampu membayar kekecewaanmu.
Tapi percayalah, kekecewaanku pada segala hal jauh lebih besar dari apapun.
Sungguh, kau boleh menganggapku orang lain setelah ini,
Boleh berpura-pura kau tak lagi mengenalku,
Boleh membenciku hingga mati,
Tapi kumohon, jangan larang aku untuk percaya padamu.
Karena bertemu denganmu, membuatku menghapus setidaknya satu saja kekecewaanku pada orang lain.
Terima kasih karena telah menemaniku ke Festival Hanami pertamaku.
Aku menyukainya, dan tak menyesal pergi bersamamu.
Semoga kau pun begitu.
Aku pergi. Sampai berjumpa lagi, Zoro.
Dariku, Nico Robin.
"Dasar bodoh." Zoro bergumam.
Ia rebahkan tubuhnya di lantai seraya menutup wajahnya yang memerah dengan satu tangannya. Malam itu, entah mengapa luka di bahunya merambat hingga dadanya. Bahkan terasa lebih perih dari sebelumnya.
