Empat bulan kemudian.
Keempat remaja tersebut memandang antusias sukiyaki yang baru saja matang di depan mereka. Wangi irisan daging yang tercampur dengan daun bawang dan telur menyeruak sesaat setelah tutup panci terbuka. Salah seorang wanita di antara mereka kemudian mencampurkan sawi putih dan beberapa jamur enoki ke dalamnya. Di antara panganan tersebut, juga tersedia dua botol sake, sepiring soba dan tempura.
"Kau yakin tidak ingin mencoba sukiyaki disini, Zoro?" tanya Ussop pada pria berambut hijau di sampingnya. Tangannya terangkat mencegah pria lain mengambil jatah daging miliknya.
Pria itu menggeleng. "Makanlah. Soba dan tempura lebih cocok untuk sake ku."
"Khalau bheghitu jhatah Zhoroh mhilikkuh!"
"Oi, Luffy!" Ussop menahan dengan segera tangan Luffy dari panci sukiyaki mereka. "Kau bahkan belum menghabiskan daging di mulutmu."
Pria dengan luka dibawah mata kirinya itu mendengus sebal. "Hakhu akhan makhan denghan chephat Usshop!"
"Hei–,"
"Kau boleh ambil jatah daging milikku, Luffy," ujar satu-satunya wanita disana. "Kau juga boleh tambah lagi sesukamu jika kau mau."
Luffy menelan makanan dimulutnya. "Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Oi, oi, Hancock. Bagaimana denganku?" tanya Ussop tak ingin dilupakan.
Hancock menatapnya sinis. "Habiskan saja jamur dan sawi yang tersisa di panci."
"Kau ini."
Zoro tertawa kecil. "Tambahlah. Aku yang akan bayar dagingmu," katanya pelan.
"Hontou?" Mata Ussop melebar senang. Disambut anggukan dari pria berambut hijau di sampingnya.
Segala hal berjalan dengan mudah di bulan Juli. Sejak beberapa pekan lalu, langit tak henti berwarna biru cerah berselimut udara hangat yang nyaman. Banyak berita baik tersebar di seluruh penjuru Jepang. Selain banyaknya baliho berisikan kampanye diskon besar-besaran di semua tempat wisata dan pusat perbelanjaan di sepanjang libur musim panas, juga karena seluruh universitas telah mengumumkan hasil kelulusan mahasiswa baru mereka selama dua pekan belakangan.
"Jadi, kapan kau akan pindah ke Nagoya, Luffy?" tanya Ussop mengingat sahabatnya baru saja mendapatkan surat kelulusan dari universitas negeri di Nagoya.
Pria itu nampak berfikir. "Hmm, entahlah."
"Apa kau akan menyewa tempat tinggal, Luffy? Bagaimana jika kita menyewa apartemen yang sama?" tanya Hancock sembari menatap Luffy dengan pipi bersemu merah.
"Hoi, Hancock. Bukankah kau masuk Universitas Tokyo bersama Zoro?"
"Cih, apa peduliku. Aku hanya ingin berada di kampus yang sama dengan Luffy." Gadis cantik itu menyilangkan tangannya di depan dada.
Luffy menatapnya. "Apa bisa seperti itu?"
"Yah, kurasa bukanlah hal yang sulit untuk putri seorang walikota sepertinya," kata Ussop datar.
"Jadi, apa kau dan aku akan menyewa apartemen yang sama, Luffy?" Hancock bertanya lagi. Nadanya jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
"Tidak," jawab pria itu jujur. "Kakakku tinggal di Nagoya. Dia mengajakku tinggal bersamanya."
Hancock tiba-tiba memegang dadanya. Mulutnya terbuka lebar. "A-apa kau mau mengenalkanku pada keluargamu? A-astaga Luffy, i-ini terlalu cepat!" serunya sambil menutupi wajahnya yang memerah.
Ussop mengamatinya gemas. "Hoi-hoi."
Luffy tertawa kencang.
Sementara Zoro hanya tersenyum sambil terus memegang gelas sakenya. Ini ketiga kalinya sejak empat bulan terakhir ia ikut ajakan tiga sekawan ini berkumpul di beberapa tempat. Dan harus ia akui, ternyata tak buruk juga memiliki banyak teman. Sebelum ini, hanya Johnny dan Yosaku yang bisa ia ajak bicara di dojo. Selebihnya, hanya beberapa kenalan di sekolah yang hilir mudik dan saling sapa sekenanya. Lalu, Nico Robin. Ah, ia selalu saja gusar tiap kali nama wanita itu terlintas dibenaknya.
"Zoro, kau baik-baik saja?" renyah suara Luffy membuatnya mengalihkan pandangan dari gelas sakenya. Ia berusaha tersenyum. Lalu mengangguk pelan.
"Ya."
"Kau mau dagingku?" tanya pria itu lagi. Berusaha dengan baik menutupi perasaan sedihnya saat menanyakan hal tersebut.
Zoro tersenyum. Tau benar memberikan daging pada orang lain bagi pria seperti Luffy adalah hal yang sulit. Sungguh, suatu hal yang perlu di apresiasi.
"Terima kasih, Luffy. Habiskan saja."
"Hontou? Baiklah, ku habiskan ya," balas pria itu mendadak sumringah. Dilahapnya dengan senang sepotong daging yang tersisa di piringnya.
Zoro bangkit berdiri kemudian.
"Sudah mau pergi?" tanya Hancock melirik pria berambut hijau tersebut.
Zoro mengangguk. "Hanya teringat masih memiliki pekerjaan di dojo," tambahnya.
"Ah, pelatih yang baik." Ussop berceletuk.
Pria berambut hijau itu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. "Untuk makananku dan dagingmu," ujarnya. Kemudian pamit kepada ketiga temannya dan keluar lebih dulu dari tempat makan.
O • O • O
Zoro baru saja akan masuk ke kamarnya saat mendengar sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa berusaha menghampirinya. Dilihatnya dari kejauhan, seorang pria dengan headgear merah menutupi kepalanya serta kantung mata yang tebal tengah mendekat ke arahnya.
"Ah, Zoro-senpai!" teriaknya senang.
Zoro menautkan kedua alisnya. Langkahnya terhenti tepat di depan shoji yang mengarah ke kamarnya. "Yosaku?"
"Astaga." Pria itu mengatur nafasnya. Berhenti tepat di depan Zoro dengan kedua tangan tersanggah dilututnya.
Zoro mengernyit. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Selamat, Zoro-senpai!" teriaknya seketika. Mengabaikan nafasnya yang masih tak beraturan. "Sudah ku duga kau pasti akan lulus di Universitas Tokyo!"
"Bagaimana kau tahu?"
"A-ah, i-itu." Yosaku mendadak kikuk. "Koushiro-sensei menyuruhku membersihkan kamarmu pagi ini. La-lalu, tak sengaja, ku temukan surat kelulusanmu diatas meja," jelasnya takut-takut. "Maafkan aku, Zoro-senpai."
Zoro menghela nafas panjang. "Ma, sudahlah. Kalian akan tetap mengetahuinya nanti," katanya santai. "Tapi terima kasih, sudah membersihkan kamarku."
"Tentu saja, Zoro-senpai. Dengan senang hati!" Yosaku mengangguk. Masih gugup, namun ia beranikan diri untuk menatap pria yang diidolakannya sejak dua tahun belakangan.
"Lalu? Kau berlari ke sini hanya untuk mengatakan itu?"
"Ah ya!" Yosaku mendadak teringat sesuatu. "Koushiro-sensei memanggilmu, Zoro-senpai. Ia menunggumu di ruangannya. Sepertinya juga ingin mengucapkan selamat," tambahnya bersemangat.
"Apa dia juga sudah tau?"
"Ah, ya... begitulah," jawabnya seraya terkekeh ringan.
"Kau ini," Zoro menggerutu. Kemudian berbalik dan berjalan menuju sebuah ruangan di samping kamiza utama.
"Koushiro-san," panggil Zoro dari depan shoji.
Hening sejenak sebelum muncul sahutan dari dalam. "Kaukah itu, Zoro-kun?"
"Ya."
"Masuklah."
Zoro menurut. Di gesernya shoji hingga memperlihatkan Koushiro yang tengah tersenyum simpul ke arahnya. Pria paruh baya itu masih dalam setelan kendo gi abu tuanya. Duduk di pusat ruangan dengan kaki bersila. Di hadapannya, terbuka sebuah kertas yang Zoro tau merupakan surat kelulusannya. Ada lambang Universitas Tokyo tertoreh disana.
"Duduklah," pinta Koushiro saat melihat Zoro masih berdiri di depanya.
Pria berambut hijau itu lantas ikut bersila. Matanya lurus mengamati kertas kelulusannya.
"Aku tau kau bukanlah orang yang biasa membuat kejutan, Zoro." Koushiro membuka percakapan diantara mereka. "Apa kau berniat merahasiakan ini dariku?"
Zoro menggelengkan kepalanya. "Tidak, Koushiro-san," jawabnya. Kemudian terdiam, memikirkan kalimat yang tepat untuk melanjutkan. "Aku... tiba-tiba saja aku khawatir tidak bisa menjaga dojo dengan baik."
"Ah." Koushiro menghela nafas panjang. Diambilnya kembali kertas kelulusan yang tergeletak diantara mereka. "Dojo ini sudah menjadi milikmu sejak lama, Zoro," ujar pria berambut panjang tersebut. "Semua guru disini sudah lama memperhatikanmu. Dan mereka setuju jika kau yang kelak meneruskan semangat kami untuk terus menjaga dan mengembangkan tempat ini."
Zoro terdiam. Matanya masih enggan menatap lawan bicaranya.
"Selama ini, kau hanya meneruskan apa yang Kuina cita-citakan tanpa peduli apa yang kau inginkan. Kau juga putraku. Aku hanya ingin kau melakukan apa yang tak mungkin lagi bisa Kuina lakukan. Dan kau, berhasil membuktikannya." Koushiro berkata perlahan. "Kau akan tetap menjaga dan memimpin tempat ini, meski ada, atau tidaknya kertas ini Zoro. Aku mungkin tak bisa bersama Kuina lebih lama, tapi aku senang bisa mendampingimu sampai sejauh ini."
"Koushiro-san..."
"Selamat atas kelulusanmu, Zoro-kun. Aku bangga padamu."
Zoro terdiam. Kemudian tersenyum bersamaan dengan senyum yang muncul di wajah pria paruh baya dihadapannya. Hangat mendadak menjalari dadanya. Ia menghela nafas. Lega.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Aku bisa meminta Johnny dan Yosaku menyiapkan segala sesuatu yang kau butuhkan untuk masuk universitas jika kau benar-benar ingin melanjutkannya," ujar Koushiro perlahan.
Ragu-ragu, Zoro buka suara. "Sebenarnya – kalau boleh, aku ingin meminta izin untuk ambil waktu libur, Koushiro -san."
Satu alis Koushiro terangkat. "Libur?"
Zoro mengangguk. "Tidak akan lama. Empat atau lima hari."
Koushiro tertawa. "Kau sungguh sederhana, Zoro-kun. Tentu saja aku mengizinkan. Kau tidak pernah pergi kemanapun selama ini. Pergilah."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Arigatou, Koushiro-san."
"Hai." Koushiro mengangguk. "Kemana kau akan pergi?"
"Hmm, Wakayama? Sepertinya."
"Wakayama? Itu cukup jauh dari sini. Apa kau akan mengunjungi seseorang?"
"Ah, y-ya. Begitulah," jawab Zoro gugup.
Koushiro mengusap dagunya. "Kekasihmu?"
"B-bukan! T-tentu saja bukan!"
"Hahaha. Telingamu memerah, Zoro-kun," ledek Koushiro puas. "Lagipula tak masalah juga jika kau memiliki kekasih. Ku dengar dari Johnny, ada wanita cantik mencarimu kesini beberapa bulan lalu. Benarkah?"
"Koushiro-san..." Zoro menggerutu pelan.
Pria paruh baya di depannya tertawa. "Baiklah, maafkan aku. Kau boleh pergi sekarang. Dan sekali lagi, selamat atas kelulusanmu."
"Terima kasih, Koushiro-san. Aku permisi," ujarnya seraya membungkukkan sedikit badannnya, lalu keluar dari ruangan.
O • O • O
Bunyi desis kereta yang memadamkan mesinnya terdengar bergaung di peron yang sepi pagi itu. Hanya ada segelintir orang yang keluar dari sana ketika pintunya terbuka. Termasuk diantaranya seorang pria berambut hijau dengan ransel besar dipunggungnya, dan sebuah tabung panjang – berisi katana – tersampir di pundaknya.
Ia menguap. Menarik tangannya tinggi-tinggi di udara untuk mengembalikan tulang-tulang di tubuhnya yang kaku akibat seharian berada dalam kereta.
Pria itu melanjutkan langkah. Mencari pintu keluar utama.
Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu kurang dari enam jam, berubah jadi delapan belas jam karena kebodohannya. Ia ingat Yosaku berpesan padanya untuk turun di stasiun Shin Osaka dan berganti ke kereta biasa setelah menggunakan shinkansen. Hanya saja, ia menunggu di peron yang salah hingga akhirnya menaiki kereta yang berlawanan arah. Tentu saja, membuatnya harus menunggu beberapa jam lagi untuk kembali memutar, dan menaiki kereta yang benar. Itupun, masih harus menunggu lama lantaran tak banyak jadwal kereta menuju stasiun Shirahama.
"Apa? Kau baru sampai?!" seru suara di seberang. Membuat Zoro menjauhkan sedikit gagang telfon dari telinganya.
"Bisakah kau tidak berteriak? Lagipula kau tidak memberitahuku dimana peron 3 berada."
"Astaga, Zoro-senpai. Tentu saja kau bisa dengan mudah melihat angka yang tertulis di peron bukan? Dan lagipula, bukankah sudah ku jelaskan berkali-kali untuk turun di stasiun Asso? Bagaimana bisa kau malah turun di stasiun Shirahama?"
Zoro terdiam. Wajahnya memerah. Beruntung, lawan bicaranya tak bisa melihatnya sekarang. "S-sudahlah. Sekarang beritahu aku bagaimana caranya pergi ke Iwasaki."
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Aku tak yakin apakah ada kendaraan yang bisa membawamu kesana. Tapi seharusnya Iwasaki tidak terlalu jauh untuk di tempuh dengan berjalan kaki. Jadi, pergilah ke arah timur. Ingat, Zoro-senpai, arah timur! Beloklah ke kanan ketika kau keluar dari gerbang stasiun."
"Timur? Kanan?" Zoro mengulangi.
"Hmm-hmm." Dapat pria itu rasakan lawan bicaranya mengangguk. "Timur, kanan. Jangan lupakan hal itu! Timur dan kanan!"
Mereka mengakhiri pembicaraan. Setelah berterima kasih pada petugas di ruang kendali karena telah meminjamkannya telepon, pria itu lantas berjalan keluar dari stasiun. Ia melihat sekeliling. Letaknya yang begitu jauh dari pusat kota membuat stasiun Shirahama begitu sepi dari pengunjung. Hanya ada satu dua kendaraan yang berlalu lalang. Juga beberapa orang yang membawa tas-tas mereka hilir mudik di jalan.
Zoro menghela nafas. Membetulkan letak tas dan tabung yang tersampir di pundaknya. Langkahnya terhenti di gerbang masuk stasiun. "Hmm, timur ya?" Pria itu melirik ke jalan di sisi kanannya. Kemudian mengangguk mantap. "Baiklah, lewat sini," gumamnya lalu memutar tubuhnya ke kiri.
Panas matahari berbanding lurus dengan sejuk semilir angin pagi itu. Menggoyang dahan pada banyak pepohonan yang mendominasi kota kecil tersebut. Dua hingga tiga rumah terlihat berdampingan. Kemudian berjarak ratusan meter sebelum menemukan tempat tinggal yang lainnya. Mayoritas jarak yang tercipta diantara rumah-rumah penduduk terisi oleh perkebunan-perkebunan kecil berisi jeruk, strawberry, persik, anggur dan lain sebagainya. Dan meski bukanlah salah satu prefektur besar, Wakayama cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan di beberapa musim libur panjang. Bukan hanya terkenal dengan perkebunan buah yang melimpah, tapi juga karena banyaknya onsen dan birunya pantai di kawasan ini.
Zoro menghentikan langkah saat menyadari ia telah menghabiskan setengah jam untuk berjalan kaki. Melepas penat, dikeluarkannya sebotol air mineral dari tas dan ditengguknya dengan cepat. Ia mengamati sekitar. Hanya ada beberapa rumah penduduk dan kebun kecil persik di sisi kanan.
"Sepertinya Yosaku menunjukkan jalan yang salah," gerutunya kesal.
Tak lama setelahnya, seorang pria tua keluar dari kebun di seberangnya. Nampak kesulitan membawa sekarung besar buah persik yang baru matang di punggungnya. Badannya yang kurus kecil membuatnya terengah-engah mengangkat beban yang dua kali lebih besar dari tubuhnya. Sesekali ia berhenti melangkah, kemudian melanjutkan sebentar, hingga akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh di depan pintu masuk kebun.
Melihat kejadian itu, Zoro lantas berlari membantunya.
"Kau baik-baik saja, ojiisan?" tanyanya seraya membantu memunguti buah-buah persik yang berserakan.
"Ah, ya. Hahaha. Aku baik-baik saja," jawab pria tua berkacamata tebal itu. Tangan kirinya memegangi punggungnya sementara tangan kanannya menggapai-gapai buah persik di sekitarnya.
"Tak masalah, biar aku saja." Zoro menawarkan. Dengan cepat mengumpulkan buah-buah tersebut lalu menutup karungnya dan menggendongnya di satu bahu. "Baiklah, harus ku bawa kemana buah-buah ini?"
"Ah, disana-disana, ke atas motor angkut itu." Pria tua itu menunjuk motor roda tiga yang memiliki tempat mengangkut barang dibelakangnya. "Taruh saja disana."
Zoro menurut. Lalu mendekat ke motor tersebut. "Apa kau mau membawanya ke suatu tempat, ojiisan?"
"Panggil saja aku Kakek Hyo, anak muda," ujar Kakek Hyo tersenyum lebar. "Dan siapa kau? Sepertinya aku tak pernah melihatmu."
Pria berambut hijau itu sedikit membungkuk. "Roronoa Zoro. Aku datang dari Tokyo."
"Ah, orang kota rupanya," celetuk Kakek Hyo sambil menyalakan mesin motornya. "Apa kau mau pergi ke suatu tempat, Zoro?"
"Begitulah." Zoro mengangguk. "Ada seseorang yang ingin ku temui di Iwasaki."
"Iwaski?" Kakek Hyo mengulangi. "Hahahaha, kau berjalan terlalu jauh anak muda. Apa kau tersesat?"
Pria berambut hijau itu terdiam. Wajahnya memerah seketika.
"Baiklah, baiklah. Kau beruntung karena aku juga akan mengantarkan persik-persik ini kesana. Ikutlah, akan ku antar kau sebagai tanda terima kasihku," ajak Kakek Hyo seraya memberikan instruksi dengan kepalanya.
Zoro tersenyum. Kemudian ikut naik dan duduk di antara karung-karung persik di belakang pria tua tersebut.
"Maafkan aku merepotkanmu tadi, Zoro." Kakek Hyo membuka pembicaraan. Mereka sudah dalam perjalanan menuju Iwasaki sekarang. "Biasanya ada anak laki-lakiku yang membantu di kebun. Tapi dia sedang ke Hokkaido jadi terpaksa aku melakukannya sendiri."
"Apa kau tetap harus mengantarkan persik-persik mu meski kau tau putramu tak ada disini?"
"Tentu saja. Buah-buah itu bisa membusuk jika hanya berdiam di kebun." Kakek Hyo tertawa. "Lagipula mereka akan lebih nikmat jika diolah menjadi hal yang lainnya."
Perjalanan mereka sempat terhenti beberapa kali untuk mengantarkan langsung buah-buah persik tersebut kepada pelanggan. Ke sebagian rumah penduduk, juga ke salah satu penginapan. Meski hanya memiliki kebun yang kecil, nyatanya orang-orang tersebut menunggu kehadirannya.
"Baiklah, tujuan terakhirku. Restoran Baratie!" serunya bersemangat. Kali ini, motornya melaju lebih cepat. "Akan ku antar kau ke tempat tujuanmu setelah ini, anak muda. Pria tua pemilik restoran ini adalah kawan lamaku, aku tak ingin mengecewakannya."
Mereka tiba di restoran tersebut dengan cepat. Sebuah restoran kecil sederhana yang berada di gerbang masuk sebuah kebun jeruk yang luas. Berkali-kali lebih luas dari kebun-kebun yang Zoro lihat di sepanjang perjalanan. Ada sebuah rumah dua lantai dari kayu di ujung kebun tersebut. Hampir tersembunyi diantara pohon-pohon jeruk yang tumbuh subur di bulan Juli. Areanya yang lebih tinggi, memudahkannya melihat rumah penduduk lain yang berada di tanah yang lebih rendah meski memiliki jarak lebih dari satu kilo dari tempatnya berdiri saat ini. Membuat tempat ini jauh lebih sunyi, dan lebih sejuk dari yang lainnya.
"Zeff kawanku!" Kakek Hyo berseru saat melihat seorang pria tua lain keluar dari restoran di depan mereka. Pria dengan janggut putih tebal dan kaki palsu di sebelah kanannya. Wajahnya terlihat tidak ramah, tapi kemudian tersenyum saat melihat siapa yang datang.
"Hyo! Aku hampir saja mencari pemasok yang lain jika kau terlambat sedikit lagi," candanya.
"Cari saja yang lain jika kau mau! Tapi kau tentu saja tak akan menemukan persik sebaik milikku," ujar Kakek Hyo membela persik-persik miliknya.
"Lalu? Siapa pria berambut aneh ini? Karyawan barumu?" Zeff melirik Zoro.
"Ah, dia Zoro. Datang dari Tokyo untuk mencari seseorang di Iwasaki. Dia yang membantuku saat aku kesulitan tadi, kau tau?" Kakek Hyo menepuk-nepuk punggung pria berambut hijau di sampingnya.
Sementara Zoro hanya membungkukkan badannya.
"Baru saja datang dua orang dari Tokyo beberapa bulan lalu, kini datang lagi orang kota sepertinya. Iwasaki bisa sempit jika terlalu banyak orang metropolitan seperti mereka." Zeff menggerutu.
"Hahaha, sudahlah. Ayo, bantu aku menurunkan persiknya," ajak Kakek Hyo pada Zeff. Meninggalkan Zoro yang masih mengamati suasana di sekitarnya.
Pria berambut hijau itu melangkah perlahan. Menelusuri dengan antusias jalan kecil yang tercipta di antara pohon-pohon jeruk di depannya. Beberapa dari mereka belum berbuah. Beberapa yang lain mulai menunjukkan buah-buah kecilnya. Siap untuk dipanen September hingga Oktober mendatang. Berwarna kuning kemudaan, dengan daun hijau yang menyegarkan pandangan. Lalu, dalam radius jangkauan matanya tersebut, ditangkapnya sesosok wanita yang membuatnya terpaku di tempatnya. Seorang wanita cantik berambut hitam panjang dalam balutan gaun floral berwarna merah muda. Rambutnya yang dibiarkan tergerai, terbang ditiup semilir angin yang bertiup lembut ke arah utara. Retinanya kebiruan. Lurus mengamati buah-buah jeruk di hadapannya.
Lalu seorang pria berambut kuning keluar dari bangunan dua lantai di belakangnya. Membawa segelas jus di tangan kanan, sementara satu tangan lainnya memegang lembut pundak gadis di depannya.
"Jusmu, Robin-chan."
"Ah, arigatou, Sanji-kun."
Sayup-sayup, Zoro mendengar percakapan mereka. Dan... apa-apaan panggilan itu?
Tanpa disadari, kakinya perlahan melangkah mundur ke belakang. Ada perasaan kecewa yang entah tiba-tiba mencuat dari dalam hatinya. Ia meringis. Tentu saja akan begini akhirnya. Bukankah ini sudah empat bulan lamanya? Bukankah ia sudah mengusirnya kala itu?
Pria berambut hijau itu lantas berbalik. Namun betapa terkejutnya ia saat mendapati seorang wanita berambut oranye sudah berdiri disana. Memicingkan mata. Mengamatinya dengan tatapan waspada.
"Siapa kau?!" serunya lantang. Membuat gema yang halus di sekitar mereka.
Zoro terkesiap. Kembali melirik ke belakang.
Benar saja, Robin dan pria itu sudah menoleh ke arahnya. Retina birunya membola. "Zoro?"
"R-Robin..."
"Oh, Robin, kau mengenalnya?" Gadis berambut oranye tadi memastikan.
Namun Robin berjalan dengan cepat. Lalu berhenti memberi jarak diantara mereka. Sempat hening sejenak sebelum gadis itu akhirnya tersenyum. Sebuah senyum yang dipenuhi perasaan lega yang bercampur dengan haru. Gadis cantik itu mengangguk.
"Ya. Aku mengenalnya."
