Halo semuanya! Ini adalah chapter tercepat yang kubuat lantaran aku benar-benar menikmati membuat chapter ini. Saking menikmatinya, sampai-sampai tak ku review ulang karena terlalu bersemangat membuat Robin dan Zoro bertemu lagi disini. Jadi, maafkan aku jika ada kesalahan dalam penulisan ya :')
Dan sekedar info - tidak penting sebenarnya, tapi saat menulis ini, lagu The Overtunes berjudul Tak Kan Kemana tak sengaja terputar sehingga membuatku jadi terbawa suasana. Hihi. Dan untuk itulah judulnya kubuat Bersenang-Senang! Dengan harapan kalian juga akan senang saat membacanya.
Dan lagi, karena aku berusaha sebaik mungkin membuat cerita ini terlihat nyata dimata kalian, maka aku upayakan setiap tempat yang ku tulis adalah tempat yang benar-benar ada di Jepang. Termasuk Konpira Shrine di Uchinokawa ini. Sehingga kalian bisa mengunjunginya di Google Maps sambil berjalan-jalan kesana saat membacanya.
Untuk reviewer tercintaku, Guest! Percayalah, saat kau bilang menunggu ceritaku, aku justru selalu menunggu review darimu. Terima kasih selalu menyemangatiku. Aku benar-benar senaang :'D
Ah ya! Chapter terakhir terlalu menyebalkan! Ingin rasanya aku menculik Hiyori dan menyembunyikannya di suatu tempat agar dia tak muncul lagi di chapter-chapter berikutnya - tapi mana bisa begitu, dia kan karakter pentingnya :((
Jadi, mari kita berfikir positif. Mungkin Oda-sensei sudah menyiapkan adegan dimana Robin mungkin akan diculik oleh Kaido, atau bajak laut lainnya untuk dipaksa membaca poneglyph - seperti yang pernah dikatakan oleh Nekomamushi di Zou island. Lalu, Zoro, Luffy dan yang lain akan datang menyelamatkannya. Hahahaha.
Credits to: Eichiiro Oda
O • O • O
"J-jadi... bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik. Kau sendiri?"
"Begitulah."
"Apa itu artinya kau lulus Universitas Tokyo?"
"Hmm... ya."
"Kau hebat."
Semilir angin meniup lembut rambut hijau Zoro, juga membuat denting pelan pada ketiga anting di telinga kirinya. Di sebelahnya, duduk seorang gadis cantik yang menjadi alasannya jauh-jauh datang ke Iwasaki. Gadis itu memejamkan mata. Merasakan damai yang merambat di sekitarnya. Kupu-kupu yang berterbangan, kepakan sayap dari puluhan burung yang bermigrasi, serangga yang bermain di antara ilalang, juga bunyi aliran Sungai Tonda yang lambat di depan mereka.
"Maafkan aku, Robin," kata Zoro pelan. Hampir berbisik.
"Untuk apa?"
"Telah begitu kasar padamu empat bulan lalu."
Robin membuka matanya. Mengalihkan pandangan pada pria disampingnya. Ia tersenyum. "Kau tak perlu meminta maaf, Zoro," ujarnya. "Sudah seharusnya kau bersikap seperti itu."
Zoro terdiam. Pandangannya lurus mengamati kawanan burung yang beristirahat di tepian Sungai Tonda di sisi seberang.
"Sikapmu jauh lebih baik dari orang-orang yang kutemui sebelumnya. Biasanya, sebagian besar dari mereka akan berpura-pura bersikap baik sebelum akhirnya memanggil polisi untuk mendapatkan harga buronanku." Robin menerawang. "Aku senang kau marah padaku dan menyuruhku pergi."
"Kau senang tinggal disini?"
"Tempat ini nyaman, aku menyukainya." Robin mengangguk.
Zoro tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
"Kau senang melihatku bahagia?"
"Aku senang melihatmu tersenyum," kata Zoro jujur. "Jangan menangis, dan jangan serahkan dirimu pada siapapun. Aku tak suka melihatmu menyerah."
Robin terdiam. Fikirannya kembali terbawa ke saat dimana ia hampir saja menyerahkan dirinya pada Aokiji beberapa bulan lalu. "Aku tak akan menyerah, aku janji," ujar gadis itu mantap.
Zoro berpura-pura menangkap ucapan yang keluar dari mulut Robin. "Aku memegangnya," ujarnya sambil mengepalkan tangan kanannya. Kemudian memasukkannya ke saku celana.
Robin tersenyum geli. "Kau simpan disana?"
"Akan ku keluarkan jika akan dicuci," canda pria berambut hijau itu. Membuat Robin tertawa. Dan membuatnya terlihat begitu cantik disaat yang bersamaan.
Zoro mengalihkan pandangan. Berusaha menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipinya. Untuk sesaat, hanya suara serangga yang mendominasi keheningan diantara mereka.
Pria berambut hijau itu berupaya membuka suaranya. Ada yang mengganjal sejak tadi.
"Sepertinya, kau mendapatkan banyak teman disini," ujarnya. Tidak bermaksud mengajukan pertanyaan.
"Maksudmu... Nami dan Sanji-kun?" Robin memastikan. Dengan sengaja menambahkan kata –kun dibelakang nama pria berambut pirang tersebut.
Zoro menelan ludahnya. "Pria itu memiliki nama yang buruk."
Robin terkikik geli. "Dia koki dari restoran Baratie. Juga membantu menjaga kebun jeruk saat tak ada siapapun disana. Sedangkan Nami, dia putri bungsu Bellmere-san."
"Lalu, apa kau... selalu memanggilnya dengan kata-kata itu?" Zoro bertanya kikuk. Sejujurnya kesal mendengar kata –kun tersemat di belakang nama koki dengan alis aneh tersebut.
Robin tak berniat menjawab. Hanya tertawa kecil melihat wajah penasaran pria berambut hijau disampingnya. Gadis itu kemudian mendongak, mengamati langit yang sudah berubah warna menjadi oranye keperakan diatas mereka. "Sebaiknya kita segera pulang, Sanji-kun pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kita," kata gadis itu bangkit dari duduknya. Seraya dengan sengaja menyebut kembali nama koki berambut pirang tersebut.
Zoro mendengus. Tapi akhirnya juga ikut bangkit dan mengekor di belakang Robin.
O • O • O
Sanji keluar dari dapur dengan wajah bahagia. Tubuhnya tak henti menari sejak tadi. Di tangannya, ada nampan berisi segelas jus jeruk dan secangkir kopi hangat. Dibawa dengan hati-hati dan penuh cinta. Dan tentu saja, dihidangkan dengan penuh perasaan.
"Jus jerukmu, Nami-san." Pria itu membungkukkan badannya.
"Hai, terima kasih, Sanji-kun."
"Dan pesananmu, Robin-chan."
"Ara, kau baik sekali, Sanji-kun."
"Apapun untuk kalian, my lady."
Pemandangan tersebut dengan mudah membuat Zoro mendengus. Matanya tak henti menatap tajam pria berambut pirang yang masih berdiri sigap di antara kedua gadis yang duduk di seberangnya. Dahinya berkerut samar. Hampir saja ia lempar garpu yang tergenggam di tangannya kalau seseorang tak mengajaknya bicara.
"Sudah lama sekali, Zoro-san!" suara Saulo menggema di ruangan. "Tak ku sangka kau akhirnya datang kemari. Terlalu rindu, eh?"
"Saulo-san." Zoro mengelak. Namun merah di telinganya muncul seketika.
Saulo tertawa. "Tak masalah, tak masalah. Kau harus memanfaatkan masa mudamu dengan baik!"
"Seharusnya kau mengatakan padaku sejak awal, Zoro! Jika aku tau ini tentang wanita, aku bisa mengantarmu lebih dulu pagi tadi."
"Dan mengabaikan persik pesananku? Hyo, kau keterlaluan." Suara Zeff yang berat ganti mengisi gema di ruang makan.
Kakek Hyo tertawa. Memukul pelan lengan Zeff dengan siku tangannya. "Tidakkah kau ingat dulu pernah membatalkan janji bermain bersamaku hanya untuk mengantar gadis yang kau suka? Astaga, Zeff. Wanita dan masa muda!"
"Kau lebih dulu melakukannya, Hyo. Meninggalkanku seenaknya dan pergi dengan sepedaku untuk menjemput kekasihmu, ingat?"
"Tentu saja aku ingat! Hahahaha."
"Astaga, bisakah kalian diam? Kalian benar-benar berisik!" gerutu seorang pria lain.
"Oh, ayolah, Genzo."
Nami menggelengkan kepalanya. Tangan kirinya menopang dagu dengan malas. Disisipnya jus jeruk di tangannya yang lain. Ia menghela nafas. "Ada apa sebenarnya dengan stamina kakek-kakek tua ini? Mereka bahkan lebih berisik dariku."
Robin terkekeh geli. "Mereka menyenangkan."
Sudah satu jam yang lalu sejak makan malam selesai. Namun tak ada satupun dari mereka yang beranjak dari meja makan. Suasana terlalu hangat. Sanji tak henti menyajikan hidangan penutup untuk mereka. Meja besar itu jadi penuh dengan berbagai macam camilan dan berbotol-botol sake. Kakek Hyo bahkan turut ikut serta untuk makan malam bersama setelah mengetahui kebun jeruk ini yang menjadi tujuan utama pria yang diantarnya.
"Oi, alis pelintir. Bawakan lagi botol sake yang lain!" Zoro berteriak. Berupaya menjauhkan koki berambut pirang tersebut dari wanita berambut hitam di seberangnya.
Sanji mendengus. "Ambil sendiri, dasar pemalas."
"Itu tugasmu, koki mesum!"
"Apa yang kau maksud dengan mesum, hah?!"
"Tentu saja itu kau, dasar penggila wanita!"
"Jaga bicaramu rambut lumut!"
"Apa kau bilang?!"
"Hai! Hai!" Nami menghentikan pertengkaran mereka. Mendorong mundur Sanji dengan kedua tangannya. "Aku mau puding cokelat Sanji-kun," pintanya untuk membuat pria itu menjauh dari Zoro.
"Hai! Dengan senang hati, Nami-swan!" Sanji berubah lunak. Tubuhnya menari-nari kegirangan menuju dapur.
Robin tersenyum geli. Kemudian terhenti saat melihat pria berambut hijau di seberangnya beranjak dari kursi.
Hampir tak banyak yang bisa Zoro lihat di malam hari. Kebun jeruk seluas lebih dari dua hektar itu tak memiliki penerangan yang cukup kecuali di jalan kecil yang membagi tiap blok jenis jeruk yang berbeda. Pria itu melangkah pelan. Kemudian menoleh ke belakang saat menyadari ada yang mengikutinya.
"Siapa disana?" tanyanya waspada. Khawatir ada seseorang yang mengawasi Robin dari kejauhan.
"Oh, Zoro-san. Ini aku," jawab sebuah suara. Disusul keluarnya sosok pria besar dari balik kegelapan.
"Saulo-san?"
"Mencari udara segar?"
Zoro mengangguk. "Begitulah."
"Boleh aku ikut?"
"Tentu saja."
Zoro kembali melanjutkan langkah. Diiringi Saulo di sebelahnya. Hening sejenak sebelum akhirnya terbuka percakapan diantara mereka.
"Terima kasih sudah kembali menemuinya, Zoro," kata Saulo lembut.
Zoro terdiam. Nampak berfikir. Tangannya terangkat mengelus Wado Ichimonji yang sejak tadi bertengger di pinggulnya. Hanya untuk berjaga-jaga, sementara dua katana lainnya dibiarkan 'beristirahat' di kamar.
"Aku percaya padanya, Saulo-san."
"Aku tahu." Saulo mengangguk. Tangannya terlipat di depan dada. "Kau mengkhawatirkannya, bukan?"
"Aku pernah berjanji padamu untuk melindunginya."
"Tak masalah jika hati kecilmu juga berkata begitu." Saulo mengedipkan sebelah matanya. "Lebih dari sekedar membuatnya merasa aman, bukankah kau juga senang melihatnya bahagia?"
Sekelebat bayangan Robin yang tertawa membuat Zoro seketika tersenyum. Ia mengangguk sekali. Hampir tak terlihat. "Aku tak suka melihatnya menangis."
"Ah, kau terlalu naif."
Mereka menghentikan langkah di depan gerbang masuk kebun. Keduanya mendongak. Saling menghela nafas panjang.
"Kau tau? Butuh waktu lama bagi Robin untuk bisa percaya pada orang lain," kata Saulo. Masih menengadah langit. "Dan dia percaya padamu. Lebih dari kepercayaan yang kau miliki untuknya, anak muda."
Zoro tersenyum tipis. Gelap membuatnya tersamarkan. Ia edarkan pandangannya ke langit malam. Mengamati dengan seksama ratusan bintang yang bersinar begitu terang di Iwasaki.
O • O • O
Hari-hari selanjutnya di kota kecil itu berjalan menyenangkan. Rumah di ujung kebun jeruk itu semakin ramai karena Kakek Hyo juga ikut menginap sembari menunggu putranya pulang dari Hokkaido. Zeff dan Sanji yang seharusnya tidur di restoran juga ikut mengisi kamar di lantai dasar. Tentu saja, tidak sekamar dengan Zoro lantaran pria berambut hijau itu lebih memilih satu kamar dengan Saulo dan Genzo.
Saulo menyisip ocha hangatnya. Punggungnya nyaman bersandar pada bangku kayu di teras. Di sebelahnya, Kakek Hyo melakukan hal serupa. Sesekali tertawa saat melihat pertengkaran yang terjadi tak jauh di depan mereka.
"Astaga, apa yang kau lakukan?" Genzo menggerutu.
"Memberikan mereka minum. Apalagi?" jawab Zoro seadanya. Tangan kanannya menggenggam alat penyiram tanaman.
"Kau fikir mereka manusia? Kau memberikannya terlalu banyak! Mereka bisa mati!"
"Benarkah?"
"Astaga, kau bahkan tak mengetahui hal tersebut?" ganti Nami bertanya seraya berkacak pinggang. Rambut oranye panjangnya bergoyang saat ia menggelengkan kepalanya. "Tak ku sangka kau dapat lulus di Universitas Tokyo."
Robin tersenyum geli. "Tak masalah, Zoro. Kau hanya perlu mengurangi airnya. Lanjutkanlah," katanya menenangkan.
Zoro mengangguk. Kali ini berusaha sebaik mungkin agar tidak melakukan kesalahan. Beruntung Robin begitu sabar menjelaskan. Beruntungnya lagi, koki berambut pirang itu sedang sibuk di Baratie. Akan sangat menyebalkan jika mendengar ejekan dari seseorang sepertinya.
"Apa kau melakukan tugasmu dengan baik, muarimo?" tanya Sanji saat mengantarkan makan siang.
"Berisik." Zoro menjawab malas. Panas yang menyengat membuat mereka meninggalkan kebun lebih cepat. Pria berambut hijau itu kini sudah duduk bersila di sudut ruang tamu.
"Apa kau lelah, anak muda?" tanya Kakek Hyo sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan koran bekas. "Sekarang kau mengerti mengapa banyak orang tua berpesan pada anak mereka untuk menghabiskan makan tanpa sisa kan? Hahahaha."
"Yah. Setidaknya ini jadi masuk akal untukku."
"Ingat, Zoro. Kau masih harus membantu menyiram kebun dan memberi pupuk besok! Aku tak akan membiarkanmu menginap secara gratis!" Nami berteriak dari dapur.
"Mellorine! Suara Nami-swan saat sedang berteriak begitu seksi!" suara Sanji menyusul entah darimana.
"Ah, Sanji-kun apa makan siang sudah selesai?"
"Hai, sedang ku kerjakaan, Nami-swaaan!"
Zoro menggelengkan kepalanya. Tak habis fikir dengan kedua makhluk tersebut.
Sisa hari itu kemudian Zoro habiskan untuk menemani Robin membeli bahan makanan di toko sayur di desa Uchinokawa seberang sungai Tonda. Zoro yang hampir tak pernah melakukannya – dan bahkan tak hapal dengan bahan makanan yang sering ia makan, mendapat banyak penjelasan sore itu. Dengan teliti Robin membantu pria berambut hijau tersebut mengenal beberapa jenis sayur dan jamur yang umum digunakan masyarakat Jepang sebagai bahan makanan mereka.
"Jadi, yang berbadan panjang ini jamur kancing?"
"Itu jamur enoki. Tidak mungkin kancing berbentuk seperti tali bukan?"
"Hmm..." Zoro menggaruk kepalanya sebelum menunjuk jamur yang lain. Sekumpulan jamur yang berkepala bulat. "Baiklah, yang ini."
"Ara, kau belajar dengan cepat." Robin tersenyum. Menepuk tangannya beberapa kali sebagai tanda apresiasi.
"Tak kusangka kau dapat menghapal semuanya. Mereka terlihat sama untukku," ujarnya kagum.
Robin hanya terkekeh kecil.
Sepulang dari sana, mereka sempatkan untuk mampir ke Kuil Konpira. Sebuah kuil kecil yang berada di antara lembah dan perbukitan. Letaknya yang berada di mulut gua di atas gunung batu, membuat pengunjung perlu menaiki beberapa anak tangga untuk mencapainya. Tak ada bangunan besar dikuil tersebut. Hanya ada chozu kecil setelah melewati torii, dan tiga buah shaden di dalam gua.
Robin memimpin dan masuk lebih dulu. Gadis itu membantu Zoro mencuci mulut di chozu sebelum kemudian membunyikan lonceng di salah satu shaden. Ia membungkukkan badan. Menepuk tangan dua kali, lalu merendahkan lagi tubuhnya sebelum memejamkan matanya.
Pria berambut hijau itu tertegun. Mengamati dalam-dalam Robin yang terlarut dalam doa. Ada setitik air yang jatuh dari matanya yang terpejam. Menandakan begitu tulus permintaan yang ia panjatkan pada dewa.
"Apa kini kau percaya pada-Nya?" tanya Zoro saat mereka sudah keluar dari kuil.
Robin tersenyum. "Aku berdoa untuk orang lain."
"Orang lain?"
"Terkadang, perasaanmu pada orang lain memaksamu untuk percaya pada Tuhan."
Zoro terdiam. Langkah kaki mereka terhenti di puncak sebuah bukit tak jauh dari kuil. Sore yang perlahan menghilang, membuat pemandangan dari atas sana terlihat luar biasa. Hijau sawah yang terhampar di bawah mereka, beradu manis dengan genting-genting kayu dan semburat kuning keperakan diatasnya. Sementara gelap sudah mendominasi barat cakrawala. Angin dingin berhembus, namun pecah oleh kepakan sayap ratusan burung tsubame yang mendominasi sebagian besar langit Iwasaki.
Zoro menatap kagum. Tak bisa ia temukan pemandangan seperti ini di langit Tokyo.
"Kau menyukainya?" tanya Robin menditorsi perhatian pria berambut hijau di sampingnya.
"Ini, mengagumkan," jawabnya terkesan. "Tak heran kau suka tinggal disini."
Gadis itu tersenyum. "Aku senang kau juga menyukainya."
"Apa kau sering kesini?" Zoro mengalihkan pandangannya pada Robin.
Gadis itu mengangguk. "Aku selalu kesini sepulang dari kuil."
"Ah, jadi kau rajin berdoa sekarang?" tanya Zoro sarkatis.
"Bukankah aku sudah menjelaskan alasannya?"
Zoro terdiam. Mengamati Robin yang mendekat pada satu batu besar disana lalu duduk diatasnya. Gadis itu menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya. Memberi instruksi pada Zoro untuk mengikutinya.
Pria itu menurut. Lalu duduk tepat disamping Robin.
"Apa kau sedang menyukai seseorang?" tanya pria itu hati-hati. Membuat kening gadis disampingnya berkerut samar.
"Menyukai... seseorang?"
"Kau bilang perasaanmu pada seseorang yang membawamu ke kuil," pria berambut hiijau itu mengulangi perkataannya.
Robin tersenyum. "Aku tak ingin kehilangan kalian, aku meminta dewa menjaga kalian semua."
"Kami tidak akan pergi, Robin."
Gadis itu menundukkan kepalanya. Tangannya terangkat menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya akibat diterpa angin yang bertiup.
"Zoro," panggilnya kemudian.
"Hmm?"
"Terima kasih sudah percaya padaku," katanya tulus. Dengan senyum yang mengembang. Dan setitik air mata yang lagi-lagi jatuh melewati pipinya.
Zoro buru-buru menghapusnya. Menatap gadis itu kesal. "Sudah ku bilang aku tak suka melihatmu menangis."
"Aku tidak menangis."
"Lalu apa air yang keluar dari matamu itu?"
"Itu tanda aku bahagia."
"Kalau begitu tertawalah, jangan buat aku sulit membedakan kapan kau bahagia dan kapan kau sedih," omel Zoro.
Robin tertawa. Kali ini lebih keras dari yang pernah Zoro lihat sebelumnya. Membuat pria itu juga ikut tertawa karenanya. Dan enggan melepaskan pandangan dari wajah gadis di depannya.
Malam itu, dingin tetap terasa hangat bagi mereka. Tumpah sudah rindu dan percakapan yang terlewati selama berpekan-pekan. Bulan dan bintang tampak bekerja sama menjadikan malam itu penuh kesan. Tak ingat lagi dengan kebun jeruk dan orang-orang yang menunggu disana. Malam itu, mereka, hanya ingin bicara.
O • O • O
Notes:
Torii : Pintu masuk kuil. Berbentuk seperti gapura. Ada yang terbuat dari kayu, atau batu.
Chozu : Tempat berisi air, untuk cuci tangan sebelum berdua, atau cuci mulut
Shaden : Menurut penganut Shinto, Shaden merupakan tempat dewa berada. Dibuat dari kayu dan semacamnya.
