Baiklah, ini chapter terpanjang yang pernah ku tulis. Lebih panjang dari Chapter ke 4 sepertinya. Dan ku harap kalian tak bosan membacanya. Hehehe

Sejujurnya, aku tak mahir dalam menceritakan adegan pertarungan. Tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya tidak terlalu berlebihan tapi juga tetap terlihat keren. Meski sebenarnya, tetap saja aku merasa kebingungan saat menulisnya. Hahaha. Ah ya, semoga hasilnya tidak terlalu buruk saat kalian baca. Maka dari itu, ku tunggu reviews dari kalian ya :')

Oke oke, Chapter 943 sepertinya belum muncul hari ini. Padahal sudah kesal sekali rasanya mengingat Hiyori main asal peluk-peluk Zoro sembarangan - Astaga, siapapun, jauhkan Zoro dari Hiyori!

Meski begitu senang rasanya melihat Yasu membongkar cerita masa lalunya bersama Oden. Tak ku sangka, dia juga memiliki niat untuk berlayar. Hahaha.

Dan oiya, apa kalian sudah melihat trivia tentang simbol yang ada di hakama milik Koushiro dan yang orang-orang kenakan di Wano? Sughoi! Aku jadi makin penasaran dari mana Koushiro dan Zoro berasal sebenarnya!

One Piece belongs to Eichiiro Oda

O • O • O

Zoro mengusap matanya yang tak henti berair sejak tadi. Tangannya menggenggam kesal pisau dapur dan bawang merah yang terus saja melompat saat ia akan memotongnya. Tak jauh di sebelahnya, berdiri pria berambut kuning dengan alis yang berputar aneh. Bersandar pada dinding dengan tangan yang terlipat di depan dada, dan rokok yang berasap di mulutnya. Matanya tajam. Raut wajahnya terlihat sama kesalnya dengan pria berambut hijau di depannya.

"Berhenti memperhatikanku!" teriak Zoro akhirnya.

"Ku tanya sekali lagi rambut lumut. Apa yang kau lakukan dengan Robin-chan ku semalam? Bagaimana bisa kalian pulang larut malam? Apa kau tak memikirkan keselamatannya?" Sanji ganti berteriak kesal. Ia injak puntung rokoknya setelah menjatuhkannya begitu saja ke lantai.

"Aku tidak melakukan apapun!"

"Aku tidak percaya padamu! Bagaimana bisa Robin-chan ku begitu kedinginan saat ia tiba semalam?"

"Kami berjalan pukul dua malam dan banyak sekali hutan di tempat ini! Apa yang kau harapkan? Dan berhentilah memanggilnya Robin-chan mu karena dia bukan milikmu!"

"Kau mulai cemburu padaku? Hah!"

"Cemburu pada koki mesum sepertimu? Yang benar saja!"

"Apa kau bilang?"

"Ku bilang aku ingin mencincangmu setelah ini!"

"Baka, kau bahkan tak mampu memotong bawang dengan benar."

"Akan ku tunjukkan cara memotong bawang dengan katana dasar alis pelintir!"

"Coba saja kalau kau bisa, akan ku injak pedangmu nanti!"

"Katana-katana ku tidak murahan seperti pisau dapurmu, ero cook!"

"Tarik ucapanmu itu, baka marimo!"

Bletak!

Pertengkaran mereka akhirnya terhenti oleh pukulan keras tepat di kepala. Nami yang melakukannya. Tentu saja, ditambah seringai tajam penuh kemarahan. "Berhenti membuat keributan sepagi ini!"

"Su-shumhimhashen, Namhi-swhan." Sanji menundukkan wajahnya.

Sementara Zoro hanya mengusap kepalanya. Pria itu kemudian melirik ke arah pintu belakang rumah – yang terletak di dapur, dan mendapati gadis berambut hitam masuk dari sana dengan sekeranjang bahan makanan yang masih basah. Baru di cuci, sepertinya.

"Biar ku bantu." Zoro menawarkan. Mendekat dan mengambil keranjang makanan tersebut dari tangan Robin.

"Ara, arigatou, Kenshi-san."

"Berhentilah memanggilku begitu."

Robin mengangkat satu alisnya. "Ada apa? Kau terlihat cocok dengan panggilan itu."

Zoro tak menjawab. Hanya menyibukkan diri dengan sayur-sayuran di keranjang tersebut.

Robin tersenyum. Ikut membantu Zoro mengeluarkannya dari keranjang dan memilah-milahnya sesuai kebutuhan mereka.

"Kau akan memasak ini semua?" tanya pria berambut hijau itu kemudian.

"Aku sudah berjanji pada Sanji-kun. Dia sudah bersusah payah menyiasati makan malam tanpa bahan makanan inti semalam. Aku akan menggantikannya pagi ini."

"Aku tak sabar mencoba masakanmu." Zoro menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya pada Robin. Gadis itu menyambutnya dengan senyuman.

"Oi, marimo!" teriak Sanji tiba-tiba. "Kau belum menyelesaikan pekerjaanmu!"

"Urusai! Tidakkah kau lihat aku sedang membantu Robin disini?"

"Baka! Kau hanya akan mengganggu konsentrasinya!"

"Ano, Sanji-kun, bisakah kau melanjutkan pekerjaan Zoro sementara ia membantuku mengambil jeruk diluar?" tanya Robin berusaha menengahi.

Zoro lantas mendelik ke arahnya. Tapi Robin hanya mengangguk samar. Sementara Sanji sudah menari-nari di tempatnya. Tangannya seketika terangkat memberi hormat.

"Hai, Robin-chan! Yorokonde!"

"Fufufu."

Zoro masih pada posisinya. "Lalu aku harus keluar sementara kau memasak disini?" protesnya.

"Kita sudah cukup terlambat untuk sarapan, Zoro. Aku dan Sanji akan memasak dengan cepat. Selama itu, bukankah aku bisa mengandalkan kemampuan pedangmu untuk berjaga diluar?" ujar gadis berambut hitam itu bernegosiasi.

Mendengar kemampuan pedangnya diakui, pria berambut hijau itu akhirnya mengangguk. "Baiklah, setidaknya aku bisa lebih baik dalam menjaga tempat ini dibandingkan pria mesum itu," katanya. Mengambil ketiga pedangnya yang tersandar di samping kabinet, lalu berjalan keluar.

"Aku mengandalkanmu, Zoro-kun." Robin menambahkan.

Membuat langkah Zoro terhenti seketika. Telinganya memerah. Ia menelan ludahnya. "B-baiklah," sahutnya pelan. Kemudian berjalan lebih cepat keluar dari dapur.

Genzo dan Kakek Hyo adalah pemandangan pertama yang ia lihat ketika memasuki ruang tamu. Kedua pria tua itu tengah duduk berhadapan di sebuah bangku kayu, dengan mata yang tajam mengamati papan catur tradisional jepang di depan mereka. Wajah mereka menampakkan keseriusan yang luar biasa. Sesekali tangan mereka terangkat untuk mengacak-acak rambut atau sekedar mengusap dagu. Terlalu serius hingga tak menyadari kehadiran pria berambut hijau yang sudah bersila di ambang pintu seraya mengamati mereka berdua. Tak lama di sela-sela waktu tersebut, Saulo kemudian datang. Masih dengan kaus oblong yang nampak sempit ditubuhnya, juga rambut yang berantakan. Ia menguap. Mengusap-usap janggutnya dengan satu tangan.

"Ah, ohayou, Zoro-san!" sapanya saat melihat pria muda itu.

Zoro mengangguk. "Ohayou gozaimasu, Saulo-san."

"Sendirian? Dimana Robin?"

"Dia di dapur bersama Nami dan alis pelintir," jawab Zoro sekenanya.

"Ah, lalu Zeff?"

"Sepertinya dia sudah di Baratie. Aku tak melihatnya sejak tadi."

Saulo mengangguk. "Dia benar-benar pekerja keras," ujarnya. Pria besar itu ikut bersila di samping Zoro. Lalu menguap sekali lagi. "Kudengar kau akan kembali ke Tokyo pagi ini?"

Pria berambut hijau itu mengangguk samar. "Hmm, begitulah."

"Ma... cepat sekali."

"Ada banyak hal yang harus ku selesaikan di Tokyo."

"Bersiap-siap untuk masuk universitas?"

Zoro tersenyum. "Kau tau?"

"Robin mengatakannya semalam," jawab Saulo. Kemudian terkekeh kecil. "Robin selalu ingin masuk universitas."

"Ya."

"Sayangnya aku terlalu takut memasukkannya ke sekolah formal karena khawatir ada banyak orang yang akan mengenalnya. Yang bisa ku lakukan hanyalah mendirikan perpustakaan agar ia bisa membaca sepuasnya."

Zoro terdiam. Ia sandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya.

Saulo menghela nafas panjang. "Andai saja aku lebih berani untuk mendaftarkannya bersekolah di sekolah formal saat itu."

"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, Saulo-san. Robin bahkan jauh lebih pintar dari anak-anak yang berada di sekolahku berkat buku-buku di perpustakaanmu," kata Zoro menenangkan.

Saulo tersenyum. "Kau selalu pandai menghiburku, Zoro-san."

Zoro ikut menyimpulkan senyumnya. Kemudian memejamkan mata.

Semetara Saulo larut dalam permainan catur dari dua orang pria tua di depannya. Lama mereka dalam posisi sedemikian rupa, hingga akhirnya sebuah suara wanita mengejutkannya.

"Minna! Ohayou gozaimasu!"

Zoro membuka kembali matanya. Dilihatnya seorang gadis dengan setelan kemeja lengan panjang yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka dan celana bahan diatas lutut, muncul dari pintu. Rambutnya berwarna merah muda. Dengan bulu mata yang lentik, bibir bulat penuh dan, ah alis yang sama anehnya dengan milik Sanji. Siapa dia?

"Siapa kau?" tanya Zoro hati-hati. Tangan kanannya seketika menggenggam gagang katana -nya.

Saulo juga ikut mengamati gadis tersebut. Alisnya berkerut.

"Bukankah seharusnya itu jadi pertanyaanku?" tanya gadis itu tenang.

"Apa kau juga tinggal disini?" Zoro bertanya lagi.

Gadis itu tak mengubrisnya. Ganti melirik pria lain di ruangan tersebut. "Gen-san, siapa mereka?"

Genzo yang masih asyik dengan papan caturnya, melirik sebentar ke asal suara. "Ah, kau rupanya." Pria itu menggerakkan tangannya mengambil benteng milik Kakek Hyo. "Kau bisa menganggap mereka tamu jika kau mau – Ah, lihatlah, Hyo! Setelah ini kakugyō mu akan jadi milikku! Hahahaha," lanjutnya pada lawan di depannya. Ia kembali melirik pada gadis itu kemudian. "Masuklah. Sanji ada di dalam."

"Ah, baiklah," sahut gadis berambut merah muda itu lalu melangkah masuk ke dapur.

Zoro yang penasaran mengikuti di belakang. Belum sampai satu menit, ia sudah terkejut melihat rekasi Sanji saat melihat gadis tersebut.

"R-Reiju?"

"Sanji, hisashiburi!"Reiju berseru senang. Lantas menghamburkan diri dan memeluk pria berambut pirang tersebut.

Nami yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa kecil. Sementara Zoro dan Robin yang juga berada disana menautkan kedua alisnya.

"Siapa dia?" tanya Zoro pada Nami yang berdiri tak jauh di depannya.

"Dia Reiju. Kakak sulung Sanji," jawab Nami sambil mengisi beberapa mangkuk dengan nasi.

"Sanji punya kakak?"

"Kau pasti akan terkejut jika tau dia adalah anak ke empat dari lima bersaudara."

"Benarkah?"

Nami mengangguk samar. Lalu menata mangkuk-mangkuk nasi di meja makan.

"Reiju, lepaskan. Ini memalukan!" Sanji berseru. Tangannya berupaya melepaskan pelukan sang kakak.

"Apa kau tidak merindukan kakakmu? Kau benar-benar adik yang kejam." Reiju memukul pelan lengan Sanji.

"Jujur saja, apa yang membawamu kemari?"

"Suratmu. Kau bilang ada satu gadis cantik lagi yang menetap disini." Reiju menoleh sekeliling. Matanya terhenti pada Robin yang masih mengamati mereka dengan seksama. "Apa dia orangnya?" tanya gadis berambut merah muda itu lagi.

Sanji mengangguk. "Kenalkan Robin-chan, ini kakakku, Reiju. Maafkan sikapnya yang mungkin membuatmu terkejut tadi." Pria itu menunjuk kakaknya.

"Iie. Itu bukan apa-apa. Aku senang melihat kalian," jawab Robin tersenyum. Lalu membungkukkan sedikit tubuhnya. "Salam kenal, nee-san. Aku Robin."

"Ah, gadis yang sopan. Tapi tak masalah, kau boleh memanggilku Reiju. Nami sering melakukannya."

"Apa itu artinya aku tak sesopan Robin?" Nami protes dari ruang makan.

"Ah, Nami! Aku hampir tak melihatmu. Bisakah kita mulai sarapan sekarang, calon adik ipar? Aku benar-benar lapar," kata Reiju sekenanya sambil menghampiri Nami dan memeluk gadis itu manja.

"A-adik ipar?!"

"Ayolah, Sanji! Siapkan sarapannya!"

Sanji yang masih memerah karena malu mendengar panggilan Reiju untuk Nami, kembali tersadar. Tubuhnya berputar-putar seketika. "Baiklah! Segera ku siapkan!"

"Fufufu." Robin mengamati mereka senang. Kemudian melirik Zoro yang masih kebingungan. "Sebaiknya kita juga segera sarapan, Zoro."

Zoro mengangguk. "Ah, ya. Biar ku bantu kau menyiapkannya," tawar pria itu. Kemudian membantu Robin dan yang lainnya menyiapkan makan pagi mereka.

O • O • O

"Jadi kali ini, kau kabur dari Ichiji? Atau kakek tua itu?" tanya Sanji sebelum menyisip tehnya.

"Bukankah mereka sama saja?"

"Apalagi yang mereka lakukan?"

"Mengubah tangan manusia menjadi besi atau semacamnya. Entahlah, aku tak begitu mengerti." Reiju mengaduk malas jus jeruk di depannya. Kepalanya tersanggah di satu tangan.

Nami bergidik ngeri. "Penelitian keluarga kalian benar-benar menyeramkan."

"Tapi, bukankah itu cukup berguna untuk menyelamatkan korban perang yang kehilangan tangan mereka? Maksudku, aku berasal dari kemiliteran. Banyak tentara kami yang kehilangan anggota tubuhnya akibat perang," sela Saulo.

"Tentu saja. Akan baik jika dimanfaatkan untuk hal-hal tersebut. Tapi..."

"Germa tidak mengeluarkan peralatan tersebut untuk hal yang baik." Reiju memotong ucapan adiknya.

Sanji hanya mengangguk mengiyakan.

Suasana kembali hening. Tegang sejenak sebelum Kakek Hyo akhirnya membuka topik pembicaraan yang lain. Tentang perkebunan, buah-buahan yang dikirim ke Tokyo, juga pertanyaan seputar kabar kota itu saat ini.

Robin mendengarkan percakapan tersebut dengan seksama dari dapur. Setelah sarapan selesai, ia putuskan untuk membuat beberapa onigiri dan katsu. Tentu saja bukan untuk makan siang. Melainkan untuk seseorang yang berencana kembali ke Tokyo hari ini.

Sementara yang lain asik bercengkrama di ruang makan, Zoro menyibukkan diri dengan mengemasi barang-barangnya di dalam kamar. Pintunya yang dibiarkan terbuka, membuat suara tawa dari luar dapat masuk dengan mudah. Ia melirik keluar. Matanya menangkap sosok Kakek Hyo yang tengah begitu ekspresif bercerita pada yang lainnya. Ia tersenyum. Menutup ranselnya, kemudian mengenakan jaket hijaunya. Matanya beralih ke jendela. Diluar sana, matahari sudah semakin meninggi.

"Ara... Kau sudah selesai?" tanya Robin yang sudah berdiri di ambang pintu.

"Ah, ya. Begitulah."

Robin berjalan mendekat. Mengamati dengan seksama apa yang pria itu bawa. Tiga katana yang tersandar di sisi tempat tidur menarik perhatiannya.

"Kau selalu membawa mereka?" tanyanya. Matanya masih tak lepas dari pedang-pedang tersebut.

"Tidak juga. Bukankah aku tidak membawanya saat datang ke perpustakaan?"

"Hmm, kau benar." Robin mengangguk. Menyentuh gagang-gagang katana tersebut dengan antusias. "Kau terlihat hebat saat menggunakannya, kau tau?"

"Aku tau." Zoro melipat tangannya di depan dada.

Robin tertawa. "Tunjukkan padaku lagi lain kali."

"Akan ku tunjukkan saat kau datang lagi ke dojo. Aku tak ingin menunjukkannya hanya karena berusaha menyelamatkanmu," kata Zoro tegas. "Ingat, jangan tertangkap lagi."

"Fufufu. Baiklah," ucap gadis berambut hitam itu. Tangannya kemudian terangkat menyodorkan satu kotak makan kayu yang sejak tadi berada dalam genggamannya. "Untukmu," katanya.

"Apa ini?" Zoro meraihnya. Membuka isinya. Lalu dalam beberapa detik membulatkan matanya. "Kau tau aku suka onigiri?"

"Benarkah? Tidak sengaja, sebenarnya."

"Kau tau? Masakanmu sangat luar biasa. Sepertinya jauh lebih enak dari milik si alis keriting itu."

Robin tertawa kecil. "Aku tau," katanya sambil melipat tangannya di depan dada.

"Dan karena onigiri adalah makanan kesukaanku, maka onigiri buatanmu adalah favoritku. Aku bisa jamin itu."

"Ara... Itu pujian?"

"Rayuan, sebenarnya. Agar kau tak bosan memasak untukku," ujar Zoro sambil mengedipkan sebelah matanya.

Membuat Robin kembali tertawa dengan kencang. "Baiklah, baiklah. Sebaiknya kau bergegas, tak ada banyak kereta menuju Osaka disini. Kau bisa terlambat nanti."

Zoro mengangguk. Memasukkan kotak makan tersebut ke dalam ransel, lalu keluar dari kamar.

"Ah, kau sudah siap, Zoro?" tanya Kakek Hyo saat melihat pria berambut hijau itu memasuki ruang makan.

"Ya. Sepertinya tak ada lagi yang tertinggal."

"Baiklah kalau begitu." Kakek Hyo beranjak dari kursi. "Ayo, ku antar kau ke stasiun," tambahnya sambil berjalan keluar.

Zoro dan Robin saling pandang. Tapi kemudian mengikuti pria tua tersebut, di susul dengan yang lain di belakang mereka.

Awan mendominasi langit hari itu. Membuat semilir angin berhembus lembut menggesek dedaunan. Ranting-ranting jeruk di sepanjang jalan setapak menari-nari. Mengiringi langkah Zoro, yang ditemani oleh Robin dan Saulo di sampingnya. Kakek Hyo sudah lebih dulu sampai di gerbang masuk kebun. Tangannya cekatan menyalakan mesin dan menyela motor tuanya. Suaranya yang bising membuat Zeff keluar dari Baratie.

"Kau sudah mau pulang?" tanya pria dengan kaki palsu tersebut.

Zoro mengangguk. "Terima kasih atas kebaikanmu tiga hari ini," katanya sedikit membungkuk. Berusaha bersikap sopan.

"Ya, ya. Berhati-hatilah," kata Zeff sambil mengibas-ngibas tangannya.

Pria berambut hijau itu lantas mengalihkan pandangannya pada Robin dan Saulo.

"Berhati-hatilah, Zoro-san. Aku tunggu kedatanganmu kembali kesini," kata pria besar tersebut.

"Tentu. Aku pasti akan kembali."

"Jangan tersesat, Zoro." Robin menambahkan. Membuat wajah pria itu memerah.

"K-kau..."

Robin terkekeh kecil. "Sekali lagi selamat atas kelulusanmu. Aku ikut bahagia untukmu."

Zoro tersenyum. "Aku berjanji akan membawamu kesana suatu saat nanti. Perpustakaannya besar, akan ku buat kau puas membaca banyak buku disana. Aku janji."

"Terima kasih, Zoro. Aku menantikannya."

Tin... Tiin!

"Apa kalian sudah selesai? Aku sudah siap kapanpun!" seru Kakek Hyo dari atas motornya.

Zoro menoleh. Kemudian mengangguk.

"Baiklah, aku pergi dulu. Terima kasih untuk tiga hari yang menyenangkan." Ia membungkuk pada Robin dan Saulo.

"Hai, sampai bertemu lagi, Zoro-san," balas Saulo ikut membungkuk.

Pria berambut hijau itu juga membungkuk ke arah rumah di ujung kebun. Berdiri diterasnya Genzo, Sanji yang nampak bersandar di tiang penyangga, Nami dan Reiju yang melambaikan tangan dari kejauhan.

Ia kemudian berbalik. Berjalan mendekati kendaraan yang sudah menunggunya, dan naik di belakang Kakek Hyo. Pria itu mengarahkan lagi pandangannya pada Robin. Lalu tersenyum saat mendapati gadis itu sedang melambaikan tangan ke arahnya.

"Sampai berjumpa lagi, Zoro."

Zoro mengangguk. "Sampai berjumpa lagi, Robin. Jaga dirimu."

Tak lama setelahnya, Kakek Hyo mulai membawa motornya keluar dari kebun. Meninggalkan Robin dan Saulo yang lamat-lamat menjadi titik kecil yang tak terlihat dari kejauhan, juga meninggalkan aroma segar bercampur manis dari jeruk-jeruk yang terbang terbawa angin.

O • O • O

Zoro membuka matanya perlahan. Membuat sinar matahari yang semakin meninggi lamat-lamat menerus masuk ke iris hijaunya. Ia melihat sekeliling, mendapati dirinya telah duduk di salah satu kursi penumpang di dalam kereta yang membawanya ke Osaka. Di sampingnya, tertidur wanita paruh baya dengan topi dan kemeja merah muda, sambil memeluk ransel besarnya. Sedikit mendengkur, namun dalam intensitas yang masih dapat Zoro terima hingga akhir perjalanan mereka.

Pria itu membuka ranselnya. Rasa lapar membuatnya mengeluarkan kotak makan yang tadi diberikan Robin untuknya. Ia tersenyum. Onigiri buatan gadis itu masih utuh di dalam sana. Ia putuskan mengambil satu dari tiga onigiri tersebut untuk mengganjal rasa laparnya. Perjalanannya masih cukup jauh. Ia harus berhemat.

Keretanya kemudian berhenti di stasiun Shin-Osaka dalam tiga puluh menit kemudian. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti saat berangkat kemarin, ia putuskan untuk bertanya pada petugas stasiun mengenai lokasi peron kereta yang akan membawanya kembali ke Tokyo.

"Apa kau sudah memiliki tiket, anak muda? Jika belum, kau bisa membelinya dulu di lantai dua. Jika sudah, kau bisa langsung ke lantai tiga dan mengambil jalur Tokaido Shinkansen." jawab petugas tersebut sambil menunjuk tangga yang ramai di tengah lobby.

"Ah, baiklah. Arigatou gozaimasu." Zoro membungkuk. Kemudian berjalan lurus menuju tangga.

Di sela-sela perjalanannya, tanpa sengaja matanya menangkap sosok perempuan paruh baya yang tak asing baginya. Rambutnya merah muda. Terkuncir di belakang tubuhnya yang bergerak dengan cepat menghindari penumpang lain yang tengah menuruni tangga. Wajahnya begitu khawatir. Sempat ia berhenti sejenak untuk melihat papan informasi dan keterangan, sebelum akhirnya kembali berjalan cepat.

Zoro menyeringai. Berlari kecil mengikuti wanita tersebut.

"Bellmere-san!" serunya sambil melambaikan tangan.

Perempuan paruh baya itu melambatkan langkahnya. Lantas menoleh ke belakang. Kepalanya bergerak mencari-cari asal suara.

Zoro mengangkat tangannya lagi. Berteriak lebih keras dari sebelumnya. "Bellmere-san! Disini!"

"Ah, Zoro!" Bellmere akhirnya melihatnya. Wanita paruh baya itu masih terlihat khawatir namun lega disaat yang bersamaan.

Zoro berlari menghampirinya. "Bellmere-san. Tak ku sangka aku akan bertemu denganmu disini. Apa kau ma–,"

"Robin..." Bellmere memotong ucapannya. Nafasnya masih terengah. Tangannya terangkat membuat isyarat agar Zoro berhenti bicara.

"R-Robin?"

"Sakazuki dan yang lainnya sedang bergerak ke Iwasaki. Aku harus segera kesana untuk memberitahu mereka," jelas Bellmeredengan cepat. Membuat Zoro begitu terkejut karenanya.

"Sakazuki? Ada apa? K-kenapa tiba-tiba?"

"Aku tak tau bagaimana mereka bisa mengetahui dimana Robin tinggal saat ini. Tapi yang pasti, aku harus segera tiba disana sebelum kepala polisi brengsek itu mendapatkan Robin dan Saulo." Bellmere membalikkan badannya. Kembali berjalan cepat menembus keramaian.

Zoro tersadar. Buru-buru menyusul Bellmere di belakang. "Tunggu aku, Bellmere-san!"

O • O • O

Saulo menenggak sakenya dengan lambat. Merasakan pahit minuman tersebut menyentuh kerongkongannya. Di depannya, terbentang ribuan meter persegi kebun jeruk yang menghijau juga bangunan tua restoran Baratie yang terlihat kecil dari kejauhan. Pohon-pohon jeruk yang tidak terlalu tinggi dan berjarak, memudahkannya menemukan dua orang wanita di sisi kiri kebun, dan dua pria di sisi yang lainnya. Sore membuat pemandangan di tempat tersebut terlihat begitu indah.

"Sepertinya kita harus memanen beberapa dari mereka besok, Nami," ujar gadis berambut hitam.

Nami mengangguk. Mengamati jeruk-jeruknya. "Kau benar. Beberapa dari mereka sudah matang."

Di seberangnya, Sanji membantu Genzo mencari dedaunan yang layu atau habis di makan ulat. Pria itu mendongak ke atas. Mengepulkan asap rokoknya tinggi-tinggi di udara.

"Hah, banyak sekali dedaunan yang mengering disini." Genzo menggerutu. Memotong satu persatu dedaunan itu dengan hati-hati.

"Seharusnya kau memberi mereka lebih banyak air di musim panas seperti ini, Gen-san." Sanji memberi saran.

Pria tua itu mengangguk setuju. "Yah, sepertinya kau benar."

"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Saulo seraya berjalan mendekat.

Sanji menggelengkan kepalanya. "Kami sudah hampir selesai. Bagaimana denganmu, Nami-san?"

"Hai. Kami juga sudah selesai disini," sahut gadis berambut oranye itu sedikit berteriak.

Saulo mengamati sekeliling. Angin sore kali ini berhembus lebih tenang dari sebelumnya.

"Ada apa, Saulo-san?" tanya Sanji. Merasakan ada yang aneh pada tatapan mata pria besar tersebut.

"Tidakkah kau merasa, sore ini jadi sedikit lebih ramai, Sanji?" tanyanya pelan. Tetap memandang lurus ke arah gerbang masuk kebun. Dari kejauhan, terlihat beberapa orang hilir mudik keluar masuk Baratie.

Sanji menghisap rokoknya. Ikut mengamati hal yang sama. "Ya, sepertinya kau benar."

Mata pria berambut pirang tersebut mendadak terhenti pada seorang pria tinggi kekar dengan kaus putih dan kacamata hitam. Hanya berdiri dalam diam bersama dengan seorang wanita berkacamata di sebelahnya. Ia memicingkan mata. Memastikan pada dirinya sendiri jika kedua orang tersebut tengah mengamatinya dari kejauhan.

"Nami-san," panggil Sanji tiba-tiba.

"Hai, Sanji-kun?"

"Bisa kau bawa Robin-chan masuk?"

"Hmm?" Nami mengerutkan alisnya. "Doushite?"

Sanji tak menjawab. Hanya memberi isyarat dengan matanya.

"Masaka..." Nami menutup mulutnya. Disambut anggukan dari pria di depannya. Gadis itu mengangguk mengerti. Kemudian beralih pada Robin. "Robin, bisa kita masuk sekarang?"

"Tunggu sebentar Nami, satu baris lagi dan aku akan selesai."

"Tak masalah, Robin-chan. Kau bisa melanjutkannya besok pagi," bujuk Sanji membantu.

Gadis itu lantas mengalihkan pandangan dari pohon-pohon jeruknya. Mengamati Sanji, Nami dan Saulo yang memandangnya cemas. Alis Robin bertemu. "Ada apa? Apa ada sesuatu?"

"Robin, ku mohon." Kali ini Saulo angkat suara.

Robin menoleh sekeliling. Ramai lalu lalang pengunjung di Baratie. Ia tersentak. Kembali melirik Saulo dan Sanji bergantian. "Benarkah?"

"Masuklah sekarang, Robin," pinta Saulo lagi.

Robin mengangguk. Berjalan masuk ke dalam rumah dengan cepat bersama Nami dan menutup pintu rapat-rapat.

Genzo mengamati mereka heran. "Ada apa ini? Apa yang terjadi?"

"Sebaiknya kau segera mencari sesuatu untuk melindungi dirimu, Genzo," kata Saulo. Seraya mengambil sebuah balok kayu besar yang tertumpuk di sisi rumah. "Mereka mungkin akan tiba disini beberapa saat lagi."

"Mereka?" tanya Genzo mengulangi. "Apa yang kau maksud dengan mereka?"

"Ssst." Sanji menempelkan telunjuk ke mulutnya. "Mereka sudah disini," tambahnya pelan.

Saulo terdiam. Mengamati dengan waspada belasan orang yang berkerumun di depan Baratie. Ia menoleh ke sisi kiri. Mendapati dahan-dahan pohon jeruk disana bergerak cepat tertiup angin yang lambat.

Genzo mendengus. "Kalian, hentikan per–,"

"Awas!"

Dor!

Saulo menundukkan kepalanya. Di belakangnya, Sanji ikut melakukan hal yang sama. Pria itu dengan sigap mendorong tubuh Genzo hingga terjatuh dan menyembunyikannya diantara barisan pohon-pohon jeruk.

Genzo mengangkat kepalanya. Mendapati Sanji sudah berlari dan menyerang pria yang tadi melayangkan tembakan pada mereka.

Dor! Dor!

Saulo ikut bergerak. Menemukan pria-pria lain yang bersembunyi diantara kebun mereka.

"Sanji!" Reiju yang baru saja keluar dari rumah berseru. Tanpa basa basi ikut ambil bagian dari pertarungan tersebut.

"Jangan kesini, Reiju!"

"Hiyah!" Reiju tak peduli. Di tendangnya satu pria berkemeja coklat di depannya dan ia pukul wajahnya dengan mudah. Gadis berambut merah muda itu mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Sebuah besi sepanjang dua puluh centi dengan tombol di salah satu sisinya.

Dor!

Saulo menghindar dengan mudah. Ilmu yang ia miliki di kemiliteran belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Pria itu berlari dengan cepat. Mengangkat balok kayunya tinggi-tinggi di udara, lalu memukul dengan keras senapan di tangan pria berkaca mata hitam di depannya. Sang lawan melompat mundur. Kemudian mengeluarkan pisau yang terselip diantara ikat pinggangnya.

Di area lain tak jauh dari Saulo, Sanji melakukan hal yang sama. Pria itu terlibat pertarungan dengan dua orang pria yang membawa pedang dan sebuah besi panjang. Mereka bekerja sama. Saling menyerang tanpa membiarkan Sanji melakukan perlawanan.

Pria berambut pirang itu bergerak mundur. Mengambil nafas sebelum menendang kembali mereka dengan kaki-kakinya. Lalu,

Dak!

Genzo dengan tiba-tiba berhasil memukul kepala salah seorang diantara mereka. "Jangan abaikan aku, baka!" serunya kesal.

Sanji memandangnya senang. "Gen-san!"

"Bisa-bisanya kalian bertarung tanpaku. Aku tidak setua itu, kau tau?"

"Hahaha, gomen, gomen."

"Berhenti bicara, kalian!" Pria yang memegang pedang berteriak. "Serahkan Nico Robin pada kami!"

"Cih." Sanji menyalakan puntung rokoknya. "Ambil saja dari kami jika kalian bisa! Diable jambe!" Pria itu kembali melayangkan tendangannya. Namun lawannya dapat dengan mudah menangkisnya dengan pedang.

Sanji memutar tubuhnya mengincar kepala pria di depannya. Tapi lagi-lagi, ia menghunuskan pedangnya. Memotong ujung-ujung rambut pirang Sanji yang berada di sekitar tengkuknya. Pria berambut pirang itu melompat, lalu dengan cepat berhasil mematahkan lehernya.

Drrt!

Di sisi lain Reiju juga ikut bergerak. Tangannya dengan cekatan mengarahkan besi bertegangan tinggi di tangannya ke perut-perut lawannya. Mereka mengejang. Kemudian tersungkur ke tanah.

Gadis itu melirik adiknya. Lalu membola saat mengamati ada lawan lain yang bergerak ke arahnya.

"Sanji, di belakangmu!"

Sanji menoleh, mendapati seorang pria lain sudah melompat dan mengarahkan kedua pisau ke arahnya.

Ctang!

Sebuah suara besi yang beradu membuat Sanji menggertakan giginya. Sudah berdiri di depannya, seorang pria berambut hijau dengan dua katana yang tergenggam erat di tangannya. Ia menoleh, menatap Sanji bangga.

"Kau lengah, ero cook," ejeknya.

Sanji mendengus kesal. "Tak ada yang memintamu menolongku, rambut lumut! Lagipula, untuk apa kau kembali lagi?"

"Dimana Robin?" tanya Zoro mengacuhkannya.

"Dia bersama Nami-san di dalam. Semoga saja mereka sudah menemukan jalan untuk melarikan diri dari sini."

Zoro mengangguk. Sedikit lega mengetahui fakta tersebut. "Baiklah. Jelaskan padaku situasinya."

Sanji terdiam. Menoleh ke sekitar. Saulo baru saja selesai dengan pria bersenapan di tengah kebun. Sementara Reiju masih sibuk dengan dua pria di sisi lainnya. Dan Genzo, masih memukul pria yang sudah terkapar sambil terus menggerutu pada mereka.

"Sudah ada belasan orang yang menyerang kami sejauh ini. Sebagian dari mereka mengamati dari Baratie, sebagian lagi bersembunyi disini. Entahlah, apa hanya segini saja yang akan menyerang hari ini."

Zoro terdiam. Menyadari bahwa Sakazuki belum tiba disini. "Mereka pasti akan datang lagi."

"Yah, kau benar."

Di sela-sela waktu tenang tersebut, Sanji dapat menangkap sosok Zeff dan Bellmere. Berlari dari arah gerbang masuk kebun dan menghampiri mereka. Nafas mereka terengah-engah. Tapi lega setelah menyadari tak ada yang terluka.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Bellmere khawatir.

"Oh, Bellmere! Bagaimana kau bisa disini?" tanya Saulo

"Seseorang meninggalkan pesan di depan rumahku. Disana tertulis jika Sakazuki dan yang lain akan datang ke tempat ini."

"Sakazuki? Ia juga akan datang?"

"Entahlah." Bellmere mengangkat bahunya. Matanya kemudian mengedar mencari sosok penting dalam upaya penangkapan ini. "Dimana Robin?"

"Ia sedang berkemas dan bersiap untuk lari dari tempat ini," jawab Reiju. "Seharusnya ia sudah menemukan jalan keluar sekarang."

"Syukurlah."

Percakapan mereka seketika dikejutkan dengan bunyi gerungan mobil yang memaksa masuk melalui gerbang utama kebun. Mobil tersebut besar, dengan lapisan baja yang menyelimutinya. Tidak hanya ada satu, tapi tiga. Disusul dengan puluhan pasukan yang berlari mengikuti di belakang.

Bellmere dan yang lain menunggu. Bersiap-siap jika ada sesuatu yang menyerang mereka.

Lalu pintu penumpang salah satu mobil yang berada paling depan terbuka. Muncul dari sana seorang pria besar, dengan kemeja merah menyala dan topi kepolisian. Wajahnya terlihat kaku dan tak bersahabat. Berjalan mendekat. Lalu berhenti dalam jarak kurang dari tiga ratus meter dari Bellmere dan yang lainnya.

"Ah, ohisashiburi, Bellmere, Saulo," sapanya dingin. Dengan suara berat yang menggema.

"Akainu," desis Saulo geram.

"Bisakah kalian menyingkir dari hadapanku? Ada seorang wanita yang harus kami tangkap di rumah tersebut."

"Jangan bermimpi bisa menyentuhnya dengan tangan kotormu, Akainu!" teriak Saulo lantang. Menimbulkan gema di antara pepohonan. "Tak akan ku biarkan kau menyakitinya lagi!"

"Oh. Inikah yang mereka maksud dengan cinta orang tua dan anak? Sungguh menjijikan."

"Apa kau bilang?" Saulo mengepalkan tangannya. Dengan cepat berlari dan melayangkan tinjunya pada Sakazuki yang dengan mudah di tangkis olehnya.

"Kau melemah, penghianat," ejeknya.

"Setidaknya aku tidak sepengecut dirimu, untuk menyalahkan seorang anak kecil atas perilaku biadabmu."

Sakazuki memicingkan mata. Giginya bergemeretak kesal. Ia melirik ke sisi kiri. "Smoker, Tashigi, habisi mereka."

Kedua orang yang tadi disebutkan mengangguk. Berlari dengan cepat diikuti belasan orang lainnya di belakang. Kembali Sanji, Reiju, Zeff dan Bellmere bertarung dengan mereka. Sementara Zoro memilih membantu Saulo dan melayangkan pedangnya pada pria tersebut.

"Nitouryuu." Zoro menghunuskan pedangnya. "Taka nami!"

Cttaang!

Dengan cepat Sakazuki mengeluarkan sebuah besi panjang dari dalam saku kemejanya. Membuat perlindungan dengan benda tersebut. Ada tombol kecil diujungnya. Zoro memicingkan mata. Melihat pria tersebut menyentuhnya.

Splash!

Zoro berhasil menghindar. Lalu terkesiap saat melihat sesuatu yang keluar dari sana. Bukan sebuah peluru. Melainkan sebuah cairan merah panas mirip lahar panas yang menyembur dan hampir mengenai tangan kirinya.

Pria berambut hijau itu berdecak. Ini tak akan semudah yang dibayangkannya. Namun baru saja ia akan melayangkan serangannya yang kedua, teriakan seorang pria dari sisi bangunan Baratie menahan gerakannya.

"Aku menangkapnya! Aku menangkap Nico Robin!" seru pria itu. Sambil menarik kasar seorang wanita berambut hitam yang berusaha melepaskan diri.

Zoro membulatkan matanya. Tanpa basa basi berlari dan menyerangnya.

"Cih, pria muda itu." Sakazuki menggerutu. Mengarahkan kembali tongkat besinya pada Zoro. Hampir saja lahar panas itu keluar lagi dari sana, Saulo sudah memukulnya dan melempar tongkat itu ke udara.

"Perhatikan lawanmu, Akainu!" seru Saulo memukul pria itu lagi dengan satu tangannya.

Sementara itu, belasan pria berusaha menahan Zoro di tengah kebun. Mereka bergantian melawan pria berambut hijau itu, namun berhasil dengan mudah di lumpuhkan olehnya. Pria itu akhirnya mengeluarkan pedang ketiganya. Wado Ichimonji yang kemudian di selipkan di mulutnya.

"Santoryuu ougi." Ia mengambil nafas. Kemudian memutar pedangnya dan menyerbu musuh dengan cepat. "Sanzen sekai!" Dan dalam sekali serangan, semua musuh tumbang dalam genggamannya. Hingga tiba-tiba,

Ctang!

Sebuah pedang berhasil menahanya.

Zoro terkesiap. Seorang wanita sudah berdiri di depannya. "K-Kuina?"

Wanita yang dipanggil begitu sama terkejutnya. Namun kemudian berhasil mengendalikan diri dan melayangkan serangannya.

"Oi, marimo! Awas!"

Pria berambut hijau tersentak. Kembali tersadar dari lamunannya. Tapi belum sempat ia mengangkat pedangnya, cipratan darah sudah lebih dulu mencuat di depan wajahnya.

Ia terluka. Tepat di mata kirinya.

"Aargh!"

"Zoroo!" teriak Robin dari kejauhan.

Disusul suara lain yang juga meneriakkan namanya.

"Ano, baka!"

Segala hal terasa berputar seketika. Matanya terasa panas. Dan darah mengalir deras melewati pipinya. Pria itu berusaha berdiri. Namun tak mampu mengendalikan tubuh dan pedangnya dengan baik. Ia melirik gadis di depannya. Rambut hitam panjang dan kacamata yang menempel di wajahnya. Ia, benar-benar persis mirip Kuina. Atau, tidak sama sekali.

"Akan ku bawa dia bersama kami," kata gadis itu pelan. Kemudian berbalik. Meninggalkan Zoro yang masih terpaku di tempatnya.

Ia tersadar. Mencari Robin dengan satu matanya yang lain. Gadis itu masih terus meronta sambil menatap khawatir padanya. Sudah begitu dekat dengan mobil jeruji yang akan membawanya menuju kantor polisi.

"Tidak." Zoro meracau. Masih berusaha menghunuskan pedangnya pada musuh yang ditemuinya. "Roooobiiin!"

Namun perih yang luar biasa di matanya membuat ia ambruk seketika. Tangannya menggapai. Pandangannya perlahan membentuk bayangan. Ia berteriak geram dengan sisa tenaganya. Lalu terengah, dan segalanya berubah menjadi gelap.