Pagi itu, Zoro tiba dirumah sakit setelah yang lainnya. Sudah duduk di ruang tunggu; Sanji yang sedang berbincang dengan Nami, Genzo yang tertidur di salah satu kursi, dan Sabo yang asik menyantap ramen instannya. Pria berambut pirang itu menoleh. Otomatis melambaikan tangannya melihat Zoro datang.

"Yo, Zoro. Kau mau ramen?" tanyanya ramah.

Zoro menggelengkan kepala. Mengangkat bingkisan yang berada di tangan kirinya. "Aku akan sarapan bersama Robin di dalam."

"Ah, itu bagus." Sabo mengangguk. Meniup pelan ramen instannya kemudian memakannya dengan cepat. "Kau harus membuatnya makan dengan lahap."

"Apa terjadi sesuatu yang serius?"

"Koala bilang ia terus memuntahkan makanannya sejak semalam. Ia juga sempat mengalami panas tinggi meski suhu tubuhnya sudah kembali normal pagi ini. Bantu saja ia untuk tetap mengisi perutnya dan jangan biarkan ia memikirkan hal-hal yang berlebihan." Sabo menjelaskan sambil meniup-niup pelan ramennya.

Zoro mengangguk mengerti. "Tapi, siapa Koala?"

"Ah, dia seorang polisi. Sekaligus… kekasihku." Jawabnya sambil tertawa renyah. "Ia yang dapat giliran menjaga Robin selama di rumah sakit. Jadi, nikmati saja waktu kunjunganmu. Kau bahkan bisa menginap disini jika kau mau. Koala akan mengaturnya untukmu – Ah, itu dia datang." Sabo melirik ke koridor. Mendapati seorang wanita berambut kecoklatan mendekat pada mereka.

"Astaga! Sudah ku bilang tunggu sampai aku datang! Aku sudah membelikanmu karage, tahu. Kau ini, sudah berapa kali ku bilang jangan makan ramen instan untuk sarapan!" gerutu gadis itu seraya berkacak pinggang.

Sementara Sabo menaruh jari telunjuk dibibirnya, menenangkan sang gadis. "Tenanglah, aku akan tetap makan apa yang kau beli untukku."

Pintu salah satu bangsal terbuka kemudian. Keluar dari sana Bellmere dengan senyum tipis dan sorot mata yang tak dapat di terka apa maksudnya. Wanita paruh baya itu melangkah perlahan, kemudian duduk di samping putri bungsunya.

"Apa ada yang terjadi?" tanya Nami penasaran.

Bellmere menggelengkan kepalanya. "Bukan sesuatu yang serius. Hanya saja ia belum mampu menerima makanan dengan baik. Ia bilang ia terus merasa mual tiap kali mengisi perutnya dengan makanan."

Koala mengangguk setuju. "Ia muntah-muntah semalaman. Meski tak menampakkan padaku jika ia sakit, tubuhnya jelas betul mengatakan itu."

"Kematian Saulo pasti amat mengganggunya. Tapi ia bahkan tak membahas itu sama sekali saat kami berbincang tadi. Ia malah sibuk menghiburku dan justru tidak berhenti tersenyum selama lima belas menit percakapan kami. Aku jadi benar-benar khawatir." Bellmere menghela nafas panjang.

"Apa yang dokter katakan?" ganti Sanji buka suara.

"Ia sakit karena kelelahan. Ada peradangan di lambungnya yang menyebabkan ia sulit menerima makanan. Meski begitu, ini bukan penyakit yang berat. Ia bisa segera sembuh dengan istirahat yang cukup dan rutin minum obat. Dan tentu saja, ia tak boleh memikirkan banyak hal," terang Koala.

"Mungkinkah tak membahas kematian Saulo menjadi caranya untuk tetap sehat?" Genzo bertanya entah pada siapa.

Koala mengangkat kedua bahunya. "Masalahnya adalah, ia bahkan tak terlihat tidur semalaman. Aku yakin ia hanya berusaha terlihat baik-baik saja."

Mereka semua terdiam. Hening sesaat sebelum akhirnya Sabo bangkit dan menyampirkan mantel birunya di satu bahu. "Baiklah, mari kita selesaikan semua ini dengan cepat."

"Apa kau sudah memiliki rencana?" tanya Zoro pada pengacara muda tersebut.

"Akan kita bicarakan soal itu setelah sidang putusan nanti. Kau mau ikut?"

Pria berambut hijau itu menggeleng. "Aku akan menemani Robin disini."

"Bagus. Sebaiknya begitu." Sabo mencium cepat pucuk kepala Koala. "Kami akan pergi ke persidangannya sekarang. Kau pergilah ke rumah Bellmere setelah kami selesai. Sudah ku suruh Luffy menjemputmu," tambahnya masih pada Zoro.

Pria berambut hijau itu mengangguk mengerti. Ikut bangkit dari kursi lalu melambai sekali pada yang lain. Kini hanya tersisa dirinya dan Koala di ruang tunggu.

"Baiklah, Zoro. Aku akan pergi sekarang. Nikmatilah waktumu dengan Robin," gadis berambut coklat itu membungkukkan sedikit badannya.

"Kau juga mau pergi?"

"Aku memiliki kenalan yang tinggal tak jauh dari sini. Aku mungkin akan beristirahat sebentar disana dan kembali setelah makan siang," jawabnya sambil terkekeh kecil.

Zoro menautkan kedua alisnya. "Bagaimana jika ada petugas kepolisian lain yang datang?"

"Katakan saja kau baru tiba dan aku memiliki panggilan mendadak di sekitar sini." Gadis itu berkata santai. Mengabaikan raut kebingungan di wajah lawan bicaranya. "Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa," tambahnya menenangkan.

"Awas saja jika terjadi sesuatu pada kami," ancam Zoro serius.

Namun Koala terkekeh. Gadis itu melambai sekali sebelum membalikkan badannya lalu melangkah meninggalkan ruang tunggu.

Zoro menghela nafas. Tubuhnya kemudian bergerak mendekat pada salah satu pintu ruangan dan membukanya.

Duduk di atas bangsal, seorang wanita belia. Bersandar pada kepala ranjang dengan bantal yang tersanggah vertikal di punggungnya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, dengan iris mata biru yang menatap kosong keluar jendela. Rintik gerimis turun lamat-lamat.

Hanya ada Robin di ruangan yang seharusnya dapat diisi oleh tiga orang pasien. Satu kamar mandi dekat pintu masuk, radio di sudut ruangan, dan sebuah bangku dekat jendela dimana bangsal Robin berada.

Gadis itu menoleh sesaat setelah Zoro menutup pintu. Mengamati siapa yang datang.

"Oh, kau disini?" sapanya ramah.

Zoro tersenyum. Menaruh bingkisan yang dibawanya diatas ranjang, lalu duduk di kursi tepat di depan Robin. "Maaf aku baru bisa datang," katanya tulus.

"Tak masalah, setidaknya kau tetap disini."

"Bagaimana keadaanmu?"

"Kelihatannya?"

Zoro memicingkan mata. Berusaha mencari jawaban dari sorot mata wanita di depannya. Jelas ia tak baik-baik saja. "Ku dengar kau muntah-muntah sejak semalam?"

Robin mengangguk. Melirik makanan yang tersisa di atas nakas di sisi ranjang. Zoro dapati pula sebuah kertas berukuran sedang berisi foto Saulo dan Robin yang lebih muda beberapa tahun sebelum ini.

"Entah kenapa terasa mual tiap kali selesai makan." Robin melanjutkan. Mencoba abai pada tatapan kosong Zoro ke arah foto tersebut.

"Mungkin kau butuh makanan lain," jawabnya berusaha tak membahas hal tersebut. Ia alihkan pandangannya pada bingkisan yang dibawanya. "Kau suka yakisoba? Jika bubur atau nasi tak bekerja pada perutmu, mungkin mie bisa membantu."

Robin mengangguk tersenyum. "Boleh dicoba."

Pria itu lantas mengeluarkan bingkisannya. Menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Tangannya terangkat sejenak pada sumpit yang dipegangnya. "Mau ku suapi?"

Robin tertawa renyah. Cukup terkejut mendengar pertanyaan tersebut meluncur dari mulut seorang pria yang ia kenal kaku pada wanita. Namun akhirnya, gadis itu mengangguk. "Itu mungkin akan lebih membantu."

Zoro tersenyum. Perlahan memasukkan beberapa lembar mie kedalam mulut Robin yang terbuka. Gadis itu terdiam sejenak. Kemudian mengangguk senang. "Ini enak."

"Tentu saja." Zoro menyahut bangga. "Aku sering kesini tiap kali bingung harus makan apa."

"Sepertinya kau cukup sering makan diluar."

"Selain sake dan onigiri. Tak banyak yang bisa dimakan di dojo." Zoro mengangkat lagi suapan selanjutnya untuk Robin. "Dan tentu saja, tak menyenangkan makan sendirian."

"Bagaimana dengan Johnny dan Yosaku?"

"Mereka selalu menganggapku senpai atau semacamnya. Mereka hanya akan menyiapkan makananku, lalu menunggu di sisi meja sampai aku selesai makan." Zoro terkekeh kecil. Geli sendiri tiap kali mengingatnya.

"Ara… kau populer."

Zoro tersenyum. Melirik Robin yang kini ikut tertawa di depannya.

Baru ia sadari, rasa canggungnya perlahan memudar saat ia bersama wanita tersebut. Entah sejak kapan. Perasaannya berubah menjadi lebih hangat. Kini, ia tau keinginannya bukan lagi tentang melihatnya tersenyum atau sekedar berbincang dengannya. Tapi tentang berbagi peran. Tentang saling menopang satu dengan yang lainnya. Tentang saling memberikan bahu dan siapa yang bersandar diatasnya. Saat ini, mungkin Robin yang bersandar disana. Tapi siapa yang tahu, Zoro kelak juga akan membutuhkannya. Dan bila saat itu datang, ia mau Robin yang menyediakan bahu untuknya. Menjadi tempatnya melepas peluh dan berpulang.

"Zoro," suara hangat Robin kembali menyadarkannya. Gadis itu terdiam. Melirik ke radio di sudut ruangan.

"Hmm?"

"Apa sudah dimulai?"

"Apanya?"

"Sidang tuntutanku."

Pria berambut hijau itu terdiam. Tahu betul mendengarkan berita persidangannya saat ini bukanlah hal yang baik.

"Aku mau mendengarnya, Zoro," pinta Robin pelan.

"Robin…"

"Itu persidanganku," gadis itu berkata lembut. Satu tangannya terangkat pelan menggenggam tangan Zoro. Ia tersenyum. Memastikan dirinya baik-baik saja. "Ku mohon."

Pria berambut hijau itu terdiam. Mengamati dalam-dalam sorot mata sendu gadis di depannya. Seraya mencari seberapa besar celah optimis tersebut diantara iris birunya.

Ia kemudian menghela nafas. Mengangguk kecil lalu bangkit dan menyalakan radio di sudut ruangan. Mencari frekuensi yang tepat. Meski tak sulit lantaran hampir seluruh channel menyiarkan berita persidangannya.

Zoro kembali duduk. Dapat mereka dengar suara jaksa Hina tengah membacakan seluruh dakwaan.

Untuk sejenak, mereka terdiam. Larut dalam fikiran mereka masing-masing. Hanya suara radio yang terdengar bersahutan dengan deru hujan diluar.

"Robin," panggil Zoro tiba-tiba.

"Hmm?"

"Utarakan padaku, kehidupan apa yang kau inginkan lima tahun lagi." Pria itu menoleh. Mengamati gadis di depannya. Tatapan mereka bertemu untuk sesaat. Dapat Zoro baca sorot wajah bahagia yang tiba-tiba mencuat di antara rasa lelahnya.

Robin terpekur. Tak pernah terfikirkan ada seseorang yang memperhatikan masa depannya. Tapi kemudian ia tersenyum. Diantara pembacaan tuntutan itu, ia menjabarkan apa yang diinginkannya.

"Aku… ingin tinggal di tempat yang tinggi," katanya menerawang. "Sebuah rumah sederhana di perbukitan yang tinggi. Dimana kau bisa melihat pegunungan dan hamparan perkotaan hanya dengan membuka jendelamu di pagi hari. Sambil mencium aroma bunga dan buah-buahan yang kau tanam sendiri di kebunmu. Juga berisik tangisan bayi dan suara lain di meja makan saat malam." Robin terdiam. Sebuah senyum manis tersungging di bibir tipisnya. Senang sekali membayangkan hal-hal tersebut di benaknya. Ia melirik. Mengamati Zoro yang terdiam menunggu kata demi kata yang dikeluarkannya. "Aku ingin memiliki keluarga," tambahnya menyelesaikan kalimatnya. "Sebuah tempat untuk kembali pulang."

Zoro menggenggam tangan wanita itu erat. "Kau memiliki keinginan yang sulit."

Gadis itu terkekeh. "Aku tau."

"Boleh aku minta satu hal lagi?"

Robin mengangguk kecil.

"Menangislah untukku."

"Hmm?"

"Sudah ku bilang kau boleh menampakkan ketegaranmu pada siapapun, tapi tidak di depanku, Robin." Pria itu menatap Robin tajam. "Menangislah."

Robin terdiam. Suara radio yang semula tak terdengar, mendadak jadi begitu keras mengusik gendang telinganya. Jaksa Hina kini memohon izin, meminta hukuman yang setimpal untuk Nico Robin pada hakim.

"… dengan segala hal tersebut diatas yang sudah saya bacakan, yang mulia. Baik itu pelanggaran atas kepemilikan senjata, penggunaan senjata pada anak dibawah umur, juga pembunuhan massal pada masyarakat tak bersalah..."

"Peluk aku, Zoro," pinta gadis itu kemudian.

Zoro menurut. Bangkit dan mengisi tempat diatas bangsal di samping Robin dan memeluknya erat. Dapat ia rasakan tubuh gadis itu gemetar. Dielusnya rambut hitam panjang Robin menangkan.

"… saya, atas nama masyarakat yang resah akan kejadian tersebut. Meminta lima tahun penjara dan hukuman mati untuk Nico Robin."

"Terima kasih," lirih Robin dengan suara bergetar. Ia tenggelamkan wajahnya rapat-rapat pada dada bidang Zoro. Membiarkan harum aroma tubuh pria tersebut mendominasi indra penciumannya. "Terima kasih sudah datang disaat yang tepat."

Zoro menggelengkan kepalanya. Semakin mengencangkan pelukannya. "Seharusnya aku datang lebih cepat, Robin. Maafkan aku."

"Keputusan telah tetap. Hukuman lima tahun penjara, dan vonis mati untuk Nico Robin."

Ketukan palu hakim Tsuru di radio menggema memenuhi ruangan. Putusan sudah dibuat. Hukuman dilayangkan.

Getar tubuh Robin kini berubah jadi tangisan. Ia terisak. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Zoro yang hangat. Yang mengelus lembut rambutnya berkali-kali dan mencium puncak kepalanya.

Pagi itu, ingin rasanya Zoro memutar waktu. Datang lebih cepat atau sekedar memiliki kemampuan untuk membawa Robin pergi dari sini. Tapi ia juga menyadari, betapa waktu lebih tau kapan saat yang tepat mempertemukannya dengan gadis yang telah mengubah dunianya ini. Baginya yang seringkali tak memiliki tujuan apapun dalam hidup, membuat Robin bahagia adalah hal yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi cita-cita terbesarnya.

O • O • O

"Mau permen?"

"Tidak, terima kasih."

"Hmm, biskuit? Aku punya beberapa boks di laci dashboard."

"Nanti saja."

"Bagaimana jika minuman bersoda?"

"Luffy, perhatikan saja jalan di depanmu."

"Baiklah."

Luffy akhirnya membungkam mulutnya. Ia fokuskan tubuhnya pada kemudi meski sesekali pandangannya masih melirik Zoro yang duduk di sebelahnya. Pria berambut hijau itu tampak menyeramkan, dengan tatapan mata yang kosong dan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Sudah sepuluh menit sejak perjalanan mereka dan Zoro masih urung membuka suaranya.

Luffy mendesah berat. Kesal dengan suasana tegang di dalam mobilnya.

"Argh, sudah cukup! Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?! Kau benar-benar terlihat menyebalkan sejak tadi!" pekik Luffy kencang. Kaki kanannya menginjak pedal rem secara tiba-tiba.

"Oi, oi, Luffy! Jangan seenaknya menghentikan mobilmu di tengah jalan!" serunya kesal menyadari tubunya terantuk beberapa senti karena rem mendadak pria di sebelahnya.

Luffy menunjuk lampu lalu lintas di depan mereka. "Lampu merahnya menyala, Zoro."

"Astaga." Pria berambut hijau itu merebahkan kembali tubuhnya pada sandaran kursi. Kali ini dengan lebih santai.

"Apa terjadi sesuatu padamu? Kau sakit?" Luffy mengulangi pertanyaannya.

"Aku baik-baik saja."

"Terjadi sesuatu pada Robin?"

"Ah, itu…" Zoro menghentikan kalimatnya. Seketika teringat raut lelah wajah Robin yang tertidur pulas ketika ia meninggalkannya tadi. "Yah. Ia masih belum benar-benar sembuh."

"Apa sakitnya parah? Suruh saja ia makan banyak-banyak. Aku selalu melakukannya ketika sakit, dan besoknya aku sembuh." Luffy berkata sekenanya.

"Andai saja semudah itu." Zoro tertawa kecil.

Luffy lalu menggeser tongkat persnelingnya dan membawa mobilnya kembali melaju saat lampu hijau menyala. Sambil terlibat percakapan ringan dengan penumpang berambut hijau di sampingnya, tak sampai lima belas menit mereka sudah tiba di rumah Bellmere di Tokyo.

Kedatangan mereka lantas di sambut oleh Nami yang membuka pintu.

"Akhirnya, ku kira kalian akan tersesat."

"Shishishi, tenang saja. Tidak akan terjadi jika aku yang menyetir," kata Luffy bangga.

Sementara Zoro mendelik di sampingnya.

"Kau benar." Nami mengangguk setuju. "Kalau begitu masuklah, kami semua sudah kelaparan karena menunggu kalian."

Sabo dan yang lain sudah menunggu di ruang makan saat Zoro dan Luffy melangkah masuk. Bellmere yang melihat kedatangan mereka berdua, lantas menyuruh kedua pria itu mengisi tempat yang kosong di meja makan. Tak butuh waktu lama setelahnya hingga terdengar denting suara alat makan yang beradu memenuhi ruangan. Sekejap saja, mulut-mulut mereka sudah penuh dengan makanan. Tak ada yang membahas hal-hal berat terkait persidangan selama makan siang berlangsung. Mereka berupaya sebaik mungkin untuk saling berbagi lelucon demi meringankan beban fikiran mereka. Beruntung, Luffy berada disana. Pertarungan kecilnya tentang masalah orientasi arah dengan Zoro cukup membuat gelak tawa di ruang makan.

"Jadi, bagaimana keadaan Robin-chan?" tanya Sanji seraya membantu Nami membawa piring-piring kotor kembali ke dapur.

"Apa dia mendengarkan persidangannya?" Nami menimpali.

Zoro terdiam. Matanya menerawang mengingat Robin yang menangis lama dalam pelukannya.

"Hei, marimo."

"Yah…" Pria berambut hijau itu menghela nafas panjang. "Dia menangis."

"Apa?!" jerit Nami terkejut. "Bagaimana bisa? Kau biarkan ia mendengarkan hasil persidangannya?"

"Bukankah lebih baik jika ia mengetahuinya sendiri? Biar bagaimanapun, ini semua tentangnya."

Nami terpekur. Zoro ada benarnya soal ini. Akan lebih menyakitkan jika mendengar hasilnya dari orang lain.

"Tapi, aku senang mendengarnya menangis. Robin sudah terlalu lama bersikap seolah-olah ia baik-baik saja." Bellmere ikut angkat suara. "Terasa lebih manusiawi saat tau ia menangis."

"Dia baik-baik saja, Bellmere-san. Kau tau ia tak selemah itu." Zoro menenangkan.

"Kau benar."

"Lalu, bagaimana langkah selanjutnya?" tanya Sanji pada Sabo yang tengah menyisip teh hangatnya. "Kau memiliki rencana?"

"Aku akan segera menyiapkan segala yang kita butuhkan untuk melakukan banding. Tapi tentu saja, ada beberapa kendala disini," jawab pria berambut pirang itu khawatir.

Bellmere mengernyitkan dahinya. "Apa kendala yang kau maksud itu, saksi?"

Sabo mengangguk. "Setelah kepergian Saulo, aku tak yakin memiliki saksi yang tepat untuk menemaniku di persidangan."

"Bukankah Bellmere-san tau banyak soal kejadian itu?" Zoro berupaya memberi masukan.

"Itu tak cukup kuat. Bellmere-san hanya mendengarkan ceritanya dari Saulo. Argumen orang ketiga biasanya mudah dipatahkan."

Hening lagi. Pandangan mereka lurus tertuju ke arah Luffy yang sejak tadi sibuk meraih satu demi satu camilan manis yang disiapkan Sanji di meja makan. Hanya Genzo yang meladeninya dengan beberapa pukulan di kepala. Selebihnya, sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.

Sabo tiba-tiba menegakkan tubuhnya. "Atau… sebenarnya kita masih memiliki satu saksi kunci yang lain," ujarnya secara tiba-tiba. Mulutnya menyeringai senang karena telah mengingat sesuatu yang penting.

"Benarkah?" Nami dan Sanji bertanya bersamaan.

"Aku tiba-tiba ingat Robin pernah berkata jika ada seseorang yang menyaksikan ia dan Saulo keluar dari pulau tersebut. Seorang pria dengan perawakan tinggi, rambut keriting yang tertutup topi, dan kacamata bulat di wajahnya. Ia hanya berdiri diam di dek kapal sambil mengamati mereka kabur dari sana. Aku ingat Robin menyebutnya… hmm, coba ku ingat-ingat. Dia.. Kij–"

"Aokiji."

"Ah, Aokiji! Bellmere-san kau tau?"

"Dia pria yang mengejar Robin selama sepuluh tahun terakhir." Wanita berambut merah muda itu berkata pelan. Kembali khawatir setelah mengetahui fakta bahwa Aokiji menjadi saksi yang tersisa.

"Apa tidak ada yang lain?" Zoro ikut cemas. Ingat betul luka yang ia dapatkan di bahu kirinya beberapa bulan lalu. "Aku tak yakin ia akan jadi saksi yang tepat."

"Apa ia tidak di pihak Robin?"

"Ia hampir saja membunuhnya," kata Zoro kasar. Geram mengingat upaya pria itu membunuh Robin.

"Sebenarnya, ia mungkin bisa saja membantu." Bellmere mengangkat kembali wajahnya. "Aku tak yakin soal ini tapi… ia yang memberiku informasi saat Sakazuki bergerak di Tokyo juga saat Sakazuki akan menangkap Robin di Iwasaki."

"Benarkah?" tanya Sanji memastikan. "Itu… sedikit mengejutkan."

"Aku tau. Meski begitu aku masih tak yakin ada di pihak siapa ia sebenarnya."

"Kalau begitu, bukankah kita hanya perlu memastikannya?" Zoro melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya berubah antusias.

"Apa maksudmu?"

"Dimana dia sekarang?"

"Entahlah, aku tak yakin. Aku tak lagi mendengar kabarnya sejak ia memberiku informasi soal penangkapan Robin di Iwasaki."

"Kapan persidangan selanjutnya dimulai, Sabo?"

"Hmm, aku butuh kurang lebih satu minggu untuk menyiapkan beberapa berkas dan menyampaikannya ke pengadilan. Sampai pengadilan mengabulkannya, setelahnya masih ada satu atau dua minggu sebelum persidangan kembali di gelar." Sabo menjelaskan.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan kembali dalam dua minggu."

"Oi, marimo. Jangan bilang kau berniat mencari Aokiji?" Sanji menebak.

"Lebih baik mencarinya daripada tidak melakukan apapun bukan?" Zoro menyeringai. Ia yakin betul ini akan berhasil. "Aku titip Robin sampai persidangan dimulai."

"Kau bisa mengandalkan kami." Bellmere berkata mantap. Menandakan ia mendukung Zoro sepenuhnya.

Sabo menghela nafas lega. Entah kenapa ia memiliki firasat yang baik tentang ini. "Berjanjilah kau akan kembali dalam dua minggu, Zoro."

"Tentu saja." Zoro bangkit dari duduknya. Tersenyum senang. "Baiklah, aku harus bersiap-siap sekarang. Sampaikan salamku untuk Robin. Katakan padanya, ia akan bebas dalam dua minggu."

O • O • O

Robin membuka kembali matanya saat mendengar suara pintu terbuka. Dari sana, masuklah seorang pria berbadan tegap dengan alis tebal dan janggut melengkung yang menutupi dagunya. Melangkah perlahan, dengan sorot mata tajam mengamati seluruh ruangan. Ia berhenti tepat di depan bangsal Robin berada. Tangan kanannya terangkat mengelus pelan radio yang bertengger di sudut ruangan.

"Bagaimana perasaanmu, Nico Robin? Setelah sekian lama, akhirnya kau akan mendengar vonis mati dijatuhkan padamu," kata pria itu dengan suara berat.

"Apa aku mengenalmu?" Robin bertanya hati-hati.

"Ku dengar, kau memiliki banyak teman belakangan ini. Apa kau menghasut mereka?"

Robin terdiam. Dapat ia rasakan tubuhnya sedikit bergetar. "Siapa kau sebenarnya?"

"Aku?" Pria itu berjalan mendekat. Mengamati sebuah foto di atas nakas di samping bangsal. "Aku bertemu pria besar dalam fotomu, beberapa hari yang lalu."

"Saulo -san? Kau mengenalnya?"

"Tidak. Aku membunuhnya."

Pernyataan tersebut sontak membuat tubuh Robin melemah. Kepalanya mendadak terasa panas dan wajahnya merah padam. Tangannya seketika terkepal. Begitu marah karena dengan mudah pria di hadapannya berkata demikian.

"K-kau… benarkah?"

"Aku bisa melakukannya pada yang lain jika kau tak mempercayainya," kata pria itu dengan mudahnya. Tak tampak penyesalan dalam sorot mata tajamnya. "Apa aku harus memulainya dari, Roronoa Zoro? Bellmere? Nami? Atau–"

"Apa maumu?"

Pria tersebut menyeringai. Senang dengan pertanyaan tersebut. "Sejujurnya, aku ingin membunuhmu disini, Nico Robin. Tapi sayangnya, aku harus menjalankan misiku." Ia duduk di atas bangsal milik Robin. Membuat mereka dapat saling menatap dengan mudah. "Sakazuki memberimu dua pilihan. Terima hukumanmu, dan akan ku bebaskan teman-temanmu. Atau… kubunuh mereka satu persatu jika kau menolak pada kematianmu."

Robin terhenyak. Tubuhnya kini bergetar hebat. Meski begitu, sebisa mungkin ia tetap pada posisinya. Berusaha meyakinkan diri jika semuanya akan baik-baik saja. Namun iris birunya membola. Sorot matanya tak dapat menyembunyikan ketakutannya.

"Putusan hukumanmu akan dilayangkan besok pagi, Nico Robin. Jika ku dengar kau akan mengajukan banding, bersiaplah melihat satu persatu temanmu bernasib sama seperti pria besar dalam fotomu," ancam pria berambut hitam tersebut. Ia kemudian bangkit, berjalan perlahan menjauhi bangsal.

"Siapa kau sebenarnya?"

Pria tersebut menghentikan langkah. Melirik Robin sejenak. "Rob Lucci. Kau boleh mengingat namaku jika kau mau," jawabnya. Kemudian membuka pintu ruangan dan keluar dari sana. Meninggalkan Robin yang menjatuhkan tubuhnya dengan lemas diatas bangsal.

O • O • O