Finally, it close to the end!
Wah, nggak nyangka setelah hampir dua tahun menulis cerita ini, akhirnya cerita ini mendekati selesai. Sempat terfikirkan akhirnya untuk membuat universe dari cerita ini. Mungkin akan lebih detail bercerita tentang Luffy dan Hancock, juga Sanji dan Nami. Meski tak yakin apa aku bisa menyelesaikannya dengan cepat. Hehehe.
Tapi sebelumnya, terima kasih banyak pada yang sudah membaca cerita ini. Astaga, aku cukup terkejut melihat traffic statsnya. Tak ku sangka ada banyak dari kalian yang masih mengikuti cerita ini. Tadinya sempat tak terfikir cerita ini akan berlanjut, tapi tiba-tiba, teoriku benar tentang Robin yang mungkin akan diambil paksa oleh salah satu bajak laut - dan tak tanggung-tanggung, Big Mom yang mengincarnya! Haha - jadi aku kembali bersemangat melanjutkan cerita ini. Apalagi membayangkan Zoro dan yang lain akan menyelamatkannya. Hihi.
Aku menunggu sekali review dari kalian. Karena khawatir betul cerita ini terlalu gross atau terlalu aneh. Dan, ah ya aku terlalu banyak bicara sepertinya.
Baiklah, ini chapter 14 nya. Semoga kalian menikmatinya.
One Piece belongs to Eiichiro Oda
O • O • O
Sebuah sedan berwarna merah melambatkan lajunya saat menyadari ia telah memasuki salah satu distrik kecil bernama Igayadomachi di ujung prefektur Nagasaki. Zoro yang berada di balik kemudi, otomatis menurunkan kaca jendela saat melihat hamparan laut begitu luas di sisi jalan di sebelahnya. Sontak, angin laut dengan cepat menyeruak masuk. Membawa hawa dingin yang sejuk, tapi juga hangat dalam waktu yang bersamaan.
Pria itu kemudian menepi. Membiarkan kendaraannya terparkir sekenanya di area parkir sebuah kedai yang ia temui di sepanjang jalan tersebut. Satu-satunya kedai yang ia lihat bersisian tepat dengan pembatas jalan yang membatasi lautan. Ia mematikan mesin mobilnya. Lalu turun dengan sebotol sake dan meneguknya sambil terus mengamati lautan di depannya.
"Benarkah pulau itu berada di barat tempat ini?" gumamnya pada dirinya sendiri. "Aku tak melihat apapun."
Sudah hari ke sebelas sejak Zoro berkeliling untuk mencari Aokiji dengan mobil yang ia pinjam dari Luffy. Namun sayang, belum ada satupun petunjuk yang ia temui terkait dengan pria tersebut. Ia bahkan tak yakin masih memiliki waktu yang cukup untuk mencarinya lantaran sidang akan di gelar tiga hari lagi. Igayadomachi merupakan satu-satunya tempat yang ia fikirkan saat ini lantaran Bellmere berkata Pulau Hashima berada di barat kota ini.
Pria itu mendesah berat. Ia arahkan kembali botol sake ke mulutnya. Tapi kemudian ia berdecak lantaran tak setetes pun air keluar dari sana.
"Astaga, ini sake terakhir," gerutu pria berambut hijau tersebut. Tangannya bergerak menggoyangkan botol sake dalam genggamannya.
Tak lama setelahnya, keluar seorang pria dengan rambut lebat dari dalam kedai. Tergopoh-gopoh membawa beberapa karton dus berisi sayur-sayuran ke bawah sebuah keran air yang terletak di sisi bangunan. Tangannya dengan cekatan mencuci sayuran-sayuran tersebut, lalu memilah-milahnya sesuai peruntukkannya ke beberapa keranjang yang berbeda.
Zoro terdiam. Rasanya tak buruk jika ia mampir sejenak untuk makan siang. Lagipula, ia baru makan setangkup roti sejak semalam.
"Sumimasen, ossan. Apa kedaimu sudah dibuka?" tanya Zoro seraya berjalan mendekat.
Pria yang ditanya menghentikan aktivitasnya. "Oh, anak muda. Kau lapar?" sahutnya setelah melirik sebentar pada Zoro. "Tunggulah di dalam. Aku akan segera masuk setelah mencuci semua sayuran-sayuran ini."
Zoro terpekur. Mengalihkan pandangannya sejenak pada tulisan 'tutup' yang bertengger di pintu kedai, kemudian menggelengkan kepalanya. "Maa… Tak masalah, aku akan menunggu disini."
"Hmm?" Pria tadi melirik Zoro yang sudah bersandar pada kap mobil. Tangannya terlipat di depan dada sementara matanya memicing tajam pada lautan di depannya. "Baiklah, terserah kau saja."
Tak ada satupun dari mereka yang berbicara dalam beberapa menit ke depan. Zoro masih berkutat dengan fikirannya sendiri sementara si pemilik kedai sibuk dengan sayur-sayurannya. Hanya suara gemerisik air dari keran dan suara kepakan sayap burung-burung laut yang memecah keheningan diantara mereka.
"Kau datang dari Nagasaki, anak muda?" tanya pria itu kemudian. Tak ingin mereka saling berdiam dalam waktu lama.
"Zoro, panggil saja Zoro." Zoro mengenalkan dirinya. "Aku datang dari Tokyo."
"Ah, kau datang dari tempat yang jauh." Pria itu bangkit seraya mengangkat beberapa keranjang berisi sayur-mayur basah. "Namaku Yasuie. Masuklah. Akan ku buat kau mengingat tempat kecil ini melalui udon-ku," ajaknya. Lalu memimpin masuk ke dalam kedai.
Kedai udon milik Yasuie bukanlah kedai yang kecil. Namun juga bukan sebuah restoran besar di kelasnya. Luasnya kurang dari seratus meter persegi dengan dua lantai dan teras kecil yang menghadap ke lautan. Lantai pertama diisi oleh beberapa buah meja dan bangku kayu. Sebuah meja kasir, juga sebuah bar yang berdekatan dengan dapur. Ada banyak cindera mata tertempel di dinding-dindingnya. Juga beberapa foto Yasuie dengan orang – yang Zoro tebak cukup terkenal – untuk dapat menghiasi dinding kedainya. Meski tentu saja, Zoro tak mengenal siapa mereka.
Pria berambut hijau itu memilih duduk di bar, sembari mengedarkan matanya dan membaca satu persatu label minuman beralkohol yang tertata di rak di depannya. Yasuie memiliki banyak jenis wine dan sake rupanya.
Wangi daging sapi yang bercampur dengan irisan jahe dan daun bawang membuat Zoro mengalihkan pandangannya ke arah celah yang terbuka pada dinding sekat pemisah antara dapur dan bar. Dapat ia lihat betapa cekatannya Yasuie dalam mencampurkan dashi dan bumbu-bumbu lain sebelum menuangkannya pada udon yang telah direbus sebelumnya. Zoro mengamatinya terkesan. Tak sampai lima menit, niku udon buatan Yasuie sudah bertengger di depannya.
"Nah, makanlah," kata pria berbadan kecil tersebut seraya menyodorkan segelas ocha hangat untuk mendampingi makanannya.
Zoro mengangguk. Dicicipinya udon yang masih mengepulkan asap di depannya lalu kemudian ia terkejut. Matanya antusias menatap Yasuie yang sudah ambil tempat duduk di sebelahnya. "Ini enak, ossan."
Yasuie tertawa keras. "Tentu saja. Udon ku yang terbaik disini," ujarnya bangga.
Pria berambut hijau tadi tak mengubrisnya lagi. Ia sibukkan diri dengan makanannya. Membiarkan perutnya yang kelaparan sejak tadi berpesta dengan makan siangnya.
"Apa kau sedang dalam perjalanan menuju kampung halamanmu, Zoro-san?" tanya Yasuie di sela-sela waktu tersebut.
Zoro menggeleng pelan. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan. "Aku sedang dalam perjalanan mencari seseorang."
"Mencari seseorang?"
"Hmm." Pria berambut hijau itu mengangguk. Ia angkat mangkuk udon di hadapannya dan ia sisip kuahnya hingga tandas. Kini, ia telah kenyang. "Kau pernah melihat pria tinggi dengan rambut keriting berada disini?"
Yasuie nampak berfikir. "Entahlah. Aku hampir tak memiliki pengunjung tetap. Kebanyakan dari mereka hanya mampir untuk makan siang dalam perjalanan menuju Takahamamachi atau Nomomachi. Aku jadi tak bisa mengingat mereka semua kecuali jika mereka memiliki cerita yang khusus sepertimu," jelasnya jujur.
"Lalu, apa pulau Hashima benar-benar berada di barat tempat ini?"
"Ah, jadi kau juga tertarik pada persidangan itu, Zoro-san?"
"Kau tau?"
"Tentu saja." Yasuie berdecak kesal. "Pelangganku jadi bertambah sejak kasus tersebut kembali dibuka."
"Jadi? Bukankah itu bagus?" tanya Zoro dengan kening berkerut. Penasaran mengapa Yasuie justru terlihat tak suka dengan kondisi tersebut.
"Bagus untuk bisnisku, tapi tidak untuk masyarakat di negeri ini." Pria itu turun dari kursi bar. Melangkah perlahan menuju pintu kaca yang mengarah ke teras. Matanya lurus mengamati lautan di depannya. "Aku tak suka melihat bagaimana wartawan-wartawan itu memojokkan satu pihak hanya untuk membuat berita mereka terlihat luar biasa," tambahnya geram.
Zoro terdiam. Mendadak teringat pada Robin yang menangis di pelukannya. "Kau…" Ia bertanya hati-hati. "Ada di pihak siapa, Yasuie-san?"
"Apa aku terlihat seperti percaya pada skenario bodoh itu?" Yasuie memutar tubuhnya. Kembali mengarahkan pandangannya pada satu-satunya pelanggan di kursi bar. "Tak ada orang yang percaya jika ledakan sebesar itu diakibatkan oleh ulah seorang anak berusia delapan tahun Zoro-san. Tak ada satupun dari kami yang tinggal di sini percaya pada hal itu."
Perkataan Yasuie membuat Zoro tersenyum simpul. Senang mendengar fakta jika masih ada banyak orang yang percaya pada Nico Robin. "Apa kau, melihat ledakan itu?"
"Sangat jelas." Yasuie menganggukkan kepalanya. Telunjuknya mengarah ke lautan di balik pintu kaca di sampingnya. "Tepat disana. Api berkobar dengan hebat disana. Asapnya bahkan membuat kami tak bisa keluar selama berhari-hari."
"Kau melihatnya dari sini? Aku bahkan tak bisa melihat pulaunya."
"Itu api yang sangat besar, Zoro-san. Kau harus lihat sendiri betapa merahnya lautan di sebelah sana sepuluh tahun lalu."
Zoro tertegun. Untuk sesaat membayangkan betapa mengerikannya pemandangan tersebut dari tempatnya berdiam saat ini.
"Kau…," suara Yasuie mendadak sedikit mengintimidasi. "Kau bukanlah salah satu dari wartawan-wartawan itu kan?"
Zoro tergelak, kemudian menggeleng cepat. "Pria yang sedang ku cari ini, dia adalah satu-satunya saksi yang kami miliki untuk mendampingi Nico Robin," katanya setelah memastikan jika dirinya telah menyusun kalimat yang tepat.
Mata Yasuie membola. Mulutnya terbuka sedikit menunjukkan betapa terkejutnya ia. "K-kau… bagian dari persidangan itu?"
Zoro hanya tersenyum. Matanya kembali ke deretan botol-botol minuman beralkohol di rak bar. "Ossan, kau punya banyak sake disini," katanya pada Yasuie yang masih terpaku di tempatnya. "Bisa kau beri aku lima botol sake dengan kualitas terbaik disini? Aku butuh itu untuk bekal perjalananku."
"Ah-ah, ya. Tunggu sebentar, akan aku periksa apa aku masih punya sebanyak itu untukmu." Yasuie lantas bergerak. Membuka beberapa kabinet kayu di bawah bar. Matanya mengedar memastikan letak botol-botol sakenya.
Zoro menunggu.
"Maa… sepertinya aku tidak memiliki sake kualitas baik sebanyak itu, Zoro-san. Ini satu-satunya sake terbaik di Igayadomachi dan hanya tersisa satu. Jika kau mau, aku bisa ambilkan yang kualitasnya tak jauh berada di bawah ini." Yasuie menunjukkannya pada Zoro.
"Yah, apa boleh buat." Pria berambut hijau itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kumpulkan saja lima botol sake yang kau punya, Yasuie-san."
"Mattaku. Kau benar-benar peminum handal, anak muda. Bagaimana bisa kau berkendara sambil membawa begitu banyak sake. Benar-benar," gerutu pemilik kedai tersebut sambil terus memilah botol-botol sakenya. "Aku jadi ingat dengan orang yang menghabiskan sake-sake disini kema – oh, astaga!" Yasuie mendadak kaget bukan main. Tangannya mencengkram lebih erat botol-botol sake dalam genggamannya.
Zoro menautkan kedua alisnya. "Kau baik-baik saja, Yasuie-san?"
"Pria yang kau cari! Tinggi, berambut keriting, dengan mantel panjang dan kacamata bulat hitam di wajahnya. Dia disini!" Yasuie berseru kencang.
"Be-benarkah?" tanya Zoro sama terkejutnya.
"Astaga, bagaimana bisa aku melupakannya? Pria itu hanya berdiri di teras sambil memandangi lautan selama berjam-jam dan menghabiskan banyak sekali sake dan bir." Yasuie memegangi kepalanya dengan satu tangannya yang bebas.
Zoro membeku. Ciri-ciri yang pria ini sebutkan, tak salah lagi. Dia Aokiji. "Apa dia mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak, seingatku." Yasuie menggelengkan kepalanya. Menunjuk botol-botol minuman beralkohol di rak. "Ia hanya membeli beberapa botol sake dan bir disini, lalu duduk lama di teras."
"Kau tau kemana dia setelahnya?"
"Aku tak yakin. Dia berbelok ke kiri setelah keluar dari kedaiku. Mungkin kembali ke Nagasaki."
Pria berambut hijau itu nampak berfikir. "Apa ada sesuatu yang penting di Nagasaki?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
"Jika ini tentang Pulau Hashima, dia mungkin sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan sekarang," jawab Yasuie membantu. "Ada dua pelabuhan kecil disini yang bisa membawamu ke Pulau Hashima sebelum peristiwa itu terjadi. Tapi sejak pemerintah menutupnya sepuluh tahun lalu, hanya Nagasakiminato satu-satunya pelabuhan dimana kau bisa pergi ke pulau itu – Ah, andai saja aku bertemu denganmu lebih dulu, aku mungkin bisa menahannya untukmu."
Zoro tersenyum. "Tak masalah, Yasuie-san. Informasimu lebih dari cukup membantuku," ujar pria itu bersungguh-sungguh.
Yasuie memandangnya khawatir. "Kau, sungguh berada di pihak gadis itu kan, anak muda?"
Pria berambut hijau itu terdiam. Kemudian mengangguk mengiyakan. "Aku berada di sampingnya, ossan."
"Baguslah." Yasuie menghela lega. "Sampaikan salamku untuknya. Katakan jika ia tak sendirian."
"Baiklah."
Pria berambut hijau itu kemudian keluar dari kedai sambil membawa beberapa botol sake dalam dekapan tangannya. Kembali ia nyalakan mesin kendaraannya, kemudian melesat menuju Nagasaki.
O • O • O
Ruangan tersebut hanya berukuran kurang dari enam meter persegi. Dengan satu buah kabinet kecil, lampu pijar yang remang, dan dipan kayu di pojok ruangan. Meringkuk diatasnya, Robin yang menutup dirinya dengan selimut putih pemberian Zoro untuknya. Dua buah buku berserakan di lantai dengan halaman terbuka. Buku yang sudah habis dibacanya berkali-kali sejak lebih dari satu bulan ia berada di tempat ini.
"Tamu untukmu, Robin."
Suara hangat seorang wanita kemudian membangunkannya. Berdiri di depan jeruji, Koala yang sudah membuka pintu sel untuknya. Gadis itu kemudian beranjak. Melangkah perlahan keluar dari sana.
"Kau baik-baik saja?" tanya Koala saat perjalanan mereka menuju ruang pertemuan.
Robin mengangguk kecil. Tersenyum simpul demi meyakinkan Koala tentang kondisi tubuhnya.
"Jangan sungkan untuk mengatakan apapun padaku, Robin-san," bujuk wanita dalam balutan seragam polisi tersebut.
"Kau dan Sabo sudah banyak membantuku, Koala. Terima kasih."
Pintu ruang pertemuan sudah terbuka saat mereka tiba. Menunggu disana, pria berambut pirang yang tersenyum saat melihat klien nya datang bersama Koala.
Pria itu merentangkan tangan, memeluk singkat kekasihnya kemudian mengamati Nico Robin yang tersenyum pada mereka.
"Apa ada sesuatu?" tanya Sabo heran.
Robin menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Hanya senang melihat kedekatan kalian berdua," jawabnya jujur.
Koala terkikik. "Baiklah, akan aku tinggalkan kalian disini. Katakan saja bila kalian butuh waktu lebih untuk bicara," katanya kemudian meninggalkan ruangan.
Sabo lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak berukuran sedang dengan pita merah muda yang kemudian ia serahkan pada Robin yang sudah duduk di seberangnya.
Alis gadis itu bertaut. "Apa ini?"
"Zoro menitipkannya padaku. Bukalah."
Robin menurut. Kemudian tersenyum saat melihat isinya. Tiga buah buku sejarah.
"Dia bilang kau akan menghabiskannya dalam tiga hari. Itu cukup untuk mengisi waktu luangmu sembari menunggu persidangan selanjutnya," jelas Sabo mengingat apa yang pria berambut hijau itu katakan melalui telepon beberapa hari yang lalu.
Mendengar kata persidangan, kembali senyum Robin meredup. Matanya mendadak terpejam mengingat kembali sosok Rob Lucci yang datang menemuinya pekan lalu.
"Bisakah kita tak melanjutkan ini, Sabo?" tanya gadis itu lemah. Satu tangannya mengelus pelan buku-buku sejarah di depannya.
Sabo mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kalian sudah banyak membantuku. Aku tak ingin membebani kalian lebih dari ini."
"Kau fikir kami terbebani dengan semua ini?" pengacara muda tersebut menaikkan sedikit volume suaranya. "Lalu, setelah sampai disini kau mau menyerah begitu saja dan menerima vonis mati yang mereka jatuhkan padamu?"
Robin mendesah berat. Satu tangannya terangkat memegang kepalanya yang mendadak terasa berputar.
"Katakan padaku, apa terjadi sesuatu? Apa ada seseorang yang menemuimu?"
"Sabo, aku…" Robin berkata dengan suara bergetar. Ia tahan air mata yang menggenang semampunya. "Aku hanya merasa cukup dengan semua ini."
"Astaga!" Sabo berdecak kesal. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah mengitari ruangan. Lalu kemudian, ia menghela nafas panjang. Mengontrol emosinya. Kembali pria itu mendekati Robin dan memegang kedua bahunya.
"Robin, dengar. Kau bisa percaya pada kami." Sabo berkata pelan. Berusaha menenangkan gadis di depannya. "Kau tau Zoro dan yang lain tak akan suka mendengar perkataanmu. Kami disini untuk membantumu, Robin. Atas keinginan kami sendiri."
Robin terdiam. Mengamati dalam-dalam kedua iris Sabo yang menunggu di depannya. Ada begitu banyak kepercayaan yang dia simpan disana.
"Seseorang…" Gadis berambut hitam itu akhirnya bicara. Suaranya terdengar pelan dan parau. "Seseorang bernama Rob Lucci datang saat aku berada di rumah sakit, Sabo. Dia mengatakannya padaku, d-dia… membunuh Saulo."
Kedua mata Sabo membola. Terkejut luar biasa. Ia kepalkan tinjunya untuk menahan amarah yang seketika mencuat di dadanya.
"Dia bilang, dia mungkin akan melakukan hal yang sama pada kalian," tambah Robin gemetar. Raut wajahnya terlihat begitu cemas dan takut disaat yang bersamaan. Ia tutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku hanya merasa perlu melakukan sesuatu untuk kalian, Sabo."
Sabo menghela panjang. Mengelus pelan bahu Robin beberapa kali dengan kedua tangannya. "Tenanglah, Robin. Kami semua baik-baik saja disini." Pria itu menenangkan. "Yang perlu kau lakukan hanyalah tetap percaya pada kami dan tetaplah berada di persidangan itu nanti. Kami berjanji akan menjaga diri kami sendiri."
Robin terdiam. Menurunkan kedua tangannya dan mengamati Sabo dalam-dalam. Ia kemudian mengangguk. Lalu meminta sang pengacara merahasiakan percakapan ini dari siapapun.
O • O • O
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi ketika Zoro tiba di Nagasaki. Pria itu langsung melajukan kendaraannya menuju Nagasakiminato dan berkeliling di sana. Tak ada satu orang pun yang bisa ia temui di malam buta seperti ini. Jalanan sepi, begitu juga dengan pintu pelabuhan tertutup rapat di depannya. Pria itu keluar dari mobilnya dan melangkah perlahan mendekat ke pintu masuk pelabuhan. Tak bisa ia temukan manusia dalam jarak pandangnya yang bisa ia mintai informasi terkait Aokiji.
Pria itu kembali ke dalam mobil. Menepikan kendaraannya di bahu jalan, lalu meneguk sakenya. Membuat tubuhnya seketika terasa hangat untuk menetralisir angin laut yang begitu dingin malam itu.
Zoro seketika terkesiap saat menyadari ada silhuet seseorang dari kaca spion mobilnya. Ia menegakkan tubuhnya untuk berjaga-jaga. Mengambil salah satu katananya di jok belakang, lalu perlahan keluar dari sana. Pria itu mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari silhuet tersebut dalam gelapnya malam. Lampu jalan yang tak terlalu terang menyulitkan penglihatannya.
Lalu dalam waktu yang begitu singkat, dapat ia rasakan sebuah benda tajam tengah meluncur ke arahnya. Pria itu bergegas, melompat mundur ke belakang. Ia tarik sushui dari sarungnya, lalu ia arahkan ke udara.
Ctang!
Bunyi besi yang beradu menggema di antara sepinya malam. Pria itu menyeringai, tajam menatap Aokiji yang sudah berada di depannya.
"Arara…" Pria tinggi tersebut menarik kembali pedangnya. "Tak ku sangka aku dapat bertemu denganmu disini. Apa ini kebetulan?"
"Tidak, tidak sama sekali." Zoro menggelengkan kepalanya. Mengayunkan kembali pedangnya seiring dengan pergerakan Aokiji yang kembali mendorong tubuhnya ke belakang.
Mereka kembali bergulat bersama pedangnya. Saling berusaha memberikan luka pada lawannya. Namun Zoro terpojok. Pria berambut hijau itu akhirnya memutar tubuhnya, lalu berlari dan melompat berusaha menyentuh tubuh belakang Aokiji yang dapat ditangkis dengan mudah oleh katananya.
Aoikiji tak mau kalah. Ia menendang dada Zoro hingga tersungkur ke belakang. Membuat pergerakan pria itu terhenti seketika untuk menahan keseimbangan tubuhnya. Aokiji mengayunkan pedangnya di udara, membidik leher Zoro yang tengah tertunduk mengamati dadanya. Namun Zoro dengan segera menghindar, menjatuhkan tubuhnya ke samping. Hanya helaian rambutnya yang berjatuhan sedikit terkena ayunan pedang Aokiji barusan.
Zoro berdecak. Mencari celah yang terbuka dari pria bermantel panjang di depannya.
"Kau mencariku, Roronoa Zoro?" tanya Aokiji di tengah-tengah perkelahian mereka.
Nafas pria itu terengah. Dadanya jadi terasa sesak akibat tendangan Aokiji tadi. "Yah, begitulah," jawabnya lalu kembali berlari sambil menghunuskan pedangnya.
Namun pria di depannya dapat menghalau dengan mudah. Senyumnya mengejek. Ia buat pedang Zoro terlempar di udara.
Pria berambut hijau itu menggeretakkan gigi-giginya.
"Apa ada sesuatu yang penting?"
"Kau ada di sana sepuluh tahun lalu, bukan?" tanya Zoro seraya melompat mundur. Berusaha mengambil kembali shusui nya.
Namun Aokiji buru-buru melayangkan tendangannya. Memberikan lebam dan luka sobek pada ujung bibirnya.
Buru-buru Zoro menyeka darah segar yang keluar dari sana. "Jadilah saksi untuk Robin di persidangan selanjutnya," ujarnya kemudian. Tangannya menggapai meraih katana yang tergeletak beberapa senti di sebelahnya.
Aokiji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mengapa kau berfikir aku mau melakukannya?"
"Karena kau juga keluar dari kepolisian beberapa bulan setelahnya. Kau tau kebenarannya." Zoro kembali bangkit. Berusaha menahan tubuhnya dengan kuda-kuda yang dipelajarinya. Pedangnya masih bersiaga di depannya.
Pria tinggi berkacamata hitam itu terkekeh. "Jadi Bellmere menceritakan semuanya kepadamu?"
"Kau bukanlah orang jahat, Kuzan."
Aokiji terdiam. Lalu mendesah pelan. Kedua tangannya terangkat di udara, menggenggam dengan erat pedang birunya. Ia melompat, lalu memberi tenaga penuh pada layangan pedangnya. "Ice saber," gumamnya tegas. Lalu menghunuskannya tepat pada dada Zoro yang terbuka.
Pria berambut hijau itu sedikit mundur ke belakang. Kesulitan menangkis serangan yang diberikan Aokiji padanya. Hingga kemudian, ia rasakan dingin menjalar di kedua tangannya. Menerus ke sekujur tubuhnya. Ia membola, shusui nya seketika membeku, lalu bergemeretak hingga hancur berkeping-keping. Wajah Zoro terkejut luar biasa. Ia tau meito shusui bukanlah pedang yang mudah di hancurkan.
Aokiji memasukkan kembali katana nya. Tersenyum bangga. "Apa dengan kekalahanmu ini kau masih bersikeras memintaku untuk menjadi saksi, Roronoa-san?"
Zoro menatap lawannya. Wajahnya memerah. Kecewa dan marah. Ia tau ia sudah sampai sejauh ini. Ia tak boleh melepaskan pria ini begitu saja. "Aku tau kau akan datang."
"Bagaimana jika aku tidak datang?"
"Kau memberikan informasi pada Bellmere-san tentang kedatangan Sakazuki ke Iwasaki. Kau juga sengaja menemui Robin saat itu untuk membuatnya segera meninggalkan Tokyo." Zoro mengatur nafasnya yang memburu. Tangannya terkepal menahan geramnya ia pada pria di hadapannya, juga pada dirinya sendiri atas kekalahan yang tak bisa ia terima.
Aokiji mengamatinya, betapa tekad pria itu begitu besar terbaca diantara kedua iris hijaunya. Ia usap wajahnya dengan satu tangan, lalu mengarahkan pandangannya pada lautan yang begitu gelap di sebelahnya. "Aku sedang dalam perjalanan mencari seseorang," katanya.
"Aku bisa ikut denganmu."
"Kau hanya akan menjadi beban untukku."
Zoro tak mengubris ucapan Aokiji. Ia bersikukuh. "Kalau begitu aku akan menunggumu disini."
Aokiji menatap sekilas wajah tegas Zoro sebelum membalikkan tubuhnya. Ia mengangkat satu tangannya di udara. "Maa… Aku akan tiba di Tokyo dalam waktu tiga hari. Pulanglah, aku akan menemuimu disana," terang pria itu sebelum melangkahkan kakinya menjauhi Zoro.
"Benarkah?"
"Jaa...." Pria itu tak menjawab. Hanya melambaikan tangannya sambil terus berjalan dalam gelapnya malam.
Zoro pandangi punggung pria itu dari kejauhan sambil menyimpulkan senyumnya. Cukup senang perjalanannya membuahkan hasil yang baik. Sekilas, ia tatap shusui nya dari ujung mata. Pedangnya yang kini telah hancur dan berserakan di tanah. Ah, tak mengapa, selagi itu bukan wado ichimonji peninggalan Kuina yang berharga, maka tak mengapa baginya. Lagipula, ia tau ada harga yang perlu ia bayar untuk hal baik yang akan ia terima. Dan karena ia yakin setelah ini akan ada lebih banyak lagi hal baik yang menantinya, maka ia akan merelakannya.
