Sudah lebih dari lima belas menit sejak persidangan di mulai. Zoro tak henti menghentakkan kakinya dengan cemas lantaran pria yang dia tunggu tak kunjung datang. Di depan, sudah duduk Bellmere yang tengah bersaksi di depan para hakim dan jajarannya. Menceritakan semua yang ia dengar dan ketahui dari Saulo sebelum pria itu mati. Gesturnya begitu yakin dan tegas. Berusaha sebisa mungkin agar para hakim mempercayai penuh apa yang dia jelaskan adalah apa yang sebenar-benarnya terjadi.

Zoro kembali melirik ke belakang, ke arah pintu masuk yang terbuka. Kepalanya tertoleh ke kiri dan ke kanan memastikan apakah ada Aokiji diantara awak media yang berkerumun disana. Namun nihil, pria itu sama sekali tak nampak batang hidungnya.

"Dia belum datang?" tanya Luffy yang duduk di sebelahnya setelah menangkap kegelisahan dari raut wajah sahabatnya.

Zoro menggelengkan kepala. Mengacak-acak rambutnya dengan kesal. "Ia benar-benar tak bisa di percaya."

"Tenanglah, ia mungkin sudah berada di depan gedung sekarang." Sanji yang duduk di sisi lain Zoro menenangkan, berfikir positif adalah satu-satunya opsi paling baik saat ini.

"Lalu, apa kau ada di Pulau Hashima saat itu?" tanya Hakim Tsuru pada Bellmere setelah wanita paruh baya itu menjelaskan semua yang ia ketahui.

"Tidak, yang mulia. Tapi saya ada dalam rapat forum yang digelar dua bulan sebelum kejadian. Saat itu, Sakazuki yang masih berstatus inspektur jenderal lah yang mengusulkan misi tersebut." Bellmere menjawab mantap.

Mendengar nama Sakazuki disebut, ruang sidang seketika dipenuhi oleh suara-suara kecil yang membahana. Awak media dengan cekatan menuliskan apa yang Bellmere terangkan sedangkan panitera sibuk berdiskusi di meja mereka.

Tak tahan, Zoro bangkit dan melangkah keluar dari barisan kursi tamu. Sanji sempat menahannya meski hal tersebut tak sedikitpun di gubris oleh nya.

"Oi, baka marimo." Sanji ikut bangkit. Tapi kemudian kembali duduk di kursinya saat menyadari pria berambut hijau itu tetap melangkah keluar dari ruang persidangan.

Gigi-gigi Zoro bergemeretak kesal. Ia berjalan tak tentu arah. Tak peduli ia hampir menabrak orang-orang disekitarnya, yang ia tau ia hanya perlu berkeliling mencari pria yang sudah berjanji padanya tiga hari lalu.

Mata pria itu memindai, memastikan seluk beluk gedung pengadilan yang besar itu terjamah oleh pandangannya. Dari ruang sidang yang lain, hingga gudang-gudang arsip. Dari lantai pertama hingga lantai tertinggi gedung tersebut. Tapi nihil. Benar-benar nihil. Hampir sepuluh menit ia berkeliling, tak ada tanda-tanda keberadaan pria itu disini.

Zoro mengatur nafasnya yang terengah. Ia jatuhkan tubuhnya pada salah satu anak tangga yang mengarah ke lantai dua sembari merutuk kesal pada dirinya sendiri karena sudah begitu percaya pada Aokiji. Menyesal karena seharusnya ia ikuti saja kemana perginya pria itu kemarin.

Ia usap wajahnya dengan kedua tangan sebelum kembali bangkit dan melangkahkan kakinya lagi menyusuri gedung pengadilan. Namun belum sampai lima menit, ia lihat Luffy dan Sanji berlari dari ujung koridor menuju ke arahnya.

"Ah, sudah ku duga itu kau!" seru Luffy terengah lalu terkekeh riang.

Sanji menaruh kedua tangan di lututnya. Menopang tubuh yang lelah akibat berlarian. "Astaga, kau benar-benar merepotkan!"

"Ada apa?" Zoro memperhatikan mereka dengan alis bertaut.

Sanji kembali menegakkan tubuhnya. "Dia… dia disini!"

"Dia?"

"Aokiji!" Luffy menyahut tidak sabar. "Ia baru saja masuk ke ruang persidangan."

Mata Zoro seketika membulat. "Benarkah?!"

"Sudah ku bilang jangan gegabah, pendekar pedang bodoh. Dia pasti datang!" Sanji menggerutu. Lalu memimpin mereka kembali ke ruang sidang.

Aokiji tengah berjalan menuju kursi saksi saat mereka tiba disana. Pria itu datang dengan setelannya yang biasa; mantel, dan kacamata hitam yang kemudian dilepas saat bokongnya sudah menyentuh kursi. Pria itu melirik sebentar pada Robin sebelum akhirnya kembali mengamati para hakim di depannya.

"Izin bicara, yang mulia," kata pria itu sambil mengangkat satu tangannya.

Hakim Tsuru mengernyit. Lalu kemudian menganggukkan kepalanya. "Silahkan, Kuzan."

"Saya ingin mengutarakan kesaksian setelah satu saksi yang lain."

"Satu saksi lain?"

Aokiji mengangguk. "Ia sama pentingnya dengan posisi saya saat ini."

"Dan siapa itu?"

"Caesar Clown." Aokiji menunjuk pria dengan mantel putih yang nampak gusar di ujung ruangan. "Dia pria yang turut andil dalam pembuatan senjata untuk pihak militer saat itu."

Zoro terkesiap. Kaget luar biasa mengetahui fakta bahwa Aokiji menemukan satu lagi orang penting yang bisa dijadikan saksi dalam persidangan. Pria berambut hijau itu mendadak teringat perkataan Aokiji tempo hari. Apa Caesar Clown ini yang dicari olehnya? Jika benar dia, tepat tebakan Bellmere perihal Aokiji yang sudah lama sekali berencana menolong Robin.

Aokiji lantas kembali bangkit. Berdiri di samping kursi saksi tempat Caesar kini duduk dengan wajah yang gelisah. Aokiji kemudian meminta Sabo untuk mengambil alih. Pria berambut pirang itu lantas berdiri dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Caesar tentang hal-hal mendasar seputar pekerjaannya, keterlibatannya sepuluh tahun lalu, juga motif perbuatannya saat itu.

"Vegapunk menolak mentah-mentah misi yang Sakazuki ajukan, itu sebabnya ia memintaku melakukannya." Caesar ragu-ragu menjawab pertanyaan Sabo. "Dua bulan sebelum kejadian itu, Akainu memintaku membuat beberapa bom dengan skala ledak yang besar juga gas beracun dengan kadar yang tinggi. Ketiku kutanya untuk apa semua senjata ini, dia hanya menjawab jika ia ingin melakukan penyerangan. Aku tak bertanya lebih karena ku kira ini kepentingan militer. Ah - dan jangan tanya mengapa aku menerima tawaran itu, aku hanya ingin mendapatkan uang dari apa yang ku kerjakan!" Ia berseru dan mengakhiri penjelasannya dengan sedikit pembelaan.

Segera setelah Caesar selesai, Aokiji kembali mengisi kursi tersebut. Tubuhnya tegap. Menunjukkan kesiapannya pada apa yang terjadi setelah ini. Zoro tahu betul, bukan hal yang mudah bagi pria tersebut untuk memposisikan diri sebagai saksi. Ada konsekuensi yang harus ia terima dari segala penjelasannya di depan para hakim. Bisa saja, statusnya berubah menjadi tersangka setelah ini. Dan tentu, itu berarti ia mungkin akan mendapatkan hukuman atas apa yang ia lakukan.

"Ada dimana kau saat itu?" Suara Sabo menggema di ruangan. Pria itu melangkah perlahan mengitari Aokiji yang terlihat tenang.

"Pulau Hashima. Bersama Saulo dan yang lainnya." Aokiji menjawab tanpa keraguan. Di kedua bola matanya, tergambar kembali rentetan kejadian mengerikan tersebut.

"Ini tidak benar, Kuzan!" Saulo berteriak geram. Tatapannya lurus mengamati bawahannya yang menembakkan peluru secara membabi buta ke seluruh penjuru pulau. "Mengapa kita perlu menghabisi seluruh penduduk pulau? Kita bisa dengan segera mengevakuasi mereka!"

"Maa… Keputusan Akainu sepertinya tak bisa diganggu gugat." Aokiji melangkah perlahan mendekati pagar kapal. Matanya mengamati ratusan penduduk sipil yang tengah berusaha bertahan dari pekatnya gas beracun di sekitar pulau. Tak sedikit pula dari mereka yang menceburkan diri ke lautan. Meski kemudian ditembaki hingga mati oleh para prajurit dari atas kapal. Aokiji berdecak, berteriak pada seluruh bawahannya. "Pastikan kalian menembak tepat di jantungnya. Jangan habiskan peluru kalian hanya untuk menembak satu orang."

Seluruh prajurit berseru mengiyakan. Satu tangan mereka terangkat memberi hormat padanya.

Saulo memicingkan mata. Tatapannya penuh intimidasi. "Apa maksud perintahmu barusan? Apa kau menganggap misi ini benar, Kuzan?"

"Setidaknya, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk membuat mereka tidak terlalu merasakan sakitnya kematian."

"Kau fikir begitu? Lalu bagaimana dengan mereka yang disana?!" Saulo menunjuk para penduduk yang perlahan berguguran di tepian pulau. Wajah mereka terlihat membiru akibat kurangnya pasokan udara yang memenuhi paru-paru mereka. Tangan mereka bergantian memegangi leher dan dada, nafas mereka begitu sesak, sebelum akhirnya tumbang di tempat.

Aokiji hanya melihatnya dengan tatapan datar.

"Baiklah, sudah cukup. Aku muak dengan semua ini!" Saulo berteriak kasar. Ia lepas mantel kemiliterannya dan melengos begitu saja meninggalkan dek. Dapat Aokiji lihat pria besar itu kemudian melompat keluar dari kapal dan memasuki area pulau. Berjalan dengan tergesa-gesa mencari siapapun dari para penduduk tersebut yang masih dapat bertahan. Meski penglihatannya samar akibat kabut dan asap tebal yang memenuhi pulau, Aokiji tahu betul Saulo akhirnya bisa menemukan seseorang yang bertahan dekat sebuah pembangkit listrik tak jauh dari tepian pulau.

Pria besar itu lalu tergopoh-gopoh berlari menuju pesisir pantai. Dalam gendongannya, Aokiji lihat seorang gadis kecil yang tertidur pulas dengan handuk basah yang menutupi sebagian wajahnya. Air muka Saulo gelisah. Kepalanya mengedar mencari apapun yang bisa membawa mereka pergi dari pulau.

"Izin bertanya, admiral Kuzan! Apa kita juga perlu menembak mereka?" Salah seorang prajurit mendekati Aokiji dan bertanya padanya.

Pria itu mendesah berat. Satu tangannya memijit-mijit dahinya yang berkerut samar. "Maa… Turunkan saja satu sekoci di bagian belakang kapal. Dan pastikan Saulo melihatnya."

"Hai!" Prajurit tadi kembali memberi hormat. Kemudian memerintahkan beberapa rekan untuk membantunya.

Dari pesisir pantai, Saulo mengarahkan pandangannya pada Aokiji yang berdiri diam di dek kapal. Hanya mengamatinya dengan tatapan yang entah tak bisa Saulo tebak apa maksudnya. Pria itu kemudian berbalik. Tanpa memberi isyarat apapun ia melangkah menjauhi pagar pembatas kapal.

Jadi, disinilah Aokiji sekarang. Membeberkan apa yang sebenarnya terjadi pada puluhan orang yang memenuhi ruang persidangan. Juga pada jutaan lagi yang mendengarkannya di seluruh penjuru Jepang. Diam-diam, tanpa sepenglihatan siapapun, seulas senyum tipis menghiasi wajah lelahnya. Entah mengapa, pundaknya jadi jauh terasa lebih ringan. Tak ada lagi tali besar yang mengikat dadanya. Kini, ia bisa bernafas lega.

Segera setelah semua saksi telah berbicara, para hakim meminta waktu untuk berdiskusi tentang keputusan yang akan mereka buat. Dapat Sabo lihat dalam waktu-waktu penuh ketegangan itu, raut wajah Robin yang begitu cemas di sebelahnya. Kakinya terhentak-hentak pelan tak karuan. Kedua telapak tangannya menyatu dan saling meremas di depan tubuhnya. Perlahan, Sabo genggam tangan gadis itu erat. Berharap ada kekuatan lebih yang dapat disalurkan untuknya.

"Tenanglah," gumam Sabo lembut. "Semua akan baik-baik saja."

Robin menoleh pada pengacaranya. Menyunggingkan seulas senyum lantaran kalimat singkat tersebut begitu berpengaruh untuknya.

Hakim Tsuru kemudian berdeham. Membuat seisi ruangan kembali memusatkan pandangan mereka ke depan. Para awak media seketika menyiapkan bolpoin juga alat-alat perekam mereka. Sigap menangkap apapun yang akan wanita tua itu katakan.

Sementara itu, di tiga baris bangku terdepan, Nami masih saja terus memejamkan mata. Mulutnya tak henti merapalkan bait-bait doa yang diketahuinya. Kedua tangan Sanji berada di bahunya, merangkulnya memberi kekuatan. Di sampingnya, Bellmere hanya diam menatap sendu pada Robin. Kedua matanya berkaca, wajahnya nampak gelisah meski ia berusaha dengan baik menutupinya. Luffy yang tak terlalu mengerti dengan kejadian ini pun sama resahnya. Ia lirik Zoro di sebelahnya, namun pria berambut hijau itu hanya duduk tegak dengan tatapan mata tajam dan raut muka yang begitu datar. Luffy tau betul, sahabatnya tak bisa diganggu saat ini.

"Setelah menimbang semua pernyataan para saksi yang berhasil di hadirkan disini," Hakim Tsuru berkata lambat. Tangannya membalik kertas berukuran sedang yang berada dalam genggamannya. Matanya menyapu habis kata-kata yang tertulis disana. "Kami, menyatakan bahwa nona Nico Robin…" Wanita tua itu menggantung kalimatnya. Melirik sebentar pada Robin seraya menyunggingkan senyum di antara kerutan-kerutan di wajahnya. Ia kemudian melanjutkan. "Nona Nico Robin, anda di bebaskan dari segala tuduhan."

Bunyi ketukan palu mengakhiri kalimat hakim Tsuru. Suaranya begitu menggema meski hampir tak terdengar oleh Robin. Gadis itu terpaku. Untuk beberapa saat ia merasa dunia seakan terhenti. Jika saja Sabo tidak mengguncang tubuhnya, maka ia akan tetap berada disana lebih lama.

"Robin! Kau berhasil!" Sabo bangkit dari duduknya. Berseru senang seraya mengangkat beberapa berkasnya di udara. "Semua ini terbayarkan Robin! Kau bebas!" Teriaknya lagi. Masih menatap Robin yang memasang raut wajah kebingungan.

"Robin!" suara lain menyeru dari belakang. Sudah berdiri Nami dan yang lain di pagar pembatas ruangan.

Gadis itu kemudian bangkit dan menghamburkan diri dalam pelukan Nami dan ibunya. Tubuhnya gemetar. Masih tak menyangka dengan kebebasan yang sudah di terimanya.

Bellmere mengelus punggung Robin yang masih berada dalam pelukannya. Air mata yang sejak tadi menggenang tumpah membasahi pipinya. "Kau berhasil Robin, kau berhasil. Kau bebas sekarang," tuturnya lembut.

Nami menambahkan. "Selamat Robin, aku turut bahagia untukmu." Tangisnya justru lebih kuat dari Robin sendiri.

Robin mengamati mereka berdua. Menghapus butiran air mata yang tumpah di wajah Nami dan ibunya. "Aku tak akan bisa melakukan ini semua tanpa kalian. Terima kasih banyak."

"Kami hanya memberi bantuan. Kau sendiri yang menentukan seberapa kuatnya kau bertahan," ujar Sanji yang sejak tadi berdiri di samping Nami. "Biar bagaimanapun, selamat atas kemenanganmu, Robin-chan. Kau pantas mendapatkannya."

"Arigatou, Sanji-kun," balas Robin tulus.

Sedikit lebih jauh dari tempat Nami dan yang lain, berdiri Zoro dalam diam dengan seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Pandangannya lurus mengamati Robin yang berjalan mendekat ke arahnya. Mereka saling bertatapan untuk sesaat, hingga akhirnya, Zoro mendekatkan tubuhnya dan mencium lembut gadis tersebut tepat di bibirnya.

Robin membalasnya. Ia lingkarkan kedua tangannya di leher Zoro sementara pria itu menarik lembut pinggangnya membuat mereka semakin mendekat.

Nami yang mengamatinya dari kejauhan lantas mengalihkan pandangannya. "Dasar bodoh, mengapa mereka melakukannya disini?" rutuknya pelan.

Tapi tentu saja, dapat didengar dengan jelas oleh Sanji yang berdiri di sampingnya. Pria itu menoleh, mengerjap-erjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya ikut bergumam pelan. "A-apakah kita… ju-juga bisa melakukannya, Nami-san?" tanyanya dengan wajah yang memerah.

Mata Nami membola. Begitu terkejut dengan pertanyaan pria di sebelahnya. Namun kemudian ia tersenyum, lalu mengecup pipi Sanji dengan cepat. Sanji yang diberi kecupan tiba-tiba tersebut, terang saja terkejut luar biasa. Ia pegangi pipinya yang tadi disentuh oleh gadis berambut oranye disampingnya.

"Ng… Nami-san?"

"Akan ku pukul kau jika meminta lebih!" Gadis itu mengepalkan tinjunya. "Ki-kita akan melakukan yang seperti itu lain kali," tambahnya malu-malu.

Sementara itu, Robin melepaskan bibirnya secara perlahan. Ia atur nafasnya yang terengah akibat menangis di sela-sela ciuman mereka. Zoro menyeka wajah gadis itu dengan tangannya. Dahinya berkerut samar saat melihat Robin tersenyum lebar.

"Sudah ku bilang jangan menangis sambil tersenyum. Aku jadi tak bisa membedakan kapan kau senang dan sedih," omel Zoro kesal. Seraya menyingkirkan dengan lembut rambut hitam Robin yang menutupi sebagian wajah cantiknya.

Gadis itu terkekeh kecil. Tak membalas apapun selain memeluknya. Matanya terpejam merasakan betapa hangatnya tubuh bidang Zoro dipadukan oleh kebebasan yang baru saja didapatnya. Zoro lantas mengeratkan pelukannya. Membiarkan gadis itu merasa nyaman bersandar di bahunya.

"Terima kasih banyak, Zoro. Aku tak akan bisa melewati ini semua tanpamu," katanya pelan. Hampir berbisik.

Zoro menggeleng pelan. Mengecup singkat pucuk kepala Robin sebelum ikut menaruh kepalanya di bahu gadis itu. "Kau pantas mendapatkannya, Robin."

Robin kembali membuka matanya. Menatap lurus ke arah pintu masuk ruang persidangan di belakang punggung Zoro. Ia terhenyak saat melihat sosok pria berambut hitam yang dikuncir satu ke belakang berjalan mendekat ke arah mereka.

Tak salah lagi, itu Rob Lucci, dengan sebilah pisau tergenggam di tangan kanannya yang tersembunyi di balik mantel putihnya. Bersiap untuk menyerang.

Buru-buru Robin memutar tubuh Zoro yang masih berada dalam pelukannya. Membuat pria itu terkejut karena hampir saja terjatuh karenanya. Namun kemudian, tubuhnya membeku. Matanya bulat sempurna saat melihat darah segar keluar dari pinggang kiri gadis di depannya.

A-apa yang terjadi?

Robin mengerang pelan saat mencabut paksa pisau tersebut dari pinggangnya. Tangannya kini jadi ikut berlumuran darah. Matanya tajam melirik Rob Lucci yang nampak kaget karena serangannya salah sasaran. Gadis itu kemudian terjatuh ke lantai, meski dapat dengan cepat ditahan oleh Zoro sebelum kepalanya terantuk ke lantai.

Ruang persidangan jadi riuh seketika. Para awak media saling berteriak dan menunjuk Rob Lucci yang kemudian kabur melarikan diri keluar dari sana. Luffy dan Sanji yang melihat kejadian itu sontak mengejarnya. Luffy bahkan melompat dan memberikan tendangan di punggung pria tersebut lalu menghadang pintu keluar ruang persidangan.

Lucci terjebak, ia layangkan pukulan ke wajah Luffy yang terbuka. Lalu melirik ke sisi yang lainnya dan mendaratkan tendangan tepat di perut Sanji. Mereka berdua melenguh. Luffy bahkan dapat merasakan setetes darah segar keluar dari hidungnya.

Sementara mereka berkelahi, Bellmere dan Nami dengan cepat menghampiri Zoro yang masih nampak kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sabo yang masih berada di sana juga ikut membantu. Ia ambil sapu tangan di sakunya dan menekan luka di pinggang Robin semampunya. Berusaha menahan darahnya agar tak lebih banyak lagi keluar.

"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" Bellmere menyarankan.

Disusul anggukan dari yang lainnya. Dengan cepat, Zoro menggendong tubuh Robin dengan kedua tangannya. Mengekor Sabo yang mengarahkan mereka keluar melalui pintu di belakang deretan kursi hakim. Nami sempat melirik ke belakang sebelum akhirnya menghilang di balik pintu. Mengamati sejenak perkelahian yang terjadi antara Luffy dan Sanji, dengan seorang pria yang entah dari mana kedatangannya.

Suasana di dalam ruangan kini menjadi ricuh. Awak media berteriak ketakutan meski tak ada satupun yang berniat keluar dari ruangan. Kebanyakan dari mereka lebih memilih bersembunyi di balik meja atau kursi, sambil terus saja menyibukkan diri merekam kejadian perkelahian yang terjadi tepat di depan mata mereka.

Lucci kembali menyerang. Ia dengan cepat memberikan pukulan pada Sanji yang baru saja melayangkan tendangannya. Namun pria berambut pirang itu bergerak ke sisi yang lainnya. Sebisa mungkin dengan sigap menghindar. Luffy yang mendapat kesempatan, dengan segera meninju wajah Lucci dengan tangan kanannya. Membuat pria berbadan tegap itu terdorong mundur ke belakang dan menciptakan robekan kecil di ujung bibirnya. Pria itu berdecak. Kembali melompat untuk memberikan serangan.

Tak lama setelahnya, masuk Coby dan Tashigi beserta beberapa anggota kepolisian yang lain. Membuat Lucci semakin terpojok dan mengeluarkan lagi sebilah pisau dari saku celananya. Ia arahkan pisau tersebut tak tentu arah. Sambil berusaha menyerang siapapun yang berusaha mendekatinya.

Saat mendapat celah, dengan cepat Sanji menendang tangan Lucci kuat-kuat. Membuat pisau ditangannya terlempar di udara. Melihat itu, Luffy dengan segera ikut melakukan serangan. Ia tinju beberapa kali wajah Lucci hingga membuat pria itu terpental beberapa meter ke belakang.

Coby dan Tashigi segera mendekat. Sigap melumpuhkannya dengan kejut listrik dan mengunci tangan pria tersebut dengan borgol yang mereka bawa.

"Terima kasih atas bantuan kalian, tuan-tuan." Coby menundukkan tubuhnya pada Luffy dan Sanji setelah memerintahkan bawahannya untuk segera membawa Lucci keluar dari sana.

Luffy menggelengkan kepalanya. "Tak masalah, bukan apa-apa. Aku hanya ingin menghajarnya karena sudah membuat teman kami terluka."

"Apa kalian teman Roronoa Zoro?" kini ganti Tashigi bertanya.

Sanji sempat mengelus pelan dagunya sebelum menjawab. "Aku tak yakin kami dapat di sebut teman… tapi, yah. Aku cukup mengenalnya. Ada apa?"

"Sampaikan permintaan maafku untuknya. Aku telah salah mengira perihal Nico Robin beberapa waktu lalu." Tashigi ikut membungkuk. Ia betulkan letak kacamatanya sebelum berterima kasih pada mereka dan pergi meninggalkan ruangan bersama Coby dan yang lainnya.

Sanji kemudian melirik pada Luffy di sebelahnya. "Maa… Sebaiknya kita segera menyusul Nami-san dan yang lain ke rumah sakit sekarang," ajaknya. Diikuti anggukan dari pria tersebut.

O • O • O

Zoro berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit dengan perasaan tak nyaman. Tangannya terlipat di depan dada, sementara kakinya bergoyang-goyang pelan. Matanya memicing tajam pada pintu ruang UGD di depannya. Raut wajahnya cemas. Meski suasana dingin, keringat terlihat jelas membasahi pelipisnya.

Luffy dan Sanji datang tak lama setelah mereka tiba di sana. Segera mengisi bangku ruang tunggu yang kosong diantara Bellmere dan Nami yang terlihat sama cemasnya. Sabo juga tak henti mundar mandir sejak tadi. Meski dalam beberapa kesempatan berusaha bersikap tenang dan memberi semangat pada yang lainnya.

Setelah satu jam, pintu ruang UGD akhirnya terbuka. Muncul dari sana, seorang dokter muda dengan beberapa tato yang terlihat menutupi pergelangan tangannya. Tak main-main, huruf D-E-A-T-H tertulis disana. Membuat kesan pertama yang tidak terlalu baik untuk seorang dokter emergency sepertinya.

"Dokter, bagaimana keadaannya?" Bellmere beranjak dan bertanya tanpa basa-basi.

Dokter itu mengangkat satu tangannya, bermaksud untuk menenangkan perempuan di depannya. "Apa anda keluarganya?"

Bellmere mengangguk. "Aku ibunya."

"Baiklah, keadaannya tidak terlalu buruk. Syukurlah ia segera di bawa kesini. Terlambat sedikit saja, ia bisa kehilangan banyak darah." Dokter tersebut menjelaskan dengan tenang. Dapat Zoro baca nama Trafalgar Law pada identitas yang tersemat di jas putihnya. "Lukanya juga tidak terlalu dalam dan tak mengenai organ vital apapun. Ia hanya perlu beristirahat total selama dua atau tiga hari untuk menghindari pendarahan pada jahitannya. Dan jangan biarkan ia mengangkat beban yang terlalu berat untuk seminggu ke depan. Pastikan saja ia tidak terlalu lelah." Law menambahkan keterangannya.

"Lalu, apa ia sudah bisa dijenguk sekarang?" ganti Nami bertanya.

Law mengangguk. "Tentu saja. Ia sudah dalam keadaan sadar sejak tadi. Namun, hanya tiga orang yang diperkenankan untuk menjenguk saat ini. Masuklah bergantian," katanya. Kemudian meminta izin untuk pergi dari sana.

"Syukurlah kalau begitu. Aku bisa kembali ke pengadilan sekarang." Sabo angkat suara. Membuat yang lain sontak menoleh padanya.

"Kau masih harus kembali?" tanya Sanji memastikan.

"Ada beberapa berkas yang masih harus di tandatangani oleh para perangkat sidang. Aku harus segera mengambilnya agar bukti kebebasan Robin yang legal telah aman berada ditanganku," tuturnya. Kemudian pamit permisi untuk meninggalkan rumah sakit sebelum menitipkan salam untuk Robin pada yang lainnya.

Sanji kemudian mempersilahkan Zoro, Bellmere dan Nami untuk masuk lebih dulu. Sementara ia dan Luffy akan mengurus berkas administrasi di kasir. Tak butuh waktu lama bagi Zoro menemukan gadis tersebut lantaran ia berada di bangsal yang dekat sekali dengan pintu masuk ruang UGD.

"Robin, kau baik-baik saja?" Nami bertanya sambil duduk di sisi bangsal. Bellmlere mengikuti di sampingnya.

Robin tersenyum. Mengangguk yakin. "Aku baik-baik saja, Nami. Kau pasti sudah mendengar penjelasan dokter bukan?"

"Tapi, tetap saja…"

"Tenanglah, ini hanya luka tusuk kecil. Semua organ vitalku baik-baik saja. Aku akan sembuh dalam beberapa hari." Belum sempat Nami protes, Robin segera memotong ucapannya.

"Tapi, Sabo sudah menceritakannya tadi. Bagaimana bisa kau merahasiakannya? Dia orang yang sudah membunuh Saulo, kau tidak bisa begitu saja mengabaikannya." Ganti Zoro yang meracau kesal.

"Zoro." Robin menenangkan. Meminta Zoro duduk di bangku yang tersedia di sisi bangsalnya. Zoro menurut. "Ku mohon jangan membahas apapun lagi. Aku hanya menginginkan kebebasanku dan aku sudah mendapatkannya. Ini sudah lebih dari cukup untukku. Lagipula, ia pasti sudah tertangkap bukan?"

Zoro terdiam. Membenarkan ucapan Robin dengan anggukan kecil di kepalanya. Ia benar. Robin pasti sudah muak dengan segala percakapan mengenai persidangan, hukum, kematian dan apapun tentang itu semua. Cukup baginya mengetahui kini ia telah bebas. Maka bersamaan dengan kebebasannya, Zoro tau gadis itu ingin mengubur rapat-rapat masa lalunya. Membuka lembaran baru bersama dengan apa yang dia miliki saat ini. Orang-orang yang ada untuknya.

"Maafkan aku," gumam pria berambut hijau itu pelan. "Tak seharusnya aku membahas kembali semua itu."

"Maafmu tak sebanding dengan apa yang sudah kau upayakan untuk kebebasanku, Zoro." Robin menggenggam tangannya erat. "Terima kasih banyak." Gadis itu lalu ganti melirik Nami dan Bellmere di depannya. "Juga untuk kalian. Aku bahkan tak tau lagi harus membalas kalian dengan cara apa."

"Cukup jalani hari-hari setelah ini dengan bahagia, Robin. Dan berhentilah memanggilku Bellmere-san karena aku ingin kau memanggilku ibu setelah ini," pinta Bellmere tegas. Lalu merengkuh Robin dalam pelukannya.

Hari itu, seluruh dunia akhirnya tau bahwa Nico Robin telah di bebaskan dari segala tuduhan. Namanya bersih sekarang. Ia menang. Mengalahkan Akainu yang dihentikan secara tidak terhormat dari jabatannya, juga Aokiji yang kemudian harus menerima hukuman penjara empat bulan lamanya. Serta Rob Lucci yang di gaungkan akan menerima hukuman seumur hidup atas kasus pembunuhannya terhadap Saulo dan aksinya di ruang persidangan.

Kini, Robin tau ia telah memiliki semuanya. Kebebasan yang selama ini dicarinya, orang-orang yang percaya padanya, juga rumah untuk tempatnya berpulang. Tak ada lagi yang ia inginkan selain menjaga mereka semua dan hidup bahagia selamanya.