6 bulan kemudian
"Nami! Cepatlah! Robin sudah menunggumu!" Bellmere berteriak lantang dari bawah tangga. Kedua tangannya berkacak pinggang sambil menggeleng pelan akibat tak mengerti mengapa anak gadisnya bisa berdandan begitu lama.
Ia mengalihkan pandangannya pada Robin. Begitu anggun dan sederhana dengan riasan natural yang dipadukan dengan dress selutut berbalut cardigan ungu tua. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepit bunga kecil di kedua sisinya. "Bahkan kau terlihat sangat cantik hanya dengan taburan sedikit bedak. Aku jadi penasaran apa sebenarnya yang ia lakukan pada wajahnya." Bellmere menggerutu. Masih tak habis pikir dengan perbedaan karakter kedua gadis belia tersebut.
"Nami mungkin akan membuka bisnis kecantikan setelah ini, okaasan. Kau hanya perlu mendukungnya." Robin berkata lembut.
"Ah, kau selalu saja membelanya."
Sejak terbebas dari segala urusan mengenai persidangannya, Bellmere memutuskan untuk membawa Robin tinggal dirumahnya. Gadis itu kini tidur bersama Nami di lantai dua dan tentu saja ikut memanggil Bellmere dengan sebutan okaasan sesuai permintaannya. Bellmere juga mendaftarkannya pada beberapa paket pendidikan untuk mengejar ketertinggalan gadis itu akan dunia belajar mengajarnya. Hasilnya, mengesankan. Tak butuh waktu lama sampai ia berhasil mendapatkan ijazah menengah pertamanya dengan hasil yang nyaris sempurna. Tinggal beberapa bulan lagi sampai ia meraih ijazah menengah akhir dan mungkin akan mengikuti seleksi masuk universitas di tahun berikutnya.
"Aku akan menunggu diluar saja kalau begitu." Robin memutuskan. Diikuti anggukan dari Bellmere yang menyetujuinya.
Seseorang menghampirinya ketika ia membuka pintu rumah. Anak laki-laki berusia belasan dengan kaus seadanya. Mulutnya tak berhenti mengunyah sesuatu – yang Robin tebak permen karet – sementara kedua tangannya terangkat menyerahkan sebuah benda sepanjang hampir 70 centi berselimut wrapping paper berwarna coklat muda.
Robin mengernyit. Ia tak merasa membeli sesuatu akhir-akhir ini.
"Untukmu, nee-san," ucap anak tersebut. Berharap Robin segera mengambilnya karena benda tersebut cukup berat di tangan anak seusianya.
"Apa ini?" Robin bertanya ragu-ragu.
"Seseorang menitipkannya padaku untuk menyerahkannya padamu. Dia bilang kau harus menyerahkannya lagi pada orang lain," jelas anak tersebut jujur. Lalu merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sepucuk amplop kecil setelah Robin mengambil benda tersebut dari tangannya. Ia serahkan lagi amplop itu pada gadis di depannya.
Robin mengambilnya. Membaca kalimat yang tertulis di sana.
Untuk Roronoa Zoro, bacanya membatin.
"Siapa yang memberikan ini padamu?"
"Tak tahu." Anak itu mengangkat kedua bahunya. "Paman itu tak mau menyebutkan namanya," katanya polos. Lalu melengos begitu saja meninggalkan Robin yang masih kebingungan di tempatnya.
"Ayo Robin, aku sudah si – oh, apa itu?" Nami yang baru saja keluar dari rumah memandang penasaran benda di tangan Robin.
Robin menoleh sebentar. "Seseorang menitipkannya padaku untuk menyerahkannya pada Zoro."
"Eh, benarkah? Apa pria buta arah itu kini memiliki penggemar?"
"Ara… Tak terfikirkan. Tapi, mungkin saja begitu." Robin terkikik kecil.
"Dan kau salah satunya bukan?" goda Nami jahil.
Robin memilih tak menggubrisnya. "Ayo, kita harus cepat. Pertandingannya akan segera dimulai," ujarnya seraya menyeret pelan Nami meninggalkan rumah.
"Ah, kau mengalihkan pembicaraannya! Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada kalian!"
"Lalu, apa yang terjadi padamu dan Sanji-kun?"
"Kau ini benar-benar."
Percakapan ringan terus berlanjut hingga mereka tiba di sebuah aula olahraga yang cukup besar di Tokyo. Ada pamphlet besar terpampang di gerbangnya bertuliskan 'Final Kejuaraan Kendo Nasional 1985'. Tak jauh dari sana, tepatnya di depan pintu masuk aula, sudah menunggu Sanji, Luffy dan seorang wanita yang sebaya dengan mereka. Tampak begitu cantik dan berkelas dengan mantel merah dari brand ternama, rok hitam selutut, dan tank top warna senada. Lehernya yang jenjang berbalut kalung emas bermata berlian. Sementara rambut hitamnya dibiarkan tergerai begitu saja. Meski tak melakukan apapun, ia tetap terlihat begitu… mewah? Entahlah, mereka bahkan tak yakin ada kata yang tepat untuk menggambarkan gadis tersebut.
"Siapa dia?" Nami bertanya pada Luffy lantaran gadis itu hanya menempel padanya sejak tadi.
"Oh, ini Hancock. Teman sekelasku dan juga Zoro di sekolah," jawab Luffy mengenalkan gadis di sampingnya.
"Oi, berhati-hatilah terhadap ucapanmu, Luffy." Nami bergumam pelan. Menyadari betul raut tak suka Hancock dengan kata teman yang disematkan Luffy padanya.
"Apa kau putri dari walikota distrik Chiyoda?" ganti Robin bertanya. Berusaha mengingat beberapa artikel yang pernah dibacanya tentang keluarga para pejabat tinggi di prefektur Tokyo.
Hancock mengangguk. Namun memilih untuk tak banyak berbicara.
"Benarkah? Tak kusangka bisa bertemu dengan salah seorang anggota keluarga penting disini." Sanji terlihat antusias. Tak bisa dipungkiri begitu tertarik memandangi Hancock sejak tadi meski ia berupaya sebaik mungkin untuk tidak menampakkannya di depan Nami.
"Hai, hai. Yang paling penting, mari kita segera masuk sekarang sebelum pertandingannya berakhir. Pria kaktus itu mungkin sedang mencari-cari Robin sekarang." Nami menarik pelan tangan Robin untuk ikut memasuki aula bersamanya. Meninggalkan Sanji, juga Luffy dan Hancock yang mengekor di belakang mereka.
Kursi penonton sudah terisi penuh saat mereka datang. Beruntung, Zoro telah lebih dulu memberi mereka tiket beberapa hari sebelum ini, sehingga mereka mendapat kesempatan untuk duduk di kursi terdepan. Jika tidak, mereka mungkin tak akan bisa berada disana lantaran final kejuaraan kendo ini cukup menjadi pusat perhatian banyak khalayak.
Meski telah beberapa kali menyaksikan Zoro berlatih sebelumnya, namun ini kali pertama bagi Robin menyaksikan kejuaraan kendo dari dekat. Suara shinai yang bergema di seluruh aula, deru nafas penonton yang memburu, suasana yang begitu tegang, juga teriakan dari para pemain di arena, merupakan kombinasi yang sempurna untuk membuatnya terkesan. Sanji yang bahkan meremehkan pertandingan tersebut sejak beberapa minggu lalu, kini terlarut di dalamnya. Matanya tangkas mengikuti pergerakan Zoro dan Dracule Mihawk yang merupakan juara bertahan sejak tiga tahun belakangan.
"Ano baka!" serunya kesal saat melihat Zoro menyerang Mihawk secara berlebihan. "Ia seharusnya bisa lebih tenang dari ini."
"Ini kejuaraan pertamanya. Bisa bertahan sampai final pasti membuat emosinya menjadi tidak stabil." Nami menyampaikan opininya. "Apa menurutmu ia bisa menang?"
"Tidak masalah menang atau kalah. Aku hanya percaya Zoro sudah berusaha sebaik mungkin. Lagipula, kejuaraan seperti ini selalu ada setiap tahun, bukan? Shishishi," sahut Luffy yang duduk di sebelah Sanji. Kemudian ia bangkit berdiri dan berteriak dengan lantang. "Semangatlah, Zoro!"
Nami secara otomatis menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya. "Astaga, aku tidak mengenalnya, aku tidak mengenalnya!" Gadis itu meracau kesal. Sementara Robin hanya tersenyum melihat mereka.
Sanji benar soal betapa terburu-burunya Zoro di pertandingan tersebut. Pria itu tak berhenti mengayunkan shinai nya sementara Mihawk berkali-kali mampu menangkisnya dengan tenang. Robin bahkan dapat melihat betapa berantakannya zanshin yang Zoro lakukan saat melakukan serangan. Ia seperti lupa pada teknik-teknik sederhana yang bisa menghambat shinai lawan atau memperlambat gerakannya. Berkali-kali pria itu mencoba melakukan men atau kote tapi tak ada satupun dari mereka yang dapat menyentuh Mihawk.
Mendengar teriakan Luffy di kursi penonton, membuat Zoro seketika menghentikan gerakannya. Ia seperti tersadar akan beberapa kesalahan yang ia lakukan selama pertandingan. Pria itu kemudian mengatur nafasnya, berusaha dengan baik untuk bertindak lebih tenang.
Dari balik pelindung kepala, Zoro dapat melihat Mihawk tersenyum. Seperti menyadari jika Zoro sudah siap untuk pertandingan yang sebenarnya. Pria berambut hijau itu mendorong mundur Mihawk dengan pedang kayunya, lalu ia buat pria itu kehilangan penjagaan di sisi perutnya. Zoro merengsak maju, melakukan do dengan menebas perut pria tersebut. Namun sayang, tak ada satupun wasit yang mengangkat benderanya. Tanda ia tak mendapatkan poin dari apa yang dilakukannya. Ia teringat, ekspresi dan kiai juga di perhitungkan di pertandingan ini.
Mihawk kemudian mengambil alih pertandingan. Ia layangkan shinai nya beberapa kali membuat Zoro terpojok mundur ke belakang. Ia ayunkan pedangnya ke atas bersiap melakukan men¸ namun sayang, ketika Zoro akan melindungi kepalanya, tanpa disadari pedang kayu milik lawan telah menusuk lehernya. Mihawk berteriak. Membuat zanshin yang sempurna dan teriakan yang menggema di seluruh penjuru aula.
Beberapa wasit mengangkat bendera mereka di udara. Memberi tanda jika pertandingan telah usai dan poin diberikan sepenuhnya pada Mihawk. Taka No Me – julukannya, berhasil kembali menjadi pemenang dalam kejuaraan kendo untuk yang keempat kalinya.
Zoro menjatuhkan tubuhnya. Membuka pelindung kepalanya dan melemparnya begitu saja ke sembarang tempat. Ia terengah. Menutup wajahnya dengan satu tangannya yang bebas.
"Harus ku akui, untuk seorang pemula kau memiliki potensi yang besar, Roronoa." Suara berat seseorang membuatnya kembali membuka mata. Itu Mihawk. Berjongkok tepat di hadapannya. "Kita mungkin akan bertemu lagi di final tahun depan. Perbanyaklah berlatih setelah ini. Kau perlu mengontrol emosimu."
Setelah mengatakan itu, Mihawk kemudian bangkit dan berjalan meninggalkannya. Diikuti dengan suara riuh penonton yang berpihak padanya. Ia melambaikan tangan beberapa kali, menerima swafoto dari beberapa jurnalis, lalu menghilang ke belakang arena.
Zoro mengamatinya dalam diam. Kemudian tertawa kecil seraya bangkit dan duduk di tempatnya. Senyumnya seketika mengembang saat melihat Robin dan yang lain tengah berlari menghampirinya.
"Yo, Zoro! Kau hebat!" seru Luffy seraya mengacak-acak rambut Zoro dengan bangga. "Kau harus mengajariku beberapa jurus kendo setelah ini. Berkelahi menggunakan pedang sepertinya keren."
"Apa aku terlihat begitu tadi?"
"Tentu saja! Shishishi."
"Apa kau menyadari kesalahanmu, rambut kaktus?" ganti Sanji buka suara. Ia nyalakan rokok yang tersemat di mulutnya lalu ia hisap dalam-dalam. Membiarkan paru-parunya terpenuhi dengan asap tembakau.
"Ma… Aku harus bertindak lebih tenang lain kali." Zoro melirik sebentar shinai yang tergeletak di sampingnya. "Aku sudah melewati beberapa pertandingan sebelum final. Tapi entah mengapa… Mihawk memiliki aura yang berbeda dari lawan-lawanku yang sebelumnya."
"Ia sudah memenangkan kejuaraan ini tiga kali, jelas saja jika ia terlihat begitu hebat di matamu." Wanita berambut oranye yang berdiri di sebelah Sanji melipat kedua tangannya di depan dada.
Robin tersenyum. "Tak masalah, kau sudah berusaha semampumu. Lagipula, menduduki posisi kedua bukanlah hal yang buruk."
"Yah, kau benar." Zoro mengangguk. Mengelus pelan pucuk kepala Robin sebelum menyadari gadis itu memegang sebuah benda panjang terbungkus wrapping paper di tangannya. "Apa itu?"
"Oh, seseorang menyuruhku menyerahkannya padamu." Gadis itu memberikan benda yang di pegangnya sejak tadi pada Zoro.
Pria itu menerimanya dengan alis bertaut. Kemudian menarik pelan tali-tali yang terikat disana, membuatnya mampu membuka kertas pembungkusnya dengan mudah. Ia terkejut saat melihat isinya. Sebuah katana dengan ornamen bunga yang indah. Dengan hati-hati, Zoro melepas pedang tersebut dari sarungnya. Gagangnya yang berwarna ungu gelap begitu kokoh saat di pegangnya. Mata pisaunya tajam. Dengan warna hitam bercorak keemasan yang ditempa dengan sangat baik oleh pengrajinnya. Dapat Zoro rasakan aura tajam yang begitu membunuh menjalar ke sekujur tubuhnya. Buru-buru ia masukkan kembali pedang tersebut ke sarungnya.
"Wah, itu pedang yang keren." Luffy mengatakannya dengan mata berbinar. "Apa pedang itu benar-benar untukmu?"
"Kau tau siapa yang mengirimkannya?" Zoro tak menggubris pertanyaan Luffy. Lebih memilih mengajukan pertanyaan pada gadis di sampingnya.
Robin mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya yang langsung ia serahkan pada Zoro. "Ia datang bersama dengan surat ini."
Zoro meraihnya. Membaca namanya yang tertera di pucuk surat tersebut.
Untuk, Roronoa Zoro.
Itu Enma. Satu dari banyak meito peninggalan shogun generasi terakhir.
Selamat atas pertandingan finalmu. Semoga pedang ini mampu menggantikan Sushui mu.
Zoro menyeringai. Dapat ia terka dengan mudah siapa orang yang mengirimkan pedang ini padanya.
Ganti Robin yang memandangnya keheranan. Namun memilih untuk tak bertanya lantaran Nami dan yang lain sudah mengajaknya bergegas untuk pergi dari sana.
Setelah menunggu Zoro membereskan peralatannya, mereka kemudian berjalan keluar dari arena. Bellmere meminta mereka semua datang untuk acara makan malam bersama di rumahnya setelah ini. Selain untuk merayakan masuknya Zoro ke final kejuaraan kendo, juga karena Robin baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan belas pekan lalu.
Zoro terdiam. Mengamati punggung Robin yang berjalan di depannya seraya berbincang dengan Nami. Tengah ia fikirkan hadiah yang tepat untuk gadis tersebut.
"Doushite?" Sanji menangkap raut wajah bingung pria tersebut.
"Apa aku masih punya waktu yang cukup sampai makan malam nanti?"
"Entahlah." Pria berambut pirang itu melirik jam tangannya. "Masih tersisa empat jam sebelum acara dimulai. Tapi jangan harap aku mengizinkanmu pergi sendirian jika itu maumu saat ini. Akan sangat merepotkan jika kau tersesat nanti."
Mendengar keributan di belakangnya, Nami dan yang lain lantas membalikkan badan. Mereka dapati Sanji dan Zoro yang tengah berhadapan dengan gestur bersitegang.
"Astaga, ada apa lagi dengan mereka berdua?"
"Tenanglah, aku akan membawa Robin bersamaku." Zoro membalas tenang. Berusaha untuk tidak melanjutkan perdebatan diantara mereka.
Robin yang mendengar namanya disebut memandang bingung. "Aku? Kemana?"
"Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu."
"Ah, kebetulan." Luffy mengangkat tangannya. "Aku juga harus mengantar Hancock pulang sekarang."
"Oh, kau tak ikut makan malam bersama kami, Hancock-chan?" Suara Sanji terdengar kecewa.
Hancock menggeleng. "Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan dirumah," jawabnya singkat.
Nami menghela nafas panjang. "Maa, baiklah. Pastikan kau tidak jauh-jauh dari Robin dan jangan tersesat, Zoro! Lalu Luffy, datanglah bersama Sabo setelah kau mengantarkan Hancock. Jangan sampai terlambat, atau kalian akan menerima akibatnya!" Gadis itu mengakhiri kalimatnya dengan mengepalkan tinjunya di udara. Membuat Zoro dan Luffy mengangguk cepat dengan wajah ketakutan.
Sanji mengepulkan asap rokoknya di udara. "Kalau begitu, kami juga akan pergi sekarang. Ada beberapa sayur dan bahan makanan lain titipan Bellmere-san yang perlu kami beli." Pria itu menarik tangan Nami bersamanya.
Mereka kemudian saling melambaikan tangan dan berpisah di gerbang masuk arena olahraga.
Robin kini memusatkan perhatiannya pada Zoro. Pria itu nampak kikuk dengan tatapan mata yang canggung, dan wajah yang sedikit memerah. Tangannya mengelus-elus dagunya sejak tadi, seperti sedang memikirkan sebuah rencana yang sulit.
"Kau butuh bantuan?" tawar Robin tulus.
"Ah? A-apa?"
"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu."
"Apa terbaca begitu jelas?"
"Wajahmu terlalu jujur untuk menyembunyikan sesuatu, Zoro," katanya seraya terkikik kecil. Membuat Zoro mengalihkan pandangannya ke arah lain lantaran terlalu malu menatap Robin saat ini.
"Lalu, kemana kita akan pergi?" Gadis itu melanjutkan. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. "Lebih baik kau memberi tahuku atau kita bisa terlambat untuk makan malam nanti."
"Soal itu… aku ingin mengajakmu melihat-lihat Universitas Tokyo."
"Kampusmu?" Robin menegaskan.
Zoro mengangguk. "Aku pernah berjanji untuk membawamu ke perpustakaannya bukan?"
Robin terdiam, sedikit terkejut menyadari Zoro mengingat percakapan mereka di Iwasaki. Pria itu lalu meraih dan menggenggam tangan Robin. Menuntun gadis itu berjalan di sisinya.
O • O • O
Iris biru milik Robin tak henti berbinar sejak ia memasuki kawasan Universitas Tokyo. Matanya memindai, meneliti dengan seksama kesibukan disana. Beberapa kali bahkan, mereka berhenti sejenak untuk sekedar membaca mading yang terpampang di beberapa sudut kampus. Gadis itu juga sempat berdecak kagum kala melewati showcase sederhana yang digelar mahasiswa teknik di salah satu lapangan olahraga.
Kini, mulutnya terbuka sedikit saat mereka tiba di perpustakaan. Menandakan betapa kagumnya ia pada apa yang dilihatnya. Ceiling yang begitu tinggi ditambah dengan banyaknya jendela-jendela besar membuat tempat tersebut terasa sejuk dan nyaman. Rak-rak kayu tinggi menjulang, buku-buku yang tersusun rapi, meja dan kursi yang berbaris di pusat ruangan, juga interior yang menakjubkan. Arsitekturnya terlihat modern namun tradisional di saat yang bersamaan. Dengan aksen kayu di beberapa sudut, dan cat putih yang mendominasi latarnya. Masih ada beberapa ruangan lagi di dalam yang tersekat oleh rak-rak tinggi lainnya.
"Kelihatannya, kau menemukan habitatmu." Raut antusias gadis di sampingnya membuat Zoro tak tahan untuk menggodanya. "Kau suka tempat ini?"
Robin mengangguk cepat. "Apa boleh aku membaca buku-buku disini?"
"Kau bahkan bisa meminjamnya jika kau mau." Zoro mengeluarkan kartu anggota perpustakaan miliknya dari saku celana. Membuat senyum mengembang di wajah Robin yang menawan. "Jadi, dari mana kau mau memulainya?"
Robin nampak berfikir. Matanya mengedar membaca satu persatu papan nama diatas lorong di antara rak-rak besar tersebut. "Sepertinya aku akan mulai dari sejarah," jawabnya seraya menunjuk rak di sisi kiri ruangan lalu sedikit berlari ke sana.
Sementara Zoro hanya mengekor. Ikut membaca satu persatu judul buku yang tertera disana sembari menunggu Robin memilih buku yang tepat untuk dibacanya. Pria itu kemudian terdiam. Melirik sebentar pada gadis di sampingnya – yang masih terlihat kebingungan dengan buku-buku dihadapannya – sebelum akhirnya ia merogoh saku jaket dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Itu hanyalah sebuah cincin sederhana. Dengan lapisan emas putih, dan satu butir swarovski yang berkilau tertimpa cahaya matahari yang terbias dari jendela. Sebuah hadiah istimewa yang telah disiapkannya untuk Robin sejak lama. Sempat ia berfikir untuk menyerahkannya di hari ulang tahun gadis itu pekan lalu, tapi kemudian urung lantaran tak memiliki cukup nyali untuk itu. Ditambah kenyataan bahwa ia tak yakin akan perasaan Robin padanya, membuatnya maju mundur untuk memberikan cincin tersebut pada gadis yang kini telah memikat hatinya. Jika saja Robin membalas pernyataannya saat di ruang pertemuan tahanan beberapa bulan lalu, atau sekali saja ia mendengar gadis itu berkata suka padanya, mungkin ini akan jauh lebih mudah. Faktanya, Zoro ingat betul tak pernah sekalipun Robin mengatakan hal-hal semacam itu untuknya.
Pria itu mengacak-acak rambutnya. Kesal menyadari ia tak memiliki keahlian yang cukup dalam hal satu ini.
"Apa kau juga membaca sesuatu, Zoro?" Suara Robin membuatnya kembali tersadar.
Buru-buru pria berambut hijau itu mengambil sekenanya satu buku di rak. "A-ah, ya. Ada satu judul yang menarik," ucapnya berbohong. Terlalu kikuk untuk menatap Robin saat ini.
Gadis itu berjalan ke arah bangku yang kosong di pusat perpustakaan. Lalu menepuk-nepuk bangku di sebelahnya meminta Zoro ikut duduk di sampingnya. Zoro menurut. Ia jatuhkan bokongnya begitu saja kesana. Wajahnya masih memerah.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Robin. Menyadari keanehan pada lawan bicaranya.
"Ti-tidak. Hanya saja… i-ini pertama kalinya aku pergi ke perpustakaan. A-aku terlalu bingung apa yang harus ku lakukan." Zoro menjawab asal. Kakinya bergoyang tak karuan menahan gugup yang mendera perasaannya.
"Kau sudah pernah datang ke perpustakaan Saulo sebelumnya, Zoro." Robin mengingatkan. Tahu betul sebenarnya ada yang tak beres pada pria di sebelahnya.
"Ah, kau benar."
"Lalu, apa yang kau baca itu?"
"Ini…" Zoro melirik buku yang diambilnya. Kemudian tersenyum kecut saat membaca judulnya. Tanpa disadari, ia mengambil buku tentang sejarah pernikahan kaisar-kaisar Jepang.
"Aku tak tau kau tertarik pada hal-hal semacam itu," Robin terkikik kecil. Lalu meraih buku tersebut tanpa menunggu persetujuan pria di sebelahnya. Ia sedikit terkejut saat mendapati sesuatu yang berkilauan terjatuh saat ia membuka lembarannya.
Gadis itu meraihnya. Menautkan kedua alisnya saat menyadari benda tersebut merupakan sebuah perhiasan. "Milik siapa ini?" tanyanya entah pada siapa. Namun berharap pria di sampingnya dapat memberi jawaban.
Zoro mengacak-acak rambutnya. Sebentar melirik ke langit-langit, kemudian menghela nafas panjang. Ia dekatkan kursi yang di dudukinya pada Robin, lalu menatap serius cincin tersebut dan Robin bergantian.
"Itu milikmu," jawabnya singkat. Sambil terus berusaha mengontrol tubuhnya untuk tetap bersikap tenang.
Gadis di depannya terhenyak. "Milikku?"
"Aku mencintaimu, Robin." Zoro menghela nafas lega. Setelah sekian lama, akhirnya kalimat tersebut bisa meluncur dengan mudah dari mulutnya. Seakan tak peduli dengan ekspresi terkejut yang terbaca jelas pada wajah gadis di depannya, ia melanjutkan. "Aku ingat betul apa yang kau inginkan dalam lima tahun ke depan. Rumah di perbukitan, harum bunga dan buah yang kau tanam di kebunmu, pemandangan hamparan kota, suasana ramai di meja makan. Meski tak yakin aku bisa mengabulkan semua itu untukmu, setidaknya, aku yakin bisa membantumu memiliki keluarga."
Robin terdiam. Menyelam begitu dalam ke satu-satunya indera penglihatan Zoro yang memandang lurus ke arahnya. Pria itu lalu meraih tangan kanannya, melingkarkan cincin tersebut di jari manisnya. Ukurannya terlalu pas untuk disebut kebetulan. Pria ini pasti sudah merencanakannya sejak lama.
"Aku ingin menjadi pria paling egois saat ini, Robin. Karena aku ingin kau terus mendampingiku mulai hari ini, dan tak ingin menerima penolakkan apapun darimu. Karena ku yakin, tak ada yang bisa menjagamu lebih baik daripada aku, seperti aku yang begitu yakin, tak ada perempuan lain yang bisa mengubah hari-hariku jadi sebahagia ini selain dirimu."
Robin tertegun. Tahu betul butuh usaha yang begitu besar bagi pria berambut hijau itu untuk mengeluarkan kalimat-kalimat tersebut dari mulutnya. Kalimat yang mungkin terdengar begitu menggelikan bagi wanita lain, namun begitu tulus dan jujur masuk ke celah perasaan Robin yang terbuka. Menutupnya dengan sempurna, seakan ia adalah potongan puzzle yang tersisa.
Gadis itu tersenyum. Merengkuh erat Zoro ke dalam pelukannya. Memberinya apresiasi karena telah berhasil mengutarakan perasaannya. Robin mengecup pipinya pelan, lalu mengelus wajahnya yang memerah. "Aku juga ingin menjadi wanita paling egois saat ini, Zoro," katanya pelan. "Karena aku tak mau siapapun mengambilmu dariku. Terima kasih, untuk segalanya, Zoro. Aku menyayangimu."
Tanpa disadari, senyum Zoro mengembang. Ia tarik kembali Robin dalam pelukannya dan membiarkan perasaanya melambung tinggi di udara. Mengacuhkan begitu saja beberapa pasang mata yang mengamati mereka dari kejauhan. Masa bodoh, toh mereka sedang menjadi makhluk paling egois di dunia.
O • O • O
