7 tahun setelahnya.

Zoro mematut dirinya sekali lagi di depan kaca. Menyeringai bangga menyadari betapa gagahnya ia dalam balutan kemeja lengan panjang yang satu kancing atasnya dibiarkan terbuka, berbalut jas putih dan pantofel warna senada. Ia betulkan lagi letak kancing-kancing jasnya. Memastikan harus menutupnya atau tidak. Namun kemudian memilih untuk membiarkannya, membuatnya nampak sederhana namun tetap tak mengurangi ketampanannya.

Pintu ruangan terbuka kemudian, memunculkan sosok seorang wanita cantik dengan alis yang berputar. Terlihat anggun dalam gaun panjang bewarna merah muda dengan aksen lace di beberapa bagiannya. Matanya lurus memindai keseluruhan penampilan Zoro dari ujung kepala hingga ujung sepatunya. Lalu memberi isyarat dengan kepalanya untuk bergegas keluar dari ruangan.

Hari itu, rumah kayu yang tersembunyi di antara pepohonan jeruk tersebut ramai. Beberapa orang tak henti memasuki gerbang masuk kebun yang kali itu dihias begitu cantik dengan bunga-bunga dan kincir angin kecil yang tak henti berputar tertiup semilir angin yang sejuk. Bunga-bunga serupa juga terlihat hingga ke halaman belakang rumah. Yang dipenuhi dengan tiang-tiang kayu penyangga kain-kain putih yang menjadi backdrop sebuah altar sederhana. Ada meja-meja berisi makanan dan minuman di sisi seberang altar. Juga bangku-bangku yang tersusun rapi – dan telah terisi penuh oleh para tamu undangan – di antaranya.

Sudah berdiri di depan altar, Zoro bersama Sanji di sebelahnya. Pria berambut pirang tersebut tak kalah tampan dengan tuksedo berwarna cream kecoklatan. Wajahnya terlihat pucat. Gugup dan gelisah di saat yang bersamaan. Kalau bukan karena Zoro mengancamnya, mungkin sudah beberapa batang rokok habis di hisapnya.

"Tenanglah, sikap berlebihanmu bisa mengacaukan acaranya." Zoro memberi nasehat. Tak percaya pria pecinta wanita ini bisa begitu gugup di acara pernikahannya sendiri.

Sementara Sanji hanya bisa mengangguk samar. Nafasnya seakan tercekat saat melihat Nami yang berjalan perlahan menuju kearahnya. Begitu cantik dalam balutan gaun berbahan sifon potongan one shoulder, empire line di bawah dada, dan penataan rambut chignon dengan hiasan bunga di salah satu sisinya.

Berjalan di sebelahnya, Robin yang tak kalah menawan dengan riasan natural, gaun potongan seath berbahan tule lengan panjang, dan rambut yang ditata half updo sederhana. Satu tangannya menggenggam erat tangan Nami, sementara satu tangan lainnya memegangi perutnya yang membesar.

"Astaga, aku gugup sekali," bisik Nami tanpa mengalihkan pandangannya dari altar di depan mereka. "Apa ada yang salah dengan penampilanku? Mengapa Sanji-kun menatapku seperti itu?"

"Kau sangat cantik, Nami. Mana mungkin ia bisa melepaskan pandangannya dari wajahmu."

"Uh, melihatmu begitu tenang saat berjalan di altar tahun lalu, sempat membuatku berpikir pernikahan tak semenakutkan itu. Ternyata aku salah besar." Nami masih meracau. Tangannya terasa dingin dalam genggaman Robin.

"Atur nafasmu secara perlahan, dan tenanglah. Semuanya akan segera selesai setelah kalian saling mengucapkan janji." Robin berkata pelan. Berusaha menenangkan.

Zoro menjemputnya sesaat sebelum mereka tiba di altar dan membawanya sedikit menjauh dari sana. Membiarkan Sanji mengambil peran untuk menggandeng tangan Nami dan membawanya mendekat pada seorang pastur yang sudah bersiaga di antara mereka. Seketika, suasana jadi jauh lebih tenang. Banyak pasang mata memandang haru pada mereka berdua. Tak terkecuali Genzo yang sudah berkali-kali menitikkan air mata di bangku wali pengantin perempuan.

Tiba-tiba, di sela-sela waktu yang khidmat itu, muncul rasa nyeri yang membuat Robin secara otomatis memegangi perutnya. Dapat ia rasakan gerakan bayinya yang meregang. Membuat rasa ngilu yang tak tertahankan menjalar di sekujur tubuhnya. Robin sontak menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak menimbulkan suara.

"Kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?" Zoro yang menyadari hal tersebut bertanya khawatir. Tangannya terangkat ikut memegang perut Robin.

Gadis itu menggeleng pelan. Sejujurnya masih tak terlalu yakin apa ini bisa di sebut kontraksi. "Tak masalah. Hanya saja, ia jadi bergerak lebih aktif sejak semalam," tuturnya. Mengingat dengan jelas rasa sakit tersebut sudah muncul sejak kemarin malam. Meski kali ini, datang dengan intensitas yang lebih cepat, dan rasa sakit yang semakin meningkat.

"Apa mungkin ia tak nyaman dengan keramaian disini?"

Robin terkekeh kecil. "Menurutku, mungkin sebaliknya."

"Kau yakin? Kita bisa pergi ke rumah sakit sekarang jika kau mau."

"Tenanglah, Zoro. Aku baik-baik saja." Robin tersenyum. Mengelus lembut pundak pria yang telah menjadi suaminya sejak setahun lalu. "Aku hanya ingin duduk dekat dengan Chopper setelah ini. Ku dengar ia datang."

"Tentu. Pastikan kau bercerita padanya jika kau merasa terjadi sesuatu dengan bayinya," kata Zoro tegas. Disambut anggukan Robin di sebelahnya.

Di altar, Sanji baru saja selesai mencium pengantinnya. Menandakan mereka kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Suasana yang semula hening, mendadak jadi riuh karena sorak sorai kebahagiaan muncul dari para tamu undangan. Mereka bertepuk tangan, juga bersahutan memberi selamat pada kedua mempelai.

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama. Makanan-makanan utama dihidangkan, pun berbagai macam camilan lezat yang tersedia di atas meja yang tersebar di beberapa penjuru tempat acara. Altar kini sudah berubah menjadi panggung sederhana. Menampilkan seorang pemain musik bernama Brook yang baru saja memulai debutnya beberapa bulan belakangan. Di depannya, menari dengan lincah Sanji dan Nami, ditemani Luffy juga Ussop. Begitu menikmati pesta, seraya menggenggam potongan besar daging di tangan mereka.

Robin menikmati jamuan tersebut di salah satu meja panjang tak jauh dari altar. Duduk di sebelahnya, Zoro dan Chopper yang terlibat percakapan dengan Sabo dan Koala di seberang mereka. Ada seorang anak perempuan berusia tiga tahun diantara keduanya, yang memiliki mata bulat persis Sabo dan rambut kecoklatan seperti Koala. Hadir pula Ace, yang baru Zoro ketahui merupakan kakak Luffy yang lain – yang baru saja mendapat izin cuti dari akademi kepolisiannya. Sementara di ujung meja, nampak Hancock, Reiju dan satu wanita lain bernama Kaya yang tadi datang bersama Ussop, saling berbincang-bincang.

Kembali, Robin mengerang pelan. Ia rasakan perutnya menegang membuat punggungnya terasa kram untuk beberapa saat. Ia atur nafasnya sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi. Berusaha tetap tenang meski ia yakin semuanya tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja. Terutama ketika ia menyadari ada cairan yang merembes keluar dari rahimnya.

"Apa perutmu kembali terasa sakit, Robin?" Zoro bertanya waspada. Matanya tak lepas dari wajah pucat wanita di sampingnya.

Kali ini Robin mengangguk. Tak ingin berbohong perihal keadaannya.

Chopper yang sudah mengetahui situasinya dengan sigap menyentuh perut Robin. "Apa kau merasakan hal yang lain? Seperti nyeri di bagian bawah perutmu atau sesuatu keluar dari rahimmu?"

"Cairan. Apa itu air ketuban?" Robin menjawab pelan. Masih berusaha mengontrol rasa sakit di tubuhnya.

"Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang, Chopper?" Nada suara Zoro terdengar begitu khawatir.

"Butuh waktu hampir empat puluh menit untuk bisa mencapai klinik terdekat di Wakayama. Robin tak akan bisa menahannya selama itu."

Sabo yang menyadari adanya kejanggalan pada percakapan tiga orang di seberangnya ikut buka suara. "Apa ada yang bisa kami bantu?" Ia menawarkan.

"Oh, Sabo. Bisa tolong ambilkan perlengkapan medisku di mobil Luffy? Sepertinya aku membutuhkan itu sekarang," pinta Chopper seraya membantu Robin bangkit dari kursi.

Koala menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Masaka… Apa Robin akan…."

"Bisa aku meminta bantuanmu untuk mencari Bellmere-san, Koala? Aku harus meminta izinnya untuk melakukan tindakan disini." Chopper memotong ucapannya dengan cepat.

Gadis itu mengangguk. Kemudian bergegas pergi dari sana. Sementara Sabo berlari ke arah yang lain setelah menitipkan sang putri pada Ace.

Chopper kembali memusatkan pandangannya pada Zoro. Meminta pria itu membawa Robin masuk sementara ia menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan dibutuhkan. Zoro menurut. Menuntun pelan Robin menuju lantai dua rumah Bellmere dan masuk ke dalam salah satu kamar yang menjadi tempat mereka menginap semalam.

Chopper dan Bellmere datang tak lama setelah Robin selesai berganti pakaian. Wanita paruh baya itu menenteng beberapa selimut tebal dan membawa sebuah baskom berisi air hangat. Dengan segera duduk di samping Robin setelah selesai menaruh semua barang bawaannya.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya wanita itu lembut.

Robin tersenyum. "Sejujurnya, perasaan gugupku mengalahkan rasa sakitnya," jawabnya jujur.

"Ia pasti juga tak sabar untuk segera bertemu denganmu." Bellmere mengelus lembut rambut wanita yang kini telah menjadi putrinya tersebut.

"Baiklah, Robin. Aku akan memeriksa sejauh mana pembukaannya sekarang," ujar Chopper yang sudah bersiap di ujung ranjang. Menekuk lutut Robin dengan kedua tangannya.

Robin menutup matanya saat merasakan Chopper melakukan sesuatu pada rahimnya.

"Bagaimana, Chopper?" tanya Zoro cemas.

"Pembukaan ke tujuh. Bayinya mungkin akan lahir dalam setengah jam. Bersiaplah, Robin. Kau bisa memiringkan tubuhmu untuk mengurangi rasa sakitnya. Atur nafasmu secara perlahan dan usahakan jangan mengejan sampai aku perintahkan," jelas Chopper.

"Lalu, apa yang bisa aku lakukan?" Zoro bertanya lagi. Begitu khawatir melihat Robin yang merasa kesakitan di sebelahnya.

"Kau bisa mengelus punggungnya, Zoro. Itu akan mengurangi sedikit rasa sakitnya," jawab Chopper yang kemudian mengeluarkan perlengkapan medisnya. Di bantu Bellmere membersihkannya dengan alkohol lalu menyusunnya sesuai dengan peruntukkannya.

Zoro lantas membantu Robin semampunya. Membuat gadis itu merasa nyaman dengan segala hal mengenai proses kelahirannya. Ia elus punggung Robin sesuai arahan Chopper, sementara gadis itu memejamkan mata berusaha menahan rasa sakitnya. Hati Zoro mencelos. Tak pernah ia lihat Robin dalam keadaan seperti ini sebelumnya.

"Maafkan aku, Robin." Pria itu berbisik lembut. Satu tangannya tetap terjaga di punggung Robin sementara tangannya yang lain mengelus rambut sang istri dengan lembut. "Maaf membuatmu berjuang begitu keras."

Robin menyunggingkan senyum. Sejenak mengerang pelan sebelum akhirnya kembali mengatur nafas dan menggenggam erat lengan pria di depannya. "Kau akan segera bertemu putramu, Zoro. Ini bukan waktunya untuk bersedih."

Zoro terdiam. Ganti memandang perut Robin dan mendekatkan mulutnya disana. "Jadilah anak baik dan keluarlah segera, jagoan. Jangan biarkan ibumu merasakan sakitnya terlalu lama," titahnya pada sang bayi.

Membuat Robin hanya bisa terkekeh kecil tanpa sanggup lagi balas menggodanya.

Chopper lalu kembali duduk di ujung ranjang. Memastikan pembukaan telah lengkap dan memberi perintah pada Robin untuk mengejan sesuai arahannya.

Robin menurut. Dengan tenang, ia mengambil nafas dalam-dalam dan mengejan kuat-kuat. Membuat erangan lemah keluar dari mulutnya. Zoro yang masih berada di sampingnya hanya bisa terus mengeratkan genggaman tangannya. Sesekali mengusap peluh yang menempel di pelipis Robin, juga air mata yang tak terasa menetes membasahi pipinya.

Gadis itu terengah. Sejenak memejamkan mata untuk beristirahat sebelum Chopper memarahinya.

"Jangan tutup matamu, Robin! Tetap buka matamu apapun yang terjadi. Kontrol pernafasanmu dengan baik dan mengejanlah dengan satu tarikan yang kuat. Aku sudah melihat kepala bayinya." Dokter kecil itu memberi semangat.

Zoro yang mendengar hal itu sontak mengecup pelan pucuk kepala Robin untuk memberinya tambahan semangat. Sebisa mungkin, tetap bersikap tenang meski tak dipungkiri hatinya berkecamuk tak karuan melihat sang istri yang tengah berjuang begitu keras melahirkan bayi mereka. Ia tersenyum. Satu-satunya hal yang ia harap dapat memberi pengaruh besar pada usaha wanita di depannya. "Kau pasti bisa, Robin," bisiknya lembut tepat di telinga sang istri.

Afirmasi positif itu diterima dengan baik oleh Robin. Dengan tenang, ia atur kembali nafasnya dan mulai mengejan dengan kuat. Membuat otot-otot di wajahnya menegang dan keringat mengucur lebih deras dari sebelumnya. Sempat ia mengigit bibir bawahnya untuk menahan suara keluar dari mulutnya, meski pada akhirnya ia tetap mengerang pelan.

"Engh…" Wanita itu terengah. Meremas dengan kuat lengan kekar Zoro yang melingkar di dadanya. Sekali lagi ia mengejan. Lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di ranjang saat mendengar suara tangisan bayi pecah memenuhi ruangan. Suara yang begitu lembut, namun terdengar kuat disaat yang bersamaan.

Bellmere yang menangkap bayi tersebut dengan sigap membersihkannya dengan air hangat. Sambil menitikkan air mata, ia balut bayi laki-laki tersebut dengan selimut sebelum menyerahkannya pada Robin yang menyambutnya dengan senang. Ia bantu sang putri meletakkan bayinya di dada, sehingga membuat tangis si kecil mereda seketika karena mendengar bunyi detak jantung yang sama seperti beberapa saat sebelumnya.

"Selamat, Robin. Kau berhasil. Ia bayi yang sehat dan sempurna." Bellmere merangkul Robin dalam pelukannya. Matanya masih sembab karena tangisannya tak kunjung reda. Baginya, hari ini benar-benar hari yang istimewa.

Sementara itu, Zoro masih mematung di tempatnya. Matanya lurus memandang bayi yang nampak begitu nyaman dalam dekapan sang istri tepat di depannya. Bayi dengan mata bulat, kulit putih bersih, dan rambut hijau tua perpaduan hijau miliknya dan hitam pekat milik Robin. Tangan dan kakinya begitu mungil. Namun begitu bersemangat menggapai pakaian sang ibu. Sebuah mahakarya sempurna Tuhan yang tak pernah bisa Zoro bayangkan sebelumnya.

"Kau mau menggendongnya?" Robin menawarkan. Membuat pria tersebut tersadar dari lamunannya.

"Ah… Ti-tidak."

"Kenapa?"

"Aku… hanya khawatir akan menjatuhkannya." Zoro berkata jujur. Tangannya sempat terangkat untuk mengelus tubuh putranya, namun urung ia lakukan lantaran khawatir tangannya terlalu kasar untuk kulit lembut si bayi.

Robin terkekeh kecil. Mengangkat bayinya perlahan dan menyerahkannya pada Zoro. "Tak ada orang tua manapun yang akan menjatuhkan bayinya, Zoro. Lagipula, lengan kekarmu akan melindunginya."

Dengan kikuk, Zoro mengambil bayi tersebut dan merengkuhnya dengan kedua tangan. Meski ia tau ia tak cukup baik menggendongnya, si bayi tetap menggeliat nyaman di dalam pelukannya. Sempat mata kecil itu terbuka sedikit untuk mengamati siapa yang menggendongnya, namun kemudian, kembali terpejam dan tertidur pulas seakan merasa aman mengetahui ia berada dalam dekapan sang ayah.

Zoro menyunggingkan seulas senyum tipis. Tak menyangka ia dapat melakukannya dengan baik.

"Kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Robin bertanya kemudian.

Membuat pria berambut hijau tersebut terhenyak. "Nama?" Ia mengulangi. Tak ingat jika bayi mungil ini harus diberi nama.

"Tidak selamanya ia akan dipanggil bayi, bukan?"

Zoro terdiam. Berusaha memikirkan nama yang tepat. Namun tak ada satupun yang terasa pas untuk putranya. Hingga sejurus kemudian, mulutnya mengeluarkan sebuah kata. Kata yang secara tiba-tiba terbersit di benaknya. "Kai."

"Kai?"

Pria tersebut mengangguk. "Nama itu tiba-tiba terlintas dipikiranku."

Robin sejenak berfikir. "Dalam bahasa Hawaii, Kai berarti lautan. Juga dapat berarti raja dalam bahasa Skandinavia, dan kemenangan dalam beberapa bahasa yang lain." Wanita itu menuturkan. Mengingat dengan baik beberapa hal yang pernah ia baca dalam buku-bukunya. Ia tersenyum. "Roronoa Kai. Aku menyukainya."

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku tak tau itu bisa berarti begitu dalam."

"Kau benar-benar memilih nama yang bagus, Zoro." Bellmere yang sejak tadi mendengarkan turut tersenyum puas. Senang dengan pemilihan nama tersebut.

Setelah Chopper selesai dengan segala pekerjaannya dengan tubuh Robin, ia lalu pamit bersama Bellmere keluar dari ruangan. Mengizinkan Robin, Zoro juga bayinya untuk beristirahat sejenak sebelum ia kembali lagi dalam beberapa jam untuk mengecek keadaan mereka.

Namun baru saja membuka pintu, menghambur masuk dari sana, Nami bersama Sanji, ditemani Ussop dan Luffy.

Masih dalam gaun pengantinnya, duduk di sisi ranjang dengan raut khawatir mengamati saudara perempuannya. "Robin! Bagaimana keadaanmu? Ku dengar bayimu baru saja lahir. Apa – uh, oh! Apa itu bayinya?" Gadis itu terkesiap saat menyadari Zoro menggendong makhluk mungil yang terlelap. Tangannya terangkat seketika mengelus rambut lebat si bayi. "Astaga, dia menggemaskan."

"Aku mau lihat! Aku mau lihat!" seru Luffy tak sabar. Mendekatkan tubuhnya pada Zoro dan mengamati bayi tersebut dalam-dalam. "Wah, Zoro! Ini bayimu?"

"Baka, kecilkan sedikit suaramu. Kau akan membangunkannya nanti!" seru Nami dengan suara pelan seraya mencubit kecil pipi Luffy.

Pria itu tak menggubrisnya. "Lalu, Robin bagaimana bisa dia keluar dari perutmu?" tanyanya polos.

"Astaga, inilah akibatnya jika kau selalu tertidur di kelas biologi." Ussop memutar bola matanya.

Sementara Robin hanya terkikik kecil. "Kau bisa bertanya pada Hancock mengenai itu."

"Benarkah? Aku jadi penasaran bagaimana rupa bayiku nanti."

"Masaka… jangan katakan jika Hancock sedang mengandung sekarang?" Nami menutup mulutnya dengan kedua tangan. Masih jelas dalam ingatannya tentang berita pernikahan Luffy dan Hancock yang mengejutkan lantaran digelar saat mereka berdua masih berstatus mahasiswa empat tahun lalu, kini ia harus membayangkan pria sembrono tersebut akan memiliki keturunan.

"Ah, begitulah yang Hancock katakan bulan lalu. Shishishi."

"Ara… Satu lagi berita baik hari ini," sahut Robin senang.

Ussop mengamati sahabatnya dengan mulut terbuka lebar. "Wah… dunia benar-benar penuh misteri."

Zoro yang sama terkejutnya ikut mengangguk. "Aku setuju."

"Maa… Tapi aku tak menyangka rambut lumut ini juga bisa memiliki keturunan." Ganti Sanji buka suara. Ia amati bayi dalam pelukan Zoro dalam-dalam tanpa mengacuhkan tatapan sinis ayah bayi tersebut. "Ku harap ia tidak mirip sepertimu."

"Tch! Berisik!" Zoro memilih untuk tak melanjutkan perdebatan mereka. Sejujurnya, ia juga berharap segala hal tentang sifat dan kecerdasan Kai akan menurun sepenuhnya dari sang ibu. Meski tidak untuk perihal ketampanannya tentu.

"Lalu, siapa namanya?" Nami bertanya lagi. Masih mengelus lembut pipi bayi dalam gendongan Zoro dengan gemas.

"Kai. Roronoa Kai. Zoro yang menamainya," jawab Robin seraya mengamati suaminya.

"Kai? Itu nama yang bagus."

Luffy melirik Ussop. "Apa kau harus memberi nama bayimu?"

"Tentu saja, bodoh!"

"Ah, kalau begitu, aku tau nama yang tepat untuk bayiku nanti." Luffy mengatupkan kedua tangannya. Wajahnya berubah antusias.

Zoro menaikkan kedua alisnya. "Jadi, siapa namanya?"

"Risotto!" serunya dengan mata berbinar.

Membuat Sanji dan Ussop seketika mengusap wajah mereka dengan kedua tangan. "Oi-oi!"

"Kenapa? Aku baru saja memakannya beberapa hari lalu dan rasanya enak." Luffy masih bersikeras dengan pendapatnya.

Sementara Nami hanya menggelengkan kepalanya seraya mendesah berat. "Maa, baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini," katanya sambil menyeret Luffy dan yang lain keluar dari kamar.

"Kenapa? Aku masih ingin melihat bayinya," rengek Luffy protes.

"Sudah cukup! Robin dan Kai butuh istirahat. Lagipula, aku dan Sanji-kun masih harus menyapa tamu-tamu undangan."

"Itu tamu kalian, apa urusannya denganku?"

"Oi, Luffy. Kau masih bisa bermain dengan Kai nanti."

"Benarkah, Ussop?"

"Tentu saja."

Pintu kemudian tertutup rapat, menyisakan percakapan konyol yang lamat-lamat menghilang di depan ruangan. Meninggalkan Zoro dan Robin yang kembali larut dalam keheningan seraya mengamati putra mereka yang masih tertidur pulas. Sempat bayi mungil itu menggeliat pelan, membuka sedikit mulutnya, sebelum akhirnya kembali terpejam.

Zoro tersenyum. Sepertinya ia harus berterima kasih pada Luffy dan yang lain karena membuatnya dapat menggendong Kai jauh lebih santai kali ini.

"Terima kasih, Zoro." Suara lembut Robin memecah kesunyian diantara mereka.

"Hmm?"

"Terima kasih karena sudah mengabulkan semua keinginanku."

Zoro menggelengkan kepalanya. "Kita masih tinggal di Tokyo, Robin. Masih butuh waktu sampai aku bisa membawamu tinggal di perbukitan."

"Kau akan segera membawa kita kesana. Aku yakin itu."

Zoro mengelus wajah Robin dengan satu tangannya yang bebas. "Akulah satu-satunya yang harus berterima kasih padamu, Robin. Karena sudah berjuang begitu keras untuk membawa Kai terlahir ke dunia. Aku berjanji akan menjaga kalian dengan nyawaku." Pria itu mengecup punggung tangan Robin. "Terima kasih banyak. Aku tak pernah menyangka hidupku dapat berubah menjadi sebahagia ini."

Robin tertegun. Memandang Zoro dalam-dalam. Tak pernah menyadari betapa pertemuannya dengan pria ini dapat mengubah seluruh dunianya. Tak pernah terbayang di benaknya, betapa ia yang kerap dipandang sebelah mata, kini menjadi begitu berharga bagi hidup seseorang. Ia yang dulu begitu terasing, kini memiliki rumah untuk berpulang, dan seseorang yang akan berjuang mati-matian untuk melindunginya. Pekat dihidupnya seketika berubah terang. Seakan menunjukkan jalan baginya untuk tetap melangkah ke depan, bersama Zoro dan Kai di sisinya.

Fin.


Aaaah! Akhirnya cerita ini berakhir. Maafkan aku harus membagi epilognya menjadi dua karena tak bisa menyingkatnya lantaran cerita dalam epilog ini adalah ending scene yang sangat aku impikan sejak dimulainya aku menulis cerita ini. Tak juga ku ceritakan bagaimana Zoro dan Robin menikah karena yang justru ku bayangkan adalah saat Zoro mendampingi proses persalinan Robin. Hihi.

Dan biar bagaimanapun, terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia membaca cerita ini dari awal sampai akhir. Yang sudah memberikan review positif maupun mengkritik cerita ini. Sungguh, aku bukanlah apa apa tanpa kalian.

Aku tak yakin apa ceritaku ini bagus, tapi ku harap kalian menyukainya :')

Sekali lagi, terima kasih banyak minna-san! Aku mungkin akan kembali setelah ini dengan beberapa cerita Zorobin yang lain.

Untuk sekarang, mari rehat sejenak dengan menyaksikan pertarungan antara yonkou dan generasi terburuk. Meski sudah tak sabar sekali rasanya menunggu scene Robin yang akan diculik oleh Big Mom - dan semoga saja bukan Law yang menyelamatkannya :/

Salam sayang dariku!