Sedikit banyak Ao menyesali keputusannya untuk mengiyakan ajakan Aka, kala kawannya itu mengajaknya ke toko permen langganannya.
Interior toko bernuansa peach dengan harum manis yang semerbak itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Di sini, semuanya manis—banyak gula, dan kadang-kadang suka bikin gigi sakit. Anehnya Aka suka pergi ke sini tiap akhir pekan, buat menyetok manisan selama seminggu dua minggu—mungkin karena rekan sekaligus temannya itu suka yang manis-manis, dan kebetulan toko ini lumayan dekat dengan Toshokan.
"Aka, kau sudah selesai?" Pandangan netra biru di balik lensa bening itu tertuju pada kawannya yang sedang memerhatikan beberapa kotak kaca besar di hadapan mereka—isinya permen berbungkus aneka rasa yang dikelompokan berdasarkan warna, rasa, juga merknya.
Aka menggeleng. "Belum," jawabnya pendek. Tangannya kemudian mengambil plastik kecil yang disediakan di samping kotak kaca paling ujung, lalu mengisinya dengan beberapa permen dari kotak kaca tersebut—kebanyakan rasa cokelat jeruk, bibi pemilik toko yang sempat menyambut mereka tadi bilang itu rasa yang paling baru dari jenisnya, dan Aka kelihatan senang mendengarnya.
Ao mendengus kecil. Entah berapa lama ia bakal berada di sini, dalam ruangan yang baunya punya cara tersendiri untuk membuatnya jengah—hanya buat Ao, sih, kalau Aka mana mungkin bakalan bosan?
"Kau nggak beli permen juga?—mumpung kita masih di sini."
Pertanyaan Aka kala anak itu memasukan permennya ke dalam keranjang disambut gelengan dari yang bersangkutan. Tidak, bukannya Ao tidak suka—eum ... mungkin sedikit, tapi tidak sampai taraf benci. Sejujurnya ia lebih suka makanan pedas, atau asin. Kalau ada makanan manis dalam menu makanannya di Toshokan, ia lebih suka membiarkannya begitu saja di atas piring, atau memberi jatahnya pada Aka yang akan menerima dengan senang hati.
"Ao, kopi atau mint?" Aka menyodorkan dua bungkus permen padanya. Sebagian bungkusnya transparan hingga mereka bisa melihat bentuk permennya dari luar. Ao mengerjap-ngerjap.
"Kopi?"
"Ng ... kalau dua-duanya, gimana?"
"... Terserahmu." Kadang-kadang Ao tidak mengerti. Seringkali kalau Aka mengajaknya, anak itu akan bertanya padanya perihal satu dari dua rasa prrmen yang akan dipilihnya. Pertanyaan aneh, orangnya juga aneh, karena ujung-ujungnya pasti ia akan mengambil keduanya. Intinya, apapun jawaban Ao tidak akan berpengaruh.
Keduanya bergerak menuju mesin kasir kala plastik berisi berbungkus-bungkus permen yang Aka ambil sudah nyaris menutupi permukaan bawah keranjangnya. Yang segini biasanya cukup untuk dua minggu—lebih mestinya, akan tetapi adiksi Aka pada makanan manis sulit dikendalikan, apalagi kalau pekerjaan mereka sedang senggang. Begitu selesai membayar, keduanya beranjak keluar, hendak kembali menuju Toshokan.
"Hei, tahu nggak?"
Ketika Aka tiba-tiba bicara, Ao meliriknya sedikit. Tangan anak bernetra merah itu merogoh kantung plastik besar yang dibawanya, mengeluarkan plastik yang lebih kecil, yang isinya permen rasa mint dan kopi.
Ao mengernyit. "Ng?"
"Kalau diingat-ingat ... permen kopi itu rasanya agak pahit, terus permen mint rasanya dingin—dan sedikit pedas, tapi bukan pedas yang kayak bumbu." Aka berujar sambil menyodorkan plastik itu pada kawannya. "Kayaknya aku ga bakalan suka, jadi buatmu aja."
"... Hah?" Sebelah alis Ao terangkat. "Ng ... kasih ke Kanchou aja, gimana? Aku nggak terlalu suka ma-"
"Tapi ini bukan yang beneran manis, kan?" Buru-buru Aka memotong. "Buatmu, pokoknya. Harus buatmu."
"..." Dahi Ao mengernyit, bingung.
Aka masih menyodorkan plastiknya, dan pada akhirnya Ao menerima. Begitu plastik berisi permen kopi dan mint itu berpindah tangan, Aka nyengir sendiri.
"Kau yang habiskan, ya?"
"... Kepalamu kenapa, sih? Habis terbentur tembok?"
Ao tidak pernah tahu alasan Aka melakukan hal tersebut—malas bertanya juga, lagipula kalau ditanyai sepertinya anak itu tidak akan menjawabnya dengan jujur. Permen-permen dari Aka tetap ia simpan, karena ketika ia cicipi, rasanya tidak buruk juga—mungkin ia bakal membelinya juga nanti, kalau permennya sudah habis dan Aka mengajaknya ke toko permen itu lagi.
.
.
.
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
untuk event #SellSweets2EarnLove
.
.
.
Apa ya ... akshkahasah
