Disklaimer: Kimetsu no Yaiba belongs to Gotouge Koyoharu. No profit gained from this fanwork.

Warning: GiyuuTan, M for mature contains. Showa Era (1970s) with historical references. Kehidupan Giyuu yang dinarasikan oleh Tanjiro. Alternative Universe.


KINTSUGI

Keping I – Perjumpaan Pertama, Ciuman Pertama


Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, bisa jadi apa yang telah lampau berlalu itu merupakan suatu kenangan konyol tanpa arti; yang biasa ditemui dalam kehidupan anak-anak muda, penuh nafsu-nafsi, keputusan mentah dan kehidupan bebas. Tetapi aku menyimpan kenangan itu sebagai sesuatu yang berharga—bagaimanapun, adalah proses yang menjadikanku seperti ini (bukankah semua yang telah berlalu merupakan proses?).

Aku saat ini pasti bertanya-tanya; kenapa dulu aku begini, begitu, mengambil keputusan dengan ragu-ragu, kemudian berakhir menyesali banyak hal. Selalu ada penyesalan setiap kali seseorang membayangkan masa lalu.

Karena satu faktor, aku kembali teringat pada Giyuu-san, pemuda yang mengaku berasal dari Cina meski dengan aneh dia katakan bahwa dia sama sekali tidak memahami bahasa Cina. Penampilannya boleh dikata agak nyentrik—kalau tidak mau disebut aneh. Sebenarnya hal-hal yang berhubungan dengan Giyuu-san selalu berakhir dengan kata 'aneh'.

Di era yang sudah modern, dia memanjangkan rambutnya sebagaimana samurai (atau sebenarnya dia ini lebih condong ke hippie khas gaya Amerika, sebagai bentuk protes terhadap peperangan yang terjadi di Vietnam—mengingat ini adalah Giyuu-san). Sejujurnya aku sangat sering melihat dia di perpustakaan dan orang-orang memberinya julukan Samurai-sama, sehingga kadang-kadang aku bergumam di dalam hati; oh, Samurai-sama sedang membaca Thomas Wolfe. Perawakannya tinggi, sedikit lebih tinggi dariku. Kupikir dia punya tampang yang lumayan seandainya rambutnya cepak.

Kami tak sengaja akrab karena sering berjumpa di perpustakaan universitas. Dia tidak banyak bicara, sebagaimana aku. Satu faktor yang membuatku teringat padanya adalah sebuah buku karangan Fitzgerald, sebab faktor itu pula yang membuatku mengenal Giyuu-san.

Tatkala aku mengemasi barang-barangku karena hendak pindah, The Great Gatsby tergeletak di antara tumpukan buku-bukuku yang kertasnya mulai menguning. Tiba-tiba terlintas bayangan mengenai lelaki itu, seolah terjadi secara alami. Dia menyapaku dengan kalimat yang bisa jadi aneh. Katanya, tahukah kau betapa aku sangat membenci tindak-tanduk perempuan manis karena novel itu? Manis dan cantik, digambarkan sebegitu tidak berdaya tetapi mampu memikat—dengan cara paling kejam dan mematikan.

Dia juga bertanya apakah aku keberatan kalau dia membeberkan isi novel tersebut. Kupikir itu bukan masalah, sebab aku sudah pernah membacanya sebelum-sebelum ini. Lagi pula, bisa dibilang The Great Gatsby merupakan salah satu novel yang wajib dibaca dan dipelajari, khususnya yang memang bergelut di jurusan sastra sepertiku. Dan ini adalah kali ketiga aku membacanya. Dalam hati, aku ingin tahu juga bagaimana pendapat pemuda ini mengenai Fitzgerald.

Kami kemudian berbincang bagai kawan lama. Aku mungkin memang tidak banyak bicara, tetapi ketika ada topik yang membuatku tertarik, aku bisa berubah agak cerewet (menurutku semua orang pendiam memiliki kecenderungan yang sama). Dia memperkenalkan diri sebagai Tomioka Giyuu, tiga tahun di atasku (sedang sibuk mengurusi tugas akhir). Mula-mula aku memanggilnya Tomioka-san, lalu dia memintaku memanggil nama depannya saja sebagaimana dia memanggil nama depanku. Kami langsung akrab dan semakin akrab setelah Giyuu-san mengajakku makan siang bersama.

Ada proses sebelum Giyuu-san melepas satu demi satu kain yang menutupi kehidupannya, seperti juga aku yang menutupi kehidupanku dengan berlembar-lembar kain. Ada masa ketika dia menceritakan semuanya; bahwa sesungguhnya dia berdarah Cina murni dengan nama asli Yixing (penulisan kanjinya tetap sama dengan penulisan nama Giyuu, tetapi aku sendiri tidak tahu cara membaca kanji tersebut dalam lidah orang Cina).

"Apa yang membuatmu kuliah di jurusan Sastra Inggris, Tanjiro?"

"Apa ya?" aku agak bingung juga kalau ditanya seperti itu. Aku merasa bahwa hanya inilah satu-satunya jurusan yang pantas buatku, aku mengatakannya bukan dalam konteks sombong. Semacam, ya, jurusan selain jurusanku itu, aku mungkin sama sekali tidak memahaminya. Tidak sampai ke otak.

Giyuu-san tertawa mendengar penjelasanku. Responsnya, semua ilmu bisa masuk ke dalam otak—tergantung apakah otakmu mau menerimanya atau tidak. Semacam preferensi. Kita akan melupakan informasi yang menurut kita tidak penting, sebagai gantinya kita akan mengingat informasi lain yang sama tidak pentingnya tetapi lebih menarik bagi kita meski mungkin tidak bagi orang lain. Aku menyela. Nah, semua informasi itu penting kalau menyangkut soal ilmu.

"Itulah yang kumaksud, Tanjiro! Ilmu sastra lebih menarik buatmu daripada matematika! Preferensi!"

Giyuu-san menjadi sedikit berapi-api. Aku melihat sikapnya sebagai suatu keluguan anak-anak, entah kenapa. Seperti baru saja memecahkan suatu misteri dari mana bayi-bayi berasal. Tidak membutuhkan waktu lama untukku akrab dengannya. Banyak topik yang bisa dibicarakan dengan Giyuu-san, meskipun topik itu telah berkali-kali pernah kubahas, tetapi selalu ada sisi lain yang sama sekali baru kalau menyangkut sudut pandang Giyuu-san.

Aku tidak pernah bosan berbincang dengannya. Harus kuakui dia memiliki magnet tersendiri yang membuat orang-orang tertarik, bukan cuma aku saja yang tertarik. Dapat kulihat dari pandangan kawan-kawannya yang walau tidak akrab dengannya tapi memiliki pancaran mata berbeda—semacam, ya, aku jarang bicara dengan orang ini, namun aku sangat menghargainya. Seperti itu kira-kira. Dia sangat sopan kepada yang lebih tua, dan tidak merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Menurutku, Giyuu-san punya sifat yang sewajarnya; tidak begitu menonjol tapi memiliki daya tarik tersendiri (atau justru itulah daya tariknya).

Maksudku, dalam beberapa kasus, kadang aku merasa diriku lebih hebat daripada orang lain. Misalkan dari segi bacaan; aku berpikir kualitas buku-buku yang aku baca jauh lebih baik daripada kebanyakan orang. Sementara Giyuu-san barangkali akan berpikir bahwa setiap orang punya kapasitas masing-masing dan setiap buku juga punya kualitas masing-masing. Dia tidak akan menjustifikasi seseorang bodoh dan nafsuan apabila mereka lebih memilih membaca cerita seks ketimbang sastra. Semua kembali pada preferensi. Hal itu yang semakin membuatku terkagum-kagum padanya. Seandainya semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan Giyuu-san, dunia tentu akan menjadi sangat damai—terlalu damai sampai-sampai membosankan.

We've been friends now for so many years

We've been together through many good times and the tears

Turned each other on to the good things that life has to give…

Kira-kira setengah tahun setelah aku mengenalnya, tatkala kami mendengarkan piringan hitam The Beach Boys di kamarku, Giyuu-san tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuatku agak terharu. Katanya, bisa jadi, aku dan dia bakal menjadi kawan dalam waktu yang sangat lama. Dan apabila sesuatu terjadi pada kami, terpisah jarak atau semacamnya, pasti akan ada waktu saat kami dipertemukan kembali dan berbincang penuh kerinduan bagaikan menjadi muda lagi; bicara soal masa kuliah yang menjemukan, buku-buku yang dulu kami baca, atau lagu-lagu yang populer pada zamannya.

"Kata-katamu membuatku sekarang ini merasa sudah sangat tua, Giyuu-san."

Dia tertawa. "Menurutmu, lagu semacam apa yang akan populer dua puluh tahun yang akan datang? Dan apakah saat itu kita masih mengingat The Beach Boys, The Beatles, John Denver? Atau kita hanya akan mengingat salah satu dari banyak penyanyi populer."

"Mungkin aku akan mengingat The Beach Boys."

"Kenapa begitu?"

Aku menatap mata Giyuu-san agak lama. Ternyata dia memiliki mata yang warnanya agak abu—dan dari sana sekilas aku dapat melihat pantulan diriku. "Karena, eh, mungkin karena sekarang ini aku sedang mendengarkannya denganmu."

"Benar juga. Kalau begitu, aku pun akan mengingatnya."

Cukup lama kami diam, menikmati alunan musik dari gramofon. Aku mengganti piringan hitam The Beach Boys menjadi Darlene Love. Aku menyandarkan kepalaku pada tepian ranjang, lalu memejamkan mata. Giyuu-san pernah berkomentar betapa rumahku sangat terlihat condong bergaya barat. Rumah ini pun dibeli oleh keluargaku karena Ayah sangat menyukai hal-hal berbau barat. Aku lebih senang futon, katanya pada suatu malam saat dia menginap mungkin sekitar dua atau tiga bulan lalu (yang membuatku bertanya-tanya; gaya samurai atau hippie, kira-kira apa jawabannya?).

"Tanjiro."

Oh, he's got a sweet, sweet, kiss and a true, true heart

And something tell me that we'll never part

"Hm?"

A Fine, Fine Boy; lagu yang menghentak penuh semangat. Ini adalah lagu favorit Ibu—dan piringan hitam ini pun merupakan kepunyaannya.

Giyuu-san mendekat, membuat bahu kami bersentuhan. "Apa kau membaca Mishima[1]?"

Aku membuka mata, menoleh ke arahnya yang sudah begitu dekat denganku. Setelah melihat dari jarak yang sangat dekat, aku dapat dengan jelas membandingkan perbedaan warna kulit kami. Kulitnya sedikit kecokelatan. Aku ingat dia pernah bercerita soal 'bertapa di asrama sekitaran pantai' atau semacam itu, barangkali itu yang membuat kulitnya lebih gelap.

"Mishima, ya. Kinkaku-ji[2]?"

Dia menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi Kamen no Kokuhaku[3]."

He's got a sweet, sweet, kiss and a true, true heart

And he's (fine) yeah, (fine) yeah, (fine) yeah

I know he's a (fine, fine boy)

Oh. Itu. Aku belum sempat merespons. Giyuu-san sudah keburu menarik leherku lalu mencium bibirku dengan lembut dan memasukkan lidahnya.[]

-tbc-


3:47 AM – January 14, 2020

Edited: 0:35 AM – December 7, 2020

Ket:

[1] Yukio Mishima, sastrawan Jepang yang terkenal pada era 1940s-1970s

[2] The Temple of the Golden Pavilion, terbit 1959 (red: Kuil Kencana, diterjemahkan oleh Asrul Sani)

[3] Confession of a Mask; karya awal Mishima tahun 1949, berkisah tentang seorang homoseksual


A/N:

Tadinya ini mau saya dedikasikan untuk #GiyuuSparkleEvent, tapi ternyata eventnya sudah berakhir. Omong-omong, ini bakal jadi seri yang mengupas kehidupan Giyuu perlahan-lahan. Mungkin akan sedikit membosankan karena membahas kehidupan sehari-hari.