KINTSUGI

Keping II – Tentang Giyuu-san


Saat Giyuu-san mengatakan Kamen no Kokuhaku, seketika terbayang dalam kepalaku mengenai Kocchan, si tokoh utama dalam novel tersebut. Kocchan yang digambarkan homoseksual, tertarik pada laki-laki yang menderita seperti si pengumpul kotoran maupun petugas kereta, atau tentara-tentara yang berlari penuh keringat melewati rumahnya—membayangkan banyak di antara mereka mati di medan peperangan. Kocchan menikmati penderitaan mereka sebagaimana Kocchan sendiri, yang sama menderita dan terkurung dalam kepalsuan.

Dalam absurditas identitas seksualnya, Kocchan terus menjalani hidup dengan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan repetitif; apakah kalau aku melihat tubuh telanjang Ote, aku akan merasa terangsang? Ote adalah kawan laki-laki Kocchan. Tetapi, setelah melihat Ote telanjang, Kocchan justru amat kecewa sehingga rasa sukanya langsung lenyap begitu saja.

Otakku telah merekam semua isi novel itu dengan jelas, tetapi aku pribadi bingung bagaimana menjabarkannya, dan kenapa Giyuu-san tiba-tiba bertanya soal Mishima? Sebab, sejauh aku mengenalnya, dia lebih banyak bergumul dengan sastra klasik yang berkiblatkan ke arah Barat—meski ia lebih memilih futon ketimbang ranjang (aku tahu ini tidak ada korelasinya). Dan ia pernah berkata bahwa ia lebih menikmati karya-karya sastra dari penulis yang sudah mati, dengan alasan yang saat itu kurang kupahami.

Jadi, aku diam sejenak, berpikir; oh, itu, sebelum kemudian tersadar bahwa bibir Giyuu-san menempeli bibirku, yang lalu membawa lidahnya masuk pula. Sebetulnya aku dibiarkan bergerak dengan bebas. Giyuu-san tidak menahan kedua lengan atau kakiku, dia hanya mendorong leherku agar kepala kami mendekat sehingga dia bisa mencium bibirku. Aku bisa saja menendangnya atau melayangkan pukulan, tetapi dalam situasi yang belum kupahami betul, aku cuma bisa diam seperti orang tolol.

Barangkali, karena tidak melawan, Giyuu-san tidak menghentikan ciumannya. Ciuman itu semakin dalam dan intens, membuatku bertanya-tanya suara erangan siapakah yang kudengar; apakah Giyuu-san atau justru aku sendiri. Masih dapat kubayangkan bagaimana sensasinya; lidah hangat, tarikan napas yang begitu dekat, sepasang mata saling menatap, dan tiba-tiba aku merasa lidah Giyuu-san sangat panjang seakan terasa masuk ke tenggorokan, melewati kerongkongan hingga sampai di dalam perut. Aku dibuat melilit. Saat ciuman berakhir, Giyuu-san menatapku agak lama sebelum kemudian kembali mendekatkan muka. Kali ini bibirnya mendarat di leherku.

"Kenapa kau tidak mendorongku, Tanjiro?"

Aku menahan napas. Debaran jantungku tidak beraturan—sangat kacau, seperti baru saja berlari kencang. Aku tidak tahu kenapa aku harus mendorongnya. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak mendorongnya. "Apakah aku harus mendorongmu, Giyuu-san…"

Dan aku tidak mengerti kenapa Giyuu-san tertawa. Apakah dia berpikir bahwa ciuman itu hanya sebatas lelucon? Aku tak dapat mengenyahkan pikiranku tentang Kocchan, sampai-sampai perutku bergejolak sungguhan. Aku melilit, mual. Dalam bayangan absurdku, aku bertaruh seandainya aku muntah, bisa jadi aku bakal menemukan lidah Giyuu-san meliuk-liuk. Banyak. Bertumpuk-tumpuk.

Sejak saat itu, Giyuu-san seperti mencoba menjauh. Dia selalu menolak apabila diajak makan siang bersama. Alasannya sibuk mengurus tugas, lain-lain. Beberapa kali aku menelepon ke rumahnya, dia tetap penuh alasan yang lama kelamaan membuatku muak juga. Harus kuakui Giyuu-san sama sekali tidak pandai berpura-pura. Aku tidak mencoba untuk meraihnya atau memaksakan diriku kembali berkawan dengannya. Sudah tentu ini berhubungan dengan ciuman itu, yang dia lakukan dengan sadar entah dalam konteks bergurau atau semata-mata penasaran atau sebagaimana Kocchan yang berhasrat pada laki-laki.

Yang kusimpulkan ialah; Giyuu-san bergurau, melihat reaksiku yang tidak menolaknya, dia pun jadi bertanya-tanya mengenai orientasi seksualku, kemudian memutuskan untuk menjauhiku karena berpikir aku ini seorang homoseks. Aku cukup terpukul dengan pemikiran ini. Bagaimanapun, kadang-kadang aku menyesal kenapa tidak kutendang saja kemaluannya.

Setelah Giyuu-san lulus, kami tidak pernah berjumpa lagi sekurang-kurangnya selama dua tahun. Dalam rentang waktu tersebut, aku berkencan dengan seorang perempuan bernama Kanao. Dia setahun di bawahku, perempuan baik-baik dan sangat sopan, lulusan sekolah elite khusus perempuan. Kanao adalah perempuan pertama yang tidur denganku, aku pun merupakan laki-laki pertama yang tidur dengannya. Meski soal ciuman, Kanao bukanlah yang pertama.

#

Ketika usiaku hendak menginjak dua puluh, aku tak sengaja bertemu Giyuu-san di sebuah bar kecil sekitaran Kichijoji. Aku nyaris melupakannya. Mula-mula, aku sama sekali tidak mengenalnya. Penampilannya berubah total. Kulitnya semakin cokelat, seakan terpanggang sinar matahari begitu lama (tapi tentu saja tidak sehitam orang Negro). Rambutnya cepak. Giyuu-san tidak lagi menganut gaya samurai (atau hippie?). Dia seolah kembali terlahir sebagai seseorang yang sama sekali lain.

Aku tidak akan tahu bahwa itu adalah Giyuu-san seandainya dia tidak menyapaku lebih dulu. Di saat melihat matanya, aku langsung menemukan mata yang amat kukenal—sepasang mata yang pernah begitu dekat denganku, sehingga aku dapat melihat refleksi diriku sendiri di dalamnya. Barangkali, dua tahun adalah waktu yang cukup panjang untuknya melupakan ciuman kami, aku pun tidak lagi mengingat-ingatnya (walau tatkala kami bertemu kembali, ingatan soal ciuman itu datang begitu saja, mengingatkanku akan sensasinya).

Kami berbincang agak kaku. Itu merupakan hal yang wajar—setelah nyaris dua tahun tak bertemu. Tanpa kami sadari, pertemuan-pertemuan selanjutnya terjadi begitu saja meski tanpa janji. Setiap malam Minggu, aku mampir ke bar itu dan setiap malam itu juga aku menemukan Giyuu-san. Kali ini kami berbincang tanpa hambatan. Seingatku malam itu adalah pertemuan ketiga kami setelah dua tahun, malam di mana dia membeberkan rahasia kecilnya.

Aku memesan wiski soda dan sepiring buah kenari, sementara Giyuu-san sudah ditemani gimlet sejak pertama kali aku melihatnya. Dia berkata dia sudah satu jam berada di dalam bar, mencari-cari perempuan acak yang tertarik padanya untuk diajak tidur bersama. Dari kalimatnya itu, aku merasa sangat aneh. Apakah Giyuu-san memang seperti ini?

"Tentu saja aku bohong. Aku ini tidak suka perempuan. Kenapa kau selalu langsung mempercayai kata-kataku, Tanjiro."

"Apakah kalimat itu juga bohong?"

"Hm?"

"Kau tidak suka perempuan?"

Giyuu-san ikut mengunyah buah kenariku. "Aku pikir kau sudah tahu, setelah aku menciummu waktu itu."

Oh, ternyata dia masih ingat. Aku meneguk minuman. Rasanya agak aneh, bukan rasa wiski soda yang akrab di lidahku seperti minggu kemarin, atau minggu kemarinnya lagi. Kalau memang begitu, seharusnya dia tidak menjauh karena aku tidak menolak ciumannya. Tetapi, setelah dipikir-pikir, bisa jadi kalimatnya ini juga merupakan tipuan sehingga di akhir dia akan mengolok-olokku karena langsung mempercayai kata-katanya.

"Sudah lama aku menyadarinya," katanya, setelah agak lama. Aku tidak tahu bagaimana harus merespons, jadi kubiarkan saja dia bicara sesuka hatinya. Barangkali karena dorongan minuman yang membuatnya menjadi sangat tidak Giyuu-san, meski aku meragukan pemikiran semacam itu. "Aku pernah menceritakannya padamu, Tanjiro, soal mengembara dan bertapa di tepian pantai."

"Ya, aku masih ingat. Tapi kau tidak menceritakannya dengan jelas."

"Aku akan menceritakannya dengan jelas."

Maka, kami kembali memesan minuman. Giyuu-san memesan Tom Collins, sementara aku tetap wiski soda. Giyuu-san mulai bercerita mengenai keresahannya.

"Apakah karena aku dipengaruhi Mishima? Aku sempat berpikiran sinting seperti itu, walau bagaimanapun aku jadi menyadari seksualitasku yang lebih condong tertarik pada laki-laki. Aku menceritakan ini padamu bukan untuk menarik simpatimu, bukan pula untuk membuatmu menjadi lebih pengertian padaku, aku menceritakannya karena kupikir cuma kau saja yang akan tetap bersikap sama, tidak akan berubah. Kau bahkan tetap sama setelah aku dengan tololnya menciummu. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan menendang kemaluan orang itu dan menginjak-injaknya sampai putus!"

Dia meneguk Tom Collins-nya. Aku mengunyah buah kenari.

"Aku menyadarinya sejak duduk di bangku SMA. Kupikir aku ini agak unik, merasa lebih tertarik pada laki-laki ganteng daripada perempuan cantik dengan buah dada besar—ya, bukan berarti aku membenci buah dada, maksudku mereka empuk dan aku menyukainya karena empuk, bukan karena membuatku terangsang. Lagi pula, buah dada itu hanya daging! Itu yang selalu coba kupikirkan. Bisa jadi karena itu pula aku tidak terangsang … karena aku berpikir bahwa buah dada hanyalah daging…"

Aku terbatuk ketika tanpa sengaja membayangkan buah dada Kanao.

"Kemudian aku menjadi semakin tersiksa. Kau tidak akan pernah bisa membayangkan penderitaanku, Tanjiro. Di tahun pertama kuliah, aku memutuskan untuk cuti setahun. Selama cuti, aku pergi ke sebuah desa di Aomori. Itu adalah desa yang sangat kecil, tidak begitu banyak penduduk, sangat dekat dengan Osore-zan."

"Osore-zan?"

"Ya, kau tidak pernah mendengarnya? Daerah pegunungan di semenanjung Shimokita, yang dipercaya adalah gerbang menuju dunia bawah. Kau tahu Hans Fallada sampai Fitzgerald, tapi kau tidak tahu Osore-zan. Benar-benar khas dirimu." Giyuu-san menyindir, aku hanya bisa sedikit tertawa. Dia menghela napas sebelum mencari-cari sesuatu di saku jaketnya. Satu pak rokok Eleven Star. Kemudian rokok itu disulutnya. Aku baru tahu ternyata sekarang Giyuu-san merokok. Dia melanjutkan ceritanya.

"Di sana aku diperkenalkan dengan seorang biksu. Dia memintaku untuk menjernihkan pikiran dengan bertapa, sehingga pikiran-pikiran kotor tentang duniawi lenyap bersamaan dengan kembalinya diriku yang suci. Bertapa yang kumaksud bukan berdiam diri tidak makan tidak minum di dalam gua, tetapi berjalan-jalan mencari sumber air. Ada danau cukup besar di Osore, tetapi aku merasa danau itu masih belum mampu membersihkan dosa-dosaku. Biksu itu menyarankanku menelusuri tepian pantai, lebih bagus kalau sampai di tengah laut sehingga aku bisa merontokkan semua pikiran kotorku tanpa ragu-ragu. Jadilah, aku kembali berkelana sampai-sampai kulitku gosong. Hampir sepuluh bulan dan aku merasa diriku terlahir kembali. Aku pulang ke Tokyo, melanjutkan kuliah dan lain sebagainya. Aku tidak begitu dekat dengan siapa pun, jujur saja. Aku sangat menjaga diri. Aku tidak ingin pikiran kotor itu kembali datang, mengacaukan kewarasanku. Dan menghabiskan waktu senggang di perpustakaan memang ide bagus untukku menjauhkan diri dari pergaulan menyesatkan."

"Tapi, kau mendekatiku, Giyuu-san. Kenapa?"

Giyuu-san menghisap rokoknya dalam-dalam. Lalu, dia memandangiku. "Karena kupikir kita satu pemikiran. Selain itu, kita juga punya banyak kesamaan. Aku selalu memperhatikanmu di perpustakaan, memperhatikan buku-buku macam apa yang kau baca. Aku berpikir, ya, laki-laki ini cocok berkawan denganku. Jadi begitulah."

Wiski sodaku sudah nyaris habis. Aku memesan lagi.

"Tapi kau menjauhiku."

"Kau masih belum mengerti, Tanjiro?"

Aku mengerti, tetapi penjelasan di dalam otakku membutuhkan konfirmasi.

"Aku suka padamu. Kau adalah laki-laki menarik, dengan cara yang aneh. Sekilas kau tidak menarik, tetapi kalau sudah didekati, kau punya magnet tersendiri yang membuat orang-orang suka padamu. Aku suka wajahmu, hidungmu, bibirmu, rambutmu. Pernahkah seseorang memberitahumu bahwa setiap kali kau bicara, setiap kali kau membuka mulutmu, lawan bicaramu memiliki keinginan untuk mencium—mengecup? Kau punya bibir yang sangat bagus."

"Eh, itu…"

Kupikir yang punya pemikiran semacam itu cuma kau saja, Giyuu-san. Tetapi aku tidak mengatakannya.

"Pikiran kotorku kembali karena kau. Aku tidak menyalahkanmu, tentu saja. Tapi karena dirimulah aku kembali kotor. Akan kukatakan dengan jujur, ya, ketika aku menciummu malam itu, aku sangat ingin mendorongmu ke atas ranjang, menelanjangimu, memasukkan penisku ke dalam mulutmu, mengocok penismu, kemudian mungkin aku akan memasukkan penisku ke liang duburmu. Kita mengeluarkan sperma bersama-sama, ditemani lagu-lagu The Beach Boys. Aku sangat ingin membuatmu menjerit tak berdaya, setelah itu aku akan dengan sangat puas menjauhimu—aku tidak akan menyesalinya, meskipun kau membenciku setelah itu. Aku ini laki-laki bajingan, Tanjiro. Tapi aku tidak melakukannya. Menurutmu kenapa?"

Aku merasa tercekat dan perlu waktu untuk mencerna kata-katanya. Otakku terlalu kaget dengan informasi baru itu, sehingga membuatku terpaku cukup lama dengan pandangan kosong. "Eh, karena … karena kau menghargaiku?"

Giyuu-san tertawa. "Kau benar-benar naif. Setelah apa yang kubeberkan dan kau masih punya pikiran positif semacam itu. Biar kuberi tahu, ya, aku tidak melakukannya karena adikmu mengintip."

"Nezuko?"

"Ya. Sepertinya dia mau memberikan kita cemilan. Berapa umurnya waktu itu? Sepuluh tahun? Aku lebih tidak ingin membuat adikmu trauma melihat kakaknya diserang habis-habisan. Aku mungkin akan hilang akal kalau saat itu kita minum-minum di kamar kosku."

Aku terhenyak. "Nezuko dua belas tahun saat itu." Kemudian, aku teringat wajahnya yang terheran-heran ketika aku membawa Kanao ke rumah dan memperkenalkannya sebagai kekasihku. Nezuko bertanya apakah sekarang kehidupanku sudah lurus. Aku tidak begitu paham maksudnya, jadi aku tidak memberinya jawaban berarti. Kupikir itu berhubungan dengan nilai ujianku atau semacamnya. Aku masih mengingatnya dengan jelas karena pertanyaannya sangat aneh. Giyuu-san benar, aku agak naif. Tetapi dengan tegas kukatakan padanya bahwa aku pasti akan menendang kelaminnya kalau dia berani macam-macam sampai sejauh itu.

"Bagaimana dengan sekarang? Apa kau masih akan menendang kelaminku?"

"Ya."

Giyuu-san kembali memesan gimlet. Aku membaringkan kepala di meja bar, di antara lengan yang menelungkup. Kepalaku sedikit pusing. Giyuu-san melanjutkan bercerita, namun aku sudah tidak begitu fokus mendengarkan. Dia memintaku untuk bangkit dan meneguk segelas gimletnya. Aku meneguk setengah.

"Tanjiro, pulang ke rumahku saja ya. Akan kuperlihatkan padamu tempat tinggalku yang baru, yang jauh lebih luas daripada kamar kosku. Tanjiro, kau sudah sangat payah. Minumanmu sudah kubayar, kau tidak perlu khawatir."

Di dalam bayanganku, muncul sesosok Giyuu-san yang sama sekali tidak kukenal—dia amat berbeda, kurus dan menderita. Dia yang setelah lulus kuliah kembali ke Osore-zan untuk melenyapkan pikiran kotornya tentangku, bertapa lagi di sepanjang pantai Aomori, membuat kulitnya semakin gelap. Lalu memotong rambutnya menjadi botak, seperti seorang biksu. Rambut itu kembali tumbuh seperti sekarang, meski belum lebat, masih cepak. Tetapi, pada akhirnya dia membuang jauh-jauh ideologi 'menjadi murni'. Giyuu-san memutuskan untuk menerima takdir—atau menantangnya. Dia jadi lebih bebas dan menikmati hidup—dan lebih terbuka dalam hal-hal vulgar.

Pada kenyataannya, justru dengan cara membebaskan diri itulah yang membuatnya terlahir kembali. Menjadi murni hanya menahan dirinya yang sesungguhnya untuk keluar dan memberontak. Ah, jadi begitu rupanya. Demikianlah dia pulang ke Tokyo dengan isi kepala lebih bebas dan terbuka mengenai hal-hal jorok, lebih menjadi dirinya sendiri daripada dua tahun lalu. Giyuu-san terbebas dari belenggu Kocchan, yang sampai akhir tetap menyembunyikan jati diri yang sesungguhnya dari dunia. Tapi rasanya aku agak kesepian, membayangkan diriku berpisah dengan Giyuu-san yang dulu.

#

Aku merasakan sensasi yang sama seperti dua tahun lalu. Seakan ada lidah panjang menyeruak masuk ke dalam tenggorokan, mengobrak-abrik isi perut. Ketika mataku perlahan terbuka, muka Giyuu-san amat dekat denganku. Sepasang matanya terpejam, menghayati ciuman. Saat itu, aku baru mempercayai semua ceritanya. Dia terlihat seperti lelaki sengsara yang sedang bersusah payah mencari-cari sumber kehidupannya di dalam diriku, yang sampai kapanpun tidak akan pernah ditemukannya.[]

12:43 AM – January 21, 2020

Edited: 23:32 PM – December 15, 2020

[bisakah kita berciuman selamanya?]

-to be continued-


A/N:

Sebenarnya saya ingin konsisten menulis sekitar seribu kata saja setiap chapternya, tapi tampaknya bagian ini sulit dipisah menjadi dua. Dan saya sedang berpikir apakah lebih baik memanjangkan ceritanya atau memangkas konfliknya…