[its better to feel pain, than nothing at all]
KINTSUGI
Keping III - Putus Asa
"Apakah minggu depan masih sibuk?"
"Ya, aku tidak punya banyak waktu luang sampai liburan akhir semester. Bukankah kamu juga sibuk, Tanjiro-san? Katanya mau ikut ujian Deplu, kan, untuk mengetes kemampuan. Harusnya kamu banyak belajar dan ikut les. Hari ini aku juga tidak bisa menemanimu ke toko piringan hitam, aku ada jadwal les bahasa Perancis."
Kanao adalah tipe perempuan seperti itu; yang sangat mengutamakan belajar daripada apa pun. Dia juga punya otak cemerlang dan terlahir di keluarga kaya yang dapat menunjang semua kebutuhannya—maksudku dalam hal ini kadang-kadang orang cerdas menjadi sia-sia kalau tidak disertai dengan uang atau koneksi; cerdas seringkali hanya berakhir menjadi sekadar cerdas. Selebihnya semua tergantung pada keberuntungan.
Kanao memiliki wajah yang biasa-biasa saja, tetapi karena dia wangi dan rapi, dia selalu terlihat menarik. Apa kata yang tepat untuk menggambarkannya, ya … mungkin anggun, elegan, semacam itu. Aku tertarik berkencan dengannya awalnya hanya coba-coba. Dia menyatakan perasaannya dengan cara yang aneh, sangat lantang tanpa keraguan seolah sudah siap ditolak. Tetapi karena aku menerimanya, Kanao malah menjadi gugup. Kupikir tidak ada salahnya berkencan sebulan atau dua bulan, kalau tidak merasa cocok kami akan berakhir dengan cara baik-baik.
Aku sering bertanya-tanya apakah perasaan nyaman yang kurasakan ketika berhubungan dengan Kanao adalah cinta? Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya aneh juga baru memikirkan cinta di usiaku yang sudah mau dua puluh ini. Terkadang aku juga berpikir, Kanao terlalu baik buatku. Aku ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Kanao. Dia punya sesuatu yang suatu hari nanti akan dia kejar; pendidikan, karier, semua hal yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupanku. Dan aku tidak akan mungkin dapat sejajar dengannya, apalagi melampauinya. Bersama Kanao membuatku nyaman tetapi di sisi lain juga membuatku merasa kerdil.
Mungkin ini adalah alasan terkonyol yang pernah kulakukan untuk meninggalkan seseorang, tetapi pada akhirnya aku tidak tahan dengan tekanan. Aku tidak bisa ikut les karena pekerjaan sampingan, lalu gagal ujian masuk Deplu. Kanao menyemangati, pasti bisa dicoba lain waktu. Aku amat kejam karena menghardiknya, berkata bahwa; ya, mudah saja bagimu mengatakannya karena kamu tidak perlu bekerja mencari uang sampingan, ataupun mengkhawatirkan nilai ujian—mudah saja, mudah saja bicara. Aku sudah terlanjur muak pada segala hal yang tampak hari itu. Melihat Kanao menangis membuatku semakin muak pada diriku sendiri. Kehidupan saat itu rasanya seperti sedang memusuhiku.
Mendadak aku amat merindukan Ibu, dan di saat yang sama aku juga merindukan Giyuu-san. Dalam kepalaku, terbesit sebuah pemikiran sinting; tampaknya aku tak masalah dengan apa pun yang dilakukan Giyuu-san terhadapku. Dia boleh saja melakukan apa yang diinginkannya. Aku tak akan keberatan. Rasa-rasanya, aku ini hanya butuh bahu tegas buat bersandar, bahu tegas yang lebih tegar dari karang.
#
Malam itu, aku seperti berada di dalam mimpi. Terkungkung, tak mampu memberontak keluar untuk bangun. Tetapi ketika aku terbangun, semua penderitaan telah berakhir seperti asap rokok yang terbuang sia-sia. Aku hanya menemukan Giyuu-san, merenung di depan jendela dengan sebatang rokok terselip di bibir. Figurnya di depan jendela mengingatkanku pada seekor burung. Aku seakan melihat Giyuu-san hendak terbang bebas.
Pagi itu adalah pagi yang aneh. Berada di dalam kamar asing, tetapi dengan aroma yang akrab di hidung; aroma rokok, bau tubuh seseorang, cat minyak. Dinding kamar dipenuhi lukisan abstrak, yang kemudian kuketahui di lain waktu bahwa lukisan-lukisan itu adalah karya Giyuu-san. Selama hampir dua tahun di Osore-zan, dia banyak menghabiskan waktu dengan melukis. Giyuu-san menyebutnya 'terapi melukis'. Dan di malam setelah dia selesai mencumbuku, dia melukis seorang pria yang tersenyum sangat lebar dengan sepasang mata melotot menyeramkan. Itu adalah gambaran dirinya sendiri.
"Aku pernah mencoba bunuh diri," kata Giyuu-san memecah keheningan dengan satu kalimat pembuka yang absurd. Kupikir semua orang tentu pernah berpikir untuk bunuh diri, meski tidak pernah benar-benar merencanakannya. Pemikiran semacam itu kadang terjadi sepintas; ah, ya, bulan depan sebaiknya aku gantung diri saja—kehidupan ini terasa sangat berat, barangkali kematian akan lebih mudah. Suatu pemikiran yang tidak benar-benar serius dan akan menjadi serius kalau terus-menerus dipikirkan, serius dan gawat.
Ditambah kasus bunuh diri seolah sudah biasa, bahkan dianggap sebagai jalan paling terhormat para samurai dalam melindungi martabat mereka. Ini juga berlaku dalam kehidupan Mishima yang setahun kemudian melakukan seppuku sebagai bentuk protesnya terhadap pemerintahan Jepang.
Kalimat Giyuu-san kembali terngiang. Aku pernah mencoba bunuh diri… Tetapi dia masih hidup dan segar bugar, tanda bahwa dia amat sangat kuat menghadapi dirinya sendiri.
"Kau mungkin tidak percaya, tapi, ya, aku memang pernah mencoba bunuh diri. Dengan pemikiran siapa tahu dengan begitu aku bisa terbebas dari tubuh terkutuk ini—tubuh yang tidak kukenal milik siapa."
Apa maksud dari 'tubuh yang tidak kukenal milik siapa'?
"Aku menyiapkan tali tambang yang kuat, mencari lokasi yang bagus—ya, jangan merasa aneh, aku memikirkan lokasi yang bagus dan strategis untuk mati, agar ketika seseorang menemukanku, mereka akan memuji betapa aku mati dengan cara yang estetik. Aku bahkan tidak makan dan tidak minum selama dua hari agar ketika aku mati kehabisan napas, tidak ada feses menjijikkan yang bisa merusak citraku. Ketololanku cuma satu; aku lupa ketika tali itu melilit leherku, aku bakal mengalami kejang-kejang. Kakiku tak sengaja menendang botol bir sampai pecah. Akhirnya Bapak muncul lebih cepat daripada shinigami. Aku selamat, seperti yang kau lihat. Imbasnya, aku diminta mengasingkan diri lagi di Aomori. Begitulah nyaris dua tahun aku lenyap, untuk mengikis sedikit demi sedikit kemiringanku.
"Kau mungkin bertanya-tanya soal botol bir itu. Biar kukatakan lebih jelas, sebelum mati aku ingin dianggap menikmati hidup. Jadi aku minum banyak. Setidaknya kalau di neraka nanti tidak ada minuman keras, aku sudah merasa puas karena sebelumnya sudah menenggak banyak. Dan kupikir bir tidak akan menjadi feses kalau aku cepat-cepat mati setelah menenggaknya."
Itu adalah pemikiran aneh. Namun aku tidak mampu mengatakannya dengan jujur, meski dikatakan atau tidak, aku yakin Giyuu-san berpikir bahwa aku berpikir apa yang dia pikirkan itu sangat aneh. Kalau dipikir-pikir, bukankah segala hal yang berhubungan dengan Giyuu-san selalu berakhir aneh?
"Aku ini bukan orang Jepang."
Dan itu merupakan kalimatnya yang paling aneh.
"Nama asliku Yixing. Darah yang mengalir di tubuhku ini adalah darah orang Cina. Tapi aku tidak bisa bahasa Cina."
Ya, sangat aneh.
"Tanjiro, jangan cuma diam. Katakanlah sesuatu. Aku sedang dalam kondisi sensitif sekarang ini. Ketika terbangun, aku merasa semuanya menjadi kacau dan jungkir balik. Omong-omong, apakah kau membaca Chekov? Selama di Aomori, aku membaca banyak karyanya. Cerita-cerita pendeknya membuat benang kusut di kepalaku menjadi agak lurus dan teratur. Aku juga mendengarkan Johnny Hallyday. Sangat sulit menemukan toko piringan hitam di sana, sekali aku menemukannya, apa yang mereka jual sama sekali tidak lengkap."
"Giyuu-san…"
"Ah, akhirnya kau mau buka mulut. Maafkan soal yang semalam. Kau boleh menendang penisku sekarang."
Aku tidak menendangnya, tentu saja—meski aku sangat ingin melakukannya. Semalam adalah malam yang ruwet. Tatkala mendengarkan apa yang diceritakan Giyuu-san, aku langsung merasa masalah hidupku bukan apa-apa dibandingkan dengan masalah hidupnya. Tapi bagaimana bisa aku merasa setidak berdaya ini? Aku tidak membenci Ayah ataupun Nezuko, namun rumah sungguh terasa suram tanpa Ibu. Dan aku merasa tolol karena sudah membuat seorang perempuan menangis. Sekilas, aku amat mendambakan kematian. Tidak ada salahnya mati muda, lagi pula tidak ada sesuatu yang menungguku di masa depan. Namun setelah mendengar pengakuan Giyuu-san, aku merasakan perasaan 'dibutuhkan'—suatu perasaan yang membuatku berpikir; semacam ini, tidak ada salahnya. Sebab, aku datang padanya juga karena perasaan butuh itu. Perasaan yang sulit untuk dijabarkan. Sederhananya, aku merasa tidak apa-apa hidup begini asal ada Giyuu-san yang peduli padaku, dan dia pun berpikir hal yang sama.
"Apa kau masih suka padaku, Giyuu-san?"
Giyuu-san menyesap rokoknya dalam-dalam. Dari sepasang matanya aku melihat sesuatu yang tidak kumengerti, semacam kebimbangan. Asap berembus melalui mulut, terbang lewat jendela, dibawa angin. Sepintas dia seperti menjelma seni yang keluar dari dalam lukisan.
"Biasa saja."
Sejujurnya aku tidak percaya jawaban Giyuu-san. Biasa saja. Biasa saja yang bagaimana? Terkadang aku membenci kata-kata, karena kata-kata tidak selalu benar. Atau aku hanya ingin mendengar kata-kata yang membuatku merasa tenang. Semacam, ya, aku masih suka padamu karena itulah aku menidurimu. Bukan biasa saja.
Ataukah apa yang kulihat semalam hanyalah tipuan ilusi—aku membayangkan Giyuu-san tergila-gila padaku, menginginkanku seutuhnya dan mencari-cari sumber kehidupannya di dalam diriku. Pada akhirnya aku ini cuma manusia yang memikirkan diri sendiri. Ketika Giyuu-san bertanya kenapa aku menangis, aku juga mempertanyakan hal serupa: ya, kenapa? Saat itu yang kupikirkan adalah betapa aku kesepian. Kenyataan pahit pertama dalam hidupku bahwa ternyata kehidupan ini sangatlah berat dan semua orang menanggung bebannya masing-masing.
Aku dilahirkan tanpa Ayah. Ibu menikah dengan Kamado-san ketika umurku lima tahun. Kemudian, Nezuko lahir. Ibu terkena penyakit parah. Kami pindah ke kota untuk mendapatkan fasilitas rumah sakit yang lebih baik. Kamado-san mengusahakan semuanya. Tetapi Ibu seolah tidak peduli dan memilih untuk meninggalkan kami semua, setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakitnya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, selain Kamado-san—selain Ayah, selain Nezuko. Namun, di dalam pikiranku, dua orang itu adalah orang asing. Aku tidak mengenal mereka. Dan sama seperti Giyuu-san, aku pun mulai tidak mengenal siapa aku. Tubuh ini, tubuh siapa?
Aku keluar dari rumah, tinggal di sebuah indekos murah, bekerja sampingan untuk membiayai hidup, semua kulakukan agar aku merasa memiliki arti—agar aku menemukan diriku sendiri. Namun, dalam masa pencarianku, sering kali aku mempertanyakan untuk apa aku hidup—dan itu merupakan fase kehidupanku yang sulit. Aku bertanya-tanya kenapa Giyuu-san memutuskan untuk menjauh, untuk menghilang, ketika aku sangat membutuhkannya?
Barangkali aku menangis karena berpikir betapa kejam apa yang telah dilakukan Giyuu-san padaku, dan aku sangat ingin membencinya. Tetapi yang kurasakan justru sebaliknya.[]
1:15 AM – January 26, 2020
Edited: 2:04 AM - February 2, 2020
Revised: 3:08 AM – January 14, 2021
