A/N: Happy birthday, Tomioka Giyuu!
KINTSUGI
Keping IV – Good Old Days
Kenapa kau mau-mau saja aku tiduri. Tidakkah kau berpikir bahwa kau ini agak aneh?
Tatkala Giyuu-san mengatakan itu, aku jadi berpikir: eh, ya, benar juga. Yang aneh tidak cuma Giyuu-san, tetapi juga aku.
Tidak cuma sekali, aku membiarkannya berkali-kali. Kami sering bercumbu kalau bertemu, saling memberi felatio, berciuman, meraba-raba. Aku mulai terbiasa—menjadi amat terbiasa. Sampai ketika lulus ujian Deplu setengah tahun berikutnya, aku mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dan mulai jarang berjumpa dengan Giyuu-san.
Mereka yang lulus akan dibina selama kurang lebih sepuluh bulan, sebelum dikirim untuk bekerja di luar negeri. Itu bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Selain nilai yang tidak boleh turun, aku juga membutuhkan biaya besar. Sekilas aku berpikir untuk melepaskan kesempatan itu. Bagaimanapun, aku ini tidak punya banyak uang. Tapi kalau dipikir-pikir lebih matang, kesempatan semacam ini tidak mungkin datang dua kali. Aku pernah berdiskusi mengenai hal ini dengan Giyuu-san, dan yang selalu menjadi jawabannya adalah: pulang. Pulang ke rumah, meminta restu dan kalau diperbolehkan sekalian meminta bantuan finansial. Mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan.
Barangkali karena aku memiliki harga diri yang tinggi, aku tidak ingin merepotkan siapa pun—dan merasa bahwa aku bukan bagian dari keluarga Kamado. Siapakah aku, omong-omong? Hanya seorang anak laki-laki yang dibawa mendiang istrinya dari perkawinan sebelumnya. Menjadi tertutup dan berpikir bahwa di dalam hidup ini aku tidak memiliki siapa-siapa selain diriku sendiri. Hanya aku.
"Oh, Tanjiro, jangan keras kepala. Manusia itu makhluk sosial. Bagaimanapun, tidak mungkin kau pergi tanpa keluargamu mengetahui. Bukankah sebelum pergi, kamu harus mengurus surat izin dari keluargamu?"
Kata-kata Giyuu-san membuatku tidak bisa berkutik. Mau tidak mau aku menjilat ludahku sendiri dan berkunjung ke rumah, meminta bantuan finansial serta restu Ayah.
"Apa pun yang kamu butuhkan, Ayah akan berusaha untuk memenuhinya. Bergantunglah pada keluargamu sekali-kali, walau Ayah bukan siapa-siapa tapi setidaknya Nezuko punya ikatan darah denganmu."
Itu adalah kepulanganku setelah dua tahun. Mereka bukan tidak mencoba mencariku, tentu saja mereka mencariku tapi aku memang kepala batu. Nezuko kadang mampir ke kamar indekosku ketika awal-awal aku minggat, kemudian aku melarangnya mampir terlalu sering dengan alasan sibuk tugas kuliah, kerja sampingan, dan tidak punya waktu untuk mengobrol tentang kehidupan sekolahnya. Betapa dingin. Kemudian, aku meminta izin membawa piringan hitam Darlene Love milik Ibu, meski yang kuingat tentang lagu itu adalah ciuman pertamaku dengan Giyuu-san.
"Apa Kakak akan sering mampir?" Nezuko menatapku penuh harap.
"Kuusahakan."
Ketika keluar dari pintu rumah bergaya Barat tersebut, aku merasa satu bebanku lenyap. Dalam perjalanan kembali ke kamar kos, terngiang kalimat terakhir yang dikatakan Nezuko. Katanya, dalam beberapa bulan Kakak akan pergi sangat jauh dan aku tidak akan bisa mampir bahkan satu bulan sekali. Setidaknya sebelum pergi, mampirlah ke rumah lebih sering. Mungkin hal itu bisa membayar rasa kangenku di masa yang akan datang. Saat itu, kerinduan asing mendadak memenuhi diri. Aku jadi rindu Nezuko kecil yang selalu mengekoriku ke mana-mana. Sekarang setelah melihatnya, aku sadar bahwa ternyata Nezuko sudah tumbuh sebesar ini. Aku merasakan kehilangan yang sama seperti melihat Giyuu-san yang baru, yang amat berbeda dengan dua tahun lalu.
#
"Kalau aku melihat cermin, melihat wajahku, melihat pula lubang pori-pori di pipiku, kadang aku berpikir bagaimana seandainya dari lubang itu muncul belatung-belatung kecil, menyeruak keluar, menyerukan protes bahwa sebaiknya aku berhenti menyia-nyiakan hidup tubuh orang ini dan mulailah bergerak pada kehidupan yang lebih baik. Aku ini adalah nyawa, hanya nyawa, yang mampir di tubuh laki-laki yang tidak kukenal. Tubuh laki-laki ini, hanya berupa tubuh pula—di mana nyawanya? Karena tidak ditemukan, akhirnya akulah yang masuk. Tetapi tubuh laki-laki ini menolak, memberontak, sehingga kadang membuatku ingin mati. Barangkali belatung-belatung itu akan berkata, ya, mati saja kau, kau tidak layak mendiami tubuh Giyuu, kemudian di lain waktu belatung-belatung ini justru memberi petuah hidup. Kalau tubuh ini bernama Giyuu, lalu nyawaku siapa? Aku tidak mengenal diriku sendiri. Aku merasa asing."
Giyuu-san selalu menceritakan hal-hal absurd kalau kami usai bercumbu. Aku tidak memahami jalan pikirannya yang bercabang dan berbelit-belit. Walau terkadang, aku juga merasa seperti itu—seperti tidak mengenal diriku sendiri. Aku ini siapa, mereka siapa, dan kenapa kami hidup dalam rutinitas yang semakin lama semakin terasa sesak seperti dicekik perlahan. Giyuu-san menjadi lebih sering menceritakan dirinya sendiri, dirinya yang tidak dia kenali, yang seakan tengah tersesat dalam hutan rimba tanpa jalan keluar selain kematian.
"Kalau kau pergi, Tanjiro, aku mungkin akan menerima tawaran Bapak. Apa yang kulakukan di Tokyo? Tidak ada. Aku cuma mau menghabiskan waktu denganmu sejenak, sebelum kau benar-benar pergi jauh. Bukankah ada kemungkinan kau tidak akan pulang?"
"Tidak, aku pasti pulang."
"Kau harus mengirimi aku surat, ceritakan kehidupanmu di—mana?"
"London."
"Ya, ceritakan apa pun yang menurutmu menarik di sana. Aku akan mengirimkan alamat baruku. Mungkin aku juga akan pergi tak lama setelah kau pergi. Dan kalau suatu hari kau pulang, pastikan kau mampir ke bar."
Tawaran yang dimaksud Giyuu-san adalah bekerja sebagai bartender di sebuah bar milik keluarganya di Nagoya—milik Bapak. Selama ini kupikir dia hidup di keluarga yang biasa-biasa saja, rupanya dia senasib sepertiku; ada fase di mana kami tidak mengenal apa itu keluarga, kemudian memutuskan untuk menolak ikatan itu meski sejatinya ikatan tersebut sangat menguntungkan dari segi keuangan. Dalam kasus Giyuu-san, itu merupakan suatu hal yang sangat wajar. Dia memang tidak terlahir di keluarga itu, dia hanya seorang anak laki-laki yang umurnya belum genap empat tahun saat diadopsi. Giyuu-san tidak mengerti bahasa keluarga yang mengadopsinya karena dia berasal dari Tiongkok. Bagaimana cerita dia berakhir di keluarga Tomioka cukup panjang, tetapi singkatnya Giyuu-san sengaja ditinggalkan di Bandar Udara Komaki (sekarang diubah menjadi Nagoya) oleh ibunya yang tidak bertanggung-jawab. Hal yang Giyuu-san ingat sampai saat ini hanyalah Yangzhou, nama kota tempat dulu dia tinggal, serta nama Tiongkoknya.
"Bukankah kemungkinannya amat besar bahwa nyawa tubuh laki-laki ini tertinggal di Yangzhou? Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan di sana, tetapi kadang-kadang muncul keinginan untuk pergi, untuk pulang, meski aku tidak tahu di mana lebih jelasnya tujuanku. Aku mungkin akan bertemu wanita itu dan mencekiknya sampai mati. Tega sekali dia meninggalkanku! Tapi, kupikir lagi, kalau aku hidup dengannya, mungkin akulah yang akan dicekiknya sampai mati. Dia amat tidak menginginkanku, demikianlah. Aku ingin mencari Yixing di dalam diriku."
Yixing adalah namanya. Ditulis dengan kanji yang sama dengan Giyuu.
"Yixing-san…"
"Ketika kau memanggilku dengan nama itu, aku tidak bisa merasa akulah yang kaupanggil. Nama itu terasa asing. Aku tidak mengenalnya."
"Giyuu-san."
"Bagaimana bisa aku tahan berkawan denganmu. Ah, sial betul." Kemudian kami berciuman. Giyuu-san bisa menebak bahwa aku sangat suka berciuman dibanding bersetubuh. Dia amat pengertian, tidak pernah memaksaku untuk berhubungan seks meski aku tidak keberatan. Dia selalu berkata ingin sama-sama menikmati. Kupikir Giyuu-san juga menikmati ciuman, sebab napasnya selalu memburu dengan sepasang mata penuh kabut. Tentunya dia mati-matian menahan diri.
"Apa jadinya aku kalau tidak bertemu denganmu, Tanjiro."
Aku mengusap rambut belakangnya. Rambut yang semula nyaris botak kini sudah mulai tumbuh memanjang.
"Aku mungkin sudah menjadi tulang-belulang. Habislah aku dimakan belatung-belatung pendendam itu."
Aku menangkup kedua pipinya, memaksanya untuk menatap mataku. Kadang-kadang dia menjadi seperti ini; rapuh dan mendambakan kematian. Aku mengecup pucuk hidungnya. "Giyuu-san, ayo kita melakukannya."
"Ah, gawat."
Percakapan kami tidak pernah tetap, selalu meloncat-loncat dengan beragam topik. Aku sudah tidak peduli mengenai pendapatnya terhadap diriku, atau perasaannya yang masih sama atau tidak. Aku memang laki-laki yang hanya memikirkan diri sendiri; kenyamananku saat menghabiskan waktu bersama Giyuu-san adalah yang paling penting. Bagiku dia tetap sosok yang patut dikagumi. Setelah semua badai menghajarnya bertubi-tubi, Giyuu-san tetap berdiri tegak dengan bahu yang semakin kokoh. Ketika aku menghadapi masalah hidupku, aku akan membayangkan kehidupannya, lalu berakhir terkagum-kagum.
Aku menyukainya, aku kagum padanya, kedua hal itu dalam konteks yang tidak kupahami. Logika dalam kepalaku berkata: kalau sudah seperti ini, rasanya aku tidak butuh perempuan—aku hanya butuh Giyuu-san.
#
Setelah bekerja di London, aku pulang sesekali. Tidak sering, memang. Paling-paling satu tahun sekali, atau bahkan dua sampai tiga tahun. Di tahun keenam, aku masih berjumpa dengan Giyuu-san. Dia terlihat lebih matang. Kegiatannya tidak banyak berubah, tetap menjadi bartender di sebuah bar yang kini menjadi miliknya setelah ayahnya meninggal dunia. Kadang dia menceritakan bagaimana watak ibunya (bukan Ibu asli, tentu saja) yang agak pendiam dan tidak banyak tingkah, tetapi menangis hebat setelah ditinggal mati suaminya.
"Aku mungkin memang tidak memiliki siapa-siapa selain diriku sendiri," katanya, waktu itu. "Tapi kalau kubayangkan aku menunggumu kembali, meski perjumpaan kita tidak pernah lama, aku merasa tidak ada salahnya melanjutkan hidup. Menyenangkan membayangkan bisa bertemu denganmu yang semakin matang setiap tahunnya. Aku di masa lalu takkan mempercayai pemikiranku sekarang ini, dan mungkin aku akan lebih memilih menenggelamkan diri di danau Aomori."
"Aku juga berpikiran hal yang sama. Membayangkan bertemu dengan Giyuu-san rasanya menyenangkan. Bisa jadi, alasan kuatku tetap pulang ke Jepang bahkan langsung terbang ke Nagoya adalah dirimu, Giyuu-san. Kupikir ini sudah sangat jelas." Aku jadi agak malu setelah mengatakannya. Berkali-kali aku mengajak Giyuu-san berkunjung ke London, tetapi selalu dijawab dengan penolakan. Banyak hal yang harus diurus di sini, tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kurang lebih alasannya tidak jauh-jauh dari itu.
Kami berbincang sampai larut, kami tertawa bersama. Giyuu-san menyajikan wiski soda untukku. Kami membicarakan era musik baru, penulis-penulis baru, berbagai macam hal. Aku membicarakan kawanku di London, yang seringkali satu pemikiran denganku soal selera musik dan sastra, meski sifat sok cerdasnya membuatku muak. Giyuu-san terlihat sangat bahagia dan sehat. Dua tahun berikutnya kami kembali berjumpa. Rupanya dia mulai membuka pameran lukisannya sendiri.
"Bukan suatu hal yang menguntungkan, jujur saja. Tapi aku sangat puas dengan pencapaianku, setidaknya aku tidak menyia-nyiakan apa yang kubisa."
Pada tahun 1980, aku mendapat kabar bahwa Giyuu-san pupus. Usianya masih sangat muda. Barangkali sekitar 32. Aku tidak pernah pulang lagi ke Jepang, tidak bahkan setelah mendapat kabar mengejutkan itu. Aku merasa aku tidak punya alasan kuat untuk pulang—untuk apa? Meski pada akhirnya aku kembali sekali waktu tatkala surat dari Nezuko datang, dan itu merupakan kepulanganku yang terakhir.
Ketika 40-Hour Week dari Alabama ramai dibicarakan, Nezuko memberi tahu melalui surat bahwa Ayah berencana untuk menjual rumah yang berada di kota. Ayah sudah menawarkan di koran-koran harian. Mereka berniat kembali ke Miyagi, ke rumah lama. Kupikir itu bukan suatu masalah. Jadi, aku meminta Nezuko untuk memberi tahuku lebih awal kalau-kalau sudah laku terjual. Dalam kurun waktu tiga bulan, surat Nezuko mengenai rumah akhirnya datang. Kukatakan padanya aku akan pulang ke Jepang dalam waktu dekat. Bukan bermaksud ingin mengungkit harta warisan, aku sama sekali tidak berpikir ke sana—lagi pula, aku merasa tidak memiliki hak apa pun. Aku hanya ingin mengemasi barang-barangku yang masih tertinggal, yang kutitipkan di rumah itu selagi aku berada di London dengan pemikiran; suatu hari nanti, aku pasti pulang dan menetap bersama mereka—meski kenyataannya tidak begitu. Sebagian barang-barang mungkin akan kujual, sebagian lagi kubawa ke London.
Dari situlah awal mula aku menemukan The Great Gatsby—dan mengenang Giyuu-san, setelah nyaris enam tahun berlalu pasca kematiannya. Apa yang kulalui dengannya barangkali memang tidak berarti apa-apa; sebatas kehidupan anak muda yang penuh nafsu, seks bebas dan huru-hara. Aku enggan melabelinya sebagai seks bebas, karena aku hanya melakukannya dengan dua orang pada masa itu—meski untuk kasus Giyuu-san, aku tidak tahu-menahu.
Dia tidak pernah menceritakan penyakitnya selama kami bertemu. Kupikir dia memang sehat-sehat saja. Meski setelah kubayangkan kembali, rasa-rasanya pertemuan terakhir kami memang agak ganjil. Aku tidak melihatnya menjadi kurus dengan drastis, tetapi aku sempat berpikir dia kehilangan sedikit berat badannya. Aku tidak punya pikiran macam-macam karena mungkin itu akibat kelelahan sehabis membuka pameran lukisan perdananya.
Sebelum kembali, aku menyempatkan diri berkunjung ke Nagoya, datang ke bar yang kini sudah berganti nama, berganti pemilik pula. Ketika duduk di kursi bar, aku membayangkan Giyuu-san masih ada, melayaniku, mengobrol panjang denganku, kemudian menghabiskan malam yang menyenangkan bersama sebagaimana biasanya. Bayangan-bayangan itu membuat dadaku sesak.
Di perjalanan kembali ke London, di dalam pesawat, The Great Gatsby kubaca lagi. Kuputuskan untuk menaruh surat terakhir Giyuu-san di sela-sela halaman buku itu. Di dalam surat terakhirnya, aku mengingat Giyuu-san meminta maaf kepadaku. Seketika, aku teringat wajah sendunya, ciumannya yang terkadang terasa dingin serta kata-katanya yang serba absurd. Di masa penghabisanku kelak, aku berpikir untuk menghabiskannya di tempat di mana Giyuu-san habis.
Ketahuilah, Tanjiro…
Aku tidak berdusta ketika mengatakan bahwa aku merasa senang membayangkan akan bertemu denganmu yang lebih matang setiap tahunnya. Aku menunggu dengan sabar, sebagaimana seorang kekasih yang amat mencintai pasangannya. Aku merasakan penantianku sangat berarti, tidak sia-sia. Aku ingin melihat di mana kau hidup sekarang, meski aku selalu menolak dengan alasan macam-macam. Dan ketika menulis surat ini, aku telah menyesali banyak hal: kenapa aku tidak melakukannya selagi aku bisa?
Kau mungkin akan sangat terkejut, tetapi saat surat ini sampai di tanganmu, itu berarti aku sudah pupus. Aku meminta Nezuko untuk mengirimkannya padamu setelah aku mati nanti. Aku sakit dan aku tidak yakin penyakitku bisa sembuh. Aku merasa lemah setiap hari, merasakan sakit dan terus berjuang dengan satu pemikiran: aku harus hidup agar dapat bertemu denganmu. Perasaan semacam itu rasanya tidak menyenangkan—ketika akhirnya aku ingin hidup! Aku kangen sekali padamu. Dan ketika rasa kangenku memuncak, aku membaca Fitzgerald berulang-ulang, hingga aku menyadari kutipannya; all I kept thinking about, over and over, was 'you can't live forever, you can't live forever' sebagaimana posisiku sekarang: aku tidak bisa hidup selamanya, aku tidak bisa menunggumu selamanya, meskipun aku sangat ingin melakukannya.
Aku meminta maaf untuk segala hal; termasuk bungkamnya aku soal penyakitku. Aku tidak ingin dianggap lemah, terlebih aku tidak ingin dikasihani olehmu. Ini mungkin terdengar konyol untuk dikatakan sekarang, tetapi jujur aku sangat suka padamu—mungkin cinta. Kali ini aku mengatakannya tanpa keraguan. Dan aku berpikir, aku senang mati dalam keadaan sebagai Giyuu. Aku memang masih mencari diriku sendiri, mencari Yixing, tetapi sekurang-kurangnya aku mengetahui satu hal penting mengenai Giyuu; dia ingin menghabiskan waktu denganmu, sebagaimana aku. Kami memang sepakat dalam hal ini. Rasanya menyedihkan karena aku akan ikut mati bersama tubuh yang tidak kukenal ini, tetapi setelah dipikir-pikir, mungkin aku telah lama menyatu dengannya; menjadi satu sosok yang kau kenal.
Kau tidak perlu bersedih karena tidak menghadiri upacara kematianku. Aku akan diperabukan dan meminta keluarga angkatku untuk meleburkan abuku di danau Osore-zan, sehingga aku bisa meleburkan pula dosa-dosaku di sana.[**]
[so we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past
—The Great Gatsby]
10:33 PM – February 7, 2020
Edited: 0:50 AM – February 8, 2021
