Backpfeifengesicht

.

Prolog

[Sesi ini lebih baik dibaca dengan musik dari The HU – Sugaan Essana]

Dia menatapku. Mata putih tanpa iris itu menusuk, mambangkitkan ketakutan teradalam yang bahkan tak pernah kupikirkan bisa kurasakan.

Sekejap, tidak, lebih cepat dari itu, dalam kecepatan cahaya dia menarikku. Aku tak tahu apa sihir yang dia gunakan, namun tarikan itu terlalu kuat dan cepat rasanya seperti dia menteleportasiku. Sebelum pikiranku bisa memproses apa yang terjadi, yang kutahu selanjutnya adalah ada rasa sakit yang amat sangat di dadaku dan tulang punggungku terasa sudah tidak ada pada tempatnya. Pukulannya di dadaku mengempaskan tubuh kecilku ke jalanan bebatuan, menyeret lalu menabrakkannya ke bebatuan.

Darah mengalir dari bibirku. Rasa pahit debu pegunungan memenuhi mulutku.

Kecepatan itu, bahkan mata iblisku tidak bisa melihat apa yang telah terjadi.

Tubuhku terasa kaku, bahkan hanya untuk menaikkan pandangan melihat bagaimana keadaan Rujeird dan Eris saja aku tak bisa. Untuk pertama kalinya dalam hidupku rasa takut benar-benar mengonsumsi jiwaku.

Di hadapaku, pria itu adalah kematian.

"Bidak menyedihkan." tanpa emosi, dia mendekatiku. Dalam tiap langkah kakinya aku bisa merasakan ketakutan semakin memenuhi tubuhku.

Dia berdiri di hadapanku. Dengan sihir yang tak kutahu, tangannya menengadahkan kepalaku. Memaksaku menatap wajahnya. "Matilah." lalu sihir di tangan kirinya mengangkat tubuhku kembali.

Tangannya terasa sangat dingin di leherku.

Tubuhku bahkan menolak melawan.

Namun hanya sepersekian detik sebelum tangan kanannya yang dipenuhi mana menembus dadaku, Rujeird berlari mendekati pria ini dengan tombak di tangannya, yang bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dariku langsung dipentalkan menjauh oleh pria ini. Tubuh Rujeird terseret membuat bekas lain di jalan ini. Berbeda denganku, Rujeird langsung berdiri dan kembali berlari menuju pria ini. Kali ini dia mencoba mempertahankan jaraknya, tapi sayangnya tetap tak berguna karena pria ini hanya dengan tangan kanannya meninju tombak Rujeird dan membuatnya tak bersenjata. Tubuh Rujeird kemudian ditarik dan lehernya dicekik. Dia lalu membenturkan kepalanya ke kepala Rujeird dan membuat sang Supard tak sadarkan diri.

Rujeird adalah orang yang paling kuat yang pernah kutemui.

Harusnya.

Namun orang ini bahkan tanpa sedikitpun usaha bisa membuat seorang Supard dengan 500 tahun pengalaman bertempur tak sadarkan diri lalu membuangnya seperti sampah. Pandangannya bahkan tak berpindah hingga saat terakhir dan tangan kirinya terus menggengam tubuhku.

Ketakutan semakin dalam merasukiku.

"AAAA!"

Teriakan penuh ketakutan itu berasal dari Eris. Gadis itu kini sudah berada di sampingku sambil mengacungkan pendangnya. "Menyerahlah, tak ada pilihan lain." suara bernada rendah itu terdengar mengasihani.

"Kau benar."

Eris bergemetar.

Dia sama takutnya dengan diriku.

[Mykom Otfumb] [1]

Tapi aksinya selanjutnya mencerminkan hal yang berbeda, dia mengayunkan pedangnya ke tangan kanan pria ini. Dan tentu saja tubuhnya langsung terangkat, berputar 180 derajat di atasku untuk kemudian dibenturkan di jalan bebatuan oleh pria ini. Pedang sudah tidak ada di tangannya dan ketakutan masih terlihat jelas di matanya. Namun dia kembali berdiri dan langsung meninju perut sumber ketakutannya itu dengan penuh tenaga, sayangnya sebelum tinjuan itu mendarat, tangannya sudah tergenggam erat, tubuhnya kemudian terhantamkan ke lulut pria ini. Darah mengalir di pipinya dan dia sudah tak sadarkan diri.

"Eris!" ada sesuatu yang meledak dalam diriku ketika aku melihat darah mengalir dari bibir Eris. Ketakutan yang dari tadi mengganggamku sedikit terangkat, dan lidah kakuku dengan reflek langsung mengucapkan mantra penyembuhan.

[Xohp!] [2]

Tentu saja itu tak berguna, meskipun tubuhnya tak terlalu jauh dariku seperti Rujeird namun tanganku masih tak bisa menggapainya.

"Oh, penyihir rupanya," dan dengan itu, tangan kanan diginnya ia tempelkan di dada kiriku. "mari kita lihat apa yang bisa seorang penyihir lakukan tanpa..."

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA- HA- HA- H-"

"..., paru-paru."

Napas. Aku tak bisa bernapas. Hancur paru-paruku.

Rasa asin darah di muluku semakin terasa pahit. Pandanganku memudar. Tak ada yang bisa kulakukan. Rujeird dan Eris masih tergeletak tak sadarkan diri.

Orang ini benar-benar manifesto dari teror dan kematian.

Untuk sekejap aku berhasil mengumpulkan sedikit kewarasanku yang tersisa.

Aku akan mati.

Tapi setidaknya aku harus mati dengan bangga. Aku harus melawan. Sihir apa yang bisa melukai orang sekuat dia? Api. Ledakan. Ledakan yang sangat besar. Tanpa menunggu, sembari memfokuskan mana aku memikirkan sebuah ledakan paling besar yang pernah kutahu. Bom atom. Ya, dengan radius sebesar itu, menghindar dari bom atom adalah hal yang mustahil, secepat apapun dirimu.

Mana yang kubutuhkan sudah terkumpul dan dalam sekejap langsung kulepaskan.

[Gurahuw 'No Nygr'] [3]

Namun dia langsung menaruh tangannya di hadapanku dan memunculkan sebuah jendela berukuran 50 cm. Seluruh mana dan ledakan yang kukumpulkan langsung diserapnya.

"Bukan seorang penyihir biasa rupanya. Seorang penyihir tanpa mantra. Dan dengan mana sebesar ini. Menarik. Tapi bukankah lebih baik kau sembuhkan pa- oh, kau tak bisa melakukan sihir penyembuhan tanpa mantra! Sangat menarik, sungguh sangat menarik!" suaranya naik satu oktaf.

Di titik ini aku sudah tidak peduli dengan apapun. Bahkan saat aku tahu kalau membuat bom atom lainnya takkan mengubah apapun, dengan sisa mana yang kupunya aku kembali membuatnya. Kali ini lebih harus lebih besar. Bahkan jika Benua Tengah hancur aku tidak peduli.

[Ran Ma] [4]

Tepat sebelum aku berhasil melepaskan sihirku, pria ini mengucapkan mantra tersebut. Menghancuran seluruh mantra sihirku.

"Sudah cukup bermainnya. Aku sedikit bersenang-senang kali ini. Setidaknya." tatapannya kembali mengisi ketakutan dalam jiwaku. "Saat mati nanti, bilang pada Hitogami, Dewa Naga Orsted akan membunuhnya."

Dan dengan itu, jantungku hancur.

[BMG The Hu – Sugaan Essena memudar]

Kesadaranku semakin memudar. Lidahku kaku. Tulangku hancur. Paru-paru dan jantungku sudah tak berbentuk. Orsted menurunkan tubuh tak berdayaku dengan perlahan.

Huh, bahkan sihir terkuat yang pernah kulepaskan tidak meninggalkan bekas apapun. Bahkan setelah diserang oleh kami bertiga, dia sama sekali tidak bergeming satu senti pun dari posisinya. Dewa Naga kah? Orang terkuat kedua di dunia. Pada akhirnya semuanya sedikit jadi lebih masuk akal.

Tepat sebelum kesadaranku menghilang, begitu pula nyawaku, tatapnku dan Eris bertemu. Nona Muda ini telah terbangun dari tidurnya.

"Rudeus. Rudeus? Rudeus!"

Wajahnya yang penuh darah memucat. Sedetik kemudian dia meraihku. Kepalaku kini sudah ada di pangkuannya. Rasa asin air mata yang perlahan turun dari pipinya dan jatuh tanpa sengaja ke bibirku terasa..., menyakitkan.

"Tidak, tidak, tidak..., Rudeus!" tangannya terasa hangat memenuhi pipiku.

"Apakah dia orang yang berharga bagimu? Maafkan aku, Eris Boreas Greyrat." suara itu tetap terdengar menakutkan, bahkan jika kau bisa merasakan setetes empati di dalamnya.

Untuk sesaat tubuh Eris mengeras. Tangisannya terhenti. Matanya menggelap. Napasnya melambat. Dia mengangkat pandangannya, tepat ke arah monster yang baru saja melumpuhkan serangannya bahkan tanpa usaha sedikitpun. Emosi yang terasa begitu sakit terpancar dari tubuhnya. Dengan nada yang paling rendah yang pernah ia gunakan, perlahan ia bersuara.

"Akan kuhempaskan segala jenis penderitaan dari langit. Akan kuberikan segala jenis kesengsaran. Kepadamu." tatapannya tajam, menusuk bagaikan belati. "akan kuseret tubuh matimu ke seluruh penjuru neraka."

"AKAN KUCINCANG JIWAMU DAN KULEMPARKAN KE MAKHLUK PALING MENJIJIKAN YANG PERNAH HIDUP! KUJANJIKAN ITU PADAMU!"

"Kau akan mengerti suatu saat nanti, Eris Boreas."

"KAU MEREBUT SEGALANYA DARIKU!" air mata kembali mengalir dari pipinya. "..., segalanya." dia kembali memelukku dengan sekuat tenaga.

"Ayo pergi, Nanahoshi."

Dengan pasti dia menjauh, berjalan mendahului wanita bertopeng yang dari tadi hanya menatap kehancuran kami. "A, ayo."

"Rudeus, jangan mati!"

Dengan putus asa Eris menempatkan tangannya di dadaku. Air mata masih mengalir di pipinya. "Jyi'hanga- umm, hahuwy o' ujga 'erehunjy sohpe 'npa, 'un hahuwy'inn.., aaahhh... hahuwy cere ... mo'tum pfawaga, Xohp!" [5] dia mencoba merapalkan sihir penyembuhan. Baru kali ini aku melihatnya benar-benar fokus merapalkan sebuah mantra sihir. Mantra sihir, yang tentu saja tak benar dan tak berguna mengingat dia bahkan tidak pernah belajar mantra penyembuhan.

Kesadaranku hilang sepenuhnya.

"Ayo, ayolah, fokus Eris, fokuskan sihirmu! Rudeus, kau tidak boleh mati di sini!"

Teror masih memenuhi tubuhku bahkan saat detik-detik terakhir kehidupanku.

"Rudeus, jangan berani kau mati di sini! Rudeus!"

Aku sungguh tak berguna.

.

"Hei Orsted, ada satu hal yang menggangguku, tapi..., bukankah lebih baik kau biarkan anak ini hidup?"

.

[1] Aliran Arus

[2] Sihir Penyembuhan!

[3] Gerbang Naga Pertama.

[4] Sihir Pengganggu.

[5] Jadikanlah- umm, kekuatan suci ini sebagai pemuas jiwa, berikanlah..., aaaahhh, mereka yang tak ... berdaya kekuatan, Sihir Penyembuhan!

.

.

Pertama, saya tahu. Rudeus tahu kalo nama si monster itu Orsted sebelum mereka diancurin sama doi. Cuma entah kenapa saya mikirnya kalo Rudeus lupa nama doi bakalan bikin doi lebih nakutin. Dan bicara soal nakutin, bayangin Orsted itu kaya Vader di Jedi Fallen Order. Manifesto kehancuran, dan ga bisa dilawan cuma bisa lari. Sayangnya Rudeus ga seberuntung Cal.

Kedua, nulis adegan gelud sama sekali bukan keahlian saya. Maaf kalo jelek. Mohon kasih tau saya bagian mana yang terlalu didetail, kurang detail, bertele-tele, bikin bingung, atau ga masuk akal.

Ketiga, cerita ini sebenernya cuma kefrustrasian saya sama MT post Volume 6. Jadi banyak hal yang bakalan saya bikin berbanding terbalik sama novelnya. Saya pengin ngembangin Eris setara sama Rudeus, bukan cuma boneka seks-nya Rudeus. Contohnya kaya kutukan Eris ke Orsted. Dia ga minta tolong sama orang lain, dia janji bakalan balas dendam sama Orsted, bahkan sampe ngerapal mantra yang sama sekali ga pernah dia pelajari.

Terakhir, terimakasih udah mampir!

.

.

.

.

Moga Untung Luganda, out.