A/N: Sebenarnya aku udah pernah publish ini di AO3 sebagai hadiah ultah untuk Gavin. Sekarang mau nyoba di sini. Semoga suka~
Mr Love Queen Choice
Disclaimer: Elex PaperGames
Story by Cacao TheDarkWitchfromNoir
Gavin menatap gadis kesayangannya yang kini memejamkan matanya dengan raut damai di pelukannya.
Ah… andaikan gadis itu tahu perasaannya. Andaikan situasi saat ini tidak memaksanya untuk bertahan demi sang gadis.
Masih terngiang di dalam memori Gavin saat (Name) menggigil ketakutan karena mimpi buruknya.
Gadis itu bermimpi, membunuh Gavin dengan tangannya sendiri.
Konyol? Sangat.
Tapi Gavin juga tidak bisa mengabaikan mimpi (Name) begitu saja. Jangan lupakan evol sang gadis yang bisa membuatnya melihat masa depan lewat mimpinya. Serta eksistensi 'orang lain' di dalam diri (Name).
Gavin memilih diam, tersenyum dan mengatakan bahwa (Name) hanya kelelahan dan butuh waktu untuk beristirahat.
Dan disinilah Gavin sekarang. Memeluk (Name) agar ia bisa tidur dan melupakan mimpinya sejenak.
"Kalaupun pada akhirnya aku memang harus mati, aku tidak keberatan jika itu ditanganmu sekalipun." Gavin berbisik pelan setelah memastikan (Name) sudah terlelap dalam tidurnya sebelum akhirnya mengecup kening sang gadis penuh kasih sayang.
*
(Name) selalu berharap jika ia mendapat mimpi buruk, ia tidak akan mengalaminya dalam kenyataannya.
Namun sungguh takdir lebih kejam untuk gadis yang menjabat produser Miracle Finder tersebut. Pagi ini dia mendapat surat ancaman yang berisi bahwa kantornya telah dipasang bom. Ia dilarang untuk melapor ke polisi. Jika ia melakukan itu, sang pelaku akan meledakkan bomnya.
Tuntutan dari si pelaku membuat jantung (Name) nyaris berhenti berdetak.
Ia harus membunuh Gavin.
(Name) harus memilih. Apakah ia harus menyelamatkan rekan-rekan kerjanya dan membunuh Gavin atau dia mengorbankan mereka demi polisi yang telah membuatnya jatuh hati itu.
Apapun yang (Name) pilih, tentunya akan membuat gadis itu merasa kehilangan.
"Bos, Kau baik-baik saja?" Kiki menepuk bahu (Name) pelan membuat (Name) terlonjak kaget.
"I-iya, aku baik-baik saja…." (Name) memaksakan tersenyum sebelum berjalan keluar ruangan. Ia harus segera membuat keputusan, atau ia akan kehilangan keduanya.
Dan saat itulah Gavin tiba-tiba muncul di hadapan (Name).
"Ada apa? Asistenmu meneleponku, mengatakan sikapmu aneh sejak tadi pagi."
(Name) menatap Gavin. Betapa dia menyayangi sosok di depannya ini. Betapa dia selalu melindungi dan ada untuk (Name), kenapa ada orang jahat yang ingin membunuh Gavin? Dan kenapa harus (Name) yang melakukannya?
Gavin kembali menyadari ada yang tidak beres ketika perlahan air mata (Name) menetes. Badannya bergetar hebat seolah dia sangat frustasi dan ketakutan. Polisi itu mendekap (Name) dan mengelus punggungnya menenangkan. Ada sesuatu yang terjadi pada (Name), Gavin tahu itu. Karena itu Gavin merasa dia harus segera bertindak.
Entah karena terlalu tegang sejak pagi, atau karena kelelahan, (Name) yang selalu nyaman di pelukan Gavin jatuh tertidur. Gavin mengambil kesempatan itu untuk membopong (Name) kembali ke apartemennya sebelum menjalankan misinya.
Ia harus segera menyelesaikan semuanya sebelum (Name) terbangun.
*
(Name) membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sudah tertidur di kasur apartemennya. Ia terbangun kaget dan menatap ke luar jendela. Hari sudah gelap dan banyak bintang berkelip di atas langit.
"Tunggu, kenapa aku bisa tertidur?!" (Name) panik dan segera mengecek ponselnya. Ada beberapa email dari Anna dan Kiki yang memberikan laporan pekerjaan mereka hari ini.
Tunggu, seingat (Name) dia mendapat surat ancaman pagi ini dan saat bingung, ia bertemu Gavin…
Gavin!
(Name) buru-buru menelepon pemuda yang menjadi anggota kepolisian khusus itu.
'Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan tinggalkan pesan…'
Hati (Name) mencelos. Ini bukan pertama kalinya Gavin tidak bisa dihubungi. Tapi kali ini, (Name) benar-benar mencemaskan lelaki tersebut.
"Gavin…" gumam (Name) pelan.
Seakan menjawab keinginan (Name) angin di sekitarnya berhembus pelan. Detik berikutnya, ia melihat siluet di beranda kamarnya.
(Name) buru-buru membuka pintu berandanya. Dan benar saja, lelaki yang memenuhi pikirannya itu kini berdiri di hadapannya. Menatap gadis itu hangat.
"Apa aku mengganggumu?"
"Gavin!" Tanpa pikir panjang, (Name) langsung memeluk Gavin dengan erat.
'Ini nyata kan? Ini bukan mimpi kan? Gavin benar-benar masih ada kan?' Berbagai pertanyaan melintas di kepala (Name) namun kehangatan Gavin, aroma tubuhnya dan suara detak jantungnya terlalu nyata untuk sebuah halusinasi.
Setelah cukup lama, (Name) melepas pelukannya dan menatap Gavin.
"Gavin, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kau tidak perlu khawatir, semua baik-baik saja." Gavin mengecup dahi (Name) membuat wajah gadis itu sedikit memanas.
Tak lama kemudian, ponsel Gavin bergetar. Lelaki berambut cokelat itu membuka ponselnya yang ternyata mendapat pesan singkat dari Minor.
'Gavin, Bro!! Kau dimana?! Aku baru pergi keluar sebentar dan kau menghilang dari ruang perawatan rumah sakit?! Kau sedang terluka dan butuh perawatan, astaga….'
Gavin buru-buru kembali menutup ponselnya. Ia sedang tidak ada mood untuk meladeni ocehan Minor. Tapi yang lebih penting, dia tidak ingin gadis di depannya tahu jika ia baru saja nyaris melewati batas garis kematian demi menyelamatkan perusahaan kesayangan (Name).
"Gavin…"
Suara lirih (Name) membuat manik madu milik Gavin tertuju pada sang gadis.
"Terima kasih." Lanjut (Name) sambil tersenyum hangat.
Ah… betapa Gavin menyukai senyum itu. Senyum yang bahkan rela dia tebus dengan nyawanya sendiri.
Fin
