Be The Light
.
.
Chapter 1 : Masalah
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Main Chara : Naruto, Kiba, Gaara, Shikamaru
.
.
Osaka, 2020
Semburat sinar matahari sore menelusup lewat celah jendela yang tak tertutupi tirai. Cahaya lurus itu membentuk garis pada kardus-kardus yang bertumpuk tak teratur di atas lantai marmer yang berdebu. Ruangan tampak luas, tembok bercat putih polos dan masih belum banyak renovasi. Gumam-gumam suara terdengar jauh, dan satu-satunya yang melangkah masuk adalah bocah pirang kecil. Dia terengah, menenteng mainan mobilnya yang tampak mengkilap.
"Ayah, dimana mainan robotku."
"Ayah tidak tahu, mungkin masih di dalam salah satu kardus."
Bocah 9 tahun itu menatap satu persatu kardus di hadapannya, dan mengernyit bingung. "Yang mana Yah?"
"Tunggu sebentar, ayah masih harus mengangkat satu kardus lagi." Suara sang ayah makin menjauh menuju pelataran rumah baru itu, dimana mobil yang membawa perlengkapan rumah masih terparkir disana.
Bocah itu mendengus, berjalan mendekat ke salah satu kardus yang sedikit terbuka. Sembari berharap apa yang ia cari ada disana, tangannya mulai menelusup ke dalam kardus. Alih-alih mainan robot yang ia dapatkan, tangannya malah mendarat di salah satu album kenangan yang sudah tampak lusuh. Sampulnya berwarna biru buram, tulisan dari tinta emas mulai terkelupas. Dan meski tak terlintas rasa penasaran sedikitpun di otaknya, ia tetap mengeluarkan album itu. Nyaris bersin ketika tumpukan debu dari sampulnya memercik ke udara.
"Apa yang kau ambil itu?" suara sang ibu terdengar makin mendekat.
Dan belum sempat ia melontarkan jawaban, ayahnya tiba-tiba merebut benda itu.
"Astaga, aku tak ingat memasukkan ini kedalam kardus."
"Aku yang memasukkannya, ku pikir itu penting buatmu." Sang istri menutup hidungnya, benci dengan debu yang berputar-putar pada udara di sekitar.
"Aku sudah lama mencari ini dan tak menemukannya. Di mana kau dapatkan ini?" mata sewarna langit musim seminya menatap lekat ke arah sang istri, sebelum kembali memperhatikan sampul album usang yang dulu pernah baru itu.
Sang istri mendecak, nyaris kebal dengan sikap pelupa sang suami. "Kau meletakkannya di atas rak buku, jangan bilang kau lupa."
Pria pirang itu tergelak, antara gemas melihat ekspresi istrinya juga heran dengan dirinya sendiri yang mudah lupa. "Yeah, aku memang lupa telah meletakkannya disana." ketika tawanya berangsur menghilang, tangannya mulai membuka sampul album. Sepenuhnya mengabaikan debu yang mengotori udara di sekitar. Segala bentuk emosi bercampur dalam hati, dan otaknya mulai memproses kenangan lama yang sedikit mengabur kala halaman pertama dari sampul itu menunjukkan foto ia dan ketiga temannya. Ini diambil belasan tahun lalu, ketika ia masih duduk di kelas 11. Masih muda, nakal, naif, dan yeah seperti pemuda kebanyakan, mudah dikuasai emosi negatif.
Si rambut coklat dalam foto itu menunjukkan kepalan tangannya, senyum percaya dirinya begitu lebar. Si rambut merah tersenyum datar, si rambut hitam tersenyum setengah ikhlas, sementara dirinya merangkul bocah berambut coklat dan mengacungkan jempol ke arah kamera. Di depan mereka terhampar banyak sekali makanan, dan ia yakin itu adalah sebuah perayaan ulang tahun, tapi entah ulang tahun siapa.
Kenangan-kenangan lain saling menyambung dalam memori, bermunculann bagai benih tanaman yang mulai tumbuh. Terasa begitu dekat, sekaligus jauh dari hari ini. Bagaimana kabar teman-temannya sekarang? Apakah mereka sudah sukses sesuai dengan yang mereka cita-citakan dulu? Memikirkan hal itu membuatnya mendadak rindu dengan segala tingkah random yang pernah mereka lakukan. Andai saat itu bisa diputar kembali.
Ya... andai...
.
.
Tokyo, 2004
Hujan masih menyisakan rintik gerimis di luar kamar kos milik Naruto. Udara dingin berhembus masuk lewat jendela yang terbuka, menerpa pelan kulit para remaja yang sibuk menonton pertandingan bola di TV. Tak ada satu pun diantara mereka sadar mengenai suara berisik yang mereka timbulkan, hingga seorang lelaki setengah baya yang tinggal disebelah menggedor pintu sembari berujar, "berhenti berteriak, bocah sialan!"
Mereka terdiam sesaat, sebelum saling pandang dan tertawa pelan. Tak merasa cukup terintimidasi dengan teguran itu.
"Darah tingginya mungkin kambuh, atau dia sedang sakit gigi. Intinya orang itu memang hobi marah-marah." Kiba meraih keripik kentang di meja, melahapnya, tak peduli jika remahan keripik itu berjatuhan di lantai.
"Yeah, dia memang pemarah." Mata Naruto tetap fokus ke layar TV, sepenuhnya mengabaikan tatapan Gaara yang sesekali mengarah ke pintu keluar.
"Shikamaru kemana sih? Dia kan sudah bilang bakal ikut nonton bareng." Sedikit cemas, pandangannya beralih pada layar TV dan sesekali menatap ke arah jendela. "Kalau gerimisnya benar-benar reda, aku mau pulang."
"Kau bercanda? Ini masih pukul 4 sore, orang tuamu tidak akan mencarimu." Naruto mengernyit, kadang-kadang ia pikir sikap patuh pada aturan yang Gaara anut terlalu dilebih-lebihkan.
"Tapi ayahku pulang kerja sekitar pukul 5, aku harus sudah di rumah saat dia datang."
Kiba memutar bola mata. Dia samar-samar bisa merasakan apa yang dirasakan si rambut merah, karena jauh di masa lalu ia tak asing dengan duduk tenang di ruang makan saat ayahnya pulang kerja. Meski sekarang hal-hal semacam itu tidak lagi ada dalam aturan hidupnya, sebab ayahnya yang super sibuk itu mana peduli untuk sekedar tahu dia sudah makan apa belum. "Kau tidak menunggu sampai pertandingan selesai?"
"Tidak, nanti ibu bakal marah."
"Ibumu mana pernah marah padamu, kau kan anak kesayangannya," Naruto menatap lekat pemain favoritnya dengan nomor punggung 11 yang berlari menggiring bola dan mematahkan pertahanan lawan, dia ingin bersorak, namun yang terlontar dari mulutnya malah "anak kesayangannya yang tampan."
Kiba tergelak, dan bersorak setelahnya. Tim jagoannya mencetak skor. Dia tersedak, tenggorokannya sakit. Namun semangat untuk meloloskan sorakan masih belum surut. Bahkan Naruto maupun Gaara yang semula kaget, kini ikut bersorak bersamanya. Tak peduli jika tetangga pemarah itu bakal menggebrak pintu dan memukul pipi mereka satu persatu.
Belum tuntas sorakan itu, pintu benar-benar dibuka dari luar. Ketiganya mematung, diam seketika, nyaris mengira fantasi mereka mengenai tetangga sebelah yang murka benar-benar terealisasikan. Tapi yang muncul adalah Shikamaru. Tampak tidak dalam keadaan baik. Kemeja dan jeans yang dikenakannya kusut, rambut basahnya meneteskan air ke lantai, dan ekspresinya kacau.
"Kau kenapa?" Gaara menghentikan keheningan itu, menghela napas lega, sebab bukan tetangga menjengkelkan itu yang masuk dan mengganggu mereka.
"Hei Bro, kena marah ibumu ya?" Kiba setengah tertawa saat mengucapkannya, dalam bayangannya Shikamaru tengah kabur dari ceramah panjang kali lebar sang ibu yang tak mengijinkannya keluar rumah.
Pemuda Nara itu menggeleng pelan, tanpa suara, dan meskipun dia berusaha mengumpulkan suara untuk bicara, tak ada yang keluar dari tenggorokannya.
"Kau kenapa sih, Shika?" Naruto mengernyit, merasakan sensasi masalah serius yang merambat dari udara ke kulitnya. "Putus dengan Temari?"
"Bukan."
"Katakan yang sebenarnya, dong. Jangan membuat kami tegang." Kiba bahkan lupa, betapa serunya pertandingan yang baru saja ia soraki itu.
Napas Shikamaru memberat, dadanya seolah ditekan dengan batu besar dan membuatnya sulit untuk bernapas. Tenggorokannya sakit, dia ingin berteriak disana, memberi tahu teman-temannya bahwa dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Alih-alih teriakan, malah gumaman menyerupai bisikan yang terlontar. "Temari hamil."
"Apa?" ketiganya nyaris mengatakannya secara bersamaan.
"Temari hamil anakku."
Tak ada yang ingin mereka katakan. Ketiganya diam dengan pikiran masing-masing. Berusaha memahami fakta yang baru saja mereka dengar, serta berharap itu hanya bualan untuk membuat lelucon, bahwa Shikamaru berusaha mengerjai mereka dengan bakat aktingnya yang luar biasa memukau.
"Jangan konyol, kau pasti bercanda." Kiba yang pertama kali memecah keheningan, tawanya sedikit dipaksakan dan ia berharap Gaara serta Naruto ikut tertawa bersamanya. Namun melihat betapa seriusnya ekspresi Shikamaru dan kedua temannya, ia sadar, itu bukan sekedar lelucon.
Gaara menghela napas, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia benar-benar tak percaya jika pemuda malas seperti Shikamaru ternyata memiliki gairah di atas rata-rata. Apa yang dipikirkannya saat melakukan hal terlarang itu? apa otaknya yang jenius luar biasa itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya ketika hal itu terjadi? Harusnya Shikamaru mampu memakai otaknya yang cemerlang itu untuk menimbang betapa mengerikan dampak yang akan dia timbulkan.
"Ya Tuhan..." Naruto mengerling ke arah TV, dan tak tertarik lagi dengan pertandingan yang tengah terputar. "Apa sih yang kau pikirkan?"
"Kau sudah memberi tahu orang tuamu?" Sabaku terlihat paling tenang menghadapi situasi itu, dan sepenuhnya mengabaikan ekspresi enggan Kiba serta ekspresi tak percaya Naruto.
"Tidak berani."
"Tapi kau harus memberi tahunya." Bocah pirang itu terkejut dengan nada suaranya sendiri yang membentak, sungguh dia tak bermaksud begitu.
"Bedebah, brengsek, sialan." Kiba mengumpat, berdiri dari posisi duduknya yang nyaman. "Selesaikan saja sendiri, kau bahkan melakukannya tanpa berpikir panjang dan sekarang ketika masalah itu menderamu kau malah datang kemari." Tatapan matanya nyalang, dan sepanjang yang Naruto tahu, mulut Kiba memang terbiasa dengan ucapan kotor serta sarkastik. Dia bisa maklum dengan kemarahan bocah Inuzuka itu, ia tak kalah terkejutnya dan merasa kesal mendadak. Tapi dia pikir sikap Kiba pun tak terlihat bijak.
"Bukan begitu, aku—"
"Apa? Kau apa?" Kiba membentak. "Sudah sejak lama orang tuamu tak menyukai kami, terlebih aku, dan menyuruhmu untuk menjauhi kami. Jadi dengan adanya berita kau menghamili Temari, lengkap sudah nama kami tercemar." Suara beratnya menggema di sudut-sudut ruangan, tetangga sebelah mereka pasti mendengar percakapan keras itu. "Bagus, kau menyempurnakan cap kami yang awalnya sudah cacat."
Ibu Shikamaru memang tak suka sejak awal jika putranya bergaul dengan mereka, terlebih Kiba. Si anggota klub karate yang sering sekali membuat onar. Tapi sebenarnya Kiba melakukan itu bukan tanpa alasan, lawan-lawannya saja yang suka cari masalah. Dan emosi Kiba yang mudah tersulut, menambah runyam segalanya.
"Sudah, Kib, sudah." Gaara berdiri, menahan lengan Kiba yang hendak mendekat ke arah Shikamaru. Mungkin Inuzuka ingin melontarkan kalimat yang lebih kejam lagi, atau bahkan memberikan pukulan, yang jelas tindakan Kiba kelihatannya tidak menuju ke hal-hal baik.
Bocah berambut coklat itu mendengus, rahangnya mengeras menahan amarah. Dan detik berikutnya dia sudah meninggalkan kamar kos Naruto, menuju kamar kosnya sendiri. Suara debaman pintu di kamar sebelah terdengar keras. Tembok rasanya sedikit bergetar karenanya.
"Sekarang temui orang tuamu, jelaskan pada mereka apa yang terjadi. Bahwa itu kesalahan dan kau siap untuk tanggung jawab." Gaara bingung harus mengambil tindakan apa, dia lupa jika jarum panjang jam sudah lewat angka 12, dan ia hanya memiliki beberapa menit lagi untuk sampai rumah tepat waktu sebelum ayahnya pulang.
"Tapi... aku," kepalanya menunduk. Rasa malu, takut, marah pada diri sendiri bercampur aduk dalam dadanya, "aku tidak berani."
"Kau tidak berani?" Uzumaki muda itu miris, kata-kata 'tidak berani' berputar-putar dalam benaknya. "Kau tidak berani? Betapa lucu kalimatmu itu. Bagaimana mungkin kau tidak berani bicara pada orang tuamu sementara kau dengan berani menanam benih di rahim seorang gadis." Napasnya mulai tak teratur, ia nyaris kehilangan akal seperti Kiba. "Sekarang pulanglah, katakan pada orang tuamu. Aku yakin mereka akan membantumu. Mereka akan mencarikanmu jalan keluar."
Naruto tidak paham. Shikamaru bingung harus bagaimana, dia berharap bakal dapat penghiburan, atau paling tidak kalimat menyemangati seperti yang biasa Kiba lontarkan. Air matanya turun, dan satu-satunya hal yang ingin dilakukannya adalah menangis di lantai kamar kos Naruto. "Aku bingung, tidakkah kau paham. Aku takut dan bingung. Dan aku baru menyadari keasalahanku sekarang."
Ruangan hening, detik-detik akhir pertandingan bola tengah dimulai, namun tak satu pun dari mereka cukup peduli. Dan ditengah sesenggukannya, tangan pucat Gaara terulur, menepuk pundaknya pelan, sebelum memberikan pelukan menenangkan.
"Aku tahu kau bingung. Tapi Shika, kau harus memberi tahu orang tuamu." Dia menghela napas. "Ini memang tidak mudah, tapi kau tahu kan setiap tindakan yang kita lakukan pasti menimbulkan konsekuensi. Harusnya kau bijak dari awal, tapi apa daya jika semua sudah terlanjur. Dan sekarang saatnya memperbaiki semuanya."
Isakan pemuda Nara itu belum sepenuhnya mereda. Namun, sepertinya dia tampak lebih tenang. Mungkin Gaara kadang jadi yang paling penakut, tapi seringnya dia jadi yang paling bijak diantara teman-temannya yang lain. kali ini bocah Sabaku itu benar, segala tindakan membawa konsekuensi. Tapi apa ia mampu menanggung konsekuensi dari tindakannya ini?
Naruto mengalihkan tatapan pada tetes-tetes gerimis di luar, puncak pohon maple yang jauh tampak dalam penglihatannya. Dan ketimbang ikut menenangkan, dia justru menikmati sensasi amarah yang merambat di pembuluh darahnya. Fakta hari ini tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Aku akan pulang sekarang, Naruto. Kurasa Shikamaru butuh teman untuk perjalanan ke rumahnya." Gaara jelas tahu, dia tidak akan pulang tepat waktu. Kemungkinan itu akan membangkitkan kemarahan sang ayah. Tapi kali ini, Shikamaru sepertinya lebih butuh bantuan.
Tak ada sahutan dari si bocah pirang, dia bahkan mengalihkan pandangan ketika dua pemuda itu meninggalkan kamar kosnya. Dalam pikirannya yang masih begitu muda, ada kengerian yang mencekam. Mereka masih menginjak 17 tahun, dan ia tak bisa membayangkan Shikamaru bakal jadi ayah di usia semuda itu.
Apakah ini nyata?
Dari jendela lantai dua kamar kosnya, ia tak berhenti memikirkan hal itu. ia pikir betapa beruntungnya Shikamaru yang biasa-biasa saja itu memiliki pacar lebih cepat dari mereka bertiga. Namun ternyata hal itu membuahkan sesuatu yang lebih hina. Dan sesuatu yang awalnya ia anggap keren itu mendadak membuatnya bergidik.
tbc
.
Sorry Shikamarunya agak ooc.
Disini kisah friendship-familynya bakal lebih kental daripada romance nya.
Oke, thanks buat yang udah mau baca.
.
~ Lin
15 Juli 2020
