Be the Light
.
.
Chapter 2 : Renggang
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Main Chara : Naruto, Kiba, Gaara, Shikamaru
.
.
"Anak sialan!" Bentakan Tuan Nara menyenyapkan suasana. "Kau tidak apa-apa merusak dirimu sendiri, tapi jangan melibatkan seorang gadis." Kekecewaan yang besarnya tak bisa dideskripsikan melayang-layang di kubangan matanya. Sementara itu, istrinya tak kuasa menahan tangis di sebelah putra 17 tahun mereka.
Shikamaru menunduk, dia tahu jika konsekuensinya bakal begini. Dia sudah menduga sejak awal tentang amarah ayahnya, dan memang semua ini tak bisa dimaklumi lagi. Apa daya, semua sudah terlanjur. Ia paham, selain karena malu atas tindakannya ini, kekecewaan sang ayah lebih karena ia mempercayakan harapan masa depan padanya. Ayahnya ingin ia menjadi dokter, dan jika Shikamaru mau bertanggung jawab atas anak yang dikandung Temari, artinya dia akan disibukkan dengan peran sebagai seorang ayah. Akan sulit menjalani dua peran sebagai kepala keluarga sekaligus mahasiswa.
"Suruh gadis itu menggugurkan bayinya." Tuan Nara berkata tegas, seolah perintahnya tak boleh dilanggar.
Keterkejutan menghantam benaknya kuat-kuat. Itu tidak mungkin, tidak mungkin ia sanggup menyuruh Temari menggugurkan bayi itu. Meski separuh hatinya tak berharap atas kehadiran seorang anak, tapi ia juga tak bisa melakukan hal keji itu. "Aku, aku tidak bisa Yah."
"Lalu apa? Kau mau menikahinya? Kau mau membangun keluarga dengan usiamu yang masih belasan ini? Mau kau beri makan apa anak dan istrimu nantinya? Mau tinggal dimana kalian?" Kesabarannya habis total, tak ada lagi yang ingin ia lakukan selain menuntaskan segala amukan yang meletup-letup dalam dadanya.
Air matanya meleleh, Shikamaru berusaha menguatkan hatinya. Dan kendati nyalinya ciut melihat lototan mata sang ayah, ia merasa harus mengambil tindakan yang lebih pantas. "Aku akan bertanggung jawab." Isak ibunya makin jelas, dan ini nyaris membuatnya goyah. Ia adalah satu-satunya anak yang dimiliki orang tuanya. Dari kecil, segala beban untuk sukses selalu diselipkan orang tuanya dalam tiap nasehat. Harus rajin belajar, harus bisa ini itu, nilai harus bagus, harus jadi murid teladan, tidak boleh membangkang, tidak boleh pulang telat tanpa mengabari dan lain-lain, yang rasanya mirip dengan menjalani hidup sebagai boneka dengan orang tuanya sebagai penentu segalanya.
"Kau, kau apa?"
"Aku akan bertanggung jawab." Ia berusaha mengatakannya tanpa gentar, alih-alih terdengar sedikit tak yakin dengan pilihannya. Air matanya kembali turun, namun Shikamaru mati-matian menelan segala keinginan untuk berteriak.
"Kalau kau memilih bertanggung jawab, jangan injakkan kakimu lagi disini." Ucapan itu pelan, namun nada sadis terselip jelas dalam tiap rangkaian katanya.
"Shikaku!" Nyonya Nara berteriak, berpikir bahwa keputusan suaminya terlalu berlebihan. "Kita bisa cari jalan keluar lain."
"Tidak, dia lebih ingin manjadi miskin di luar sana ketimbang peduli dengan masa depannya." Giginya bergemeretuk selagi putranya menatap sang ibu sekilas sebelum melangkah ke arah kamar.
"Tidak, Shikamaru kau tetap di rumah. Kau tetap boleh tinggal dengan kami, jangan hiraukan ayahmu." Wanita itu berusaha mengejar putranya ke arah kamar, namun sang suami mencegahnya.
"Biarkan dia pergi, untuk apa mempertahankan anak seperti dia di rumah ini."
Tak seorang pun tahu, di balik pintu kamarnya Shikamaru menumpahkan segala tangis yang sedari tadi ia pendam. Sembari meringkasi baju dan beberapa perlengkapan dalam koper, ia bertekad bulat meninggalkan rumah ini. Tapi tunggu sebentar, kemana ia akan pergi? Dimana ia akan tinggal setelah ini?
.
.
Dengan koper yang ia seret sepanjang perjalanan melewati trotoar, Shikamaru bingung harus pergi kemana. Ia tak punya tujuan, sekaligus tak memiliki uang kecuali recehan sisa uang saku tadi pagi. Perutnya lapar, namun itu bukanlah yang terburuk. Bayangan akan jadi gelandangan seperti yang diucapkan sang ayah berdengung di kepalanya. Ini memang sinting, tapi ia seolah tak memiliki pilihan lain selain bertanggung jawab dan menyusun rencana untuk kedepannya. Entah segalanya akan berakhir bagaimana, namun melihat reaksi teman-teman dekatnya yang tak memberinya dukungan diam-diam membuat hatinya pedih.
Ia memutuskan berhenti di halte ketika merasa kakinya lelah. Dan menatap jalanan dengan putus asa. Pikiran mengenai bagaimana keadaan Temari tiba-tiba membuatnya merasa bersalah. Gadis itu mungkin mengalami hal yang tidak jauh beda dengan dirinya. Tapi mungkinkah Temari juga diusir? Dengan cepat tangannya merogoh saku jaket, mencari kontak ponsel gadisnya demi memastikan segalanya.
"Halo." Tak butuh waktu lama bagi Temari untuk menjawab, dan mendengar nada biasa dari suara feminim itu membuatnya agak lega. "Kenapa malam-malam begini menelfon?"
Shikamaru menghela napas panjang, berusaha menormalkan suaranya. Jangan sampai gadis itu tahu tentang keadaannya sekarang. "Kau baik-baik saja?"
"Uhm, tentu. Kenapa?"
Diam sejenak. Shikamaru menduga jika Temari belum memberi tahu orang tuanya. "Aku cuma mau memastikan. Orang tuamu belum tahu kan soal kehamilanmu?" Hening, tak ada jawaban dari seberang sana. Pemuda Nara ini membayangkan gadis itu sedang menimbang-nimbang akan memberitahunya atau tidak.
"Aku belum berani, mungkin tidak sekarang Shika. Aku benar-benar takut jika mereka marah."
Tentu mereka akan marah. Tapi apa bedanya memberi tahu sekarang atau nanti? Ujung-ujungnya mereka akan tetap kecewa.
"Kau bagaimana?"
Shikamaru menelan ludah, tenggorokannya tercekat. Dan ketika ia hendak memberikan jawaban, suara seseorang muncul menyapanya.
"Bro, mau kemana?"
Lolos sudah segala hal yang ingin ia ceritakan pada Temari, ah barangkali memang ia tak perlu cerita sekarang soal diusir dari rumah, karena sekarang tatapan heran di manik Naruto lebih ingin ia beri penjelasan. "Kita lanjut lain kali ya, aku mau mengurus sesuatu." Setelah jawaban persetujuan dari lawan bicaranya, ia menutup telfon. Kembali memasukkan ponsel putih itu ke dalam saku.
"Kau baik-baik saja?"
Dadanya sesak, ia tak menyangka bocah pirang itu masih sanggup menyapa setelah kejadian sore tadi di kosnya. Menahan keinginan untuk menangis sekali lagi, Shikamaru menyunggingkan senyum sedih. "Aku ingin sekali menjawab 'ya'. Tapi sayangnya tidak, Naruto. Aku tidak baik-baik saja." Ia mengusap mata dengan punggung tangan sementara Naruto duduk di sebelahnya disertai helaan napas pelan. "Ayahku mengusirku."
Percakapan mendadak berhenti disitu, tak ada yang mulai bicara lagi. Dan selagi Shikamaru menangis, Naruto tak tahu apa yang harus dilakukan. Jalanan ramai malam itu, dan hembusan dingin udara membuatnya bergidik pelan. Sepertinya bakal turun hujan lagi setelah ini. Tak tahan lagi melihat teman dekatnya menangis, ia memberanikan diri untuk bicara. "Tinggallah di kosku."
Isakannya masih tersisa ketika ia mendongak untuk melihat kesungguhan di manik Naruto. "Tapi Kiba akan marah, dia benar-benar memusuhiku sekarang."
"Seperti kau tidak kenal dia saja. Kemarahannya hanya sesaat." Naruto membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Shikamaru, ketika tak seorang pun mau mengulurkan bantuan, barangkali ia lebih memilih terjun ke jalanan, membiarkan salah satu mobil yang melaju kencang melindasnya. "Ayo, sebelum turun hujan lagi." Dia nyaris berdiri ketika si pemuda Nara terisak memeluknya, pelukan bersahabat yang benar-benar putus asa.
"Terima kasih Naruto, terima kasih. Aku janji bakal mencari kerja dalam waktu dekat. Aku akan menyewa kos sendiri setelah itu."
Tidak benar-benar tahu apa yang ingin dilakukannya, bocah pirang itu hanya menepuk pundak Shikamaru. Berusaha menenangkan sembari menerka-nerka, pekerjaan apa yang bisa dilakukan Nara muda itu?
.
.
Nyaris pukul sepuluh malam ketika mereka sampai di kos Naruto. Dengan koper sebesar itu menaiki tangga ternyata begitu melelahkan dibanding biasanya. Lorong sepi, tak ada satu pun pintu yang terbuka, beberapa lampu kamar juga sudah mulai padam kecuali kamar milik Kiba. Lama Shikamaru menatap pintu itu, sambil membayangkan Kiba tiba-tiba keluar dari sana dan menatap marah padanya.
Sadar jika sang teman tak mengikutinya, Naruto berdeham. "Dia mungkin pemarah, tapi dia tidak akan tahan untuk marah dalam waktu lama." Katanya sembari memutar kenop pintu.
Pemuda Nara itu menghela napas panjang, kembali berjalan pelan ke arah Naruto. "Menurutmu begitu?"
"Kau tidak percaya padaku? Aku temannya sejak TK. Aku paham bagaimana sifat Kiba." Tangannya mempersilahkan lawan bicaranya masuk duluan.
"Aku belum pernah melihatnya semarah kemarin." Meski sesak di dadanya masih terasa nyata, dia berusaha menyunggingkan senyum. "Menurutmu, apa dia mau bicara lagi denganku?"
"Yeah, kenapa tidak?" Naruto tidak bisa menjamin soal itu, tapi hari ini Shikamaru terlihat hancur total, barangkali lewat kata-kata menjanjikan itu mampu membuatnya sedikit lega.
Yang tidak mereka tahu, diam-diam Kiba berdiri di balik pintu kosnya, sayup-sayup mendengar percakapan dua pemuda tersebut.
.
.
Masih cukup pagi ketika Naruto keluar dari kamar kos untuk membuang sampah. Udara dingin merayap di permukaan kulitnya, membuatnya bergidik pelan. Dalam sekejap rasa dingin itu seolah pudar ketika ia mendapati Kiba berdiri di lorong--entah dari mana dia--dengan tatapan aneh ke arahnya.
"Hai." Pemuda Uzumaki itu menyapa pelan, tak yakin itu cukup untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka. Nyatanya Kiba hanya diam dan menghela napas panjang, seolah tak berminat untuk balik menyapa.
"Dia disini?" Ekspresinya datar, tak bisa diurai satu-persatu, apakah sedang marah, kecewa, jengkel, atau sedih.
"Ya." Kalimat lolos dari bibirnya, dan sampah yang terbungkus plastik di tangannya nyaris jatuh.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa masih sudi menampung dia?"
Naruto mengernyit, ada sedikit kecewa yang timbul dalam dadanya. Betapa kemarahan Kiba membuatnya jadi orang sejahat itu. "Masih sudi? Masih sudi menampung?" Kali ini dia benar-benar menjatuhkan sampah itu dan berjalan mendekati si lawan bicara, berusaha memelankan suaranya karena khawatir Shikamaru akan mendengar percakapan mereka. "Apa maksudmu masih sudi menampung? Dia teman kita Bro, dia kesusahan. Orang tuanya mengusirnya dan dia tak punya tempat tinggal. Apa kau bahagia melihatnya tidur di jalanan?"
"Itu kan kesalahan dia. Apa kita menyuruh dia menghamili pacarnya? Tidak kan? Kenapa kau sok peduli setelah semua hal yang orang tuanya lakukan pada kita?" Rahang Kiba kaku, tatapannya tajam dan demi apapun Naruto belum pernah melihat sosoknya yang seperti ini.
"Itu orang tuanya bukan dia. Kenapa kau jadi sosok pendendam seperti ini?" Harusnya Naruto tak perlu bertanya begitu. Sebab orang tua Shikamaru sangat tak menyukai Kiba. Mereka selalu mencap Kiba sebagai anak berandalan yang suka berkelahi dan tak bermoral, barangkali karena tampang sangarnya. Padahal pemuda Inuzuka itu tak sebejat itu. "Dia membutuhkan bantuan kita."
Ubun-ubun Kiba memanas, rasanya dia ingin memukul Naruto tepat saat itu juga. Namun segala niat jahat itu hilang ketika sosok Tuan Asuma muncul dari arah tangga.
"Hai anak-anak. Tidak bersiap untuk sekolah?" Sapa pria paruh baya itu dengan rokok yang tersembul diantara giginya.
Ekspresi Kiba masih kaku, namun Naruto berusaha menyunggingkan senyum tipis. "Ah, iya. Ini baru mambuang sampah dan bersiap-siap pergi sekolah. Paman sendiri dari mana pagi-pagi begini?"
"Aku baru saja dari tempat laundry." Tuan Asuma menepuk pundak Kiba, dan tertawa pelan, tak peka dengan ekspresi tak berminat anak itu. "Ya sudah, sana cepat siap-siap. Aku juga harus siap-siap pergi kerja."
"Yosh Paman, semoga harimu menyenangkan."
"Kau juga, belajar yang rajin jangan sibuk pacaran." Katanya sembari berlalu menuju kamar kosnya.
"Aku bahkan tak punya pacar." Naruto bergumam pelan. Dan senyumnya kembali luntur saat sadar jika Tuan Asuma sudah masuk ke kamar kosnya. Bibirnya rasanya kaku dipaksa tersenyum, dan ketika ia mengerling ke arah Kiba, bocah itu tetap sekaku sebelumnya. Ekspresinya tak berubah. "Jika kau masih mengganggap kita teman, kau pastinya tahu apa yang harus kau lakukan."
Namun tak ada jawaban dari pemuda Inuzuka itu. Dan Naruto terlalu enggan untuk berdebat lebih banyak lagi.
.
.
Sekolah tidak semenarik biasanya. Gaara sepenuhnya sadar jika hubungan pertemanan Naruto dan Kiba renggang. Mereka yang biasanya satu bangku kini memisah, entah kenapa Kiba memilih bangku paling belakang dekat Chouji, sementara Naruto sejak pagi lebih tertarik memandang keluar jendela kelas ketimbang memperhatikan penjelasan guru. Jujur, hubungan tak lazim ini membuatnya tak nyaman. Dan Gaara memilih tak menyapa siapapun, sebab baik Naruto maupun Kiba, tak satu pun mau mengajaknya bicara. Tapi yang lebih membuatnya bingung adalah ketidak hadiran Shikamaru di kelas. Pesan yang ia kirim pada si pemuda Nara tak kunjung dibalas, panggilan tak tersambung sejak pagi tadi. Dimana bocah malas itu? Apa dia sudah berhenti sekolah secara mendadak?
"Mau ke kantin bersama?" Suara lembut seorang gadis membuat Gaara tersadar dari lamunan, dan tahu-tahu Conan sudah berdiri di dekat mejanya. "Kau baik-baik saja kan?"
Gaara mendengus pelan. Ia sedang tak berminat untuk pura-pura ramah, dan demi apapun sejujurnya ia sudah sejak lama tak nyaman dengan perhatian Conan yang berlebihan. "Aku tidak lapar, kau duluan saja." Mati-matian ia menggerakkan bibir untuk tersenyum, dan entah itu berhasil atau tidak.
"Tapi kalau tanpamu rasanya nggak enak, mau ku temani disini?"
Sebelum Gaara mengucapkan penolakan, sosok lain muncul dan melibatkan diri dalam percakapan. "Astaga, kau ini apa-apaan sih, kalau dia tidak mau, seharusnya kau tak memaksa."
Dadanya makin sesak melihat ulah dua gadis itu, siapa lagi kalau bukan Mei dan Conan. Satu sekolah tahu kalau mereka naksir Gaara dan selalu berusaha mencari celah untuk mendapatkan perhatian cowok itu. Namun nyatanya, Gaara tak pernah menanggapi mereka.
"Kenapa sih kau selalu muncul di waktu yang tidak tepat?" Conan berkacak pinggang, kedutan kesal muncul di sekitar matanya.
Tak mau terlihat lemah, Mei ikut berkacak pinggang. "Di waktu yang tidak tepat? Apa-apaan itu? Aku kan hanya menolong Gaara dari pemaksaanmu. Lihat saja dia bahkan tak nyaman dengan keberadaanmu."
Pertengkaran mereka bukan hal baru lagi. Kendati seluruh siswa di kelas itu mendadak senyap, dan menyaksikan pertengkaran, hal itu tidak akan berlangsung lama. Karena detik berikutnya mereka akan kembali pada aktivitas awal dan mengabaikan drama kacangan Mei dan Conan.
"Hei kalian, kalau mau bertengkar di lapangan saja sana." Kiba dengan wajah sangarnya membentak keduanya. Dan karena merasa terintimidasi, kedua gadis itu langsung diam, hanya menyaksikan si pemuda Inuzuka yang memasang ekspresi kesal. "Gaara, ikut aku ke kantin."
"Uhm." Sedikit mengabaikan tatapan Naruto, Gaara mulai berdiri dan mengikuti langkah Kiba. Meski tak sepenuhnya nyaman dengan keadaan itu, ada selip syukur dalam dadanya karena berhasil lolos dari Karin serta Mei.
"Lain kali, bilang saja tidak mau. Kau jangan sedikit-sedikit sungkan melontarkan penolakan." Kiba mengerlingnya ketika mereka berjalan bersama di koridor, bagi Gaara tatapan itu sama seperti biasanya, Kiba memang selalu begitu.
"Aku sudah menolak."
"Ck. Kurang tegas, kau itu cowok nggak seharusnya bersikap lempeng begitu." Kiba mengedarkan tatapan ke penjuru kantin ketika mereka sampai, dan merasa makan berdua saja bersama Gaara yang agak pendiam sebenarnya bukan ide bagus. Terkesan dia yang berusaha mencari topik percakapan terus. "Mau pesan apa?"
"Apa sajalah, pokoknya makan."
"Dasar." Inuzuka memutar bola mata, dan pergi untuk memesan makanan.
Ketika menatap punggung sang teman yang kian menjauh, Gaara merasa Kiba cuma pura-pura baik-baik saja. Konyol, kenapa kita semua selalu bersandiwara demi kelihatan tidak sengsara? Apa bagusnya sih itu? Termasuk apa bagusnya ia pura-pura baik di hadapan Conan dan Mei demi supaya tidak dianggap jahat? sejujurnya meski Kiba selalu berusaha menjadi sosok yang hangat untuknya, ada beberapa hal yang kadang tak ingin ia bagi dengan cowok itu. Pada beberapa kesempatan, Naruto seringnya lebih membuatnya nyaman. Apa tidak apa-apa mereka tak mengajak Naruto kali ini? atau mungkin seharusnya ia mengirim pesan saja agar bocah Uzumaki itu ikut bergabung? Astaga kenapa ia jadi bimbang begini?
"Hei, apa sih yang kau lamunkan?"
Cowok Sabaku itu nyaris tersedak ludah sendiri ketika Kiba sudah duduk di sampingnya dengan nampan berisi sepiring takoyaki, tempura, tendon, salad dan dua gelas jus berwarna hijau dan merah muda.
"Ya Tuhan, kau membuat jantungku nyaris lepas."
"Berlebihan sekali sih." Tawanya lolos, meski ada sedikit penekanan yang dipaksakan. "Aku nggak tau apa yang benar-benar kau inginkan, jadi ku pesankan ini saja."
"Uhm, no problem. Thanks."
"Yeah, dan jus stroberi itu untukmu. Kurasa tadi aku bilang jeruk, tapi terlanjur dibuatkan stroberi. Aku tidak tega harus minta ganti."
"Tidak apa-apa. Lidahku tidak alergi stroberi, tenang saja."
Kiba menghela napas panjang, ibu kantin terbiasa ketika ia memesan jus melon dan stroberi, sebab jus yang satu itu adalah favorit Naruto.
.
.
Melihat Gaara dan Kiba yang duduk bersama di kantin dan saling tertawa, Naruto mengurungkan niatnya untuk makan di tempat itu. Suasana hatinya tak terlalu baik, dan kenyataan bahwa dua temannya itu seolah melupakannya membuatnya agak terganggu. Gaara ternyata ada di pihak Kiba, tapi entah bagaimana ia tak terlalu yakin.
Kakinya melangkah pelan di koridor, sepenuhnya mengabaikan lalu-lalang siswa yang saling bicara atau sekedar menyapanya. Ia kehilangan fokus beberapa kali, sekolah jadi sesuatu yang menjengkelkan hari ini.
"Naruto."
Teriakan itu membuatnya berhenti, dan ia mendapati Temari berjalan ke arahnya.
"Aku mencarimu ke kelas tadi, tapi kata Tenten kau pergi ke kantin." Ekspresi cewek itu tak seperti biasanya, ada beban tersendiri yang coba dia tutupi. "Shikamaru nggak masuk ya?"
"Uhm."
"Kenapa?"
Naruto enggan mengatakan jika Shikamaru sedang ingin menyendiri dan terhindar dari apapun mengenai sekolah. "Suasana hatinya mungkin agak buruk, aku tidak yakin."
Temari menunduk, dan langkah mereka memelan seiring jalan menuju taman yang agak sepi. "Apa kau sudah tahu soal dia--maksudku kami, mmm--"
Bocah Uzumaki itu memotong kalimat lawan bicaranya dengan anggukan. "Dia sudah cerita semuanya soal itu."
"Oh."
Keduanya diam, kecanggungan merangsek masuk diantara celah yang tersisa. Temari tampak sedikit ragu untuk kembali bicara, sementara Naruto tak tahu harus mengatakan apa.
"Kami seharusnya tidak seceroboh itu. Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku belum berani bilang ke orang tuaku." Ada genangan air di kubangan matanya. "Dan Shikamaru sekarang tiba-tiba tidak bisa dihubungi, padahal kemarin dia masih sempat menelfon. Aku takut dia tak mau bertanggung jawab."
Kalimat terakhir membuat jantung Naruto seolah melewatkan satu degupan. "Mana mungkin Shikamaru begitu. Tenang saja dia tidak akan lari. Dia pasti mau bertanggung jawab. Tapi untuk sekarang, dia mungkin frustasi setelah diusir dari rumah."
"Dia diusir?" Tenggorokannya tercekat.
Diantara anggukannya, Naruto bisa merasakan darahnya berdesir dalam nadi. Rasa sedih dan jengkel bercampur jadi satu dalam dadanya. "Tenang saja, dia ada di kosku. Kau boleh mampir kesana kalau mau."
Tangis Temari tertahan, dia mengangguk pelan meski masih sedikit menundukkan kepala. "Aku menyesal, aku menyesal." Kali ini ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, terisak pelan. Dan demi apapun, Naruto takut jika seseorang melihatnya dan mengira ia melakukan sesuatu pada gadis itu.
"Shikamaru tidak akan meninggalkanmu, percayalah padaku. Dia hanya belum siap dengan semua ini, nanti aku akan berusaha bicara padanya." Kabar ini jelas belum menyebar. Karena mayoritas gosip yang dibicarakan para murid perempuan hanya sebatas si ini selingkuh dengan si itu, dan si A ternyata mencuri kunci jawaban sehingga nilainya baik. Tak seorangpun membicarakan masalah Shikamaru dan Temari, dan karenanya Naruto mendadak merasa lega.
Ketika hanya tangisan Temari yang menyelimuti keheningan diantara mereka, bel masuk berbunyi. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Naruto begitu bersyukur padahal biasanya ia ingin mengumpat setengah mati. "Kita akan mencari solusinya bersama, Jangan khawatir." Katanya sebelum berpisah untuk menuju kelas masing-masing.
tbc
~Lin
07 Februari 2021
