Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART II
[ Think About You ]
"Oppa... Keluarlah, setidaknya kau harus makan dulu"
"Aku baik - baik saja, Juhyun"
"Oppa..."
"Aku hanya ingin sendiri"
Seorang Bae Juhyun, tidak pernah dihadapkan pada situasi seperti saat ini. Ia terbiasa mendapat perlindungan dari kakak sepupunya sejak mereka kecil, walaupun sekarang ia bisa melindungi diri sendiri, kakaknya selalu menjadi tameng kokoh yang akan menerima serangan pertama kali. Dan apa yang dihadapinya saat ini, adalah sesuatu yang berbeda. Kyuhyun mengunci diri didalam kamar selama seharian penuh. Semua berawal sejak pemuda itu kembali dari pengejarannya yang sukses besar kemarin. Ia berencana akan meminta traktiran pada pemuda itu ke toko eskrim yang baru buka didekat kantor mereka, namun niatannya tersebut langsung terlupakan setelah melihat kondisi Kyuhyun. Kakaknya yang memang memiliki kulit putih cenderung pucat, tampak semakin pucat, seakan nyawanya tidak berada didalam raga. Pandangan pemuda itu tak fokus saat duduk didepan meja kerjanya. Seperti menerawang jauh, kosong dan dingin. Hal itu cukup untuk membuat Juhyun khawatir setengah mati.
Juhyun berinisiatif untuk menghampiri kakaknya itu. Segera saja ia mengambil segelas air dingin, sebelum berjalan kearah yang lebih tua. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua netra pemuda tersebut mengalirkan kristal bening. Ia sangat mengenal sang kakak, Kyuhyun bukanlah orang yang mudah menangis, dan saat pemuda itu menangis, sesuatu yang sangat buruk pasti baru saja terjadi. Ia menutup pintu ruang kantor pemuda tersebut dengan cepat lalu menguncinya, tidak ingin jika sampai ada seorang pun yang melihat dan menjadikan hal ini sebagai bahan gunjingan. Cukup sudah rumor tak masuk akal mengenai kakaknya yang beredar karena para penyidik senior dikantor mereka yang dengki, ia tidak akan memberi mereka celah untuk membuat bahan hinaan baru. Ia pun sedikit terkejut saat Kyuhyun mendorongnya yang berusaha menenangkan pemuda itu dengan pelukan. Nyaris saja Juhyun ikut menangis saat sang kakak berlari dan terduduk disudut ruangan sembari memeluk kedua lututnya, memohon untuk tidak disakiti.
Kakak sepupunya yang ia anggap bagaikan kakaknya sendiri, saat itu tampak sangat rapuh dan ketakutan. Mata itu melihat awas ke sekeliling, sebelum menyembunyikan wajah yang basah dengan air mata itu dibalik kedua lutut. Juhyun mendekat perlahan lalu mendudukkan diri didepan kakaknya itu, menyentuh tangan yang gemetar itu dengan lembut dan mencoba memanggil sang kakak. Namun, ia gagal menahan tangisannya saat Kyuhyun menggeleng keras. Mereka berada diposisi itu cukup lama, hingga akhirnya ia mendengar namanya diucapkan pelan, nyaris seperti bisikan. Melihat wajah sang kakak yang sudah terangkat dengan gurat penyesalan yang kentara, jujur sangat menghancurkan hatinya. Bukan salah kakaknya saat trauma pemuda tersebut tiba - tiba kembali datang. Segera saja ia merengkuh pemuda itu dalam pelukannya, mengatakan agar sang kakak tidak perlu mengkhawatirkannya dan membantu Kyuhyun untuk mengemasi barang. Ia mengantarkan pemuda tersebut pulang.
Kembali ke saat ini. Ia menatap pintu kamar didepannya dengan sendu, sedikit tersentak saat merasakan tepukan dibahunya. "Eomma..."
"Hyunnie, apa yang terjadi pada kakak mu? Hyun-ah tidak keluar dari kamarnya sejak kemarin. Dia belum makan apapun, bagaimana kalau dia sakit?", wanita yang berusia diawal lima puluh itu, bertanya dengan nada pelan. Berusaha agar sang pemilik kamar tidak terganggu dengan kehadirannya.
"Aku juga tidak tahu pasti apa sebabnya, eomma. Kemarin saat dia kembali ke kantor, keadaannya sudah seperti itu"
Juhyun menuntun sang ibu agar menjauh dari kamar kakak sepupunya itu, tidak ingin jika pemuda tersebut merasa terbebani dengan kehadiran banyak orang. Ia dapat melihat raut khawatir diwajah sang ibu. Kedua orangtuanya memang sangat menyayangi Kyuhyun, terlebih pemuda itu sudah menjaganya bagaikan adik sendiri. Setelah bibi Cho meninggal, sekitar enam tahun yang lalu, pemuda itu ikut tinggal bersama keluarganya atas tawaran sang ayah. Ayah dan bibinya yang mengerti tentang kondisi pemuda tersebut, mereka berdua bekerja di lembaga yang sama, Komisi Perlindungan Anak. Bahkan, ayahnya lah yang bersi keras agar Kyuhyun tinggal bersama mereka. Sepertinya, ayahnya berjaga - jaga jika suatu saat trauma kakak sepupunya itu kembali. Seperti saat ini.
"Pergilah hubungi dokter Seohyun. Tanyakan apa yang harus kita lakukan di saat seperti ini" wanita dengan raut keibuan itu, mencengkram lembut kedua lengan putrinya.
"Aku sudah menghubunginya tadi"
Reflek, Juhyun mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang baru saja menanggapi perkataan ibunya. "Appa..."
"Kita hanya perlu memberikan dia ruang dan waktu untuk menenangkan diri, saat dia sudah siap, biarkan dia datang pada kita. Saat ini, jangan paksa dia untuk keluar", pria dengan gurat tegas diwajahnya itu, mengerutkan kening. Kekhawatiran juga tampak diparasnya, namun pria tersebut mencoba untuk tidak memperlihatkannya.
"Baiklah, appa... Aku akan menghubungi Ryeowook oppa dulu. Aku ingin bertanya, apa yang sebenarnya terjadi kemarin"
Pasangan suami istri itu saling berpandangan saat anak perempuan mereka pergi, keduanya menyadari gurat panik diwajah Juhyun. Tuan Bae menghela nafas pelan, sebelum berjalan kearah pintu kamar Kyuhyun. Pemuda itu sudah bagaikan anak untuk ia dan istrinya, serta sudah seperti figur kakak laki - laki untuk putri mereka satu - satunya. Mengetuk perlahan pintu didepannya, ia dapat mendengar suara kaki menapak mendekat. Namun pintu tersebut tetap tidak terbuka.
"Kyuhyun, paman dan bibi tidak akan memaksa mu. Tapi, setidaknya kirimi adik mu pesan, dia mengkhawatirkan mu. Dan, keluarlah jika kau sudah merasa lebih baik"
"Hyun-ah, bibi akan menyimpan makan malam mu di lemari dapur. Jangan lupa untuk makan, nak. Bibi tidak mau kau sakit"
"Terimakasih paman, bibi... Maafkan aku...", suara itu terdengar pelan dari balik pintu, namun cukup keras untuk ditangkap pendengaran pasangan suami istri tersebut.
"Tidak perlu meminta maaf, nak. Walaupun kau anak angkat kakak ku, kau sudah seperti kakak untuk Juhyunnie. Itu artinya kau juga anak kami, Kyuhyun"
"Kami ada dikamar kalau kau mencari kami, Hyun-ah. Oh, dan jangan memaksakan diri untuk bekerja besok, Hyunnie sudah memasukkan izin mu selama tiga hari"
"Terimakasih..."
Langkah kaki menjauh menjadi pertanda bahwa ia kembali sendirian saat ini. Kyuhyun kembali bergelung didalam selimut dengan posisi duduk, boneka penguin dalam pelukan, dan sebuah pigura berisi foto seorang wanita, berada dalam genggaman kedua tangannya. Wanita yang menampilkan raut jenaka didalam foto tersebut, sedang menggendong seorang anak laki - laki yang tersenyum lebar dengan mata sembab. Ini foto pertama yang ia dan ibu angkatnya ambil, setelah dua tahun tinggal bersama wanita tersebut. Ia tidak akan pernah lupa, bagaimana dirinya ketakutan saat melihat kamera dan nyaris melarikan diri dari studio foto. Namun, ibu angkatnya dengan cepat menangkap ia dalam gendongan dan memperlihatkan wajah jenaka. Foto itu diambil saat keduanya tidak sadar, walaupun tampak aneh di mata orang lain, tetapi foto ini adalah foto yang paling ia sukai.
"Eomma... Eomma... Apa aku akan baik - baik saja?"
Ibu jarinya mengusap perlahan permukaan kaca dari pigura tersebut. Masih segar diingatannya saat sang paman menghubunginya perihal kabar kematian ibu angkatnya. Saat itu Kyuhyun baru saja mendarat di Seoul, misi di Divisi Intelejensi terkadang mengharuskannya untuk pergi ke luar kota. Ia menghubungi ketua divisinya melalui ponsel, otaknya secara tiba - tiba melupakan segala prosedur izin kerja yang seharusnya dan segera mengendarai mobilnya menuju rumah duka. Kyuhyun tidak sering menangis, tetapi saat melihat tubuh ibu angkatnya yang terbaring didalam peti, bulir kristal bening membasahi wajahnya. Ia tidak histeris, namun air mata itu tidak berhenti mengalir bahkan hingga mereka memakamkan wanita tersebut. Semua orang meninggalkannya dipemakaman, ia memeluk batu nisan sang ibu sembari menyenandungkan lagu yang wanita itu suka hingga siang berganti malam. Ibu angkatnya selalu berkata, ia memiliki suara yang indah.
"Eomma, Kyu takut... Hikss... Kyu tidak ingin seperti dulu lagi... Hikss..."
Ia terduduk di sudut ranjangnya, menatap pigura tersebut dengan sendu. Tetes demi tetes air matanya jatuh, membasahi permukaan kaca dari pigura foto tersebut. Kyuhyun merasa gagal, padahal ia sudah berjanji untuk tidak terpuruk lagi karena masa lalunya, padahal selama ini semuanya baik - baik saja, padahal ia lebih dari mampu untuk melindungi dirinya. Lalu kenapa? Kenapa ia menjadi lemah saat netra kelam itu menatap intens padanya? Kenapa ia ketakutan hanya dengan sebuah ciuman? Dan kenapa ia terus memikirkan pria itu? Kyuhyun tidak mau mengakui hal yang terakhir. Ia menepis sesuatu yang menggelitik di sudut hatinya, mengatakan bahwa semenyeramkan apapun pria bermarga Choi itu, dialah tempat paling aman untuk hati serta perasaannya berlabuh. Persetan dengan perasaan tolol ini, ia tidak mau berurusan dengan para elite pemakan bangkai seperti Choi Siwon.
Mengusap pipinya yang basah dengan lengan sweater nya, ia sedikit tersentak saat mendengar ponselnya berbunyi, menandakan panggilan masuk. Benda persegi itu terletak diatas nakas, dan ia terlalu malas untuk bergerak. Kyuhyun segera memerintahkan ponselnya untuk menerima panggilan tersebut melalui voice access assistant. "Halo, Cho Kyuhyun disini"
"Ah, ternyata ini memang benar nomor ponsel mu"
Tubuhnya menegang saat mendengar suara familiar tersebut. Tidak mungkin ia bisa melupakan suara itu, sementara si pemilik terus menggantung dipikirannya. Ia meletakkan pigura digenggamannya ke samping, keluar dari balik selimutnya, lalu duduk dipinggir ranjang. Matanya menatap layar ponsel itu dengan nyalang, nomor yang menghubunginya adalah nomor private.
"Aku hanya ingin menyapa mu. Kenapa pagi tadi kau tidak masuk kerja?", suara itu terdengar berat dan menyesakkan. Kyuhyun meremat kedua tangannya bergantian, rasa takut dan gugup mendominasinya, membuatnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Keringat dingin pun ikut nembasahi telapaknya. "Apa kau masih mendengarkan ku? Oh tentu saja, kau pasti tidak bisa bergerak saat ini. Apa itu trauma mu? Mari berhitung, satu, dua, tiga... Sekitar dua puluh satu tahun yang lalu?"
Ia tercekat, kepalanya terasa berat dan pandangannya seakan berputar. Bagaimana pria itu tahu tentang traumanya? Tidak ada satu pun yang mengetahuinya selain keluarganya, Ryeowook, serta dua orang psikiater yang menanganinya, dokter Seo dan anaknya, dokter Seohyun. Lagi - lagi, Kyuhyun merasa tidak berdaya, tangannya gemetar saat coba ia angkat untuk meraih ponsel, berniat mematikan transmisi satu arah ini. Lalu, ia menyadari sesuatu. Jika pria itu mengetahui tentang traumanya, berarti dia menggali informasi tentangnya, tentang keluarganya. Seketika itu juga, ia merasakan tengkuk hingga punggungnya seperti dialiri air es.
"Sayang, jika kau hanya diam seperti ini, aku terpaksa harus membiarkan teman - teman ku memberi 'sapaan' pada keluarga mu", dengan cepat, ia meraih ponselnya. Menggenggam benda persegi itu dengan tangan yang gemetar hebat. Perkataan Ryeowook kembali terngiang di ingatannya, pria ini berbahaya untuk keluarganya. Dan walaupun ia harus mati, ia tidak akan membiarkan pria ini menyentuh orang - orang yang dicintainya. "Maaf, maksud ku keluarga angkat mu"
"Jangan-"
"Bae Juhyun 25 tahun, anak tunggal dari keluarga Bae. Lalu, kepala keluarga, Bae-"
"Katakan, apa mau mu!"
"Akhirnya~, bagaimana kabar mu, sayang?"
Ia nyaris melempar benda persegi ditangannya itu ke dinding, sebelum memilih untuk meletakkannya diatas ranjang, di hadapannya. Kalimat yang keluar dari mulut pria tersebut, jelas saja adalah sebuah pertanyaan bersifat retoris dengan nada yang sarat akan hinaan. Pria itu tahu dengan keadaannya saat ini dan masih juga bertanya, benar - benar mengesalkan.
"Bajingan..."
"Seperti perkiraan ku, kau pasti baik - baik saja", ada jeda yang cukup lama disana, lalu suara benda cair dituangkan kedalam sebuah wadah kaca, memenuhi speaker ponselnya. "Aku jadi ingin berkenalan dengan keluarga mu"
"Keparat! Matikan transmisi ini sekarang juga dan menjauhlah dari keluarga ku!", nafasnya memburu, ia mengucapkan kalimat tadi dalam satu tarikan nafas.
"Tsk, tsk, tsk. Itu bukan cara yang baik untuk meminta sesuatu. Bagaimana kalau kau menggunakan mulut mu itu untuk meminta dengan sopan? Apa 'mereka' tidak melatih mulut mu juga?"
Seketika, bibirnya terkatup rapat, otaknya bekerja cepat untuk menampik kemungkinan terburuk. Kyuhyun kembali mengambil ponselnya dan segera mematikan transmisi tersebut. Ia masih belum bisa mengolah ketakutannya, ia belum siap jika harus kembali mendengar masa lalunya, dan sangat yakin bisa menjadi gila saat ini juga jika hal itu terjadi. Nomor private itu kembali menghubunginya, namun ia tidak mengangkatnya, lebih tepat jika dikatakan bahwa ia menghiraukannya. Setelah tiga kali diabaikan, panggilan tersebut akhirnya berhenti. Namun, belum sempat bernafas lega, ia mendengar suara tembakan yang diarahkan kerumahnya. Suara kaca dapur yang pecah terdengar jelas, karena ruangan itu terletak tepat dibawah kamarnya. Kyuhyun semakin panik dan segera mengangkat saat nomor private tadi kembali menghubunginya. Pendengarannya seakan kacau, tidak dapat mencerna keributan yang terjadi di lantai satu rumah itu.
"Apakah aku harus ke Jepang untuk membeli mu lewat rumah bordil yang melatih mu?", suara itu berkata dengan nada rendah. Ada geraman tak suka diakhir katanya.
"Berhenti! Kau tidak tahu apapun!"
"Aku sangat ingin memasang rantai pengekang dileher mu, kau sangat manis seperti kucing. Atau... 'Anak Kucing'?"
"Jangan nama itu... Jangan sebut nama itu!"
"Koneko-chan~?"
"DIAM! ARRGH! DIAM! DIAM! A, aku tidak disana! Ak, aku...-"
Kyuhyun menutup kedua telinganya, tanpa sadar menancapkan kuku jemari di sisi kepalanya. Pupilnya melebar, ia dapat merasakan asam lambungnya bergejolak kuat, menimbulkan panas di ulu hati dan bagian belakang kerongkongannya. Tak bisa menahan sensasi tersebut, ia pun mengeluarkan apa yang sedari tadi bergejolak diperutnya pada permukaan lantai kamar. Ia menatap nanar cairan asam tersebut, dadanya naik turun dengan cepat, terasa sesak dan ia mulai kesulitan bernafas. Hiperventilasi, itu yang dialaminya saat ini, pandangannya berkabut dan kepalanya berdentum dengan keras. Suara diseberang sambungan itu, terdengar bagaikan bisikan iblis ditelinganya.
"Apa kau tidak penasaran dengan apa yang ada di leher mu, Koneko-chan? Raba dengan kedua tangan mu, apa kalung leher itu masih disana?"
"Ti, tidak... Tidak!", ia meraba bagian lehernya dengan panik. Mencakar kulit pucat dibagian tersebut saat merasakan sesuatu yang 'familiar' seakan - akan melingkar disana. "TIDAK!", teriaknya histeris.
"Apakah itu mencekik mu? Apa kau bisa merasakan, bahannya yang terbuat dari kulit sintetis itu mencekik mu kuat? Apa kau merasakannya? Bagaimana kalung itu mengetat ditempat yang tepat?"
Menjerit keras, ia lalu menangis tersedu, berusaha keras menyingkirkan rasa tercekik yang semakin menyiksanya. Nafasnya putus - putus, sedangkan ia bisa mendengar ketukan cepat pada pintu. Fokusnya terpecah belah, pikirannya bahkan sudah mengeruh, tidak bisa membedakan yang mana realita dan delusi semata. Kepalanya panas dan seakan - akan bisa meledak kapan saja, memori buruk itu berlalu - lalang dengan cepat, bagaikan menonton potongan - potongan film berisi tragedi dan penyiksaan. Tidak, ia tidak mau kembali kesana, lebih baik ia mati daripada harus kembali kesana.
"Apa kau yakin, yang mencekik mu saat ini adalah apa yang sedang kau bayangkan?", ditengah - tengah dengungan berisik yang memenuhi telinganya, suara milik pria tadi kembali menelusup. Kali ini, nada suaranya sedikit dibumbui dengan kekhawatiran. "Bukankah itu kedua tangan mu sendiri yang sedang membunuh mu?"
Tanpa ia sadari, kedua tangannya memang sedang melingkar kuat dilehernya, mencoba memutus jalan nafasnya. Namun, saat itu ia tidak peduli. Kyuhyun tidak peduli jika harus mati, karena ia terlalu lelah untuk merasakan semua kesakitan ini, menanggungnya sendiri sembari mencoba untuk tetap menjaga kewarasannya. Tidak ada satu orang pun yang dapat bertahan saat ia sedang tenggelam dalam trauma masa lalunya, sekalipun itu keluarganya, mereka akan memilih untuk membiarkan ia sendirian. Mereka berpikir bahwa itu adalah jalan terbaik untuk menanganinya.
"Kyuhyun, dengarkan aku. Kau tidak ada disana. Tidak ada yang perlu kau takutkan...", tentu saja Kyuhyun mendengarkan, suara itu melantun dengan lembut, seperti mencoba menenangkannya. "Kau mendengar ku? Kau tidak terikat dengan rantai pengekang lagi, Letnan Cho"
Ia tersentak mendengar panggilan itu, menyadari bahwa dirinya sudah keluar dari cengkraman para bajingan yang merusak masa kecilnya dulu. Perlahan, ia melepaskan cengkramannya tadi, membebaskan jalur nafasnya. "Aa- akhh... Hkkh..."
"Kyuhyun, bernafaslah. Tarik nafas dalam... Lakukan perlahan saja...", Kyuhyun mengikuti instruksi tersebut, punggungnya bersandar lemah pada kepala ranjang. "Bagus, seperti itu... Lalu keluarkan perlahan - lahan. Kau aman bersama ku, sayang. Tidak akan ada yang menyakiti mu"
"Si, Siwon-ssi...", tremor masih tersisa ditubuhnya, membuat ia terbata saat mencoba bicara.
"Ya, sayang? Kau membutuhkan ku? Aku tidak akan menyakiti mu... Kau akan aman bersama ku. Maka dari itu... Datanglah pada ku, Kyuhyun"
Kalimat itu terdengar sangat memabukkan dan menjanjikan, sesaat membuatnya terbuai. Kyuhyun merasa akan runtuh kapan saja, ia butuh seseorang yang dapat menopangnya, memastikan bahwa semua akan baik - baik saja. Namun, ia yakin, tidak mungkin ada orang sebaik itu yang hidup di dunia kotor ini. Menerima tawaran seperti tadi, sungguh mengguncangnya, mendorongnya untuk menyambut seutas benang emas yang dapat menariknya keluar dari kehidupan yang dipenuhi ketakutan dan kewaspadaan, bagaikan neraka setiap harinya. Tetapi, di detik berikutnya, ia tersadar. Bahwa seutas benang tersebut adalah jaring laba - laba yang diulurkan oleh sang 'iblis' untuk menjebaknya. Agar 'iblis' itu dapat mengikat dan mengekangnya. Memperburuk keadaannya.
"Berhenti...", tangannya mengepal kuat hingga buku - buku jarinya memutih. Ia merasa dipermainkan saat ini, permainan gila yang melibatkan tarik - ulur dengan traumanya. "Aku... Aku tidak akan jatuh dalam permainan gila mu"
"Kyu-"
"Diam Choi", ia memotong dengan cepat kata apapun yang pria tersebut akan ucapkan. Jeda selama beberapa saat, ia menatap kearah pintu kamarnya yang di gedor dan diikuti suara sang adik yang memanggilnya, menanyakan kondisinya. Namun, fokusnya tetap terarah pada si penelepon. Pria yang menjadi lawan bicaranya saat ini, sungguh membuatnya murka. "Aku tidak akan termakan ucapan busuk mu itu. Kau terlalu sering memakan bangkai orang - orang lemah, itu membuat mu besar kepala. Masih banyak para sampah maupun pemakan bangkai dari kalangan mu serta PSK diluar sana yang dengan senang hati meladeni mu"
Pintu kamarnya terbuka dengan bunyi yang memekakkan telinga, Juhyun baru saja menendang pintu yang terkunci itu, membukanya paksa. Ia bisa melihat bagaimana salah satu engsel pintu tersebut menggantung longgar, nyaris akan lepas dari tempatnya. Kyuhyun melemparkan senyuman lemah pada adiknya itu, penampilannya saat ini pasti sangat berantakan. Ia sadar dengan luka di lehernya, lambungnya dan kerongkongannya yang terasa perih, serta tubuhnya yang basah karena dibanjiri dengan keringat dingin. Jangan lupakan suaranya yang serak dan wajahnya yang sembab khas seseorang yang baru saja menangis. Adik sepupunya itu tampak sangat terkejut dan hanya bisa berdiri diam di ambang pintu sembari menutup mulut dengan sebelah tangan. Ia meminta adiknya itu untuk menunggu sebentar, mengisyaratkan pada ponselnya, secara tidak langsung mengatakan bahwa ia sedang menerima telepon.
"Jangan hubungi aku jika kau tidak punya hal bermanfaat yang harus dilakukan. Aku tidak butuh sampah masyarakat berkedok elite seperti mu untuk membuang waktu ku", kalimat tersebut menjadi akhir dari percakapan mereka, sebelum akhirnya ia memutus transmisi mereka. Kali ini, Kyuhyun lebih merasa geram daripada takut. Ia bersumpah akan menendang bokong pria itu jika mereka bertemu lagi.
Menghela nafasnya kasar, ia menyentuh luka dilehernya yang sedikit mengeluarkan darah. Bergumam pelan, ia melemparkan pandangannya keluar jendela kamar. "Choi Siwon... Kau benar - benar brengsek"
###
Pagi itu, Siwon duduk dikursi kantornya, tampak malas dan tidak bersemangat. Entah mengapa ia merasa tertekan saat mengingat pembicaraannya malam tadi dengan pemuda bernama Cho Kyuhyun. Ia memang ingin bermain - main dengan pemuda itu, tetapi lidahnya terasa pahit ketika pemuda berpangkat letnan tersebut meludahinya dengan makian. Ia tidak pernah menerima penolakan, semua perkataannya mutlak, dan kali ini, ada seseorang yang dengan berani menolak perkataannya. Bahkan menghinanya. Namun, ia tidak merasa marah pada pemuda itu, justru ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Menutup matanya selama beberapa saat, ia menghela nafas berat, apakah ini yang dinamakan 'rasa bersalah'? Sungguh mengganggu, pikirnya. Ia melirik pada manager bagian marketing yang sibuk berbicara didepannya, ia bahkan tidak menyimak satu kalimat pun yang keluar dari bibir wanita dengan dandanan menor ini. Tampilan 'seksi' wanita yang menjabat sebagai manager bagian marketing itu, justru membuatnya muak.
"Presdir Choi, ini data yang anda minta", ia tersentak dari lamunannya saat sang sekretaris meletakkan sebuah map tebal disampingnya dengan sedikit membanting. Jelas saja itu dilakukan untuk menyadarkannya.
"Terimakasih", menarik map yang sekretarisnya itu berikan, ia mendorong proposal yang manager bagian marketing tadi sodorkan. Tidak bernafsu untuk meladeni permintaan aneh wanita itu untuk saat ini. "Shindong hyung, ada yang ingin ku bicarakan"
Pria yang dipanggil 'Shindong' tadi, menaikkan sebelah alisnya, menangkap maksud perkataan atasannya itu. Segera saja, ia mengusir keluar wanita yang sedari tadi sibuk mengoceh didepan mereka, sebelum menutup pintu ruangan Presiden Direktur perusahaan tersebut. Oh, Shindong tidak akan lupa bagaimana wanita tadi mengumpat pelan padanya, akan ia tandai itu. Kembali ia arahkan atensinya pada sang atasan, pria itu tampak tidak fokus sejak masuk ke kantor dua jam yang lalu. Ia punya firasat, apapun yang mengganggu pikiran atasannya itu, jelas sekali bukan disebabkan oleh pekerjaan. Lebih tepatnya, sesuatu yang pribadi. Terlebih, pria bermarga Choi itu tidak memanggilnya dengan sebutan 'Sekretaris Shin' dan justru memanggilnya 'hyung', semakin membuatnya yakin bahwa ini adalah masalah pribadi.
"Aku sudah kunci pintunya", ia berjalan menuju meja sang direktur, lalu mengambil tempat duduk didepannya.
"Mulai minggu depan, kau yang mengambil alih posisi wakil direktur"
Sedikit memicingkan matanya, Shindong lalu bertopang dagu. "Aku tidak masalah dengan itu. Ada apa dengan Jung Ji Sun?"
"Sepertinya dia bermain dengan uang perusahaan dan beberapa rancangan yang bocor kemarin, ternyata juga ulahnya. Aku ingin dia lenyap sebelum minggu depan"
Tipikal Siwon, itu pikirnya. Pria itu tidak akan menolerir kesalahan yang pekerja atau bawahannya lakukan, apa lagi jika hal itu di perbuat dengan sengaja. Lebih baik melakukan kesalahan yang tidak disengaja dan berakhir di pecat, daripada ketahuan mengkhianati kepercayaan pria itu yang harus dibayar dengan nyawa. Shindong cukup hafal dengan sifat Siwon karena mereka sudah bersama selama sebelas tahun. Berawal saat ia bertemu seorang pemuda aneh yang selalu berkeliaran di kampusnya dan bisa keluar masuk labor khusus disana tanpa ada yang mempertanyakan. Hingga akhirnya ia tahu, pemuda itu adalah 'anak' salah satu dosen pengajar disana. Mereka mulai berteman, saat secara tidak sengaja ia melihat pemuda itu berkutat mengerjakan sebuah mesin hologram, mengomentari beberapa kecacatan yang tampak di matanya. Lalu pemuda itu mengatakan bahwa dia sedang membangun sebuah perusahaan dan meminta ia untuk membantu. Sekarang, disinilah mereka berdua, berada di puncak.
Shindong tahu, bukan hal ini yang sebenarnya ingin pria tersebut bicarakan. Ada hal lain, namun ia membiarkan Siwon berbasa - basi terlebih dahulu menggunakan topik urusan perusahaan. "Baiklah jika itu mau mu. Tapi, siapa yang akan menjadi sekretaris mu, nanti? Kau sudah memikirkannya?"
"Belum, itu alasannya aku menaruh deadline hingga minggu depan. Segera buka lowongan untuk bagian itu"
"Apa sekretaris mu ini hanya berada dibagian depan bisnis mu atau yang sama seperti ku, berada dikedua sisi?", ya, dirinya bukan hanya seorang sekretaris diperusahaan ini, melainkan tangan kanan yang mengurus segala sesuatu di bisnis bagian 'belakang'. Memangnya, seorang Choi Siwon bisa menjadi raja bisnis hanya karena kemampuannya sendiri? Tentu tidak, ia juga banyak berjasa, tetapi ia tidak pernah menginginkan sorotan dari orang banyak dan memilih bergerak sebagai bayangan.
"Bagian depan saja. Bisnis dibagian belakang akan ditangani Chanyeol, bagaimana menurut mu?"
"Aku setuju. Chanyeol sudah mampu mengurusnya, dia anak yang pintar, cepat mengerti dengan apa yang ku ajarkan", tentu saja, adik angkat Siwon adalah seorang yang cekatan dengan intuisi yang tajam. Ia sendiri yang melatih pemuda berperawakan jangkung tersebut mengurus bisnis dibagian 'belakang'.
"Dia adikku. Aku yakin dia tidak akan pernah mengecewakan ku dalam urusan ini"
Shindong hanya mengangguk saat melihat senyuman yang sarat akan rasa bangga di wajah lawan bicaranya. Siapa pun akan merasa seperti itu saat berhasil membesarkan seorang adik, yang bahkan tidak memiliki hubungan darah, dengan kedua tangan sendiri. Menurut penilaiannya, Park Chanyeol memiliki sifat yang hampir menyerupai kakak angkatnya, hanya saja lebih memiliki 'hati' dibandingkan dengan pria bermarga Choi itu. Chanyeol lebih memilih menggunakan pendekatan bertahap untuk menyingkirkan seseorang yang gagal menjaga kepercayaannya. Mencari tahu alasan pengkhianatan orang itu dan mempelajari apa saja kemungkinan yang menyebabkan hal tersebut. Sedangkan Siwon, lebih memilih untuk bergerak cepat menyingkirkan orang itu. Jika pria tersebut sedang dalam suasana hati yang baik, mungkin dia akan memberi waktu lima menit untuk siapapun yang tertangkap mengkhianatinya, sebelum membiarkan pistolnya berbicara.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pergi dulu", ia mengambil beberapa dokumen yang berserakan, sebelum berjalan kearah pintu.
"Hyung! Tunggu, aku ingin menanyakan sesuatu"
Senyum kemenangan terukir diwajahnya. Shindong mengira mereka akan 'bermain' tarik - ulur seperti ini seharian. "Akhirnya, aku tahu ada sesuatu yang mengganggu mu sejak kemarin"
"Benarkah?", tentu saja, pikirnya sembari menggerutu pelan. Sekretaris sekaligus teman baiknya itu sudah mengenalnya cukup lama untuk menyadari hal seperti ini.
"Ya, terlihat sangat jelas. Aku tidak akan bertanya kenapa kau 'memecat' Pak Kang. Tapi, kau kelihatan tidak fokus saat rapat bersama Tuan Harper", bukan hanya dipecat dari pekerjaan, tapi eksistensinya juga dipecat dari dunia ini. Shindong hanya bisa menggeleng saat mengingat hal itu.
Ia mengetukkan jemarinya beberapa kali ke atas meja, mencari kata yang tepat untuk menceritakan hal yang mengganggunya sedari kemarin. "Aku tertarik dengan sesuatu. Aku menginginkannya"
"Lalu? Kenapa tidak kau beli saja?"
Berkedip beberapa kali, ia pun tersenyum lebar setelah mendengar perkataan yang lebih tua. Benar, kenapa Siwon tidak berpikir sampai kesana? Bukan masalah yang rumit baginya untuk membeli sesuatu, tidak akan ada yang bisa mencegahnya kalau pun ia menginginkan pemuda itu. Sejak awal ia sudah berniat untuk menggunakan segala cara, bahkan jika itu harus menjungkir balikkan hukum. Membuka laci meja kerjanya, ia segera meraih selembar foto dengan figur si polisi penyidik sebagai objek modelnya.
"Namanya Cho Kyuhyun, 28 tahun. Menurut mu, berapa banyak uang yang harus ku siapkan untuk membeli seseorang seindah ini?", ia menyodorkan foto tersebut pada Shindong, yang langsung menerimanya dengan mulut menganga.
Butuh beberapa detik untuknya mencerna perkataan Siwon, sembari menatap foto ditangannya. "Ya Tuhan! Choi Siwon! Jangan mengada - ada! Dia ini manusia, bukan barang. Tidak mungkin dibeli dengan uang!"
"Tapi, aku hanya ingin dia tidak meninggalkan ku", Siwon mengernyit saat mengingat mantan kekasihnya empat tahun yang lalu. "Aku yang akan membuangnya kalau aku bosan"
"Dia bukan Song Hana, Siwon-ah..."
Song Hana, wanita yang pernah mengisi hati seorang Choi Siwon, dan wanita itu juga yang menghancurkan nya. Hampir semua orang yang mengenal Siwon secara personal, tahu mengenai hubungan keduanya. Namun, tidak satu pun dari mereka yang menyangka bahwa hubungan keduanya akan kandas dalam waktu satu tahun. Bahkan, niat baik Siwon menyusul wanita itu dan mencoba memperbaiki hubungan mereka, hancur seketika saat mengetahui maksud dari wanita tersebut menjalin hubungan dengannya. Sejak saat itu, Siwon tidak pernah lagi menjalin hubungan romantis dengan siapapun dan lebih memilih one night stand dengan wanita atau pria yang disewanya. Tentu saja ketertarikannya ini pada seorang pemuda bernama Cho Kyuhyun, adalah sesuatu yang cukup mengejutkan untuk Shindong.
"Aku tidak tahu apa aku mencintainya atau tidak", inilah yang sedari tadi ia bingungkan.
"Kalau begitu, cobalah berkenalan du-"
"Aku sudah menciumnya, mendapat hampir seluruh informasi tentangnya, dan kemarin malam aku menghubunginya"
Shindong memandang atasannya itu dengan tatapan tidak percaya. Baru kali ini ia bertemu orang segila Choi Siwon, yang melakukan pendekatan dengan cara tidak biasa. "Astaga, kau ini... Benar - benar... Lalu, apa yang dia katakan?"
"Dia memaki ku"
Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa lawan bicaranya ini pasti tidak hanya melakukan percakapan pada umumnya. Shindong sangat yakin, teman sekaligus atasannya itu pastilah menggunakan ancaman yang berhubungan dengan keluarga pemuda bernama Cho Kyuhyun ini. Siapa pun pasti akan terpancing emosinya jika keluarga dibawa dalam urusan pribadi, atau lebih tepatnya, urusan hati. Namun, ia tidak menangkap ada amarah maupun kekesalan saat pria tersebut mengatakan bahwa objek ketertarikannya itu memakinya. Justru, ada gurat penyesalan diwajah tegas itu.
"Aku merasakan debaran aneh di jantung ku. Saat bersama Hana dulu, bahkan aku tidak pernah merasakan ini", Siwon memandang jauh keluar jendela, mengingat apa yang terjadi dua hari belakangan ini. "Aku marah saat mendengar orang lain berkata buruk tentangnya. Aku juga tidak merasa murka saat dia memaki ku, justru aku merasa... Sedih? Bersalah? Entahlah. Menurut mu, aku kenapa?"
Shindong menghela nafas berat, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tentu saja, ia menyadari apa yang sedang pria itu rasakan, tapi ia ingin Siwon sendiri yang menyadarinya. "Aku tidak yakin seratus persen, tapi apa yang kau rasakan ini, biasanya terjadi pada orang yang sedang jatuh cinta"
"Dia akan meninggalkan ku kalau aku mencintainya", rahangnya mengeras. Cinta, itu yang membuatnya lemah. Tetapi, entah mengapa kata itu terasa sangat pas untuk disandingkan dengan nama Kyuhyun, dan jantungnya kembali berdebar kuat. Sial, sepertinya ia benar - benar jatuh cinta.
"Siwon-ah, dengar. Cho Kyuhyun ini bukanlah Song Hana. Mereka berbeda, dari jenis kelamin saja sudah tampak perbedaannya", mengibaskan tangannya pelan, Shindong lalu mengedikkan bahunya saat melihat ekspresi datar lawan bicaranya itu. "Oke, lupakan itu, aku hanya berusaha mencairkan suasana"
"Aku serius, hyung"
"Baiklah, maafkan aku. Aku memang tidak mengenalnya, tapi jika dia bisa membuat mu terpikat hanya dengan berdiri didepan mu... Itu sudah menjadi bukti perbedaan mereka", jeda selama beberapa saat, ia lalu menatap pria yang lebih muda satu tahun darinya itu. "Apa rencana awal mu untuk mendekatinya?"
"Tidak ada. Aku justru ingin mengikuti saran mu, membelinya", gantian ia yang mengedikkan bahu. Terkesan tidak peduli dengan konsekuensi jika memang akan merealisasikan saran tersebut.
Shindong menepuk dahinya pelan, tidak habis pikir melihat lawan bicaranya itu. "Aku tidak tahu kalau yang kau sebut 'sesuatu' tadi adalah seorang manusia. Lagi pula, dia bukan budak yang bisa kau beli begitu saja"
"Dia pernah diposisi itu...", Siwon bergumam pelan.
Ia mengetahui bahwa Kyuhyun pernah diperdagangkan sebagai pelacur anak - anak melalui informasi yang ia kumpulkan. Namun, ia tidak bisa menemukan siapa dalang dari bisnis menjijikkan seperti itu. Jika itu pelacuran dengan umur legal, ia tidak mempermasalahkannya, karena ia sendiri mempunyai usaha seperti itu. Setidaknya, para PSK yang bekerja dirumah bordil yang ia kelola, mendaftarkan diri secara suka rela dan sadar dengan apa yang akan mereka korbankan untuk pekerjaan sejenis itu. Tapi... Anak - anak dibawah umur? Bahkan mereka belum mengerti apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka korbankan, tidak sepantasnya mereka dijual sebagai pemuas nafsu para orang dewasa. Mahluk bejat mana yang dapat mendapat kepuasan seksual dari tubuh suci seorang anak kecil? Pastilah orang - orang dengan gangguan jiwa yang menggemari hal seperti itu.
"Apa?"
"Tidak", ia melirik kearah Shindong, merasa beruntung karena pria itu tidak mendengar kalimatnya tadi. "Jadi aku harus bagaimana?"
"Dekati dia. Ikuti saja sesuai kata hati mu, jika kau ingin memilikinya, jalinlah ikatan. Jadikan dia kekasih mu atau istri mu, sepertinya yang terakhir tidak mungkin, dia laki - laki", tentu saja. Negara ini masih melarang pernikahan sesama jenis, tidak mungkin Siwon bisa menikahi pemuda bermarga Cho itu. "Dengar, terserah apa yang mau kau lakukan ke depannya, asal kau melakukannya secara normal. Jangan mengancamnya atau keluarganya. Apa lagi mengatakan padanya kalau kau berniat membelinya"
Siwon tertegun mendengar saran yang temannya itu berikan. "Ikatan ya..."
"Pikirkan itu baik - baik. Aku pergi dulu", segera saja ia melangkah kearah pintu, membuka kuncinya dan bersiap untuk keluar.
"Hyung!"
Shindong berhenti, lalu memutar tubuhnya untuk melihat kearah pria tadi. "Apa lagi?"
"Jangan katakan hal ini pada siapapun, terutama Chanyeol", jeda selama beberapa saat, ia menghela nafas saat menangkap raut bingung milik Shindong. "Cho Kyuhyun bekerja sebagai penyidik di Kepolisian Seoul"
Ia menarik senyuman tipis saat sekretarisnya itu mengangguk mengerti dan segera keluar dari ruangan tersebut. Siwon menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki, lalu menghela nafas pelan. Chanyeol akan ikut memakinya jika tahu ia jatuh cinta, ia akan mengakui perasaannya ini, pada seorang polisi dan itu membuatnya sebagai penjilat ludah sendiri. Semua orang tahu bagaimana bencinya ia dengan lembaga hukum itu, ia bahkan menikmati setiap detik salah satunya mendapat cacian dari publik karena kesalah pahaman yang ia munculkan. Oh, ayolah, terkadang ia sangat bosan dan butuh sedikit hiburan, melihat penderitaan anjing pemerintah itu adalah salah satu hiburannya. Namun, sekarang, yang ia pikirkan adalah bagaimana cara mengikat pemuda itu tanpa menakutinya.
"Ikatan... Kekasih? Tidak. Itu terlalu rapuh... Oh!"
Netra kelamnya berkilat, menyadari salah satu candaan Shindong tadi sebagai saran terbaik. Tentu saja, seorang penegak hukum yang kaku seperti Kyuhyun, tidak akan mungkin lepas darinya jika ia menggunakan cara ini. Yaitu, menikahi pemuda tersebut. Siwon segera meraih ponselnya, mengirimkan pesan pada Shindong dan Chanyeol untuk melobi waktu ketua Dewan Negara. Ada rapat usul rancangan undang - undang yang harus mereka lakukan. Membengkokkan hukum negara ini bukanlah hal sulit, dan saat ini, itulah yang akan ia lakukan. Kenapa ia lebih memilih menghubungi Dewan Negara? Karena Presiden hanyalah boneka mereka, itu sudah menjadi rahasia umum.
"Choi Kyuhyun... Itu terdengar lebih baik"
Think About You: End
A/N:
Tadaa, part selanjutnya akhirnya kelar! Sampai 5k loh ini, semoga part kali ini cukup memuaskan.
Setelah tiga hari berturut - turut mampir jalan - jalan dibangsal RSJ plus main (lebih tepatnya ngecek rekam medik pasien untuk penelitian) dibagian UPIP, akhirnya dapat ide buat part ini.
Sekalian ngecek pasien, di mulai juga pengamatan kecil - kecilan ke perilaku pasien dengan PTSD (ini pas nemenin dokternya anamnesis pasien, bukan di bangsal), skizofren, dan bipolar. Kurang kerjaan banget kan, padahal cuma buat realisasi bagian 'serangan trauma' nya Kyuhyun aja di cerita ini. Sampai pegel kaki keliling RSJ wkwkwk, untung temen ku gak nanya, ngapain aku keliling bangsal dari ujung ke ujung padahal udah selesai urusan pas nyampai UPIP dan harusnya tinggal pulang
Tapi entahlah ya, apa aku berhasil ngegambarinnya di cerita ini atau gak, yang penting aku udah usaha, part depan bakal dibagi jadi dua atau tiga chapter, tapi ntahlah kapan di up nya. Mohon bersabar ya
Oh, dan untuk masalah pemerintahan, aku banyak ngarangnya ya. Gak ngerti aku persoalan yang gitu - gitu
Jangan lupa, berikan review jika berkenan
