Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART III
[ Seven Marriage Proposal (1) ]
Kyuhyun mengetik laporan bulanan divisinya dalam diam, ruang kantor tersebut hanya diisi dengan suara jemarinya yang menekan papan ketik dengan cepat. Ia mengerjap beberapa kali saat selesai dengan pekerjaannya, lalu menghela nafas lega sembari memasukkan data tersebut dalam flashdisk untuk dicetak pada kertas. Kakinya melangkah ringan keluar dari ruang kantornya, mengangguk pelan menanggapi beberapa penyidik yang berpapasan dengannya saat menuju sudut ruangan, dimana mesin cetak terletak. Ia bersandar pada dinding dan menonton kehebohan yang selalu terjadi setiap pagi di divisinya sembari menunggu mesin cetak menyelesaikan pekerjaannya. Ia terkekeh saat melihat Juhyun dan Minseok yang sedang adu argumen ditengah ruangan perihal pembagian kasus, para penyidik wanita yang menyoraki keduanya, dan penyidik pria yang hanya bisa menggeleng sebelum kembali tenggelam dalam kubikel mereka. Jangan lupakan, penyidik senior yang hanya berjumlah lima orang, menatap tak suka pada keributan tersebut. Sesekali melempar pandangan menusuk padanya, yang langsung ia tepis.
Mengambil laporan yang sudah dicetak dalam kertas, ia pun segera melangkah menuju ruangan Kepala Kepolisian Seoul untuk menyerahkan data tersebut. Kyuhyun berjalan cepat melewati beberapa orang, tidak begitu peduli dengan sekitarnya maupun dengan pandangan aneh yang orang - orang lemparkan padanya. Sudah dua minggu sejak kejadian malam itu, dimana traumanya muncul karena perkataan dari seorang Choi Siwon, namun hingga saat ini, pria tersebut tidak pernah mengganggunya lagi. Ia menggerutu saat hati kecilnya berbisik kecewa, mengumpat pada sisi lemahnya itu, dan segera melupakan perasaan tersebut yang sedari kemarin mengganggunya. Lehernya masih dibalut dengan perban, karena ada beberapa luka cakaran yang cukup dalam dan akan memakan waktu lebih dari dua minggu untuk memudarkan bekasnya. Setelah kejadian malam itu, Juhyun merawatnya dan tidak pernah pergi dari sisinya selama tiga hari ia cuti kerja.
Ya, adik sepupunya itu ikut mengambil cuti untuk merawatnya, menangani lukanya, memastikan ia makan teratur, bahkan mengantarnya menemui dokter Seohyun, psikiater yang menanganinya. Seohyun, atau Seo Joohyun, merupakan anak dari dokter Seo. Setelah pria itu pensiun, ia beralih datang ke tempat praktek Seohyun, hanya di saat ia mendapat mimpi buruk dan itu untuk membantunya kembali berdiri tegak. Namun, akhir - akhir ini, ia semakin tidak nyaman untuk menemui wanita tersebut sendirian, karena ia menyadari bagaimana wanita itu memandangnya. Mereka berdua sudah lama kenal, lebih tepatnya sejak ia melakukan terapi dengan dokter Seo, namun Kyuhyun yang memilih untuk menjaga jarak. Ia mulai menyadari perhatian berlebih Seohyun padanya sekitar empat bulan yang lalu, tetapi ia menepis hal itu. Puncaknya adalah satu minggu yang lalu, wanita tersebut datang mengunjungi rumah keluarganya dan menempel padanya sepanjang waktu.
Mungkin, paman dan bibinya sangat bahagia melihat 'kedekatan' mereka berdua sehingga keduanya semakin didekatkan. Pasangan suami istri itu menempatkan mereka berdua untuk duduk bersampingan diatas sebuah sofa panjang, sembari berbincang hangat dengan secangkir teh. Lagi pula, siapa yang akan menolak wanita seperti Seohyun? Dia adalah sosok yang sangat anggun, cantik, pintar, dan juga berasal dari keluarga baik - baik. Pria normal mana pun pasti akan terpikat oleh wanita itu, dan sayangnya, Kyuhyun bukanlah salah satu dari pria yang dikategorikan 'normal'. Ia masih terlalu kaku dan canggung dengan setiap orang yang mencoba mendekatinya, dan memiliki niat untuk menjalin hubungan romantis dengannya. Itu merupakan alasan utama mengapa ia tidak pernah punya kekasih hingga saat ini. Beruntung Juhyun menangkap raut tak nyaman diwajahnya dan segera duduk diantara ia dan Seohyun. Adik sepupunya itu bergelayut manja padanya dengan alasan merasa tersisihkan, dan dengan mudahnya menarik ia pergi dari sana, menghindari situasi canggung yang tiba - tiba terjadi.
"Letnan Cho tidak bisa ditemui saat ini. Dia sibuk dengan rapat akhir bulan dan juga laporan. Lebih baik, anda kembali di lain waktu, tidak usah menunggunya"
Kyuhyun mengernyit saat mendengar suara Juhyun yang sarat akan amarah, dan hal itu sukses memutus lamunannya tadi. Ia berdiri didepan pintu masuk ruang divisinya, beberapa orang sedang memegangi bahu adik sepupunya itu. Sedangkan yang lain, berada di kubikel mereka masing - masing, menundukkan kepala sebagai tanda tidak ingin terlibat dalam keributan kecil tersebut. Ia sedikit tersentak saat mendapat tepukan dibahunya, lalu segera menoleh untuk melihat Ryeowook yang menatapnya dengan pandangan bertanya. Mengedikkan bahunya, mereka berdua sedikit terkejut saat mendengar nada suara Juhyun yang meninggi dan kalimat kasar yang wanita tersebut lontarkan.
"Apa - apaan kau ini?! Pergi dari sini sekarang juga! Letnan Cho bahkan tidak sudi untuk melihat wajah mu, dan dia tidak akan pernah mau menemui bajingan seperti mu! Pergilah! Jangan menunggunya! Kau mulai membuat ku muak, dasar brengsek!"
"Aku akan menunggu"
Hanya tiga kata tadi yang Kyuhyun perlukan untuk mengenali siapa pemilik suara tersebut. Segera saja ia melangkah masuk, meninggalkan Ryeowook yang hanya datang untuk menjemput berkas milik Divisi Forensik, karena perdebatan diruangan itu menjadi hal yang paling mendesak untuknya saat ini. Ia menarik sang adik untuk berdiri dibelakangnya, lalu mengisyaratkan pada beberapa anggota divisinya tersebut untuk kembali ke kubikel mereka. Ia menutup kedua matanya selama beberapa saat, menenangkan diri, lalu kembali membuka netra coklat karamel miliknya untuk bersitatap dengan netra kelam pria tersebut.
"Tidak usah basa - basi. Apa yang kau lakukan disini, Choi Siwon-ssi?", Kyuhyun masih menggenggam tangan Juhyun, ia bisa merasakan tangannya bergetar pelan. Namun, Juhyun segera mengeratkan genggaman mereka.
Juhyun mencoba menarik mundur kakak sepupunya tersebut. Ia sudah mendengar apa yang terjadi dua minggu yang lalu dari Ryeowook, dan itu sungguh membuatnya murka. Ia bahkan tidak peduli jika harus berhadapan dengan seorang Choi Siwon yang terkenal dengan kelicikannya itu. "Oppa, jangan memaksakan diri mu..."
"Aku bisa menangani ini, Juhyun. Percaya pada ku"
Ia menatap sang adik selama beberapa saat, melepaskan genggaman mereka, lalu memberikan kecupan di pipi wanita tersebut. Satu hal yang selalu berhasil untuk menenangkan Juhyun saat emosi wanita itu berada di ubun - ubun. Kyuhyun bisa melihat raut wajah sang adik berubah menjadi lebih lembut, wanita itu akhirnya mengangguk dan berjalan kearah kubikelnya. Tidak menyadari tatapan menusuk sarat akan kecemburuan yang seseorang berikan pada mereka. Ia menginstruksikan pada Siwon yang sedang duduk disalah satu kursi besi panjang, untuk mengikutinya berjalan ke arah jendela besar yang ikut menjadi pencahayaan bagi ruangan tersebut. Lagi pula, ia tidak akan mengundang pria ini memasuki kantornya, sehingga lebih memilih untuk berdiri di pojok ruangan. Persetan dengan sopan santun atau gosip baru yang akan penyidik senior sebarkan, orang - orang munafik bau tanah itu saat ini sedang sibuk berbisik - bisik sembari menunjuk kearahnya. Setidaknya, di ruangan ini masih banyak orang, tidak mungkin pria bermarga Choi itu akan melakukan pelecehan seksual lagi padanya.
"Aku ingin menemui mu, Kyuhyun-ssi", Kyuhyun mengernyit saat mendengar nada suara pria tersebut yang tiba - tiba menjadi kaku, ada sedikit emosi tak terbaca disana.
"Ada urusan apa kau datang kesini? Ini Divisi Investigasi Pembunuhan, kau hanya bisa masuk kesini jika memiliki kepentingan", jeda selama beberapa saat, ia pun menatap pria itu dengan tajam. "Atau kau adalah tersangka kasus pembunuhan"
"Aku memiliki kepentingan", sekarang, kegelisahan tampak kentara di netra kelam tersebut.
"Katakan. Aku tidak punya banyak waktu"
"Menikahlah dengan ku"
Keras dan jelas, bahkan tanpa jeda setelah Kyuhyun selesai berbicara tadi. Satu kalimat itu sukses membuat ruangan Divisi Investigasi Pembunuhan yang di penuhi suara dari papan ketik dan perbincangan beberapa anggotanya, menjadi hening seketika. Semua mata memandang kearah mereka, Ryeowook yang baru kembali dari kunjungannya ke Divisi Forensik, nyaris menjatuhkan dokumen yang dibawanya. Juhyun pun tanpa sadar berdiri tegak, menatap pria yang sedang berhadapan dengan sang kakak, melemparkan pandangan tidak percaya, menganggap pria itu sudah gila. Selama beberapa saat, Kyuhyun hanya bisa mengerjap cepat, kedua pipinya bersemu samar saat menyadari apa yang pria itu katakan. Ditambah dengan raut keseriusan yang tampak di wajah tegas tersebut.
"Kau sudah tidak waras", ia bersyukur karena tidak terbata saat menyuarakan pemikirannya dan berhasil untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"Aku serius. Aku sudah memikirkan ini selama dua minggu", netra coklat karamel tersebut melebar saat pria yang di gadang - gadang sebagai raja bisnis dan orang paling kaya di negara mereka, berlutut dengan satu kaki didepannya. Pria tersebut memperlihatkan sebuah kotak beludru berwarna merah maroon, dengan cincin bermahkotakan batu Serendibite duduk didalamnya. Batu mulia tersebut tampak berkilau dibawah pantulan sinar matahari. "Cho Kyuhyun, will you marry me?"
Ia mundur beberapa langkah, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju ruang kantornya. "Pergilah Siwon-ssi. Aku tidak mengenal mu"
"Kita bisa berkenalan"
Telinganya memerah dan wajahnya terasa panas bagaikan terbakar. Kyuhyun membanting pintu kantornya dengan keras lalu mengunci pintu tersebut dan menyandarkan punggungnya disana. Ia menggigit ujung kuku ibu jarinya, netranya bergerak gelisah saat mendengar pria tersebut mengetuk dan memanggil namanya beberapa kali. Bagaimana bisa ia bertatapan dengan anggota divisinya sekarang? Hal memalukan tadi benar - benar nyaris membuatnya mendapat serangan jantung. Ia menampar kedua pipinya agar berhenti bersemu, sekaligus memaki hatinya yang saat ini bergetar. Dasar lemah, pikirnya. Untung saja ia masih memiliki otak yang mau bekerjasama dengannya. Setelah berhasil menenangkan debaran bodoh yang jantungnya lakukan, ia segera meraih dokumen lain yang harus diberikan pada Juhyun. Menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan, ia pun membuka pintu ruangan tersebut.
Kyuhyun sedikit terkejut saat melihat pria tadi masih berdiri didepan pintunya, reflek ia mengambil dua langkah mundur. "Jangan menghalangi jalan ku. Aku masih punya banyak hal yang harus di kerjakan"
"Kau belum menjawab tawaran ku, Kyuhyun-ssi"
Menggertakkan giginya, ia menggeram pelan, kesal dengan lawan bicaranya ini yang sangat keras kepala. Hei, siapa juga yang mau menikah dengan orang brengsek seperti pria ini?! Yang ada, ia hanya di permainkan nanti. Lagi pula, apa Siwon benar - benar sudah mengidap gangguan jiwa? Pernikahan sesama jenis saja dilarang di negara ini, mana mungkin mereka bisa menikah, 'kan? Dasar tolol, umpatnya pada diri sendiri saat hatinya merasa sedikit kecewa. Kyuhyun tidak akan mau menikah dengan pria ini, sekalipun secara tiba - tiba Presiden dan Dewan Negara memperbolehkan pernikahan sesama jenis. Suatu hal yang tidak mungkin, mengingat betapa rasisnya pemikiran para tua bangka elite itu. Kekesalannya, yang diiringi rasa takut, semakin menjadi - jadi saat pria itu melangkah masuk untuk mendekat padanya. Namun, Kyuhyun tidak akan membiarkan rasa takut mengalahkannya lagi. Dengan geram, ia menendang tulang kering pria tersebut, cukup keras untuk membuat tubuh tegap itu terjatuh, sebelum berjalan cepat kearah pintu.
"Dengar, aku tidak mau menikah dengan mu, itu jawaban ku. Pergilah dan jernihkan pikiran mu", ia menatap pria itu dari ambang pintu. Sedikit pun tidak merasa kasihan saat melihat pria tersebut sedang memegangi tulang keringnya dengan dahi mengerut dalam sembari merintih. Pasti sangat sakit ditendang disana, jangan lupakan bahwa Kyuhyun memakai sepatu boots dengan sol yang tebal dan keras.
"Tapi, aku ingin menikahi mu... Aku mencintai mu..."
Rintihan itu masih sedikit terdengar, namun perkataan dan raut wajah pria tersebut, jujur membuatnya sedikit kasihan. Hanya sedikit, jika dihitung dalam satuan berat, mungkin satu miligram saja tidak sampai. Saat ini, seorang Choi Siwon yang sungguh 'berkuasa' di mata semua orang, sedang merintih kesakitan sembari berjalan tertatih, yang lebih terlihat seperti pincang, dan mencoba mendekat padanya. Wajah pria itu tampak sangat menyedihkan, seperti anak anjing yang dibuang ke jalanan, dan Kyuhyun adalah orang jahat yang tidak mau memungutnya. Biarkan saja, dirinya memang jahat, dan sayang sekali ia lebih memilih memelihara ikan daripada anak anjing. Setidaknya, ikan tidak akan membuat suara berisik dan menemaninya dalam diam.
Ia melihat kearah anggota divisinya yang sedari tadi berkerumun untuk menonton kejadian langka tersebut. Dahinya berkedut kesal, memangnya ini drama picisan jam sembilan malam? Ia lalu menatap datar kerumunan itu, sebelum menunjuk Siwon dengan ibu jarinya. "Siapa pun, bawa orang ini keluar"
"Ta, tapi Letnan Cho... Di, dia-"
Beberapa orang menggeleng, dan yang lain menunduk takut, membuatnya semakin naik pitam. "SEKARANG! ATAU AKU AKAN MELEMPAR KALIAN SEMUA DARI ATAP GEDUNG INI!"
"LAKSANAKAN, LETNAN!"
Empat orang pria segera membantu Siwon untuk keluar dari sana. Kyuhyun bersedekap, senyuman puas tampak di parasnya, yang terlihat lebih seperti seringain bagi orang lain. Tentu saja Choi Siwon tampak lebih menakutkan dari atasan mereka, namun seorang Cho Kyuhyun tidak pernah mengingkari perkataannya, semua orang tahu akan hal itu. Belum lama ini, salah satu anggota divisinya telat datang untuk briefing kasus internasional, dan ia benar - benar menjalankan ancamannya, memberikan pukulan di ulu hati hingga orang tersebut tak sadarkan diri selama dua hari dan mencabut lencananya. Itulah mengapa tidak ada satu orang pun yang berani mempertanyakan perkataannya lagi jika ia sudah memutuskan sesuatu.
Tetapi, itu hanya untuk saat ini. Pemuda itu tidak akan pernah menyangka, bahwa hati adalah sesuatu yang bersifat abstrak dan sangat mudah untuk di bolak - balikkan oleh yang maha kuasa.
###
Sudah satu bulan berlalu sejak usahanya melamar seorang pemuda bernama Cho Kyuhyun gagal, dan selama itu juga, ia selalu mengirimkan pesan ke nomor ponsel pemuda tersebut. Yang awalnya hanya beberapa jam sekali, meningkat menjadi sepuluh menit sekali. Siwon tidak peduli jika pemuda itu muak, ia hanya menunggu balasan yang tak kunjung datang dari pemuda tersebut. Hingga hari ini, lebih tepatnya pagi ini, pesannya dibalas oleh sang pujaan hati. Yah, walaupun berisi umpatan. Seharusnya, ia marah atau setidaknya merasa kesal karena kalimat - kalimat manisnya mendapat balasan seperti itu. Namun, ia justru merasa sangat senang, seperti baru saja memenangkan lotre dengan hadiah milyaran dollar. Tapi, tentu saja hal tersebut tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan dan alami saat ini. Netranya kembali terfokus pada layar ponselnya, sejenak melupakan pekerjaannya, dan lebih memilih untuk membaca kalimat di pesan tersebut berulang kali.
From: KyuKyu
Apa otak mu itu sudah berubah menjadi keju busuk? Berhenti mengirimi ku kalimat menjijkkan, Choi Brengsek. Kau pikir aku wanita? Aku tidak menyukai hal seperti itu, aku ini pria. Apa kau terlalu tolol untuk menyadari hal sesimpel itu?
Siwon menyadari maksud tersirat pemuda itu. Kyuhyun tidak memintanya berhenti mengirimi pesan setiap hari, pemuda tersebut hanya protes mengenai isi pesannya yang dipenuhi kalimat manis serta rayuan. Dan ia yakin, kedua pipi pemuda tersebut selalu bersemu merah saat mendapat pesan darinya. Manis sekali, sampai ia harus menahan diri untuk tidak mendatangi pemuda tersebut dan 'memakan' bibir plum yang menggoda itu. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba menghilangkan pemikiran kotornya pagi ini. Segera ia memerintahkan sekretaris barunya, Moon Taeil, untuk menghubungi salah satu toko kue yang sering Kyuhyun kunjungi dan mengirimkan beberapa kotak ke kantor pemuda tersebut. Beberapa dalam kamusnya adalah sekitar tiga puluh kotak. Tak lupa sebuket besar mawar merah juga dikirimkan kesana. Ia lalu kembali meraih ponselnya dan membalas pesan tadi.
To: KyuKyu
Maafkan aku, Kyuhyun-ssi. Aku tidak akan mengganggu mu lagi. Untuk terakhir kalinya, aku ingin mengingatkan, jangan lewatkan waktu makan mu, sesibuk apapun itu. Jangan terlalu lama bermain game, beristirahatlah langsung setelah pulang kerja. Dan jangan terlalu dekat dengan psikiater yang menangani mu, aku tidak suka.
P.s: celana dalam mu hari ini imut sekali, gambarnya penguin~
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Siwon kembali bertopang dagu sembari bersiul pelan, melihat beberapa gambar pemuda bermarga Cho itu sedang melepas pakaiannya pagi ini dari layar komputernya. Jangan salah sangka, ia tidak menyewa siapapun untuk menguntit pemuda itu. Gambar ini tidak sengaja ia dapatkan saat sedang meretas kamera ponsel dan alat elektronik di kamar pemuda tersebut. Jangan lupakan fakta bahwa perusahaan induk miliknya, sekaligus perusahaan pertamanya, bergerak dibidang tekhnologi. Bukan hal sulit untuknya masuk ke perangkat elektronik berkamera yang pemuda itu miliki, mengingat saat ini segala sesuatu pasti disambungkan dengan internet. Hanya dengan sedikit mengubah kode kerja dan memotong beberapa sekat berkode lemah, ia dapat masuk tanpa meninggalkan jejak. Namun, pandangannya berhenti pada dua gambar yang baru saja ia lihat, paha kanan atas bagian luar dan lengan kiri atas bagian luar dekat perpotongan bahu. Netranya menangkap dua simbol disana.
Ia bisa melihat simbol di paha kanan dengan jelas, seperti tato bergambar ular, diameternya mungkin hanya sebesar uang koin, tetapi gambar itu menjadi semakin jelas saat diperbesar, simbol salah satu keluarga mafia yang dulu berada di Korea. Mengetuk jemarinya keatas meja dengan cepat, ia segera mencari pemilik simbol tersebut. Dan sesuai perkiraannya, grup yang memiliki simbol ular dengan mulut menganga lebar untuk memperlihatkan taring panjang nya, adalah grup mafia milik keluarga Kim. Mereka berhasil ia tendang keluar dari Korea enam tahun yang lalu. Beralih ke simbol di lengan atas sebelah kiri pemuda itu, dahinya mengernyit tajam. Itu bukan tato, lebih terlihat seperti bekas dari besi panas yang ditempelkan disana, bentuknya persegi panjang dengan lengkungan setengah lingkaran dibawahnya. Walaupun panjangnya tak lebih dari sepuluh sentimeter dan lebar hanya tiga sentimeter, Siwon bisa melihat dengan jelas angka '0513' disana, namun simbol yang berada dibawahnya, tidak terlihat sama sekali.
Simbol itu tertutupi dengan beberapa guratan memanjang, entah itu hasil dari cakaran atau pekerjaan dari benda tajam seperti pisau yang sengaja ditorehkan disana. Siapapun yang melakukan hal tersebut, tampak sangat frustasi dan putus asa, tidak tahu bagaimana harus menghilangkan bekas permanen tersebut. Ia sangat yakin, Kyuhyun sendirilah yang melakukannya, dan menurut perkiraannya, simbol tersebut adalah lambang milik yakuza yang menculik pemuda itu. Mendecih pelan, ia segera menutup gambar tersebut, suasana hatinya memburuk jika mengingat betapa ketakutannya Kyuhyun akan ingatan masa lalu. Menutup mata sembari menghela nafas berat, ia jujur masih menyesali perbuatannya beberapa minggu yang lalu, tetapi ia harus melakukan itu. Mungkin banyak yang akan memakinya karena apa yang ia lakukan, Juhyun saja sudah cukup menggambarkan hal tersebut, namun ia mengerti, wanita itu hanya tidak tahu apa yang sedang ia usahakan.
PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder bisa diatasi, atau setidaknya diringankan, dengan cara menghadapi dan menerima ingatan, pikiran, serta gambaran yang menimbulkan trauma tersebut sehingga si penderita tidak merasa tertekan karenanya dan perlahan bisa mengatasi ketakutannya. Walaupun ia melakukannya secara 'tidak sengaja' dan berakibat menimbulkan luka fisik, tampaknya metode yang ia lakukan cukup berhasil jika mengingat bagaimana pemuda itu berinteraksi dengannya saat mereka bertemu satu bulan yang lalu. Respon Kyuhyun bahkan sangat bagus, pemuda itu bisa menepis rasa takutnya saat menghadapi ia yang sengaja mendekat. Namun, kembali lagi pada psikiater yang menangani pemuda itu. Siwon memang bukan dokter, tetapi mengetahui cara wanita bernama Seohyun itu memberikan terapi pada Kyuhyun, seakan - akan sengaja membuat pemuda itu 'bergantung' padanya. Sama sekali tidak mengatasi trauma yang Kyuhyun miliki.
"Baiklah, ini waktunya menjemput cincin pesanan ku", mencoba menjernihkan pikiran sembari memperbaiki suasana hatinya, Siwon memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia berdiri lalu mengenakan jasnya dan melangkah keluar dari ruang kantornya. Sesaat melirik kearah jam tangannya, sebelum berjalan mendekat pada sang sekretaris.
"Oh? Direktur Choi? Anda akan pergi?", Taeil mengerjap beberapa kali, sebelum menatap atasannya itu dengan raut takut. "Ta, tapi seharusnya anda tidak boleh pergi..."
"Ada apa, Taeil? Aku tidak akan memakan mu kalau kau memiliki alasan yang jelas untuk menghentikan ku", Siwon menghela nafas berat. Sekretaris barunya ini terlalu berbelit - belit, ia jadi merindukan Shindong.
"Ba, baru saja saya menerima telepon dari Pak Ketua Dewan, Song Nam Byul. Beliau menitipkan pesan bahwa ada dokumen penting yang harus anda lihat, dan beliau akan datang untuk mengantarkannya sendiri sekitar setengah jam lagi..."
Mendengar nama tersebut, ia pun terkekeh pelan lalu mengangguk. Ia akan menjemput cincinnya nanti, karena hal ini lebih penting. "Baiklah, jika dia sampai, langsung saja antarkan dia masuk. Jangan lupa untuk mengantarkan minuman ke dalam"
"Baik!"
Siwon bersiul pelan sebelum kembali melangkah masuk ke dalam kantornya untuk menunggu Song Nam Byul, Ketua Dewan Negara Korea Selatan. Pria itu terlalu keras kepala dan sepertinya melupakan bagaimana cara bersopan santun. Namun, sedikit 'dorongan' darinya, tua bangka itu akhirnya mau berlutut dan membaca usulan yang ia bawa. Kursi kuat seperti Ketua Dewan, tidak akan kosong terlalu lama, jadi walaupun pria itu ditemukan mati setelah undang - undang yang ia usulkan di sahkan, hal tersebut tidak akan menjadi masalah untuk negara. Lucu sekali saat ia mengingat bagaimana ekspresi sombong pria tua itu hancur seketika setelah melihat wajah putrinya, seorang gadis berusia 19 tahun, hanya berjarak sepuluh sentimeter dengan seember asam sulfat. Siwon sudah pernah mengatakan, ia akan melakukan 'apapun' untuk mendapatkan Kyuhyun. Dan pemuda dengan netra coklat bagaikan lelehan karamel itu, tidak perlu tahu dengan usahanya ini.
###
Kyuhyun mengernyit bingung. Kemarin, ia hanya menerima satu pesan dari Siwon dan sengaja tidak membukanya. Ia pikir, akan ada ratusan pesan lagi yang masuk. Namun, hingga pagi ini, tidak ada satu pesan pun yang masuk ke ponselnya berasal dari pria itu, sungguh sebuah pencapaian. Bayangkan saja, hanya satu balasan kasar darinya dan pria itu langsung berhenti mengirim pesan padanya, karena sudah sejak kemarin pagi, tidak ada lagi pesan yang masuk. Jika menghentikan pria itu semudah ini, seharusnya ia lakukan saja sedari kemarin. Ternyata, hanya sejauh itu usaha seorang Choi Siwon, pikirnya sembari tanpa sadar menggerutu pelan. Ia berjalan memasuki ruang makan, menyapa sang paman yang sedang membaca koran, lalu memberikan kecupan di pipi sang bibi dan adik sepupunya. Ia harus berangkat lebih pagi untuk menyiapkan bahan rapat jam sembilan nanti, dan Juhyun cukup khawatir jika ia tidak sarapan, itulah mengapa saat ini ia membawa sekotak bekal didalam tasnya.
"Jangan lupa untuk di makan! Setidaknya, sisakan lima belas menit untuk menghabiskan bekal mu, Hyun-ah", sang bibi menepuk kedua pipinya pelan, sebelum berjinjit untuk mengecup dahinya.
Ia tersenyum tipis, selalu menyukai afeksi yang bibinya berikan. Sentuhan keibuan yang ia terima setiap pagi, selalu berhasil mengatasi kerinduan pada ibu angkatnya."Tentu, bibi. Sangat tidak mungkin untuk menolak masakan mu. Kalau Juhyun yang memasak, mungkin aku tidak akan membawanya"
"Yak! Apa maksud mu, oppa?! Awas saja kalau kau meminta ku memasakkan ramen untuk mu!"
Kyuhyun mencubit pelan kedua pipi adik sepupunya itu yang menggembung seperti tupai, hanya tersenyum saat mendengar tawa dari paman dan bibinya. Meminum kopi yang sudah menghangat hingga habis, ia akhirnya berpamitan pada penghuni rumah tersebut dan bergegas menuju pintu. Jam memang masih menunjukkan pukul enam pagi, tetapi perjalanan dari rumah ke kantornya akan cukup memakan waktu. Sekitar tiga puluh menit jika jalanan tidak macet. Baru saja membuka pintu, langkahnya langsung terhenti karena berhadapan dengan sebuket besar mawar merah. Dahinya berkedut kesal. Hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal ini, siapa lagi kalau bukan orang tidak waras yang melamarnya satu bulan yang lalu.
"Choi Siwon-ssi..."
"Selamat pagi, Kyuhyun-ssi. Aku membawakan mu ini"
Kyuhyun menerima buket mawar tadi dengan ekspresi datar. Pria itu memang tidak pernah menemuinya selama satu bulan ini, namun tumpukan 'hadiah' dan bunga yang dikirimkan padanya, bahkan melebihi kebutuhannya. Hadiah pertama adalah konsol game keluaran baru, ia menerimanya tanpa komentar apapun. Lalu, hadiah kedua adalah sebuah mobil, yang langsung ia kembalikan pada sang kurir. Hadiah ketiga adalah tiket perjalanan ke Jeju, dan tanpa memikirkan perasaan kurir yang mengantar tiket tersebut, ia merobeknya menjadi serpihan. Dan masih banyak lagi hadiah yang pria itu kirimkan, bukan hanya kepadanya, Juhyun juga mendapat hadiah yang tak kalah 'mewah'. Jangan lupakan, berpuluh - puluh kotak kue atau makanan dari restoran yang ia suka, selalu dikirimkan ke kantornya saat jam makan siang. Ia terkadang membagikan makanan tersebut ke divisi lain karena terlalu banyak.
"Kyuhyun-ssi, will you marry me?", pria itu kembali menyodorkan kotak beludru yang sama, namun dengan cincin yang berbeda. Kali ini, batu mulia bernama Alexandrite yang bertahta di atasnya.
"Menyingkir", Kyuhyun membuang buket mawar tadi ke samping, lalu bersedekap. Barang mahal tidak akan membuatnya luluh, dan Kyuhyun tidak 'semurah' itu untuk menerima semuanya.
"Tidak. Aku akan menyingkir jika kau mengatakan ya"
"Kau menghalangi jalan dengan semua bawaan mu"
"Aku hanya membawakan mu bunga"
Wajah sok polos pria itu, jujur membuatnya geram setengah mati. Kesabarannya mulai menipis, waktunya juga semakin terbuang dengan pria itu berdiri didepannya dan menghalangi jalannya. Ini masih pagi, dan Siwon berhasil menghancurkan suasana hatinya hanya dalam hitungan detik. Kyuhyun merasa sedikit bersalah pada anggota divisinya, karena kemungkinan melampiaskan kekesalannya pada mereka sangatlah besar. Setidaknya, akan ada beberapa orang yang memaklumi sikapnya, dan yang lain mungkin akan menyumpah serapah dibelakangnya. Pandangannya melihat sekeliling, jalan setapak menuju pagar sudah dipenuhi dengan buket mawar, sepertinya jumlah buket ini mencapai lebih dari tujuh puluh buah.
"Berapa banyak?"
"Sekitar dua ratus buket...?"
"Dua ratus buket mawar? Yang benar saja...", ia menarik nafas dalam, sebelum menghembuskannya perlahan. "Aku tidak suka bunga, dan aku sudah katakan sedari tadi... MENYINGKIR!"
Ia menyarangkan pukulan diperut pria tersebut, cukup keras, berdampak untuk yang mendapat pukulan mundur beberapa langkah, sedikit oleng. Tanpa belas kasihan sedikit pun, ia menendang tulang kering pria tersebut, sebelum mendorongnya ke samping hingga jatuh tersungkur. Masa bodoh dengan undang - undang tindakan penganiayaan, pria ini sudah sangat mengganggunya. Kyuhyun memasuki mobilnya dan memacu kuda besi tersebut meninggalkan area perumahan yang ditinggalinya. Mulutnya sibuk menggumamkan sumpah serapah pada pria itu, bahkan hingga ia duduk di kursi kantornya, kalimat makian tak juga putus ia suarakan. Bekal yang ia bawa, segera ia habiskan sembari mengecek beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Hingga ia sampai pada pesan dari Siwon kemarin, membukanya lalu membacanya perlahan.
"Ya ampun, selain brengsek ternyata dia juga mesum...", jika pria itu datang lagi untuk menemuinya, hal pertama yang akan Kyuhyun lakukan adalah menamparnya. Akan ia ingat itu. Jemarinya mengetik cepat balasan untuk pria tersebut, kukunya mengetuk keras layar ponsel seakan berniat memecahkan kaca itu.
To: Shitty Won
Sekali lagi kau melakukan hal gila seperti menguntit ku, mengambil gambar ku diam - diam, atau datang ke rumah ku dan membuat keributan, aku akan memukul wajah mu dengan gagang pistol ku. Lalu, kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada deretan gigi busuk mu itu.
Ia memijat pelipisnya, kepalanya sakit karena harus berhadapan dengan orang sekeras kepala Siwon. Mungkin, setelah pulang kerja, ia akan menyetujui tawaran Ryeowook untuk pergi minum bersama Jaejoong, pria cantik itu akan di pindah tugaskan ke Daegu minggu depan. Itu artinya, ia hanya memiliki Ryeowook dan Yoochun di timnya saat ini. Perkataan Qian, mantan ketua divisi sebelumnya sekaligus ketua tim mereka dulu, benar - benar menohoknya. Ya, sudah saatnya Kyuhyun membentuk tim baru. Tetapi, entah mengapa ia belum menemukan orang - orang yang cocok. Mungkin, ia akan masuk ke tim acak dulu sebelum membentuk tim tetap. Mencari orang - orang sehebat Kim Jaejoong dan Song Qian, bukanlah hal yang mudah. Ia tersentak dari lamunannya saat merasakan ponsel di genggamannya bergetar, menandakan pesan masuk.
From: Shitty Won
Apa pun yang kau minta, aku akan memenuhinya. Tapi, izinkan aku memanggil mu Kyuhyun atau Kyuhyunnie :D
Kyuhyun hanya menggeleng pelan, lalu menutup pesan tersebut tanpa membalasnya. Biarkan saja Siwon memutuskannya sendiri, ia sudah terlalu pusing menghadapi segala keanehan yang pria itu lakukan. Dengan mengingatnya saja, terasa seperti memperpendek umurnya sebanyak lima tahun. Mengemas kembali kotak bekalya, ia pun memfokuskan pandangan pada beberapa berkas yang akan menjadi bahan rapat pagi ini. Sudah cukup bermain - main, sekarang ia harus fokus bekerja untuk membuktikan pada para tua bangka itu bahwa dirinya pantas duduk di kursi jabatan sebagai seorang ketua divisi.
Seven Marriage Proposal (1) : To be Continued
A/N:
Jadi... Siapa yang kemarin udah ngamuk - ngamuk ke Siwon? Hyoloh, kena prank sama author nya biar ngeliat kalau Siwon itu jahat /digebuk massa. Tapiii, sejujurnya memang salah sih caranya Siwon, cuma konsepnya aja yang udah benar. Intinya dia mau menghadapkan Kyu dengan ingatan masa lalu yang jadi traumanya, biar Kyu sendiri gak begitu freak out lagi sama orang - orang yang mendekat ke dia.
Alasan utama mengapa pasien tidak bisa sembuh dari PTSD adalah karena mereka menghindari ingatan buruk yang mereka miliki, bukan mencoba melawannya.
Hadapi memori traumatis itu, dari pada terus menerus menghindarinya.
Yang diatas cuma 'Sekedar Info' yaa.
Oh iya, kalau ada yang masih ingat sama Epilog Your Sick Game of Hide and Seek, di situ ada bagian yang bilang kalau Kyu tau gimana bahaya nya kata - kata Siwon karena dia pernah ngalamin sendiri rasanya hampir bunuh diri cuma dengar kalimat 'dorongan' dari Siwon. Maksudnya itu yang part kemarin ya, dia kan hampir nyekik diri sendiri gara - gara di trigger sama kata - kata Siwon yang sekaligus bangkitin traumanya lagi.
Maaf karena author note nya kepanjangan, hanya ingin berbagi info hwhwhw. Maafkan juga jika ada typo yang bertebaran. Jangan lupa untuk review ya buat penyemangat author bikin lanjutannya
