Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART III
[ Seven Marriage Proposal (2) ]
"Aku bawa makan siang untuk mu. Juhyun-ssi bilang, kau sedang ingin makan ayam"
Kyuhyun mendongak saat mendengar suara familiar tersebut. Ia menghela nafas lalu menutup file laporan yang ada diatas mejanya. "Aku tidak minta kau yang bawakan"
"Kyuhyunnie kejam sekali"
Dahinya berkedut kesal. Segera saja ia mengemasi barangnya lalu berjalan keluar dari ruang kantor. "Diam Choi, makan saja ayam itu sendiri. Aku ada janji, dan jangan mengikuti ku"
"Aku tidak boleh ikut?"
"Tidak", ia hanya melirik sebentar pada kotak berisi ayam goreng yang pria tersebut bawa. Oh, menggiurkan tapi Kyuhyun tidak boleh goyah, apa lagi dengan wajah memelas yang pria itu perlihatkan.
"Jadi kali ini aku makan siang sendiri lagi?"
"Entahlah, pergi ganggu orang lain. Ayo Juhyun, kita tidak boleh terlambat", pandangannya terarah pada sang adik yang baru saja akan melangkah ke kantornya. Membiarkan wanita tersebut menggamit lengannya, mereka berdua pun berjalan keluar dari ruang Divisi Invetigasi Pembunuhan. Adik sepupunya itu memilih untuk diam, karena kejadian tadi sudah seperti rutinitas mereka selama dua bulan belakangan.
Ya, selama dua bulan ini, semenjak ia menolak lamaran kedua dari pria bermarga Choi itu, Siwon selalu datang untuk mengajaknya makan siang. Tak jarang ia menolaknya, dan tak jarang juga ia membiarkan pria itu ikut makan siang dengannya. Ryeowook dan Juhyun juga akan pergi bersama mereka, walau terkadang keduanya tidak duduk satu meja dengan mereka. Perlahan - lahan, ia juga terbiasa dengan kehadiran pria itu, bahkan terlalu terbiasa untuk berinteraksi lewat verbal maupun fisik. Mimpi buruknya juga tidak mengganggu lagi, walaupun terkadang bunga tidur itu akan mengusiknya, ia tidak pernah merasakan ketakutan berlebih lagi. Semua terasa baik - baik saja, hingga dua hari yang lalu, surat dari rumah sakit jiwa tempat Seohyun praktek, diantar ke rumahnya. Panggilan resmi dari dokter spesialis kejiwaan yang menanganinya itu, membuat ia harus menelan pil pahit yang menyadarkan bahwa dirinya masihlah salah satu 'pasien' rawat jalan.
Kyuhyun tentu lulus pada tes kejiwaan saat masuk akademi kepolisian, karena kondisi traumanya tidak berhubungan dengan pertanyaan tes tersebut. Terlebih, rekam mediknya disimpan rapi oleh dokter yang merupakan kenalan sang ibu angkat. Sejak ia berusia dua belas tahun, dokter Seo selalu mengatakan padanya untuk menyalurkan rasa takutnya pada hal lain yang dapat memfokuskan pikiran dan energinya. Kyuhyun memilih untuk berlatih beladiri, selain berhitung dan membaca tentunya. Wing Chun dan Arnis menjadi pilihannya. Namun, ia berhenti belajar Arnis tiga bulan setelah membunuh dua orang pelaku pelecehan seksual. Beladiri yang memiliki nama lain 'Kali' dan 'Eskrima' ini, menjadi jalan dalam serangan cepat yang Kyuhyun lakukan saat itu. Ia berhenti bukan karena rasa penyesalan telah membunuh orang lain, justru ia berhenti karena pelatih serta teman - teman ditempat latihannya, menatap ia dengan gurat takut. Mereka akan membuang pandangan setiap kali ia memilih pisau sedangkan yang lain memilih tongkat sebagai alat latihan. Kyuhyun tidak peduli dan melangkah keluar dengan dagu terangkat.
Namun, semua berubah setelah satu tahun ibu angkatnya meninggal. Ia mulai mendapat terror dari bunga tidurnya lagi, hingga ia harus datang kembali menemui dokter Seo. Kembali meminum obat rutin dan datang untuk sesi pertemuan sesuai janji yang disetujui. Mengingat kesembuhannya di usia lima belas tahun, tidak ada satu pun rekan dari kepolisian yang mengetahui perihal ini, kecuali Juhyun yang merupakan adik sepupunya, dan Ryeowook yang merupakan temannya sejak dari sekolah menengah pertama. Dokter Seo akhirnya mengalihkan tanggung jawab pada putri tunggalnya, Seo Joohyun, sekitar satu tahun yang lalu. Wanita itu baru saja lulus spesialis dan praktek menggantikan ayahnya. Itu juga merupakan salah satu alasan, mengapa wanita tersebut berhak memanggilnya untuk datang ke rumah sakit walaupun ia merasa baik - baik saja. Kyuhyun sedikit tenang karena adik sepupunya bersikeras untuk ikut datang menemaninya. Dan, disinilah mereka sekarang, duduk berhadapan dengan Seohyun.
"Sudah berapa lama?"
"Tiga bulan mungkin... Benarkan, oppa?"
Ia menghela nafas pelan, tatapan lembut yang dilemparkan Seohyun, sungguh mengganggunya. Ia mencoba untuk tidak menumpahkan kekesalannya pada wanita itu. Bagaimana Kyuhyun tidak kesal? Dokter spesialis kejiwaan, atau bisa disebut juga sebagai psikiater, yang menanganinya ini ternyata memanggil dirinya hanya untuk menggali informasi. Wanita itu sudah mengetahui perihal Choi Siwon yang mencoba mendekatinya, terlebih setelah pria tersebut beberapa kali mampir ke rumahnya. Sang paman pasti bertanya tentang kondisinya pada Seohyun. Walaupun paman dan bibinya tidak berkomentar perihal Siwon yang berusaha mendekatinya, bukan berarti kedua orang tua tersebut setuju.
"16 minggu setelah pertemuan pertama, 14 minggu setelah lamaran pertama, dan 8 minggu lebih 5 hari setelah lamaran kedua"
"Kau menghitungnya, Kyuhyun? Sepertinya, Choi Siwon-ssi sangat 'berkesan' untuk mu?"
"Aku selalu berhitung untuk melatih fokus ku dan ayah anda yang menyarankannya. Hanya mengingatkan kalau anda lupa, dokter"
"Kyuhyun, kenapa formal sekali? Tidak seperti biasanya"
Seohyun tertawa pelan sembari mengibaskan sebelah tangannya, mencoba mencairkan suasana pekat yang tercipta diruangan tersebut. Wanita itu berhenti dengan senyum manis, menutupi rasa pahit dari kekecewaan saat melihat Kyuhyun yang justru menatap bosan kearahnya. Seohyun bisa melihat ekspresi muak diwajah lawan bicaranya, pemuda itu terang - terangan memaparkan gurat ketidaksukaannya, membuat wanita tersebut harus menelan bulat - bulat rasa sakit hati yang terkecap hambar di lidah. Namun, tentu saja sesi hari ini tidak berakhir sekarang. Mereka baru saja akan memulai sesi yang 'sebenarnya', tanpa interupsi dari si adik yang terus menerus mengganggu momen berharganya dengan 'pasien' istimewanya.
"Baiklah, sekarang sesi pribadi. Nona Bae, anda boleh keluar dulu"
"Tidak mau. Oppa tidak akan masalah kalau aku ada disini", Juhyun menatap sengit kearah psikiater yang menangani kakak sepupunya itu. Ia tidak akan tertipu dengan senyuman itu, karena ia lebih percaya pada intuisinya.
"Aku ingin adik ku disini"
Kalimat Kyuhyun yang terdengar mutlak, sukses menarik perhatian kedua wanita tadi, yang saat ini sedang bersitatap. Seohyun mengatupkan bibirnya, menahan amarah karena pemuda berkulit pucat itu tidak memihaknya. Kyuhyun selalu memihaknya saat akan membuat keputusan tentang terapi, namun sekarang, pemuda itu menolaknya. Memunggunginya. Seohyun tidak bisa menerima hal itu, padahal tinggal sedikit lagi. Jika saja pemuda itu rutin bertatap muka untuk melakukan sesi dengannya, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Dan ia, tidak akan membiarkan pemuda itu melepaskan diri darinya. Kyuhyun harus selalu membutuhkannya. Pemuda itu tidak boleh bergantung selain pada dirinya.
Ia berjalan kearah pemuda itu, menarik bahunya mendekat lalu berbisik pelan. "Kyuhyun, kau yakin? Kau ingin Juhyun tersayang mu tahu, apa dan siapa sebenarnya kau ini? Kau yakin dia bisa menerima mu? Apa yang akan dia pikirkan jika dia sampai tahu? Apa kau lupa? Hanya aku yang bisa menerima kondisi mu dan menyembuhkan mu... Kau percaya pada ku, 'kan?"
Kyuhyun membeku. Bayangan itu terlintas dimatanya, bagaimana Juhyun memandang jijik padanya. Semua orang boleh merendahkannya, mereka boleh menghinanya. Tetapi ia tidak akan bisa hidup, jika adik sepupu yang sudah bagaikan adiknya sendiri, menatap ia dengan tatapan benci dan jijik. Juhyun kecil yang selalu menggenggam tangannya, memeluknya, dan menangis untuknya. Wanita yang membuang mimpinya menjadi seorang model hanya untuk mengikuti langkahnya. Ia tidak peduli jika paman dan bibi membencinya, tapi tidak jika itu Juhyun. Satu kelemahannya yang tidak di sadari banyak orang, adalah dua orang wanita yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu ibu angkatnya dan adik sepupunya. Kyuhyun bahkan sampai terpukul berbulan - bulan setelah kematian Cho Hanna. Ia belum siap jika sang adik juga meninggalkan sisinya. Berpaling darinya.
Ia menunduk, tangannya terkepal kuat, sudah bulat dengan keputusannya. "Juhyun..."
"Oppa? Apa yang wanita itu-"
"Juhyun, dia lebih tua dari mu. Aku bisa melalui sesi ini sendiri. Pulanglah duluan"
"Oppa!"
"Irene"
Juhyun menatap kakak sepupunya itu dengan pandangan tajam. Sedangkan yang ditatap, berbalik memunggunginya dan berjalan menuju ranjang disudut ruangan tersebut. Kyuhyun hanya akan memanggilnya dengan nama 'Irene' pada saat - saat tertentu. Yang pertama, jika mereka berkumpul bersama Wendy, tetangga sekaligus sahabat dan teman kecilnya. Yang kedua, jika pemuda itu ingin berbicara masalah pribadi saat mereka masih berada dikantor, dalam jam kerja. Dan yang terakhir, adalah disaat seperti ini, dimana pemuda itu ingin ia menjauh. Menggertakkan giginya kesal, ia pun bangkit dan berjalan kearah pintu, semakin meradang saat melihat senyuman si psikiater yang tampak sinis. Seolah - olah wanita itu sedang mengejeknya.
"Baik. Aku pergi. Mobilnya ku bawa. Pikirkanlah sendiri cara untuk pulang!"
Dengan itu, ia keluar dan membanting pintu ruang praktek tersebut cukup kuat. Lorong rumah sakit itu tampak sepi, menghasilkan bunyi gema dari efek bantingan pintu tadi. Juhyun mengusap wajahnya kasar, ingin mengumpat tapi tidak bisa, mengingat janjinya pada sang kakak untuk tidak berkata kasar. Hipokrit memang, padahal pemuda itu suka sekali mengumpat dengan kata - kata yang bahkan terdengar tak layak untuk disebutkan. Ia berjalan pelan menyusuri lorong panjang tersebut, bersyukur karena tidak menemui satu manusia pun dalam perjalanannya, walau sedikit merutuk karena jarak yang cukup jauh menuju pintu keluar. Ruang praktek Seohyun memang berada dipaling ujung lorong itu. Rumah sakit jiwa hanya dibuka setengah hari setiap jumat dan sabtu untuk praktek dokternya, sedangkan bangsal untuk menjenguk pasien, berada di gedung lain. Tak heran mengapa siang ini tidak ada satu pun orang yang berpapasan dengannya.
"Dasar wanita ular! Apa - apaan dia itu?! Argh! Sial!"
"Bae Juhyun-ssi?"
Juhyun mendongak saat mendengar namanya di panggil. Dari arah berlawanan, ia menangkap sosok yang tak asing berlari kecil kearahnya. "Kau lagi... Aku curiga kau menanam implant tracker di ponsel kakak ku, Siwon-ssi"
"Ah, ya, aku sedang menguji coba software itu. Baru saja masuk tahap tujuh pengembangan untuk versi 3.0.2 yang akan di launching musim dingin nanti"
"Ah, sialan memang, kau pasti meretas ponselnya lagi. Sudahlah, aku tidak mau berkomentar tentang itu"
Setelah hening selama beberapa saat, Siwon akhirnya mengajak wanita tersebut untuk duduk dikursi tunggu. Ia bisa menangkap raut kesal dan khawatir, campur aduk diwajah wanita bersurai coklat itu. Calon adik iparnya ini mempunyai insting yang tajam jika itu berhubungan dengan sang kakak sepupu. Mungkin ia hanya berspekulasi, tetapi ia berani bertaruh, bahwa hal yang mengganggu Juhyun saat ini pastilah berhubungan dengan Kyuhyun.
"Ada apa?"
"Tidak ada untung nya kalau aku cerita pada mu", Juhyun menekan pangkal hidungnya menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, mencoba mengurangi rasa sakit yang mendera kepalanya.
"Benarkah? Aku bisa meretas kamera diperangkat elektronik ruangan dokter Seo", Siwon tersenyum tipis sembari mengeluarkan tabletnya.
Helaan nafas keras adalah respon pertama yang ia berikan, Juhyun pun bersedekap sembari menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. "Baiklah. Sepuluh poin untuk jadi calon kakak ipar ku, berapa poin mu sekarang?"
"Dua puluh poin, dan terimakasih. Akan lebih baik lagi kalau kita mulai menyudahi formalitas dalam panggilan kita"
"Masih ada 80 poin lagi, jangan senang dulu. Aku akan mengakui mu sebagai kakak ku, saat kau berhasil membuat Kyuhyun oppa memanggil mu 'hyung', Siwon-ssi"
Ia hanya tersenyum saat Siwon meresponnya balik dengan kekehan pelan. Awalnya, Juhyun memang mengira pria yang duduk disampingnya ini adalah orang brengsek. Ia bahkan sudah siap melawan orang - orang yang dikirim untuk membunuhnya. Hei, tentu saja ia tahu siapa orang yang di maki - makinya beberapa bulan yang lalu. Namun, hal itu tidak pernah terjadi, karena pria itu sendiri yang datang menemuinya dan meminta izin padanya perihal melamar sang kakak. Tentu saja ia tidak langsung menyetujuinya, bagaimanapun juga, pria tersebut adalah orang yang menyebabkan trauma kakak sepupunya kembali. Yah, sebelum akhirnya ia mengetahui apa yang dilakukan pria itu, sebenarnya untuk kebaikan kakaknya sendiri.
"Seohyun eonnie mengusir ku lagi dari ruang prakteknya. Aku tidak tahu sesi pribadi macam apa yang mereka lakukan, tapi yang jelas, Kyuhyun oppa akan tampak 'berbeda' setelah melewati sesi itu... Aku hanya khawatir meninggalkannya sendiri"
Siwon tertegun, selama beberapa saat, spekulasi - spekulasi buruk mengisi pikirannya. Namun, segera saja ia menepis hal tersebut. "Barang berkamera apa saja yang kau lihat di ruangan itu?"
"Laptop, ponsel... Tunggu, sepertinya aku juga melihat CCTV"
"Merk nya? Apa kau tahu? Salah satunya juga tidak masalah"
"Dia memakai semua barang dari perusahaan mu, itu sejauh yang ku ingat. Dia suka dengan brand terkenal, termasuk barang elektronik, dan beberapa kali pernah membicarakan perihal itu dengan Kyuhyun oppa"
"Baiklah, itu lebih mudah karena datanya ada pada database perusahaan ku. Pertama, masukkan identitasnya... Ini dia daftar kepemilikan dan pembelian. Sebentar... Oh, dia memakai dua puluh alat elektronik berkamera milik perusahaan ku", dan itu cukup banyak untuk pemakaian pribadi, pikirnya. "Lalu, kita penetrasi kode kerja keamanannya. Lihat, buka disini, potong disini, ubah disini... Oh, jangan lupa, masukkan kode peretasnya..."
Dalam sekejap, layar tablet tersebut dipenuhi dengan dua puluh potongan gambar. Ia mengernyit saat melihat empat diantaranya menampilkan sebuah kamar kosong, disana hanya ada sebuah ranjang dan tanpa jendela. Namun, ia segera menepis rasa penasarannya itu dan fokus pada apa yang mereka butuhkan saat ini. "Got it, tepat sesuai tebakan mu. Satu kamera laptop, satu kamera ponsel, sepertinya dia sedang mengantongi ponselnya, dan dua CCTV. Untuk jaga - jaga, kita tidak bisa merekam, jejak ku meretas bisa tertinggal. Aku akan coba retas audio ponselnya karena bagian kamera tidak berfungsi"
Butuh waktu selama beberapa menit hingga akhirnya Siwon berhasil meretas audio ponsel milik sang psikiater. Ia menekan tombol khusus sebelum menarik sisi kiri gadget tersebut, memperlihatkan layarnya yang berubah menjadi sepuluh sentimeter lebih lebar. Tentu saja ia melakukan hal tersebut agar mereka bisa melihat fokus kamera yang baru saja diretas tadi dengan lebih leluasa. Tak lupa ia memberikan salah satu earphone Bluetooth miliknya agar Juhyun bisa ikut mendengar suara yang tertangkap. Gesekan dari bahan kain pada speaker ponsel yang mereka retas, menghasilkan bunyi gemerisik yang mengganggu. Namun, itu tidak cukup untuk menghalangi mereka menangkap percakapan yang terjadi antara dokter dan pasien itu.
Rahangnya mengeras saat mendapati apa yang saat ini sedang terjadi diruangan praktek tersebut. Siwon memperhatikan gerak - gerik Kyuhyun yang tampak kaku, bahkan saat wanita berstatus dokter spesialis kejiwaan itu mendorong pemuda tersebut agar berbaring diranjang pemeriksaan. Bibirnya terkatup rapat, mendapati Seohyun duduk diatas perut pujaan hatinya. Wanita itu tampak sedang melepas pakaiannya dengan gerakan sensual, dan Siwon merasa sangat lega saat pemuda tersebut berusaha menghentikan wanita itu. Walaupun dengan tangan yang gemetar hebat, itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Kyuhyun tidak menyukai tindakan sang psikiater.
Berbeda dengan Siwon, Juhyun justru terbakar emosi. Bahasa tubuh kakak sepupunya, jelas - jelas mengatakan bahwa pemuda itu merasa sangat tidak nyaman saat ini. Dan hal tersebut, cukup untuk menumpahkan rasa murka yang sedari tadi ia tahan. "YAK! WANITA ULAR ITU! AKU AKAN MEMANGKAS RAMBUTNYA SAMPAI BOTAK!", ia tidak terima menyaksikan sang kakak dipermainkan seperti itu.
"Juhyun-ssi, tunggu dulu. Kita harus melihatnya lebih lanjut"
Siwon mengerti mengapa wanita disampingnya ini berteriak dan menggeram, bahkan nada suaranya meninggi, terdengar tajam sarat akan amarah. Apa yang Seohyun lakukan, justru memperburuk kondisi Kyuhyun. Terlebih, mereka bisa mendengar apa yang dibicarakan keduanya, itu membuat ia semakin sadar bahwa wanita yang sedang memojokkan cintanya itu, berusaha memutar balikkan kondisi pemuda tersebut menjadi semakin menyedihkan. Membuat pemuda itu semakin ketergantungan dengan kebohongan - kebohongan manis yang mengalir dari bibir berpoles lipstik itu. Dan ia akan menuntut balas atas apa yang wanita itu perbuat, ia akan tunjukkan apa arti dari ketakutan yang Kyuhyun rasakan. Bukankah dipaksa melayani banyak orang akan lebih dari cukup untuk menanamkan memori traumatis yang kuat? Karena mati akan terlalu mudah untuk orang - orang seperti wanita itu. Namun sekarang, ia harus fokus menarik 'calon istrinya' tersebut keluar dari masalah ini.
###
"Seohyun... Aku bilang, aku tidak mau. Aku tidak bisa. Jangan seperti ini"
Kyuhyun menahan kedua lengan lawan bicaranya, berusaha menghalangi wanita itu untuk bertindak lebih jauh. Inginnya mendorong wanita tersebut menjauh, tetapi keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Tubuh Seohyun sedang menghimpitnya saat ini, dan wanita itu sedang berusaha membuka kemeja seragamnya. Wanita tersebut sudah melepas jas dokternya, dengan kemeja yang terbuka dan menggantung disebelah lengan, menampakkan payudara yang masih tertutupi bra tali berwarna hitam serta kulit telanjangnya. Kyuhyun mengalihkan pandangannya kesamping, sebagai laki - laki yang sehat, tentu saja ia merasa ikut bergairah. Namun, ia tidak serendah itu untuk langsung menyentuh apa yang ada didepan matanya. Bagaimanapun juga, ia memiliki seorang adik perempuan yang sangat ia jaga kehormatannya, dan dengan menyentuh wanita didepannya ini, jelas sekali itu membuatnya sebagai seorang munafik.
Tubuh wanita itu semakin menghimpit tubuh pucat dibawahnya. Payudaranya menekan dada pemuda tersebut, sebelum bibirnya mendekat pada telinga Kyuhyun yang mulai memerah. "Kyu, lupakan apa yang para pria itu lakukan pada mu. Rasanya sakit, kan? Tentu, kau tidak perlu mengingatnya. Kau harus bisa menciptakan memori baru... Bahwa kau yang berkuasa. Selama ini, selalu kau yang berada di puncak rantai makanan. Lupakan hal yang membuat mu sakit, hal itu tidak pernah terjadi. Karena kau adalah seorang Cho Kyuhyun. Sejak lahir, kau adalah Cho Kyuhyun, itu nama mu"
"Aku...-"
"Semua yang kau alami, hanyalah mimpi buruk, dan mimpi hanyalah bunga tidur. Itu bukanlah hal nyata, tidak pernah terjadi sekalipun di hidup mu. Karena kau adalah anak 'kandung' dari Cho Hanna dan Cho Younghwan. Kau percaya pada ku, bukan?", Seohyun merasakan kemenangan semakin dekat saat pemuda dibawahnya melemahkan cengkraman pada kedua lengannya.
"Ya... Aku, aku percaya pada mu..."
"Lalu, kau tahu, hubungan sesama pria itu sangat dilarang, bukan? Tabu bagi kita, suatu kesalahan. Rasakan lah, tangan pria di ciptakan untuk melingkupi tubuh wanita. Disini...", jemari lentik itu bergerak cepat untuk mencengkram pergelangan tangan yang lebih besar darinya. Perlahan, menuntun kedua tangan tersebut untuk menyentuh apa yang tertutupi bra hitam tadi. "Untuk memberi kepuasan sekaligus untuk memuaskan rasa superior kalian. Dan juga, dibagian ini"
Saat tangan pucat itu nyaris menyentuh bagian kemaluan milik wanita tersebut, keduanya dikejutkan dengan pintu yang dibuka paksa dari luar. Suara tembakan dan tendangan, mendahului suara bantingan kayu pintu dengan dinding. Kyuhyun reflek bangun dalam posisi duduk dan Seohyun juga terburu - buru menyingkir, memperbaiki penampilannya. Netranya menangkap sosok Siwon yang menatap nyalang pada wanita bergelar dokter kejiwaan tersebut, pistol tergenggam erat ditangan pria itu. Ada rasa lega dan takut yang mendesak didadanya, entah mengapa ia merasakan setitik rasa bersalah dihatinya.
"Cho Kyuhyun...", mereka bersitatap selama beberapa saat, sebelum Kyuhyun memilih untuk menundukkan kepalanya.
Juhyun menatap miris keadaan kakak sepupunya itu. Pemuda tersebut tidak sadar bahwa dia sedang terguncang, sangat terguncang. Jemari pucat itu tampak mengeratkan genggaman pada bagian kancing bajunya, seakan - akan takut jika seseorang akan menelanjanginya saat itu juga. Pupil coklat itu bergerak tak fokus, melihat kearah sekitaran lantai keramik putih polos dibawahnya, seperti mencari - cari sesuatu yang hilang. Ia sangat ingin memeluk pemuda itu, mengatakan bahwa semuanya baik - baik saja. Namun, ia sadar, jika hal tersebut ia lakukan justru akan memperparah keadaan sang kakak. Itulah mengapa, Juhyun lebih memilih untuk berdiri dibelakang Siwon, membiarkan pria itu yang melangkah maju untuk menghampiri Kyuhyun.
"Si, Siwon..."
"Jangan konyol. Kau harus menghadapi kenyataan, jangan berdelusi bahwa kau baik - baik saja. Jangan menelan bulat - bulat kalimat busuk yang kau dengar. Masa lalu mu adalah bagian dari apa yang membentuk mu saat ini, jangan pernah menyesalinya", tangan besar itu mencengkram lengan pemuda tersebut, ia menggertakkan giginya saat merasakan tubuh pucat itu gemetar kuat, tremor. Menyeret Kyuhyun paksa untuk turun dari ranjang pemeriksaan sembari menahan gejolak emosi yang bergemuruh didadanya, Siwon melangkah untuk berhadapan dengan Juhyun yang sedari tadi diam dengan ekspresi kaku. "Ikut aku. Juhyun-ssi, aku akan mengantar Kyuhyun ke rumah"
"Apa aku bisa percaya pada mu?"
"Potong lidah ku jika aku mengingkari janji ku. Ya, aku akan menjaganya"
"Baik. Aku akan bereskan yang disini"
Juhyun menatap sang kakak yang hanya bisa menunduk dalam saat melewatinya. Pemuda itu bahkan tidak mengatakan sepatah katapun saat Siwon menyeretnya pergi, mungkin masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memutus fokus setelah punggung keduanya tak terlihat lagi, memindahkan atensinya pada wanita lain yang berada diruangan itu. Ia berjalan mendekat kearah wanita tersebut, gema dari derapan berat kakinya yang beralas sepatu boot, mengisi keheningan. Tatapannya keras dan dingin, berhasil mengunci pergerakan figur yang saat ini sedang menatapnya sengit. Juhyun tidak takut, dirinya melangkah tenang dengan tangan terkepal kuat, memusatkan murkanya pada kepalan tersebut hingga buku - buku jemarinya memutih. Ia berhenti tepat didepan wanita itu, memojokkannya pada sebuah lemari besi yang berada disudut ruangan.
"Nona Seo Joohyun, atau kau ingin ku panggil Seohyun eonnie? Kita harus bicara empat mata terlebih dahulu"
"Keluar", psikiater itu berkata dengan tajam dan mendesis penuh amarah. Benar - benar seperti ular, itu pikir Juhyun.
"Aku tidak akan bersikap seperti mu jika sudah berada diujung tanduk kematian"
Kepalannya tadi terangkat, bergerak cepat menghantam lemari besi dibelakang sang psikiater sehingga menimbulkan bunyi keras yang cukup memekakkan telinga. Besi itu tampak terdorong sedikit kedalam, penyok. Yang lebih tua tampak pias saat menyadari pukulan itu nyaris mengenai sisi wajahnya. Ia bukanlah wanita lemah, ia bahkan mengikuti kelas beladiri yang sama dengan Kyuhyun. Juhyun tersenyum, sarat akan intimidasi, ia lalu mendekatkan bibirnya pada telinga wanita tersebut dan berbisik dengan nada mengancam.
"Aku serius. Jika kau berani berkompetisi dengan iblis, kau seharusnya sudah siap untuk mati kalau ketahuan bermain curang. Jangan lupakan bonus siksaannya, karena kali ini, kau berhadapan dengan raja para iblis itu sendiri. Dan aku akan dengan senang hati memberi si raja iblis itu jalan untuk 'menemui' bahkan 'membalas' mu, Seo Joohyun-ssi"
###
Setelah menghabiskan lima menit untuk merenungi apa yang baru saja terjadi, Kyuhyun sedikit tersentak saat netranya menangkap sekeliling. Entah bagaimana caranya, ia sudah berada di pelataran parkir, terlebih lagi, tepat disamping mobil milik pria bermarga Choi itu. Bagaimana ia bisa mengenali mobil milik pria itu? Yang pasti bukan karena menghapal nomor platnya. Kuda besi keluaran Audi tersebut, merupakan salah satu koleksi barang mahal milik Siwon, bahkan salah satu yang merupakan favoritenya. Namun, bukan itu fokus yang ia maksud sekarang. Dirinya tidak ingin terjebak dalam satu tempat dengan pria itu, apa lagi hanya berdua. Sialnya, ia tidak sempat melarikan diri, pergelangan tangannya sudah dicengkram dan tubuhnya dipojokkan pada pintu kursi penumpang saat ia baru akan mengambil langkah mundur.
"Lepaskan aku"
"Tidak"
"Yak! Aku bilang, LEPASKAN!"
"Akan ku lepaskan kalau kau mau masuk kedalam"
Kyuhyun menggertakkan geliginya, rasa kesal, bersalah, takut, dan kecewa pada diri sendiri, sukses membuat ubun - ubunnya berasap. Lengannya yang bebas, ia gunakan sebagai alat menyerang. Sikunya terangkat, melakukan gerakan memutar cepat dan mengarahkan bagian keras ditubuhnya itu pada rahang yang lebih tua. Namun, pria itu juga tidak kalah cepat menangkis serangannya. Ia mendecih pelan sebelum merampas pistol milik pria tadi dan memegangnya terbalik, seperti tongkat. Siwon yang menyadari tehnik tersebut, segera merunduk dan mengambil langkah mundur, menghindari serangan cepat yang pemuda itu arahkan padanya. Ia akui, ia sedikit terpojok karena Kyuhyun sangat gesit. Itu Kali Arnis, pikirnya, tehniknya yang mematikan bisa membunuh lawan jika si pengguna berkeinginan seperti itu. Tetapi, ia sedikit merasa lega karena pemuda tersebut tidak menyerang dengan tenaga penuh dan menghindari pukulan pada titik vital. Jika Kyuhyun bersungguh - sungguh, kemungkinan Siwon berakhir koma dirumah sakit, sangatlah tinggi.
Mereka melakukan hal tersebut selama beberapa menit ke depan, dengan Kyuhyun yang terus menyerang dan Siwon yang lebih pasif tetap pada posisi bertahan. Hingga mereka sampai pada satu titik, dimana tangan keduanya sama - sama berada dileher lawan. Nafas Kyuhyun sedikit memburu, tatapannya yang keras, perlahan - lahan melunak lalu tampak berkaca - kaca. Ia marah pada dirinya sendiri, sungguh kentara merasakan kekecewaan berat atas apa yang terjadi tadi. Rendah sekali dirinya hingga nyaris melakukan tindakan tak senonoh dengan psikiaternya sendiri. Walaupun bukan ia yang memulai, seharusnya ia bisa menghentikan wanita itu, bukannya malah menyerah dan tenggelam dalam delusinya sendiri. Tangan keduanya perlahan turun, ia segera menghapus tetesan bening yang lolos dari sudut matanya. Kali ini, ia membiarkan pria tersebut menuntunnya masuk kedalam mobil. Hanya keheningan yang mengisi selama perjalanan pulang, dan ia cukup berterimakasih karena pria itu tidak mengatakan apapun.
Siwon memaklumi tindakan pemuda tersebut yang menyerangnya secara tiba - tiba. Ia memang membiarkan Kyuhyun mengeluarkan emosi yang sedari tadi tertahan dengan cara seperti itu. Tidak sampai tiga puluh menit, Audi miliknya sudah terparkir rapi didepan rumah keluarga Bae. Pemuda itu masih termenung dalam diam sembari menatap keluar jendela. Menghela nafas pelan, ia pun meraih sebuah kotak kecil dari dashboard, menyembunyikan benda itu dibalik telapak tangannya, sebelum memulai pembicaraan. "Itu yang dia sebut 'terapi'? Jangan bercanda... Kyuhyun, sudah berapa kali hal seperti itu terjadi?"
"Itu bukan urusan mu", memang benar. Tapi, entah mengapa Kyuhyun mengatakan kalimat itu dengan nada pelan. Seperti tak yakin. Ia tahu, Siwon menahan diri untuk tidak menanyakan perihal ini sepanjang perjalanan pulang. Tetapi, ia juga tidak menyangka bahwa pria itu akan menanyakannya sekarang.
"Menjadi urusan ku, karena kau calon istri ku"
"Siapa yang bilang kalau aku mau jadi istri mu?!"
"Aku yang bilang. Dan aku yang akan memastikan bahwa kau akan mengganti nama keluarga mu menjadi 'Choi', cepat ataupun lambat", menarik nafas dalam, ia lalu menghembuskannya perlahan. Netra kelamnya mengunci pandangan si pemilik netra coklat karamel, tatapan yang dilemparkannya sarat akan kesungguhan. "Apapun itu masa lalu mu, apapun itu yang orang lain katakan tentang mu, dan apapun rupa mu kedepannya, aku hanya akan memuja serta mencintai mu seorang. Tidak akan ada yang bisa menghalangi ku untuk mencintai mu, termasuk rasa inferior yang ada dalam dirimu. Maka dari itu, Cho Kyuhyun, will you marry me?"
Siwon membalik telapak tangannya, lalu membuka kotak kecil yang diambilnya tadi, memperlihatkan sebuah cincin dengan ukiran floral. Batu berwarna hijau duduk sebagai mahkotanya, berpadu manis dengan emas putih yang merupakan bahan dasar cincin tersebut. Secara keseluruhan, perhiasan kecil itu tampak sangat glamour. Tetapi, menurut Kyuhyun, benda bernilai jutaan won itu tidak akan cocok jika melingkar dijari manisnya. Ia dapat melihat kesungguhan dari kalimat pria tersebut, namun ia belum siap untuk melangkah lebih jauh. Ia butuh lebih banyak waktu, tidak secepat ini, walaupun hatinya meronta tetapi otaknya menolak. Menghela nafas, ia lalu menatap yang lebih tua dengan senyuman tipis. Sekuat tenaga, menahan desiran asing yang bersumber dari jantungnya.
"Cincin baru lagi?"
"Ini Emerald, aku baru mengunjungi Kolombia seminggu yang lalu. Aku harap kau menyukainya"
"Walaupun aku menyukainya, jawaban ku masih sama. Cobalah lain kali Siwon-ssi, dan jangan menghamburkan uang mu hanya untuk cincin baru", ia menutup kotak tersebut, menggenggam tangan pria itu lalu sedikit mendorongnya kearah si pemilik untuk mempertegas perkataannya. "Terimakasih sudah mengantar ku pulang... Hyung"
Ia terkekeh pelan melihat yang lebih tua tertegun sembari mengerjap cepat beberapa kali, bahkan hingga ia turun dari mobil, pria itu masih membeku karena dilanda keterkejutan. Kyuhyun melangkah cepat dan masuk kedalam rumah tanpa melihat ke belakang, tidak menghiraukan Siwon yang beberapa kali memanggil namanya dengan nada yang kentara terdengar gembira. Menyapa paman dan bibinya yang sedang bersantai diruang duduk, lalu segera berlari menuju kamarnya, ia dapat merasakan wajahnya menghangat bagaikan tersengat sinar matahari musim semi. Jantungnya berdebar keras. Ia meraih ponsel dan membuka pesan yang baru saja masuk, membacanya perlahan lalu menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyuman. Siwon kembali mengiriminya kata - kata manis, tak lupa tipografi hati yang menyertai pesan singkat tersebut menjadi pemanis. Ia hampir tidak percaya kalau dulunya, ia berpikir bahwa pria itu adalah sosok brengsek yang sombong dan dingin. Setelah mengenal Siwon lebih jauh, menurutnya pria tersebut justru adalah sosok yang hangat dan manis, walaupun masih saja brengsek.
Siang berganti malam dalam waktu yang relatif cepat, Kyuhyun menghabiskan waktunya bersama sang adik yang saat ini sudah tertidur dipelukannya. Siang tadi, ia menyambut gembira Juhyun yang pulang ke rumah dua jam setelah ia sampai, namun wanita itu tampak berantakan dengan wajah keruh dan pundak kaku. Suasana hati adik sepupunya itu sedang benar - benar hancur, sehingga ia hanya bisa menutup rapat mulutnya, seketika teringat akan kejadian diruang praktek Seohyun. Namun, wanita itu langsung menerjangnya dalam pelukan dan menangis tersedu, mengatakan bahwa dia tak mungkin membenci sang kakak karena tanpa Kyuhyun katakan sekalipun, Juhyun sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu pemuda itu. Walau hanya dengan sedikit meraba - raba dari segelintir informasi yang diutarakan sang psikiater, wanita itu bisa menangkap dengan baik, separah apa trauma yang dialami kakak sepupunya. Selama ini, Tuan Bae hanya mengatakan bahwa Kyuhyun trauma akan sentuhan yang berlebihan atau intim, sehingga Juhyun cukup terpukul setelah mengetahui kebenarannya. Wanita berusia seperempat abad itu bahkan sempat merasa terguncang dan mual.
Mereka menghabiskan waktu bersama dikamar Kyuhyun. Dari bermain game hingga menonton drama sembari makan malam dikamar, yang berlanjut hingga menonton film aksi dengan sepuluh cup besar eskrim berbagai rasa sebagai teman untuk indra pengecap. Sang adik yang duduk bersandar pada dadanya, tertidur lebih cepat, bahkan sendok eskrim masih berada dimulut wanita itu. Ia tersenyum dan segera menyingkirkan sendok tersebut dan sedikit membersihkan sekitaran mulut dan kedua tangan wanita tersebut menggunakan tisu basah, sebelum memindahkan Juhyun ke kamarnya sendiri. Dasar bayi besar, itu pikirnya selama beberapa saat. Namun, mengingat sang adik yang tampak kelelahan, tertekan, dan sedikit terguncang itu juga merupakan kesalahannya, ia hanya bisa menghela nafas berat sembari tersenyum getir. Wanita itu tidak membencinya ataupun merasa jijik padanya saja sudah suatu keajaiban, ia hampir putus asa saat menunggu adik sepupunya itu pulang ke rumah siang tadi.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan ia baru saja selesai mandi, entah mengapa tubuhnya terasa lengket lagi setelah makan eskrim. Mungkin, ini juga disebabkan karena kegiatan 'perang lempar eskrim' yang ia lakukan dengan Juhyun tadi. Kembali melanjutkan maraton filmnya sembari menghabiskan sisa dua cup eskrim, ia pun sedikit tersentak saat pintu kamarnya terbuka. "Kau mengagetkan ku. Ketuklah pintu sebelum masuk, Tuan Kim"
"Ayolah, Cho, kau yang merengek di email dan meminta ku datang... Ya ampun, kau bisa sakit perut kalau terlalu banyak makan eskrim... Berhentilah sebelum menyesal, Penguin Cho! Aku heran, kenapa Siwon-ssi bisa menyukai mu", Ryeowook mengernyit ngeri saat melangkah memasuki kamar milik sahabatnya itu.
"Yak! Aku meminta mu datang kesini bukan untuk mendengar komentar seperti itu, Kim!"
Memang Kyuhyun yang meminta pemuda itu untuk datang, ia membutuhkan seseorang untuk menjelaskan padanya mengenai debaran aneh yang ia rasakan. Maka dari itu, setelah menjabarkan semuanya melalui pesan yang ia kirimkan pada sahabatnya, barulah ia bisa menghabiskan waktu bersama sang adik dengan tenang. Melihat penampilan Ryeowook saat ini yang masih mengenakan seragam kepolisian, pastilah pemuda itu baru saja kembali dari kantor dan bergegas menemuinya. Ia membiarkan pemuda tersebut mengambil posisi duduk diatas ranjang, sehingga bisa meraih kepalanya dengan mudah. Tak lama kemudian, ia bisa merasakan udara hangat dari mesin pengering rambut dan garukan halus dikulit kepalanya oleh sisir yang pemuda itu genggam. Ryeowook selalu seperti ini saat melihat ia duduk dengan rambut yang basah, bahkan terkadang sahabatnya itu membantu ia memperbaiki penampilannya. Namun, tanpa kata terucap, ia selalu berterimakasih atas perhatian yang pemuda tersebut curahkan untuknya.
"Sudahlah, terima saja lamarannya", tangan berjemari pendek itu sibuk mengeringkan dan menyisir surai berantakan milik yang lebih tinggi. "Dia sudah melamar mu tiga kali, dengan cincin berbeda. Mungkin yang keempat kalinya dia akan menyerah"
"Tidak mungkin. Si maniak itu bahkan masih mengirimi ku pesan berisi rayuan gombal busuknya itu sampai sekarang", Kyuhyun memperlihatkan belasan pesan masuk dan itu semua berasal dari satu kontak yang sama.
Ryeowook melirik sekilas pada pesan - pesan tersebut, lalu mengedikkan bahunya. "Siapa yang tahu, Kyu? Bisa saja dia akan lelah karena kau menginjak - injak hatinya"
"Bukannya dulu kau mengatakan dia orang yang berbahaya? Kau yang memperingatkan ku. Lalu sekarang, kenapa kau menyuruh ku menerima lamarannya?"
"Dengar, aku punya alasan", Ryeowook mencubit pelan pipi gembil itu. Merasa gemas dengan wajah bingung yang diperlihatkan Kyuhyun saat ini. "Menurut ku, dia benar - benar mencintai mu"
Ryeowook tertawa lepas saat Kyuhyun menampik tangannya. Oh, ia hanya tidak tahan melihat ekspresi bingung dengan pipi bulat itu yang sedikit menggembung. Manis sekali, pikirnya. Ia lalu meletakkan pengering rambut dan sisir tadi diatas nakas setelah selesai dengan kegiatannya. Mengambil tempat untuk duduk disamping sahabatnya itu, ia lalu menautkan jemari pada sebelah tangan mereka dan meremat lembut tangan pucat yang lebih besar dari miliknya itu. Tubuh Kyuhyun memang lebih tinggi dan besar daripada Ryeowook, namun saat mereka hanya duduk berdua seperti ini, pemuda itu terlihat lebih seperti anak - anak dibandingkan dengan dirinya.
"Jika sedari awal dia hanya ingin mempermainkan mu atau membawa mu menjadi 'koleksi' barang mahal nya, dia bisa melakukan itu dengan mudah"
Ryeowook menatap pemuda itu yang saat ini sedang menyandar pada sisi ranjang dengan mata tertutup. Kebiasaan Kyuhyun saat pemuda tersebut sedang mencerna saran darinya. Ia menepuk punggung tangan pucat itu dengan tangannya yang bebas, mencoba mendapatkan atensi dari sahabatnya.
"Tapi nyata nya? Dia datang, berlutut pada mu untuk melamar mu, bahkan sampai memohon - mohon pada mu, dan membiarkan mu memukulinya. Yang kita bicarakan ini seorang 'Choi Siwon'. Seorang yang terkenal kejam dan angkuh dengan harga diri tinggi yang menembus langit", tersenyum puas karena pemuda tersebut akhirnya menjatuhkan fokus padanya, ia pun kembali melanjutkan. "Tapi lihatlah, dia membuang semua itu untuk berlutut didepan mu. Dia yang tak pernah berlutut pada siapapun, berlutut pada mu. Memangnya kau siapa? Kau hanya seorang polisi, kau tidak kaya, kau juga tidak tampan... Tapi cantik"
"YAK!", Kyuhyun sedikit menyentak tangannya, tidak terima karena dikatai cantik, padahal ia adalah seorang laki - laki. Terlebih, yang mengatakan hal itu adalah seseorang yang justru jauh lebih cantik darinya.
"Aku bercanda, kau manis", Ryeowook hanya mengibaskan tangannya saat melihat ekspresi 'menghakimi' dari sahabatnya itu. "Oke, intinya, status sosial mu bahkan jauh dibawahnya. Lalu apa yang dia lihat dari mu? Dia bebas memilih siapa saja menjadi pasangan hidupnya, dia bisa membeli apapun, tapi apa yang dilakukannya? Dia 'membujuk' mu, bukan 'membeli' mu"
"Dia membuat trauma ku kembali muncul...?"
"Kau salah. Dia membantu mu. Baca buku ini, jenius. Aku yakin kau akan mudah mengerti apa yang dimaksud dalam buku ini", menggeleng pelan, ia lalu menyodorkan sebuah buku yang ia ambil dari dalam tas kerjanya. Buku yang diberikan Siwon saat ia dan Juhyun menemui pria itu tanpa sepengetahuan Kyuhyun. "Karena aku dan Juhyun sudah membacanya dan kami mengerti"
Ryeowook memperhatikan sahabatnya yang sedang membuka buku tersebut dan mulai membaca perlahan isinya. Ia sudah mendengar semuanya dari Juhyun mengenai apa yang terjadi siang tadi melalui sambungan telepon. Apa yang dilakukan Seohyun selama ini, bukan mengobati pemuda itu. Seohyun membuat Kyuhyun 'tergantung' akan kehadirannya, karena sahabatnya hanya bisa bercerita masalah masa lalu dengan sang psikiater. Dan wanita itu justru menjerumuskannya, membuatnya semakin terpuruk. Padahal, mereka sadar bahwa selama ini Kyuhyun tidak nyaman berada satu ruangan dengan Seohyun karena perihal 'ketertarikan romantis'. Tapi, mereka baru sadar, bahwa ternyata selama ini pemuda itu mendapat sebuah sugesti, sebuah dorongan, yang entah darimana datangnya, dan menekan pemuda tersebut untuk harus kembali menemui wanita yang menjadi psikiaternya itu.
"Kyuhyun, aku bahkan tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu mu, tapi Choi Siwon tahu. Dan dia masih menerima mu. Dia masih mencintai mu dan bertekad untuk membebaskan mu dari bayang - bayang mengerikan itu"
Kalimat itu berhasil memutus fokusnya secara utuh dari buku yang ada dipangkuannya. Buku bersampul keras dengan judul 'How to Treat PTSD' itu, terbengkalai begitu saja. Kyuhyun tidak lagi membaca isinya, ia hanya menatap sendu tulisan bertinta merah yang memenuhi beberapa celah kosong pada paragraf buku. Tipografi wajah tersenyum dan hati juga ikut ditorehkan disamping catatan tambahan dari si pemilik buku. Hingga ia membuka halaman terakhir, air matanya hampir saja menetes jika Ryeowook tidak menyentuh pundaknya.
"Ini hanya firasat, tapi menurut ku, kau mulai membuka hati untuknya. Kau mulai terbiasa dengan kehadirannya, dan tidak menutup kemungkinan kalau kau akan mencintainya. Cepat atau lambat. Akuilah itu, jujur pada perasaan mu", Ryeowook melirik sekilas pada sahabatnya yang masih tertunduk dalam sembari menutup mata. "Pikirkanlah. Aku pulang dulu, sampai jumpa senin pagi"
Mendengar suara pintu kamarnya tertutup, secara bersamaan, ia pun membuka matanya. Tetes kristal bening tersebut sedikit membasahi bagian bawah halaman akhir buku dipangkuannya. Kyuhyun terkekeh pelan, merasa bodoh karena sudah menitikkan air mata dua kali dalam sehari. Entah mengapa dirinya menjadi lunak seperti ini sejak kehadiran pria brengsek itu dihidupnya empat bulan yang lalu. Jemarinya meraba tulisan yang ditempel dengan kertas memo tepat pada halaman terakhir buku tersebut. Menghapus air matanya, ia lalu membaca pesan yang baru saja masuk pada ponselnya dengan senyuman tertahan diwajahnya.
###
Park Chanyeol tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Selama ia berada dalam masa pelatihan hingga bekerja saat ini, hampir tidak ada satu orang pun yang bisa membuatnya kesal dan meretakkan topeng dingin yang selalu ia gunakan. Namun, saat ini berbeda. Ia sedang berada dalam sebuah situasi, dimana ia harus menghadapi seseorang yang benar - benar diluar perkiraan. Biasanya, seorang polisi akan bersikap ramah dan berusaha menjilat jika didepan para petinggi perusahaannya. Berbeda dengan pemuda pucat berkepala batu yang sedang bersedekap sembari beradu tatap dengannya ini. Lupakan si pendek yang berdiri diam satu kaki dibelakang mereka, si pucat ini sudah menyita seluruh atensinya. Pemuda bersurai hitam dengan netra coklat karamel itu berpuluh kali lipat lebih merepotkan dibanding semua polisi penjilat yang datang menemui atasannya. Tidak bisa diusir dengan uang dan tiap kata yang keluar dari bibir penuh milik pemuda itu terdengar sangat sinis. Mulutnya beracun, itu yang pertama kali terlintas dibenak Chanyeol.
"Menyingkir"
"Kalian dilarang masuk"
"Kami datang untuk melakukan wawancara kasus dengan Choi Siwon, kami juga membawa surat resmi dari Satuan Kepolisian Seoul sebagai bukti"
"Kalian tidak akan mendapat izin masuk kecuali Tuan Besar Choi sendiri yang mengizinkan"
Decakan pelan lolos dari bibir si pucat yang diikuti dengan tatapan keras terarah padanya, ada kilatan tak terbaca yang sempat singgah di netra coklat karamel itu. Sesaat, Chanyeol merasakan aura berbahaya dari figur didepannya ini, yang pada detik berikutnya, segera ia tepis. Pemuda yang berdiri didepannya ini sangat berbeda dari orang kebanyakan, seakan - akan tidak punya rasa takut untuk menghadapi bahaya apapun yang ada didepannya. Menjilat bibirnya yang tiba - tiba terasa kering, ia pun memejamkan mata selama beberapa saat, tidak sanggup menyelami netra coklat karamel itu lebih dalam. Dingin dan tak berdasar, seolah ia akan tenggelam jika berani menjangkau lebih jauh.
"Kau akan ditangkap karena menghalangi penyelidikan"
"Kau akan dibunuh karena melewati batasan. Kalian bahkan tidak diterima menginjakkan kaki disini"
"Beri aku dua menit dan kau akan berakhir menjilat ludah mu", geligi itu berderak, menunjukkan kesabaran pemiliknya yang semakin menipis. "Hei kau, menyingkirlah sebelum aku mematahkan wajah papan mu itu menjadi dua. Aku tidak selalu memegang idealisme ku sebagai seorang polisi saat berhadapan dengan orang - orang seperti mu"
"Kau-"
Kalimatnya terputus. Padahal ia baru saja akan melontarkan sinisme yang tak kalah menusuk. Perawakan tegap seperti lelaki pada umumnya, namun sayang memiliki wajah bagaikan seorang wanita, sungguh tidak cocok dan sangat berbeda dengan polisi lainnya yang bertubuh lebih pendek namun memilik proporsi manis yang seimbang. Itu adalah kalimat yang sudah ia susun rapi untuk dilontarkan pada si pucat, jika saja bunyi panggilan masuk pada ponsel tidak menginterupsinya. Chanyeol segera menjawab transmisi tersebut saat nama atasannya berkedip dilayar persegi tersebut.
"Chanyeol, ku dengar dari Taeil, ada keributan di lobi"
"Aku minta maaf, Tuan Besar Choi. Disini ada dua orang polisi yang memaksa untuk masuk menemui mu"
"Polisi? Siapa namanya?"
"Ukh... Cho Kyuhyun dan-"
Baru saja ia menyebutkan nama polisi berkulit pucat itu, transmisinya pun langsung diputus tanpa peringatan. Ingin sekali meledak, tetapi ia harus menjaga profesionalitasnya. Jika saja saat ini ia berada dirumah, mungkin Chanyeol sudah menyuarakan ketidak sukaannya itu pada sang kakak. Namun, ia segera mengesampingkan hal tersebut saat melihat atasan, sekaligus kakak angkatnya, sedang berlari kearah mereka. Wajah pria itu tampak gembira, kilatan bahagia tak luput dari pengamatannya. Siwon tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan saat menjalin hubungan dengan Song Hana, senyuman lebar tak pernah terlukis diwajah tegas itu.
"Kyuhyunnie! Kau datang untuk menemui ku?!"
"Aku datang untuk mewawancarai mu perihal kasus pembunuhan yang sedang ku tangani. Kau masuk dalam daftar terduga yang bersalah"
"Kau datang untuk menemui ku... Ayo, kita ke ruangan ku! Ryeowook-ssi juga"
Matanya terbelalak kaget. Tidak pernah sekalipun terpikir olehnya bahwa sang kakak akan menuntun seorang polisi dengan senyuman lebar dan penuh kehati - hatian. Seakan - akan, pemuda pucat itu adalah kekasihnya. Tunggu... Tidak mungkin kalau kedua orang itu benar - benar sepasang kekasih, 'kan? Ini bukan masalah jenis kelamin pasangannya, tetapi profesinya! "Tuan Besar Choi! Tunggu!"
"Ya? Ada apa Chanyeol?"
"Ah begini...", bertatapan dengan sang kakak selama beberapa saat, ia pun kembali menyuarakan pertanyaannya setelah menangkap anggukan halus dari yang lebih tua. Chanyeol ingin bertanya pada kakaknya, bukan atasannya. "Hyung, kenapa kau akrab dengan mereka berdua...?"
"Tentu saja aku akrab dengan mereka berdua. Ini Kim Ryeowook, sahabat dari Kyuhyun", Siwon tersenyum tipis saat menunjuk kearah pemuda bertubuh paling pendek diantara mereka. Lalu, lengannya melingkar dibahu pemuda berkulit pucat disampingnya. "Dan yang cantik ini, namanya Cho Kyuhyun. Dia calon kakak ipar mu, yang artinya adalah calon istri ku. Kau juga harus akrab dengan mereka"
"Siapa yang kau panggil cantik, sialan?!"
"Kyuhyunnie, kau akan merobek baju beserta kulit ku kalau kau mencengkram sekuat ini"
Chanyeol membeku, pertahanannya nyaris runtuh setelah mendengar kalimat pernyataan yang sang kakak ucapkan tadi. Ia menatap nanar pada ketiga orang yang melangkah menjauh dan memasuki lift, meninggalkan ia yang masih sulit mencerna informasi tadi. Gambaran sang kakak yang sedang tertawa pelan sembari mencegah pemuda pucat bernama Cho Kyuhyun tadi agar tidak menarik kerah kemejanya secara berlebihan, terus berputar dikepala Chanyeol. Tidak. Ia tidak setuju. Kakak angkatnya itu lebih dari pantas untuk bersanding dengan wanita atau pria manapun, tetapi tidak dengan polisi angkuh tadi. Sungguh tidak berkelas, pemuda bermarga Cho itu jauh dibawah standar, darimana pun ia mencoba mengukurnya. Menghela nafas kasar, ia pun berbalik dan berjalan cepat menuju ruangan khusus miliknya. Ia harus mendapat informasi tentang pemuda itu sesegera mungkin.
Lift yang membawa ketiga orang tadi pun berhenti pada lantai 13. Hal pertama yang menyambut pandangan mereka adalah sebuah lorong panjang yang sepi. Hanya ada lima pintu dilorong tersebut, tiga pintu di sisi kanan dan dua pintu di sisi kiri. Sebuah meja kaca yang cukup besar, terletak tepat disebelah kanan pintu pertama di sisi kanan. Papan nama bertuliskan 'Sekretaris Utama', duduk dengan manis diatas kaca tebal yang juga menopang dua buah komputer, satu mesin fax, satu mesin printer, dan sebuah lemari besi kecil berisi alat tulis kantor. Mereka berjalan menuju pintu kedua, tidak mengindahkan absennya si sekretaris. Siwon mempersilahkan kedua tamunya itu untuk masuk terlebih dahulu dan mengarahkan keduanya untuk duduk diatas sofa kulit yang berada diruang kerjanya itu. Dengan tergesa, Siwon meraih sesuatu dari laci mejanya dan kembali berjalan menuju dua orang berseragam polisi yang sedang menunggunya untuk duduk.
"Ini sudah dua minggu sejak terakhir kita bertemu. Aku merindukan mu, Kyuhyunnie"
"Sayang sekali, aku tidak merasakan hal yang sama"
Siwon tidak memutus fokusnya dari pemuda berkulit pucat itu, meneguk utuh proyeksi figur yang begitu ia rindukan, mengisi dahaga memorinya akan mata bulat dengan pupil sewarna lelehan karamel dan bibir penuh yang menggiurkan bak buah plum. Itu hanya sebagian dari apa yang memorinya butuhkan, ia masih ingin mencerna lebih. Memang sudah dua minggu berlalu sejak kejadian diruang praktek Seohyun, ia harus pergi untuk perjalanan bisnis yang cukup memakan waktu lebih dari satu minggu ditambah dengan deretan rapat perusahaan. Sekretarisnya akan menangis jika ia kembali memerintahkan untuk mengatur ulang jadwal kunjungannya ke beberapa kota yang memiliki potensi untuk kantor cabang mereka dan mengundur seluruh rapat yang ada di agendanya. Tersenyum, ia pun menyodorkan sebuah kotak diatas meja yang membatasi mereka. Perlahan membukanya, ia menatap pemuda yang telah mencuri hatinya itu dengan pandangan berharap.
"Will you marry me?"
"Aku kesini untuk mendengar alibi mu..."
"Kenapa? Aku tidak bersalah"
"Kau masuk dalam list terduga, Siwon-ssi"
"Terduga apa? Terduga yang mencuri hati mu? Kalau itu, aku memang melakukannya, kau boleh menangkap ku, Kyuhyunnie"
Kyuhyun memijat pangkal hidungnya, tidak habis pikir dengan pria didepannya ini. Selama beberapa saat, ia menangkap siluet keemasan dari cincin yang berada didalam kotak tersebut. Batu Ruby yang menjadi kepala cincin tersebut, dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah mawar kecil, warna merahnya begitu indah. Dan sekali lagi, Siwon tidak mendengarkan perkataannya dengan membeli cincin baru. Atau lebih tepatnya memesan menggunakan desain personal, uang yang pria itu miliki bahkan bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Menggeleng pelan, ia lalu berdiri dan berjalan kearah pintu keluar sembari melambaikan sebelah tangannya.
"Aku bisa gila. Ryeowook, kau saja yang urus dia, aku akan menunggu diluar", berhenti selama beberapa detik, ia melihat kearah Siwon yang sedang menatapnya dengan gurat sedih yang kentara. "Jangan lupa kembalikan bukunya"
"Oh? Baiklah Letnan Cho", Ryeowook mengagguk dan memberikan buku yang dimaksud pada pria tersebut. Tatapannya terarah pada telinga sahabatnya yang sedikit memerah, mencurigakan.
"Kyuhyunnie!", Siwon menegakkan tubuhnya, memanggil nama pujaan hatinya untuk mencegah pemuda itu pergi. Setidaknya hingga ia selesai mengatakan kalimat yang ingin ia sampaikan. "Aku harap, saat makan siang bersama nanti, kau akan memanggil ku 'hyung' lagi. Aku lelah dengan formalitas di nama ku. Ah, aku belum mengatakannya hari ini... Aku mencintai mu, dan aku tidak akan menyerah untuk melamar mu lagi"
Senyuman kembali menghias parasnya saat ia menangkap wajah pucat itu sedikit menampilkan rona kemerahan, tepat sebelum pintu ditutup dengan keras. Siwon meraih buku yang tadi Ryeowook berikan padanya, membalik beberapa halaman sebelum membuka halaman akhir. Ia mengernyit bingung saat tidak mendapati apa yang ia cari. Pandangannya pun ia lemparkan pada pemuda yang duduk didepannya, polisi berperawakan pendek tersebut saat ini sedang tersenyum penuh arti sembari menatap kearah pintu.
"Dimana kertas memo yang ku tempel? Kenapa tidak ada? Aneh sekali, aku tidak ingat kalau aku pernah mencabutnya..."
"Sepertinya aku tahu kemana kertas itu pergi"
"Huh?"
"Lupakan apa yang baru saja ku katakan. Bagaimana kalau kita mulai wawancaranya, Siwon-ssi? Kyuhyun tidak akan suka menunggu terlalu lama untuk pergi makan siang"
Sementara menunggu wawancara kasus selesai, Kyuhyun berjalan mondar - mandir didepan pintu ruang kantor tersebut. Bibirnya sibuk melontarkan makian, sembari kedua tangan mengipasi wajahnya yang terasa panas. Ia bahkan menolak mentah - mentah untuk mengakui bahwa dirinya merasa kehilangan saat pria itu disibukkan dengan pekerjaan, tidak pernah datang mengganggunya ke kantor dan diikuti dengan pesan yang semakin berkurang intesitas pengirimannya. Ia sempat memikirkan kemungkinan yang sahabatnya katakan, bahwa bisa saja pria tersebut mulai menyerah akan dirinya, dan itu membuat ulu hatinya ngilu. Bagaikan dipukul dengan kepalan yang cukup keras. Ia berhenti didepan salah satu dinding kaca yang memantulkan refleksinya dengan samar. Rona merah itu sangat kentara dikulitnya yang pucat, ia sendiri malu saat melihatnya.
"Yak! Berhentilah rona sialan! Aku sama sekali tidak tertarik dengan bajingan tampan itu! Tunggu... Argh! Dia tidak tampan!"
Kyuhyun mengacak surai hitamnya lalu bersandar pada dinding. Kepalanya menengadah, menatap langit - langit ruangan yang dihiasi dengan pendaran lampu bertenaga surya. Menjilat bibirnya yang terasa kering, ia merogoh kantong celananya untuk meraih kertas memo yang diambilnya secara diam - diam dari balik buku milik pria itu. Ia berharap, Siwon tidak akan menyadari perbuatannya. Menghela nafas pelan, ia lalu memejamkan matanya saat kembali merasakan desiran aneh itu.
"Apa yang salah... Dengan ku?"
Seven Marriage Proposal: To be Continued
A/N:
Maafkan jika ada typo yang bertebaran. Jangan lupa untuk review ya buat penyemangat author bikin lanjutannya
