Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART III
[ Seven Marriage Proposal (3) ]
Setelah kejadian beberapa minggu yang lalu, keduanya semakin dekat, dalam artian sering pergi untuk makan siang dan terkadang sarapan bersama dirumah keluarga Bae. Bahkan Kyuhyun sudah mulai membalas pesan dan menerima telepon dari Siwon. Secara misterius juga, Seohyun menghilang entah kemana. Yang ia dengar, keluarga wanita itu sudah pindah ke Taiwan untuk mengurus rumah sakit yang kepala keluarga Seo dirikan di negara tersebut beberapa tahun lalu. Semua rekam medik psikiatri milik Kyuhyun pun sudah dipindah tangankan ke rumah sakit yang berada dibawah naungan SW Group dan psikiater yang menanganinya, secara langsung ditunjuk oleh CEO perusahaan tersebut. Choi Sooyoung, nama dari psikiater barunya, adalah seorang wanita anggun bersurai eboni setinggi bahu. Walaupun berwajah manis, wanita itu sangatlah tegas dan menjunjung tinggi idealisme profesinya, jika sudah berurusan dengan hal yang menyangkut pekerjaan. Siwon mengatakan padanya untuk melakukan sesi terapi langsung dirumah sang psikiater, bahkan pria tersebut terkadang menggantikan Juhyun untuk pergi mengantarnya.
Tentu saja beberapa paparazi tak tinggal diam melihat kedekatan keduanya. Siwon adalah seorang pebisnis muda yang sangat berpengaruh, popularitasnya juga menyamai para selebrita papan atas di negaranya. Tak heran jika saat ini foto kebersamaan mereka beredar dibeberapa situs gosip selebritis dan bahkan menjadi perbincangan hangat di acara televisi bertema serupa. Mungkin, Siwon tidak begitu peduli dengan hal tersebut, dirinya sudah terlalu terbiasa dengan hal - hal semacam itu. Tak jarang ia dituding berkencan dengan banyak model dan aktris wanita, bahkan dulu sempat ada beberapa model dan aktor pria yang dikabarkan 'dekat' dengannya. Ia pun hanya menepis semua kabar tersebut bagaikan angin lalu, waktunya terlalu berharga untuk di fokuskan pada hal bodoh seperti itu. Namun, saat kabar kebersamaannya dengan Kyuhyun beredar dimana - mana, ia justru membiarkan media berspekulasi lebih jauh. Katakanlah, ia senang melihat berita kedekatannya dengan sang polisi penyidik. Tetapi semua itu runtuh saat Kyuhyun melempar sebuah majalah gosip ke wajahnya, tepat saat ia baru melangkah masuk kedalam kantor pemuda tersebut.
"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya, hentikan kegilaan ini!", Kyuhyun menunjuk wajah pria itu beberapa kali. Persetan dengan sopan santun pada yang lebih tua.
Siwon mengernyit bingung, ia lalu mengambil majalah yang baru saja pemuda itu lemparkan ke wajahnya. "Kyuhyunnie, ada apa?"
Kyuhyun menatap pria itu dengan tatapan sengit bercampur geram. 'Ada apa' katanya?! Karena si sialan berwajah tampan ini, hampir semua orang di kantor menghindarinya! Baiklah, ia memang tidak punya banyak teman disini, namun setidaknya, ia ingin berinteraksi dengan normal tanpa mereka harus lari terbirit - birit setelah membahas masalah pekerjaan dengannya. Beberapa orang yang pernah tergabung dalam timnya dan berasal dari divisi lain pun, hanya menyapa ia sekadarnya dan berlalu cepat. Mereka semua seakan ketakutan saat selesai berinteraksi dengannya.
"Jangan pura - pura bodoh, Choi! Kau sengaja tutup mata soal ini, 'kan?!"
"Sayang, mereka hanya berspekulasi. Biarkan saja, nanti mereka bosan sendiri"
Tertegun selama beberapa saat, ia mencoba mencerna kalimat yang baru saja pria itu lontarkan. Kyuhyun bahkan tidak sadar saat Siwon sudah menuntunnya untuk duduk diatas kursi ruang kantor divisinya. Mengerjap beberapa kali, ia lalu menengadah untuk menangkap raut wajah milik yang lebih tua. Pria itu sedang tersenyum padanya dan mengecup ujung - ujung jemarinya perlahan, seperti sedang menyentuh porselen yang rapuh. Dahinya berkedut kesal, ia dapat merasakan beberapa pasang mata sedang mengintip kedalam, dan itu semakin membuat emosinya naik ke ubun - ubun. Menarik kedua tangannya, ia lalu mencubit geram kedua pipi milik yang lebih tua, tak mengindahkan rintihan pria tersebut karena ia melakukannya terlalu keras.
"YAK! INI ALASAN MENGAPA MEREKA BERSPEKULASI!"
"Baby, dengarkan aku-"
"JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU!"
Ia sibuk meneriakkan protesnya, sudah tidak peduli lagi jika anggota divisinya menonton apa yang sedang terjadi. Mau disembunyikan seperti apapun, justru mereka lah yang pertama kali mengetahui perihal pria bermarga Choi itu datang untuk melamarnya. Kyuhyun tidak akan lupa bagaimana wajah para tua bangka di divisinya yang tiba - tiba dipenuhi senyuman palsu. Penjilat, itu adalah kata yang pertama kali terlontar dari mulutnya saat kelima penyidik senior tersebut mencoba mendekatinya dengan 'ramah - tamah' sebagai alasan. Ia bukan orang bodoh yang akan termakan dengan kalimat manis, pencapaian karirnya sejauh ini adalah bukti. Walaupun ia tidak sering berbaur bersama anggota divisinya, bukan berarti ia tidak memperhatikan mereka. Karena Kyuhyun sendiri adalah orang yang sangat observan dengan sekelilingnya. Ia sangat sadar bagaimana beberapa orang melihatnya dengan tatapan sarat akan ketidak sukaan. Rasa iri, itu yang ia tangkap.
"Aku tidak lihat"
"Aku tidak dengar"
Kyuhyun melepaskan pipi milik Siwon yang sedari tadi masih ia jepit dengan telunjuk dan jempolnya. Netranya sedikit melirik kondisi pria tersebut, sebelum menegakkan tubuhnya dan menatap kedua orang yang sedang berdiri diambang pintu. Keduanya tampak memamerkan senyuman lebar. "Apa yang kalian berdua lakukan disini..."
"Menonton kemesraan pasangan paling fenomenal tahun ini?", Ryeowook tersenyum jahil sembari merangkul wanita disampingnya. Mereka dengan mudah berhasil mengusir beberapa orang yang mengintip tadi.
"Bukan, Wookie oppa. Kita sedang menyaksikan Letnan Cho yang mengomel seperti seorang istri~", Juhyun menarik senyum serupa diparasnya. Jarang sekali ia punya kesempatan untuk mengolok kakak sepupunya itu.
Kyuhyun tersenyum manis, namun netranya berkilat dengan kekesalan yang pekat. Ia sedikit melakukan peregangan pada lehernya, sebelum mengepalkan kedua tangannya. Ruas - ruas jarinya berderak saat ia menekan kepalannya bergantian, menghasilkan bunyi yang cukup membuat kedua orang didepannya itu berhenti tertawa. Ia berjalan kearah sahabat dan adik sepupunya itu, namun mereka lebih cepat mencerna keadaan. Tanpa menunggu dirinya bertindak lebih lanjut, kedua orang tersebut berlari keluar dari ruang kantornya dengan sekuat tenaga. Mereka tahu Kyuhyun dapat mengejar dengan mudah, ia memiliki kaki yang panjang, ditambah pengalaman turun lapangannya dalam mengejar penjahat maupun buronan yang berusaha kabur. Berlari bukanlah suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Tak mengindahkan panggilan dari salah satu anggota divisinya, ia pun mulai mengejar kedua orang terdekatnya itu.
"BAE JUHYUN! KIM RYEOWOOK! BERHENTI DITEMPAT SEKARANG JUGA!", suara teriakannya menggema dilorong lantai tiga gedung Kantor Pusat Kepolisian Seoul, dimana terdapat dua ruangan divisi kecil tepat didepan ruang divisinya. Siapapun yang tak sengaja lewat, segera menyingkir dari jalannya. Tak seorang pun ingin terlibat saat sang letnan, yang merupakan Ketua Divisi Investigasi Pembunuhan, sedang mengamuk.
"TIDAK! ADA SETAN MENGAMUK!", bukannya meminta maaf, dua orang yang berbeda jenis kelamin itu, justru meneriakkan kalimat yang semakin membakar emosi sang ketua divisi.
"BOCAH - BOCAH BIADAB! BERANINYA KALIAN!"
Siwon hanya bisa menonton tingkah aneh ketiga polisi penyidik itu sembari mengusap kedua pipinya yang memerah. Sang pujaan hati memang bukan orang yang lemah, maka dari itu, ia harus segera mengompres bekas cubitan tadi dengan es jika tidak ingin meninggalkan memar. Tujuannya kemari adalah untuk mengantarkan tteokbokki, pemuda itu sendiri yang mengatakan padanya kalau dia sedang ingin makan menu tersebut, panganan yang menggunakan tepung beras sebagai bahan dasar. Namun, Siwon malah berakhir sendirian disana karena suasana hati Kyuhyun yang memburuk. Apa lagi itu disebabkan oleh sebuah majalah gosip. Sial. Menghela nafas pelan, ia lalu meletakkan bungkusan berisi makanan favorit pemuda tersebut diatas meja kantor yang dipenuhi dengan tumpukan file berwarna biru dan ungu, sebelum melangkah keluar untuk mencari pemuda berkulit pucat tadi.
"Divisi ini memang tidak pernah tenang sepertinya"
"Haruskah aku melihat mu disini, Jung?"
Mengerutkan dahi, ia melirik kearah pemilik suara tadi. Seorang pria dengan seragam kepolisian dan tanda pangkat komisaris jendral, sang Kepala Kantor Kepolisian Seoul, Jung Yunho. Siwon memang tidak menyukai polisi, bahkan membenci mereka, namun bukan berarti ia tidak memiliki 'teman' yang berasal dari profesi terkutuk itu. Contohnya adalah pria yang baru saja mengajaknya berbicang tadi. Pria tersebut merupakan salah satu adik tingkat Park Jungsoo dibangku sekolah menengah atas, keduanya lumayan dekat, dan sering berinteraksi dengan dirinya saat pria itu mengunjungi kedai makanan milik keluarga Park dulu. Tidak ia sangka ternyata pria bermarga Jung itu bisa naik jabatan secepat ini. Padahal, empat tahun yang lalu, pria tersebut masih menjadi ketua di Divisi Intelejensi Kantor Kepolisian Incheon.
"Ayolah, Choi. Kau pura - pura tidak kenal dengan ku? Setidaknya berikan aku selamat karena baru saja dilantik sebagai Kepala Kepolisian di Kantor Pusat ini", pria itu merangkul pundaknya dan tertawa lepas.
Siwon memutar bola matanya, jengah. "Itu tiga minggu yang lalu, Jung"
"Kau harus memanggil ku hyung"
"Dalam mimpi mu, Jung Yunho-ssi", ia lalu menepis tangan yang merangkulnya tadi.
"Aku akan mengadukan sikap tidak sopan mu ini pada Jungsoo hyung"
"Jangan kekanakan, Jung"
Pelipisnya berkedut kesal. Jika bukan karena mengingat hutang budi dan rasa sayangnya pada Jungsoo, mungkin sudah sedari awal bertemu, ia menyingkirkan pria itu. Menyingkirkan dalam artian menendang bokongnya, bukan melenyapkan eksistensinya, bagaimana pun juga, pria itu pernah membantu adiknya. Siwon memilih untuk segera beranjak pergi dari tempat tersebut, dari pada harus meladeni pria bermata musang tadi. Mencari pemuda manis yang merupakan sang pujaan hati, adalah prioritasnya saat ini.
###
Derap sepatu boot yang ia dan kedua rekannya gunakan, bergema keras di lorong panjang menuju bangunan terpisah, khusus milik Divisi Forensik. Jarang ada petugas biasa yang berkunjung kesana. Bangunan tersebut memiliki tiga lantai. Lantai satu adalah ruang penyimpanan mayat, ruang autopsi, dan klinik. Lantai dua terdiri dari laboratorium forensik dan ruang data yang mencakup visum maupun rekam medik. Khusus lantai tiga, adalah ruang kantor divisi, tempat para anggota divisi tersebut bekerja dengan data tertulis yang harus mereka selesaikan. Kyuhyun sudah tidak asing dengan bangunan tersebut, selama ia menjadi seorang penyidik, tak jarang ia harus bolak - balik kesana untuk mendapatkan data penting perihal korban dalam kasusnya. Ia masih berlari mengejar dua orang rekannya itu yang terlihat mulai kelelahan. Namun, saat sedikit lagi ia bisa meraih kerah baju keduanya, ia tidak sengaja menyenggol seorang pemuda berjas putih yang sedang membawa setumpuk dokumen. Berantakan, plastik keras berisi tumpukan kertas tersebut berserakan diatas lantai.
"Ah, maafkan aku", Kyuhyun segera menunduk dan memunguti beberapa dokumen dengan cap Divisi Forensik itu, sebelum memberikan dokumen tersebut pada pemuda tadi.
"Tidak masalah! Aku baik saja - saja!", pemuda dengan surai pirang keemasan itu tersenyum dan menggeleng cepat.
"Baiklah, kalau begitu, sampai bertemu lagi"
Setelah memastikan bahwa pemuda itu baik - baik saja, ia pun memutar langkah kakinya menuju lift yang terletak diujung lorong kembali. Sia - sia saja kembali mengejar kedua orang tadi, batang hidung mereka saja sudah tidak kelihatan. Lebih baik ia kembali ke ruangannya dan segera menyantap tteokbokki yang Siwon bawakan tadi. Namun, belum ada lima langkah, Kyuhyun bisa mendengar seruan bersemangat milik si anggota Divisi Forensik yang baru saja bertubrukan dengannya. Ia menebak hal tersebut dari jas putih yang pemuda itu kenakan, khas milik para dokter yang tergabung di divisi tersebut. Jangan lupakan cap pada dokumen yang pemuda pirang itu bawa.
"Tunggu! Anda Letnan Cho Kyuhyun? Ketua Divisi Investigasi Pembunuhan?"
"Ya, itu aku", ia sedikit mengernyit saat melihat tatapan berbinar yang pemuda itu lemparkan padanya.
"Wah! Aku benar - benar bertemu dengan mu! Perkenalkan, aku Min Yoongi, anggota Divisi Forensik! Aku baru bertugas selama satu bulan disini, dan aku berasal dari almamater yang sama dengan Joongie sunbae!", tangan Yoongi terulur setelah meletakkan seluruh beban yang ada di tangan dominannya pada lengan kirinya yang bebas.
"Maksud mu, Kim Jaejoong?", Kyuhyun mengerjap pelan sebelum menerima uluran tangan pemuda bernama Min Yoongi tersebut dan menjabatnya.
"Um! Dia mengatakan pada ku untuk segera menemui mu setelah ditempatkan disini"
Ia mengangguk pelan setelah mendengar kalimat yang lebih muda. "Ah... Jae hyung memang mengatakan pada ku kalau hoobae nya akan ditempatkan dikantor ini", dan pria bermarga Kim itu juga menyarankannya untuk mengajak pemuda pirang ini bergabung dalam timnya. Sebagai anggota pengganti yang berasal dari Divisi Forensik, itu yang Jaejoong katakan.
"Itu aku! Aku sudah baca semua track record mu dalam menyelesaikan kasus, dan... Wah! Kau hebat sekali! Dimana kau belajar semua itu, Letnan Cho?! Beberapa kali kau bahkan menganalisis lebih cepat daripada anggota divisi kami!", Yoongi harus melepaskan jabat tangan mereka untuk memperlihatkan kekagumannya. Melakukan gerakan abstrak dengan tangan kanannya sebelum menggigit bibir bagian bawahnya. Ia menatap dalam pada netra coklat didepannya, menyelami netra tersebut sembari tersenyum lebar. "Kau harus menjadi teman ku! Kita harus berteman!"
Maniak. Pemuda didepannya ini terlihat seperti seorang maniak. Ada obsesi ganjil yang memancar dari netra pemuda itu. Netra berwarna coklat keemasan dengan kilatan tak kalah mengintimidasi dari miliknya, sesuatu yang baru pertama kalinya ia lihat. Kyuhyun mengatupkan rahangnya kuat, sebelum mengambil satu langkah mundur. Ia merasa tak nyaman, ada sesuatu yang lain dalam diri pemuda didepannya ini, sesuatu yang berbahaya. Adu tatap mereka berakhir saat telinganya menangkap pembicaraan dari dua orang anggota senior yang melewati mereka. Lagi - lagi namanya dan Siwon dibawa - bawa, namun kali ini, nada suara yang mereka gunakan terdengar penuh dengan sindiran. Ia berencana untuk segera berlalu dari sana, tidak ingin emosinya meledak karena mulut orang - orang tolol seperti mereka. Tetapi, kedua orang tadi justru berhenti tepat didepan pintu lift yang akan ia gunakan.
"Eh? Bukannya itu si anak baru? Apa yang dia lakukan dengan Letnan Cho?"
"Entahlah... Ssstt! Jangan keras - keras! Yang dibicarakan melirik kesini, bisa - bisa dia mengadukan kita pada penjahat itu!"
"Menjijikkan, bagaimana bisa dia mau saja menjadi kekasih sampah masyrakat seperti si Choi itu? Apa lagi mereka sama - sama pria! Aku tidak tahu kalau selama ini dia itu gay"
"Jangan - jangan, dia hanya 'pelacur' si Choi. Tsk, tsk, tsk... Padahal dia seorang polisi, sungguh menggelikan. Kau tahu apa yang para senior katakan tentangnya?"
"Cih! Tentu saja. Dasar hoobae tak tahu diri!"
Kyuhyun menatap lurus pada dinding, giginya bergemelutuk. Ingin sekali menghajar kedua orang itu karena melontarkan kalimat cacian, apa lagi itu bukan tentang dirinya. Ya, amarahnya terbakar karena orang - orang itu menghina Siwon tanpa mengenal pria tersebut. Ia tidak akan marah saat ada yang mencaci atau menggunjingnya seperti tadi, hanya para pendengki yang melakukan hal tersebut karena sadar mereka memiliki kemampuan jauh dibawah kapasitas yang ia miliki. Namun, tidak saat orang - orang terdekatnya mendapat perlakuan yang sama, terutama pria yang mencoba melamarnya selama beberapa bulan ini. Tertawalah, karena saat ini ia memang mengakui bahwa pria tersebut berhasil mengambil tempat di hatinya. Awalnya, ia ingin menghampiri kedua orang itu dan memberi mereka 'sedikit' intimidasi bersalut ancaman, namun pemuda pirang tadi sudah terlebih dahulu mendahuluinya berjalan kearah mereka.
Yoongi sedikit memiringkan kepalanya saat mendengar perkataan para anggota senior itu, yang ia sadari berasal dari divisinya. Ia pun meletakkan dokumen yang dibawanya diatas kursi tunggu, benda itu bisa ditemukan di sepanjang lorong, lalu menyusul kedua orang seniornya tadi. "Hei sunbae, Berhentilah berbisik seperti itu. Kami bisa mendengar kalian", tepukan ringan ia berikan pada pundak kedua orang tadi.
"Oh, anak baru. Apa yang kau-"
Tangan yang bertengger lembut di pundak kedua orang tersebut, secara tiba - tiba mencengkram kuat pada daging dibawahnya. Seakan - akan ingin mengoyak apa yang ada dalam cengkramannya. "Dan, lebih baik lagi, tutup mulut kalian. Bau busuk ketololan kalian memenuhi lorong ini. Aku bisa membantu menjahit mulut kalian jika kalian mau", nadanya semakin turun beberapa oktaf dan terdengar bengis. Ia berucap pelan tepat diantara telinga kedua orang tersebut. "Atau memotong plica vocalis dan lidah kalian, lalu memaksa kalian menelan dua organ itu. Kalian sendiri tahu tentang 'rumor' kepindahan ku kesini, 'kan? Kalian ingin mencobanya?"
Tersenyum puas, ia lalu kembali berjalan kearah Kyuhyun, pemuda pucat itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak ia pedulikan saat kedua seniornya tadi berganti mencacinya dengan langkah cepat memasuki lift yang pintunya baru saja terbuka, tergopoh - gopoh dengan rasa takut yang kentara, berusaha menjauh dari mereka. Ancamannya tadi cukup ampuh ternyata. Katakanlah bahwa dirinya merasa tertarik pada sang ketua divisi berkulit pucat ini, bukan dalam hal romantis, tetapi lebih pada potensi yang pemuda tersebut miliki. Yoongi sangat yakin, ada sisi gelap yang sedang seniornya itu tutupi, sesuatu yang memakan jiwanya dan akan meledak jika dikurung lebih lama lagi. Kegilaan seperti itu sangat ia nikmati, asupan yang sangat adiktif bahkan melebihi heroine. Ya, dirinya adalah seorang maniak, karena ia menyukai saat - saat dimana ia bisa menyaksikan putusnya rasionalisme seseorang ketika dibutakan sisi gelap mereka. Ia mengangkat tumpukan dokumen tadi menggunakan kedua tangannya, lalu menumpukan dagunya diatas plastik keras itu. Menunggu respon dari Kyuhyun.
"Mereka sunbae mu, kau akan kesulitan jika menghina mereka seperti itu", Kyuhyun menghela nafas pelan, lalu bersedekap. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa pemuda ini mengkonfrontasi senior divisinya sendiri?
"Eh? Kesulitan? Tidak mungkin! Otak mereka dibawah standar. Aku hanya berteman dengan orang pintar", bukan tatapan lunak itu yang ia inginkan! Kenapa pemuda pucat ini tidak mengeluarkan emosinya? Oh, sungguh menarik, pikirnya. "Lagi pula, aku benci orang - orang seperti mereka... Hanya bisa bicara dibelakang. Jika mereka tidak suka dengan mu, harusnya mereka datang dan katakan itu didepan wajah mu"
Kyuhyun menampilkan senyuman miring, jika semua orang punya keberanian untuk melakukan hal seperti itu, pastilah hidup tidak sesulit ini untuk dijalani. "Tidak usah dipikirkan, dan terimakasih. Bukankah kau harus segera mengantar dokumen itu?"
"Ah! Kau benar! Aku harus pergi sekarang atau si botak itu akan mengomel tidak jelas. Sampai jumpa lagi, Letnan Cho! Jangan segan untuk meminta bantuan ku jika kau punya mayat yang harus di autopsi!"
"Tentu. Ku harap kita bisa bekerjasama dengan baik ke depannya"
Kyuhyun menatap kepergian pemuda pirang tadi dengan datar, ia bisa merasakan sesuatu yang ganjil dari pemuda itu. Tetapi, ia akan menepis firasat buruknya untuk saat ini, karena ia percaya pada Jaejoong. Mantan anggota timnya itu tidak mungkin merekomendasikan orang yang salah, namun ia tetap harus berhati - hati. Langkahnya yang akan menuju lift, harus kembali terhenti saat melihat senyuman milik seorang Choi Siwon, pria itu baru saja keluar dari lift. Menjilat bibirnya yang terasa kering, ia lalu berjalan kearah pria tersebut dan menerima uluran tangannya. Mungkin ia memang masih cukup sering melemparkan kata - kata kasar pada yang lebih tua, tetapi disaat yang bersamaan, ia juga sudah tidak takut lagi menerima uluran dari tangan besarnya. Tak pernah sekalipun ia menyukai seseorang yang memperlakukannya dengan lembut, namun entah mengapa hal itu tidak berlaku untuk Siwon. Justru ia dapat merasakan bagaimana wajahnya memanas setiap kali mendapat perlakuan manis dari pria itu.
"Kembali ke kantor mu sekarang, jam makan siang sudah lewat sejak lima belas menit yang lalu", ia berjalan dengan tatapan lurus, tak sekalipun ingin melirik wajah pria disampingnya itu. Gawat sekali kalau yang lebih tua menyadari debaran jantungnya, yang secara kurang ajar, mengakibatkan lonjakan denyut nadi menjadi dua kali lipat dari nilai normal. Takikardi sialan.
"Baiklah. Jangan lupa, aku akan menjemput mu jam enam sore nanti. Kita akan makan malam di restoran seafood yang kemarin kita lewati saat ke kantor ku", lebih tepatnya, saat mereka menjemput barang yang tertinggal disana, itu sekitar lima hari lalu. Ia harus mendengar sumpah serapah dari yang lebih muda, karena melupakan perihal konsol game pemuda tersebut yang baru saja selesai ia perbaiki di kantornya.
"Apa kau sangat ingin makan disana?", Kyuhyun merutuk dalam batinnya. Ia terdengar tak yakin karena kalimat tanya yang baru saja ia lontarkan.
"Ya, aku sangat ingin mencoba makanan disana. Tidak apa, 'kan? Aku sudah buat reservasi untuk kita"
"Mm, tidak masalah. Lagi pula kau sudah membuat reservasi"
Sadar dengan keraguan yang pemuda itu perlihatkan, ia pun menghela nafas pelan. Mereka berhenti tepat disamping pintu masuk ruangan Divisi Investigasi Pembunuhan, suasana yang sepi menandakan bahwa mayoritas dari anggota divisi tersebut belum kembali dari acara makan siang mereka. Meninggalkan kecupan pada kedua punggung tangan yang lebih muda, ia lalu menepuk lembut pucuk kepala pemuda tersebut. Siwon bisa menebak apa yang sedang pemuda itu pikirkan, pastilah karena apa yang majalah gosip tadi tulis. Artikel disana menyuarakan pendapat negatif yang ditujukan pada Kyuhyun, seakan pemuda itu terlalu rendah untuk disandingkan dengannya. Dan itu semua hanya karena 'status sosial', sungguh memuakkan.
"Kau tidak harus mengganti pakaian mu, Kyuhyunnie. Tidak akan ada yang melarang mu jika kau ingin memakai seragam ini saat bersama ku. Jangan dengarkan apa yang orang lain katakan"
"Aku tidak mendengarkan mereka..."
"Aku tahu, aku hanya ingin mengatakan itu", tersenyum tipis, ia lalu melepas genggamannya pada tangan yang lebih muda. "Kalau begitu, aku pergi dulu"
Setelah Siwon menghilang dibalik pintu lift, ia pun melangkah masuk dan segera menuju ruangannya. Tidak ia pedulikan Ryeowook dan Juhyun yang sedang berada di bilik mereka masing - masing, ia sendiri sudah tidak punya niatan untuk bercanda dengan keduanya. Mana mungkin ia tega memukul adiknya, lain perkara jika itu sahabatnya, Kyuhyun tidak akan berpikir dua kali untuk membalas pemuda itu nanti. Oh, ide berisi balasan yang setimpal sudah memenuhi otaknya, hanya perlu di realisasikan saja. Ia tersenyum tipis saat melihat kantung berisi sekotak tteokbokki dan susu coklat diatas meja kerjanya, ada catatan berisi kata - kata manis dari pria itu. Stok rayuan milik Siwon sepertinya tidak akan pernah habis, mengingat bagaimana pria tersebut menggunakan kalimat rayuan yang berbeda setiap kali mengirimkan pesan padanya.
Sejujurnya, ia bukan kesal karena banyak gosip yang beredar di kalangan atas mengenai hubungannya dan Siwon. Justru, penyebab sebenarnya adalah dirinya sendiri. Kyuhyun tidak punya rasa percaya diri yang cukup. Ia sedikit merasa sakit saat membaca tanggapan majalah tadi mengenai kedekatan mereka berdua. Status sosial mereka memang berbeda jauh, ia hanyalah seorang polisi, sekalipun berpangkat letnan, tetap tidak mengubah apapun. Di mata awam, memiliki kedekatan spesial dengan seseorang seperti Choi Siwon, adalah suatu keberuntungan yang tidak datang dua kali dalam hidup seseorang. Namun, berbeda dengan tanggapan lingkungan pekerjaannya. Pria tersebut adalah satu dari beberapa orang yang sangat dihindari oleh para rekannya. Seseorang yang seharusnya memiliki puluhan, bahkan ratusan, catatan kriminal tetapi selalu lolos dari jerat hukum karena kedudukannya. Mayoritas polisi tidak menyukai pria itu.
Juhyun menyembulkan kepalanya dari balik pintu, melihat apa yang sang kakak sedang lakukan. Pemuda itu tidak keluar dari ruangannya sejak waktu makan siang berakhir hingga jam menunjukkan pukul lima sore. "Oppa, kau nanti dijemput Siwon oppa, 'kan? Aku pulang duluan dengan mobil mu, ya?"
"Mau kemana?", sedikit meregangkan otot lehernya, ia lalu memijat pangkal hidungnya. Matanya sakit karena terlalu lama membaca laporan kasus, dan itu Kyuhyun lakukan tanpa jeda. Sebuah usaha untuk mengalihkan pikirannya dari pemikiran tak penting yang orang lain miliki mengenai dirinya.
"Eh? Itu, aku ada kencan dengan Han Byul"
"Dia menjemput mu dirumah?"
"Um! Kami akan pergi nonton malam ini", Juhyun mengangguk cepat, ia terlihat sangat bersemangat. Jarang sekali ia punya waktu berkencan dengan sang kekasih, kasus yang masuk terkadang bukan hanya dari wilayah mereka. Wajar saja, itu karena mereka bekerja di kantor pusat ibu kota negara, tempat seluruh wilayah meminta bantuan.
Mengetukkan jemari diatas meja, ia lalu bertopang dagu dengan sebelah tangan. Raut khawatir kentara sekali terlihat di wajahnya. Entah mengapa, akhir - akhir ini, Kyuhyun memiliki firasat buruk. "Aku kira kalian akan pergi besok. Dia belum izin pada ku"
"Ayolah oppa, kami sudah pacaran selama dua tahun"
Walau sedikit ragu, akhirnya ia menyerah. Menelan rasa pahit dari kekhawatiran, ia pun menarik senyuman tipis sembari menatap sang adik. "Baiklah, jaga dirimu"
"Terimakasih! Oppa memang yang terbaik!", Juhyun berlari kearah sang kakak dan memeluknya erat, meninggalkan sebuah kecupan di pipi pemuda itu, sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Mencoba untuk percaya pada pemuda yang merupakan kekasih sang adik, bukanlah suatu hal yang mudah. Celah pengkhianatan sangat banyak dalam hubungan percintaan adik sepupunya itu. Oh Han Byul, seorang pegawai tetap disebuah perusahaan percetakan, pemuda berusia 27 tahun yang berhasil mengambil perhatian sang adik. Tentu saja ia sulit menerima kenyataan bahwa adik kecilnya telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dan mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Kyuhyun sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama Juhyun, bahkan wanita tersebut tidak pernah sekalipun berpacaran saat duduk dibangku sekolah dan di akademi kepolisian. Walaupun masing - masing fokus dengan karir mereka, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya membutuhkan kehadiran satu sama lain. Ia harus memaksakan diri untuk tidak melarang sang adik saat seorang pemuda datang dalam hidup wanita itu. Tak jarang adik sepupunya menghabiskan waktu libur dengan sang kekasih, sedangkan ia sendiri akan bercinta dengan konsol game nya hingga pagi. Walaupun sumpah serapah tak putus dari bibirnya, yang kebanyakan ditujukan pada kekasih adiknya.
Ada 'sesuatu' yang sedang mengintai mereka. Dirinya, terutama. Ia akui dirinya paranoid, mengingat dengan siapa ia menghabiskan waktu akhir - akhir ini. Kyuhyun tidak bodoh, ia tahu resiko memiliki kedekatan spesial dengan seseorang seperti Choi Siwon. Semua orang, tanpa terkecuali, bisa menjadi musuh dalam selimut, berpotensi untuk menikamnya dari belakang, dan itu secara harfiah. Tidak menutup kemungkinan bahwa keluarganya menjadi incaran, terlebih adik sepupunya. Wanita itu selalu berada didekatnya, siapapun bisa menargetkan sang adik, bahkan kekasih adiknya itu sendiri mungkin saja melakukan hal tersebut. Ini bukan hanya sebuah prasangka, terbukti dari beberapa surat kaleng yang dikirimkan untuknya. Awalnya, ia berpikir bahwa itu semua hanyalah ulah dari para wanita yang merupakan penggemar pria itu. Namun, perkiraannya meleset jauh saat melihat surat kaleng tersebut berisi foto keluarga Bae yang dipenuhi bekas tusukan jarum, bersamaan dengan tiga bangkai tikus dalam sebuah kotak. Kesadaran akan bahaya yang mengincar keluarganya, membuat ia semakin was - was dengan sekeliling.
Jam menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit saat ia menutup laporan terakhir di mejanya. Menyandarkan dahi pada meja kerjanya, ia bahkan tidak mengangkat kepala saat tangan seseorang mengusap lembut kepalanya. Kyuhyun menikmati bagaimana tangan itu menyisir helaian miliknya perlahan, seperti pengganti lullaby, membuatnya mengantuk. Tumpukan pekerjaannya hari ini, pertemuannya dengan anggota baru Divisi Forensik tadi, serta sang adik yang meminta izin untuk pergi berkencan, entah mengapa semua itu membuatnya menjadi sangat lelah. Jangan lupakan janji makan malam nanti dengan Siwon, lengkap dan menyempurnakan harinya menjadi satu hari terpanjang. Menghadapi tatapan para penggemar pria tersebut, jujur jauh lebih melelahkan daripada menghadapi para pendengki di tempat kerjanya. Saat kesadarannya hampir tenggelam dalam kegelapan, ia tersentak kuat dan segera mendorong tubuhnya untuk bangun. Kursi yang ia duduki lantas jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang bergerak mundur.
"Kyuhyun? Kau baik - baik saja?"
Netranya menatap nyalang pada pria yang sedari tadi berdiri didepan mejanya. Ia menutup kedua telinganya, seperti berusaha melindungi bagian tubuhnya itu dari dunia luar, walau tremor sudah menjalar hingga ke ujung jemarinya. Telinga, pria itu menyentuh bagian tersebut, walaupun ia yakin tanpa ada kesengajaan. Organ pendengaran bagian luarnya itu, merupakan salah satu bagian tubuhnya yang sangat sensitif, tidak semua orang ia perbolehkan menyentuhnya disana. Hanya adik dan bibinya yang boleh melakukan hal tersebut. Merasa dirinya sudah lebih baik, tidak gemetaran seperti beberapa detik yang lalu, Kyuhyun pun mengangguk pelan.
"Jangan... Jangan sentuh telinga ku seperti itu. Kau mengejutkan ku..."
"Oh ya ampun... Maafkan aku, Kyuhyunnie"
"Tidak apa. Aku hanya terkejut. Aku-", menelan kasar salivanya, ia perlahan menurunkan kedua tangannya dan meremat ujung seragamnya. Kyuhyun menghela nafas pelan lalu menatap pria tersebut. "Lain kali, jangan lakukan hal seperti itu, Siwon hyung"
"Aku tidak tahu. Maaf, aku benar - benar tidak sengaja", merasa bersalah, itu yang Siwon alami saat ini. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mendorong pemuda tersebut terlalu kuat dalam menghadapi rasa traumanya. Seperti apa yang sejauh ini ia lakukan, membiasakan pemuda itu dengan kehadirannya dan sentuhan - sentuhan kecil pada tangan maupun puncak kepala. "Maafkan aku, apa kau baik - baik saja, Kyuhyun?", nadanya sarat akan penyesalan.
Sesaat, gambaran akan masa lalu terlintas di benaknya. Mulut - mulut biadab itu menyentuh telinganya dengan intensi kotor. Tangan - tangan itu yang mencengkram sisi kepalanya untuk dijadikan pegangan, secara sengaja maupun tidak, melukai telinganya. Sesak, Kyuhyun masih ingat bagaimana sudut bibirnya robek karena mulutnya dibuka paksa untuk melayani setiap orang yang datang. Para manusia berjiwa iblis yang memuaskan nafsu mereka lewat dirinya yang hanya seorang anak kecil. Mereka bahkan berani membayar tinggi pada 'Mama' untuk satu kali pelayanan dari ia atau temannya, siapapun yang tidak beruntung hari itu. Tidak. Ia tidak mau dipaksa melakukan hal menjijikkan seperti itu lagi.
"Baby Kyu?"
"Ah?!", tersentak, ia pun mengerjap pelan. Kyuhyun bisa merasakan panas pada kedua bola matanya. Cairan bening menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja. Segera menyeka cairan tersebut dengan lengan seragamnya, ia menggerutu kesal karena menyadari panggilan yang pria tersebut gunakan. "Su, sudah ku katakan, jangan panggil aku seperti itu! Ayo pergi!", tanpa berbalik ataupun menunggu lawan bicaranya, ia berjalan keluar dari ruang kantornya. Batinnya terus meyakinkan diri untuk tetap tenang dan tidak goyah karena bayangan masa lalunya tadi.
Siwon menatap punggung milik pujaan hatinya itu sembari terus melangkah dibelakang pemuda tersebut. Ia tahu, untuk satu menit yang panjang, Kyuhyun tenggelam dalam pusaran masa lalu. Iblis licik itu menarik kesadaran yang lebih muda, memutar ulang kejadian mengerikan yang pemuda itu pernah alami, dan meninggalkan dirinya sebagai yang bersalah. Ya, bersalah karena secara tidak sengaja telah menarik pelatuk rangsangan dan berakibat menembakkan impuls ke memori, memproyeksikan gambaran yang seharusnya belum bisa diterima pemuda itu. Walaupun pemuda tersebut harus membiasakan diri untuk menghadapi ketakutan masa lalunya, bukan berarti semua itu bisa terjadi dalam waktu satu malam. Butuh terapi jangka panjang dan kesiapan mental dari yang bersangkutan. Terlalu berlebihan dan memaksakan diri, justru akan menghancurkan segala usaha yang telah dibangun.
Audi yang mereka naiki, membelah jalanan dalam keadaan sunyi, tak satupun dari keduanya mau membuka mulut. Siwon memilih diam, yang lebih muda jelas sekali butuh waktu untuk menenangkan diri. Sebenarnya, alasan ia mengajak Kyuhyun makan malam di restoran seafood berawal dari informasi yang diberikan Juhyun. Calon adik iparnya itu terkadang mengiriminya pesan berisi beberapa hal mengenai pemuda tersebut. Mulai dari warna yang pemuda itu sukai, hingga binatang yang dia takuti, walaupun hal tersebut tidak diberitahukan secara utuh. Wanita itu akan memberitahukannya tiba - tiba, dan akan menahannya jika ia meminta lebih. Informasi pertama yang ia terima adalah sesuatu yang pemuda itu benci. Kyuhyun tidak suka dengan suatu obat yang diberikan tiap kali pemuda tersebut mengalami masalah pada pernafasan. Metilprednisolon, dia sangat membenci tablet kecil dari golongan steroid yang rasa pahitnya sungguh luar biasa itu, dan hanya akan menelannya bersama eskrim. Kekanakan, itu yang Juhyun katakan, tetapi menurutnya itu sangat menggemaskan.
Cinta itu buta, ada yang mengatakan seperti itu, dan siapapun orangnya, dia benar. Reservasi makan malam di restoran seafood yang mereka tuju, sebenarnya sudah dipesan sejak lima hari yang lalu, tepat setelah ia mengetahui hal tersebut. Saat itu, ia baru saja selesai berbincang dengan Kyuhyun lewat sambungan telepon, namun ponselnya kembali berdering karena pesan yang Juhyun kirim. Disana hanya tertulis, 'Kyuhyun oppa itu akan jadi sangat pelit saat kami sedang makan seafood ', namun hal itu cukup untuk membuat ia sadar bahwa wanita tersebut sedang memberikan petunjuk padanya. Makanan yang pemuda itu sukai selain tteokbokki dan jajangmyeon, walau tak dipungkiri pemuda itu menyukai segala jenis makanan. Perbedaannya, pemuda bermarga Cho itu bisa menghabiskan lebih banyak porsi dari makanan kesukaannya daripada hidangan lain yang tersedia. Sebagai perandaian, jika ada dua porsi tteokbokki dan dua porsi japchae didepan pemuda itu, sudah bisa dipastikan, piring tteokbokki yang akan bersih terlebih dahulu dan akan meninggalkan satu piring japchae tak tersentuh.
Mereka melangkah masuk kedalam restoran seafood yang menjadi pilihan tempat untuk kencan makan malam kali ini. Kontras, itu yang menggambarkan penampilan keduanya karena mereka langsung pergi setelah pulang kerja. Siwon dengan setelan jas putih keluaran Armani dan kemeja hitam tanpa dasi, sedangkan Kyuhyun dengan seragam kepolisian berwarna royal blue yang disertai tanda pangkat pada bagian dada maupun pundak. Ada beberapa yang memandang takjub dan berbisik sembari tersenyum kagum, namun tak sedikit pula yang mendecih dan mencaci maki dengan intonasi serendah mungkin. Siwon tidak peduli dengan tanggapan yang mereka dapatkan, ia hanya fokus berjalan bersama yang lebih muda, jemari mereka saling terkait. Ia tahu bahwa Kyuhyun sangat tidak suka diperlakukan seperti wanita, maka dari itu, tak pernah sekalipun ia menuntun pemuda tersebut dengan sebelah lengannya pada punggung bawah sang pujaan hati. Pemuda itu akan lebih menerima saat ia mengajak bergandengan tangan.
Keduanya sudah duduk dengan nyaman, menunggu makanan yang dipesan datang. Siwon sengaja memilih tempat yang cukup private, di balkon lantai dua restoran tersebut, pemandangannya langsung mengarah pada Sungai Han. Kerlap - kerlip dari pinggiran sungai tersebut tampak indah, hasil dari lampu - lampu kecil yang menghias disana. Melihat fokus pemuda itu sudah teralihkan dari 'insiden' kecil mereka tadi, ia pun perlahan merogoh kotak beludru didalam sakunya. Berharap kali ini, untuk yang kelima kalinya, lamarannya akan berhasil. Jemarinya menyentuh lembut tangan yang lebih muda, kulit pucat itu sangat kontras dengan miliknya yang berwarna tan. Saat mendapat atensi penuh dari pemuda tersebut, ia lalu menyodorkan kotak beludru berisi cincin tadi, pantulan cahaya dari lampu, memperindah kilauan merah muda yang dihasilkan dari Pink Diamond. Berlian itu bertahta indah pada kepala cincin yang ia desain sedemikian rupa.
"Kyuhyun, mungkin kau sudah bosan mendengar ini, tapi aku tidak akan menyerah... Will you marry me?"
Mengerjap pelan, ia terkesima dengan cincin yang pria itu bawa kali ini. Namun, tetap saja Kyuhyun memberikan jawaban yang sama. Jangan lupakan dengan nada ketus, guna menutupi kegugupan dan rasa bimbangnya untuk menolak yang lebih tua kali ini. "Siwon hyung, berhentilah menanyai ku tentang hal itu"
"Tapi kita sudah sering pergi kencan seperti ini. Bukankah itu artinya kau mulai mencintai ku, Kyuhyunnie?"
"Aku hanya menerima ajakan mu untuk pergi makan gratis", ia membuang pandangannya kembali, entah mengapa merasa bersalah dan tidak tega melihat wajah sedih pria itu. Beruntungnya, seorang pelayan datang dan menghidangkan makanan mereka. Kyuhyun tidak akan bohong dengan fakta bahwa ia merasa lega, karena memiliki alasan untuk menghentikan pembahasan mengenai hal bertajuk pernikahan. Ia hanya merasa belum siap dan masih butuh waktu untuk mempercayai pria tersebut lebih jauh. "Sekarang diamlah, makanan ini menjadi pahit saat kau berbicara"
Senyuman tipis dengan kilat sendu, berhasil singgah di wajahnya selama beberapa saat. Siapa yang tidak akan kecewa saat sang pujaan hati menolak lamaran untuk yang kelima kalinya? Bahkan Siwon pun, akan mempertanyakan tentang keputusannya yang terus persisten untuk melamar. Menunggu memang bukanlah hal yang mudah, sangat sulit lebih tepatnya. Namun, ia berusaha untuk tetap yakin dan bertahan dalam penantiannya. Jangan lupakan, dukungan dari orang - orang terdekat pemuda tersebut yang membantunya untuk tetap maju, walaupun penolakan yang ia dapatkan. Ryeowook sangat bersemangat mendukungnya, Juhyun pun tak kalah suportif saat ia melakukan pendekatan, bahkan paman dan bibi pemuda itu juga ikut andil dalam memberikan yang lebih muda dorongan. Pasangan suami istri itu sudah mulai bisa menerima kedekatannya dengan Kyuhyun, sebuah pertanda untuknya agar tidak menyerah. Dan, satu hal yang membuatnya berani berharap, yaitu kalimat yang pemuda tersebut ucapkan setelah menolaknya.
"Simpan cincinnya, atau lebih baik, kau jual lagi. Aku serius saat mengatakan agar kau tidak membuang uang, Siwon hyung. Bagaimana kalau suatu saat nanti aku menerima mu? Kita butuh uang untuk menyelenggarakan pesta"
###
Sebuah mobil dinas kepolisian, melaju cepat dijalanan sunyi menuju Seoul. Kyuhyun, si pengemudi mobil tersebut, baru saja selesai membantu menangkap seorang pelaku pembunuhan berantai di Cheonan, atau lebih tepat jika dikatakan, ia dan rekannya lah yang menangkap pembunuh itu. Polisi - polisi di Cheonan bagaikan seonggok boneka kayu rusak yang hanya bisa digerakkan secara paksa. Unit Investigasi Pembunuhan mereka pun sungguh menyedihkan, tidak heran angka kasus pembunuhan disana lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Bayangkan saja, lebih dari lima puluh persen kasus yang pernah dilaporkan, berakhir dengan tutup buku karena pelakunya tidak berhasil ditangkap. Memikirkan bagaimana para penjahat itu berkeliaran tanpa beban dosa saja sudah membuatnya geram setengah mati. Jika korban kali ini bukanlah seorang aktris ternama, mereka pastilah tidak akan pernah menghubungi pusat untuk meminta bantuan.
Tiga hari, ia dan partnernya hanya memperhatikan kinerja para polisi disana, yang berakhir dengan kekacauan karena tidak mendapat satu kemajuan pun. Para anggota Unit Investigasi Pembunuhan Cheonan jelas sekali menunjukkan ketidaksukaan padanya, karena ia meneriaki setiap manusia yang ada disana. Kyuhyun sadar dengan kalimat berisi sumpah serapah serta caci maki yang mengalir lancar dari mulutnya menimbulkan sakit hati, dan tak sekalipun ia menyesal atau merasa khawatir akan pandangan mereka tentangnya. Ia membungkam semua protes dari para personel yang ada disana dengan keberhasilannya menangkap pelaku dalam tiga hari. Total satu minggu ia menghabiskan waktu untuk sebuah kasus pembunuhan sepele, jika para polisi penyidik itu berada dalam wewenangnya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk menendang mereka semua keluar dari divisinya. Bahkan, kelima penyidik senior divisinya memiliki kapabilitas tujuh kali lipat lebih baik dari semua penyidik di Cheonan.
Tangannya segera menekan tombol pada earphone tepat saat ponselnya berdering dua kali. Kyuhyun sengaja memasang alat tersebut ditelinganya untuk mempermudah dirinya menjawab transmisi yang masuk ke ponselnya. "Halo, Cho Kyuhyun disini"
"Aku merindukan mu, Kyuhyun. Kenapa baru mengangkat panggilan ku?"
Menggigit bibir bagian bawahnya, ia berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya yang menggebu sejak beberapa hari lalu. Kerinduan, sama dengan apa yang lawan bicaranya rasakan saat ini. "Aku sibuk"
"Apa ini karena kasus yang diberitakan satu minggu lalu? Bukankah itu berada diluar wilayah kerja mu? Apa mereka setolol itu hingga kau yang tangani?", suara itu terdengar kesal. Ada sinisme yang pekat tersirat disana.
"Mereka meminta bantuan dari pusat. Karena aku ketua divisi, aku harus turun tangan untuk melihat kinerja mereka dulu", tanpa ia sadari, laju kendaraan yang sedang ia kemudikan semakin melambat. Bahkan partnernya yang sedang tertidur, mulai terusik dengan cara ia menyetir. "Matikan transmisinya, aku sedang menyetir"
"Aku masih ingin mendengar suara mu. Kau melarang ku menemui mu satu minggu ini dan tidak membalas pesan ataupun mengangkat panggilan dari ku. Jangan salahkan aku"
"Siwon hyung..."
"Ya, Kyuhyunnie?"
"Kau masih akan melamar ku lagi?", ia bertanya dengan hati - hati. Mungkin saja pria itu akan berubah pikiran. Bagaimanapun juga, ia sudah lima kali menolaknya.
"Tentu saja, aku belum menyerah, sayang"
Menghela nafas pelan, kelegaan mengisi rongga dadanya selama beberapa saat, perlahan menyadari ada rasa yang tak tergambarkan ikut masuk kesana. Ia menggigit kuku jari jempol kirinya, mencoba mengusir kegugupan yang menekan jiwanya dan memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat selanjutnya dalam satu tarikan nafas. "Kalau begitu, kau harus menjadi kekasih ku. Aku tahu kau tidak akan menolak. Selamat malam"
Tanpa menunggu respon dari yang lebih tua, Kyuhyun memutus transmisi tersebut. Tangannya meraih ponsel miliknya dan mengatur agar benda persegi itu berada dalam daya mati, terkesan terburu - buru dan panik. Sejujurnya, ia tidak ingin mendengar penolakan pria itu, walau tadi dengan percaya dirinya ia menyatakan bahwa pria itu tidak akan menolak. Dan hal pertama yang ia lakukan untuk mencegah itu semua adalah lari. Ya, melarikan diri dan menolak untuk mendengar tanggapan dari pria tersebut. Pola yang sama setiap kali ia berhadapan dengan seseorang yang memiliki ketertarikan romantis padanya. Namun kali ini, ia berani melangkah maju dan keluar dari zona nyamannya. Katakanlah, persistensi Siwon selama, lebih kurang, delapan bulan ini telah berhasil meluluh lantakkan dinding es yang ia pasang sebagai tameng.
"Jadi... Kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih?"
Mengerjap beberapa kali, ia melemparkan pandangan pada rekannya itu selama beberapa saat, sebelum kembali fokus pada jalanan. "Aku bosan mendengarnya melamar ku terus"
"Ya ampun, Kyuhyun... Bilang saja kalau kau mencintainya"
"Jangan berisik, Ryeowook"
Ryeowook tidak akan berbohong dan berpura - pura menjadi orang idiot, karena ia sudah terbangun sejak pemuda disampingnya ini memelankan laju mobil mereka. Lagi pula, ini bahan pembicaraan yang bagus untuk dibincangkan bersama Juhyun, ditemani secangkir teh dan beberapa keping kue kering tentunya. Mereka berdua juga sudah mendukung hubungan Siwon dan Kyuhyun sejak insiden Seohyun dua bulan yang lalu. Bahkan orang buta saja bisa memilih dan 'melihat' dengan baik, mana yang benar - benar tulus mencintai sahabatnya itu. Bukan sekedar obsesi tak sehat belaka. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu menumpukan sebelah pipi pada telapaknya, memperhatikan gerak - gerik pemuda yang merupakan atasan sekaligus sahabat serta partner kerjanya itu. Rona merah bahkan sudah menjalar hingga telinga dan leher pemuda tersebut. Jika tidak ingat kalau yang bersangkutan sedang memegang roda setir, sudah bisa dipastikan ia akan tertawa terbahak sembari menunjuk - nunjuk wajah pemuda pucat itu.
"Kau memutus transmisi kalian setelah mengatakan padanya kalau dia harus menjadi kekasih mu? Dasar aneh. Lihat itu, wajah mu terbakar", tetap saja, Ryeowook tidak bisa menahan diri untuk tidak mengolok sahabat manisnya ini.
Pelipisnya berkedut, kesal. Tanpa peringatan, Kyuhyun menginjak habis pedal gas, memacu kendaraan dinas itu untuk bergerak diatas kecepatan normal. "Aku akan tabrakkan mobil ini"
"YAK! AKU MASIH MAU HIDUP, CHO!"
"Kalau begitu, diamlah"
Sisa perjalanan menuju Seoul, diisi jeritan dan umpatan dari Ryeowook karena ia menyetir bagaikan sedang mengikuti balapan liar. Perjalanan dari Cheonan menuju Seoul yang seharusnya ditempuh selama satu setengah jam, dipersingkat menjadi satu jam karena ia tidak melepaskan pijakan pada pedal gas. Senyuman mengejek tak luput dari wajahnya saat mengantar pulang sahabatnya itu. Mengingat bagaimana pemuda tersebut sampai pucat pasi dengan kedua kaki gemetar saat turun dari mobil, membuatnya cukup puas karena balas dendamnya sukses. Ia sudah pernah mengatakan bahwa ia tidak akan ragu untuk membalas sahabatnya itu, jika pemuda tersebut membuatnya kesal. Bulan sudah menggantikan peran matahari di langit saat ia keluar dari Kantor Pusat Kepolisian Seoul. Ia terlebih dahulu mengembalikan mobil dinas, sebelum pulang menuju rumahnya. Kyuhyun sudah cukup lama tidak pergi dinas selama ini, biasanya hanya tiga atau lima hari. Maka, saat ia melangkah masuk ke dalam rumah dan menemukan sang bibi yang sedang menangis histeris, ia hanya bisa terpaku.
"Juhyun... Hilang?"
"Hyun-ah! Hikss... Bagaimana ini? Adik mu... Hikss hikss... Anak ku... Hyunnie... Hikss", tubuhnya nyaris terdorong jatuh saat wanita berusia setengah abad itu, menerjangnya dan memeluknya erat.
Kyuhyun hanya bisa mengeratkan pelukan pada sang bibi, mencoba menguatkan wanita tersebut, dan juga dirinya sendiri. Ia menatap pria dengan raut tegas diruangan itu, sang paman, dengan tatapan terguncang. "Apa paman dan bibi sudah menghubungi semua temannya?"
"Sudah kami lakukan, bahkan kami juga mengecek jadwal kerjanya dan absensi di kantor... Kami sudah menanyakan perihal ini pada Han Byul, dia bahkan tidak tahu tentang ini... Akhirnya, kami melapor pada polisi"
Satu - satunya wanita disana, kembali menangis tersedu. Kyuhyun dan pamannya memutuskan untuk membicarakan hal ini saat sang bibi sudah beristirahat di kamar. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, ia sudah mendengar garis besar kejadian dari Inspektur Lee Jinki, Ketua Divisi Investigasi Orang Hilang. Tim terbaik divisi tersebut sudah dikirimkan, hanya saja, sampai saat ini tidak ada kemajuan. Ini semakin di persulit karena adik sepupunya itu sudah dua hari tidak pulang ke rumah, dan laporan baru diterima pada hari ketiga wanita tersebut menghilang. Ia tidak menyalahkan paman dan bibinya yang berpikir bahwa Juhyun hanya pergi menyendiri. Adik sepupunya itu kadang melakukan hal seperti itu. Tetapi, saat tim pencari menemukan ponsel dan mobil wanita tersebut didekat daerah proyek pembangunan gedung di Gangseo, justru hal tersebut membuat tim semakin khawatir. Pasalnya, ada cipratan darah ditemukan disana, dan laboratorium forensik menyatakan bahwa sampel itu adalah milik adik sepupunya.
"Kyuhyun-ah, kau mau kemana? Ini sudah larut"
"Aku akan mecarinya. Aku akan mencari Juhyun", ia kembali meraih kunci mobilnya dan melangkah cepat menuju pintu. Berhenti selama beberapa saat, ia lalu menatap pria tersebut dengan keras, netranya berkilat tajam. "Jangan hentikan aku, paman"
Satu kalimat terakhir itulah yang membungkam sang paman untuk melarangnya. Kyuhyun tahu, pria itu tidak ingin dirinya kembali menyakiti orang lain, seperti apa yang terjadi empat belas tahun lalu. Namun, ia tidak akan bisa berpikiran jernih, mengetahui bahwa sang adik sedang dalam bahaya, bahkan ia tidak tahu bagaimana nasib Juhyun sekarang. Darah itu milik adiknya, seseorang telah menyakiti adiknya, tepat saat ia tidak ada disana. Ia tidak ingin wanita itu mengalami apa yang pernah ia alami, setelah selama ini ia berusaha menjaga wanita tersebut sebaik mungkin. Tangannya mencengkram erat roda setir dengan kuat hingga buku - buku jarinya memutih. Saat ini, hanya satu nama yang terus berputar di kepalanya, berulang kali bagaikan kaset rusak. Nama yang berhasil membuatnya tetap berdiri digaris tipis kewarasannya.
"Siwon"
###
Rasanya bagaikan mimpi, dan jika benar bahwa itu hanyalah mimpi, tolong jangan bangunkan dirinya. Siwon menimang kotak beludru yang baru saja ia terima dari sebuah toko perhiasan kelas dunia. Mungkin hari ini, dewi fortuna mengikuti langkahnya seharian, karena rentetan keberuntungan tak lepas sejak pagi tadi. Dimulai dengan proyek internasional miliknya yang sukses besar, lalu rumah yang ia bangun sudah mencapai tahap finishing, dan cincin pesanannya pun sudah selesai malam ini. Jangan lupakan, sang pujaan hati yang mengatakan bahwa mulai saat ini, mereka berdua adalah sepasang kekasih. Hal tersebut merupakan sebuah batu loncatan besar dalam hubungan mereka, dan rasa bahagia mendengar pernyataan tersebut, tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Ia baru saja memasuki mobil saat ponselnya berkedip, menampilkan nama pemuda tersebut yang sedari tadi berputar dikepalanya sebagai identitas pemanggil. Tak menunggu lebih dari dua detik, ia pun segera menerima transmisi itu dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Kyuhyunnie? Kau sudah sampai rumah? Kalau iya, aku ingin menanyakan-"
"Siwon hyung...", suara itu terdengar kaku saat menyuarakan namanya, memotong perkataannya tanpa basa - basi. "Hyung, Juhyun menghilang... Sudah empat hari ini dia tidak pulang"
Netra kelam miliknya melebar, terkejut dengan apa yang ia dengar. Kotak yang sedari tadi ia timang dalam genggaman, segera ia lempar kedalam dashboard. Menghilangnya Juhyun, lebih penting daripada nasib cincin senilai ratusan juta dollar yang ada dalam kotak beludru tadi. "Aku akan menjemput mu, kita akan cari Juhyun"
"Hyung... Adik ku..."
"Kyuhyun? Kau dengar aku? Jangan matikan transmisinya", Siwon khawatir, sangat. Suara yang tadinya terdengar kaku, perlahan goyah seiring dengan tiap kata yang pemuda tersebut ucapkan.
"Aku harus menemukannya"
"Kau sedang menyetir? Kyuhyun, jangan menyetir sendiri. Kau dengar aku? Kau ada dimana sekarang? Aku akan menjemput mu", ia tersentak saat mendengar akselerator yang meraung, diikuti bunyi deru mesin yang memenuhi indera pendengarannya. Samar - samar, suara klakson terdengar pada latar belakang. Hanya ada satu kesimpulan dari apa yang terjadi saat ini. Pemuda itu sedang mengebut kuda besi miliknya. "Halo? Kyuhyun? Kyuhyunnie? Cho Kyuhyun!"
Loudspeaker. Pemuda itu menggunakan mode pengeras suara dalam panggilan, mengingat bagaimana ia bisa mendengar bunyi disekitar lawan bicaranya itu dengan jelas. Kyuhyun sedang dalam keadaan tidak stabil, pemuda itu bisa mencelakai dirinya sendiri jika memaksakan diri untuk duduk dibelakang roda kemudi. Siwon tidak peduli jika ada yang mati tertabrak, satu - satunya hal yang ia pedulikan adalah keselamatan cintanya itu. Sejak awal, ia sadar apa yang menjadi kelemahan pemuda pucat itu. Namun, ia tidak menyangka, seseorang berani mengusik yang lebih muda. Tipikal kekasihnya itu, selain membahayakan diri sendiri, dia juga akan menjadi berbahaya untuk orang lain. Impulsive, pemuda tersebut akan berubah menjadi orang yang sangat berbeda saat dipojokkan seperti ini. Ia memilih untuk berhenti mengemudi dan fokus membujuk sang kekasih untuk mendengarkannya. Kedua tangannya lantas tidak menganggur begitu saja, tablet yang selalu ia bawa, ia gunakan untuk menghubungi para informannya, memerintahkan mereka untuk mencari calon adik iparnya. Jika para ahli tracker itu tidak menemukan lokasi wanita tersebut dalam kurun waktu tiga jam, ia berjanji akan melubangi kepala mereka satu persatu dengan kedua tangannya sendiri.
"Ku mohon, dengarkan aku, Baby Kyu", putus asa karena pemuda itu tak kunjung menjawabnya, ia pun menyandarkan dahi pada roda setir. Sengaja memanggil yang lebih muda dengan panggilan favorite nya itu, berharap usaha terakhirnya ini berhasil.
Suara ban berdecit, menjadi tanda keberhasilannya. Pemuda itu pastilah akan memarahinya setelah ini, namun hal itu bisa dikhawatirkan nanti. "Jangan memanggil ku seperti itu...", jeda selama beberapa saat, suara itu kembali terdengar setelah satu menit yang panjang dalam keheningan. Nadanya pelan, seperti seorang anak kecil yang tersesat dan kebingungan. "Hyung... Aku tidak tahu ini dimana..."
"Baby Kyu, dengarkan aku. Jangan panik. Kau harus tenang. Aku janji kita akan menemukan Juhyun malam ini juga", tangannya bergerak cepat untuk mengaktifkan implant tracker yang ia pasang pada ponsel pemuda tersebut, sebelum menginjak pedal gasnya dan mengemudi mengikuti petunjuk dari perangkat lunak tersebut. "Aku sudah dekat dengan lokasi mu. Tunggulah disana"
Seven Marriage Proposal : To Be Continued
A/N:
Maafkan jika ada typo yang bertebaran. Jangan lupa untuk review ya buat penyemangat author bikin lanjutannya
