Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART III
[ Seven Marriage Proposal (4) ]
Siwon menemukan mobil pemuda itu dalam keadaan terparkir sembarangan disalah satu sisi jalanan distrik Nowon yang sunyi. Ada beberapa bekas penyok pada bagian depan mobil keluaran Hyundai tersebut, bukti bahwa kuda besi itu kemungkinan besar menabrak sesuatu sebelum sampai disini. Ia membantu sang kekasih untuk keluar dan pindah ke kursi penumpang Audi nya, tentu setelah menghubungi salah satu bawahannya untuk mengambil mobil Kyuhyun. Mobil itu akan mendapat perbaikan sebelum kembali diantar ke rumah pemiliknya. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah restoran cepat saji yang buka 24 jam, karena jam sudah menunjukkan angka 11 malam dan pastinya tidak ada satu pun kafe yang buka. Segelas milkshake vanilla dan satu porsi kentang goreng sudah tersaji didepan pemuda tersebut. Namun, kekasihnya itu menolak menelan apapun hingga sang adik ditemukan. Bibir yang biasa berwarna merah ranum itu, sekarang tampak pucat, menandakan kondisi kesehatan pemiliknya yang mulai menurun.
Ia menggenggam tangan pucat itu dengan lembut, memberikan kecupan pada punggungnya. "Sayang, aku tahu kau lelah karena bekerja, dan aku yakin kau belum menelan apapun sejak sampai di Seoul. Makanlah sesuatu, aku akan membelikan apapun yang kau mau"
"Aku akan makan setelah bertemu Juhyun"
"Sayang...", Siwon menghela nafas pelan. Kekasihnya ini keras kepala, dan itu bukan hal baru. Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa kalau sudah begini. "Orang suruhan ku sedang mencarinya. Kurang dari tiga jam, kita akan tahu dimana lokasi Juhyun"
"Aku tidak-", perkataan Kyuhyun terpotong oleh suara bergemuruh samar yang berasal dari perutnya, namun ia yakin bahwa suara tersebut cukup keras untuk didengar lawan bicaranya. Wajah pucat itu seketika dihiasi rona kemerahan tipis, pemiliknya membuang pandangan karena merasa malu.
"Kalau begitu, aku saja yang makan. Aku lapar", namun Siwon tidak menyinggung hal tersebut dan mulai memakan beberapa potong kentang goreng tadi. Walaupun sejujurnya, sekuat tenaga, ia menahan diri untuk tidak tertawa. Terimakasih ia tujukan pada tangan kirinya yang secara reflek mencubit keras pahanya sendiri, menghentikan rasa geli yang terkumpul di perutnya.
Kata - kata itu, cukup untuk memancing yang lebih muda. Siwon tersenyum melihat pemuda tersebut menghabiskan minuman yang ia pesan, setidaknya seporsi kentang goreng yang mereka bagi berdua dan segelas vanilla milkshake, bisa menjadi pengganjal untuk saat ini. Ia tidak akan memaksa Kyuhyun untuk menelan lebih banyak makanan, karena pemuda tersebut beberapa kali tampak memandang kosong kearah jendela saat makan tadi, jelas sekali sedang melamun. Netra coklat karamel itu kehilangan cahayanya, redup dan dingin. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, Siwon berharap Kyuhyun mau berbagi dengannya, tidak harus memikul rasa bersalah ataupun sesal sendirian. Ia pribadi, merasa sangat menyesal karena membatalkan janjinya untuk bertemu calon adik iparnya itu empat hari yang lalu, acara makan siang bersama yang bertujuan untuk mengenalkan kedua adik angkatnya pada wanita itu. Jika saja salah satu pemegang saham perusahaannya yang ada di China tidak datang dan memaksa bertemu, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Padahal si tua bangka itu hanya ingin mengenalkan anak perempuannya, seorang model wanita yang sedang berada pada puncak popularitas di negeri berjuluk tirai bambu, seseorang yang tidak penting menurutnya.
Menunggu merupakan kegiatan yang paling ia benci. Jarum jam terus berdetak, lengan panjangnya berputar semakin mendekati angka dua belas, sedangkan angka pendeknya bergerak lambat menunjuk angka dua. Lima belas menit lagi, genap tenggat waktu tiga jam, dan kabar keberadaan Juhyun belum juga ia dengar. Siwon menghela nafas pelan, tak sabar dan muak karena harus menunggu selama ini, padahal ia sudah disibukkan dengan mengkoordinir para bawahannya yang bertugas menyisir setiap tempat di Seoul. Bahkan, ia juga turut menggunakan koneksi 'anak jalanan', para gelandangan yang sering berkeliaran secara individu maupun berkelompok, terkadang mereka memiliki informasi yang tidak dimiliki para polisi dan apa yang kamera CCTV lewatkan. Tetapi, tetap saja hal tersebut butuh waktu karena mereka menggunakan metode 'mulut ke mulut'. Tanpa ponsel atau barang elektronik lainnya yang mempermudah komunikasi, membuat kesabarannya semakin menipis dan nyaris meledak karena emosi yang tertahan. Namun, saat pandangannya tertuju pada sosok sang kekasih yang tertidur dengan kepala bertumpu diatas meja, sukses meluluhkan segala murkanya yang nyaris membakar ubun - ubun.
Lelah adalah kata yang tepat saat melihat gurat wajah pemuda tersebut. Mengingat Kyuhyun masih mengenakan jaket kulit yang biasa digunakan saat pergi dinas, pemuda itu pastilah tidak berpikir untuk istirahat. Ia mengerti apa yang kekasihnya itu rasakan saat ini, kekhawatiran tak berujung. Jika salah satu adik angkatnya menghilang secara tiba - tiba, dirinya pun akan melupakan segalanya, karena makan dan istirahat tak akan menjadi prioritasnya. Dan Siwon sangat bersyukur saat melihat yang lebih muda tertidur pulas, memberikan tubuh pemuda itu waktu untuk memulihkan diri. Ia mengangkat sang kekasih dalam gendongannya, mendekap erat pemuda tersebut lalu kembali menurunkannya di kursi penumpang Audi yang ia kendarai. Terimakasih atas bantuan salah satu pelayan restoran cepat saji tadi karena sudah membukakan pintu untuknya. Selama beberapa menit ke depan, atensinya penuh ia berikan pada figur pucat tersebut. Hingga dering dari ponsel memasuki indera pendengarannya dan memutus fokusnya.
"Katakan"
"Kami sudah menemukan lokasi Nona Bae Juhyun. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Tuan Besar Choi?"
"Kirim alamatnya. Aku akan segera kesana. Berjaga - jagalah disekitar sana, dan jangan bergerak hingga aku memberikan perintah"
"Laksanakan, Tuan Besar Choi"
Ia tertegun dalam diam, dan perlahan, mobil yang ia tumpangi, mulai melaju dengan kecepatan diatas rata - rata. Siwon memacu Audi tersebut menuju ke tempat sang adik, namun ia sengaja tidak membuka mata, masih mencerna informasi yang tak sengaja ia dengar tadi. Sebenarnya, Kyuhyun sudah terbangun sejak ponsel pria tersebut berdering, mengusik tidurnya, hanya saja ia merasa canggung jika tiba - tiba membuka mata. Apa lagi, yang lebih tua seperti sedang memperhatikannya dengan intens tadi. Samar - samar, ia bisa mendengar nama yang cukup familiar untuknya, nama adiknya. Perlahan, ia membuka kedua matanya dan menegakkan posisi duduknya. Tatapan was - was dari yang lebih tua, tidak lantas menghentikan niatannya untuk memastikan kemana mereka akan pergi, alamat yang menjadi tujuan mereka.
"Dia yang menculiknya?"
"Kau sudah bangun?"
Pertanyaan pengalih yang bodoh, itu pikirnya. Melemparkan tatapan tajam pada yang lebih tua, Kyuhyun memukul kasar kaca jendela disampingnya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, hyung", darahnya mendidih, kesabarannya semakin tipis saat tahu persis kemana mereka akan pergi. "Si brengsek itu yang menculik adik ku?"
"Ya", menghela nafas berat, ia pun mengangguk pelan sebagai penegas jawaban. "Kita akan segera kesana untuk menemuinya"
Siwon melirik sekilas kearah yang lebih muda, perasaan gelisah menusuk ulu hatinya. Rahang pemuda itu mengeras, ia bahkan bisa mendengar suara geligi yang berderak, bergesekan satu sama lain. Pandangaan pemuda itu lurus ke depan, menatap keras pada jalanan gelap yang mereka lewati, dengan tangan mencengkram kuat kedua lututnya. Tipikal Kyuhyun saat menahan amarah, apapun dan siapapun tidak akan bisa menghentikan kekasihnya itu jika sudah mencapai tahapan ini. Kilatan berbahaya dan buas, seperti predator lapar yang siap menerkam, mencincang mangsanya. Namun bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk dirusak sebagai kepuasan diri semata. Terkutuklah bajingan ini yang berani membangunkan murka dari seorang Cho Kyuhyun. Bahkan Siwon sendiri tidak yakin bisa menghentikan pemuda itu agar tidak melakukan hal yang nantinya akan dia sesali. Baru mengetahui siapa pelakunya saja sudah seperti ini, ia tidak mau membayangkan apa yang terjadi saat mereka melihat keadaan Juhyun nanti.
Karena jalanan yang lumayan lengang, mereka hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di alamat yang mereka tuju. Gedung apartemen kelas tiga yang hanya memiliki satu lift dan dua cabang tangga sebagai jalan untuk mencapai tiap tingkatan. Tidak ada CCTV yang terpasang, mempermudah tempat ini menjadi sasaran empuk tindak kejahatan, bahkan mungkin sebagai tempat tinggal si penjahat itu sendiri. Tak sedetik pun Siwon melepaskan fokus dari Kyuhyun, sejak mereka keluar dari mobil hingga saat ini berada di lift menuju lantai empat, takut jika pemuda tersebut melakukan hal - hal diluar nalar. Kyuhyun itu nekat, sangat amat nekat lebih tepatnya. Mengingat pertemuan pertama mereka, dimana pemuda itu melaju kencang mengendarai mobil kepolisian, lalu secara tiba - tiba menginjak pedal rem, sembari melepaskan tembakan dengan tubuh bagian atas berada diluar jendela. Menyetir mobil yang dipaksa berhenti mendadak dengan satu tangan dan kondisi supir tidak duduk dengan fokus, merupakan suatu tindakan yang sangat berbahaya. Dan pemuda tersebut melakukannya tanpa rasa takut dan keraguan sedikit pun.
"Tuan Besar Choi", seorang pria paruh baya dengan air muka yang keras, menundukkan kepalanya tepat saat ia dan Kyuhyun melangkah keluar dari dalam lift. Pria yang merupakan kepala keamanan pribadinya itu, menyambut ia bersama enam orang lainnya yang tampak lebih muda.
"Jelaskan situasinya, Pak Jang"
"Taemin yang berhasil mendapat lokasi tempat ini. Dari hasil meretas CCTV diseberang gedung, dia mendapatkan potongan rekaman yang membuktikan hal itu"
"Bagaimana keadaan Juhyun?"
"Maaf, Tuan. Kami tidak mengetahui hal itu, yang jelas, Nona Bae dalam keadaan tak sadarkan diri saat dibawa kesini", pria bertubuh tegap dengan balutan jas hitam itu memperlihatkan sebuah besi berlekuk dengan warna perak pada sang atasan. Angka '417' tertera pada kepala besi tersebut. "Ini kunci yang anda minta. Serep yang diberikan oleh pemilik apartemen"
"Terimakasih. Segera hubungi Shindong hyung dan minta dia kemari, panggilan penting kode merah. Lalu, kalian berempat", Siwon menunjuk kearah empat orang pengawal yang berdiri paling belakang. "Ikuti kekasih ku, jangan sampai dia terluka sedikit pun"
"Aku bukan wanita. Aku lebih dari mampu untuk menjaga diri", Kyuhyun menyentak genggaman tangan mereka, mengekspresikan ketidak setujuannya. Ya, tangan keduanya memang saling bertaut sejak memasuki lift.
"Tentu, sayang. Tapi kau tetaplah manusia, kau bisa terluka. Aku tidak bisa memaafkan diri ku kalau kau sampai terluka", dan ia bersumpah akan membunuh siapapun yang berani melukai pemuda itu. Walau hanya seujung kuku ataupun sehelai rambut.
Siwon tersenyum tipis saat yang lebih muda mendecih pelan. Tidak bisa mendebat pendapatnya dengan argumen apapun, dan itu membuat sang kekasih merasa kalah, dirinya bisa membaca hal itu hanya dari raut wajah pemuda tersebut. Sedikit merapikan helain hitam yang tampak kusut, ia memberikan tepukan pelan pada kedua pipi Kyuhyun, mencoba menghilangkan kerutan samar didahi pemuda itu, sebelum memberikan kunci tersebut pada sang kekasih. Ia sengaja membiarkan pemuda itu untuk pergi terlebih dahulu menuju kamar bernomor 417, tempat yang mereka yakini dimana Juhyun disekap selama beberapa hari ini. Tentu saja Kyuhyun tidak sendirian, empat orang penjaga yang ia tunjuk tadi, turut mengikuti dibelakangnya. Senyumannya pudar saat pemuda tersebut menghilang diujung lorong, atensinya pun beralih pada tiga orang pengawal yang tersisa disana.
"Jangan lupa untuk menutup mulut penghuni apartemen ini. Jika ada siapapun, entah itu paparazi, wartawan, atau bahkan orang awam sekalipun yang mencoba merekam atau mengambil gambar, lenyapkan mereka. Aku tidak peduli. Yang terpenting, jangan sampai kekasih ku dan adik ku terekspos oleh sorotan media"
"Baik, Tuan Besar Choi"
Mengangguk pelan, ia membiarkan ketiga pengawal tadi untuk mengerjakan perintah yang ia berikan. Kakinya melangkah lambat untuk menyusul sang kekasih, sembari sebelah tangan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi salah satu orang yang menjadi kepercayaannya selama tiga tahun terakhir. "Halo? Ah, maaf aku mengganggu selarut ini, tapi aku butuh bantuan mu. Datanglah ke alamat yang ku kirimkan, dan jangan lupa untuk membawa perlengkapan mu"
###
Kyuhyun melangkah cepat menuju kamar apartemen bertuliskan '417', tanpa harus melihat angka yang terpasang pada tiap pintu, ia bisa menemukannya dengan mudah. Walau hanya pergi ke tempat ini sebanyak empat kali, ia tidak akan lupa, bahkan detail lorongnya. Sesampainya didepan pintu yang dituju, ia pun berjongkok dan mengintip dari lubang kunci, memastikan ruangan dibalik pintu tersebut aman untuk dimasuki. Setelah merasa cukup, ia kembali menegakkan tubuhnya dan perlahan memasukkan kunci serep yang ia terima dari Siwon. Membuka pintu tersebut dengan hati - hati, ia berjalan masuk sepelan mungkin, tentunya diikuti oleh para pria berjas hitam yang kekasihnya itu perintahkan untuk melindunginya. Sungguh merepotkan, ia menurut saja diikuti seperti ini karena ingin cepat bertemu sang adik. Jika tidak, tentu saja Kyuhyun sudah melemparkan berbagai macam argumen pada kekasihnya, sekonyol apapun itu. Selain karena tidak ingin dijaga terlalu ketat seperti saat ini, kalah dalam sebuah perdebatan adalah sesuatu yang sangat tidak ia sukai.
"ARGGHH! WANITA BRENGSEK!", suara teriakan murka bercampur dengan jerit kesakitan yang tertahan, terdengar dari sebuah pintu yang ia yakini sebagai kamar tidur. Tak berapa lama kemudian, bunyi benturan benda tumpul menyusul, terdengar cukup keras. "Khhh... Sia - sia saja aku berbaik hati pada mu selama ini!"
Semakin dekat dengan pintu tersebut, semakin jelas ia bisa mendengar suara yang sangat ia kenali. Tawa sinis dan decihan sarkas yang hanya bisa dilakukan sang adik, wanita itu mencontoh hal buruk tersebut darinya. Sekali lagi, suara pukulan benda tumpul, menelusup keluar dari celah pintu kamar didepannya. Terkunci, saat ia mencoba membuka pintu tersebut, gagangnya tak bergeming. Kyuhyun mundur beberapa langkah, namun para pengawal tadi berhasil mendahuluinya untuk mendobrak masuk, pelipisnya berdenyut karena kesal. Apa lagi setelah melakukan hal tadi, mereka berdiri disisi pintu untuk mempersilahkannya masuk, bajingan sial, mereka pikir dirinya ini wanita? Namun, ia mengesampingkan kekesalannya itu pada detik selanjutnya, tepat saat menangkap figur sang adik yang berada didalam ruangan itu bersama sang kekasih. Ya, kekasih adiknya, Oh Han Byul, yang mengaku tidak mengetahui perihal hilangnya Juhyun dan menunjukkan kemampuan bersandiwara yang luar biasa didepan semua orang. Keparat.
"Ju... Hyun?", lidahnya kelu saat melihat kondisi adiknya. Wanita itu jauh dari kata 'baik'.
Juhyun sendiri tak berharap banyak, ia merasa cukup kuat untuk menerima segala perlakuan kasar kekasihnya itu. Bahkan ia berhasil bertahan dari tindakan pelecahan yang nyaris akan ia dapatkan. Tetapi, kesadaran baru menghantamnya saat sang kakak berdiri diambang pintu. Pemuda itu menatapnya dengan netra bergetar, dan namanya yang lolos dari mulut sang kakak, sukses meruntuhkan pertahanannya selama empat hari ini. Kakaknya datang, pemuda itu datang untuk menjemputnya, menyelamatkannya. Tangisnya pecah, tidak peduli rasa nyeri pada sudut bibirnya, ia membuka suaranya. Serak dan parau.
"Oppa...? Kyu, Kyuhyun oppa... Hikss... Op, oppa! Hikss hikss"
Lengannya ia rentangkan, menjadi isyarat agar keempat pria tadi tidak ikut campur. Kyuhyun menutup pintu kamar tersebut perlahan, sebelum kembali berhadapan dengan sang adik yang menangis tersedu. Ketakutan jelas sekali tampak dari netra coklat pekat milik sang adik, adiknya yang disakiti. Wanita itu terduduk di sudut ruangan dengan beberapa memar di wajah, salah satu sudut bibirnya robek, bahkan masih ada darah segar yang mengalir dari sudut dahi wanita itu. Ia mengalihkan pandangannya kebawah, pakaian adiknya sobek, seperti dibuka paksa. Salah satu tali pengait bra milik wanita tersebut lepas, menampilkan sebagian payudaranya, dan kemeja yang wanita itu kenakan juga sudah tak layak lagi untuk dipakai. Kaki putih itu pun tidak tertutupi apapun, dengan celana dalam yang sedikit turun. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Juhyun lagi, surai karamel setinggi siku itu tampak acak - acakan, bekas jambakan sangat kentara terlihat. Atensinya kembali beralih saat mendengar suara barang disenggol jatuh, bajingan itu berusaha kabur dari sana.
Adik sepupunya yang ia jaga, Juhyun adiknya yang sangat berharga, wanita itu telah di sakiti secara fisik oleh pemuda didepannya ini. Pemuda yang merupakan kekasih adiknya sendiri, orang yang dua tahun lalu berjanji akan menjaga adiknya, tidak akan menyakiti permata kecilnya. Juhyun yang manis dan anggun, bagaikan bunga sakura yang mekar di musim gugur. Wanita yang ia berikan sumpahnya untuk selalu ia lindungi sejak pertama mereka bertemu, saat ini terduduk dengan tangan terikat dibelakang punggung. Ia bahkan tidak tahu, sejauh apa adiknya mendapat pelecahan seksual, melihat tampilan wanita tersebut yang sangat mengkhawatirkan. Kakinya melangkah mendekat pada Han Byul, pelan dan tenang bagaikan pemburu mendekati mangsanya. Telinganya berdenging, mulai menulikan suara disekelilingnya, ia bahkan tidak sedikitpun memiliki kebutuhan untuk mendengar penjelasan bajingan ini. Tangisan dan nada bergetar milik adiknya tadi terus berputar di kepalanya, semakin membakar amarah dan murkanya.
"Aku akan membunuh mu... Aku akan membunuh mu... Aku akan membunuh mu..."
Ia bergumam rendah, tatapannya tajam melihat bajingan itu yang berlari kearahnya untuk menyerang. Pasti dia ketakutan, dan itu adalah hal yang tepat untuk dirasakan. Karena Kyuhyun, memiliki intensi yang lebih besar daripada hanya melawan si brengsek ini. Mati, Oh Han Byul harus mati karena telah menyakiti adiknya. Netranya menggelap, tepat saat pemuda itu akan memukulnya dengan sebuah vas bunga, kedua tangannya terangkat untuk membentuk posisi bertahan. Keramik padat itu pun terlempar beberapa meter dari tempat mereka berdiri, menghantam dinding lalu pecah berkeping - keping. Posisi bertahannya, secara cepat berganti menjadi serangan beruntun pada sisi kepala dan dada. Kyuhyun tak lantas berhenti saat lawannya itu jatuh dan mencoba merangkak menjauh. Tanpa ampun, ia menendang keras sisi lutut pemuda tersebut, menghasilkan bunyi berderak tulang yang memekakkan telinga. Meniscus si bajingan itu pastilah robek, tapi itu tidak menghentikannya untuk menghujani pemuda tersebut dengan pukulan.
"AKU AKAN MEMBUNUH MU! KAU HARUS MATI!"
Ia menjerit histeris saat gambaran figur sang adik kembali singgah di kepalanya. Suara teriakan memohon dan tulang yang patah, tak lantas menghentikannya, ia akan membunuh bajingan ini, dirinya sendiri yang akan mengantarkannya ke neraka. Kyuhyun benar - benar menulikan pendengarannya, apa yang selama ini ia tahan, lepas dan merangsek keluar. Rasanya pahit dan panas, bagaikan bukan dirinya. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaannya, pangkatnya, karirnya, semua itu sudah ia lupakan jauh dibelakang kepalanya. Saat ini, dirinya tak ubah seekor binatang buas, mematahkan tiap jengkal sendi pada anggota gerak atas mangsanya. Teriakan panik bercampur takut milik Juhyun, bahkan tak bisa menghentikannya. Akan ia lakukan, jika perlu membunuh orang yang berani mengotori kesucian adiknya, ia tidak akan memberikan ampunan. Cukup dirinya yang merasakan sakit dan hina dari tindakan bejat para mahluk rendahan seperti bajingan ini, cukup dirinya yang hidup dengan trauma dan mimpi buruk seumur hidup. Jangan adiknya, jangan wanita yang sudah ia anggap bagaikan adik sedarahnya.
Serangannya terhenti saat sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menariknya mundur. Ia menancapkan kuku - kuku jemarinya pada lengan tersebut, menyentak - nyentak kuat, berusaha lepas dari kukungan itu. "LEPAS! AKU HARUS MEMBUNUHNYA!"
"Baby Kyu, sudah cukup... Sudah cukup..."
Gerakannya terhenti saat mendengar nama panggilan itu, ia menyandarkan punggungnya pada tubuh tegap dibelakangnya. Milik kekasihnya. Kyuhyun gemetar, merasakan amarahnya menguap perlahan. Topangan, itu yang ia perlukan sekarang, dan pemilik lengan itu berhasil menenangkannya. "Dia belum mati, hyung. Dia belum mati. Dia menyakiti adik ku...", namun wajah ketakutan milik sang adik, kembali mengacaukan pikirannya. Ia kembali histeris, mencakar lengan yang menghalanginya untuk bergerak. "DIA MENYAKITI JUHYUN!"
"Sayang... Baby Kyu, tolong dengarkan aku", Siwon tidak peduli dengan luka yang tercipta di lengan bawahnya. Walau darah merembes keluar dari hasil cakaran kekasihnya, ia berjanji untuk tidak melepaskan dekapannya, hingga yang lebih muda bisa menjadi lebih tenang. Nyeri dari luka itu tidak seberapa dengan apa yang dirasakan Kyuhyun sekarang. "Juhyun lebih membutuhkan mu saat ini. Temui dia, sekarang dia sedang bersama dokter keluarga ku. Aku berjanji, aku yang akan mengurus sisanya disini"
Kyuhyun kembali tenang, walau nafasnya memburu, sesak karena amarah yang tiba - tiba kembali mengisi rongga dadanya tadi. Ia menutup kedua matanya dengan kepala tertunduk, membiarkan yang lebih tua menuntunnya keluar. Di ruang tengah apartemen kecil itu, ia menemukan sang adik duduk diatas sofa, seorang wanita berjas putih sedang mengobati lukanya. Sungguh, ia bersyukur melihat tubuh adiknya sudah ditutupi dengan sebuah selimut besar. Mengerjap pelan, ia berbalik untuk menatap Siwon yang sedang tersenyum lembut padanya dan mengangguk pelan. Ia pun melangkah kearah wanita yang saat ini sesenggukan. Tubuh adiknya tampak kentara dipenuhi tremor, dan itu tak luput dari perhatian Kyuhyun. Ia tidak memindahkan fokusnya dari sang adik, sesaat melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. Ia tahu kekasihnya itu dapat melakukan hal yang lebih buruk, tetapi untuk kali ini, ia mengaku bahwa dirinya ingin egois. Seperti yang pernah ia sebutkan dulu, idealismenya sebagai seorang polisi, tidak akan berlaku pada beberapa orang. Contohnya adalah Oh Han Byul.
Siwon melangkah masuk ke dalam kamar yang menjadi saksi bisu kejadian beberapa menit yang lalu. Hampir saja, kejadian yang sama terulang. Tentu saja ia tahu mengenai pembunuhan yang kekasihnya itu lakukan 14 tahun lalu. "Jadi... Bagaimana kalau kita menyelesaikan ini dengan cara ku, Oh Han Byul-ssi?"
"Aku hanya disuruh wanita itu! Aku hanya menerima bayaran darinya! A, aku terlilit hutang dengan bunga besar...! Di, dia menjanjikan satu juta won tiap aku merekam video yang dia inginkan! Da, dan korbannya ha, harus Juhyun..."
"Apapun alasan mu, tidak akan berguna didepan ku. Aku bukan seorang polisi... Aku punya cara yang lebih menarik daripada membiarkan mu dijebloskan ke penjara atau mati begitu saja..."
"LEPASKAN AKU! AKU TIDAK BERSALAH! INI SEMUA RENCANA WANITA JALANG ITU! DIA MENJEBAKKU!"
Tatapannya datar, dingin dan keras saat pemuda itu dilumpuhkan, diseret keluar dalam keadaan tak sadar. Siwon akui, ia terkejut saat menemukan sang kekasih mengamuk. Pemuda itu bagaikan kehilangan dirinya, amarah tak sehat dan kegilaan yang bersifat sesaat. Semua itu bisa menghancurkan apa yang pemuda itu miliki saat ini, dan ia tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia tahu seberapa bangganya pemuda itu mengemban pangkatnya, bukanlah rasa sombong, lebih tepat jika dikatakan sebagai suatu 'kepuasan'. Sama dengan apa yang dirinya lakukan, sebagian itu diperuntukkan bagi keluarga Park dan Im yang sudah membantunya. Semua pencapaian Kyuhyun, adalah persembahan dan rasa terimakasih yang bisa dia berikan pada mendiang ibu angkatnya. Tanda penghormatan yang tak bisa dibayar dengan apapun, karena pemuda pucat itu bekerja keras untuk mencapai puncak. Dan perjuangan yang lebih muda belum selesai, Siwon tidak ingin semua itu rusak karena salah satu 'boneka' dari si dalang kejahatan yang berhasil membuka lebar gerbang amarah sang kekasih. Menghancurkan pemuda tersebut dalam satu malam.
"Bawa dia ke 'Black District' di Gangdong. Hubungi Chanyeol, katakan padanya aku ingin nama wanita yang menjadi dalang semua ini. Lakukan apapun untuk mengeluarkan semua informasi yang sampah itu miliki", tempat yang ia sebutkan tadi adalah sebuah bunker bawah tanah. Di namai seperti itu karena letaknya tepat berada di bawah salah satu deretan ruko pertokoan miliknya yang berada didaerah Gangdong. Tempat khusus untuknya memeras keluar informasi penting dari setiap orang yang berselisih dengannya. "Jika kalian butuh memotong setiap inchi bagian tubuhnya atau menghancurkan tulang dibeberapa tempat, lakukan saja. Lagi pula, Kyuhyun juga sudah mematahkan beberapa tulang bajingan itu"
"Laksanakan, Tuan Besar Choi"
"Oh, satu lagi", senyumannya tipis, namun netra kelam itu berkilat kejam. Ada kegilaan yang tak kalah berbahaya dari milik kekasihnya disana. Jika Kyuhyun selalu mengurung dan mengunci kuat monster yang ada didalam dirinya, maka berbeda dengan Siwon. Ia membiarkan monster itu menjadi bagian dari dirinya, menjadi sebuah kesatuan dengannya. "Jangan biarkan dia mati. Aku ingin melihat dia yang meminta untuk dibunuh. Aku akan merekamnya dan mengirimkan rekaman itu pada si jalang... Akan menyenangkan jika dia juga merasakan pengalaman seperti direkaman itu, bukan?"
Ia pun melangkah keluar menemui sang kekasih dan adiknya. Mereka pulang setelah dokter Kwon, sosok yang ia hubungi secara tiba - tiba tadi, selesai membalut seluruh luka yang Juhyun miliki. Apa yang terjadi selanjutnya, berlalu dengan cepat. Tuan dan Nyonya Bae berterimakasih pada dirinya, Juhyun juga mengatakan bahwa mereka datang di waktu yang tepat sehingga bajingan tadi belum melakukan hal yang lebih jauh. Kekasihnya juga segera melaporkan pada tim kepolisian bahwa Juhyun sudah ditemukan, tentu saja dengan sedikit bumbu kebohongan, para polisi tidak akan suka saat mengetahui dirinyalah yang membantu Kyuhyun. Setelah berbincang selama beberapa menit dengan kepala keluarga Bae, Siwon pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Malam ini cukup panjang untuknya.
"Siwon hyung!"
Namun, sosok sang kekasih yang berdiri didepannya dengan senyuman tipis, sudah cukup untuk menghilangkan rasa lelah. "Ada apa, sayang? Masuklah, kau harus istirahat"
Kyuhyun menggeleng pelan, ia mendekat kearah pria itu lalu menggenggam sebelah tangannya. "Terimakasih... Dan maaf", ia melirik jejak darah pada lengan yang lebih tua.
"Jangan meminta maaf", Siwon menepuk pucuk kepala pemuda itu dengan tangannya yang bebas. Teringat dengan cincin yang baru saja ia beli, ia pun segera merogoh kotak tadi dari dalam saku jaketnya. Ia berhasil memungut kotak itu sebelum Kyuhyun memasuki mobilnya tadi. "Will you marry me?"
"Hyung, kita baru saja menjadi sepasang kekasih", Kyuhyun mengernyit, pria didepannya ini benar - benar keras kepala dan pantang menyerah. Atau lebih tepat jika disebut persisten.
"Itu tadi, sembilan jam yang lalu"
"Ya. Dan sembilan jam kemudian kau melamar ku, jangan aneh - aneh. Simpan cincin itu"
Siwon menghela nafas pelan, lalu menyimpan kembali cincin tersebut. Padahal, ia sengaja memesan langsung Jadeite yang menjadi mahkota cincin itu dari negara asal tambangnya. Menatap sang kekasih dengan pandangan sedih, ia pun menautkan jemari mereka. "Baby, kenapa? Apa ada yang membuat mu ragu?"
"Aku belum siap untuk menikah. Dan pernikahan sesama jenis tidaklah diterima di negara ini"
"Hm... Untuk poin nomor dua, kau salah"
"Huh? Apa maksud mu? Sudah ada pasal yang mengaturnya"
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan membuktikan bahwa perkataan mu salah", Siwon terkekeh geli melihat tatapan menghakimi yang kekasihnya itu lemparkan. Baiklah, rencananya terbongkar sudah, pastilah pemuda itu akan tahu dengan sendirinya cepat maupun lambat. "Boleh aku memeluk mu?"
Kyuhyun mengangguk, perlahan lengan kokoh itu melingkar dipinggangnya, menariknya mendekat. Ia sedikit gemetar saat bersentuhan seintim ini, namun fokusnya tidak pergi ke masa lalu karena pria itu berulang kali menyebutkan namanya. Atau lebih tepat jika disebut sebagai panggilan khusus dari yang lebih tua. Menyebalkan memang, karena namanya jadi terdengar seperti panggilan untuk bayi, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa nama itulah yang berhasil membuatnya mengingat Siwon. Mengingat bagaimana tingkah menyebalkan namun disaat yang bersamaan juga romantis milik pria tersebut. Ia tidak mau peduli lagi, walaupun dilarang, pria itu pasti akan berpura - pura tolol dan mengatakan bahwa dia tidak melakukan apapun. Kyuhyun berani bertaruh, dalam beberapa bulan atau minggu ke depan, pasti ada pemberitahuan mengenai amandemen undang - undang negara. Si brengsek licik yang tampan, kekasihnya Choi Siwon, pasti adalah dalangnya.
"Jangan dipikirkan, Baby Kyu. Aku ingin memeluk mu seperti ini dulu. Setelah delapan bulan lamanya aku baru bisa memeluk mu seperti ini...", ingat? Siwon tidak boleh menyentuh lebih jauh sebelum kekasihnya itu mengizinkan. Kejadian beberapa jam yang lalu tidak masuk hitungan, karena kekasihnya itu dalam keadaan terguncang. Tidak seperti saat ini, ia benar - benar mendapat izin untuk melakukannya. "Terimakasih karena sudah memberi ku kesempatan"
###
Empat bulan berlalu dengan cepat, dan selama itu juga, ia sudah menjalin hubungan romantis dengan Siwon, media pun sudah bosan mengusik mereka. Kyuhyun juga sangat bersyukur saat mengetahui sang adik tidak memiliki trauma akan kejadian yang menimpa wanita itu. Justru ia yang menjadi semakin protektif, setiap pria yang mencoba mendekati adiknya, akan ia tendang menjauh. Ya, menendang secara harfiah maupun metafora, ia melakukan keduanya. Dan beberapa minggu yang lalu, sesuai perkiraannya, para petinggi negara mengumumkan hasil amandemen terbaru. Yang paling menjadi kontroversial adalah pasal perizinan pernikahan sesama jenis, hal tersebut memecah masyarakat menjadi tiga kubu. Ada yang mendukung dan ada yang berdiri diposisi netral. Kubu paling merepotkan adalah kubu yang tidak setuju, mereka melaksanakan unjuk rasa, hingga membutuhkan tim anti huru - hara untuk meredam perbuatan anarkis kelompok tersebut. Namun, peristiwa itu tidak berlangsung lama. Kematian Ketua Dewan Negara akibat serangan jantung menjadi topik perbincangan yang lebih dipilih. Jelas sekali hal itu hanyalah pengalihan isu.
Memikirkan negara beserta isinya yang menjadi boneka bagi seorang Choi Siwon, hanya memperparah kekesalannya pada pria itu. Kyuhyun kesal dan marah karena mengingat berita internasional pagi ini yang menampilkan kekasihnya itu bersama seorang model papan atas asal China, Liu Wen. Ia kesal karena pria itu tidak menyangkal dengan tegas mengenai hubungan keduanya, dan ia marah karena sudah hampir satu minggu pria itu tidak menghubunginya. Persetan dengan harga diri, ia akan mengakui untuk kali ini, bahwa dirinya merasa panas, terbakar api kecemburuan. Namun, disaat yang bersamaan, ia juga merasa sedih dan kecewa. Sedih karena faktanya, media terkadang berkata benar, pria sesempurna Choi Siwon haruslah bersanding dengan yang setara. Kerajaan bisnis yang pria itu bangun, pastilah membutuhkan pewaris, maka dari itu, seorang wanita adalah pilihan yang tepat sebagai pendamping hidup. Sedangkan dirinya adalah seorang laki - laki, jangankan menyandang gelar 'istri' ataupun memberikan keturunan, bersanding dengan pria itu saja, mungkin terlihat tidak cocok sama sekali.
"Oppa? Apa yang kau pikirkan?"
"Oh? Ah, Juhyun... Tidak, aku hanya melamun saja"
Menggerutu pelan, ia pun mendudukkan diri disamping sang kakak. Juhyun menarik sebelah pipi milik kakaknya itu pelan, mencoba mendapatkan atensinya. "Aish, jangan bohong! Ada sesuatu yang kau pikirkan, bukan? Cerita saja, oppa"
"Mmh..."
"Tentang Siwon oppa?"
Telak. Juhyun bisa melihat netra coklat karamel itu bergerak gelisah. Ah, membicarakan tentang Siwon, ia jadi ingat bahwa pria itu mengatakan akan pergi ke tengah laut selama satu minggu, urusan pengeboran minyak lepas pantai atau apalah itu, ia tidak begitu mengerti. Ponsel tidak mungkin memiliki sinyal, terlebih benda itu tidak boleh di nyalakan disana. Dirinya saja yang lupa memberitahu perihal tersebut pada Kyuhyun. Kenapa pria itu tidak langsung mengabari kakaknya? Tentu saja karena jadwal yang terlalu mendadak, terlebih ponsel pria itu langsung ditahan oleh Chanyeol, adik angkat pria tersebut, sesampainya mereka di China. Jangankan menelepon, meninggalkan pesan saja menjadi tidak mungkin. Ia segera mengirimkan pesan permintaan maafnya pada calon kakak iparnya itu. Tidak lucu sekali kalau Siwon dan Kyuhyun memutuskan hubungan hanya karena dirinya yang lupa menyampaikan pesan. Hei, miskomunikasi merupakan salah satu penyebab mengapa banyak pasangan berpisah!
"Um... Ya... Entahlah, aku hanya merasa..."
"Dia selingkuh?"
"Bukan!"
"Lalu?"
"Dia tidak melamar ku lagi..."
"Mwo? Yah! Oppa, aku kira ada apa!"
Tidak. Kalimatnya ini tidak asal keluar saja. Kyuhyun benar - benar sedang meragukan kesetiaan pria tersebut. Selama empat bulan ini, banyak hal yang terjadi, mulai dari saling mengenalkan keluarga masing - masing, hingga pengakuan yang pria itu utarakan. Tiga minggu yang lalu, kekasihnya itu memperlihatkan dua buah dokumen tebal berisi informasi pribadi miliknya serta foto - fotonya. Ia tidak terkejut kalau pria yang lebih tua dua tahun itu pernah menjadi penguntitnya, dilihat dari beberapa foto yang diambil saat ia tak sadar. Namun, rekam jejak hidupnya sejak kecil, turut ada didalam dokumen tersebut. Walau tidak semua, tetapi hampir enam puluh persennya akurat. Secara tak langsung, tanpa ia beritahukan terlebih dahulu, Siwon sudah mengetahui masa lalu kelamnya. Dirinya yang kotor, bagaikan tak pantas untuk berharap. Menimbulkan keraguan akan perasaan dan pandangan pria tersebut padanya.
"Ukh, tapi aku serius. Kenapa dia tidak melakukannya lagi? Siapa tahu aku sudah siap dan akan menerima lamarannya...?"
"Apa ini karena wanita bernama Liu Wen itu? Model yang di gosipkan sedang dekat dengannya?"
"Tidak"
Bohong. Juhyun tahu kapan kakaknya ini berbohong. Mereka sudah lama bersama, tak jarang pemuda itu menutupi kesalahan yang ia perbuat dengan berbohong. Dan saat ini, jelas sekali kalau sang kakak sedang melakukan hal tersebut, ditambah juga dengan merajuk. Ia sendiri tahu bagaimana pemuda itu nyaris memecahkan layar komputer di kantor kemarin, bahkan ponsel kakaknya itu sudah sejak malam tadi sengaja di matikan. Konsol game yang memenuhi sebagian kamar pemuda tersebut juga tak tersentuh, biasanya malam sabtu adalah jadwal bermain sampai pagi. Yang lebih mengherankan lagi, Kyuhyun sudah duduk didepan televisi saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh dan siarannya adalah berita internasional. Ayolah, seorang Cho Kyuhyun itu baru akan bangun jam dua belas siang saat hari sabtu karena malamnya dia bermain game hingga subuh. Ia dan kedua orangtuanya juga tahu perihal itu.
"Apa menurut mu, dia berubah pikiran? Maksud ku, aku ini bahkan bukan seorang perempuan. Aku tidak secantik atau sememikat seorang model"
"Aku sarankan, lebih baik kau percaya saja padanya. Dia benar - benar mencintai mu", telunjuknya menusuk pipi milik kakaknya, terkekeh pelan saat melihat rona kemerahan tipis disana. "Tentang rumor kebersamaan mereka? Kenapa dia merespon tidak tegas pada media pagi ini? Jawabannya, karena dia memikirkan mu. Dia tidak fokus dengan apa yang orang lain tanyakan saat itu"
"Bagaimana kau tahu?"
"Dia baru saja mengirimi ku pesan, dia khawatir karena kau tidak mengangkat satu pun panggilannya. Aku bilang saja padanya kalau aku lupa mengatakan pada mu bahwa dia pergi ke laut selama seminggu untuk melihat proyek pengeboran minyak lepas pantai", ia menunjukkan pesan pada ponselnya. Siapapun akan langsung tahu bagaimana paniknya pria bermarga Choi itu karena sang kekasih tidak mengangkat panggilannya. "Oppa, kau pasti tahu, ponsel tidak boleh digunakan pada tempat seperti itu. Sangat berbahaya"
Kyuhyun mengubah posisi duduknya dan menatap intens layar ponsel milik sang adik. Membaca potongan percakapan tadi, sukses mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik. "Tunggu. Dia sudah pulang?"
"Dia akan lepas landas sebentar lagi. Pergilah, jemput dia di bandara, supirnya akan menjemput mu kesini satu jam lagi"
"Eh?!", menjemput? Tapi Kyuhyun tidak pernah melakukan hal seperti itu. Selalu Siwon yang melangkah maju terlebih dulu dalam hubungan mereka.
"Aku juga yang bilang padanya kalau kau sangat merindukannya dan berniat menjemputnya", Juhyun berdiri lalu menepuk pelan kedua pipi kakaknya itu. Nyaris saja ia mencubit gemas pipi pemuda itu karena saat ini pemiliknya sedang mengerjap lucu. "Dan ingin memberikan dia ciuman selamat datang~"
Kyuhyun tertegun selama beberapa saat, mencerna perkataan sang adik, rasa panas di wajahnya merambat hingga telinga dan leher. Selama empat bulan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, ia dan Siwon memang belum pernah berciuman. Hal paling intim yang pria itu lakukan, hanyalah pelukan dan kecupan di dahi. Dirinya sendiri, hanya sanggup memberikan kecupan di pipi, dan hal itu hanya ia lakukan sesekali. Bagaimana pun juga, ciuman saat mereka pertama kali bertemu, sudah sangat lama terjadi, sekitar satu tahun yang lalu. Menggerutu, kesal karena yang lebih muda sukses mempermainkannya, ia pun segera mengejar Juhyun yang sudah terlebih dahulu berlari. Mereka melewati ruang berkumpul dimana Tuan Bae sedang membaca laporan pekerjaan, dan melewati dapur untuk menuju tangga lantai dua. Nyonya Bae yang sedang memasak pun dibuat terkejut dengan tingkah kekanakan keduanya.
"BAE JUHYUN! AWAS KAU YA!"
"WAHAHAHA! EOMMA! APPA! KYUHYUN OPPA WAJAHNYA MERAH SEPERTI KEPITING REBUS!"
"AKU AKAN MENGGUNDULI MU KALAU KAU KU TANGKAP!"
"COBA SAJA KALAU KAU BISA, KAKEK CHO!"
"Anak - anak! Jangan berlari ditangga! Nanti kalian jatuh!"
"Hyun-ah! Hyunnie! Yak! Bocah - bocah nakal! Daripada kalian bercanda terus, sana mandi! Ini sudah jam sepuluh pagi!"
###
Dan disinilah ia sekarang, menunggu jet pribadi milik kekasihnya itu untuk mendarat. Duduk disalah satu kursi tunggu yang jauh dari keramaian, Kyuhyun sibuk dengan PSP miliknya. Ia tentu sadar dengan banyaknya jumlah wartawan yang datang untuk meliput kedatangan kekasihnya itu, yang sialnya, dengan baik hati memberikan tumpangan untuk sang model. Terimakasih pada Juhyun yang sudah memperingatkan nya sebelum ia pergi tadi. Game di PSP nya entah mengapa menjadi sangat membosankan, sehingga tanpa sadar, ia menghidupkan ponselnya, berniat membuka satu persatu pesan yang kekasihnya itu kirim. Totalnya, ada lima puluh tiga pesan dan delapan puluh tujuh panggilan tidak terjawab. Sedikit takjub karena ponselnya bisa bertahan menghadapi rentetan pemberitahuan sebanyak itu tanpa menghadapi fase restart sendiri atau kehabisan baterai secara mendadak. Kekehan pelan beberapa kali lepas dari belah bibirnya saat membaca beberapa pesan yang berisi terlalu banyak emoticon atau pesan yang sangat manis, hingga ia rasanya bisa sakit gigi hanya dengan membaca pesan tersebut.
Masih asik berkutat dengan ponselnya, tiba - tiba suara teriakan dan shutter kamera memenuhi area ruang tunggu tersebut. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kyuhyun mendecih pelan saat melihat model bernama Liu Wen itu berjalan sangat rapat disamping kekasihnya, menyebalkan. Namun, melihat tatapan pria tersebut yang fokus melihat ke kanan dan kiri, seperti sedang mencari sesuatu, membuatnya geli sendiri. Pria itu bisa tampak sangat lucu saat bertingkah seperti saat ini. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku sweater merah muda yang dikenakannya, khusus pilihan sang adik, lalu berdiri dan berjalan santai kearah kerumunan wartawan tersebut. Saat netra keduanya bersitatap, ia tersenyum kecil dan melambai pada pria itu. Beberapa rencana yang memacu adrenalin, sudah berputar diotaknya. Tetapi, dirinya dibuat terkejut saat Siwon mendorong sang model yang masih memeluk lengan pria tersebut ke samping, hingga bertubrukan dengan Chanyeol, sebelum berlari kearahnya dengan senyuman lebar. Jenis senyuman bodoh, menurutnya.
"Kau benar - benar menjemput ku?!"
"Tentu saja. Juhyun sudah bilang pada mu, bukan?", ia tersenyum jahil sebelum menarik lengan pria itu. Tatapan itu lalu beralih, melirik pada para wartawan yang mulai berbalik mengejar fokus pada mereka. "Siwonnie, ayo lari"
Siwon tersedak salivanya sendiri saat yang lebih muda tersenyum lebar padanya, cantik dan manis bahkan tidak bisa mendeskripsikan pemandangan didepannya. Namun, ia lebih terkejut saat mendengar panggilan yang pemuda tersebut gunakan. Tanpa sadar, kakinya ikut melangkah, mengikuti tempo sang kekasih. Tawa pemuda itu mengisi pendengarannya saat mereka berhasil masuk kedalam Limousine yang terparkir tepat didepan pintu keluar. Kuda besi itu segera melaju kencang, melewati barisan wartawan yang mendesah kecewa. Berhasil keluar dari fase terkejutnya, ia pun tersenyum dan menarik sang kekasih perlahan kedalam pelukannya.
"Aku merindukan mu", menyandarkan dahinya pada dahi yang lebih muda, Siwon menatap dalam netra coklat karamel didepannya. Mata bak boneka yang selalu dapat membuatnya terpikat. "Baby Kyu... Menikahlah dengan ku"
Kyuhyun tersenyum tipis, pandangannya tak beralih dan memilih untuk terus menyelami netra kelam bak langit malam milik sang kekasih. "Pria tolol mana yang tahan mengejar satu orang dan melamar hingga tujuh kali?"
"Itu aku. Tapi aku ingin membela diri. Aku menjadi seperti itu bukan tanpa alasan. Ini semua karena dirimu yang sangat memabukkan"
"Hei, kalau begitu, aku tidak mungkin menolak lamaran kali ini", memberanikan diri, ia mengecup sekilas bibir joker milik pria tersebut. "Kapan kita akan menikah?"
"Se, secepatnya..."
"Kenapa kau terbata, hyung? Apa kau berubah pikiran?"
Tidak mungkin! Gila sekali dirinya jika sampai berubah pikiran! Kepalanya terasa ringan, bagaikan baru meneguk sebotol vodka dengan konsentrasi alkohol tinggi. Rasa bahagia dan lega membuncah di dadanya, bahkan kedua tangannya sudah gatal ingin menangkup pipi yang lebih muda dan mengecap manisnya belahan bibir sewarna buah plum itu. Tetapi, ia menahan diri sekuat tenaga, dan memilih untuk memastikan keputusan pemuda tersebut. Cincin yang sudah ia siapkan sejak dua minggu yang lalu, ia keluarkan dari dalam saku jasnya. Tanpa kotak lapis beludru maupun bermahkotakan berlian paling mahal didunia, hanya emas putih polos dengan ukiran floral dibagian luarnya. Simpel, namun entah mengapa terlihat sangat indah jika dipasangkan di jari kekasihnya.
"Biarkan aku melakukannya dengan benar. Aku juga ingin memastikan lagi keputusan mu", menggenggam sebelah tangan pucat itu, ia mengecup perlahan punggung tangan kekasihnya. "Cho Kyuhyun, will you marry me?"
Kyuhyun menatap cincin yang pria itu perlihatkan. Sempurna, sesuai dengan apa yang diinginkannya. Bukan batu mulia termahal, ukiran rumit, atau kotak paling indah untuk menjadi dudukan cincin tersebut. Tatapan yang menyiratkan kesungguhan dan persistensi, berhasil memutar balik memorinya. Seperti film yang diputar dengan cepat, mengingatkan ia bagaimana perjuangan dan ketulusan yang kekasihnya itu perlihatkan selama satu tahun mereka bersama. Bagaimana pria tersebut menghadapinya dengan sabar, memaklumi segala sikap kasarnya, dan tetap mendeklarkan cintanya dalam bentuk apapun. Bukan hanya itu, bahkan pria tersebut secara suka rela, mau mengubah sifat angkuhnya, membuktikan padanya bahwa pria bermarga Choi itu serius ingin menjadi pendamping hidupnya. Jangan lupakan segala hal buruk yang pernah ia alami, baik di masa lalu ataupun saat ini, pria itu sukses meyakinkan dirinya bahwa ia masihlah berharga dan layak untuk menerima cinta.
Tanpa mengatakan apapun, Kyuhyun menarik tengkuk pria itu dan menempelkan bibir keduanya. Saling melumat dalam gerakan pelan, mencicipi rasa milik masing - masing. Keduanya baru melepaskan diri saat mengingat bahwa oksigen merupakan suatu kebutuhan wajib. Ia menutup kedua matanya, menetralkan nafas yang memburu serta jantung yang ikut mengalami takikardi mendadak. Rasanya panas, namun menggelitik dibagian abdomennya, seperti diisi oleh ratusan serangga dengan sepasang sayap beraneka warna. Netra keduanya saling bertubrukan lagi saat ia membuka kedua kelopak matanya. Saat itu kesadaran menyentak jiwanya kuat, bukan hanya Siwon yang terjatuh dalam kubangan lumpur hisap bernama cinta, Kyuhyun juga dengan suka rela mengikuti jejak pria itu. Entah kapan dan dimana hal itu bermula, ia juga tidak tahu, tidak pernah menyadari lebih tepatnya. Namun, satu hal yang dengan pasti ia yakini, bahwa dirinya sudah siap untuk mengikat janji suci dengan pria yang menjadi kekasihnya ini, bahkan dengan segala resiko yang harus diambil.
Membiarkan pria itu memasang cincin tadi pada jari manisnya, ia pun melakukan hal yang sama pada sang kekasih sebelum menautkan jemari mereka berdua. Senyuman lembut pun tak luput dari parasnya.
"Yes, I do"
Seven Marriage Proposal : End
A/N:
Maafkan jika ada typo yang bertebaran. Jangan lupa untuk review ya buat penyemangat author bikin lanjutannya
