Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART IV
[ Unusual Marriage ]
Jika ada kata yang bisa mendeskripsikan tingkat kesibukannya akhir - akhir ini, Kyuhyun akan memilih kata 'lelah'. Atau, akan lebih tepat jika disebut sebagai 'melelahkan'. Ya, ia lelah menjalani rutinitas sebagai calon pengantin, yaitu mengurus segala hal mengenai pesta dan tamu undangan. Kenapa tidak memakai jasa Wedding Organizer saja? Jawabannya simpel, itu karena orang - orang terdekat mereka ingin ikut andil dalam mempersiapkan acara pengikatan janji suci miliknya dan sang tunangan. Dirinya sendiri tidak bisa mempercayai Siwon, pria itu pasti akan melakukan hal 'gila' jika dibiarkan mengurus persiapan pesta tanpa pengawasannya.
Jujur, ia sangat berterimakasih dengan semua orang disekitarnya yang telah membantu menyelesaikan list panjang tersebut. Lokasi dan dekorasi pesta telah ditangani oleh adiknya dan Jongin, adik angkat Siwon yang paling bungsu. Mereka memang baru saling mengenal satu sama lain selama dua bulan, tetapi ia akan menendang siapapun yang berani membuat pemuda itu bersedih. Untuk urusan konsumsi, bibinya dan Wendy yang memesan dan memilih, ia hanya harus mencicipi sebagiannya saja. Khusus kue pengantin, Park Jungsoo, pemilik Leeteuk's Bakery lah yang membuatnya langsung. Chanyeol pun turut andil mengurus masalah tamu undangan dan souvenir, walau pemuda itu melakukannya setengah hati. Ya, mereka tidak kunjung akur hingga saat ini. Terakhir, Ryeowook lah yang mengurus susunan acara, termasuk menangani masalah hiburan.
Walau dibantu oleh banyak orang, ia dan sang kekasih tetap harus memantau semuanya. Bagaimanapun juga, itu adalah acara mereka, perhelatan yang rencananya akan diadakan sesederhana mungkin, walau berakhir mengeluarkan cukup banyak dana. Acara pernikahan mereka dijadwalkan pada tanggal 13 Oktober, dan mereka baru melakukan fitting baju satu minggu sebelumnya. Terkutuklah Choi Siwon dan semua orang yang menyetujui tanggal tersebut, karena pengikatan janji suci akan dilaksanakan sepuluh hari setelah pertunangan. Ia seperti sedang mengikuti perlombaan lari dengan jarak seratus kilometer dan tanpa pos istirahat. Atau, dikejar oleh cheetah dan kabur hanya menggunakan kaki.
Acara pertunangan pun dilakukan tepat setelah ia menjemput pria itu dari bandara, dan hanya dirayakan kecil - kecilan, dengan makan malam bersama dirumah keluarga Bae. Sialan sekali pria bermarga Choi itu yang sangat tidak sabaran. Padahal, Kyuhyun hanya melontarkan candaan kosong saat mengatakan semakin cepat justru akan semakin bagus. Namun, pria itu menelan bulat - bulat semua perkataan yang ia ucapkan, tanpa dipilah terlebih dahulu, mana yang serius dan mana yang hanya gurauan belaka. Terkadang, Kyuhyun ragu jika kekasihnya adalah seseorang yang jenius, seperti sebutan yang pria itu dapatkan dari banyak orang. Memperhatikan bagaimana pria tersebut kadang memutuskan segala sesuatu dengan terburu dan terkesan ceroboh, justru semakin mengikis kepercayaannya akan hal tadi.
Jam menunjukkan pukul delapan malam saat ia menyelesaikan pekerjaan kantornya. Langkahnya tegas, walau kepalanya terasa berat dan tubuhnya bagaikan remuk seperti tertimpa beban ratusan kilogram. Hari ini, anggota divisinya mengadakan perayaan kecil - kecilan, sebagai ucapan selamat untuknya. Mereka makan siang bersama di restoran yang tak jauh dari kantor, acara tersebut juga merangkap sebagai ajang pengakuan. Ya, pengakuan kepada dirinya, bahwa lebih dari setengah anggota Divisi Investigasi Pembunuhan, memiliki ketertarikan romantis padanya. Beberapa wanita, menangis sesenggukan saat mengetahui ia akan menikah dalam waktu dekat, lebih tepatnya dalam kurun waktu lima hari. Para pria yang memiliki ketertarikan serupa pun, mencoba bertanya apakah ia akan mengubah pikiran dan mungkin akan memberikan mereka kesempatan. Namun, Kyuhyun hanya tersenyum tipis dan meminta maaf karena dirinya sudah berkomitmen untuk menjalani hubungan yang serius dengan sang tunangan.
Audi yang sudah menjadi tumpangan utamanya untuk pulang pergi kerja, berhenti tepat didepan pintu lobi kantornya. Tanpa menanggapi beberapa cibiran yang dilontarkan orang - orang disekitarnya, Kyuhyun memasuki kuda besi tersebut dengan tenang. Sandaran kursi mobil sengaja ia rendahkan, agar mendapat posisi yang nyaman. Sekilas, ia melirik si pengemudi yang sibuk menerima rentetan panggilan masuk. Mayoritas menanyakan tentang pernikahan, dan beberapanya, membicarakan pekerjaan. Kyuhyun mengubah posisinya agar bisa melihat si pengemudi dengan lebih leluasa, rahang tegas itu tak berhenti bergerak untuk menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. Hingga pada satu titik, kuda besi yang mereka tumpangi, berhenti di lampu merah. Bahkan, tanpa ada suara transmisi masuk yang mengusik. Si pengemudi, yang merupakan tunangannya, sedikit merunduk untuk menyibak poni didahinya, lalu meninggalkan kecupan lembut disana. Hal itu selalu sukses untuk mengundang kantuk pada kedua kelopak matanya.
Namun, momen tersebut tidak berlangsung lama. Ponsel milik yang lebih tua, kembali berdering nyaring, lampu lalu lintas pun ikut menginterupsi, meminta sang pengemudi untuk kembali menginjak pedal gas si kuda besi. Memaksa fokus agar kembali pada jalanan, pria tersebut segera menerima transmisi tadi. "Apa yang perlu kau laporkan, Chanyeol?"
"Daftar tamu undangan sudah selesai"
"Dari pihak Kyuhyun?"
"Clear. Aku sudah bertanya pada Tuan dan Nyonya Bae, Juhyun juga sudah memberikan daftar yang dia buat serta siapa saja yang tidak ingin Letnan Cho undang. Tiket pesawat dan kamar hotel untuk tamu mancanegara sudah disiapkan bersama undangan yang akan dikirimkan"
Kyuhyun dapat mendengar suara kaku milik calon adik iparnya, samar - samar menelusup keluar dari airpod sang tunangan. Netra keduanya bersitatap selama beberapa detik, pria itu menarik senyuman tipis, lalu menautkan jemari mereka. Memberikan beberapa kecupan ringan dipunggung tangannya, sebelum kembali menjawab sang lawan bicara.
"Bagus. Pastikan undangan disebar besok, tanpa terkecuali. Bagaimana dengan souvenir?"
"Semua sudah datang sesuai dengan pesanan. Pengerjaan untuk pengukiran nama tamu pada setiap gelas akan dilakukan besok dan selesai dalam tiga hari. Set alat makan perak untuk tamu lainnya juga sudah dibungkus rapi"
"Tolong pastikan souvenir pernikahan tidak ada yang cacat"
"Baik hyung"
Kyuhyun menutup kedua matanya saat mendengar percakapan tersebut berakhir. Ia memang tidak tahu menahu mengenai souvenir, itu semua murni pilihan sang kekasih. Pria itu tentunya akan memilih sesuatu yang membutuhkan cukup banyak uang dan melibatkan banyak orang dalam pengerjaannya, pemborosan uang khas seorang Choi Siwon. Bukan berarti ia tidak menyukai nya, ia hanya ingin pesta pernikahan yang sederhana, namun berkesan. Maka dari itu, undangan pesta hanya dibatasi untuk dua ratus orang. Tiga puluh orang yang merupakan anggota divisinya, sepuluh orang yang merupakan kenalannya dari divisi lain, serta beberapa orang lainnya yang merupakan kenalan dari paman dan bibinya. Yang paling banyak mengambil tempat menjadi undangan, tentunya adalah teman dan kolega dari sang tunangan. Masih dengan kedua kelopak terpejam, ia kembali membuka percakapan.
"Aku belum diberitahu, apa yang akan menjadi souvenirnya?"
"Satu set alat makan perak untuk tamu yang sudah memiliki pasangan, lengkap dengan inisial kita. Dan, sebuah gelas kristal dengan nama tamu yang diukir dengan emas serta sebotol wine, untuk mereka yang tidak memiliki pasangan"
Ia dapat merasakan kaitan pada jemari mereka terlepas. Punggung tangan pria itu bergesekan lembut dengan pipinya, membuatnya semakin mengantuk. Padahal mereka harus menjemput beberapa setelan jas dan tuxedo yang akan digunakan untuk acara pernikahan mereka nanti. Kyuhyun tidak akan melupakan ekspresi desainer yang menangani pakaian mereka, kalang kabut saat mendengar pria bermarga Choi itu hanya memberi waktu dua hari.
"Itu sebuah penghinaan, hyung"
"Aku hanya ingin membantu mereka. Apa lagi, jika mereka bersedih karena Letnan Cho yang mereka kagumi akhirnya menikah juga"
Membuka perlahan kedua matanya, Kyuhyun menatap pria itu dengan tajam. "Tutup mulut mu", tidak mungkin Juhyun atau Ryeowook yang menceritakan perihal kejadian beberapa jam lalu. Hanya ada satu kemungkinan pasti yang berputar diotaknya saat ini. Satu hal yang hanya bisa dilakukan oleh pria itu. Membobol keamanan semua perangkat elektronik yang ia miliki. "Dan untuk kesekian kalinya aku meminta mu, berhentilah meretas audio ponsel ku"
"Maaf, sayang. Aku hanya merindukan suara mu", pria tersebut menarik senyuman tipis, nyaris terlihat seperti sebuah seringai. Jelas sekali tidak peduli dengan tatapan yang pemuda pucat itu lemparkan saat ini.
###
Ponselnya berdering pelan, menunjukkan tanggal 10 Oktober dilayar tipis tersebut. Sebuah alarm hitung mundur, menandakan waktu yang mereka miliki tak banyak lagi. Acara pernikahan akan dilaksanakan dalam kurun waktu tiga hari, dan mereka belum melakukan hal paling penting yang dilakukan pasangan pada umumnya. Kyuhyun tidak akan protes mengenai pilihan lokasi maupun dekorasi yang Juhyun dan Jongin pilih, walaupun terlihat terlalu 'berkilauan' dan 'megah' dimatanya saat mereka melihat hasil akhir dekor. Namun, hal tersebut tidak lebih buruk dari apa yang ia hadapi saat ini. Rasa asam terkecap pekat di lidahnya ketika Siwon mengajak ia mendatangi rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Pria itu sudah mulai membangun rumah tersebut sejak lamaran keduanya ditolak. Jujur, ia takjub dengan kepercayaan diri pria bermarga Choi tersebut.
Menurutnya, akan terlalu sederhana jika bangunan yang berdiri kokoh didepannya ini, hanya dipanggil sebagai sebuah 'rumah'. Mansion adalah sebutan yang tepat, sekaligus sebuah kata yang berhasil mengurangi tajuk hiperbola dipikirannya. Kyuhyun hampir menyebut bangunan tersebut sebagai 'istana'. Dengan lima tingkatan lantai yang luasnya bahkan tak bisa ia hitung menggunakan perkiraan, sebuah bangunan terpisah pun ikut berdiri beberapa meter disampingnya, khusus untuk menyimpan koleksi kendaraan, dan sudah dilengkapi dengan tempat pemeliharaan. Parkiran yang cukup untuk menampung lima puluh kendaraan roda empat, padang rumput yang diselingi taman bunga, serta area rumah kaca. Netranya juga menangkap sebuah labirin tanaman boxwood yang dipadu dengan semak mawar merah.
"Semua persiapan untuk acara pernikahan kita sudah selesai. Bagaimana kalau kita persiapkan tur bulan madu?"
Setelah merasa cukup lama berkeliling, mereka memutuskan untuk duduk sembari mencelupkan kaki ke dalam kolam renang yang berada dibagian belakang mansion tersebut. Menghela nafas pelan, ia melirik kearah pria yang duduk disampingnya itu. Sudah saatnya Kyuhyun mengungkit perihal tersebut. Hal penting yang seharusnya mereka lakukan sejak awal, walau terkesan terlambat dalam membahasnya jika dibicarakan sekarang.
"Tunggu. Ada yang lebih penting"
"Apa itu, sayang?"
"Prenuptial agreement dan premarital check up"
Siwon mengalihkan fokus pada pemuda disampingnya, berusaha untuk menjaga agar senyuman yang ia tampilkan tidak luntur. Sejak awal, ia memang sudah memperkirakan kedua hal ini akan diangkat sebagai topik pembicaraan oleh tunangan manisnya itu. Namun, ia tidak memperkirakan bahwa yang lebih muda akan mengungkit hal tersebut setelah mereka menyelesaikan seluruh persiapan. Perjanjian pranikah, adalah sesuatu yang menguntungkan untuknya jika dilihat dari segi ekonomi, tetapi itu dapat mempermudah tunangan manisnya ini 'melarikan diri' tanpa rasa bersalah. Sedangkan, cek kesehatan pranikah, adalah wujud dari ketakutan pemuda itu. Ya, rasa takut mengenai dampak akibat kejadian di masa lalu.
"Ya, kau mungkin benar", ia melemparkan pandangannya kedepan, menatap lurus kearah pagar tanaman yang menjadi dinding pembatas area kolam dengan pekarangan bunga dibelakangnya. "Tapi menurut ku tidak. Aku tidak sependapat dengan mu. Lebih baik, kau lupakan saja"
"Hyung"
"Baiklah, mari kita bicarakan tur bulan madu. Bagaimana kalau kita pergi ke negara bagian Eropa? Atau kau ingin kita ke tempat yang dekat saja? Jeju, mungkin? Aku bisa menyewa salah satu resort disana"
"Siwon hyung"
"Aku sudah bicara dengan Yunho, dan dia tidak masalah dengan cuti satu minggu yang nanti rencananya akan kau ajukan. Ditambah dengan keringanan tiga hari dari cuti menikah"
"Choi Siwon!"
Suara yang lebih muda terdengar meninggi, khas saat pemuda tersebut merasa gusar. Siwon tidak ingin mengungkit dua hal tadi sebagai topik pembicaraan mereka. Mengetahui sang tunangan berpikir mengenai hal tidak berguna seperti itu saja, sudah membuat dirinya kesal. Apa lagi saat yang lebih muda bersikeras membahasnya. Ia tidak suka saat ada seseorang yang mendebat keputusannya, namun, entah mengapa ia juga tidak bisa marah saat orang yang melakukan hal tersebut adalah tunangan manisnya. Walau sifat egosentris nya mulai mencuat ke permukaan, semua itu hilang begitu saja saat melihat tatapan keras bercampur gelisah yang dilemparkan kekasihnya itu.
"Ada apa, Baby?"
"Kau punya segalanya. Harta yang ku miliki bahkan tidak sampai seperdelapan apa yang kau punya. Kita harus membuat perjanjian pranikah", jemarinya mencengkram lemah lengan atas pria tersebut. Kyuhyun mengalihkan tatapannya, tidak ingin getaran di netranya tampak jelas oleh sang kekasih. "Dan kita butuh melakukan premarital check up. Kita bisa berpikir ulang mengenai pernikahan ini segera, jika aku...- Maksud ku, salah satu diantara kita memiliki penyakit menular seksual"
"Baiklah, mari lakukan premarital check up. Dokter Kwon akan menyiapkan timnya", melingkarkan sebelah lengannya pada pinggang yang lebih muda, ia menarik sang kekasih mendekat. Perlahan, ia juga menghapus jarak diantara mereka, dan memberikan kecupan lembut pada puncak kepala bersurai hitam tersebut. "Tapi, apapun hasilnya, aku akan tetap menikahi mu. Lalu untuk prenup, lupakan saja"
"Prenup juga penting"
"Kenapa? Kau takut mereka akan melihat mu sebagai lintah penghisap darah? Menilai mu sebagai seseorang yang materialistik karena menikahi ku?", bibirnya mengecup perlahan pelipis pemuda tersebut, semakin turun pada pipi, dan berakhir pada sudut bibir plum itu. "Kita tidak akan bercerai, dan itu menegaskan bahwa prenup tidaklah penting. Bagaimana kalau sebagai gantinya, kita menulis perjanjian untuk tidak saling meninggalkan satu sama lain dengan nyawa sebagai jaminan?"
"Kau gila? Nyawa bukan mainan! Hal seperti itu tidak bisa menjadi bahan jaminan!"
"Dan pernikahan juga bukan sebuah permainan", rahangnya mengeras, bibirnya terkatup rapat selama beberapa saat. Amarah akan tampak jelas lewat kedua matanya, maka dari itu, ia menunduk dan menyandarkan dahi pada bahu yang lebih muda. Tidak ingin pemuda itu menyadari gejolak emosinya. "Till death do us a part. Maka dari itu, kau hanya bisa berpisah dengan ku setelah kau mati"
"Kau harus menemui Sooyoung-ssi. Kau pasti mengidap suatu gangguan jiwa..."
"Mmhm... Aku sudah sering mendengarnya dari banyak orang. Dan mereka mengatakan, aku memiliki obsesi tak sehat pada Choi Kyuhyun"
"Brengsek. Jangan asal mengubah marga ku"
"Tiga hari lagi, kau akan menggunakan nama keluarga ku. Biasakan dirimu mulai sekarang, Baby Kyu"
Selama beberapa menit, mereka hanya diam, tenggelam dalam pemikiran masing - masing. Siwon tahu, kekasihnya sudah menyerah mengungkit perihal perjanjian pra nikah, dan itu membuatnya cukup lega. Sesuatu seperti itu, hanya akan menciptakan pintu menuju perpisahan. Mungkin, akan tampak menguntungkan, terutama untuk dirinya. Namun dengan melakukan hal tersebut, mereka akan terlihat seperti 'mengharapkan' sesuatu yang buruk terjadi, secara tidak langsung. Karena, ketika rumah tangga mereka nanti diterpa masalah yang mengakibatkan kerenggangan pada hubungan, tak butuh menunggu 'retak' untuk menghancurkan semua yang mereka bangun dan perjuangkan. Pintu yang dibentuk dari perjanjian pra nikah tadi, akan secara langsung menggoyahkan kepercayaan diri mereka dan mempermudah keduanya mencari alasan untuk memutus ikatan yang sudah dijalin, lalu melarikan diri dari tanggung jawab.
Netra keduanya bersitatap, menyelam sedalam mungkin milik lawannya tanpa takut tenggelam. Ciuman lembut yang diakhiri dengan senyuman kecil dari yang lebih muda, menutup perdebatan mengenai kedua hal tadi. Kekehan pelan pun lolos dari belah bibir keduanya. Kyuhyun menggeleng pelan, sebelum membiarkan dahi sang tunangan menyandar pada miliknya.
"Dasar bajingan gila..."
###
Hari - hari selanjutnya berlangsung dua kali lipat lebih cepat dari hari biasa. Kyuhyun mengerjap pelan, berjalan mengikuti alunan musik menuju altar yang telah dipersiapkan. Semilir angin berhembus pelan, ia bersyukur karena cuaca hari ini cukup teduh, mengingat acara pernikahan yang di gelar pada rooftop salah satu hotel milik SW Group dan mengambil konsep outdoor. Tuan Bae tersenyum padanya saat mereka sudah sampai, ia beralih menggenggam tangan sang kekasih. Pernikahan mereka adalah pernikahan sesama jenis pertama setelah undang - undangan perizinan di sahkan beberapa waktu yang lalu. Sebuah pernikahan yang 'tidak biasa', cukup untuk mengundang ketertarikan dari awak media. Apa lagi, ini adalah pernikahan sang raja bisnis muda dari Korea Selatan. Namun, reporter dan wartawan tidak diberikan izin masuk untuk meliput.
Tak sedikit yang kecewa lantaran gagal menyusup, karena hanya tamu undangan yang telah terdaftar pada buku tamu yang bisa masuk. Penjagaan yang ketat dari tim keamanan milik Choi Siwon, sangat mustahil untuk ditembus. Semua sudah dipersiapkan dengan sempurna, lima orang fotografer profesional pun turut dihadirkan untuk menangkap momen penting mereka. Kyuhyun tidak pernah merasa gugup saat harus berdiri didepan khalayak ramai, namun hari ini, ia mengakui bahwa dirinya mengalami hal tersebut. Tangannya sedikit gemetar, keringat dingin mulai diproduksi oleh tubuhnya, perlahan keluar menembus pori - pori kulit dan membasahi telapaknya. Mungkin, tak seorang pun dari tamu undangan dan keluarganya mengetahui kondisinya, karena ia berhasil menjaga postur agar tetap tegap dan kaku, sebagaimana ia biasa bersikap.
"Cho Kyuhyun, apakah kau bersedia menerima Choi Siwon sebagai suami sah mu?"
Pertanyaan itu berhasil menyentaknya keluar dari lamunan. Bibirnya terkatup rapat selama beberapa detik, ketidak yakinan dan keinginan untuk mundur, mulai mengisi pikirannya. Namun, semua itu sirna saat tangan yang lebih besar darinya, menelusup disisinya dan mengaitkan jemari mereka. Tangan keduanya bertaut. Bibirnya menarik sebuah senyumam kecil, lembut dan tulus, sebelum ia menyuarakan jawabannya dengan lantang.
"Aku bersedia"
"Dan, Choi Siwon, apakah kau bersedia menerima Cho Kyuhyun sebagai istri sah mu?"
"Aku bersedia"
"Kepada pasangan pengantin, dipersilahkan mengucapkan janji suci pernikahan. Di mulai dari Tuan Cho Kyuhyun"
Keduanya saling bertatapan, berdiri sejajar dan berhadapan. Jemari mereka yang terkait, tak lantas menjadi penghalang. Mikrofon diberikan oleh salah seorang staf acara, mengisyaratkan agar ia menggunakan barang tersebut saat akan berbicara. Para tamu undangan pastilah penasaran dengan apa yang ingin ia ucapkan. Karena Kyuhyun tahu, tidak sedikit dari mereka yang melemparkan pandangan iri, dengan kilatan dengki yang kentara. Tanpa mengalihkan atensinya dari pria tersebut, ia mengucapkan kalimat berisi janji suci pernikahan yang telah dipersiapkan semalaman, bahkan telah ia hafal diluar kepala.
"Siwon, aku membenci mu. Kau adalah bajingan brengsek paling biadab yang pernah ku temui di muka bumi ini"
Hanya dengan dua kalimat pembuka tadi, Kyuhyun berhasil menimbulkan suasana ricuh dari bisikan diantara para tamu. Ia tersenyum miring saat mendengar beberapa cacian serta makian dilemparkan padanya. Namun, hal tersebut tak mengganggunya barang sedikit pun. Memberikan tendangan pelan pada tulang kering sang kekasih, ia merengut menyadari pria itu nyaris terbahak mendengar perkataannya tadi. Setelah keadaan kembali tenang, ia pun melanjutkan kalimatnya.
"Itulah pemikiran ku saat pertama kali mengetahui tentang dirimu. Aku tahu, kau bahkan sadar bahwa aku tidak bisa menunjukkan rasa ini dengan lancar. Tetapi, aku bersungguh - sungguh. Aku berani berkomitmen untuk terus bersama mu, dalam keadaan sehat maupun sakit, saat kaya maupun miskin, walau akan sangat mustahil bagi orang licik seperti mu untuk jatuh seterpuruk itu. Dalam senang maupun susah, aku akan selalu mencintai dirimu yang menyebalkan dan sedikit tidak waras. Aku percaya bahwa rasa cinta yang kita bagi, tidak akan pudar dengan mudah, karena dengan tidak sopannya, kau telah menorehkan namamu secara permanen didalam hati dan pikiran ku. Aku berjanji akan selalu bersama mu, berada disamping mu, bahkan saat dunia berbalik untuk menyerang mu, aku akan selalu ada untuk mu. Aku akan membuat mu kesal, menguji kesabaran mu hingga kau mengalami penuaan dini, tetapi aku akan selalu ada untuk mu dan menautkan jemari ku dengan milik mu, hingga maut memisahkan kita"
Pria tua yang memandu jalannya pengikatan janji suci itu, hanya bisa menggeleng pelan. Kedua orang didepannya ini, adalah pasangan paling unik yang pernah ia temui. Berdehem pelan, pria tersebut beralih pada mempelai yang satunya lagi. "Baiklah, selanjutnya dipersilahkan untuk Tuan Choi Siwon"
Siwon mengangguk dan menerima mikrofon yang diberikan Kyuhyun. Mengecup punggung tangan milik pemuda tersebut, ia pun menghela nafas pelan. Jujur sangat lega, akhirnya mereka sampai pada tahap ini. Dirinya tak pernah sekalipun gugup didepan khalayak ramai, bahkan ia terbiasa menggerakkan ratusan bahkan ribuan orang dibawahnya. Namun, saat ini, ia gugup karena gejolak kebahagian yang meronta didadanya, bagaikan binatang buas yang siap lepas kapan saja. Terlalu bahagia sungguh tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Berdehem pelan, ia mengeratkan kaitan jemari mereka, sebelum mulai mengucapkan janji suci yang sudah ia rangkai sejak berbulan - bulan lamanya.
"Kyuhyun, aku akui, aku terobsesi pada mu. Bahkan bertaruh dengan diri sendiri bahwa kau harus ku dapatkan, dengan cara kotor dan licik sekalipun. Itulah yang terlintas di kepala ku saat pertama kali melihat mu. Namun, secara tak sengaja, aku mendapat sentakan kesadaran. Aku menyadari bahwa aku sudah jatuh dalam pesona mu. Aku ingin mengikat mu untuk selalu bersama ku selamanya. Aku ingin menjadi sandaran mu, menjadi pendengar untuk segala curahan hati mu, menjadi tempat mu pulang setelah lelah berhadapan dengan manusia tolol diluar sana. Dan aku sadar, aku ingin kau menjadi seseorang yang setara dengan ku, bukan seseorang yang bisa ku manipulasi atau digerakkan sebagai bidak catur rencana ku. Aku ingin kau mendampingi ku, berdiri disamping ku, dan memutuskan segala sesuatu dengan ku. Aku berjanji akan selalu mencintai mu dan selalu menautkan jemari kita berdua dalam keadaan sesulit apapun. Aku akan menghargai mu sebagai seorang laki - laki dan seorang istri. Aku akan selalu sabar menghadapi amarah mu. Aku berjanji akan terus melingkupi mu dalam perlindungan ku dan memuja mu. Selalu bersama mu dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dan senang maupun sedih, hingga maut memisahkan kita"
Pengucapan janji suci itu diakhiri dengan ciuman lembut pasangan pengantin baru tersebut. Riuh tepuk tangan yang meriah, memenuhi area terbuka itu. Jangan lupakan, hujan dari ratusan kelopak mawar yang ikut menambah haru suasana, terimakasih untuk alat pelontar konfeti yang sudah diganti isinya. Ada yang menitikkan air mata karena terharu, ada juga yang tersenyum masam karena iri. Disaat fokus semua orang terdistraksi, salah seorang tamu berlari menuju altar, tangan kanan menggenggam sebuah pisau lipat. Kyuhyun menyadarinya, besi sepanjang sepuluh sentimeter itu, diarahkan tepat menuju punggung bawah pria yang baru saja menjadi suami sahnya. Refleknya lebih cepat dari perhitungan yang ia rencanakan, tangannya mendorong kuat tubuh yang lebih besar dari miliknya itu kesamping. Arah mata pisau itu beralih padanya, menembus tuxedo putih yang dikenakannya dan merobek kontinuitas jaringan kulitnya, mengoyak dagingnya.
"KYUHYUN!"
Jerit ketakutan dan teriakan panik, memenuhi area tersebut. Pelaku penusukan itu, menarik serong pisau tadi, memberikan robekan yang lebih besar pada luka dibagian perutnya. Kyuhyun menulikan pendengaran saat banyak orang memanggil namanya. Ia lebih memilih untuk memukulkan sikutnya pada sisi leher si pelaku, memaksa bajingan itu jatuh ke lantai dengan cara hilang keseimbangan, sebelum mencengkram wajahnya dan menghantam keras kepala itu pada lantai semen. Bunyi retakan tulang dapat terdengar jelas ditelinganya, seketika membuat hening keadaan ricuh tadi. Ia dapat memastikan bahwa pelaku penusukan itu mati ditangannya, tanpa peduli dengan tatapan ngeri yang dilemparkan untuknya. Tatapannya nyalang, menyisir sekeliling sebelum menarik seringai tajam dan mendongak untuk bersitatap dengan pria yang telah menjadi suaminya. Keduanya menyeringai lebar saat menangkap siapa orang yang menyusupkan bajingan tadi.
Berdiri perlahan, ia membiarkan pisau tadi menggantung diperutnya. Noda merah pun kentara mengotori tuxedo putih pernikahannya. Ia mendesis pelan, mengernyit menahan sakit saat yang lebih tua menarik keluar besi tajam tadi. Kyuhyun membiarkan tubuhnya ditopang oleh pria tersebut, sembari sebelah tangannya menekan pendarahan pada daerah luka. Ia menarik leher Siwon mendekat dan berbisik ditelinga pria itu.
"Siwon hyung, arah jam delapan, wanita dengan dress merah maroon dan rambut hitam setinggi bahu. Lutut belakang sebagai sasaran"
"Roger, Letnan Cho"
Dua tembakan dilepaskan, tidak peduli jika sebagian tamu disana berprofesi sebagai penegak hukum. Peluru tersebut, tepat bersarang pada targetnya, wanita berkebangsaan China yang beberapa waktu lalu datang ke Korea bersama pemilik SW Corp, Liu Wen. Jerit kesakitan dan tangisan wanita itu, bahkan tidak dihiraukan oleh para polisi yang bertindak cepat mengamankannya. Beberapa sengaja menutup mulut mengenai pembunuhan yang terjadi didepan mata mereka tadi. Kepala kepolisian yang merupakan teman dari Siwon, juga memutuskan hal tersebut sebagai tindakan perlindungan diri, bukan sebuah pembunuhan. Namun, diantara para tamu undangan, pemilik sepasang netra keemasan bergetar pelan menahan euforia. Sungguh sebuah pertunjukan yang mengagumkan, dadanya sesak dan telinganya berdenging, palpitasi yang dialamnya menyebabkan tremor pada tubuhnya.
Fokusnya tak lepas dari pasangan pengantin baru yang berjalan melewatinya. Ia nyaris meneriakkan rasa puasnya saat pemuda bermata boneka itu menatapnya sekilas namun dalam, seringai tipis menghiasi wajah manis berkulit pucat itu. Mereka bukanlah pasangan biasa seperti yang orang - orang katakan, kedua orang tersebut adalah pasangan mengerikan berjiwa iblis. Yoongi merasakan wajahnya terasa panas, seperti terbakar. Pemuda itu menyadarinya, sang letnan mengetahui ketertarikan ganjilnya. Oh tidak, dirinya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan cara sang letnan memperlihatkan iblis yang selama ini dikurung oleh pemuda itu. Bukan cinta yang ingin memiliki, lebih tepat jika dikatakan bahwa ia memuja pemuda itu. Tanpa rasa takut, sang letnan memperlihatkan cara menanamkan teror di memori banyak orang. Menginjak - injak para pendengki yang menghinanya dengan sebuah ancaman nyata. Ia sadar, pemuda itu bukanlah seorang yang lemah, tetapi ini bahkan diluar ekspektasinya.
"Oh ya ampun, ya ampun, ya ampun... Sungguh indah dan mengagumkan... Letnan Cho..."
###
"Aku tidak mati, berhentilah menangis"
"Mana bisa begitu! Hikss... Ahjumma Cho akan mengutukku seumur hidup kalau tahu kau terluka... Huweee"
"Kim Ryeowook, kau berlebihan"
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Saat ini, ia terbaring di ranjang unit gawat darurat rumah sakit. Luka tusuknya memang tidak begitu dalam, namun cukup panjang dan membutuhkan sembilan jahitan. Suara tangisan sahabatnya itu, benar - benar mengganggu pendengaran, tetapi ia tetap tersenyum tipis dan mengusap kepala pemuda tersebut, mencoba menenangkan. Ia melemparkan atensinya pada tirai yang sedikit tersibak, memperhatikan Siwon yang sedang berbincang dengan dokter Kwon. Juhyun tidak ikut mengantar, karena wanita itu sendiri yang mengajukan diri untuk memimpin investigasi kasus percobaan pembunuhan tadi. Tuan dan Nyonya Bae pun beberapa kali menghubungi ponselnya dan bertanya mengenai keadaannya. Menghela nafas berat, ia menutup kedua matanya selama beberapa saat.
"Bagaimana keadaan mu?"
"Aku baik - baik saja, hanya sedikit nyeri", tanpa harus melihat pun, ia tahu siapa yang baru saja bertanya. Sahabatnya itu juga pamit setelah kedatangan pria itu. "Ayo kembali. Mereka pasti menunggu mu, hyung"
"Kau yakin?"
"Kau ingin ku tusuk juga dengan pisau?"
Yang lebih tua tersenyum lembut, sadar akan sia - sia jika berdebat dengan sang istri yang keras kepala. Memilih untuk membantu pemuda itu duduk, mereka pun segera melangkah keluar dari sana. Kyuhyun tidak pernah suka berlama - lama di rumah sakit. Cukup dua jam saja ia menghabiskan waktu ditempat serba putih itu, ia bisa gila jika harus berlama - lama disana. Setelah berganti baju, ia dan sang suami kembali memasuki area pesta dengan senyuman tipis. Butuh usaha lebih keras untuk membunuhnya, dan ia cukup senang karena orang - orang sombong dari kalangan elit itu menangkap hal tersebut. Para pendengki yang pernah meremehkannya pun, tak berani bersitatap langsung dengannya. Ia memilih untuk menikmati pesta tersebut dengan berbincang bersama beberapa kenalannya. Tak lupa, ia menyapa Yoongi yang tampak semakin bersemangat. Tentu saja ia sudah mengetahui ketertarikan yang pemuda itu labuhkan padanya.
Pesta kembali berlanjut dengan meriah, seakan melupakan kejadian mengerikan beberapa jam lalu. Namun, akan lebih tepat jika dikatakan, bahwa para tamu sengaja diam. Terlalu takut dengan ancaman langsung dari sang raja iblis dunia bawah. Siwon cukup menolerir satu orang yang menjadi bidak catur permainan ini, karena ia sudah menangkap si pemain yang sebenarnya. Tatapan datar tertuju pada tablet yang Chanyeol perlihatkan. Tampak sebuah video diputar, mempertontonkan seorang wanita yang berteriak marah sembari menyebut namanya, sumpah serapah pun tak luput dari bibir wanita tersebut. Adegan selanjutnya, berhasil membuat ia mengecap rasa puas. Jika seseorang berani menyakiti pujaan hatinya, istrinya, walau hanya sehelai rambut pun, akan ia janjikan sebuah pembalasan yang lebih menyakitkan daripada kematian. Tidak peduli jika Seo Joohyun adalah seorang wanita, ia terkekeh pelan saat melihat wanita itu 'rusak' ditangan para bawahannya.
"Apa sudah cukup, hyung?"
"Belum", ia tersenyum pada adik angkatnya itu. "Chanyeol, aku sudah katakan pada mu, bukan? Aku lebih suka saat mereka yang memohon untuk mati. Hancurkan kewarasan psikiater gila itu, dan jangan lupa kirimkan videonya pada ku"
"Baik hyung"
Ia mengambil langkah lebar menuju pemuda manisnya, memeluk hati - hati pinggang itu, dan memberikan kecupan pada pipi yang lebih muda. Siwon tidak peduli jika harus membunuh ratusan bahkan ribuan orang, tak akan ada seorang pun yang lolos jika mereka berani menyentuh cintanya. Bahkan kematian, akan menjadi terlalu mudah untuk para bajingan itu.
"Ada apa?"
"Aku mencintai mu, Kyu"
"Aku tahu", Kyuhyun tersenyum tipis, lalu kembali mengaitkan jemari mereka. "Aku juga mencintai mu"
Unusual Marriage : End
A/N:
Maafkan jika ada typo yang bertebaran. Jangan lupa untuk review ya buat penyemangat author bikin lanjutannya
By the way, ini belum kelar yaaa. Masih agak lama kelarnya :3
Thanks to:
- gnf
- Chii
- Nunna
- gyu1315
