Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)

Main Cast:

- Choi Siwon

- Cho Kyuhyun

Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC

Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc

Disclaimer: They belongs to God and themselves


PART VI

[ Vacation to Japan ]


Note: continuation of Epilogue (chapter 20) from Your Sick Game of Hide and Seek

Read the Epilogue before you read this part!

.

.

Osaka sebenarnya adalah kota yang menyenangkan. Namun, ada bagian suram dari kota tersebut, dimana orang – orang akan berjalan dengan kepala menunduk dan tatapan mereka was – was pada sekeliling. Dari kejauhan terdengar suara teriakan kasar penjudi yang kalah, tawa gila dari pemabuk yang hilang akal, dan tangisan bayi yang kelaparan. Kamagasaki, salah satu wilayah di distrik Nishinari, adalah tempatnya. Jalanan ini sangat membekas dikepalanya, tidak mungkin ia melupakan pemukiman kumuh di sudut kota ini, daerah yang pernah menjadi tempat tinggalnya. Matanya awas menangkap beberapa pasang mata yang mengintai dari dalam gang – gang sempit yang kotor, seperti mengincar dirinya dan apapun barang berharga yang dimilikinya. Mereka adalah anak - anak terlantar yang terpaksa mencari makan sendiri, karena ayah mereka seorang pemabuk dan penjudi, menghabiskan waktu menganggur dan hanya memikirkan perut sendiri. Sedangkan ibu mereka, sibuk menggoda para lelaki berpenampilan rapi.

"Sayang, kau terlalu tegang. Apa kau sangat merindukannya?"

Mendecih pelan, ia melirik pada sang suami yang berjalan disampingnya. Netra kelam itu berkilat jahil, sedikit membuatnya kesal. "Aku kesini hanya untuk melihat apa pria brengsek itu masih hidup atau sudah mati"

"Dia ayah mu, Baby"

"Apa peduli ku? Bukannya karena si brengsek itu aku jadi –"

"Sayang...", menautkan jemari mereka, ia mengecup punggung tangan pucat itu perlahan. Walau saat ini sang istri tidak begitu mempermasalahkan masa lalunya untuk diungkit, Siwon tetap tidak menyukai saat getaran itu mampir di kedua netra milik yang lebih muda. "Lupakanlah, jangan mengingat hal itu lagi"

Kyuhyun menghela nafas pelan, sebelum mengangguk dan melempar fokusnya pada jalan yang mereka lewati. Tampilan keduanya mungkin tampak sedikit mencolok, wajar jika dapat menarik minat dari berpasang - pasang mata yang mengintai. Namun, anak - anak itu berlarian kabur ketika langkah kakinya berhenti tepat didepan sebuah rumah, sebagian dibangun dari bebatuan dan sisanya dari papan. Bukan, rumah tersebut bukanlah tempat tinggalnya semasa kecil dulu, tetapi ia menghabiskan cukup banyak waktu disana, sehingga terkesan hangat dan familiar dimatanya. Rumah itu adalah tempat tinggal dari seseorang yang dulunya terkenal sebagai 'ketua bandit' di kalangan anak terlantar, selalu berhasil mendapat barang curian walau harus mengorbankan salah satu anggotanya. Anak - anak disana pastilah sangat takut pada orang itu, apa lagi kawasan tersebut mengandalkan informasi mulut ke mulut, yang sewaktu - waktu berkembang menjadi semakin hiperbola.

Alasannya datang kesana bukanlah untuk bertemu sosok tersebut, melainkan wanita yang melahirkan si licik itu. Tangannya terangkat, mengetuk beberapa kali pada pintu geser kayu tersebut. Kyuhyun berhati - hati untuk tidak mengeluarkan banyak tenaga, rumah didepannya ini seakan bisa ambruk kapan saja saat ia menyentuhnya. Beberapa detik berlalu, hingga seorang pria berperawakan pendek, membuka pintu geser rumah tersebut, tatapan tajam tak bersahabat dilemparkan padanya. Ia mengenal figur itu, selalu membekas di memorinya bagaimana pria itu memaki dirinya, rasa kecemburuan pekat di kedua netra tersebut saat keduanya masih seorang anak kecil. Si licik yang tak pernah menyukai dirinya, hanya karena kasih ibu yang terbagi untuk anak terlantar seperti dirinya. Seorang pria yang semasa kecilnya selalu dipanggil 'Aniki' oleh anak - anak di kawasan tersebut. Ia menatap datar pria itu, lalu membuka percakapan, tanpa basa - basi.

"Apa Nyonya Kurosada Tatsumi masih tinggal disini?"

"Kau siapa?"

"Aku Choi Kyuhyun. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padanya"

Pria bersurai hitam dan sedikit kusam itu membuka lebih lebar pintunya. "Aku anaknya. Okaasan sudah tidak tinggal disini lagi, begitu juga dengan ku. Aku disini hanya untuk memilah barang penting yang belum ku bawa", tatapan menyelidik dilemparkan oleh pria berkebangsaan Jepang itu. Senyuman miring ditarik perlahan setelah pria tersebut selesai menilik penampilan kedua tamunya itu. "Hal penting apa yang ingin kau tanyakan, Kyuhyun-san?"

"Sayang sekali... Aku ingin bertanya mengenai keberadaan seorang pria bernama Miura Izuki. Apa kau mengenalnya, Kurosada-san?", melirik sekilas pada sang suami, pria itu mengangguk dan memberikan amplop di saku jaketnya pada Kyuhyun. "Aku akan membayar untuk informasi yang kau berikan"

Amplop berwarna coklat tersebut, ia serahkan pada lawan bicaranya, sangat yakin bahwa nominal yang sang suami masukkan kesana tidaklah sedikit. Tatapannya tak lepas dari pria tersebut, memberi waktu untuknya menghitung jumlah lembaran yang ia berikan. Kyuhyun hanya menatap datar saat sang lawan bicara berdecak puas dan menyimpan amplop tadi didalam saku jaket lusuhnya. Tanpa mengundang mereka berdua masuk, pria tersebut justru keluar dan menutup pintu rumahnya, lalu menunjuk lurus pada gang sempit yang terletak persis diantara rumah tersebut dan rangka pertokoan tua.

"Rumahnya didalam gang itu, paling ujung dan persis bersebelahan dengan parit pembuangan. Seingat ku, pria tua itu sudah mati, kalau tidak salah, beberapa hari setelah anaknya menghilang. Yah, sepertinya bocah pucat itu kabur dari rumah. Lalu, yakuza dari keluarga Isamu datang dan...", pria itu mengibaskan jari telunjuknya tepat disisi leher, memperlihatkan gesture memotong. Kepala ayahnya dipenggal. Kyuhyun mengatupkan rahangnya kuat, menangkap maksud pria tersebut. "Mayatnya dibiarkan membusuk dirumah, sedangkan kepalanya dibawa pergi oleh para yakuza itu. Tidak ada yang mau memasuki rumah itu, padahal sudah dua puluh tahunan berlalu"

"Hanya itu?", nadanya kaku, namun netranya bergetar. Membayangkannya saja sudah membuat Kyuhyun mual.

"Ya, itu saja", pria tersebut bersedekap, ada kilatan curiga di kedua netranya. Sedikit tak yakin, tetapi dirinya tetap melontarkan apa yang menjadi prasangkanya saat ini. "Kenapa kau mencarinya? Ah, jangan - jangan kau adalah anaknya... Miura Kyou yang hilang 25 tahun lalu?"

Siwon mengalihkan fokusnya pada sang istri. Ia memang tidak pernah tahu, nama dan asal kelahiran pemuda tersebut. Tentu, dirinya sudah menggali informasi mengenai Kyuhyun, namun tak sedikitpun nama asing itu pernah terdengar ditelinganya. Semuanya selalu terpotong tepat saat pemuda tersebut dijual oleh rumah bordil yang melatihnya. Sisanya, hanya potongan tak jelas dari memori yang sang istri bagikan. Memperhatikan gerak - gerik pemuda itu, ia menangkap kekalutan di netra coklat tersebut. Tentu, itu adalah nama kelahiran sang istri. Nama yang telah dibuang dan dikubur jauh dalam ingatan pemuda tersebut. Nama yang tidak pemuda itu harapkan untuk kembali terdengar. Tetapi, inilah salah satu resiko jika kembali berpijak ditanah kelahiran, walau kecil kemungkinan, pasti akan ada yang mengenal. Ia tersenyum tipis saat yang lebih muda meneggakkan tubuh dengan dagu sedikit terangkat, mencoba terlihat angkuh dan mengintimidasi.

"Sudah ku katakan, nama ku Choi Kyuhyun. Aku datang dari Korea Selatan", nadanya sarat akan keraguan. Berbohong didepan seseorang yang dulu sangat mengenalnya, merupakan suatu hal yang cukup sulit. Namun, ia tetap berpijak pada pendirian, bahwa nama tadi bukanlah miliknya lagi.

"Begitukah? Sayang sekali...", setitik keyakinan menghasilkan senyuman lebar diparas pria berkebangsaan Jepang itu, bahwa pemuda yang berdiri didepannya saat ini, adalah si bocah pucat yang dulu menghilang. Ingin memperkuat perkiraannya, sosok tersebut pun kembali melontarkan umpan memori. "Kau tahu, okaasan bahkan menangis berhari - hari saat anak keluarga Miura menghilang. Dia sangat menyayangi Kyou. Setiap hari selalu saja membahas si pucat itu, aku jadi sedikit cemburu setiap nama Kyou diucapkan oleh okaasan"

"Terimakasih atas informasinya"

Kyuhyun memutus paksa percakapan mereka. Melangkahkan kaki melewati lawan bicaranya itu, kedua tangannya terkepal kuat saat pria tersebut menyenandungkan irama familiar ditelinganya. Irama dari lagu yang dulu selalu ia lantunkan untuk menghindari rasa sepi. Lagu anak - anak yang terdengar mengerikan bagi sebagian orang, namun merupakan gambaran fakta dari apa yang ia rasakan saat menginjak usia tujuh tahun. Langkahnya semakin cepat menyusuri gang sempit yang ia masuki, mencoba menulikan pendengarannya dari irama tersebut. Ia berhenti saat netranya menangkap sebuah rumah bercat putih kusam, tanaman liar menembus dinding - dinding rapuh tersebut, dan fondasinya seakan tak mampu menyangga rangka bangunan itu. Menghela nafas berat, ia melangkah mundur saat merasakan tepukan dibahunya, membiarkan sang suami membuka pintu rumah tersebut.

Pengap dan lembab, kedua hal itulah yang pertama kali menyapa indera penciuman mereka. Pencahayaan dari lampu ponsel milik yang lebih tua, berhasil membantu penglihatan keduanya untuk melihat sekeliling. Lantai kayu yang menjadi pijakan, berderit kasar saat menerima beban tubuh mereka. Fokusnya menangkap pintu kayu rapuh menuju kamar tidurnya dulu, bersebelahan dengan pintu kamar kedua orangtuanya. Dapur dan ruang utama, sama sekali tidak memiliki sekat, sedangkan kamar mandi berada tepat disebelah dapur. Ia menarik lengan sang suami, mengajak pria tersebut menuju kamarnya dulu. Kyuhyun sedikit terkejut karena pintu kayu tersebut roboh saat diberi dorongan, namun ia tetap melangkah masuk, setelah mengambil alih ponsel milik sang suami. Cahaya ia arahkan pada salah satu sudut, memastikan bahwa tumpukan buku yang dulu ia koleksi masih ada disana, walau kondisinya sudah sangat buruk karena menjadi sarang rayap, sebelum beralih menyinari dinding kamar tersebut.

Siwon berdecak kagum, melihat seluruh tulisan tangan yang memenuhi dinding tersebut. Ia tidak pernah berminat mempelajari bahasa resmi dari Negeri Sakura, namun ia tak habis pikir saat melihat seluruh tulisan tadi, nyaris mencapai langit - langit kamar yang tak begitu tinggi. Sebagiannya merupakan coretan perhitungan dan susunan angka, beberapa terlihat seperti barisan koordinat, dan perkiraannya terjawab benar ketika pemuda itu menjelaskan maksud dari angka - angka tersebut. Koordinat peta yang sengaja pemuda itu pelajari setelah membaca sebuah buku mengenai susunan rumit angka yang menjabarkan posisi suatu wilayah menggunakan garis bujur dan lintang. Bermacam - macam informasi serta rangkuman penting, selalu dicatat diatas dinding semen tersebut. Ia takjub saat yang lebih muda mengaku sudah fasih menulis di usia enam tahun. Tentu saja semua itu tak lepas dari jasa sesosok wanita yang sedari tadi pemuda itu ingin temui. Tatsumi Kurosada, seorang janda dengan satu anak, yang bekerja sebagai buruh penyapu jalan.

Mereka melangkah keluar setelah yang lebih muda sudah puas melihat - lihat kondisi kamar tadi. Namun, langkah keduanya terhenti ketika bunyi patahan benda padat, menggema dirumah tersebut, Siwon sedikit mengernyit dan melangkah mundur. Ia yakin baru saja menginjak sesuatu. Mengisyaratkan pada yang lebih muda untuk mengarahkan cahaya pada benda padat yang tergeletak diatas lantai kayu tersebut, dahinya mengernyit saat menyadari bentuk familiar dari benda yang baru saja diinjaknya tadi. Tulang belulang.

"Ah... Apa itu ayah mu? Dia sudah menjadi tulang"

"Dan kau baru saja menginjaknya, dasar menantu tak tahu diri", Kyuhyun melemparkan tatapan menghakimi pada suaminya itu, sebelum bersedekap. Fokusnya terarah pada tulang belulang tersebut, senyuman ia tarik paksa untuk menghias parasnya, walau terasa pahit dibibirnya. "Tapi, aku akui, itu pantas untuknya"

Siwon mengalihkan atensinya pada wajah yang lebih muda, remang dari satu - satunya sumber cahaya, sudah lebih dari cukup baginya untuk melihat pemuda tersebut dengan jelas. Netra coklat karamel itu tampak sendu, walau tak sedikitpun menunjukkan tanda - tanda akan menumpahkan cairan beningnya. "Apa yang akan kita lakukan, Kyu?"

"Memakamkannya dengan layak. Penghormatan terakhir ku sebagai anaknya. Yah, walau dia memang seorang bajingan pengecut", kekehan pelan lolos dari belah bibirnya. Mengingat bagaimana untuk pertama kalinya, ia dilempar dengan botol minuman keras dan diseret paksa keluar dari rumah, tepat dua hari setelah sang ibu mengancam untuk menjualnya. Miris sekali, ternyata sang ayah melakukan hal tersebut agar dirinya melarikan diri sejauh mungkin. Walau pada akhirnya, ia tertangkap juga oleh para bajingan itu. "Lalu, bakar rumah ini. Aku tidak mau ada yang tersisa"

"Kau yakin, sayang?"

"Tentu. Aku tidak pernah seyakin ini", biarkan masa lalu hanya menjadi kenangan kelam disudut memorinya. Ia ingin menghapus semua sisa ikatan yang dirinya miliki ditempat ini. "Ayo pergi. Aku masih ingin menemui Bibi Tatsumi... Dan sepertinya Mahiro-san sudah mengenali ku"

Mereka berjalan keluar dalam diam, Kyuhyun yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, dan Siwon pun memilih untuk diam, memberikan waktu bagi yang lebih muda untuk menata hati. Saat keduanya sampai di pintu masuk gang, orang yang menjadi sumber informasinya tadi, sudah menunggu disana. Pria berperawakan pendek itu menghembuskan asap rokoknya, sebelum membuang benda tersebut ke tanah dan menginjaknya hingga padam. Menarik senyuman tipis, Kyuhyun pun menerima uluran tangan didepannya, menjabat tangan bertelapak kasar milik pria tersebut. Walau hubungan keduanya tidak begitu baik semasa kecil dulu, namun saat ini berbeda, mereka sudah dewasa. Mereka tidak perlu memperebutkan setitik perhatian dari wanita tua dengan raut keibuan yang selalu mencoba membagi rata kasih sayang untuk keduanya.

"Mahiro-san, firasat mu memang tidak pernah meleset"

"Ya, dan aku tahu kau akan datang lagi, Kyou. Aku hanya tidak menyangka kau akan datang bersama..."

"Suami ku"

"Oh, kalian sudah menikah? Aku tidak memperkirakannya tadi", pria itu hanya mengedikkan bahu saat mendengar pernyataan yang lebih muda. Di negaranya, hubungan seperti itu bukanlah sesuatu yang tabu, dan justru sudah menjadi suatu hal lumrah. Jangan lupakan satu fakta nyata yang umum di masyarakat, yaitu banyaknya rumah bordil mempekerjakan laki - laki sebagai 'penghibur' malam disana. "Yah, ternyata Kyou kecil yang manis kesayangan okaasan sudah tumbuh sebesar ini. Bahkan lebih tinggi dari ku, padahal dulu kau hanya setinggi bahu ku, Kyou-chan~"

"Aku tidak menggunakan nama itu lagi. Berhenti memanggil ku dengan nama itu", rahangnya mengeras, tatapan menusuk ia lemparkan pada pria tersebut. Dirinya memang tak pernah suka saat yang lebih tua mengejeknya dengan suffix feminim. "Mahiro-san, aku ingin bertemu bibi Tatsumi"

"Baiklah. Ikut aku"

Kyuhyun sedikit mengernyit saat pria itu berjalan menjauh. Seingatnya, Mahiro mengatakan bahwa sang bibi sudah tidak tinggal disana lagi, apa mungkin wanita itu tak pindah terlalu jauh? Namun, pertanyaan tersebut tak jadi disuarakan saat netranya menangkap sesosok figur keluar dari salah satu gang sempit yang ada disana. Seorang gadis kecil dengan pakaian kebesaran yang mendapat tambalan dibeberapa tempat, berlari kearah mereka. Gadis itu berbisik pada pria berjaket lusuh yang memandu jalan, melirik kearah dirinya dan sang suami, sebelum berlari pergi menuju gang sempit tadi setelah mendapat jawaban mutlak. Ia dapat mendengar samar - samar percakapan keduanya, dan bagaimana pria itu menegaskan larangannya. Tentu saja, gadis tadi bersama kelompoknya, pasti ingin mencoba merampok ia dan suaminya. Terimakasih pada Mahiro yang menghalangi niatan buruk anak - anak itu, jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan sang suami nanti.

Mereka memperlambat laju langkah saat masuk kedalam sebuah pekarangan makam. Tempat peristirahatan terakhir itu, terletak diseberang jalan besar, yang merupakan pembatas Kamagasaki dengan daerah lain. Kyuhyun melirik sekilas pada Siwon, pria tersebut berhenti dipintu masuk pekarangan makam, memilih untuk menunggu disana sembari menghubungi beberapa bawahannya. Ia baru berhenti berjalan saat sosok didepannya berdiri disamping sebuah makam. Nama yang sangat familiar untuknya, tertulis pada batu nisan tersebut. Ada buah - buahan serta sebuah wadah logam berisi beberapa tangkai dupa yang diletakkan diatas badan batuan makam.

"Dua tahun yang lalu, karena wabah. Aku tidak punya cukup uang untuk membiyai pengobatannya", gurat sendu kentara diwajah pria tersebut. "Okaasan terus memikirkan mu, dia berpesan agar aku memberikan mu semua buku cerita anak yang selalu dia kumpulkan. Beruntung aku datang kesini untuk mengemasi barang - barang ku juga"

"Apa dia bahagia?", Kyuhyun jarang menangis, sangat jarang. Tetapi saat ini, ia bisa merasakan netranya memanas. Kesedihan mencekik lehernya, membuat ia mengecap pahit di lidahnya.

"Tentu. Aku menggantikannya bekerja sejak tujuh tahun yang lalu. Walaupun aku tidak sekolah, aku tetap ingin membahagiakannya... Bagaimanapun juga, dia ibu ku. Wanita paling kuat yang pernah ku temui", tertawa pelan, pria itu lalu melirik kearah yang lebih muda. "Kau tahu? Aku jadi ingat, ada beberapa buku cerita baru yang masih dibungkus rapi, karena okaasan ingin memberikannya pada mu. Dia selalu menyiapkan satu buku sebagai kado disetiap hari ulang tahun mu"

"Syukurlah... Aku sangat merindukannya... Syukurlah dia bahagia. Aku akan sangat marah pada mu kalau kau membuatnya menangis", mengerjap pelan untuk menyingkirkan buram di kedua matanya, ia segera menyeka tetes kristal bening yang lolos. "Bibi pasti mengeluh pada mu karena aku tidak pulang dan mengambil kado ku. Seharusnya, dia tidak usah membeli buku itu dan menyimpannya untuk tabungan disaat sakit"

"Okaasan memang seperti itu. Selalu keras kepala jika menyangkut kita berdua. Sama seperti ku dan juga diri mu"

Ia berlutut didepan nisan sang bibi, seseorang yang sudah menyelamatkan masa kecilnya. Wanita itulah yang mengajarinya menulis, membaca, serta berhitung. Wanita itulah yang mengenalkannya pada buku dan mendorong ia untuk bermimpi. Wanita itu yang tak pernah ragu untuk membagi porsi makan miliknya disaat ia kelaparan. Bahkan, wanita itu jugalah yang berani menampar anak kandungnya karena pernah mengumpankan Kyuhyun sebagai pengecoh saat mencuri. Ia tahu, figur seorang ibu yang sempurna memang ada pada eomma Cho, namun seseorang yang berhasil menyelamatkan ia ditengah penderitaannya saat hidup di Kamagasaki, adalah ibu dari pria berperawakan pendek didepannya ini. Satu - satunya orang yang sanggup menjawab pertanyaan kritis yang dirinya lontarkan saat masih seorang anak kecil.

Kurosada Tatsumi, seorang wanita tangguh yang berdiri tegak walau dibuang oleh keluarganya sendiri, karena keperawanannya direnggut paksa. Wanita yang menjadi korban pemerkosaan, namun tidak mendapat keadilan dan justru dijustifikasi memalukan oleh sanak saudara. Wanita terpelajar yang seharusnya memiliki masa depan cerah, terpaksa melepaskan semua itu akibat kejadian yamg bahkan tak bisa seorang pun prediksi. Dalam satu malam, takdir mempermainkan masa depan sosok anggun itu. Namun, wanita tersebut tidak menangisi jalan hidupnya, dia tetap mempertahankan janinnya. Tentu saja Kyuhyun tahu mengenai hal tersebut, telinganya tidak tuli. Sepanjang jalan, para tetangga selalu mencaci wanita itu, seakan mereka jauh lebih baik. Tetapi, dengan tenang wanita berwajah teduh itu menjelaskan dengan ringkas apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun saat ia terus bertanya, karena ikut sedih dan kebingungan.

"Aku bekerja sebagai cleaning service disebuah pusat perbelanjaan. Bagaimana dengan mu?", Mahiro memilih untuk memecah keheningan diantara mereka.

Kembali menegakkan tubuhnya pada posisi berdiri, ia lalu membungkuk dalam pada makam didepannya. Memberikan penghormatan yang layak pada pemilik makam tersebut. "Polisi penyidik, aku menangani kasus - kasus pembunuhan dan bunuh diri"

Bersiul ringan, yang lebih tua lalu terkekeh kecil, berusaha meringankan suasana. "Kau sudah sukses sekarang. Apa kau yakin masih membutuhkan buku - buku cerita yang okaasan kumpulkan? Jika tidak, aku akan menjualnya di pasar barang bekas"

"Tentu. Aku akan mengambil semuanya, termasuk kado - kado tahunan yang bibi tujukan pada ku"

Netranya berkilat jenaka saat bersitatap dengan pria itu, sebelum tertawa pelan. Kyuhyun ingin mengakhiri pertemuan mereka dengan memori yang baik, karena ia memang berniat untuk melupakan tempat ini. Walau sang bibi beristirahat disini, ia tetap tidak akan kembali. Ia akan memutus semua ikatannya disini, agar bisa melangkah menapaki masa depan dengan ringan. Tanpa belenggu yang mengingatkan bahwa ia harus terus kembali. Senyuman tipis ia tarik saat melihat sang suami yang melangkah mendekat, diluar pekarangan makam pun sudah ada seorang pengawal dan supir yang menunggu didepan Limousine milik suaminya.

"Baby Kyu, ayo"

Mengangguk samar, Kyuhyun kembali mengarahkan atensinya pada pria berkebangsaan Jepang tadi. Raut wajahnya kembali serius, tampak kaku. "Bawahan suami ku akan menjemput buku - buku itu besok", ia menerima uluran tangan Siwon, lalu mengaitkan jemarinya pada milik sang suami, sedikit meremat tangan besar itu. "Dan ingatlah, Miura Kyou sudah tidak ada. Dia sudah mati saat meninggalkan tempat ini 25 tahun yang lalu. Sekarang, hanya ada Choi Kyuhyun. Maka dari itu, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Selamat tinggal, senang bisa berkenalan dengan mu, Mahiro-san"

"Baiklah, aku akan menganggapnya seperti itu", Mahiro mengagguk, menyanggupi untuk mengakui hal tersebut. "Selamat tinggal, Kyuhyun-san, aku juga senang bisa berkenalan dengan mu"


###


Kuda besi yang mereka naiki, melaju cepat, meninggalkan daerah tersebut. Ia menginstruksikan pada sang supir untuk membawa mereka berkeliling kota, sebelum menutup kaca serta tirai jendela penghubung tadi. Kyuhyun berbalik untuk menatap suaminya yang sudah melepaskan jaket, pria itu duduk bersandar pada kursi, kedua lengan terbuka, mengisyaratkan agar ia mendekat. Mendudukkan dirinya diatas pangkuan sang suami, ia pun mulai melumat bibir pria tersebut, yang tentu segera mendapat balasan. Tangannya sibuk melepaskan atasan berlapis yang ia kenakan, memutus ciuman hanya untuk membuka bajunya, sebelum kembali menautkan bibir mereka. Ia mendesah tertahan saat merasakan tangan besar itu menelusup masuk kedalam bagian belakang celananya, bertemu langsung dengan kulitnya, dan sedikit memberikan remasan pada bokongnya. Tak mau kalah, ia membuka ikat pinggang dan zipper celana jeans milik pria tersebut, membiarkan yang lebih tua memberikan kecupan pada perpotongan bahunya.

"Kita masih di mobil, sayang", berbisik pada telinga pucat itu, geliginya pun ikut memberikan gigitan lembut disana.

"Peduli setan. Kau mau atau tidak?", menggerutu geram, tangannya ikut membantu sang suami untuk melepaskan atasan yang pria itu kenakan.

"Tentu saja aku mau. Aku tidak pernah menolak saat kau yang mengajak", sedikit kesulitan saat menarik lepas celana dan dalaman sang istri, Siwon mendorong bokong pemuda itu keatas, mengisyaratkan yang lebih muda untuk menumpu kedua lutut pada kursi. "Sebenarnya, aku ingin membicarakan masalah penyusup di penthouse dua hari lalu"

"Katakan"

Kyuhyun menegakkan tubuhnya menggunakan lutut sebagai tumpuan, sedangkan kedua sikunya bertumpu pada puncak sandaran kursi. Matanya tertutup merasakan cumbuan sang suami yang mampir pada pinggangnya, memberikan hisapan dan gigitan kecil, meninggalkan bercak kemerahan disana. Tak butuh waktu lama hingga skinny jeans dan dalamannya terlupakan di lantai mobil, meninggalkan ia yang kembali duduk dipangkuan suaminya dalam keadaan telanjang. Terimakasih pada kewarasan dan rasa malunya yang masih tersisa, karena ia tanggap menutup seluruh tirai jendela mobil. Walau kaca film dibagian penumpang Limousine tersebut mencapai delapan puluh persen, jangan lupakan dengan lapisan polikarbonat sebagai tambahan, Kyuhyun akan tetap merasa tidak nyaman saat tirai jendela terbuka.

Sebelah tangan meraih tablet miliknya, Siwon menyerahkan benda persegi itu pada sang istri. Tangannya masih melingkar di pinggang yang lebih muda, menjaganya agar tidak terjatuh saat ada guncangan. "Kau kenal lambang ini? Sama persis dengan tato di dada kiri mereka"

"Yakuza Keluarga Isamu"

"Benar sekali"

"Aku sudah tahu, hanya dengan sekali lihat", Kyuhyun menghela nafas pelan, sebelum menyingkirkan gadget tadi menjauh. "Ryuichi-sama sepertinya mengenali ku saat kita keluar dari bandara kemarin"

"Benarkah? Siapa dia?"

"Kau tidak menggali informasi mengenai mereka? Dia Kepala Keluarga Isamu. Tua bangka itu pasti mengenali ku. Dia tidak pernah benar - benar melepaskan 'mainan' nya"

Kyuhyun memeluk kepala pria itu yang tenggelam di dadanya. Ia bisa merasakan bibir joker itu melingkupi salah satu putingnya, memberikan hisapan pelan disana, menghasilkan lenguhan halus darinya. Sebelah tangan sang suami, sibuk memberikan remasan pelan pada dadanya yang sedikit berisi, sebelum bibir itu meraup rakus putingnya yang belum tersentuh. Pria tersebut hanya fokus pada dadanya hingga kedua tonjolan disana menegang, sedikit kemerahan dan basah oleh saliva. Kulitnya yang pucat, mulai bersemu kemerahan, akibat temperatur tubuh yang meningkat. Kecupan ringan menjalar kesisi lateral dadanya, menuju bagian aksilanya. Kyuhyun sudah terbiasa membiarkan para pelayan yang bekerja dibagian spa mansion mereka untuk menangani perawatan tubuhnya. Dan ia jelas tahu, suaminya itu sangat suka mencumbu tiap inchi tubuhnya setelah ia melakukan waxing. Mereka berhenti sejenak untuk meraih pelumas dilaci meja yang berada tak jauh dari jangkauan.

"Kau tahu siapa Akinari Megumi? Dia aktor papan atas dan menghilang begitu saja tiga tahun yang lalu. Tetapi, mengapa tidak ada satu laporan pun mengenai hal itu?", Kyuhyun membaca satu persatu label botol pelumas tersebut, merengut karena ketiganya memiliki aroma aloe vera, padahal ia lebih suka yang strawberry atau apel. Sang suami pasti lupa untuk membeli yang baru. Choi Siwon bodoh, ia mengumpat didalam kepalanya. "Atau, Lan Xian, pelukis yang terkenal di China dengan lukisan bergaya surealis nya dan menghilang satu tahun yang lalu setelah melakukan pameran lukisan di Tokyo. Apakah akan menjadi suatu kebetulan kalau aku memberitahu mu bahwa mereka berasal dari rumah bordil yang sama dengan ku?"

Ia tersenyum tipis saat menerima botol pelumas tadi, wajah istrinya itu tampak semakin manis saat merengut seperti itu. Pasti karena dirinya lupa mengganti pelumas mereka, Kyuhyun akan menjadi sangat pemilih dalam hal seperti ini. "Bajingan itu mengumpulkan kalian lagi", Siwon memberikan kecupan lembut pada bibir yang lebih muda. Cukup lega karena berhasil menghilangkan kerutan dalam di dahi pemuda tersebut. "Aku janji akan membeli pelumas yang baru nanti, pilihlah favorite mu. Lalu, bagaimana bisa kau mengenal dan mengingat mereka berdua? Maksud ku, selain karena kalian berasal dari tempat yang sama?"

"Tepat. Satu persatu akan dia tarik kembali. Jika tidak berlari cukup jauh, kami akan kembali ke titik awal- nggh! Hyung!", Kyuhyun tersentak saat merasakan salah satu jemari panjang itu memasuki lubangnya secara tiba - tiba. Desahan pun nyaris lolos dari belah bibirnya. Namun, ia tidak menyuarakan penolakan. "Mereka teman sekamar ku ditempat pelatihan. Ingat saat aku pergi ke Shanghai bersama jajaran kepala divisi lainnya? Sekitar... Aahn... Tu, tunggu mmhh... Delapan belas bulan yang lalu"

"Aku ingat. Kau melarang ku untuk ikut, jadi aku meminta Taemin untuk selalu memantau mu dalam radar"

Siwon tidak akan lupa saat istrinya itu menolak ia antarkan menggunakan jet pribadi mereka, agar menjadi alasan supaya dirinya bisa ikut. Pemuda itu tidak pernah pergi dinas luar negeri sendirian, ia pasti turut serta. Namun, karena Yunho dan jajaran petinggi juga pergi, istri manisnya itu lebih memilih untuk pergi bersama mereka. Menyebalkan sekali kalau harus mengingatnya. Ia bersumpah, jika Kyuhyun tidak menghubunginya dan meminta ia untuk memperbaiki konsol game pemuda tersebut, sudah bisa dipastikan dirinya akan tetap keras kepala untuk pergi dan menyusul.

"Saat itu, aku bertemu Xian-ge secara tak sengaja. Aku mengenalnya dari cap yang ada dilengan kiri atasnya, kami semua punya cap seperti itu, dan aku tak mungkin lupa dengan nomornya", nafasnya sedikit tercekat saat merasakan dua jemari pria itu ikut memasuki lubangnya. Ketiga jari itu bergerak cepat disana, membuat ia terengah dengan dahi menyandar pada bahu kokoh itu. Kepalanya terasa ringan dan pandangannya berkabut, ia mulai sulit merangkai kata saat jari keempat masuk, membuka lubangnya. "Intinya, Xian-ge dan Megu-nii memang sudah mengikat perjanjian akan kembali pada bajingan itu, tapi dia mengatakan bahwa aku tidak boleh datang ke Jepang apapun yang terjadi. Ingat? Aku melarikan diri dengan membunuh pelanggan ku"

"Ah, jadi ini salah satu alasan mu kenapa tidak pernah mau pergi ke Jepang saat ku ajak. Lalu, kenapa baru kembali sekarang?", Siwon memberikan gigitan kecil pada leher pucat itu, sebelum menarik keempat jarinya keluar. Desahan kecewa lolos dari belah bibir istrinya.

"Hanya ingin memastikan saja... Apa dia benar - benar akan menyeret ku kembali...?"

"Bajingan itu tidak akan bisa. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa melakukan hal itu", ia membantu istrinya itu untuk memasukkan miliknya kedalam lubang sempit pemuda tersebut. Tatapannya tajam memperhatikan bagaimana lubang itu menerima kejantanannya secara utuh. Siwon bisa merasakannya, gejolak emosi di hatinya, amarah dan egoisme. Tidak akan ada yang boleh menyentuh cintanya, tidak akan ia maafkan walau hanya sehelai rambut pun. "Kau dengar, sayang? Tidak akan ada yang bisa mengambil dirimu dari Choi Siwon"

Kyuhyun tersenyum samar, ia bisa merasakan panasnya api kecemburuan membakar sang suami. Memeluk leher pria tersebut, ia memberikan kecupan - kecupan ringan pada garis rahang yang lebih tua. Jangan salahkan dirinya yang mulai mempelajari permainan emosi dari pria tersebut. Ia mulai fasih meraba dawai tak terlihat itu, memetiknya dengan perlahan, berhati - hati untuk tidak salah memainkan iramanya. Bibirnya yang menempel pada sisi wajah tegas itu, sedikit menjauh dan berbisik pelan ditelinga sang suami, menggoda pria itu. Sengaja menarik dawai kecemburuan milik yang lebih tua pada posisi maksimal.

"Kau tahu? Mulut ku ini favorite si tua bangka itu. Sayang sekali, aku kabur dari kapal saat seharusnya melayani pelanggan ku. Dia pasti marah karena aku berhasil melarikan diri. Dia pasti merindukan kuluman ku pada kejantanannya"

"Dan sekarang, mulut mu adalah milik ku. Kau milik ku, Choi Kyuhyun"

Tubuh pucat itu dihempaskan pada kursi mobil, tanpa mengatakan apapun, ia bergerak cepat. Menusuk dalam, mengarahkan kejantanannya untuk menubruk prostat yang lebih muda. Pekikan kaget, berangsur menjadi jerit kenikmatan. Keduanya sudah tidak peduli jika sang supir dan pengawal yang duduk dibagian depan, dapat mendengar mereka. Siwon menekan bagian bawah paha sang istri, hingga lutut yang lebih muda menyentuh bagian dada berisi itu. Guncangan yang dihasilkan oleh laju kuda besi tersebut, sama sekali tidak mempengaruhi tempo gerakannya. Rasa posesif sesaat membutakannya, akibat dari egoisme dan kecemburuan yang menjadi pelatuknya. Ia meraup bibir plum milik pemuda itu, menelan desahan yang sedari tadi mengalun merdu. Keduanya baru melepaskan tautan bibir mereka saat mencapai klimaks, tubuh pucat itu melengkung membentuk busur, nama sang suami menjadi satu - satunya kata yang keluar dari mulutnya.

Mereka sampai pada puncak disaat yang nyaris bersamaan. Keduanya terengah, berusaha menstabilkan nafas yang memburu. Kyuhyun terkekeh pelan, menarik seringai tipis, dan mengerling nakal pada sang suami. Ia puas saat melihat netra kelam itu melebar, terkejut karena berhasil ia permainkan. Pria itu hanya menggeleng pelan, tak habis pikir dengan tingkah jahil istrinya. Ya, Kyuhyun sengaja membuat pria tersebut cemburu, agar mendapat fokus penuh dari yang lebih tua. Menurutnya, Siwon terlalu sibuk dengan ponsel karena masalah penyusup di penthouse mereka. Ia muak melihat atensi pria tersebut tak sepenuhnya diberikan untuk dirinya. Ini liburan mereka, walau harus menerima 'tamu' tak diundang seperti dua hari yang lalu, ia tetap menginginkan perhatian pria itu hanya tertuju padanya. Ia bahkan rela meninggalkan lencana kepolisiannya di Korea karena tidak ingin bersentuhan dengan pekerjaannya.

Siwon kembali menutup zipper celananya, lalu menuangkan sebotol wine kedalam dua gelas kristal. Ia menyodorkan salah satu gelas tadi pada yang lebih muda. "Ingin aku menghancurkan grup yakuza itu?", membiarkan sang istri bergeser mendekat dan membaringkan kepala dipangkuannya, ia pun membenamkan jemarinya pada surai hitam pemuda tersebut. "Berikan aku satu minggu untuk menyapu bersih mereka"

"Akan lebih baik jika kau berfokus untuk menjaga ku saja selama kita berlibur disini", menyesap wine miliknya perlahan, ia menutup kedua matanya saat tangan besar itu mengusap lembut kepalanya. "Tuan Besar Choi yang terhormat tidak suka jika istrinya diambil oleh orang lain, bukan?"

"Oh, sayang... Kau memang yang paling mengenal diri ku. Aku pasti akan meningkatkan penjagaan di sekeliling mu. Jika perlu, aku akan memasang implant tracker di gigi mu", meletakkan gelas miliknya yang sudah kosong, ia memberikan kecupan lembut pada dahi sang istri. "Dan kau juga tahu, kalau aku sekeras kepala dirimu"

Membuka kedua kelopaknya, ia menatap tajam pada netra kelam tersebut, sebelum menghela nafas dan memutar bola matanya, kesal. "Itu berlebihan, hyung. Aku akan mematahkan gigi ku sendiri, lalu merontokkan semua gigi mu kalau kau benar - benar melakukannya", tentu saja itu bukan candaan, Kyuhyun berani melakukannya. "Aku tidak peduli bagaimana kau akan 'membersihkan' mereka nanti. Selama tidak berada di wilayah kerja ku dan tidak menjadi kasus internasional, aku akan pura - pura gila"

"Alright. Deal, my dear", Siwon tersenyum tipis, ia kembali menangkap bibir plum itu dalam ciuman lembut yang singkat. "Aku akan melakukan yang terbaik"

Kyuhyun meletakkan gelas kristal digenggamannya, sebelum kembali mendudukkan diri diatas pangkuan sang suami. Satu kali tidak cukup, ia pun tahu suaminya juga berpikiran hal yang sama. Mereka kembali saling memagut, siap memulai sesi bercinta yang selanjutnya. Namun, gerakannya terhenti saat tirai jendela tak sengaja tersingkap, mobil yang mereka tumpangi pun melaju tak terlalu cepat, kembali melewati Kamagasaki. Atensinya terfokus pada pemandangan yang mereka lewati, netranya mencoba meneguk sebanyak mungkin apa yang bisa ia tangkap.

"Ada apa, Baby?"

"Aku ingin mengingat tempat ini sebelum kita benar - benar pergi", fokusnya tetap tertuju pada jendela, tak menghiraukan geligi sang suami yang menggesek kulit diatas klavikula nya. "Karena aku tidak akan pernah kembali kesini lagi"

Limousine yang membawa mereka, bergerak semakin menjauh, hingga kawasan kumuh tadi sudah tak terlihat. Wajahnya kaku, namun gurat puas kentara terlihat disana. Setelah bertahun - tahun tenggelam dalam memori buruk dan belenggu yang mengikat di kakinya, akhirnya ia bisa bebas. Tak ada seorangpun yang akan menunggunya pulang, tak ada rumah yang harus ia singgahi, dan tak ada teman yang harus dirinya kunjungi. Kyuhyun sudah memastikan bahwa ia tak punya alasan yang mengharuskan dirinya untuk kembali ataupun mampir.

"Aku sudah tidak punya ikatan apapun lagi disini"


(Vacation to Japan : End)


A/N:

Aku bakal kasih tau duluan sebelum lanjutin bikin chapter masa lalu Kyu. Karena bakal banyak menyinggung hal sensitif, kayak kekerasan bahkan sampai pedofilia. Aku gak tau pembaca bakal sanggup atau gak nantinya buat ngelanjutin baca, karena perkiraan ku, bakal dibagi jadi 2 - 3 part. Memang gak bakal dibahas mendetail, tapi tetap aja mungkin bakal ada yang ke triggered pas baca.

Jadi, ku peringatkan dari sekarang aja, kalau gak nyaman sama hal - hal sensitif kayak gitu, mending jangan dipaksakan buat baca, tunggu part lain yang lebih ringan buat di update.

Maafkan author jikalau ada typo, jangan lupa tinggalkan review jika berkenan :3

.

Special Thanks to :

- gnf

- Chii

- Nunna

- gyu1315

- maynidit