Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)
Main Cast:
- Choi Siwon
- Cho Kyuhyun
Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC
Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc
Disclaimer: They belongs to God and themselves
PART VII
[ The Child Prodigy (2) ]
Terbaring lemah diatas ranjang, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rintihan kesakitan yang akan keluar, tidak ingin langsung membangunkan kedua teman sekamarnya. Sendirinya juga baru terbangun beberapa menit yang lalu. Lengan kirinya masih terasa sangat sakit, bahkan ia tidak berani menggerakkan tungkai atasnya itu. Tiga hari ia berada ditempat tersebut, dirinya tentu masih menyesuaikan perubahan lingkungan hidup, beradaptasi. Belajar menerima jalan yang telah ditentukan oleh garis takdir. Walau didalam nurani, terus memohon pada Tuhan agar segera mengeluarkannya dari tempat itu. Ia tak mau berlama - lama disana, ia ingin bebas.
Netranya menangkap cap yang sama di lengan kiri bagian atas milik kedua anak tadi. Mereka tidur dengan posisi terduduk dilantai, kepala terbaring diatas sisi ranjang. Wadah berisi air hangat dan handuk kecil, berada tak jauh dari jangkauan. Ingatannya memutar kembali percakapan yang tak sengaja ia dengar kemarin, keduanya memohon pada sang Mama agar memberikan cap miliknya saat ia sedang tertidur. Tak heran, karena rasanya sungguh mengerikan, seperti dibakar diatas kobaran api. Ia masih bisa mengingat bagaimana dirinya menjerit histeris saat besi panas itu ditempelkan pada kulitnya, memberikan logo permanen yang tak akan pernah hilang. Sakit, sangat sakit sampai ia kehilangan kesadaran, dan saat terbangun, ia sudah kembali berbaring di kamar.
Mencoba melawan rasa sakit tersebut, ia mendudukkan dirinya perlahan, lalu mengguncang bahu milik si surai mahogani dengan lembut. Ia masih ingat pesan sang Mama sebelum melakukan proses pemberian cap, pemuda itu menginstruksikannya untuk segera membersihkan diri setelah beristirahat. Dan ia tidak mungkin melakukannya sendirian, dengan keadaan seperti ini. Yang lebih tua perlahan membuka mata, mengerjap pelan saat melihat dirinya sudah dalam posisi duduk. Memaksakan sebuah senyuman, ia hanya diam saat anak lelaki itu berdiri dengan cepat dan meraih sebuah pil obat serta segelas air diatas meja nakas. Tentu, setelah memeriksa temperatur tubuhnya dan memungut handuk yang dipakai untuk mengompres dahinya.
"Apa masih sakit? Kau tertidur cukup lama, bahkan terserang demam kemarin", ia mengerjap bingung mendengar perkataan lawan bicaranya itu.
"Kemarin? Apa aku tertidur seharian, niisan?", anggukan pelan diberikan sebagai jawaban.
"Tidak apa, kau memang butuh istirahat, Mama sendiri yang mengatakan agar kami tidak membangunkan mu. Maaf karena kami tidak bisa membantu mu, ini juga dilakukan karena para sponsor yang menginginkan branding, dan Mama sendiri tidak bisa menolak", tersenyum kecil, si surai mahogani menyodorkan kedua benda ditangannya. "Ini pil pereda nyeri, apa kau bisa menelannya?"
"Tidak...", ia menggeleng pelan, memang sebelumnya tidak pernah menelan obat berbentuk pil.
"Ah... Aku akan meminta pada Sakaki sensei untuk menghancurkan obat ini menjadi bubuk, agar lebih mudah di minum", anak lelaki tersebut pun mengguncang temannya yang masih tertidur pulas. Sedikit kesal karena anak lelaki berwajah bulat itu sangat sulit dibangunkan. "Mikeneko! Bangun!"
Mengerang malas, si pemilik julukan merengut dan memaksakan diri untuk membuka kelopak matanya yang terasa berat. "Apa?! Kenapa kau suka sekali mengganggu tidur ku?!"
"Aho! Koneko-chan sudah bangun!", melihat temannya itu mengerjap beberapa kali dengan wajah menyiratkan kebingungan, si surai mahogani hanya bisa menghela nafas berat. Entah bagaimana caranya mereka berdua bisa akur selama hampir dua tahun ini. "Bantu dia bersiap - siap, aku akan memanggil Sakaki sensei kesini"
"Oh? Ah! Ya, ya, ya. Kenapa tidak bilang dari tadi? Sana pergi, cepat!", setelah mengusir teman sekamarnya tadi, ia menepuk kedua pipi bulatnya untuk menghilangkan kantuk. Atensinya kemudian beralih pada anak paling muda disana. "Koneko-chan, gege akan siapkan air hangat dan handuk basuh. Duduk saja disini, ya? Jangan terlalu banyak bergerak"
Yang dipanggil hanya bisa mengangguk pelan, sedikit merasa bersalah karena mengganggu tidur kedua anak tadi. Ia hanya menurut saat yang lebih tua membantu membasuh tubuhnya dan memakaikan pakaian untuknya. Jujur, ia belum terbiasa mengenakan piyama dengan warna - warna pastel yang lembut, serta dihiasi menggunakan pita dan renda yang manis. Ini pakaian anak perempuan, itu pikirnya. Namun, ia tidak bisa membantah karena lemari pakaian dikamar mereka memang dipenuhi dengan model pakaian seperti itu. Terkadang ia berpikir, apa orang yang menjadi sponsor mereka ini mengidap gangguan jiwa? Namun, ia segera menepis pemikirannya itu ketika si surai mahogani memasuki kamar bersama seorang pria dewasa. Penampilannya tidak seperti dokter, justru lebih terlihat santai, terkesan seperti seseorang yang menghabiskan lebih banyak waktu kerjanya dirumah.
Walau merasa ragu, ia membiarkan pria itu memeriksa kulitnya, yang belum lama ini mendapat kontak langsung dengan besi panas. Setelah memberikan krim pereda nyeri dan beberapa bungkus obat dalam bentuk bubuk, pria itu pun pergi meninggalkan kamar mereka. Obat - obatan tersebut harus rutin ia konsumsi untuk dua minggu ke depan, sekaligus memberikan waktu bagi sel - sel kulitnya melakukan reparasi optimal. Mengembalikan warna pucat disekitar branding permanen yang menyebabkan lengannya memerah. Selama itu juga, ia diberikan banyak masukan dan gambaran garis besar dari apa yang akan ia alami selama masa pelatihan. Kedua temannya itu sudah melewati hal tersebut, dan mereka menyarankan agar ia tidak mempertanyakan apapun yang akan diberikan sebagai instruksi nantinya. Diam dan patuh adalah dua hal yang mempermudah mereka melewati masa pelatihan. Dua hal yang cukup sulit bagi dirinya, karena ia cukup kritis untuk seorang anak berusia tujuh tahun.
Pada hari berikutnya, kedua teman sekamarnya kembali lebih larut. Ia menutup mata walau belum mengantuk, berpura - pura tidur untuk mendengar percakapan keduanya. Mengesampingkan bagaimana suara salah satunya yang terdengar serak, ia mencoba mengintip dengan sebelah kelopak mata sedikit terangkat. Ujung surai lazuardi, menjadi hal pertama yang ditangkap penglihatannya. Surai tersebut menjuntai acak - acakan, dan punggung putih itu tampak dihiasi dengan garis - garis kemerahan. Beberapa kerak lilin melekat di kulit punggung tersebut, sebagiannya sudah retak dan hancur, meninggalkan jejak serpihan disekitarnya. Atensinya lalu beralih pada seorang lainnya, surai mahogani itu tampak tak beraturan, namun lebih rapi daripada milik temannya. Tubuh itu gemetar pelan, cairan putih bercampur darah terlihat mengalir pelan dan memberikan jejak samar di paha dalam, pemiliknya pun hanya bisa tertatih menyeret langkah menuju kamar mandi. Malam itu ia sama sekali tidak bisa tertidur, ketakutan akan hari esok, memaksanya untuk terus terjaga.
Dan sialnya, semua terjadi sesuai dengan apa yang ia takutkan, bahkan lebih mengerikan. Hari pertama pelatihannya ditempat itu, memberikan ia gambaran penuh untuk apa yang akan terjadi ke depannya. Netra coklat karamel miliknya melebar saat melihat apa yang anak - anak seumurannya lakukan ditempat itu. Pakaian saat datang ke ruangan khusus pelatihan hanyalah sebuah formalitas. Karena tiap kelompok anak memiliki sponsor berbeda, penampilannya pun berbeda pula. Namun, saat sudah memasuki ruangan tersebut, semua anak diperlakukan sama, berdiri tanpa mengenakan apapun selain tali kekang yang terpasang di kalung leher. Dipandang tak jauh berbeda dengan hewan, dan diajari bermacam - macam hal mengenai cara memuaskan hasrat seksual. Seolah, tak lebih berharga dari barang dan hanya dianggap sebagai boneka yang sedang ditempa, akan dijual saat sudah selesai 'disempurnakan'.
Rasanya seperti berada didalam neraka.
Bahkan lebih buruk.
###
Satu tahun lebih enam bulan, selama itulah ia sudah tinggal disana. Tentu, waktu bagaikan berjalan sangat lambat untuknya, seakan sengaja untuk menyiksanya. Dan selama itu jugalah, ia jadi semakin pendiam dan menutup diri. Kedua teman sekamarnya pun ia abaikan saat membujuknya untuk bicara, bertanya mengenai keadaannya. Namun, ia hanya menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia baik - baik saja. Sebuah kebohongan yang bahkan dirinya sendiri coba percayai. Bagaimana mungkin ia bisa merasa 'baik', jika setiap hari terpaksa melakukan segala hal yang tak di inginkannya? Beruntung bagi dirinya, karena ia berhasil menyelesaikan pelatihannya lebih awal. Dan sebelum disewakan pada pelanggan lain, ia harus bertemu sponsornya terlebih dahulu. Kedua anak lelaki yang membantunya berdandan, mengatakan bahwa sponsor mereka adalah seorang yang sangat berpengaruh, penyokong dana terbesar bagi tempat itu. Tak heran, dirinya pun sangat diistimewakan diruang pelatihan.
Pump shoes merah muda yang ia kenakan, menimbulkan gema selaras bersama ketukan dari stiletto milik kedua teman sekamarnya. Ia menggenggam kuat tangan keduanya, mengapit dirinya ditengah, membuat ia tampak lebih mungil dari yang seharusnya. Gaun merah muda dengan pita putih sebagai hiasan, adalah baju pilihan sang Mama untuk hari ini. Dan untuk pertama kalinya, ia akan bertemu dengan pria yang menjadi sponsor mereka. Teman sekamarnya cukup khawatir dengan keadaannya, karena ia terus termenung beberapa jam sebelum pergi. Kalimat - kalimat penenang pun terus diucapkan oleh keduanya, walau terdengar mustahil, hal tersebut berhasil membuatnya sedikit tenang. Bando berbentuk telinga kucing dengan warna putih, menghias kepalanya, mempermanis figurnya dan membuat dirinya tampak bertolak belakang dari kedua anak lelaki lainnya. Mereka hanya memakai yukata kuning pucat bermotif kelopak sakura, namun dibalik itu, keduanya mengenakan dalaman bertali. Sungguh mengerikan, itu pikirnya.
Mereka sampai didepan sebuah pintu, satu - satunya yang memiliki gagang dan bukan pintu geser. Ketukan halus diberikan oleh si surai mahogani pada kayu kokoh tersebut. Tak butuh waktu lama hingga suara seseorang dapat terdengar oleh ketiganya. Datar dan dingin. "Masuk"
"Danna-sama", si surai mahogani membungkukkan tubuhnya, sebelum memberi jalan untuk kedua anak lainnya agar bisa memasuki ruangan tersebut dan menutup pintu.
Ia berhenti tepat setelah kakinya memasuki ruangan tersebut, tak sanggup untuk melangkah terlalu jauh dari pintu, berharap bisa melarikan diri saat itu juga. Seorang pria dewasa, duduk diatas sofa yang tersedia disana, hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, dan celana kain hitam. Meremat gaun merah muda yang dikenakannya, ia sedikit nenunduk, mengobservasi ruangan tersebut. Ruangan itu tampak lengang, hanya diisi dengan satu sofa panjang, sebuah meja kaca kecil, kulkas berukuran sedang, dan ranjang yang cukup besar, dengan meja nakas di kedua sisinya. Lagi - lagi, tidak ada jendela, sama seperti kamar yang ditempatinya. Ia tersentak kaget saat pundaknya ditepuk, atensinya beralih pada wajah pemilik surai mahogani. Anak lelaki yang lebih tua darinya itu, menatapnya dengan gurat kekhawatiran yang kentara.
"Danna-sama, kami merindukan mu!", berbeda dengan temannya, anak lelaki berjuluk Mikeneko itu, segera berlari dan mendudukkan diri diatas pangkuan pria dewasa tersebut.
"Aku juga merindukan kalian", tatapan itu mengarah padanya, entah mengapa terasa familiar, hingga memori dikepalanya memberikan sebuah potongan gambar. Netranya sedikit melebar, ia mengingatnya. Pria ini adalah orang yang ia temui diujung gang malam itu. Orang yang mengejarnya, karena menuntut bayaran atas hutang materi milik sang ibu. "Dan, siapa kucing manis yang berdiri didepan ku ini?"
Ia sedikit berterimakasih karena anak yang ia panggil 'niisan' itu, segera berdiri didepannya. Menghalangi pria tersebut untuk menatapnya lebih lama. "Danna-sama, dia Koneko-chan. Sekarang usianya sudah delapan tahun"
"Hm... Kuro sayang, apa kau melarang ku menyentuhnya?"
"Danna-sama, Kuro hanya khawatir, Koneko-chan masih terlalu kecil dan sudah seperti adik untuk kami berdua. Dia tidak bermaksud kurang ajar, Danna-sama percaya pada ku, 'kan?"
"Baiklah, karena Mike-chan yang menjelaskannya", senyuman tipis, akhirnya diperlihatkan oleh pria itu. "Lagi pula, aku hanya ingin berkenalan. Kemarilah, Koneko-chan"
Panggilan itu ditujukan padanya, namun si surai mahogani masih berdiri didepannya, tak sedikitpun bergeming. Ia takut jika hal buruk terjadi pada temannya itu, tetapi ia juga tidak punya cukup keberanian untuk melangkah maju. Ketakutan akan hal yang akan terjadi nanti, membuat ia hanya bisa berdiri kaku, seakan kakinya membeku. Suara decihan kasar, menyadarkan dirinya, amarah dan kekesalan terdengar jelas, bersalut dalam kalimat yang pria itu ucapkan selanjutnya.
"Kuroneko, jika kau mulai tidak tahu diri, aku bisa menjual mu sekarang juga", jelas sekali kesabaran pria itu mulai menipis. Tingkah tak biasa dari salah satu 'kucing' peliharaannya, cukup untuk merusak suasana hati.
Kalimat itu, cukup untuk meruntuhkan keberanian yang anak tersebut miliki. Ia mengerti, tubuh itu gemetar saat melangkah kesamping, mempertemukan pandangannya dengan pria tadi. Tidak ada yang bisa disalahkan disini, kedua teman sekamarnya itu, sudah melakukan yang terbaik untuk melindunginya. Namun, apa daya? Mereka hanyalah anak - anak yang tak punya cukup kekuatan untuk melawan orang dewasa, dan hanya bisa patuh agar tidak mengecap rasa kehidupan yang lebih buruk. Anak - anak seperti dirinya, adalah mahluk hidup lemah dan tak di inginkan, terlalu menyusahkan serta memakan biaya yang cukup besar untuk menghidupinya. Bagi dirinya yang seorang anak terlantar, semua hal tadi adalah rangkuman pemikiran dari para orang dewasa. Di dunia ini, tidak ada kata 'gratis'. Jika menginginkan sesuatu, mereka harus bekerja untuk mendapatkannya, tak peduli berapapun usia mereka. Karena, sekejam itulah realita kehidupan.
"Koneko-chan, aku akan membebaskan mu jika kau melayani ku dan para pelanggan dengan baik", jemari besar itu, menyentuh pipi pucatnya, memberikan usapan halus disana. Menjijikkan.
"Aku mengerti, Danna-sama", senyuman lebar yang pria itu perlihatkan, membuatnya takut. Namun, ia sudah memutuskan untuk keluar dari tempat itu, apapun caranya.
###
Ia beradaptasi cepat dengan keadaan, memilih untuk mengosongkan isi kepala saat harus melayani sponsornya. Hingga tak butuh waktu lama untuk memiliki beberapa pelanggan yang tertarik padanya, melihat dirinya yang begitu 'eksklusif'. Ryuichi Isamu tak pernah memberikan akses untuk siapapun mendekatinya. Ia cukup berterimakasih pada sang sponsor, karena pria itu tidak berminat menyetubuhinya, setidaknya hingga ia berusia sepuluh tahun. Dan karena hal itulah, ia justru lebih terbiasa menggunakan mulutnya untuk melayani pria bejat tersebut. Beberapa orang yang melihat figurnya, bahkan menawarkan diri untuk membelinya, namun sang Mama tidak mengizinkan. Hanya atas persetujuan sponsor lah ia bisa dijual. Tak jarang, anak - anak ditempat itu melemparkan tatapan dengki padanya, karena telah menjadi favorite sponsor paling berpengaruh disana, terlebih setelah kedua teman sekamarnya pergi. Entah apa yang rusak dikepala anak - anak itu karena menginginkan posisinya saat ini, padahal justru ia jijik dengan dirinya sendiri.
Kuroneko dan Mikeneko, kedua anak itu pergi hanya berjarak beberapa hari untuk disewakan dalam jangka waktu lama. Si surai mahogani yang pertama kali meninggalkan tempat itu, setelah dijemput oleh seorang bawahan dari salah satu petinggi negara mereka. Selang tiga hari berikutnya, si surai dwi warna yang berpamitan padanya. Kolega dari sponsor mereka sebagai penyewa, seorang pria asal negeri tirai bambu. Beberapa jam sebelum temannya itu pergi, ia diberitahu mengenai satu hal, kedua anak lelaki yang lebih tua darinya itu mendapat imbalan yang cukup besar. Sponsor mereka, Ryuichi Isamu, memberikan kebebasan dengan batas waktu yang ditentukan. Dua puluh tahun, cukup memuaskan bagi kedua anak itu, dan tentunya, mereka masih mendapat sokongan dana untuk mengejar mimpi yang nyaris tak terwujud. Ia juga mau, walaupun hanya sebentar, ia juga mau merasakan kebebasan itu. Merasakan bagaimana bisa mewujudkan mimpi - mimpinya.
Itulah mengapa, saat Ryuichi datang menemuinya dan bertanya apakah ia bisa berbahasa Korea, ia langsung mengangguk cepat, walau tak begitu fasih saat berucap. Tawaran tersebut datang untuknya dengan imbalan yang sama pula, tepat dua bulan setelah ulang tahun kesembilannya. Hampir semalam penuh, ia menghabiskan waktu dengan sponsornya itu, bahkan tertidur dipangkuan pria tersebut. Jangan salahkan ia, karena selama tiga bulan selalu melayani pria itu sendirian, ada kedekatan rasa yang tercipta secara tak sadar. Setelah dua tahun terkurung didalam tempat pelatihan itu, akhirnya ia bisa keluar, dengan harapan akan mendapat kebebasan. Namun, sepertinya ia salah besar. Sekali lagi, dirinya membuat keputusan yang salah. Sang sponsor mengantarnya hingga pelabuhan, memberikan sebuah ciuman pendek untuknya, sebelum membiarkan ia dibawa oleh seorang pria asing menaiki sebuah kapal pesiar.
"Annyeong, Koneko-chan~. Kau memang sangat manis, sesuai perkataan tuan mu"
"Annyeonghaseyo, Tuan Kim... Ryuichi-sama menyampaikan salamnya untuk anda"
"Tentu, tentu~. Kau anak yang manis, selama satu bulan ini, kita akan bersama. Jika kau menjadi anak baik, aku akan memberi mu banyak hadiah setelah kembali ke Jepang"
Awalnya, ia hanya menuruti semua perkataan pelanggannya itu, lagi pula ini adalah kali pertama ia melayani seseorang selain sponsornya. Pria tersebut adalah seorang ketua sindikat narkoba dari Korea Selatan, salah satu kolega bisnis penting sang sponsor. Ia bahkan hanya diam saat jarum khusus untuk menorehkan tinta menembus kulitnya, mengukir sebuah tato dengan lambang sindikat pria itu. Setiap malam selalu ia gunakan untuk menenangkan dirinya, bahwa setelah ini ia akan bebas. Hingga pada malam ketiga belas ia berada diatas kapal tersebut, takdir memilih untuk menjatuhkannya, sengaja membuat dirinya semakin jatuh terpuruk. Semua berawal saat Tuan Kim memanggilnya, meminta ia memberikan pelayanan oral pada beberapa orang yang ada didalam sebuah kabin khusus berkumpul milik kapal tersebut, sebelum menariknya menuju sebuah pintu. Itu adalah pintu kamar pria tersebut. Tanpa mengatakan apapun, tubuhnya dihempaskan keatas ranjang, menghasilkan rintihan pelan darinya.
"Mulut mu terlihat menyenangkan, tapi tidak untuk ku", pria diakhir usia empat puluh itu, menatapnya dengan lapar. Ia memang hanya mengenakan sebuah kemeja putih kebesaran dan celana dalam, memperlihatkan sebagian kulit pahanya. "Menungginglah, perlihatkan bokong manis mu pada ku"
Tubuhnya bergetar, takut. Mengikuti impuls otaknya, ia menggeser tubuhnya menjauh. "Ryu, Ryuichi-sama tidak mengizinkan ini... Danna-sama sudah melarang hal ini- Akh!", memekik karena terkejut, ia memegangi choker yang terpasang dilehernya. Baru saja rantai dari kalung tersebut, disentak kuat.
"Diam jalang, aku sudah membayar mahal untuk memakai mu"
Tangan besar itu menekan lehernya, memaksanya untuk kembali berbaring diatas ranjang dan mencekiknya hingga ia nyaris hilang kesadaran. Saat pusing masih mendera kepalanya dan sendirinya sibuk meraup oksigen yang sempat tak didapatkan oleh paru - parunya, ia tidak bisa berbuat banyak untuk menghalangi pria itu membuka pakaian serta dalaman yang dirinya kenakan. Netranya melebar ketika merasakan sesuatu yang tumpul memaksa masuk kedalam lubangnya, tanpa persiapan ataupun peringatan. Seperti dibelah menjadi dua, lubangnya seakan dirobek paksa agar terbuka lebih lebar. Tubuhnya kaku merasakan sakit luar biasa tersebut. Jeritannya pun menyusul saat pria itu mulai bergerak, menyetubuhinya dengan kasar.
"AKHH! SAKIT! KE, KELUARKAN! ARHGH- MMPH!"
"Berisik, jalang. Kau juga akan menikmatinya nanti", pria itu menyeringai lebar, sebelah tangan berhasil membungkam mulutnya. "Ohh, sial! Kau sempit sekali hahh"
Teriakan memohon dan jerit kesakitan memenuhi ruangan tersebut. Namun, pria itu seakan tuli, terus menyetubuhinya bahkan menyiksanya dengan beberapa barang yang ada disana. Entah sudah berapa jam terlewati, pria tersebut akhirnya menarik keluar kejantanannya, dan melepaskan penjepit didadanya. Ia mencoba merangkak, menjauh dari orang yang telah menyakitinya itu. Namun, kakinya kembali ditarik mendekat, membuat tangisannya semakin kencang. Tidak mau, ia tidak mau disiksa lagi. Sakit, ini sungguh sangat menyakitkan, walaupun ia diajari untuk mempersiapkan lubangnya saat masa pelatihan dulu, tak pernah sekalipun ia mempraktekkan hal tersebut setelah melayani sponsornya.
"Hikss... Ma, maaf jangan sakiti aku hikss hikss aku minta maaf... Hikss hikss maaf...", jemarinya meremat alas ranjang yang sudah tak berbentuk. Sebelah tangan mencoba meraih jauh, seakan ingin menggapai pintu. "Siapapun... Tolong..."
Pria itu kembali mengukung tubuh kecilnya, mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. Tubuhnya sudah tak bisa bergerak lebih banyak lagi, kesadarannya pun perlahan hilang. Dan hal terakhir yang ia dengar, adalah bisikan pria tersebut. Setiap kata yang terucap, seakan menjanjikan lebih banyak hal buruk setelah ia sadar nanti.
"Tidak akan ada yang bisa menolong mu kucing manis, kau akan terus melayani ku, karena Ryuichi Isamu sudah menjual mu pada ku"
###
"Sakaki sensei..."
"Ada apa?"
"Dimana letak jantung manusia?"
"Huh? Jantung? Di dada sebelah kiri, lihat, disini", pria itu menunjuk dadanya sendiri, sebelum menelisik tajam anak didepannya. Seorang anak yang cukup cerdas menurut penilaiannya. "Apa yang kau rencanakan, Koneko-chan?"
"Aku hanya penasaran"
Pria itu sedikit berdehem pelan, sebelum mengusak rambutnya. Dengan hati - hati, membantu anak itu turun dari ranjang pemeriksaan dan menuntunnya keluar. Netra coklat sewarna lelehan karamel itu, mengerjap pelan, menatap intens kearah si pria dengan jas putih yang sedikit kusut. Seperti ingin mengutarakan sesuatu, namun tak kunjung mendapatkan kata yang tepat.
"Dengar, kalau gigi susu mu putus lagi, berkumurlah dengan air dingin atau air yang dicampur es. Jangan gunakan air panas. Itu akan memperbanyak darah yang keluar"
"Kenapa?"
Pertanyaan yang aneh. Anak ini terlalu kritis untuk usianya, tatapan itu juga seakan menunjukkan ketertarikan pada kalimatnya. Beberapa detik berlalu, dirinya tersadar. Tunggu dulu. Anak itu sedang mengujinya, seolah telah mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Sang dokter merasa seperti dipermainkan.
"Resistensi pembuluh darah perifer, menyebabkan vasodilatasi. Intinya, pendarahan hebat. Kau bisa kehilangan banyak darah dan mati"
"Itu mengerikan"
"Koneko-chan-"
"Sensei, aku hanya penasaran"
Dengan empat kata itu, anak tersebut memberikan senyuman tipis, menyudahi percakapan mereka. Sepasang kaki kecil itu, melangkah menjauhi ruang kesehatan. Sebuah irama suram yang tak asing menyapa telinga sang dokter. Lalu, lagu anak yang familiar, menggema dilorong bangunan itu, dilantunkan oleh si anak lelaki bersurai hitam dengan kulit pucat. Menggetarkan bulu kuduk pendengarnya.
###
Kedua kelopak matanya terbuka lebar, sedikit bingung mengapa tiba - tiba ia memimpikan sang dokter yang bekerja ditempat pelatihan. Perlahan kesadarannya terkumpul, ia melirik kearah si tua bangka yang tertidur disebelahnya. Sakit yang mendera seluruh tubuhnya pun mulai ia rasakan. Persendiannya diserang nyeri hebat saat ia mencoba menggerakkan tungkai tubuhnya. Memori akan apa yang terjadi, memenuhi kepalanya, membuatnya mual. Memaksa tubuhnya untuk bergerak, ia menyeret langkahnya ke kamar mandi, memuntahkan segala isi perutnya, lalu menjerit marah didalam sana. Bulir bening membasahi kedua pipi pucatnya, merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Lebih baik mati daripada diperlakukan serendah ini, seperti seorang jalang murahan. Ia menatap genangan air yang memantulkan wajahnya. Memar ungu kehitaman bahkan tampak dipantulkan oleh genangan kecil itu.
Ya, lebih baik ia mati. Tapi, apa Tuhan akan menerimanya? Menerima dirinya yang kotor ini? Sepertinya, Tuhan pun akan enggan menatapnya. Menggigit jemarinya, ia membiarkan otaknya kembali bekerja cepat, membuat sebuah keputusan. Kali ini, ia tidak boleh salah langkah. Benaknya menimbang segala kemungkinan, sebelum kesadarannya mengingatkan ia akan satu hal. Dalam usia sedini ini, ia sudah melakukan banyak dosa. Lalu, kenapa tidak ia tambah lagi saja? Daripada dirinya yang mati, kenapa tidak si tua bangka itu saja? Ia bisa mendapat kebebasan jika membunuh pria itu. Ia bisa melarikan diri sejauh mungkin, dan jika seseorang kembali mengekangnya, ia akan bunuh diri saat itu juga. Tapi, hal yang paling penting untuk saat ini, ia harus membunuh si tua bangka itu dan segera melarikan diri.
Memakai dalaman baru yang tersedia dilemari kaca kamar mandi tersebut, ia lalu mengambil air panas dalam sebuah wadah berukuran sedang. Dengan hati - hati, ia membawa wadah tersebut kesisi ranjang, sebisa mungkin, tak menimbulkan suara. Kakinya kembali melangkah pelan, sedikit terseok, menuju kulkas. Senyuman tampak diparasnya saat ia menemukan apa yang sedari tadi ia cari, sebuah benda tajam, cukup tajam untuk melukai tubuh orang dewasa. Benda itu berada didalam seember es, dengan gagangnya yang terbuat dari kayu menyandar disisi luar ember besi tersebut. Kedua tangannya meraih benda itu, yang merupakan sebuah tongkat tajam berukuran tiga puluh sentimeter, alat yang digunakan untuk memecahkan es batu. Ia harus kabur dari sana, secepatnya. Dan tidak boleh ada yang tahu.
Tatapannya dingin saat menghujam dada kiri pria tersebut, rasa muak bergejolak dalam dirinya. Tersenyum lebar karena pemiliknya terbangun, ia bergerak lebih cepat untuk membungkam pria itu, menusuk mulut busuk itu hingga besi tajam tersebut sedikit sulit untuk ditarik keluar. Tangannya terus menghujamkan pemecah es batu tadi hingga ia puas, tak peduli jika darah mengotori tubuhnya. Entah mendapat tenaga darimana, ia sanggup memberikan cukup banyak luka tusuk ditubuh pria itu. Setelah yakin korbannya tidak akan bangun lagi, ia menyiramkan air panas tadi pada beberapa luka tusukan ditubuh pria tersebut. Darah mulai mengalir lebih banyak, membasahi alas ranjang dan sebagian mengotori lantai, menodai telapak pucatnya. Ia melangkah mundur, sebelum membalikkan tubuhnya dan memungut kemeja putih kebesaran yang menjadi pakaiannya, memasang kancing kemeja itu dengan tangan gemetar.
Mengendap - endap, ia keluar dari kamar tidur milik pria tadi. Kakinya berjingkat pelan, menuju sisi kapal yang memiliki sekoci. Jika beruntung, ia bisa mencoba menurunkan sekoci tersebut. Namun, bawahan si tua bangka sudah mulai bergerak, menyadari jejak kakinya yang berlumuran darah. Lebih baik mati daripada tertangkap lagi, itu yang ia pikirkan. Dengan tenaga yang tersisa, ia memanjat pagar besi rendah disisi kapal tersebut, sebelum terjun bebas kearah laut sembari memejamkan kedua mata dengan rapat. Beberapa detik kemudian, tubuh kecilnya menghantam sesuatu yang empuk dan licin, bau amis tercium oleh penghidunya. Kenapa ia tidak merasakan dinginnya air laut?Perlahan, ia membuka kelopak matanya lalu melihat ke sekeliling. Bau amis dan sensasi basah ini, berasal dari tumpukan ikan. Suara beberapa pasang langkah kaki mendekat, tertangkap oleh pendengarannya.
"Ada apa ini?!"
"Hyung! Ada anak yang jatuh dari atas kapal itu!"
"Apa?!"
Empat orang pria mendekatinya, mereka berbicara menggunakan bahasa Korea yang tidak begitu ia mengerti. Melihat keempat orang yang mulai mendatanginya, ia bergetar takut. Salah seorang dari mereka, yang tampak paling tua, mengangkat tubuhnya. Pria itu mengeluarkan ia dari dalam bak berisi ikan tadi, dan membantunya berdiri. Tangan besar itu memegangi bahunya lembut, pria tersebut menatap ia dengan gurat kekhawatiran yang kentara. Seketika itu jugalah, ketakutannya sedikit memudar.
"Nak, apa kau baik - baik saja?! Kau jatuh dari tempat yang cukup tinggi!"
Menggeleng pelan, ia memeluk tubuhnya sendiri. Jemarinya meremat kuat kemeja yang ia kenakan. "Tolong aku... Hikss... To, tolong... Hikss hikss"
Pria itu tersentak kaget saat melihat memar dan bercak darah yang ada ditubuh pucat tersebut. Sedikit panik, si nelayan membantu anak tersebut untuk berjalan, memasuki tempat istirahat mereka. "Ya Tuhan! Apa yang terjadi pada mu, nak?! Ayo, masuk dulu, kami akan mengantar mu ke pos polisi terdekat"
Setelah kejadian itu, ia hanya termenung sembari mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya hingga kapal nelayan tadi bersandar di pelabuhan. Para awak kapal segera menghubungi pos polisi terdekat, menemaninya hingga duduk didalam ruang tunggu kantor kepolisian tersebut, dan pergi setelah memberikan keterangan yang cukup. Ia tidak mau disentuh oleh siapapun dan memilih meringkuk dikursi paling sudut. Mungkin, polisi sudah terlalu bingung menghadapi gelagatnya, dan memilih untuk menghubungi seseorang yang sekiranya bisa mengajak ia bicara. Setengah jam kemudian, seorang wanita dengan gurat wajah keibuan, melangkah masuk kedalam kantor polisi tersebut bersama seorang pria dengan raut tegas. Mereka berbincang selama beberapa menit dengan para polisi tadi, sebelum berjalan kearahnya. Ia gemetar takut dan semakin meringkuk pada tempat duduknya.
"Halo, perkenalkan, nama ku Cho Hanna. Jangan takut, ini adik ku Bae In Young", wanita itu memperkenalkan dirinya dan pria yang berdiri dibelakangnya, sebelum berlutut didepan anak lelaki itu. "Boleh kami tahu, siapa nama mu? Jangan khawatir nak, kami tidak akan melukai mu. Kami dari Komisi Perlindungan Anak Korea Selatan"
"Ky-... Aku lupa...", netranya bergerak gelisah, memandang tak fokus pada sekeliling. Sendirinya tidak tahu harus mengadu pada siapa, akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai wanita didepannya itu. "Me, mereka... Mereka menjual ku... Me, menyewakan ku... Sakit... Tolong aku...", ia terbata dengan pengucapannya. Jelas sekali tak begitu fasih dengan bahasa yang mereka gunakan saat ini.
Hanna tersenyum lembut, perlahan meraih tangan anak itu untuk digenggam. "Tentu, kau tidak perlu takut lagi", jeda selama beberapa saat, ia memperhatikan wajah pucat milik anak lelaki itu. Entah mengapa, hatinya sakit melihat memar serta jejak air mata dipipi anak tersebut. Disaat Tuhan tidak memberikannya seorang anak, para orangtua diluar sana justru membiarkan hal buruk terjadi pada anak mereka. Sungguh membuatnya geram dan miris disaat yang bersamaan. "Bagaimana kalau kau tinggal bersama ku? Menjadi anak ku?"
"A, aku tidak tahu harus membayar-"
"Hal itu tidak perlu, kau hanya perlu tinggal dengan ku dan menjadi anak ku", genggamannya menguat, mencoba meyakinkan anak tersebut. Bagaimanapun juga, anak ini telah mengalami trauma berat, dan membiarkannya tinggal di panti asuhan, tidak akan menjamin kesembuhan mentalnya. "Ah, bolehkah aku menyarankan nama untuk mu?"
"Nama...?"
"Ya, kau melupakan nama mu, 'kan? Bagaimana kalau...", menimbang selama beberapa saat, Hanna akhirnya tersenyum riang dengan sebuah nama yang paling cocok untuk anak didepannya itu. "Kyuhyun? Cho Kyuhyun jika kau mau menjadi anak angkat ku"
"Kyu, Kyuhyun...?"
"Ya. Pikirkanlah dulu, sayang. Aku akan mengurus segala sesuatunya dengan para polisi baik hati yang menghubungi ku tadi", wanita itu kembali menegakkan tubuhnya. "In Young, temani dia disini"
Pria itu mengangguk samar sebagai respon dari perkataan sang kakak. Keheningan mengisi diantara kedua orang berbeda usia itu. Sejujurnya, In Young tidak tega melihat bagaimana penampilan anak didepannya itu. Ia bahkan bisa melihat anak lelaki tersebut mengenakan sebuah kalung leher dengan rantai yang menjuntai pendek, ujungnya tersembunyi didalam selimut. Manusia macam apa yang tega memperjual belikan anak - anak? Bejat sekali. Anak itu juga pasti sangat terpukul dengan keadaannya. Mengusap tengkuknya, ia mencoba membuka pembicaraan. Keheningan ini sudah menjadi terlalu canggung untuknya.
"Jadi... Kau menerima nama itu? Kyuhyun?", anak tersebut mengangguk pelan. "Baguslah, nama itu sangat cocok untuk mu"
"Hanna-san orang baik...?"
Mengangguk pelan, pria itu memilih untuk mendudukkan diri pada salah satu kursi tunggu. Memberi jarak dua bangku diantara mereka. "Noona ku itu orang yang baik. Sayang sekali dia tidak punya anak, dan suaminya meninggal sepuluh tahun yang lalu akibat kanker. Sekarang dia sendirian, tidak seperti ku", In Young mencoba untuk berbicara selambat mungkin, agar anak disampingnya itu dapat menangkap maksud perkataannya. "Aku punya anak perempuan, lebih muda dari mu. Kalau kau menjadi anak angkat noona ku, maka anak ku akan menjadi adik sepupu mu"
"Adik...?"
"Ya, karena kami keluarga. Dan kalau kau juga mau bergabung, kami akan sangat senang. Kita bisa menjadi keluarga"
Ia tertegun, jemarinya masih mencengkram erat selimut yang membungkus tubuh kecilnya. Wanita bernama Cho Hanna itu, entah mengapa membuat dirinya merasa aman. Perasaan nyaman saat bersama Tatsumi, bisa ia rasakan dari wanita berkebangsaan Korea itu. Sejujurnya, ia sudah terlalu lelah berpikir. Lagi pula, mau kemana dirinya pergi ditempat asing ini? Negara ini bahkan bukan tempat kelahirannya, ia pun tak begitu fasih menggunakan bahasanya. Jika sekali lagi takdir mengkhianatinya dan memilih untuk mempermainkannya, ia akan pasrah. Tetapi, ia memohon pada Tuhan, semoga pilihannya kali ini, tidak akan ia sesali untuk seumur hidupnya.
Hanna kembali berjalan kearah mereka, bersama salah seorang petugas berseragam. "Sepertinya kalian jadi sangat dekat. Aku cemburu"
"Ahahaha! Noona, ini pembicaraan antar laki - laki!"
"Baiklah, baiklah", atensinya mengarah pada anak lelaki tadi. "Bagaimana, nak? Apa kau mau tinggal bersama ku?"
"Aku-", ia melemahkan cengkramannya pada selimut, lalu melafalkan nama yang diberikan untuknya. "Kyu... Kyuhyun ikut"
Hanna tersenyum lega, ia membantu anak tersebut berdiri dengan hati - hati. Menyadari kaki pucat itu yang tak beralas dan tampak gemetar, ia berinisiatif untuk membawa anak angkatnya itu dalam gendongan. Senyuman lembut ia berikan saat lengan kecil itu melingkar dilehernya, tatapan mereka bertubrukan. Netra coklat karamel yang indah, namun terlihat kosong dan suram, banyaknya hal buruk yang menimpa si kecil, pastilah mengubah anak itu menjadi seperti saat ini. Ia berjanji akan melakukan apapun yang dirinya bisa untuk memperbaiki apa yang masih tersisa. Setidaknya, masa kecil anak angkatnya itu masih bisa diisi dengan berbagai hal menyenangkan.
"Hanna-ssi, kau bisa mengurus surat - suratnya besok. Kami percaya pada mu"
"Terimakasih, Inspektur Bang. Kami pergi dulu, sampaikan juga salam ku pada Letnan Kim"
Mereka melangkah keluar dari kantor kepolisian tersebut, ketiganya menaiki mobil yang berbeda, karena Hanna membawa mobilnya sendiri. Kyuhyun memainkan ujung kemeja yang ia pakai, sesekali mencuri pandangan kearah wanita yang sedang fokus mengemudi. Wanita itu berkata bahwa dia akan mengangkatnya menjadi anak, apakah itu artinya ia bisa memanggil wanita tersebut dengan sebutan 'ibu'? Tetapi, ia terlalu takut untuk bertanya. Ia selalu diajarkan agar diam dan patuh, membuatnya kehilangan keberanian saat akan mengutarakan tanya. Telapak tangannya pernah diberi pukulan rotan oleh instruktur ditempat pelatihan, hanya karena ia mempertanyakan manfaat dari pelatihan yang dijalaninya. Beruntungnya, wanita itu menangkap gelagat keragu - raguannya, sehingga memilih untuk membuka kata terlebih dahulu.
"Kyuhyunnie", ia mengerjap cepat dan segera mengarahkan atensinya pada si pemanggil. "Mulai sekarang, panggil aku dengan sebutan eomma, oke?"
"Eo, eomma...? Ibu?"
"Ya, sayang?"
"Eomma..."
Ia menyukai bagaimana kata itu terucap melewati bibirnya. Untuk pertama kali, senyuman kecil yang begitu tulus, ikut menghias parasnya. Netranya perlahan berbinar, beberapa kali melafalkan kata itu, yang ikut mengundang senyuman riang pada sang ibu angkat.
Sekali lagi, Kyuhyun kembali berani untuk bermimpi akan masa depan.
The Child Prodigy : To Be Continued
Pertama, maaf kalau ada typo, padahal udah di review ulang hwhwhw. Dan kedua, maaf kalau alurnya keliatan cepet.
Aku gak kuat hwhwhw, udah ngetik panjang - panjang, pas baca ulang, aku yang sakit kepala. Akhirnya, dengan mempertimbangkan banyak hal, termasuk norma - norma yang masih berlaku di Indonesia /heh, author memilih untuk ambil resiko. Pangkas adegan gak enaknya, gak peduli kalau alurnya keliatan cepet. Gas ajalah wkwkwk
Oh iya, 'Danna-sama' itu panggilan yang biasanya geisha pakai untuk sponsornya. Maaf kalau salah hwhwhw
Udahlah, segitu aja author notenya. Part 3 menyusul dua minggu lagi /gakwoy.
Akhir kata, silahkan review jika berkenan dan biar author punya semangat untuk bikin lanjutannya
Special Thanks to :
- gnf
- Chii
- Nunna
- gyu1315
- maynidit
