REVENGE
.
Tidak ada benefit apapun yang saya dapat dari fic ini selain untuk kesenangan pribadi.
.
Haikyuu belong tu Furudate Haruichi
.
.
.
Osamu tidak merintih, ia juga tidak akan mengeluh meski kedua pergelangan kakinya mati rasa. Sakit adalah hal biasa, pukulan dan juga siksaan apapun dari saudaranya sudah menjadi makanan sehari-harinya. Meski ia seorang adik, atau mungkin ia menyesal menjadi seorang adik hanya karena terlambat lahir satu menit tiga puluh detik sehingga Atsumu berbuat demikian. Membuatnya bersimbah darah dan tidur di basemant dengan pergelangan kaki yang melepuh dan membuatnya tidak bisa beranjak kecuali dengan merangkak.
"Tsumu, cukup. Dia sudah mati, hentikan itu," pinta Osamu dengan lemah lembut. Jika di masa 'waras'nya Atsumu mereka akan dengan santai beradu mulut dan saling mengolok, tapi saat Atsumu sudah menancapkan pisau ke perut seorang gadis yang sudah tertusuk pisau sebanyak dua belas kali nada suaranya yang tinggi hanya akan menambah jumlah tusukan.
"Ya, dia sudah mati. Apa dia masih terlihat cantik sekaranng?" Atsumu berbalik, menghadap ke Osamu setelah meninggalkan pisau yang ia gunakan di perut sang korban.
"Kau benar, dia tidak cantik lagi sekarang." Jawaban itu hanya sekedar untuk menyenangkan hati sang kakak. Pasalnya ia tidak sanggup untuk melihat gadis yang beberapa minggu sebelumnya sempat menjadi teman kencan Osamu, yang beberapa hari sebelum ini merintih menangis di basemant bersamanya dan kini tidak lagi bersuara.
"Cih." Atsumu tidak puas dengan jawaban adiknya. Ia naik dan meninggalkan basemant yang diisi oleh Osamu dan mayat. Mengabaikan seruan Osamu dan pemuda itu yang berusaha untuk merangkak. Ia menahan mual dan perih hati. Penyesalan jelas tergambar jelas di wajahnya saat ini, berpikir kalau saja sejak awal ia tidak membiarkan siapapun mendekatinya. Karena sudah sejak dulu hanya ada dia dan Atsumu. Mereka tidak akan terpisahkan seperti yang Atsumu bilang.
Bayangan itu kembali tergambar di benak Osamu, seperti saat ini yang ia lihat bukan lagi sosok kekasihnya tapi ibunya. Osamu berusaha membuang bayangan kenangan empat belas tahun lalu.
"Tidak. Tidak! Ibu! Jangan tinggalkan aku …."
"Samu!"
Atsumu dari atas dengan sekotak perlatan kesehatan rumah tangga menghampiri sang adik yang berteriak histeris. Ia segera mendekap Osamu untuk menenangkannya, mengusap lembut surai abu-abu tersebut sambil mengecup dahinya berberapa kali.
"Shh … aku di sini Samu, tenang ya. Semua akan baik-baik saja, oke?"
Seperti sihir, perlakuan Atsumu membuat Osamu menjadi lebih tenang. Pemuda bisa bernapas dengan teratur lagi dan duduk sendiri tanpa perlu bersandar pada Atsumu lagi. Napasnya sudah beraturan meski detak jantungnya belum stabil, ia bahkan mengalihkan pandangannya dari sosok yang teronggok berseberangan dengannya.
"Tsumu, aku ingin naik."
Permintaan Osamu dijawab dengan senyuman, ia tidak jadi membalut pergelangan kaki Osamu yang melepuh setelah pukulan palu berulang dan langsung menggendongnya untuk menuju ke rumah mereka. Meninggalkan basement yang gelap dan berbau anyir. Ia membawa Osamu ke kamar mandi dan mendudukkannya di bathup. Membantu sang adik untuk melepas pakaian, bahkan tidak jarang jika Atsumu akan memandikan sang adik. Air yang masuk memenuhi bathup dengan cepat berubah menjadi kemerahan berkat darah yang menempel pada telapak tangan Atsumu dan tubuh Osamu.
"Apa kau ingat ibu lagi?" tanya Atsumu dengan lembut membasuh rambut sang adik.
Osamu mengangguk, ia tidak ingin berdebat dengan memprotes tindakannya baru saja. Kakinya yang memar juga adalah kesalahannya sendiri, maka dalam hati ia meyakinkan bahwa kematian gadis itu juga adalah kesalahannya sendiri.
"Ibu … ibu yang salah, Tsumu."
Atsumu menjawab dengan mengangguk dan tersenyum. "Tapi, tidak ada wanita yang lebih cantik dari ibu Samu. Tidak boleh kita biarkan wanita manapun lebih cantik dari ibu. Atau ibu akan marah."
Obrolan ini membosankan, bagi Osamu. Atsumu akan menyanjung ibu mereka sementara bayangan sang ibu tergambar dengan jelas. Selama empat belas tahun ia tidak bisa membuang itu. Berusaha melupakannya akan sangat percuma, karena kenangan itu yang membuatnya bertahan sampai saat ini.
"Tsumu cukup!" bentak Osamu. Ia benar-benar sudah muak dengan semuanya. Ini bukan waktu yang tepat untuk beradu mulut karena Atsumu sedang tidak baik-baik saja.
"K-kenapa kau membentak Samu?"
Osamu menyingkirkan tangan Atsumu dari kepalanya yang selesai dibilas. Ia tidak mungkin berdiri untuk menantang sang kakak, maka ia hanya memberikan tatapan tajam.
"Jangan bodoh Tsumu, berpikirlah dan hadapi kenyataan. Kita tidak bisa hidup seperti ini terus. Empat belas tahun seharusnya waktu yang cukup untuk memaafkan."
Osamu merasa bodoh setelah mengucapkan itu, menantang mata Atsumu yang butuh perhatian dan kata-kata lembut yang menenangkan hatinya. Kemungkinan terburuknya ia akan melawan, tidak peduli apakah Atsumu akan membawa palu ataupun yang lainnya. Bahkan mati pun ia sudah tidak peduli.
"Aku tidak dendam Samu, aku hanya melindungimu."
Selalu itu yang Osamu dengar sebagai alasan Atsumu melakukan ini semua. Mengencani setiap gadis yang dekat dengannya, membawanya pulang, meniduri mereka dan hari berikutnya ia akan menyeret gadis itu ke basement. Lalu desahan di malam sebelumnya berganti dengan teriakan putus asa di hari berikutnya. Osamu hampir tidak peduli siapa gadis-gadis itu karena ia tidak benar-benar membuka diri. Berbeda dengan Atsumu yang menjadi cukup popular berkat klub voli di kampusnya. Tampan, atletis, dan juga ramah pada semua orang. Di luar sana adalah Atsumu yang berbeda dari yang Osamu lihat saat di rumah.
"Tidak Tsumu. Kalau seharusnya bukan melindungiku dari mereka, kau harusnya melindungiku darimu. Anaman sebenarnya adalah kau. Kenapa tidak berhenti dan biarkan aku pergi?!" Osamu mengatakan itu dalam satu tarikan napas dan nada yang semakin tinggi di akhir. Ia memberontak kali ini.
"Samu?" tanya Atsumu dengan tatapan tidak percaya pada adiknya. Mereka kembar tapi sungguh kepribadian mereka begitu jauh. Osamu tidak pernah berharap menjadi seperti Atsumu yang dengan mudah diterima saat bersosialisasi. Osamu hanya ingin menjadi dirinya sendiri yang gemar memasak dan membuat orang lain bahagia setelah memakan masakannya.
"Padahal aku melakukan ini semua demi dirimu." Atsumu yang depresi seperti ini yang tidak ia senangi. Sang kakak terduduk di lantai kamar mandi sambil memeluk lutut. Ia terisak dan Osamu tidak berniat untuk menghampiri kemudian memeluknya. Ia hanya berdiam diri di dalam bathup dalam keadaan telanjang dan berendam dalam air. Melihat sosok Atsumu dari jaran yang tidak jauh.
"Apa kau tidak ingat? Apa yang terjadi pada ibu?"
Osamu diam, karena tidak mungkin ia akan melupakan apa yang sudah terjadi empat belas tahun lalu. Ia masih ingat pemandangan terakhir ibu mereka yang terduduk di lantai dapur dengan bersimbah darah. Di tangannya juga terdapat darah, begitu kental dan sebilah pisau. Osamu tidak mungkin lupa bahwa ia yang membunuh ibunya dan juga gadis-gadis lain.
Hari ini sialnya Atsumu berusaha menghentikannya, membuat kakinya lumpuh dengan pukulan palu berulang. Tapi gadis itu akhirnya mati. Seperti ibunya yang lebih menyukai Atsumu daripada dirinya.
END
