Bagi Akai Shuichi, Furuya Rei tidak memiliki persona. Tentu, ia bertingkah sesuai dengan di mana sosoknya berdiri. Di hadapan pada pelanggan yang menyamankan diri dalam kafe sejuk Poirot—ia melabuhkan senyum loyal, namun bukan berarti ia hipokrit soal itu. Dia menikmati perannya sebagai pelayan dan juru masak di sana. Amuro Tooru adalah lelaki yang baik, lembut hatinya, serta punya sanubari yang jernih dan kuat untuk membantu mereka yang dilanda sengsara.

Ketika ia memaku langkah tepat bersisian dengan Vermouth, Gin, dan Vodka, maupun anggota organisasi lainnya—ia tampilkan sifat yang tak ingin diremehkan. Sarat akan intimidasi, sedikit arogansi, licik dan berbalut tipu muslihat, tidak ragu untuk mengambil langkah besar dalam merealisasikan tujuan.

Namun, sekali lagi—itu bukan berarti sosok yang palsu. Pada nyatanya, Shuichi akan sampai pada poin ketiga, di mana bola mata limau yang berkilau itu memahami karakter seorang Furuya Rei—Zero. Wajahnya yang sesungguhnya, yang nyata apa adanya, pada realitasnya, jugalah memiliki aspek yang dipunyai oleh seorang Bourbon.

Dalam meraih target, serta demi keselamatan Jepang yang terkasih, Rei berani untuk bertingkah drastis, sambil tetap mempertahankan idealisme, hatinya, dan melindungi mereka di sekitarnya.

Terkadang, Akai Shuichi bertanya-tanya, apakah Rei tidak pernah lelah, atau frustrasi, atau mengasihani diri barang sedikit—dan, sebetulnya, jauh sebelum ini … ia telah paham.


Detective Conan © Gosho Aoyama

Warnings! Drama, angst, hurt/comfort, friendship, romance, shounen-ai, alur maju-mundur, Akai Shuichi x Furuya Rei/Rye x Bourbon/Subaru Okiya x Amuro Tooru, canon, typo(s), possibly OOC, EyD semoga betul seluruhnya, dsb.

Personality by Saaraa


Furuya Rei membuka pintunya pada ketukan ketiga. Ia telah melihat pengunjung melalui door viewer dan rasa-rasanya ingin tidak mengindahkan tamu yang hadir tanpa tahu waktu. Namun, pada akhirnya, ia memutuskan untuk melebarkan daun pintu.

Meski begitu, lelaki yang bersurai jelaga belum diizinkan masuk. Rei menyandarkan bahunya pada sisi pilar pintu, melipat lengan, lalu menatap sepasang iris limau yang telak tabrak dengan miliknya.

"Apa?" tanyanya—singkat, padat. Namun menuntut kejelasan.

Haro di balik mata kaki Rei mengintip sarat penasaran—mengira-ngira siapa yang bertamu di kala matahari telah lama menyelam ke balik horizon.

Akai Shuichi mengukir senyum tipis. Seperti ia yang biasanya—warna hitam loyal membungkus tubuh. Ada topi sederhana, turtle neck, fit jeans, dan trench coat menjadi busana.

"Kita perlu berbicara, bukan begitu?"

Rei menautkan kedua alisnya—dalam dan akt ahu. Serupa kucing liar yang siap mencakar kala teritorinya diusik. "Kita sudah bicara di mansion keluarga Kudo, Okiya Subaru. Apa lagi?"

"Itu masalah teknis," Shuichi berujar. "Kali ini, personal. Untuk tambahan—aku sudah tidak tinggal di sana sebagai Okiya Subaru sejak waktu itu, kan?"

Rei menilik wajah Shuichi. Sebuah wajah yang seharusnya telah lenyap dari buana, terbakar hingga menjelma abu. Rei menarik napas, lalu mengempasnya keras. Ia memberikan akses bagi si lelaki untuk melangkah ke dalam ruang apartemennya.

Haro yang masih was-was mengambil posisi tepat di sebelah Rei. Si surai pirang yang menyadari kini menunduk sedikit, mengangkat kawan barunya itu, dan mendekapnya, lalu menutup pintu.

"Kau sudah menerima pesan darinya?" Shuichi bertanya, melepas sepatunya dan menaruh alas kaki itu di rak yang seharusnya. Rei melangkah mendahului, masuk ke dalam dan menaruh Haro di atas sofa. Dapur adalah ke mana tungkainya kini bergerak.

"Sudah," Rei menjawab. Ia tahu persis siapa yang dibicarakan. Pemuda berotak brilian yang kini terperangkap dalam tubuh seorang bocah SD. Andalan mereka, si Peluru Perak yang akan meluluh-lantakan organisasi. Sebuah kepercayaan yang rasanya terlalu besar, telah diberikan pada pemuda umur 17 itu, tapi—tak ada yang keberatan. Telah berkali-kali mereka mendengar dan menyaksikan kisah keberhasilannya. "Tinggal pembahasan terakhir."

Shuichi memberi anggukan. Selanjutnya, kedikan dari dagu Rei pada arah sofanya membuat Shuichi akhirnya melabuhkan diri di sana. Ia tersenyum tipis mendapati anjing putih kepunyaan Rei, dan dalam upayanya menarik hati hewan mungil itu, ia memberi usapan kecil pada kepala serta dagu Haro.

Dalam sekejap, Haro merasa nyaman—dan aman, maka kini ia meloncat ke paha Shuichi dengan senang, serasa mendapat kawan baru.

Rei mendengus. Ia meraih dua gelas dan memanaskan air dalam sebuah teko. Selama kurang lebih tujuh menit, mereka dibalut oleh sunyi. Hanya suara air yang mendidih, Haro yang menyalak sekali-kali, dan detik jarum jam dinding.

Saat air yang direbusnya telah mendidih, Rei menuangkan isinya ke dalam mug. Hanya ¼ dari ukuran gelas itu. Sesudahnya teh celup diraih dari dalam kabinet. Ia bukan pemilik lidah yang hobi pada makanan manis—pun Shuichi. Dan entah bagaimana fakta bahwa Rei mengetahui itu membuatnya kesal sendiri.

Rei meretas jarak antara dirinya dengan Shuichi, lalu menyodorkan segelas teh yang disambut oleh si iris limau dengan senang hati. Di tengah musim pembeku tulang, kopi dan teh hangat memang terdengar mewah serta menyegarkan.

Alih-alih ikut duduk di sofa, Rei melipat kaki dan duduk di atas karpet. Ia menepuk pahanya dua kali dan Haro yang terpanggil kini kembali pada tuannya. Rei mengukir senyum tipis begitu ia sadari.

"Furuya-kun," Shuichi memulai. "Apa boleh kubahas kejadian waktu itu?"

Dan, pada saat itulah—rahang Rei mengeras. Ia berusaha untuk tetap berkepala dingin dengan, ironisnya, menyesap teh hangat. Berikutnya, ia berujar, "Apa lagi yang perlu dibahas?"

Shuichi mengetuk-ngetuk pelan gelas putih metah dalam genggaman. Suaranya yang berat terdengar. Teduh—namun Rei tidak bisa bohong bahwa ia mendengar ada luka di sana pada saat yang bersamaan. "Morofushi Hiromitsu. Ya, kan?"

Rei tidak menjawab. Ia membisu—tak perlu. Akai Shuichi tahu dia benar. "Malam itu, aku tidak membunuhnya. Dia menarik pelatuknya sendiri. Tapi—aku gagal menyelamatkannya, aku lengah tanpa betul-betul memastikan dia membuang senjata api; itu, aku akui."

Rei kali ini menaruh gelasnya di sisi pahanya. Ia mengusap-usap Haro yang nyaman, perlahan menutup mata pada pangkuan. Kepala si surai pirang tertunduk dan rasanya kepalanya keruh mendadak. Padahal, ia tadi tengah menikmati malam yang cukup damai. Tanpa perintah organisasi, nihil Vermouth mendadak mempertanyakan kehadiran, tersingkir dari tugasnya di PSB untuk sesaat.

Namun, Shuichi datang dan merisak segalanya—bukankah selalu begitu?

"Aku jujur padanya; bahwa aku adalah FBI dan ia tak perlu bunuh diri karena ketahuan olehku. Tapi–"

"Tapi, dia mendengar suara langkah kakiku di tangga dan mengira bahwa aku adalah anggota organisasi yang siap membunuhnya. Dalam keputusan sepersekian detik—ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri," tandas Rei, tajam. Ia kini melotot nyalang pada Shuichi. Salah satu caranya untuk mempertahankan diri—menggeram alih-alih tampilkan kerapuhan. "Aku tahu. Itu saja topikmu hari ini? Pulang sana, FBI."

Shuichi menggeleng. "Aku tahu kau tahu, Furuya-kun," ujarnya.

Rei semakin membolakan iris biru. Serius, mau orang ini, tuh—apa? Mencari perkelahian, ataukah hendak memulai perang—atau sekadar hobi membanjur luka dengan garam? Yang mana pun, jelas Rei tak akan tinggal diam.

"Dan kau membenciku—sekaligus dirimu sendiri untuk waktu yang sama. Apa kau tidak lelah?"

Oke—cukup. Rei berdiri mendadak, membuat Haro tersentak. Anjing putih itu dengan sigap melompat ke atas kasur, berlindung di balik bantal. Ia cukup pintar untuk paham bahwa majikannya tidak murka padanya, tapi juga cukup penakut untuk mendekati seseorang yang tengah dibungkus amarah.

Dalam satu sentakan, Rei meremat sweater hitam Shuichi. Shuichi menggenggam tangan Rei yang jauh lebih dingin dari dugaannya, berkata pelan, "Furuya-kun. Kau boleh dendam padaku selama yang kau mau—"

"Memang itu tujuanku, brengsek—"

"—tapi, itu melukaimu."

Rei membungkam. Pelupuknya tak mengedip barang sedetik dan dalam jarak sedekat ini, ia melihat refleksinya sendiri. Tampak menyedihkan—dan payah.

"Karena itu bukan naturmu. Di mana pun kau, kau adalah Furuya Rei-kun, yang teguh dan—"

"Berisik!" Rei membentak. Dalam satu tarikan, Rei menghapus jarak di antara mereka. Mempertemukan dua bibir yang kering akibat suhu yang rendah. Namun, ciuman itu dalam—penuh emosi, penuh rasa yang tak terdefinisi.

Kau tahu apa, sih?

Rei tidak sadar entah sejak kapan tangan Shuichi yang satu lagi menangkup pipinya. Namun ia terlalu masa bodoh untuk peduli. Terlalu sakit hati untuk memperhatikan. Ia hanya melumat Shuichi, dalam, kasar—dan terburu.

Entah kenapa.

.

.

.

Sejak dulu, hubungan mereka bukan berarti selalu buruk. Meski pada sehari-hari banyak sarkasme terlempar dan sindir-menyindir, bagi Rei—itu menyegarkan. Sedari dulu pula, sebetulnya ini semua terasa salah.

Sebab kala sang surya terbenam dan sisanya ialah serpihan bercahaya di angkasa, sesekali, lebih sering daripada tidak, Rei akan menemukan Shuichi—Rye, di kamarnya. Pada realitasnya, mereka memang tinggal satu apartemen bersama Hiro—Scotch, dan mereka adalah satu grup wiski yang biasanya dipasangkan. Hal itu dilakukan demi menjamin keberhasilan eksekusi rencana—atau manusia, sungguh.

Malam itu, Rei dan Shuichi mendengar Hiro akan keluar untuk misi. Maka, Shuichi, sehabis membasuh diri, melangkah ke dalam kamar sang Zero. Rei yang melihat itu mendengus tipis, lalu menutup pintu dengan sebelah tangan. Kebetulan sekali—ia baru kembali dari misinya.

Tubuhnya serasa lelah, jenuh—dan ia butuh pelampiasan. Meski di saat yang sama, yang tidak ingin Rei akui—ada suatu kenyamanan yang merekah tak biasa setiap kali ia berhadapan dengan Rye. Shuichi mendekatinya, mendorong lembut bahunya hingga tubuh Rei terempas pada kasur.

Lalu Rei menarik handuk putih lesi yang bertengger pada tengkuk Shuichi, membawanya mendekat. Kecup dilaksanakan halus, sebelum semakin dalam, semakin menuntut, mendominasi—dan rasa tak mau kalah bahkan terbawa ketika mereka berada di atas ranjang.

Lalu tepat ketika Rei merasakan jemari jenjang menyentuh sisi pinggangnya, turun hingga celana bahan yang ia kenakan, ia mendengar suara pintu dibuka.

"Bourbon, aku kelar lebih cepat. Untuk makan malam—"

Baik Rei dan Shuichi sama-sama membeku. Hiro mengerjap. Bola matanya jelas tak tahu harus mengarah ke mana—yang jelas bukan pada Rye yang tengah menindih kawan masa kecilnya.

"Uh. Aku akan …," Hiro memutus kalimatnya. Berikutnya ia berbalik, lalu melangkah pergi.

Rei dapat mendengar suara pintu depan yang tertutup. Dengan sigap, Rei menyingkirkan badan Shuichi, menyambar kemeja putih yang tergeletak di atas pualam, dan berlari keluar. Shuichi menghela napas pendek mendengar kegaduhan langkah kaki dan suara pintu yang lagi-lagi tertutup dengan sedikit keras.

Ia lebih dari tahu bahwa di atas segalanya, Rei akan mendahulukan kawannya. Tak peduli apa yang digunjingkan orang lain, atau bagaimana Gin sering menyampahi relasi persahabatan itu, pada nyatanya—Rye dapat melihat bagaimana Hiro penting bagi Rei dan sebaliknya.

Shuichi sekali lagi mendesah panjang, lalu membiarkan punggungnya bertemu kasur.

.

Saat mendengar suara pintu atap yang terbuka, Scotch mengintip dari balik bahunya. Ia sudah menduga bahwa Rei-lah yang datang. Dengan gurat wajah yang tak bisa dipahami oleh orang lain, tapi barangkali hanya Hiro—dan mungkin juga Rye, pada titik ini—Rei mendatangi Hiro.

Hiro mendengus ketika melihat kemeja Rei yang sengkarut dan salah kancing. Itu pasti hasil dari terburu-buru. Maka itu, ketika Rei mendekat ke arahnya, Hiro akhirnya melepas tiga kancing paling atas dan membetulkannya.

"Scotch—," Rei memulai.

"Zero, aku sudah tahu." Ada kekehan kecil dan senyum jahil di sana—yang mana, mengundang kerutan alis pada dahi Rei. Sendi wajahnya yang tadi kaku dan entah bagaimana dipenuhi rasa bersalah, kini sepenuhnya tergantikan oleh kebingungan murni, serta harapan untuk mendapat eksplanasi.

"Kalian itu terlalu jelas. Melirik satu sama lain ketika sarapan, menyenggol bahu dengan sengaja—transparan sekali. Aku hanya minta maaf aku datang di saat yang tidak tepat, tapi; kalau kau mengira aku kecewa padamu atau bagaimana—kau salah besar, Bourbon."

Rei menarik napas, lalu menghelanya panjang. Relungnya dibalut rasa lega yang luar biasa. Tapi, benar—untuk sesaat, ia mengira Hiro yang tadi mematung dan mengalihkan pandangan adalah manifestasi dari … entahlah, barangkali rasa jijik, atau kekecewaan yang besar.

"Tapi, dia anggota organisasi yang ingin kita hancurkan ini," Rei berbisik rendah. "Dan … ini salah."

"Mungkin benar," Hiro menyahut. Pandangannya kembali pada luasnya kota Beika. "Tapi, kau nyaman. Dia juga sama. Dan aku tidak merasa itu palsu. Jadi, kenapa harus dipusingkan?"

Rei butuh beberapa sekon yang terlewat hingga ia terkekeh kecil, meninju pelan pundak Hiro. Saat mendengar suara pintu atap yang kembali terbuka, dengan seirama, sepasang kawan semasa kecil itu menoleh, mendapati Shuichi yang mengangkat satu botol scotch dan tiga gelas kaca.

"Kupikir ini malam yang baik untuk minum, bukan begitu?"

Sementara Hiro tergelak tipis, Rei mendengkus. Mereka masing-masing menerima gelas dan Shuichi dengan senang hati menuangkan.

Terkadang—mereka hanya begini saja. Ada satu hari damai untuk dapat melepas raga bersama yang terdekat, itu sudah cukup. Meski barangkali mereka memanglah di tengah kandang macan dan dapat terkoyak mati sewaktu-waktu—setidaknya, terseret dalam ketenangan sesaat tentu tak masalah, bukan?

Shuichi tersenyum tipis.

.

.

.

Shuichi terbangun entah pada pukul berapa. Ia sadar ada sebuah punggung yang menempel pada miliknya, lalu Shuichi perlahan-lahan bangkit dari kasur tanpa membangunkan pemuda bersurai pirang. Rei masih terlelap—tempo napasnya beraturan dan dengkuran lembut terdengar.

Shuichi meraih turtleneck yang terabaikan di atas pualam berbalut karpet, lalu mengenakannya. Dalam sebuah kegelapan dan ada rasa tidak ingin membuat kerusuhan, ia pelan-pelan mencari sisa-sisa busana yang bertebaran. Saat Haro menyadari suara-suara kecil baju yang dikibas, Shuichi menoleh pada anjing itu, lalu tersenyum tipis dan membawa jari telunjuk di hadapan bibirnya.

Seusai ia memastikan bahwa fabrik pada tubuhnya telah lengkap seperti sedia kala, Shuichi menghela napas pendek, lalu kembali duduk pada sisi kasur Rei. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap pelan helaian pirang.

"Apa kau pernah mencintainya?"

Suara Rei lirih—dan wajahnya masih tersembunyi oleh bantal. Shuichi tidak dapat melihat ekspresi macam apa yang terangkai. Namun, toh—Shuichi tetap menjawab, bagaimana pun, "Pernah. Sampai sekarang," ujarnya. Lalu, ia melanjutkan kalimat yang terhenti itu, "Itu platonik."

Rei tidak merespon. Ia menunggu.

"Aku sayang padanya—dan ia tak tergantikan. Akemi adalah sedikit dari beberapa orang yang aku tahu aku ingin lindungi."

Dan, aku gagal dalam melakukannya.

Rei menggumam di bantalnya. Shuichi tidak menangkap ucapan itu, mengerjap, lalu bertanya, "Apa?"

Ia memiliki dugaan bahwa Rei masih setengah tertidur. Mungkin benar adanya. Selanjutnya, suara Rei yang sedikit serak kembali terdengar pelan, "Kau harus bicara … pada Shiho …."

Anggukan disodorkan—meski Shuichi tahu Rei tak akan melihatnya. "Pasti."

Seusai itu, Shuichi mengira Rei akan kembali terlelap. Menjelajah dunia mimpi—atau hanya sekadar disergap kegelapan yang menenangkan. Namun, kala telepon seorang Akai Shuichi—bukan Okiya Subaru—berdering keras, Rei ikut terkesiap.

Si pemilik iris sebiru samudra bangkit dari posisi tidurnya lalu menatap Rei yang memegang ponselnya. Layar tipis itu tampak benderang, namun—tidak ada nama yang tertera. Hanya sebuah nomor yang asing. Shuichi tetap mengangkat panggilan dan mengaktifkan pengeras suara.

"Akai-san?"

Kudo Shinichi.

Suara seorang pemuda—bukan lagi bocah umur 7. Apa yang terjadi?

"Ada apa, Nak?" Shuichi bertanya, belum melepaskan pandangan dari iris Rei yang sekarang ikut berjaga-jaga. Untuk suatu alasan—mereka berdua sama-sama tahu bahwa panggilan ini disertai urgensi. Belum lagi, nomor yang terdata dalam panggilan itu bukanlah nomor yang Shuichi simpan sebagai Edogawa Conan.

"Bisakah kau ke rumahku?" tanya pemuda lelaki itu. Shuichi dan Rei dapat menangkap rasa siaga yang kentara—meski ketenangan sudah diusahakan sedemikian rupa. "Agak susah menjelaskan di telepon, tapi—sejak satu minggu lalu, Haibara membuat sebuah prototype antidote APTX 4869."

Satu minggu lalu ….

"Dan antidote itu berhasil, mengubah seorang bocah SD kembali ke wujud asalnya …," ujar Rei, melengkapi Shinichi. "Dalam waktu yang lama, bahkan—permanen."

Hening merasuk untuk sesaat. Shinichi bertanya—sedikit ragu, "Amuro-san di situ?"

"Kami akan ke sana dalam 20 menit," Shuichi pada akhirnya berujar. Rasa penasaran dan pertanyaan Shinichi bisa ia jawab ketika sampai di sana, meski ia juga cukup percaya Shinichi bukan tipe yang terlalu mencampuri urusan personal orang lain, terlebih soal perkara mengapa ia dan Rei berada pada satu tempat yang sama di waktu yang tidak wajar. "Apa menurutmu kau bisa mengumpulkan orang-orang, Nak?"

"Itu juga tujuanku. FBI kuserahkan padamu, Akai-san. Am—Furuya-san, aku juga mengharapkan …"

"Aku tahu," tandas Rei. "Akan kubawa Kazami."

"Baiklah. Sampai jumpa di sana."

.

.

.

Tentu—hubungan mereka memburuk sejak itu. Kala Rei menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Scotch tergeletak, nihil sukma—begitu lemas, tapi masih hangat. Kematiannya ialah baru saja terjadi.

"Rasanya jadi seperti membunuh hantu. Seram."

Rei menggertak gigi. Dalam satu hentakan, ia menarik kerah hitam Shuichi, menggeram benci, "Rye …."

Shuichi menatap iris biru yang terarah menantang, penuh kilatan itu. Ia masih berusaha mengatur nada suara—segalanya dipertaruhkan di sini. Entah apakah ia jujur, atau memilih bualan. Jalan dan langkah yang selanjutnya akan tercipta, akan terangkai di masa depan, segalanya—ditentukan sekarang.

Kalau ia salah, kepalanya akan tertebas. Kalau ia benar, belum tentu kompleksitas akan berkurang.

Dan Shuichi memilih untuk tidak menyia-nyiakan apa yang telah selama ini jadi perjuangannya.

"Kenapa? Loyalitas kita adalah pada organisasi—kita anjing mereka, kau harusnya tahu itu sejak masuk ke sini."

"Lalu itu membenarkanmu untuk membunuh? Apa?" Rei tergelak. Tawanya menyayat—Shuichi menautkan alis ketika mendengarnya. "Kita adalah Hakim, Juri, dan Eksekutor—sekarang?"

"Bourbon," Shuichi memanggil. "Gin memberi perintah baru. Kita harus siap malam ini. Laporkan padanya ada tikus pengerat dan dia sudah kubunuh."

Rei mengangkat tinjunya, menghunuskan ke arah wajah Shuichi. Dengan cepat, si lelaki bersurai sepekat jelaga memiringkan kepala ke samping, mengangkat kaki kanan, dan menghantamkannya pada sisi perut kiri Rei. Rei terlempar ke kiri, lalu ketika akan jatuh, ia gunakan tangan kanannya sebagai poros untuk menahan tubuhnya dan badannya ia lentingkan ke atas sebelum akhirnya jatuh pada dua kakinya yang stabil, kemudian kembali maju untuk melancarkan serangan.

Shuichi menahan tinju Rei yang terarah tepat di hadapan hidungnya. Satu tinju lagi Rei hujamkan, terarah pada bagian tengah perut Shuichi—itu juga gagal, ditahan sebelah tangan. Di tengah adu dorong-tahan itu, Shuichi dapat melihat iris biru Rei. Jernih.

Terluka. Perlukah ia meriskankan segalanya di sini, sekarang juga?

"Bourbon, kau siapa?" Shuichi bertanya. Berharap mendapat jawaban yang—ia harapkan. Jawaban tanpa dibumbui kepalsuan, lebih-lebih persona.

Tapi, harusnya ia lebih dari tahu—bahwa personaliti seorang Bourbon, di mana pun, adalah … sama. Sama sepertinya, begitu keras kepala, dan ingin melindungi, memperjuangkan—apa yang seharusnya. Yang tak akan menyerah, lebih-lebih tunduk oleh situasi sesaat. Segalanya demi mencapai apa yang jadi tujuan akhirnya.

"Bourbon," Rei menjawab. Rahangnya masih mengeras dan gigi menggertak. Ia tahu—ia tahu apa yang ia lakukan hanya membuka kemungkinan bagi Rye untuk curiga akan identitas aslinya. Menghajar anggota organisasi yang membunuh seorang spionase? Tidak terdengar baik. Filosofis, mungkin—tapi tidak bagi Gin bila ini sampai di telinganya. "Andalan organisasi, pengumpul informasi, anjing Vermouth."

Shuichi merangkai senyum timpang.

Sayang sekali.

"Kalau begitu, bertingkahlah seperti itu," sahut Shuichi. Tajam. Entah apakah kepura-puraan itu tampak bagi Rei atau tidak—terserah. Ia juga sama lelahnya. Emosinya sama terkuras, meski ia tahu untuk selalu mengandalkan dan menggunakan logika terlebih dahulu alih-alih perasaaan. "Anjing jalan tidak mengasihani anjing rumah."

Rei menarik tinjunya. Lalu, ia berbalik sepenuhnya, mendekati Hiro. Ia berjongkok dan memandang wajah—yang tampaknya hanya serupa tertidur. Rei terkekeh tipis. Ia merasa ia perlahan gila. Oh—bukan, ia kagum ia belum gila. Berikutnya, jemarinya bergerak untuk meraih ponsel rusak di balik saku yang berlubang.

"Akan kulaporkan kita membunuh reserse ini," Bourbon berujar pelan. "Ponselnya hancur dan kubawa untuk melihat apakah data-datanya bisa dipulihkan."

Rye mengangguk. "Terdengar bagus."

Lalu meski Rei telah berjalan menjauh, menuruni tangga, dan menyisakan Shuichi bersama Hiro, Shuichi masih terdiam. Ia menengadah, melihat angkasa.

"Malam ini akan dingin …."

To Be Continued