Detective Conan © Gosho Aoyama

Warnings! Drama, angst, hurt/comfort, friendship, romance, shounen-ai, alur maju-mundur, Akai Shuichi x Furuya Rei/Rye x Bourbon/Subaru Okiya x Amuro Tooru, canon, typo(s), possibly OOC, EyD semoga betul seluruhnya, dsb.

Personality by Saaraa


"Benar juga," Rei berbisik perlahan. Senyum timpang terpoles pada wajah sewarna hazelnut. Juntaian pirangnya jatuh seiring ia menggerakan kepala, dari menunduk melihat sebuah kertas di atas meja besar, kini menatap Shinichi. "Dengan ini, kita bisa menelanjangi mereka, ya."

"Tapi kalian harus hati-hati," Haibara Ai yang selanjutnya berujar. Iris turquoise itu masih terarah sengit, hati-hati, tapi di saat yang sama—ia tahu ia bisa percaya, kepada Shuichi dan Rei. "Ini hanya satu kali kesempatan. Sebab bagaimana pun, baik Kudo-kun dan Rye … Akai-san, kalian adalah hantu yang mendadak hidup kembali. Dampak yang kalian tinggalkan harus signifikan."

Jodie Starling kini mengangkat suara, "Tunggu. Kita memang satu langkah di depan karena mereka belum tahu bahwa orang ini," ia menunjuk Rei, "adalah seorang PSB. Tapi kalau kita membicarakan perang … bukankah bahkan Organisasi Hitam pun akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka, termasuk memakai Bourbon?"

"Itu sudah kuantisipasi," Yukiko menjawab. Shinichi memberi dengusan lembut—kentara sekali bahwa ibunya menikmati ini. Meski ia tahu pastilah Yukiko disergap oleh rasa khawatir dan gelisah akan penantian pertarungan—semua orang juga, tentunya—tapi, Shinichi merasa ia bisa melakukannya. Ia memiliki kawan-kawan dan orang tua yang bisa diandalkan, bagaimana pun juga. "Sayang sekali, yang lihai dalam berakting dan menyamar bukan hanya Sharon."

"Dan jelas, yang piawai dalam menyusun strategi, bukan hanya Gin dan Rum …," Shuichi berujar, memberi lirikan pada Shinichi. Sudut-sudut bibirnya tertarik.

Si pemilik iris secerah samudra luas mengangguk. Senyum sengak yang sama terpantri pada bibirnya. Ia harus lebih dahulu percaya diri, mendahului segala asumsi terburuk. Meski asumsi terburuk juga perlu masuk perhitungan.

Shinichi menarik napas panjang, lalu menghelanya pelan. "Untuk detailnya, masing-masing dari kalian harus mengarahkan yang di bawah," pemuda itu kembali mengukuhkan rencana. "Hondo Hidemi … Kir, kita harus mencari cara untuk mengabarkannya akan rencana ini."

"Itu mudah," Rei menjawab. "Aku punya caraku sendiri. Tapi … bagaimana denganmu?" Si lelaki dengan panggilan Zero kini melemparkan pandangan pada seorang sosok anak gadis SMP. Suaranya yang memantul jernih pada setiap gendang telinga itu terdengar—janggal. Mungkin didukung fakta bahwa wajah gadis itu nyaris serupa dengan Hell's Angel yang ditemuinya belasan tahun lalu. Meski kalau untuk menyaingi soal fisik dan wajah, Miyano Shiho lebih mirip. "Vermouth tidak tahu kau mati. Tapi, ia masih sangat berhati-hati. Sampai kini, namamu di dalam data organisasi masih tercatat 'hilang'. Dan aku tahu diam-diam wanita itu sering mengutus anggota rendah untuk mengendus ke sana-ke mari."

Sera Mary menggulirkan bola mata. Ia melihat putranya yang berdiri di sisi ruangan yang lain. "Mari manfaatkan itu. Aku akan mengabari rekanku. Karena sama seperti putra keras kepala itu," katanya, sengaja memutus kalimatnya. "Aku masih ingin memastikan kematian suamiku."

"Kalau begitu, sudah jelas, ya?" Shinichi bertanya. Senyumnya kali ini terbit—senyum yang seolah inosen, hanya seperti anak SD. Bocah lelaki yang seolah tak memiliki beban apa pun di dunia dan hanya senang bisa bermain sepak bola sepulang sekolah.

Dan untuk apa pun yang menyusul ketika senyum itu terbit, seharusnya—musuh-musuhnya merinding ngeri padanya.

"Kita lakukan ini."

.

Rei menutup pelupuknya. Ia baru tidur—selama, mungkin, tiga jam? Bersandar pada susuran kawat di beranda rumah Shinichi, kini ia membiarkan kepalanya terangkat. Menatap angkasa malam, bulan sabit, serta beberapa titik bercahaya yang jauh.

"Kata mereka …," Rei tanpa sadar berujar tipis. "Orang yang sudah meninggal akan jadi bintang. Mengawasi yang masih hidup—yang terkasih. Konyol, ya."

Ya—betul, hal itu hanya serupa candaan di siang hari atau kisah pengantar tidur anak-anak. Sebuah dongeng, legenda—tanpa pembuktian akan kebenaran. Sejak dulu, Rei lebih tendensi berdiri di pihak sains dan pengetahuan. Meski ia juga cukup impulsif pula dan percaya pada beberapa hal yang ingin ia percaya. Namun lebih jarang daripada sering.

Kalau itu benar, aku penasaran … apakah kalian semua di sana? Karena, sungguh—aku lelah sekali.

"Kau harus istirahat."

Rei menahan hasrat untuk menghela napas panjang secara dramatis atau menepuk dahinya. Serius—kenapa orang ini ada di mana-mana? Rei menatap Shuichi yang baru saja melangkah ke bagian beranda, lalu merasa bahwa sia-sia saja menghabiskan tenaga untuk bersikap garang, Rei hanya membalas, "Kau juga. Kembalilah."

Shuichi mengedip untuk beberapa kali. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Kau terlalu banyak bertanya hari ini, FBI."

Sang agen dari Amerika itu mengedikkan bahu. Kemudian senyumnya ditampilkan—sesuatu yang Rei ingin benci setengah mati, namun entah bagaimana tak bisa. Mungkin karena pada bawaannya, ketika sebuah senyum ditampilkan tulus—ia hanya jadi mengingat kawan-kawan dan Miyano Elena.

"Aku tidak banyak bertanya ketika tadi kita bergelut."

Dalam satu sekon, darah mengalir ke wajah Rei. Lelaki di umur dewasanya itu kini memperdalam kerutan. Shuichi tergelak tipis.

"Habis ini selesai …," katanya. Serius dan begitu melankolis untuk suatu alasan. "Habis semua ini selesai—Akemi pernah bertanya padaku, apakah aku mau sungguhan menjadi kekasihnya."

"Lalu. Jawabanmu?"

"Aku mau," Shuichi berucap. "SMS itu terkirim, tapi tak pernah ia terima." Berikutnya, Shuichi mendekat pada Rei. Ia ikut bersandar pada pegangan yang membatasi beranda. "Aku pikir, 'Dia mencintaiku. Aku juga sayang padanya—meski mungkin bukan dalam konteks yang ia harapkan. Dan itu adalah hidup yang bisa kujalani dengan bahagia.'"

Rei menggeleng-geleng. "Aku tidak tahu kau seorang romantis. Atau—filosofis, pada titik ini."

"Memang," jawab Shuichi. "Aku juga tidak tahu."

"Apa inti ceritamu? Nostalgia?"

"Tidak." Shuichi menundukkan kepala. Satu hal yang Rei tidak sangka—lelaki itu menaruh keningnya pada pundak Rei. Rei geming, iris biru memojok ke ekor mata. "Aku ingin bilang hal yang sama. Habis ini selesai … bisakah kita menjadi sesuatu yang normal?"

"Kita tidak pernah normal," putus Rei. "Aku PSB. Kau FBI. Dulu—dan aku sampai sekarang, masih—seorang agen dari sebuah organisasi yang tak ragu menumpas nyawa manusia."

"Itu bagian dari identitas. Pernah menjadi bagian dari identitas. Tidak perlu dilepas, tapi—menambah status yang baru tidak apa, kan."

Ada dengusan terdengar. Rei lelah—sangat. Ia tidak ingin memusingkan diri soal hal begini untuk sekarang. Maka itu, dengan sebelah tangan, ia menangkup wajah Shuichi, mengangkatnya dari pundaknya. Lalu Rei melonggarkan turtleneck hitam dengan tangan yang satunya lagi. Ia memberi ciuman kecil pada leher jenjang sang pria dan gigitan keras mendadak dilabuhkan.

Shuichi terkesiap—tapi tidak berontak. Tidak banyak bereaksi, ia hanya mengernyit sedikit kala merasakan perih di sisi lehernya.

"Kita bicarakan lagi habis semua ini betulan selesai," ujar Rei sesudahnya. Lalu, ia mendorong pundak Shuichi dengan telapak tangan terbuka, dan melangkah pergi dari sana.

Shuichi menatap pualam dan menggunakan ujung jemari untuk menyentuh luka baru di lehernya. "Habis betulan selesai, eh …."

.

.

.

Ada satu malam yang tenang sebelum melaksanakan misi yang menyulitkan. Hari itu, di atap pula, mereka berkumpul dan bertukar kata. Kebanyakan Rei dan Shuichi melempar sarkasme dan adu kepetahan lidah, sementara Hiro menjadi penggembira yang tergelak atas kelakuan konyol mereka.

Lalu, saat kantuk hampiri dan sudah mendekati waktu untuk tidur, akhirnya, Hiro yang membuka topik untuk kali pertama di malam itu, "Hei … apa alasan kalian masuk ke organisasi ini?"

Rei mengedip untuk beberapa kali. Ia menyesap kopi yang sudah mendingin, lalu menjawab acuh, "Uang. Penghasilannya besar, tidak perlu repot." Berikutnya, senyum tipis diumbar pada Hiro. Tentu saja itu adalah sebuah bualan dan Scotch tahu pasti.

Shuichi mendengus. "Praktis, ya," sahutnya. Kepalanya berpikir untuk mencari kata-kata yang pas dan baik Hiro maupun Rei menunggu. "Kalau aku, mungkin karena hobi."

Rei menautkan alis—tidak mengerti. "Hobi?"

"Sejak kecil, aku suka bermain tembak-tembakan," Shuichi menjelaskan. Pada saat itulah, Rei paham ke mana arah cerita itu. Ada dengusan kecil yang diberikan si surai pirang—sedikit geli. Meski begitu, ia membiarkan Shuichi tetap menyelesaikan kalimatnya. "Lalu, sama seperti Bourbon—didukung uang, menurutku masuk ke sini rasanya tepat."

Ya, Shuichi tersenyum timpang. Ingatannya mendadak berputar pada satu, dua, tiga—hingga belasan kali ia menarik pelatuk, menembus kepala manusia yang sebagian mungkin tak berdosa. Menurutku ini panggilan hidupku—untuk menelusup dan menghancurkan organisasi ini.

"Kalau kau, Scotch?" tanya Rei. Tentu saja basa-basi dan hanya sekadar meneruskan pembicaraan. Sejak awal, ia sudah paham apa yang menjadi destinasi akhirnya. Pun Hiro, yang kini pura-pura berpikir dan mempertimbangkan jawaban.

"Tentu saja—traveling." Hiro memberi cengiran.

"Ah, benar juga. Kita sering ke luar negeri untuk misi-misi tertentu."

"Asik, kan? Sejak mendengar soal organisasi dunia belakang ini … aku sudah tahu bahwa kalau aku masuk, maka pasti banyak kesempatan untuk ke luar negeri," Hiro menambahkan. Tawa kecil terbentuk lembut. Rei tahu sejak dulu, Hiro memang suka berjalan-jalan. Mengeksplorasi dan menapaki tempat yang baru. Karena itu, ucapannya barusan mungkin hanya setengah bualan—meski tentu, Rei juga paham bahwa Hiro pasti akan memilih jalan lain kalau tujuannya hanya sekadar jalan-jalan keluar negeri.

"Sudah ah," Rei memutus. "Kalian semua jadi melankolis. Menggelikan."

Shuichi hanya merotasi bola mata singkat dan Hiro lagi-lagi tertawa kecil.

.

.

.

BANG!

Furuya Rei tersentak. Jatungnya serasa melengos jatuh hingga ke dasar perutnya. Sepasang iris biru samudra yang masih terfokus pada Karasuma Renya—kini teralihkan ke samping untuk sepersekian detik. Berbagai skenario, asumsi, dan imajinasi melayang pada kepala.

Kudo Shinichi menautkan alis. Arah suara tembakan terdengar begitu dekat. Renya mengulas senyum tipis. Wujudnya hanya seperti pemuda berumur 17—namun, siapa pun tahu ia hanyalah pria bau tanah yang telah hidup nyaris genap 10 dekade.

"Sayang sekali, ya," ujar si pria. Tangan dan kaki terbelenggu dalam ikatan khusus. "Kalian berhasil meluluh-lantakan organisasi ini, tapi tetap ada yang dikorbankan."

"Furuya-san," Shinichi memanggil. "Kita—harus check suara itu."

"Kau lakukan itu," sahut Rei. "Aku akan menjaganya. Kita masih harus menunggu Starling memberikan konfirmasi soal keberadaan Vermouth."

Shinichi melirik ragu sesaat. Anggukan diberikan, lalu ia memacu langkah, keluar dari gudang tua. Rei menggigit bibir bawah tanpa sadar—entah bagaimana, ia tahu jelas siapa yang tertembak. Daging siapa yang terkoyak peluru perak.

Intuisinya berkata demikian. Dan nalarnya jarang sekali salah.

"Kau agen kesukaanku, Bourbon," Renya berkata lirih. Suaranya adalah sesuatu yang mengerikan. Tidak terlalu rendah, tidak terlalu tinggi—tapi mengandung keserakan dan intimidasi di setiap silabel. Seperti suara yang bisa kautemui di tengah hutan, ketika sendirian dan harimau kelaparan siap menerkam, mencabik tubuh. "Setelah Vermouth, tentu. Kesalahanku adalah tidak jeli bahwa ada satu lagi tikus berbahaya di sini."

"Tutup mulut," Rei menghentak. "Kau sudah tamat—apa kau tidak sadar?"

"Oh, ya, ya—aku sadar." Senyum Renya terbit. Matanya menyipit seiring sudut-sudut bibir terangkat. "Aku juga sadar bahwa mereka yang menaruh loyalitas … akan melakukan tugas-tugasnya. Silakan hidup dalam mimpi buruk, Bourbon. Rekan-rekanmu yang mati, karena kau menyeret mereka dalam misi ini, mengajak mereka masuk ke dalam liang kubur yang kaugali sendiri—"

"Kau tidak bisa diam, ya?" Rei memberikan seringai. Mengarahkan moncong revolver pada dahi Renya.

Sebagian dari dirinya sadar bahwa ia hanya ia menggertak. Untuk sembunyikan gelisah yang merajai seluruh sudut syarafnya.

Sial, sial, sial. Shinichi, beri kabar.

"Akai-san!" Suara pemuda yang jernih masuk ke dalam earpiece Rei. "Akai-san, bangunlah!"

Renya, meski tak bisa apa pun yang baru saja menabuh gendang telinga si pria berhelai pirang, tetap tersenyum lebar.

"Binggo."

"Shuu! Shuichi!"

"Haibara, telepon ambulans!"

Suara berbagai insan bersahut-sahutan di balik earpiece-nya. Rei memaksa tendangan pada sudut bibir. "Baguslah, kau tahu betapa aku benci pada Akai Shuichi."

Renya mendengkus singkat. "Kau tidak pernah jujur, Bourbon."

Ya. Rei meneguk saliva. Kini detak jantungnya semakin berdentum bertalu-talu. Rasa yang tak bisa didefinisikan menggerogoti jiwa dan kepalanya. Tidak padamu.

Ada satu kalimat lagi yang Rei dengar sebelum helaan napas lega sesaat ia loloskan.

"Furuya-san, kau bisa kembali ke titik A. Vermouth sudah tertangkap."

.

.

.

.

.

Furuya Rei—sesungguhnya tidak ingat banyak hal tentang peringkusan itu. Tenaganya telah terkuras akibat sepanjang malam bermain kucing-tikus dan pening menindih kraniumnya. Ia rasa tidur terdengar jauh lebih baik. Namun, meski hasratnya berkata demikian, ia ingat masih harus mengawasi dan memberi atensi total pada tahanan baru PSB. Maka, itu dia lakukan, termasuk memberi instruksi langsung akan keamanan serta perketatan penjagaan, bersamaan dengan diskusi langsung pada atasannya untuk prosedur ke depannya.

Berikutnya, Kazami yang menyadari bahwa pandangan sepasang iris samudra itu sudah terasa—kosong, maka ia menyarankan atasannya untuk kembali ke apartemennya dan mendapatkan istirahat.

Maka, itu apa yang Furuya Rei lakukan. Tentunya juga setelah memastikan keamanan FBI atas nama Akai Shuichi—meski tak ingin mengakui, mereka jugalah yang telah membantu. Dan Rei tahu ia cukup manusiawi untuk setidaknya melaksanakan itu. Rei juga mengerahkan beberapa personil untuk melindungi keluarga Akai secara langsung, termasuk Haneda Shukichi.

Ia juga berbincang sesaat dengan Kudo Shinichi dan Haibara Ai tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sejujurnya, itu konversasi yang menenangkan baginya dan jawaban mereka amat tak mengejutkan.

Saat kembali ke ruang apartemennya, matahari telah perlahan kembali merangkak ke balik horizon, menyisakan jingga dan violet yang berpadu satu di angkasa. Tak mau repot mengganti kemejanya yang lusuh dan tersisa darah kering—luka yang ia terima telah dijahit dan diperban, jadi tak masalah—ia mengempaskan diri ke atas kasur dan berusaha terlelap.

Namun meski telah menutup pelupuk, berusaha menghitung domba, dan bahkan bangun sesaat untuk menyeduh teh kamomil—ia tak juga terpulas. Rei mendesah lelah dan frustrasi. Hiro yang menyadari itu mengaing lembut dan mengusap tangan majikannya dengan kepala.

Rei memijit pelipis, lalu mengangkat tangan dan mengusap kawan berbulu putih itu.

"Sebentar, ya," bisiknya. "Aku pergi keluar dulu sebentar."

Berbekalan kunci mobil, dompet, dan mengganti kemeja dengan hoodie keabuan, ia keluar dari ruang apartemennya.

.

.

.

Rei tidak mengetuk pintu. Hati-hati ia menggesernya. Suara EKG yang berbunyi konstan langsung menabuh gendang telinganya. Rei sempat menarik napas panjang dan mengembuskannya sebelum tungkainya melangkah, membawanya mendekat pada kasur di sudut ruangan serba putih.

Akai Shuichi terpulas di atas kasur. Kepalanya yang tergores kini dibebat perban. Rei melihat bagian kerah baju rumah sakit Shuichi sedikit terkuak. Ia terdiam sesaat sebelum mengulurkan tangan, semakin menyingkapnya. Perban dan kasa yang tebal membungkus bagian kiri dada Shuichi. Tembakan tepat di sana, ya—masih bagus tak menembus inti jantung.

Namun, perkara apakah ia akan terbangun atau tidak—sepenuhnya urusan lain, ya. Rei mendesah kesal, duduk di atas kursi.

"Dasar brengsek," Rei berbisik lirih. "Tidak bisa mati, ya—kau memang manusia kesayangan dewa."

"Terima kasih, kurasa."

Rei terkesiap. Alisnya bertaut dalam. Tak butuh waktu lebih dari dua detik sebelum pelupuk Shuichi perlahan terangkat, menampakkan iris kehijauan yang jernih.

"…. Kau bangun?"

Shuichi mengangguk, tapi lalu menutup kembali matanya. "Ya—sekitar, kurasa, dua jam lalu? Tapi rasanya mengantuk, jadi sedari tadi aku menutup mata. Hanya saja tidak bisa pulas."

Rei membisu. Sama dengannya—ia juga tak bisa terlarut ke dalam alam mimpi, seberapa pun ia mencoba. Entah mengapa. Lalu, mereka membiarkan keheningan itu mengisi satu sama lain. Hanya suara mesin EKG yang meluas, mengalir ke pendengaran masing-masing.

Ketenangan seperti ini tak buruk. Sudah lama sekali sejak mereka mendapatkannya, tanpa harus khawatir dengan hari esok dan segala masalah yang disodorkan olehnya. Rei meloloskan kuapan, lalu menggaruk surai pirangnya.

"…. Pulanglah dan tidur, Rei."

Rei nyaris tersentak. Panggilan itu tak cukup membuatnya terkejut, tapi tentu meraih perhatiannya. "Sudah kulakukan kalau aku bisa."

"Mungkin sekarang akan bisa," Shuichi berujar. "Di sini bau obat."

Ada bola mata yang berotasi. "Ya sudah." Ia berdiri dari kursinya, memasukkan tangan ke dalam kantung hoodie dan merasakan kunci mobilnya di sana.

Shuichi kembali mengangkat pelupuk. Menemui bola matanya dengan iris biru Rei. Ada senyuman yang ia labuhkan pada bibir yang terasa begitu putih lesi. Selanjutnya, suaranya yang serak dan berat berujar, "Jadi? Kau menerima tawaranku?"

"Habis ini selesai … bisakah kita menjadi sesuatu yang normal?"

Rei memberikan dengkusan sederhana. Ia membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya. Berikutnya ia mengukir seringai lebar.

"Kita bicarakan habis kau pulang dari rumah sakit."

Shuichi mendengus.

Sudah kuduga.

Meski itu yang Rei katakan—toh, berikutnya ia tetap menunduk. Menghapus jarak yang tersisa, lalu mengecup pelan bibir yang kering. Shuichi terdiam, membatu—dan memang bukan berarti ia bebas bergerak. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan memang, beristirahat adalah kewajibannya saat ini.

Lalu, Rei menepuk pelan kening Shuichi sebelum melangkah menjauh. Shuichi berfokus pada suara ketuk kaki yang repetisi sebelum akhirnya suara itu memudar ditelan jarak. Senyum sang Silver Bullet kembali tercipta.

Ia tahu bahwa personaliti seorang Furuya Rei memanglah sulit. Sebagai seorang agen PSB dan entitas berbahaya dalam organisasi—lelaki itu nyaris tak memiliki persona. Apa yang ia lakukan, apa yang ia kerjakan, seluruhnya didasari oleh apa yang sesungguhnya ia rasakan dan dianggap benar.

Tentu, terkecuali ketika ia harus menumpas nyawa manusia atas perintah organisasi. Namun, Shuichi lebih dari paham bahwa serumit apa pun Furuya Rei, sebagaimana kompleks—lelaki itu tetaplah seseorang yang Shuichi bisa pahami.

Seseorang yang mudah meradang, menampilkan taring dan siap terkam bila ada yang mengancam, seseorang yang penuh afeksi dan lembut pada sekitarnya di saat yang sama. Seseorang yang rela mengambil langkah besar, melaksanakan pengorbanan, bila itu untuk hasil yang terbaik bagi sesama.

Furuya Rei memanglah rumit.

Namun, Shuichi rela menembus kompleksitas itu.

Bagaimana pun—itu adalah personaliti yang telah menjerat hatinya, jauh, jauh sebelum ini.

END


A/N: Akhirnya kelaar! Bikin ini entah dari kapan, baru bisa publish. Yak, hope you all enjoy it! Aku nggak tahu sih mau ngomong apa lagi selain, let's keep fangirl over these boys. Thank you all, cheers!