Asobi no Koi

.

.

.

Disclaimer : All the Genshin Impact characters belongs to Mihoyo.

Alternate Universe + Alternate Reality

Bit OOC

.

.

Scene 1

Pertemuan pertama

Seorang gadis berambut pirang pendek menghela nafasnya. Dia sedang menunggu dua orang pemuda yang kedatangannya sangat lama.

Gadis itu sesekali mengipaskan tangannya ke arah wajahnya. Cuaca di daerah itu seakan memberitahu bahwa musim semi akan berganti ke musim panas. Gadis itu bisa saja menunggu di dalam kafe, tempat mereka untuk menghabiskan waktu hingga sore hari. Tetapi, dia tetap menepati janji untuk menunggu mereka di taman, di bawah jam besar.

Akhirnya, siluet dua orang pemuda datang terlihat oleh gadis itu.

"Kalian terlambat!" gerutu gadis itu.

"Maaf, orang satu ini tidak mau pergi sebelum sepatu spesialnya ketemu," ujar laki-laki berambut coklat abu tua sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dari nadanya terdengar bahwa laki-laki itu mengejek temannya itu.

"Aku hanya ingin selalu tampil sempurna di setiap saat …."

Kemudian, laki-laki berambut oranye itu menyandarkan lengannya ke bahu gadis itu, "Benar kan, Ojou-chan."

Gadis itu langsung menghentakkan tangan laki-laki itu pelan hingga turun dari bahu nya.

"Sudahlah, kita jadi pergi ke kafe atau tidak?" tanya gadis itu kesal.

"Tentu saja Lumine."

"Tentu saja, Ojou-chan."

Mereka bertiga pun berjalan menyusuri taman. Kafe yang mereka tuju terletak di seberang taman ini, sebuah kafe yang baru saja dibuka saat musim semi berlangsung. Sebuah kafe yang sangat membuat Lumine penasaran karena terlihat sangat ramai. Bahkan, keramaiannya tidak bisa ditandingi tempat Lumine bekerja paruh waktu.

Lumine terperangah dengan kondisi kafe itu, kafe itu terlihat imut dan banyak anak muda didalamnya. Sementara kafe tempat Lumine bekerja paruh waktu, adalah kafe untuk semua kalangan. Jadi, desainnya dibuat sesederhana mungkin untuk para orang lanjut usia dapat berkunjung ke tempat itu.

Ketika masuk di dalam kafe, ia dapat melihat pelayanan di tempat itu sungguh ramah. Mereka kemudian diarahkan untuk duduk di tempat duduk dengan empat kursi. Lumine duduk di sisi kiri meja itu, sementara kedua laki-laki itu duduk di seberang Lumine. Mereka duduk di sisi jendela besar yang menggantikan tiga perempat dari tinggi tembok disana.

Mereka kemudian melihat menu, dan mulai memesan menu yang ingin mereka makan. Lumine sedikit melamun dan melihat keluar jendela sambil bertopang dagu. Pikiran gadis itu mengingat saat penerimaan siswa baru, yang diadakan pada musim gugur tahun lalu.

"Mengapa kau melamun Lumine?" tanya laki-laki berambut coklat abu tua itu.

"Zhongli, Childe, apakah kalian ingat saat awal kita bertemu?" tanya Lumine. Gadis itu masih tidak melepaskan pandangannya ke arah luar jendela.

"Memang mengapa kau menanyakannya?" tanya Childe.

"Sebuah pertemuan yang konyol," jawab Zhongli. Lumine hanya tersenyum tipis mengingat kejadian itu.

..

.

Flashback On

Saat masuk sekolah

.

..

"Ini bohong kan?" ujar gadis berambut pirang itu tidak percaya.

Dia sedang melihat papan pengumuman penerimaan. Lumine menatap tidak percaya hasil pengumuman itu, akhirnya usaha kerasnya terbayarkan.

"Akademi Sumero! Aku dataaanngg!" ujar gadis itu bersemangat.

Akademi Sumero merupakan sebuah sekolah tersohor di seluruh Tevyat. Banyak murid berprestasi lulus dari akademi ini. Sebuah akademi yang memiliki wilayah yang sungguh luas, bahkan untuk memasukinya tidak semudah itu. Mereka harus menjalani tes yang berat, kecuali jika mereka memiliki kenalan dewan di dalam akademi.

Hari pertama Lumine pun tiba, setelah melakukan upacara penerimaan, dia mendapatkan informasi kelas yang akan ditempatinya. Kelas sembilan B.

Ketika dia hendak mencari kelasnya, dia terhadang oleh dua orang laki-laki. Begitu melihat perawakan kedua laki-laki itu, Lumine sedikit mundur. Dia merasa bahwa dua laki-laki itu begitu tampan, dan juga auranya membuat dia merasa tidak mau berurusan lebih jauh dengan kedua orang ini.

"Permisi, aku harus menemukan kelasku," kata Lumine mencoba sopan. Lumine mencoba berjalan kearah kiri. Tetapi, mereka juga kearah yang sama. Mencoba ke arah yang berlawanan, mereka juga sama. Salah satu laki-laki itu kemudian merebut kertas yang di pegang oleh Lumine.

"Hoo ... kau berada di kelas sebelah kami rupanya," ujar laki-laki berambut oranye itu.

"Childe, sudahlah, kembalikan saja. Ini kertasmu gadis manis, jangan sapai tersesat ya?" kata laki-laki berambut coklat abu tua sambil mengembalikan kertas milik Lumine.

"Terima kasih," jawab Lumine sopan.

..

.

Hari pertama di Akademi Sumero yang tidak buruk menurut Lumine. Pelajaran hari pertama hanya diisi dengan perkenalan. Tidak ada yang mencolok, hari pertama Lumine mendapatkan jadwal piket minggu ini.

"Lumine, kau saja yang piket hari ini," kata salah satu orang disana.

"Eh, tunggu sebentar. Bukankah piket ini harus dilakukan bersama?" tanya Lumine.

"Tidak usah banyak bicara deh anak kampung! Laksanakan saja piketmu! Mulai hari ini, setiap hari jadwal piket kami akan kamu gantikan seorang diri! Jangan membantah!" ujar salah seorang perempuan dengan perawakan sangat cantik dengan rambut putih nya.

"T-tapi … " belum selesai Lumine berkata, gadis itu sudah menamparnya.

"Orang kampung tidak boleh protes," kata gadis itu, dia mengusap tangannya dengan sapu tangan. Setelah itu, ia membuang sapu tangan tersebut di tempat sampah. Baginya, menyentuh Lumine adalah hal menjijikkan baginya.

"Huh, mengapa kelas kita kemasukan orang kampung?" tanya orang berambut ungu yang di ikat twintail.

"Hei, sudahlah. Setidaknya kita tidak perlu piket lagi," ujar gadis berambut biru.

"Betul katamu, hahahaha … " tawa gadis berambut ungu tadi.

'Seperti ini kah bila ada orang bukan dari kalangan terpandang masuk di sekolah ini?' pikir Lumine sambil menyeka air matanya.

Lumine tidak mengambil pusing dengan hal itu, dia harus segera menyelesaikan piket ini. Agar dia tidak terlambat bekerja. Lumine datang dari tempat yang jauh, bukan dari orang berada juga. Sehingga untuk bertahan hidup, dia harus bekerja paruh waktu.

Lumine mengambil air dari kamar mandi untuk digunakan bersih-bersih. Lalu, ia mengelap jendela dan menyapu kelasnya, setelah itu dia mengepel kelas. Setelah cukup yakin kelas telah bersih, Lumine pergi ke kamar mandi untuk membuang air kotor di ember. Lumine buru-buru untuk segera menyelesaikan piket ini, agar dia memiliki waktu lebih awal di tempat kerja untuk berkenalan.

Begitu Lumine keluar kelas, dia menabrak seseorang dan jatuh. Sehingga air kotor yang ia bawa pun tumpah menyiram orang tersebut. Melihat itu, Lumine semakin takut akan keadaan ini. Pikirannya sudah melayang, membayangkan bahwa dia akan mendapatkan masalah besar. Tubuh Lumine gemetaran karena takut. Dia terduduk di lantai dengan tubuh yang bergetar.

"Ma-maafkan aku! Aku tidak sengaja!" ujar Lumine yang masih dalam keadaan takut, gadis itu merasa bahwa hari pertama ini sungguh buruk. Sangat buruk.

"Zhongli, apa kau tidak apa-apa? Apa yang kau lakukan hah! Dasar anak … "

Lumine langsung memegangi kepalanya, takut kepalanya akan jadi sasaran dan memejamkan mata.

" … tunggu, kau kan gadis tadi pagi?"

Lumine kemudian mendongak. Ia dapat melihat kedua laki-laki yang ia temui tadi pagi.

"Wah, sebuah kebetulan," ujar Zhongli.

"Ma-maafkan aku, aku telah mengotori bajumu. Ka-kalau kau berkenan akan aku cuci bajunya," ujar Lumine.

"Tidak usah, toh aku bisa membersihkannya sendiri begitu sampai di rumah. Mengapa kau masih ada di sini?" tanya Zhongli.

"A-aku sedang piket," jawab Lumine masih takut.

"Tidak usah takut seperti itu, Zhongli tidak marah kok," kata laki-laki berambut oranye sambil mengusap kepala Lumine dengan tujuan untuk menenangkannya. Walaupun tadi Zhongli ingin marah, tetapi dia mengurungkan niatnya melihat gadis itu terlihat sangat ketakutan. Sebuah ketakutan yang tidak wajar.

"Berdirilah," ujar laki-laki itu sambil membantu Lumine berdiri. Mereka kemudian masuk ke kelas Lumine dan melihat ke sekeliling.

"Kami pasti belum memperkenalkan diri, namaku Zhongli bisa di bilang aku adalah salah satu dari Archon di sini," kata laki-laki berambut coklat abu tua.

Lumine semakin gemetaran. Di sekolah ini ada Archon yang sangat di hormati di seluruh akademi. Archon bisa di bilang seperti osis dari sekolah, dan hanya ada tujuh dari mereka. Bila di tahun pertama nya Zhongli sudah menjadi Archon, itu berarti dia memiliki pengaruh kuat di sekolah ini.

"Kalau namaku Childe," kata laki-laki berambut oranye itu sambil tersenyum ramah.

"Kalau kamu?"

"Na-namaku Lumine," jawab gadis itu masih takut-takut.

"Sudah aku bilang, kau tidak perlu takut Ojou-chan. Hee … dimana yang lainnya?" tanya Childe.

Lumine bimbang untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Apakah dirinya akan dicap sebagai pengadu? Tapi, dia harus mengatakan apa kepada mereka? Lumine tidak bisa menjawab pertanyaan itu, ia hanya terdiam saja.

"Dilihat dari situasinya, sepertinya kau dipaksa untuk piket sendirian," tebak Zhongli

Lumine sedikit berkeringat dingin, dia bingung untuk mengatakan apa.

"Mereka sungguh sombong," timpal Childe.

Kemudian, ia dengan santai duduk di podium guru, "Kau tidak perlu takut kepada kami, walaupun Zhongli Archon, dia adalah Archon yang paling pengasih kok,"

"Kelihatannya aku harus cepat-cepat mandi, aku sudah mulai merasakan gatal," ujar Zhongli sambil melihat seragamnya yang basah.

"Childe, Zhongli, terima kasih sudah tidak marah kepadaku," kata Lumine lega.

..

.

Flashback off

Kembali ke kafe

.

..

"Yah … saat itu kau sungguh dirundung habis-habisan di kelasmu," kata Childe sambil meminum tehnya, pesanan sudah sampai beberapa saat yang lalu.

"Aku juga berterima kasih kepada kalian, sejak saat itu kalian menolongku," ujar Lumine.

Kemudian, ia melanjutkan, "Jujur, aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan seakrab ini dengan kalian."

"Bagaimana kalau setiap sabtu, kita membuat kontes? Yang menang bisa menginap di apartemen Ojou-chan selama akhir minggu!" kata Childe tiba-tiba.

"Eh? Mengapa apartemenku?" tanya Lumine.

"Walaupun kau tidak setuju juga tidak apa-apa kok," timpal Zhongli.

"Eehh … hhmm … baiklah tidak masalah. Lagi pula aku hidup sendirian," jawab Lumine.

"Jadi, karena kita yang akan menginap. Ojou-chan yang harus menentukan lombanya setiap hari sabtu," usul Childe.

Zhongli hanya mengangguk setuju.

Lumine berpikir sebentar, kontes ini akan seperti apa. Dia kemudian terpaku pada menu kecil yang ada di masing-masing meja. Sebuah menu yang hanya menyajikan makanan baru, promo, dan juga makanan yang paling laris. Ada sebuah menu yang terlihat sungguh menantang bagi Lumine.

"Ah! Ketemu! Siapapun yang bisa menghabiskan pizza super pedas dengan ukuran super jumbo sampai habis, dia yang menang," ujar Lumine sambil menunjuk ke arah menu kecil itu.

Childe dan Zhongli pun mengangguk

"Kami setuju!" ujar mereka bersamaan.

"Untuk batas waktu. Apakah ada?" tanya Zhongli,

Lumine hanya menggeleng.

"Boleh minum kan?" tanya Childe.

Lumine hanya menjawab dengan anggukan kepala.

Mereka langsung memesan dua porsi pizza super pedas dan ukuran besar. Tidak lama kemudian, pesanan mereka sudah jadi. Dan mereka langsung dengan lahap memakannya.

Terkadang, Lumine heran dengan Childe dan Zhongli. Mengapa mereka begitu mengejarnya sampai seperti ini?. Jujur saja, menurutnya Childe maupun Zhongli bukanlah murid biasa. Zhongli yang merupakan Archon, atau bisa di bilang osis sekolah.

Sementara Childe adalah Fatui. Ada sebuah organisasi khusus di sekolah, sebuah organisasi yang mengatur keamanan sekolah bernama Fatui. Di bawahi langsung oleh salah satu anggota Archon, Tsarita. Dan banyak yang mengagumi anggota Fatui ini.

Lumine melihat ke arah dua orang yang mencoba menyelesaikan tantangan itu. Pelayan pun sudah bergantian mengambilkan minum untuk kedua orang ini. Para pengunjung pun menatap kearah Zhongli dan Childe bergantian, mulai dari tatapan kagum sampai tatapan mengejek.

"Selesai!" ujar Zhongli.

"Haaah, aku kalah," ujar Childe, tetapi mukanya terlihat sungguh merah.

"Childe? Kau tidak apa-apa? Mukamu sungguh memerah," cemas Lumine.

"Hahaha, maaf Ojou-chan. Aku hanya tidak kuat pedas," jawab Childe.

"Eeeehh! Mengapa kau tidak bilang?!" panik Lumine.

Kemudian, Lumine menambahkan, "Zhongli! Kau bawa mobil kemari kan? Ayo antar Childe kerumahnya!"

"Tidak usah, aku akan menelpon rumah untuk menjemput," tolak Childe sambil tangannya gemetar mengangkat ponselnya. Kemudian, ponselnya di ambil paksa oleh Zhongli.

"Tidak, memegang ponsel saja kau sudah tidak kuat, akan aku antar saja," kata Zhongli sambil memanggil pelayan untuk membayar pesanan mereka. Zhongli memiliki postur badan yang kuat. Dengan sedikit usaha. Dia dapat membopong Childe di punggungnya dengan mudah.

Sementara Childe terlihat sungguh lemah, Childe menghabiskan hampir tiga perempat dari pizza itu. Lumine hanya memegangi punggung Childe ketika digendong Zhongli menuju parkiran mobil yang berada di sebelah taman.

Childe didudukkan pada kursi penumpang bagian belakang dan Lumine duduk di kursi penumpang bagian depan. Setelah itu, Zhongli melajukan mobilnya perlahan menuju kompleks rumah Childe. Kemudian, Lumine melihat ke belakang, Childe menutup matanya. Dia juga menyalakan AC yang diarahkan kepadanya.

"Tidak usah merasa bersalah seperti itu, aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia kalau sudah menerima tantangan, dia tidak akan mundur sebelum tantangan itu selesai," ujar Zhongli.

.

.

.

TBC