Asobi no Koi

.

.

.

Disclaimer : All the Genshin Impact characters belongs to Mihoyo.

Alternate Universe + Alternate Reality

Bit OOC

.

.

Scene 2

Menginap dengan Zhongli

Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Childe, lebih tepatnya apartemen tempat Childe tinggal di kota ini. Kota Sumero, kota yang terkenal dengan Akademi Sumero yang terkenal ke seluruh pelosok Tevyat. Zhongli, Childe, maupun Lumine bukanlah warga kota ini asli. Mereka melewati jalanan kota Sumero yang lumayan ramai, Zhongli akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan bebas hambatan. Demi Childe sampai di rumah lebih cepat.

Lumine masih menatap cemas kearah Childe yang mukanya sungguh memerah di bangku belakang. Sementara Zhongli yang mengetahui hal itu hanya menghela nafas. Tentunya Lumine menyadarinya.

"Ada apa?" tanya Lumine. Dia merasa bahwa hal yang tidak biasa kalau Zhongli sedang menghela nafas seperti itu.

"Aku hanya penasaran, bila aku sekarang yang di posisinya. Apakah kau akan cemas juga kepadaku?" tanya Zhongli. Lumine bisa merasakan aura kesedihan muncul dari Zhongli. Lumine kemudian bingung akan apa yang akan dia lakukan

"Tentu saja! Kau juga kan temanku!" jawab Lumine langsung.

"Apakah kau lupa? Soal pernyataan cinta kami?" tanya Zhongli. Lumine hanya menggeleng.

"Bukankah aku juga sudah bilang? Selama aku belum memilih salah satu diantara kalian, kalian adalah temanku," ujar Lumine sambil memandang keluar jendela. Dia seakan enggan meneruskan percakapan ini, dia sudah mengatakannya dengan jelas saat itu.

Jujur saja saat itu Lumine sungguh terkejut dengan pernyataan mereka berdua saat itu. Tapi, dia sudah memutuskan bahwa, dia akan memutuskan siapa yang dia sukai ketika kelulusan tiba. Kenapa Lumine memutuskan untuk memberi jawaban begitu lama? Dia memikirkan bahwa salah satu dari dua orang tersebut akan menyerah ketika menunggu kelulusan. Maka dia akan memilih orang yang tidak menyerah kepadanya.

Akhirnya mereka sampai di gedung apartemen Childe. Lumine terperangah melihatnya, baru kali ini dia melihat apartemen Childe. Gedung nya terlihat sangat mewah dan tinggi, Lumine yakin harga per-hunian pasti sangat mahal.

Zhongli memarkir mobil nya di parkiran depan lobi apartemen itu. Pemuda itu menginstruksikan kepada Lumine agar menunggu di mobil sementara Zhongli akan menjelaskan kepada para maid Childe dan resepsionis apartemen.

Lumine dengan santai menunggu di mobil sambil melihat kenapa di hari sabtu ini banyak sekali pesan masuk ke ponsel nya. Setelah di buka, ternyata ada tugas dadakan dari guru. Dan seperti biasa, dia yang harus mengerjakannya. Dia yang harus mengerjakan tugas para siswa sekelas. Itu adalah nasib bila ada anak dari golongan tidak terpandang masuk kesana. Atau, setidaknya itulah yang di pikirkan oleh Lumine.

Dia tidak memberitahukan hal ini kepada Childe maupun Zhongli, dia ingin mengatasinya sendiri. Gadis itu hanya menghela nafas dan menutup ponsel flip miliknya. Lumine masih terkagum-kagum dengan gedung apartemen Childe, dibandingkan dengan gedung apartemennya. Dia membayangkan berapa harga beli atau sewa di tempat ini, pasti sekitar puluhan juta mora perbulan.

Apartemen tempat tinggal Lumine sungguh sederhana, sebuah apartemen tingkat dua dengan uang bulanannya sekitar seratus ribu mora perbulan. Gaji nya selama bekerja di kafe tiga ratus ribu mora perbulan.

Di hari Sabtu dan Minggu Lumine libur. Dan kedua laki-laki itu tentunya sudah mengetahui kalau Lumine bekerja paruh waktu. Di sebuah kafe milik seorang anak pengusaha wine terbesar di Tevyat.

"Maaf menunggu lama," ujar Zhongli sambil masu ke mobilnya.

"Bagaimana keadaan Childe?" tanya Lumine.

"Tenang saja, para maid di apartemennya sudah mengurusnya, besok dia pasti akan segar bugar," kata Zhongli sambil mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran.

"Oh iya, kalau Zhongli? Tempat tinggalmu dimana selama kamu di Sumero?" tanya Lumine penasaran. Dia sudah tahu tempat tinggal Childe, tapi kalau Zhongli?

"Aku tinggal bersama dengan para Archon lainnya di gedung apartemen sekolah. Yah walaupun aku bisa mencari tempat tinggal lain, selama aku masih bisa datang saat pertemuan para Archon. Tapi aku malas mencari tempat lain," jelas Zhongli, Lumine hanya mengangguk.

"Aku tidak yakin kalian akan nyaman di tempatku, apartemenku sungguh apartemen sederhana. Hanya ada dapur kecil, kamar mandi dan kamar tidur," ujar Lumine sedikit minder dengan kondisi apartemennya. Bukan berarti berantakan, tetapi karena kecil.

"Tenang saja, aku tidak keberatan soal itu," Ujar Zhongli santai.

"Sebenarnya apa bagusnya aku? Aku bahkan tidak lebih cantik dari siswi-siswi di kelasku," ujar Lumine mulai minder lagi.

"Lumine, berhentilah mengatakan hal itu. Kau spesial di mata kami," hanya itu perkataan Zhongli.

"Eeemm … di apartemenku tidak ada parkiran mobil," kata Lumine. Awalnya Zongli terlihat terkejut dan kemudian dia tenang kembali.

"Tidak masalah, aku akan mengantarmu pulang. Lalu aku akan pulang dan kembali ke apartemen mu menggunakan bis. Kalau bis ada kan kearahmu?" tanya Zhongli, Lumine hanya mengangguk.

"Naik bis jalur sebelas, maka kau akan turun di tempat pemberhentian di dekat rumah. Nanti akan aku tunjukkan," ujar Lumine.

Selama perjalanan dia menjadi penunjuk jalan untuk Zhongli. Dan, akhirnya mereka sampai di depan apartemen Lumine. Lumine turun di ikuti oleh Zhongli, dia menunjukkan kamarnya di lantai dua. Mobil Zhongli di parkir tepi jalanan, tetapi, itu tidak masalah karena Zhongli tidak akan lama. Setelahnya Zhongli pamit untuk kembali ke asramanya di sekolah untuk mengambil baju ganti.

Lumine bersandar di pintu dan merosot hingga terduduk. Dia masih tidak habis pikir, tentang kehidupannya di sekolah. Yah, gadis itu merasa bahwa ini adalah hidup yang seimbang. Di satu sisi ada dua laki-laki yang selalu menghiburnya, dan di sisi lain ada teman-teman sekelasnya yang selalu merundungnya.

"Jadi ini yang di katakan olehnya, kehidupan seorang miskin," gumam Lumine sendirian. Dia kemudian menggelengkan kepalanya mencoba menjernihkan pikirannya. Dia sudah berjanji kepada dirinya bahwa dirinya tidak boleh terlalu memikirkan hal itu.

Lumine kemudian berdiri dan mulai membereskan kamarnya, menyiapkan futon, dan keperluan Zhongli selama dia menginap. Tidak lupa dia menyiapkan handuk tambahan di kamar mandi. Dia mengecek kulkas nya, sekiranya apa yang bisa dia masak untuk memberi makan Zhongli. Dia kemudian mandi dan tidak lupa menyiapkan kamar mandi untuk Zhongli nanti.

Lumine mulai memasak. Gadis itu berharap bahwa Zhongli tidak keberatan memakan Bamboo shoot soup buatannya.

Ketika masakannya sudah siap, sebuah bel pintu pun berbunyi. Lumine membukanya dan melihat Zhongli datang dengan ransel di punggungnya.

"Aku memasak Bamboo Shoot Soup, semoga kamu suka," kata Lumine sambil mempersilahkan Zhongli masuk.

"Tenang saja," hanya itu jawaban Zhongli, hari sudah menjelang petang ketika Zhongli datang.

'Aku sudah menyiapkan air untuk mandi kalau kau ingin mandi silahkan," kata Lumine sambil membereskan dapurnya. Zhongli menaruh tas nya di kamar Lumine, dimana futon untuknya sudah di sediakan. Sebuah kamar mungil dimana hanya berisi lemari, kasur, dan meja belajar milik Lumine. Sekarang di tambah oleh Futon.

Zhongli melihat kearah tumpukan buku di meja belajar Lumine, dan sungguh terkejut dengan nama yang tertera disana.

'Kenapa buku sekelas ada di sini?' pikirnya.

"Zhongli? Ada apa?" tanya Lumine dari dapur, Zhongli kemudian tersadar.

"Ah, tidak ada apa-apa. Aku pinjam kamar mandi mu ya? Terima kasih telah menyiapkannya," ujar Zhongli sambil masuk ke kamar mandi. Lumine hanya mengangguk sambil menyiapkan makanan yang dia masak tadi ke meja makan kecil disana.

Di kamar mandi Zhongli menghubungi Childe lewat chat. Dan ternyata dia sudah sadar. Zhongli hanya mengatakan keanehan yang dia temukan di kamar Lumine.

Zhongli memutuskan akan membuktikan sendiri tentang dugaannya. Setelah selesai, Zhongli ikut makan bersama Lumine. Sementara gadis itu sedikit aneh. Ketika pemuda itu menanyakan apa yang terjadi, Lumine hanya menggeleng.

"A-aku hanya tidak terbiasa saja, ada laki-laki di sini," kata Lumine sambil menyembunyikan muka merahnya. Sejujurnya, dia hanya merasa blushing melihat penampilan Zhongli dengan kaos oblong dan handuk terdasandar di bahunya.

Zhongli hanya terkekeh pelan dan dia mengambil tisu untuk membersihkan mulut Lumine yang ada sisa makanannya. Lumine terdiam karena terkejut dengan perlakuan Zhongli dan dia menunduk untuk menyembunyikan muka nya yang memerah. Setelah selesai Zhongli ijin untuk menggunakan ruang makan itu untuk mengerjakan tugas nya. Lumine hanya mempersilahkan dan gadis itu mulai masuk ke kamarnya untuk mengerjakan tugas.

"Jangan terlalu larut, kalau kau ingin tidur, tidur saja terlebih dahulu," ujar Lumine. Zhongli hanya mengangguk sambil mengeluarkan laptopnya. Lumine telah membereskan meja itu tadi sambil di bantu oleh Zhongli.

Lumine segera cepat-cepat mengerjakan tugas milik teman-temannya. Tapi, Lumine kalah dengan rasa kantuk yang begitu kuat.

Zhongli pun berjalan perlahan menuju kamar dan melihat Lumine telah tertidur. Dia telah mengumpulkan bukti akan dugaannya. Lumine di paksa oleh satu kelas untuk mengerjakan tugas mereka. Kursi meja belajar itu berlawanan dengan pintu, sementara pintu nya tidak tertutup. Sedari tadi Zhongli mengintip apa yang di lakukan Lumine di dalam kamar. Untuk menjadi bukti penguat akan dugaannya.

Pemuda itu sadar bahwa mengotak atik ponsel orang tanpa ijin adalah tindakan tidak baik. Tapi, dirinya sedari tadi curiga ponsel itu berdering tiada henti. Dan itu bukanlah panggilan, melainkan pesan. Zhongli membaca semua isi pesan kasar yang di tujukan kepada Lumine.

Tanpa berfikir panjang Zhongli menghubungi Childe untuk menemuinya di taman di dekat apartemen Lumine. Pemuda itu mengusap rambut Lumine perlahan. Dia kemudian dengan lembut memindahkan Lumine ke kasur, dan menyelimutinya. Sebelum keluar dia telah memastikan bahwa pintu sudah terkunci. Dan kuncinya dia yang bawa. Dia mengenakan jaket dan segera menuju taman tempat dia dan Childe janjian untuk bertemu.

"Huuh, sebenarnya aku iri denganmu karena menjadi pertama kali ke apartemennya Ojou-chan," gerutu Childe begitu mereka sampai di taman tempat mereka bertemu.

"Itu tidak penting sekarang, lihat ini," ujar Zhongli sambil menunjukkan ponsel Lumine. Childe melihat ponsel itu sekilas, dia tidak bisa mengendalikan tangannya dan mematahkan ponsel flip itu. Ponsel itu bahkan menjadi tidak berbentuk.

"Berani juga mereka ya berurusan denganku," ujar Childe dengan penuh amarah.

"Tahan dulu Childe, pasti ada alasan kenapa Lumine menyembunyikan hal ini dari kita," ujar Zhongli menahan Childe yang seakan-akan sudah siap menghajar siapapun yang sudah merundung Lumine.

"Kau benar, haaahh. Baiklah, akan ku transfer uang untuk membeli ponsel baru untuk Ojou-chan. Aku akan coba berbicara kepada Tsarita untuk membantuku menemukan jalan keluar akan masalah ini. Mengeluarkan satu kelas tentu tidak mungkin. Akan aku kabari kau lagi, cepatlah sebelum toko elektronik tutup," ujar Childe. Zhongli hanya mengangguk dan segera ke toko elektronik. Membelikan Lumine ponsel, dan uang yang di transfer Childe lebih dari cukup.

Zhongli segera kembali ke apartemen Lumine dan mulai mengotak atik ponsel baru itu. Dia memasukkan semua akun media sosial milik Lumine dan juga nomor baru untuk Lumine.

Lumine terlihat terlelap dalam tidurnya, wajahnya terlihat letih. Zhongli mengusap pipi gadis itu perlahan dan mulai tidur di futon tempat tidurnya sambil menggenggam tangan Lumine.

"Selama kau ada dalam pengawasanku, tidak akan aku biarkan kau mengalami kesusahan," ujar Zhongli mengecup tangan Lumine.

.

.

.

TBC