Disclaimer: Ishida Sui- sensei

/

1.

Fabrik putih terkoyak dan bersepuh darah itu masih melekat di tubuh itu, kuki tahu mantel itu ada kepunyaan sang mentor dari name tag yang tersemat di sana. Kuki juga tahu, Kendati selalu bersikeras ingin terlihat kuat, figur yang hampir terlihat aseksual itu entah mengapa sekarang terlihat perlu dilindungi di mata Kuki.

'Apa sih yang membuatnya tetap memepertahankan mantel lusuh itu? Cih, menyebalkan.' Batin Urie sambil melirik sebal ke arah Mutsuki yang masih mencengkram mantelnya. Matanya semakin terganggu melihat noda darah lebar di di bagian perut mantel itu yang merupakan hasil karyanya.

"Lepas."

"Eh?" ujar Mutsuki heran sambil menoleh.

"Lepas mantel itu sekarang juga."

Kendati masih bingung dengan Urie yang tiba-tiba mengatakan hal aneh, tapi Mutsuki tetap melakukannya. Dan tiba-tiba sebuah mantel putih khas CCG telah mendarat di pangkuannya, Mutsuki mendongak.

"Pakai dan awas jika kau masih gemetar seperti menara yang mau roboh." Cetus Urie. 'Jangan sampai kau kena flu, dasar bodoh.' Batin si rambut raven sambil berlalu.

Alis Mutsuki terangkat heran, namun tetap merasa penuh syukur saat memakai mantel hangat beraroma musk itu. Ia tersenyum sambil mengerling si empunya mantel yang kini merampok mantel Shirazu.

"Salah siapa dengan bodohnya memberikan mantel di tengah udara dingin seperti ini!?" Jerit Si Rambut pirang berjambul aneh dengan berisik, lalu sedikit melirik Mutsuki yang mengenakan mantel Urie. "Aku juga tidak akan gila walaupun sedang jatuh cin—" BUAGHH!

Sedetik kemudian Shirazu ditinggal pingsan tanpa mantel dengan bekas bogeman mentah dari Urie di tengah lapangan.

/

Next?