Disclaimer: Ishida Sui- sensei

3.

"SUMIMASEN, MUTSUKI-KUN!" Jerit Nakarai sambil ber-ojigi persis 90 derajat.

"D-daijoubu, Nakarai-san." Sahut Mutsuki

Retreat antar divisi ini seharusnya menyenangkan. Game oper kertas dengan bibir ini seharusnya juga menyenangkan (meskipun hanya beberapa orang yang sependapat). Bukan permainan 'pembangkit-inner-gelap-dan-penumbuh-urat-kepala-Urie-Kuki', jika saja angin sialan tidak melepaskan kertas dari bibir Nakarai sialan dan membuat ciuman tidak disengaja itu terjadi.

"Anooo, mucchan. Itu kan ciuman pertamamu. Bagaimana bisa kau jadi baik-baik saja?" celoteh Saiko sambil menarik-narik jersey Mutsuki.

Mulut Mutsuki bersiap melakukan pembelaan, namun terpotong keriuhan yang lain.

Dan kini Nakarai semakin heboh meminta maaf hingga bersujud di hadapan Mutsuki dan membuat semua orang tertawa.

"Ck, Merepotkan." Urie mendecih dan menarik Mutsuki dalam ciuman singkat, lebih tepatnya menyapukan bibirnya dengan sekejap ke bibir Mutsuki yang telah ternoda agar suci kembali.

Kerumunan diam sejenak, Sasaki pingsan, Shirazu tersenyum ringan. Dan sedetik kemudian gegap gempita dan teriakan histeris dari para wanita (dan seorang laki-laki, siapa lagi kalau bukan bapak pimpinan CCG yang naksir berat dengan Urie) yang tergabung dalam Korps Urie Kuki Selamanya memenuhi camp field siang itu.

Urie mengarahkan dua jarinya ke matanya sendiri lalu ke arah Nakarai dengan galak. Gestur yang memastikan Nakarai akan mati jika berani menyentuh Mutsuki-nya lagi. Lalu Si manik wajik menarik si gadis hitam manis pergi, namun sempat berhenti di depan Saiko.

"Itu bukan ciuman pertama si bodoh ini, cebol!" tukas Urie.

"Berhenti bicara aneh-aneh, Kuki!" cicit Mutsuki dengan wajah membara dan memukul pundak Urie.

/

Next?