Disclaimer: Ishida Sui- sensei
/
6.
Mutsuki tau berkeliling di sekitar rumah Papa barunya bukanlah hal bagus, berkeliling di lingkungan asing bukanlah ide bagus. Anjing Herder itu mengeram galak dan tidak bertali, matanya nyalang ke arah tubuh mungil Mutsuki yang sepertinya lezat. Air liru anjing itu menetes-netes ketika geramannya semakin dalam.
"Anjing baik… hiks… huu… anjing baik….." Mutsuki gemetar siap menangis setiap saat.
GUK! Anjing itu menyalak keras. Area perumahan ini sepi, dan tak ada orang lain yang bisa Mutsuki mintai pertolongan. Mutsuki ingin berlari tapi kakinya terasa diplester ke tanah. Tungkainya gemetar melihat anjing itu masih berisik .
"Huaaaaa" akhirnya tangis Mutsuki pecah dan kaki nya yang gontai membawa nya lari tak tentu arah.
Anjing itu ikut berlari mengejar Mutsuki yang tunggang langgang ketakutan. Dan tentu saja, kaki rapuh yang berlari tak mantap itu terjatuh dalam puluhan meter. Mutsuki bangkit dari jatuhnya dan duduk dengan kesakitan. Larinya cukup cepat, ia masih 10 meter di depan si anjing, tapi bau darah dan suara tangis Mutsuki tidak menyusahkan si anjing untuk menemukannya.
Si anjing sudah berada di dekat Mutsuki. Mutsuki hanya bisa menangis pasrah lalu menutup kepala dan badan yang bisa ia lindungi dengan kedua lengan mungilnya dan tak mampu lagi berlari ketika bayangan yang lebih tinggi darinya menghalanginya. Mutsuki mendongak dan mendapati anak laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya berdiri memunggunginya sambil membawa tutup tong sampah besi dan tongkat, menghadang si anjing yang lari dengan semangat.
Suara benturan tumpul antara kepala si anjing dan logam mengisi udara. Dengan langkah kalut, si anjing berhenti mengejar sejenak memulihkan diri. Dalam saat yang sempit seperti itu, sang pahlawan Mutsuki berbalik, masih memegang ranting kayu di tangan kanan dan tutup tong sampah di tangan kiri. Yang bagi Mutsuki saat itu, seperti seorang ksatria dengan pedang dan perisai, dengan mata onix gelap dan dua titik tanda lahir di bawah mata kirinya. Dongeng yang sering ia baca tentang ksatria yang gagah berani menyelamatkan putri dari monster ternyata nyata.
"Kau tak apa?" Tanya anak laki-laki itu. Ia berlutut di depan Mutsuki.
Tapi Mutsuki yang masih terguncang belum bisa memberikan jawaban. Hanya jeritan tertahan sambil menunjuk si Anjing yang sudah mulai pulih dan bersiap kembali mengejar.
"Anjing nakal ini…!" geram si anak laki-laki itu.
Lalu dengan sekuat tenaga ia lempar ranting kayu itu sejauh mungkin. Perkiraan nya benar, si anjing memang mengikuti arah lemparan kayu itu, namun itu tidak lama. Dan dalam waktu yang singkat itu, Mutsuki ditarik berdiri oleh anak itu dan lari.
Anehnya, Mutsuki yang sempat kehilangan tenaganya akibat jatuh merasa kembali bisa berlari. Genggaman tangan kecil yang hangat membungkus tangan mungilnya. Hangat tangan itu menjalar ke seluruh tubuh Mutsuki dan entah mengapa membuat rasa sakit di kakinya terasa mengilang. Dan mereka akhirnya menemukan pipa besar yang bisa mereka jadikan persembunyian dari anjing galak yang mengejar mereka.
Beberapa saat kemudian, ketika gongongan anjing sudah menghilang, barulah dua bocah itu menghembuskan napas lega.
"Huh, syukurlah. Nah, kau tidak apa-apa?" Si ksatria kemudian berbisik pada Mutsuki, merasa tak digubris anak itu menambahkan, "Kau siapa? Aku Kuki. Urie Kuki."
"Bukan."
"Hah?"
"Kau adalah Ksatria. Ksatria-nya Mutsuki." Cetus Mutsuki kecil dengan wajah berbinar-binar sambil menunjuk dirinya sendiri.
"E-eh… tapi…" Kuki kecil terbata. Pipi gembilnya mulai merona.
"Terima kasih." Ujar Mutsuki lalu memberikan kecupan singkat ke pipi merona itu.
/
