Serpih yang Tertinggal

[Yamada Saburo]

by: Hilaryan

.

.

.

Tak diragukan lagi, Jiro memang orang terhebat dalam hal terkena masalah.

Kakakku yang brutal dan tak terkendali itu kini sudah sangat kelewatan! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkannya, atau permasalahan apa yang dia miliki hingga tak pernah mau menjelaskan hal yang begitu mudah.

Cih, dasar Jiro idiot, dia kira dia jagoan? Dia kira dengan memukuli orang tanpa alasan, dia akan jadi pembasmi kejahatan diam-diam, kemudian dikagumi orang? Di dunia ini mana ada yang seperti itu, Bodoh!

Setidaknya, itulah yang aku pikirkan, sampai dia masuk rumah sakit jiwa.

Ah, apa yang harus kukatakan soal ini? Sejak dulu aku memang sering mengatakan ada yang tidak beres di kepalanya, tapi itu hanya caraku mengejeknya untuk mengajaknya ribut, dan sampai beberapa waktu lalu ejekanku tidak pernah menimbulkan masalah. Karena itu aku sama sekali tak menyangka jika pada kenyataannya, memang ada yang tidak beres di kepalanya.

Oke. Mari mulai dari awal. Hai, namaku Saburo, anak ketiga Yamada. Aku punya dua kakak yang sangat bertolak belakang. Kakak pertamaku, Ichi-nii, adalah orang yang sangat baik, keren, penyayang, luar biasa, dan sederet kelebihan lain yang dimiliki kakak terbaik. Sementara, kakak keduaku, Jiro, sumbunya pendek, bodoh, suka main tangan, dan... tidak normal.

Yah, begini. Pada saat Jiro masuk SMA, secara mendadak dia jadi suka memukuli orang, tapi dia tak pernah mengatakan alasannya. Sikap bungkam itu membuat semua orang menganggapnya gila, mengakibatkan Ichi-nii sering dipanggil ke sekolahnya, dan aku pun hampir dihajar juga olehnya. Aku benci sekali dengan sikapnya waktu itu. Apalagi saat melihat Ichi-nii yang dengan penuh perhatian tetap berusaha tampak sabar dan mengerti menghadapi sikap tidak jelas Jiro, meski sesungguhnya tidak.

Aku selalu ingin menghajar Jiro habis-habisan agar dia sadar, tapi Ichi-nii selalu melarangku. Sambil nyengir lebar, Ichi-nii akan bilang, "Tidak usah, nanti juga sadar sendiri." Kemudian, dia akan mengusap kepalaku. "Saburo baik sekali ya, mengkhawatirkan Jiro sampai seperti itu. Tapi tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Kau sendiri tahu Jiro kakak yang baik."

Dan bagaimana bisa Jiro dengan tanpa hati mengecewakan kakak yang sebaik ini?

Kenapa Jiro? Padahal kau bilang ingin jadi adik yang paling disayang! Padahal kau kesal kalau Ichi-nii membagi perhatiannya padaku! Jadi kenapa kau malah menyakiti perasaanya?! Aku tidak suka mengumpat seperti Jiro, tapi dia sangat keterlaluan.

"Lagipula, aku sudah pernah memukulnya."

Satu pukulan tak cukup untuk menyadarkan Jiro, Ichi-nii, batinku waktu itu.

Tapi yah, agar tidak lebih menyakiti hati Ichi-nii lagi saat melihat kedua adiknya saling tonjok, aku memilih diam.

Lalu, puncaknya, setelah baku hantam dengan Samatoki Aohitsugi di jalan, Jiro masuk rumah sakit jiwa.

Aku dan Ichi-nii tahu dari dokter jiwa yang menangani Jiro jika alasannya suka memukuli orang adalah bully verbal yang diterimanya setiap hari di sekolah, dan semua yang dia lakukan hanya dimaksudkan untuk membela Ichi-nii... Dan akhirnya kami menyadari kalau seluruh hidup Jiro hanya sekumpulan kesalahpahaman.

Haha. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaan Ichi-nii waktu itu? Dia diserang rasa bersalah yang hebat, menganggap dialah yang membuat Jiro sakit jiwa, namun tidak pernah berterus terang padaku. Iya! Sungguh! Di tengah keterpurukan begitu, dia tetap saja berusaha menjadi sosok kakak yang kuat di hadapanku! Kupikir harusnya akulah yang menenangkannya, tapi malah Ichi-nii yang terus terusan menyemangatiku!

Seperti kebiasaannya, dia nyengir lebar dan bilang, "Hei, ini bagus, kan, Saburo? Setelah keluar dari rumah sakit, Jiro pasti akan jadi seperti dulu! Ahh aku tidak sabar menunggunya pulang!" Dan itulah yang membuatku... Cih... demi Tuhan! Aku ingin Ichi-nii mengeluh padaku! Aku ingin Ichi-nii tidak usah pura pura! Tapi di hadapanku, Ichi-nii tak pernah memperlihatkan sisi lemahnya sama sekali.

Aku tahu dia melakukan itu karena sayang padaku! Tapi, tidakkah dia mengerti aku dan Jiro sudah cukup besar sehingga tak perlu memanjakan kami lagi? Tidakkah menurutnya aku cukup dewasa untuk diajak berbagi masalah?

Baka Jiro! Lihat semua yang kau lakukan! Lihat akibat perbuatanmu! Lihat apa dampaknya pada Ichi-nii. Semua tidak akan jadi seburuk ini kalau kau bisa terus terang pada kami! Dasar bodoh! Dan aku sendiri... entahlah. Kurasa aku juga bodoh karena tak menyadari alasan Jiro dari awal.

Yah, sebisa mungkin aku berusaha untuk terlihat santai saja dan selalu membalas ucapannya dengan vibe postitif yang sama agar tidak menambah beban Ichi-nii.

Kuharap, semua seperti yang dikatakan Ichi-nii. Jiro sembuh dan dia kembali pulang, sehat seperti sedia kala.

Dan begitulah setelah hampir tiga bulan Jiro dirawat di RSJ, kami diizinkan untuk bertemu dengannya.

Heh, tadi aku sudah bilang 'puncak' ya? Oke ralat, yang tadi belum puncak. Puncak sesungguhnya adalah kali ini. Tepat sekarang juga.

Kini, aku sedang berjalan di lorong rumah sakit setelah dari kamar kecil. Ichi-nii masih ada di kamar Jiro. Kakak keduaku itu masih tidur dari tadi. Dia tidur seperti mayat, tapi dokter hilang dia akan bangun, jadi kami tak usah khawatir. Hanya saja, ada satu hal yang membuatku tidak tenang.

Dokter bilang, saat Jiro bangun, mungkin akan ada sesuatu yang membuat kami shock, tapi orang tua dengan jas putih tadi berharap itu tidak terjadi. Aku tidak bisa menerka apa yang mungkin terjadi, namun aku langsung paham begitu kembali ke kamar Jiro.

Dengan mata memicing khas orang baru bangun, Jiro menatap Ichi-nii dengan bingung. Kemudian, semua seolah hancur ketika dia mengatakan kalimat pertamanya.

"Siapa kau?"

.

.

.

"Siapa kau?" tanya Jiro saat menatap Ichi-nii. Aku ingin menghambur padanya dan menempeleng kepalanya saat itu juga, mengatakan selera humornya rendah, tapi aku dan Ichi-nii sangat tahu itu bukan candaan.

Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dia lupa Ichi-nii dan masih mengingatku? Dia habis dicuci otak atau apa?

Aku dan Ichi-nii telah menanyakan pada dokter dan mereka bilang mereka telah berusaha semaksimal mungkin menghilangkan obsesi Jiro pada Ichi-nii tanpa harus membuatnya melupakan Ichi-nii, tapi Jiro tetap lupa.

Jadi, sekarang, lagi-lagi Jiro harus tetap berada di rumah sakit sampai dia bisa mengingat Ichi-nii kembali.

Kami datang setiap hari untuk mengunjungi Jiro, membicarakan hal-hal yang dirasa bisa mengingatkannya pada Ichi-nii, namun setelah dua minggu pun, masih tak ada kemajuan sama sekali. Bahkan pada awalnya, Jiro berkali-kali salah memanggil Ichi-nii.

Sekarang, ku sedang berjalan ke kantin dengan Jiro ketika kami mau makan siang sementara Ichi-nii menunggu di taman, tengah mengangkat telepon.

"Na, Saburo."

"Hah?" tanyaku cuek.

Dia tidak menjawab lama sebelun akhirnya kembali membuka mulut. "Maafkan aku."

"Untuk apa?"

Bisa kudengar dia mengembuskan napas berat. "Meskipun kau dan Niichan terus ke sini dan berusaha mengingatkanku kembali, sampai sekarang aku masih tak pernah mengingat aku pernah punya kakak."

Aku berhenti dan menatapnya. Kurasa aku jadi sedikit emosional saking jengkelnya dengan keadaan kakakku ini sampai responku terdengar kekanakan sekali. "Jiro, namamu saja Jiro. Kau juga sudah tahu semua yang terjadi. Kau tahu alasanmu masuk rumah sakit ini. Dan kau juga tahu kenapa kau melupakan Ichi-nii. Dia memang kakakmu! Bukti apa lagi yang kau inginkan?"

"Ya-- aku tahu soal itu dan aku percaya pada kalian, tapi bukan seperti itu." Jiro kembali menghela napas. "Hanya saja... menurutku Niichan masih orang asing."

Sial.

Sebaiknya kau tak usah lanjutkan ucapanmu, Jiro.

"Aku tahu dan ingat sekali aku berkali-kali membuat masalah di sekolah, tapi aku tidak merasa aku melakukannya karena di-- Niichan." Jiro yang tidak kenal Ichi-nii menatapku. Ya, Jiro yang dulu tidak akan menyebut Ichi-nii dengan kata 'dia'.

"Kau tahu, Niichan selalu menatapku dengan pandangan penuh harap begitu... dan itu malah membuatku sulit untuk menatapnya balik."

Kubilang hentian ucapanmu!

"Aku... benar-benar merasa tidak enak tidak bisa mengingatnya, dan aku jadi canggung, dan aku pun malah jadi sering menghindari bicara dengannya... dan... dia malah jadi tambah sedih--"

"ITU SALAHMU SENDIRI YANG TOLOL!!"

Aku muak. Sangat muak.

Kukatai seperti itu membuat Jiro hanya meringis dan menggaruk tengkuk, tidak membantah atau kelihatan marah, pertanda dia sadar dia memang tolol. Oh Jiro, andai kau sadar lebih awal.

"Maaf."

Andai permintaan maafmu bisa menyelesaikan masalah.

Yeah. Belakangan yang terjadi memang persis seperti yang dikatakan Jiro. Sesungguhnya aku tidak suka meninggalkan Jiro dan Ichi-nii bicara hanya berdua, tapi karena tak seperti Jiro, hati nuraniku masih bisa dipakai, aku pun sering meninggalkan mereka berdua, berharap pembicaraan empat mata dengan Ichi-nii bisa membuat Jiro mendapatkan ingatannya kembali. Hanya saja... seperti yang dikatakan Jiro, sikap positif Ichi-nii malah membuatnya jadi canggung, tidak enak, dan malah menghindari Ichi-nii.

Dari kejauhan, aku sering melihat saat Ichi-nii menceritakan sesuatu atau mengajak Jiro bercanda, Jiro hanya tersenyum sekenanya, dan muka tololnya itu sangat memperlihatkan kalau dia kebingungan harus merespon Ichi-nii seperti apa.

Setiap itu terjadi, Ichi-nii akan menghela napas dan bertanya, "Kau belum ingat soal aku, ya?"

"Maaf... Niichan..."

Kemudian, Ichi-nii akan tersenyum, memegang pundak Jiro dan mengusap-usapnya. "Tidak papa Jiro, tak usah buru buru."

Bedebah itu.

Kurasa aku tertular tololnya Jiro sebab secara emosional aku mulai menyalahkannya atas semua yang terjadi, padahal logikaku menyadari ini bukan kesalahan Jiro sepenuhnya.

Jiro yang hanya ingat padaku lebih memilih untuk curhat padaku. --Bah, baru sekarang kau bisa berterus terang soal masalahmu, Jiro? Kenapa tak dari dulu saja?!-- Aku tahu maksudnya adalah meminta bantuanku, tapi aku sendiri, yang tidak terima melihatnya memperlakukan Ichi-nii seperti orang asing, malah jadi ikutan menyebalkan dan selalu menyalahkan Jiro setiap kali dia membahas soal itu.

Aku tahu itu salah! Aku tahu seharusnya aku seperti Ichi-nii yang bisa terus bersabar dan membantu Jiro mengingat kembali, tapi aku malah jadi sering ribut dengan Jiro.

"Kau kira ini mudah untukku?" tanya Jiro frustrasi. "Kau kira terus-terusan merasa bersalah karena tak bisa mengingatnya itu enak?"

"Oh, untukmu semua ini sulit ya?" tanyaku melotot padanya. "Lalu bagaimana kau menjelaskan betapa sulit yang dihadapi Ichi-nii karena kau! Coba jelaskan! Ini semua lebih sulit untuknya tahu!"

Sebentar, aku harus menghela napas.

Mungkin menurutmu, sebagai adik aku tidak adil karena aku hanya memikirkan Ichi-nii dan tak memikirkan Jiro sama sekali, meski pada kenyataannya yang sungguhan 'sakit' adalah Jiro. Tapi, yah, itu naluri alami.

Coba saja kau di posisiku! Kau punya dua kakak. Kakak keduamu selalu bersaing denganmu untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian kakak pertama. Dan sekarang, dengan sangat ironis, orang yang sangat menghormati dan mengedepankan kakak pertamamu itu malah berbalik jadi orang yang paling menyakitinya! Memangnya kau tidak marah padanya? Memangnya kau tidak muak?!

Mungkin bagi semua orang, Jiro lah yang tak mengenal Ichi-nii. Tapi bagiku, akulah yang tak lagi mengenal Jiro! Kau mengerti?!

Jiro yang biasanya bersaing denganku itu, Jiro yang selalu marah saat kukatai bodoh, Jiro yang mudah sekali emosi, Jiro yang sering minta dibantu menulis kanji karena ingatannya buruk, sekarang jadi orang asing. Dia jadi amat sangat berbeda.

Jiro yang menghindari Ichi-nii seperti itu bukanlah Jiro yang aku kenal. Dan kurasa... kemarahanku pada Jiro bukan hanya timbul karena sikap Jiro pada Ichi-nii, tapi juga karena aku merasa kehilangan sosok kakak keduaku.

Tanpa sadar air mataku menetes dan aku buru-buru menghapusnya. He-hei, siapa pun kau yang mengetahui soal ini, awas saja kalau kau berani mengatakannya pada Ichi-nii atau Jiro.

Lagipula, yang dirasakan Ichi-nii jauh lebih berat. Dia kehilangan adik pertamanya dan segala bentuk hal lain yang hanya bisa ditempati Jiro. Kehilangan Jiro yang masih ingat padaku saja membuatku sangat sedih begini --ya, aku akui aku sedih-- apalagi Ichi-nii yang kehilangan Jiro ditambah si bodoh itu tidak kunjung mengingatnya!

Karena itu, dibandingkan mengatakan "Semoga memorimu cepat kembali," pada Jiro, aku justru mengatakan, "Kau tahu Jiro, saat kau sudah mendapatkan memorimu kembali, kau tak akan bisa memaafkan dirimu."

Benar. Itu kesalahan.

Hah, sesungguhnya skenario tolol macam apa ini!

.

.

.

Apakah perkataanku itu mempengaruhi Jiro, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Aku tak tahu pastinya, tapi kurasa iya.

Begini, sejak kami bisa menemui Jiro waktu itu, aku dan Ichi-nii memang selalu datang ke rumah sakit, namun kami hanya di sana dua atau tiga jam. Ketika hari libur kami bisa ada di rumah sakit sejak makan siang hingga sore. Tiga hari sekali kami bertiga konsultasi dengan dokter mengenai kondisi Jiro.

Tapi walau dengan semua itu, tetap saja, saat kami pulang, kami tidak tahu apa yang dilakukan Jiro.

Setelah sebulan tak kunjung mengingat Ichi-nii, Ichi-nii mengonsultasikan keputusannya untuk membawa Jiro pulang, sebab dia yakin Jiro akan lebih cepat mengingat ketika dia bertemu kembali dengan rumah barang-barang miliknya. Dokter setuju, dengan catatan kami harus tetap membawa Jiro ke rumah sakit kembali untuk perkembangan.

Namun, hal yang paling tidak kami percayai terjadi.

Ketika diajak pulang, Jiro menolak. Dia tidak mau. Dia bilang dia takut. Dan saat ditanya kenapa, dia malah berteriak-teriak tidak jelas tentang sesuatu atau seseorang yang akan mencelakainya atau apa pun itu, dan hal-hal lain yang serasa kurang masuk akal yang membuatnya tak bisa mengingat Ichi-nii.

Harus kau tahu, meski kami hanya tiga bersaudara yang tidak punya orang tua atau keluarga sebagai backup, aku tidak suka ada orang lain yang menganggap kami remeh dan lemah, sebab seperti kata Ichi-nii, selama kami bersama kami pasti bisa jadi sangat hebat dan mengatasi apa pun. Tapi... untuk kali ini saja, aku ingin mengeluh.

Ya Tuhan, kami hanya tiga bersaudara yatim piatu yang ingin bisa kembali bersama! Apakah semua masalah sebelumnya belum cukup hingga datang lagi masalah lain?

Soal Jiro, aku ingin menarik ucapanku sebelumnya. Ternyata, dia tak pernah berterus terang.

Benar. Baru setelah Jiro teriak-teriak itulah kami semua sadar, ternyata dia menyembunyikan hal lain. Hal yang jauh lebih besar dari rasa tertekan yang dialaminya karena tidak bisa mengingat Ichi-nii.

Yap. Saat bilang padaku dia merasa bersalah karena tak dapat mengingat Ichi-nii, rupanya itu hanya sebagian kecil dari semua hal yang dia pendam sendiri. Dari sudut pandangku, tampaknya dia menceritakan perasaan bersalahnya padaku karena menurutnya hanya itulah yang bisa diceritakan, dan menyembunyikan yang lain yang sesungguhnya lebih butuh diungkapkan.

Hehe. Aku bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang aku rasakan.

Saat sadar, ternyata kami bertiga sudah benar benar jauh. Jiro tak pernah menceritakan masalahnya pada kami. Ichi-nii pun tak pernah berbagi masalah dengan kami. Begitu pula aku yang hanya memendam semua yang aku rasakan sendiri.

Hei, setelah ini semua selesai, kita masih bisa sedekat dulu, kan? Ya kan?

Ehm. Ichi-nii bilang kami akan bisa melewati apa pun kalau kami tetap bersama dan saling memiliki. Jadi, melihat keadaan kami sekarang seperti ini ... mungkinkah ini akan selesai?

Ichi-nii, Jiro, kita... masih saudara, kan?

.

fin.

sorry, ini berantakan, but yeah. I post it.