First things first, happy birthday to Ichi-nii's younger brother, Jiro! UwU
Second thing second, I know whatever I wrote in Saburo's part is so fucking stupid and cringe and embarrassed, because… yeah, aku tidak sejenius Saburo jadi aku tidak mengerti apa yang terjadi di dalam otaknya, tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk membuat ini terdengar semirip mungkin dengan Saburo, tapi kayaknya gagal :D Huhuhu…. Maafkan daku T.T
Baiklah itu saja, Happy reading~
.
.
.
Serpih yang Tertinggal
by: Hilaryan
.
.
.
Bicara soal seluruh masalah ini, harus kuakui, selain mudah terprfokasi, Jiro juga saudara yang... peduli. Pada Ichi-nii tentunya, bukan padaku. Kalau Jiro tidak punya perasaan seperti itu pada Ichi-nii, ia tak akan melakukan semua ini. Jika dia orang yang tidak acuh, dia tak akan peduli mengenai apa pun yang dikatakan orang soal Ichi-nii.
Kalau padaku, yah, kau tahu sendiri bagaimana kami sehari hari selalu bertengkar. Tapi walau begitu, ada sisi ke-kakak-an Jiro yang dia berikan padaku, yang tidak pernah dia perlihatkan di depan orang lain (kebanyakan karena aku menghalanginya sih- lagipula, bertingkah seperti kakak-adik dengan Jiro di hadapan semua orang itu memalukan.)
Pernah ketika aku kelas 2 SD, aku bertengkar dengan teman sekelasku di depan gerbang sekolah. Tepat saat itu Jiro lewat, dia tahu aku sedang bertengkar, jadi dia langsung berdiri di depanku sambil bilang "SIAPA KAU BERANI MENGUMPAT UMPAT PADA ADIKKU HAH!?" dengan tampang yang diseram-seramkan seperti yang sering dia tunjukkan pada anak-anak seumurannya ketika sedang bertengkar.
Aku selalu tertawa mengingatnya. Maksudku, Jiro yang waktu itu sudah kelas 5 tiba-tiba saja datang padaku dan melotot-lotot pada teman sekelasku yang masih kelas 2 SD. Tentu saja teman sekelasku ini langsung ketakutan. Si bodoh itu sangat berlebihan pada anak kelas 2 SD, tapi ya seperti itulah Jiro.
Hubunganku dan Jiro memang tidak seperti hubungan kami dengan Ichi-nii, atau tipe tipe kakak beradik yang sering peluk pelukan, atau sejenisnya, tapi dia selalu ada dan siap mendukungku kalau ada yang cari masalah denganku, meskipun sesungguhnya aku tak butuh bantuannya sama sekali. Yeah, benar. Aku sudah bukan adik bayinya lagi sekarang, dan dengan bangga kukatakan, aku jauh lebih baik dalam hal menangani masalah daripada Jiro, tapi si bodoh itu dan kebodohannya tak bisa mengerti.
Heh... Oke, kurasa secara sulit disadari (atau aku sebenarnya sadar tapi menolak untuk mengakuinya), ternyata Jiro peduli juga padaku. Aku tetap tidak akan mengakuinya di hadapan yang bersangkutan.
Yang aku tahu selama tumbuh dengannya, Jiro adalah anak yang aktif dan suka olahraga. Satu yang paling disukainya adalah sepak bola, dan, walau aku tidak pernah melihat pertandingannya dua babak penuh, aku akui Jiro baik di olahraga itu. Tentunya bukan sebagai ahli strategi ya. Hih, anak bodoh itu bahkan tidak bisa menyebut dan menjelaskan teknik bermain sepak bola dengan benar. Dia mengatakan kalau dirinya adalah starter terbaik di dalam tim. Entah itu julukan dari kawan-kawannya atau gelar yang dibuat sendiri, seperti juga gelar-gelar lain yang dia miliki.
Dan, kau tau, Jiro yang itu kini sudah kembali.
Ya ampun aku tidak bisa menahan senyum.
Setelah mengonsultasikan semuanya dengan dokter yang... entah sudah berapa kali, sekali lagi, Jiro menjalani terapi. Sulit sekali memang. Membutuhkan kesabaran luar biasa, super menyita waktu dan uang, melelahkan baik pada mental maupun fisik, tapi kami bertiga berhasil.
Yah. Kami berhasil.
Setelah melewati serangkaian hari yang penuh emosi, aku berbaikan dengan Jiro. Aku minta maaf padanya karena telah mengatakan hal yang tidak-tidak dan selalu marah-marah padahal dia sedang membutuhkan. Yah, bagaimana dia tidak lebih tertekan lagi. Dia sudah merasa tertekan karena masalahnya, dan aku malah mengatakan hal buruk seperti dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Aku sudah jadi adik yang buruk untuk Jiro, tapi aku punya waktu seumur hidup untuk menebusnya.
Jiro juga minta maaf pada kami karena tidak bisa mengatakan yang dia alami. Dia bilang, dia tidak ingin menambah nambah beban pikiran kami makanya dia menyembunyikan semuanya sendiri. Kurasa soal ini kau bisa tahu lebih lengkap dari Jiro sendiri, kalau dia mau menceritakannya. Ia pada akhirnya berani berterus terang dan membuka segalanya, termasuk kalau selama ini dia benar benar merasa tertekan.
Ichi-nii juga minta maaf. Dia bilang, tak seharusnya dia terus-terusan memaksa Jiro untuk mengingatnya, dan Jiro tak perlu merasa bersalah hanya karena itu. Yaaa... walau tak pernah bilang begitu, faktanya Ichi-nii memang ingin Jiro secepat mungkin mengingat dirinya (ingat kan yang kubilang soal Ichi-nii yang setiap hari menanyakan apakah Jiro ingat dirinya atau tidak? Seharusnya Ichi-nii tak menanyakan itu terus menerus), dan itu sangat bisa dimaklumi.
Ichi-nii minta maaf pada kami karena sikapnya yang tidak mau membagi masalah yang malah merenggangkan kami dan membuat kami jadi saling bersandiwara kalau semuanya baik baik saja. Dan aku juga minta maaf karena meskipun sudah tahu itu bukan hal yang baik, aku malah ikut ikutan, bukannya mengajak kakak kakakku untuk saling jujur.
Yah, kami bertiga memang punya porsi salah yang sama, dan kami berhasil menyelesaikannya.
Hei... kau ingin tahu bagaimana semua ini terjadi?
Tentu saja, semuanya berawal dari Ichi-nii, kakak terbaik sepanjang masa.
Setelah mendengar kalau Jiro mengalami halusinasi, Ichi-nii pergi dari rumah selama seminggu penuh tanpa bilang mau ke mana. Tentu saja aku panik. Bahkan teleponnya tidak bisa dihubungi. Jangan tanya bagaimana kalutnya aku, dan itu wajar! Demi segala hal yang tidak masuk akal yang terjadi belakangan! Masalah Jiro sudah cukup rumit, sekarang Ichi-nii menghilang?!
Namun, setelah dia pulang seminggu kemudian, atmosfer yang berada di sekitarnya benar-benar berbeda. Jika sebelumnya aku bisa merasakan kesedihan walau Ichi-nii berusaha menutupinya, sekarang atmosfer penuh semangat seterang matahari milik Ichi-nii telah kembali. Aku langsung tahu ini pertanda baik.
Dia mengajakku untuk ke rumah sakit menemui Jiro di siang hari, dan kami bertiga janjian untuk bertemu lagi di malam hari untuk jalan jalan. Awalnya Jiro menolak. Tentu saja. Dia bilang tidak suka jalan jalan malam. Omong kosong. Semua orang tahu dia ini tukang keluyuran.
Tapi, yah, aku tidak akan menyalahkannya. Fakta bahwa Jiro masih memiliki halusinasi dan fakta bahwa dia tampak tidak nyaman ada di dekat Ichi-nii tidak mungkin kulewatkan.
Ichi-nii pun terseyum dan merangkul pundak kami. "Hei, selama kita masih bertiga, tidak akan ada hal buruk yang bisa terjadi."
"Tapi-" Jiro menyela.
"Kau percaya padaku, kan, Saburo?" tanya Ichi-nii.
"Tentu saja, Ichi-nii!" sahutku penuh semangat.
"Bagaimana denganmu, Jiro? Kau percaya padaku?"
Jiro tak kunjung menjawab. Kalau ini Jiro sebelum melupakan Ichi-nii, aku pasti akan mengatakan, "Bilang saja kau takut gelap," dan keraguannya akan langsung hilang digantikan kemarahan dengan mulut yang langsung menyangkal. Tapi untuk Jiro yang sekarang, dia tak akan menjawab perkataanku kalau aku bilang begitu. Maka, untuk meyakinkannya aku mengatakan, "Ayolah Jiro, kau tidak pernah keluar malam sejak masuk rumah sakit, kan," ditambah dengan bujukan-bujukan lain yang tetu saja bekerja dengan baik.
Terima kasih pada jiwa keluyuran Jiro yang masih ada, hingga dia tak bisa menolak.
Jadi, malam itu, kami pun jalan jalan. Aku dan Ichi-nii meninggalkan semua yang harus dikerjakan lebih dulu, dan Jiro, tentu saja melanggar jam malam. Kami menyusuri jalan Ikebukuro, pergi ke game center, makan malam, melihat lihat light novel dan game, hingga tanpa terasa sudah hampir jam dua belas malam. Dan saat itulah aku merasakan setelah berminggu minggu penuh keterasingan, pada akhirnya kami bertiga tetap lengkap dan saling mengenal.
Sebagai destinasi terakhir, Ichi-nii mengajak kami taman Ikebukuro dimana ada tananam menyerupai 3 burung hantu. Dan disitulah kami saling meminta maaf, dan akhirnya saling berpelukan.
Jiro menangis! Jiro memangis dan dia jelek sekali, jadi aku mengejeknya. Tapi air mataku juga kurang ajar jadi Jiro juga mengejekku. Ichi-nii juga sedikit berkaca-kaca, tapi kakak pertama kami itu tetap keren. Sangat keren. Ichi-nii yang membuat ini terjadi. Ichi-nii memang yang terhebat.
Ketika aku dan Ichi-nii mengantar Jiro kembali ke rumah sakit (di sini aku sempat mengejeknya bayi karena masih perlu diantar) aku bertanya pada Ichi-nii dia kemana selama seminggu. Ichi-nii bilang dia menenangkan diri dan menemui teman, lalu minta maaf karena tidak bilang lebih dulu.
"Ichi-nii, kau kejam."
"Oh, ada bayi yang menangis karena ditinggal di rumah sendirian?"
Aku sangat kesal tapi juga senang sekali akhirnya Jiro bisa mengejekku juga. Dih, perasaan tidak jelas macam apa ini.
Dan sekarang, dengan hubungan kami yang membaik, Jiro juga semakin stabil. Dia sudah mengingat semua soal Ichi-nii setelah perlahan lahan menjadi semakin dekat dan semakin dekat dengan Ichi-nii.
Dan, karena halusinasi Jiro juga berawal dari masalahnya dengan memori soal Ichi-nii, kedekatannya dengan Ichi-nii pun membuat semua halusinasi itu berkurang. Memang halusinasinya belum hilang sepenuhnya, namun dokter bilang tak seberbahaya sebelumnya, sehingga Jiro akhirnya bisa pulang.
Kini, di halaman rumah sakit seusai Jiro melakukan pemeriksaan, aku dan Ichi-nii sedang melihat Jiro memamerkan keahlian juggling-nya di depan anak SD yang menderita stress berat. Seperti biasa, dia kelihatan sangat menikmatinya. Untuk itu, ini adalah waktu yang tepat untuk mengganggunya.
Aku menghampiri Jiro. "Jiro."
"Hah?" ia menoleh tanpa menghentikan juggling.
Aku menonjok wajahnya, cukup kuat hingga dia terjatuh ke tanah, bola kesayangannya menggelinding menjauh. Hahah, mudah sekali menjatuhkan Jiro ketika dia tidak siap.
"Apa-apaan itu hah?" teriak Jiro dengan marah.
"Hei, lihat orang yang menyebut diri sendiri sebagai good fighter ini. Siapa sangka menjatuhkannya bisa begitu mudah?" ejekku. "Hah! Kurasa kau harus berhenti menyebut diri sendiri seperti itu, Jiro."
Jiro berdiri dan langsung menggulung lengan jaketnya. "Apa katamu? Kau memukulku hanya untuk mengatakan itu?"
"Sebenarnya… tidak." Aku berkata dengan muka bosan, lalu berbalik memunggunginya. "Anggap saja itu balasan karena sudah merepotkan banyak orang," kataku santai sambil mengangkat bahu.
Jiro tak menyahut lagi. Saat aku membalikkan badan, kulihat Jiro tidak jadi marah. Tangannya terkulai dan ekspresinya tampak gugup dan bersalah.
Saat itulah Ichi-nii menghampiri kami sambil tertawa. Ichi-nii mengambil topi Jiro, lalu mengacak-ngacak rambutnya. "Tidak perlu murung begitu, Jiro. Kita bertiga sudah selesaikan masalah itu, kan."
"Niichan..." Jiro menatap Ichi-nii. Oh lihat wajah bahagia dengan puppy eyes yang menjengkelkan itu. Aku harus menahan keinginan untuk mencorat coret mukanya.
"Benar, kan, Saburo?" tanya Ichi-nii.
Aku memberikan senyum-khusus-untuk-Ichi-nii-ku padanya. "Iya Ichi-nii."
Yeah. Akhirnya semua kembali normal.
Hai, namaku Saburo, anak ketiga Yamada. Aku punya dua kakak yang sangat bertolak belakang. Namun, kedua orang ini sangat berharga bagiku.
.
End.
.
.
.
Dan kali ini benar benar ending. Hahah.
Terima kasih yang sudah membaca dan semoga kalian menikmatinya. Jangan lupa tinggalkan like, comment, subscribe dan nyalakan lonceng /salah server Hil, /tabok.
Sekian dari saya.
Sekali lagi, happy birthday Jiro.
