Heavenly Dragon Killer

Naruto Masashi Kishimoto

High School DxD Ichie Ishibumi

Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain

HumanNaru, VeryGodLike Naru, SuperOverpowerNaru

Chapter 2

" Bagaimana dengan penampilanku sekarang Naruto – kun ? " Naruto dan Sasuke menatap pandangan di depan mereka dengan ekspresi datar walaupun terdapat sedikit semburat merah, namun tak ada di antara kedua pria itu yang menaruh perhatian lebih atas pertunjukkan yang dilakukan oleh seorang gadis jelmaan naga di hadapan mereka.

" Uhm, jadi kau suka tipe loli ya ... baiklah aku akan tetap dalam bentuk ini " Gadis itu memutuskan setelah melihat sedikit semburat merah dari Naruto setelah beberapa kali menggoda Naruto. Sasuke memberikan pandangan tak percaya pada masternya.

" Master ... tak kusangka kau ... pedofil " Satu perempatan terbentuk di dahi Naruto.

" Apa dasarmu untuk memutuskan aku begitu huh ? " Sasuke dengan simpel mengeluarkan buku catatannya lagi, membuka beberapa halaman sambil membaca sedikit untuk mencari informasi yang dapat menguatkan deduksinya.

" Ah, ini dia " Sasuke tersenyum puas begitu menemukan halaman yang ia cari.

" Ophis – sama telah menunjukkan berbagai pose kepada anda, dari yang berdada besar pemalu, hingga yang tsundere namun sama sekali tak mendapat reaksi. Dan sekarang Ophis – sama hadir dengan bentuk loli dan innocent, dan kulihat anda memerah walaupun sedikit tadi. Maka deduksiku memenuhi kriteria untuk dijadikan kesimpulan. Dapatkah aku menulisnya dalam catatanku ? "

" Ya, kau memperoleh izinku Uchiha – kun " jawab Ophis cepat.

" Oi, siapa kau hingga dapat memberikannya izin ? " protes Naruto pada Ophis yang hanya dibalas dengan pandangan innocent dari gadis loli jelmaan naga tanpa batas itu. Naruto menghela nafas panjang, sebelum kembali pada pandangan impasifnya.

" Ada apa kau mendatangiku Ophis ? "

" Seperti biasa Naruto – kun, aku ingin mendiskusikan kriteria anak yang akan kita produksi " Sasuke yang sedang minum tersedak dan terus terbatuk – batuk mendengar jawaban frontal tersebut. Naruto memilih untuk mengabaikan murid satu –satunya yang sekarang tengah berlutut di tanah sambil memukul – mukul dadanya untuk mendapatkan kembali nafasnya.

" Kau pikir aku mesin pencetak anak ?! Buat sendiri sana ! " Naruto menolak sambil memberi gestur seperti mengusir anak kucing.

" Memangnya bisa buat anak tanpa partner ? " tanya Ophis memiringkan kepalanya meningkatkan kadar keimutannya sukses membuat Sasuke sekali lagi tersedak dan Naruto memerah sedikit. Ah, ternyata deduksi Sasuke sangat tepat.

" Bisa! Pikirkan sendiri kau sang ketidakbatasan bukan ? artinya tiada batasan di dalam kamus hidupmu berarti kau dapat membuat anak sendiri " Naruto bersedekap dada sambil manggut – manggut memuji ide gila yang terlintas di kepalanya untuk mengusir Ophis pergi.

" Tapi, aku ingin anak yang kuat. Kalau aku membuatnya sendiri, maka Cuma ada kekuatanku dan itu tak cukup untuk mengusir si Baka Red dari rumahku "

" Dan itu bukan urusanku " Naruto bangkit berdiri dari batu besar yang ia duduki. " Lagipula, kau tak perlu anak dariku untuk melawan Great Red. Jika kau memberikanku jalan, aku dapat menghabisi si naga merah itu, walaupun akan berakibat buruk pada dunia sih. Tapi, apa peduliku selagi kau bahagia dan menjauh dariku maka aku senang – senang saja " Sasuke melebarkan matanya mendengar hal tersebut, ia yakin masternya tak berbohong. Great Red memang dapat ia kalahkan, namun ekstensi naga merah raksasa itu penting jika Naruto sampai membunuhnya maka dunia akan kiamat dan ia tak dapat membalas dendam pada Rizevim. Menolak pernyataan Naruto akan berakhir sia – sia, jadi Sasuke memberikan pandangan memohon pada Ophis yang sama sekali tak memandangnya.

Ophis cemberut membuatnya sangat imut lalu menggerutu " Mana ada asyiknya begitu "

" KAU PIKIR ASYIK MEMBUAT DAN MERAWAT MONSTER BERSAMAMU " balas Naruto dengan nada tinggi karena sudah tak tahan harus berlama – lama menghadapi Ophis yang begitu imut.

" Eh, bukannya membuat anak itu asyik. Aku membaca dari buku ini bahwa hal itu menyenangkan bagi kaum laki – laki " Ophis mengeluarkan sebuah buku bersampul orange yang berjudul Icha – Icha Paradise. Naruto dan Sasuke mematung seketika mendapati sang naga tanpa batas, Uroboros Dragon atau Ophis membaca bacaan laknat demikian. Naruto menatap lama buku tersebut lalu mengutuk dalam hati atas siapa saja yang menulis dan menerbitkan buku tersebut yang bahkan telah meracuni pikiran dari ekstensi terkuat di dunia.

" Ophis – sama darimana anda mendapatkan buku itu ? " Sasuke mengambil inisiatif membalas karena keheningan telah berlangsung begitu lama. Ophis menatap buku tersebut dengan pandangan blank, ia memasukkan kembali buku tersebut ke dalam saku bajunya.

" Aku menemukannya di jalan " jawab Ophis polos menghasilkan sweatdrop dari Naruto dan Sasuke.

" Kau ini pemulung ya ? " komentar Naruto yang hanya menerima tatapan polos dari Ophis.

" Pemulung itu apa ? "

" Oke lupakan apa yang aku katakan. Dan jangan memungut benda – benda dari jalanan lagi. Apa kau paham ? " Ophis menganggukan kepalanya lambat – lambat. Tangan Naruto terulur ke kepala Ophis dan mengelusnya lembut.

" Gadis pintar. Sasuke ayo kita pergi " Ophis menatap kepergian dua manusia terkuat tersebut dengan pandangan blank, tangan mungilnya terulur pada surai hitamnya yang dielus Naruto.

" Hangat " bisik Ophis kecil

XoX

Tujuan merupakan visi ke depan, dengan adanya tujuan maka makhluk hidup baru dapat dikatakan hidup secara harfiahnya. Tujuanlah yang membawa makhluk hidup untuk terus menjalani kehidupan mereka di dunia fana, sebagai contoh berbagai jenis binatang memiliki tujuan untuk bertahan hidup, maka dari itu mereka menjalankan rantai makanan, bertindak sebagai predator maupun mangsa untuk meraih tujuan tersebut.

Bagi Vali Lucifer, tujuan adalah pandangan ke depan, hal yang ingin ia perbuat dan wujudkan di masa depan. Tujuannya sederhana ia ingin membalas dendam pada ayah dan kakeknya yang bertanggung jawab atas pengalaman pahit masa kecilnya, tujuannya tersebut membuat ia berambisi untuk menjadi paling kuat dari yang terkuat, kehadiran Longinus Divine Dividing yang berkat anugerah darah dari Ibunya membuat peluang untuk mewujudkan ambisinya semakin besar.

Longinusnya berisikan kesadaran dari Raja Naga Putih( White Dragon Emperor), salah satu Naga surga yang dengan bodohnya mati karena telah menganggu peperangan besar antara 3 fraksi dan lagi yang paling memalukannya ia mati bersama dengan rivalnya di tangan manusia, yap manusia yang berada dalam tingkat terbawah dari seluruh makhluk di dunia ini dalam hal kekuatan. Ia dan rivalnya tidak hanya kalah, tapi mereka tewas dan beruntung God of Bible memanfaatkan kejadian itu untuk menyegel kesadaran mereka ke dalam artefak Sacred Gear tersebut.

Namun, itu merupakan kebenaran yang hanya diketahui segelintir orang. Banyak dari makhluk supranatural mengetahui bahwa God of Bible lah yang membunuh kedua naga itu, dan segelintir orang tersebut merupakan Azazel, guru sekaligus ayah angkat dari Vali Lucifer. Azazel yang telah berusia hampir ribuan tahun lebih dapat mengerti ambisi dan tekad Vali hanya dalam sekali pandang, ia memiliki segudang pengalaman dan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan Vali, maka dari itu Naruto menitipkan Vali kepadanya.

Divide

Tepat ketika bunyi mekanik tersebut berdengung satu – satunya da – tenshi dengan tiga pasang sayap yang masih berdiri mendadak lemas dan dalam gerakan lambat jatuh ke lantai yang serba putih bergabung dengan 99 da – tenshi bersayap 3 pasang lainnya yang telah terlebih dahulu tumbang. Azazel, sang pemimpin Grigory memandang sosok bocah laki – laki bersurai perak yang masih berdiri di ruangan latihannya itu dengan pandangan sedikit terkejut, ia mengelus janggut hitamnya melihat perkembangan Vali setelah 1 tahun pelatihan. Hasilnya sangat memuaskan, Vali berhasil memasuki Juggernaut Drivenya walaupun masih terbatas dan juga Vali dapat mengalahkan 100 Da – tenshi bersayap tiga pasang tanpa memasuki balance breaker dengan catatan waktu kurang dari 5 menit. Ini merupakan pengembangan yang mengejutkan dari pemegang longinus dalam sejarah baginya.

Namun, tatapan Azazel menajam. Itu belum cukup. Saat, Naruto dan Sasuke hadir di dalam ruangan labnya dengan membopong tubuh Vali yang pingsan, Azazel bersumpah ia lebih memilih untuk melarikan diri dibanding harus berhadapan dengan Naruto. Saat itu, dengan aura yang menggelora Naruto memerintah, yap tepat Naruto tidak memberikan penawaran ia memberikan perintah kepada ekstensi terkuat Grigory untuk melatih Vali menjadi Hakuryuukou terkuat sepanjang masa. Azazel tentu saja menerima perintah tersebut dengan senang hati, namun ia bingung, mengapa sosok Naruto, sosok yang bahkan sanggup untuk membunuh kedua raja naga surgawi tersebut memilih untuk bermain dalam bayangan, tak menampakkan sosoknya. Ia yakin dengan kemampuan Naruto, seluruh dunia akan berada dalam genggamannya dengan mudah. Ia pernah bertanya pada God of Bible mengenai ekstensi Naruto, namun ia hanya mendapat gelengan dari ayahnya. Itu sangat mengejutkannya karena mengetahui sang Pencipta bahkan tak mengetahui bagaimana Naruto dapat mencapai level saat ini.

Azazel menggelengkan kepalanya untuk menyudahi renungan singkat mengenai awal mula kedatangan Vali. Azazel memasuki ruangan latihan tersebut lalu bertepuk tangan memberikan apresiasi pada muridnya.

" Cemerlang seperti biasanya, Vali – kun " Vali mengangguk sebentar sebelum mengangkat tangannya ke atas dan seketika sepasang sayap dan gauntlet dari longinusnya menghilang.

" Aku butuh lebih, Azazel. Hanya segini tak akan mampu membuatku mencapai tujuanku. " Vali mengepalkan tangannya sembari mengingat tujuannya.

" Perkembanganmu saat ini sudah sangat baik. Sekarang, kita akan meningkatkan latihannya sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan dengan fisik manusia yang kau miliki. Sesuatu yang berlebihan tak akan pernah membawa pada keefektifan, dan hal itu berlaku pada semua hal. " Nasehat Azazel, Vali hanya bergumam tak jelas membalas nasehat dari gurunya tersebut. Azazel tersenyum tipis melihat tingkat Vali, ia menepuk pundak dari demi-devil tersebut untuk menarik perhatiannya. Begitu tatapan Vali terarah padanya, Azazel memiringkan kepalanya ke arah pintu memberi isyarat untuk beristirahat.

Vali mengangguk dan berjalan beriringan dengan Azazel meninggalkan ruangan latihan tersebut setelah sebelumnya terlebih dahulu meminta pihak medis untuk mengobati 100 da – tenshi yang telah dikalahkan oleh Vali. Di tengah perjalanan menuju ruangan makan, Vali bertanya kepada Azazel.

" Azazel ... sebenarnya bagaimana kau dapat bertemu denganku ? " Azazel menaikkan alisnya, ini merupakan pertama kalinya, Vali menanyakan bagaimana ia dapat membawa Vali ke Grigory.

" Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku menemukanmu sekarat di gurun tandus di dekat perbatasan Grigory ? " Azazel mengingatkan jawaban palsu yang ia berikan pada Vali satu tahun yang lalu.

" Ya, kau memang mengatakan seperti itu. Namun, samar – samar aku mengingat bahwa di gurun tandus tersebut aku bertemu dengan dua orang, dia bukan da – tenshi ataupun iblis ... auranya seperti manusia namun ... begitu kuat, begitu gelap, iris merah dari salah satu orang tersebut menjanjikan penderitaan yang berkepanjangan. Aku tak mengerti mengapa aku memiliki pandangan samar seperti itu di otakku " Vali menarasikan ingatan dari otaknya, saat menceritakan hal itu, tubuh Vali bergetar dan hal itu ditangkap sempurna oleh Azazel. Ia senang mendapati reaksi itu dari Vali, yang berarti Vali masih memiliki sisi baiknya dan ia berhasil untuk membuat Vali menjadi kuat tanpa menjadi monster yang haus akan kekuatan.

" Begitu ... kupikir itu hanya halusinasimu atau bayangan trauma yang dihasilkan dari masa lalumu. Kau tak perlu terlalu memikirkannya, bukankah ambisimu menjadi yang terkuat dari yang kuat ? " Vali menangkap bahwa Azazel berusaha mengalihkan topik, namun jawaban yang diberikan Azazel ada benarnya juga dan hal itu dipikirkan sebentar oleh Vali sebelum akhirnya Lucifer muda itu mengangguk tanda menyetujui apa yang dikatakan Azazel.

Azazel dalam diam bernafas lega.

' Belum. Jika ia mengetahuinya sekarang, itu hanya akan membuatnya drop. Uzumaki Naruto ... sebenarnya kau itu apa ? ' batin Azazel menatap lurus ke depan

TBC

Oke, ini sangat pendek. Aku tahu para pembaca pasti berpikiran seperti itu. Alur dari cerita ini akan kubuat sangat lambat dan banyak terjadi lompatan alur karena aku memang hanya berfokus pada Ddraig dan Albion. Mengenai pertanyaan mengapa Naruto tak bertarung dengan Great Red, itu sudah kubuat sifat Naruto di awal fic ini bukan, Naruto bukan maniak petarung, ia hanya tertarik untuk membunuh kedua naga surgawi tersebut. Terbukti Naruto tak takut jika harus berhadapan dengan Great Red dengan percakapannya melalui Ophis.

Lalu, disini aku lebih menekankan kekuatan Naruto yang jauh diluar nalar yang bahkan membuat Azazel lebih memilih lari dibanding harus bertarung. Sekian dulu kurasa ... sampai berjumpa di chap selanjutnya.