Heavenly Dragon Killer

Naruto Masashi Kishimoto

High School DxD Ichie Ishibumi

Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain

HumanNaru,VeryGodLike Naru, SuperOverpowerNaru

" Eve – chan ?! " bisik pemuda pirang itu. Dari nada bicaranya kentara sekali pemuda itu sangat terkejut.

" Huh ?! " Biarawati itu mengedip sebentar atas kebingungan pemuda tersebut sebelum akhirnya tersenyum kembali. " Maaf, sepertinya anda salah mengenaliku dengan orang lain. Namaku Asia Argento … salam kenal "

Chapter 4

Uchiha Sasuke mengerutkan alisnya, ia dan masternya sekarang tengah dalam perjalanan untuk mengantarkan biarawati yang mereka tanpa sengaja mereka temui sebelumnya menuju satu – satunya gereja yang mana juga sudah terlantar di pinggir kota Kuoh. Membicarakan tentang keanehan dan misteri dunia, Sasuke sudah sangat puas akan hal itu. Bersama dengan master pirangnya itu, mereka telah berkali – kali melawan makhluk – makhluk supranatural yang sebagian besar orang awam hanya menganggap eksistensi mereka sebagai ' Legenda '. Sebut saja, misteri mengenai segitiga Bermuda, ia dan masternya pernah sekali ke sana, dan ia hampir saja tewas jika sang master tidak turun tangan untuk membantai Hydra yang membentuk sarang di sana, kemudian pada kedalaman hutan Everest, mereka terpaksa untuk membantai sekumpulan Yetti karena begitu keras kepala tidak ingin mendengar penjelasan mereka.

Namun, kejadian yang sekarang tengah tertangkap pada kedua kornea matanya benar – benar membuat Sasuke tak habis pikir. Masternya, Uzumaki Naruto, sebuah eksistensi manusia yang telah jauh melewati batas kemampuan di dunia ini, seorang pemuda yang hanya tertarik untuk membunuh naga kelas surgawi, Ddraig dan Albion, seorang pemuda yang mengambil kutukan abadi hanya untuk menuntaskan hasratnya membasmi kedua naga surgawi itu berinteraksi dengan seorang gadis.

Hell, Sasuke sudah memeriksa buku catatannya dan banyak menemukan gadis – gadis atau wanita lain yang jauh lebih cantik dan seksi dibanding biarawati ini yang pernah beberapa kali mendekati masternya, namun sama sekali tidak mendapat tanggapan dari masternya tersebut. Belum lagi, Ophis yang sering kali datang hanya untuk menggoda Naruto dengan berbagai macam perubahan penampilan, sang naga tanpa batas itu saja baru dapat berinteraksi dengan Naruto setelah mencoba hampir 100 tahun, dan ini …. Biarawati ini …. Ia hanya mengenalkan nama dan kemudian masternya menawarkan dirinya sendiri, menawarkan dirinya sendiri untuk mengantar gadis itu ?! Fix sudah ini benar – benar hal teraneh yang pernah Uchiha Sasuke lalui selama masa hidupnya.

" Ada apa Uchiha – san ? Maaf, karena telah membuatmu harus mengangkat koperku … " Sasuke tersentak dari pikirannya begitu suara lembut yang berisikan rasa bersalah dan simpati itu ditujukan padanya. Sasuke melirik ke tangan kanannya yang mana terdapat satu koper besar yang sejatinya milik biarawati tersebut.

Sasuke dengan entengnya mengangkat koper besar itu hingga tergantung di pundaknya, " Tidak masalah nona, koper ini sama sekali tidak berat " ujarnya bermaksud meredakan kekhawatiran sang biarawati. Gadis biara itu hanya mengangguk dengan mulut yang terbuka kecil, tatapannya kembali kepada pemuda pirang yang berada di sampingnya, Asia memberikan senyuman kecil kepada pemuda yang impasif tersebut.

" Terima kasih Naruto – san karena telah mau membantuku. Ini pasti berkah dari Tuhan. Tuhan yang memandu jalanku kepada dua pemuda baik seperti kalian " Sasuke dan Naruto hanya memberikan anggukan ambigu atas ucapan penuh syukur Asia.

" Anda ini berasal dari gereja di kota Roma bukan, Argento – san ? " Sasuke bertanya dengan bahasa dan aksen Italia yang serupa dengan Asia gunakan. Gadis pirang itu menjawab pertanyaan Sasuke dengan antusias, kedua tangannya tertangkup di depan dada, kemudian ia memberikan tatapan berbinar pada Uchiha terakhir tersebut.

" Apa Uchiha – san pernah berkunjung ke kota Roma ? "

Sasuke mengangguk kecil, ia memandang kepada masternya yang membuat Asia melakukan hal yang sama. " Beberapa tahun yang lalu, kami pernah berada di sana. Master memiliki urusan kecil di sana "

Naruto mencubit dagunya berusaha mengingat, sebuah lintasan ingatan yang menggambarkan sebuah kota berarsitektur kuno yang hancur berantakan, dihiasi pula oleh bulu – bulu merpati yang rontok dimana – mana, dan terakhir di tengah kota tersebut terdapat satu kawah raksasa dimana dirinya duduk santai menginjak dua tubuh yang masing – masing memiliki gauntlet merah dan sepasang sayap biru.

Sasuke tersenyum kecil begitu melihat masternya mengangguk berhasil mengingat dimana beberapa ratus tahun sebelumnya ia pernah membuat daerah kekuasaan para Tenshi itu luluh hantak hanya untuk membasmi dua pemegang Sacred Gear yang menampung jiwa Heavenly Dragon, Ddraig dan Albion.

" Bagaimana dengan kotanya ? Roma begitu indah bukan Uchiha – san, Uzumaki – san ? " Naruto dan Sasuke sama sekali tidak tahu harus menjawab bagaimana atas pertanyaan antusias gadis itu, akan tetapi kedua pemuda itu mengernyit ketika memahami satu fakta dari pertanyaan tersebut.

Gadis biara ini sama sekali belum pernah untuk menikmati kota Roma, yang menjadi katanya merupakan salah satu kota spiritual terbaik di dunia. Begitu menyadari fakta itu, Sasuke menunduk hingga matanya benar – benar bertatapan dengan iris hijau Asia. Hatinya makin kelabu begitu melihat sinar antusias dari mata gadis itu begitu polos, khas anak kecil yang ingin belajar sesuatu.

" Kota itu sangat indah. " Sasuke tersentak mendengar masternya yang menjawab. Pemuda pirang itu menatap ke langit yang mulai menggelap hingga tak menyadari tatapan antusias Asia telah berpaling padanya " Setidaknya itu indah beberapa tahun yang lalu … " bisik Naruto yang hanya mampu didengar oleh Sasuke.

" Benarkah ?! Se – sejujurnya selama di Roma, aku selalu berada di gereja, mengurus para warga atau para biarawan dan biarawati yang terluka. Para warga yang biasanya kuobati selalu menceritakan bagaimana kota Roma, tapi karena tugasku – "

" Kau bisa melakukannya " ujar Naruto memotong ucapan Asia. Manusia terkuat itu memandang tanpa emosi ekspresi bingung dari gadis tersebut. " Sejujurnya, gadis biara kami tak akan mengantarmu menuju gereja tua yang kau maksud ini … "

Asia menegang mendengar itu, pikiran – pikiran buruk mulai menghantuinya. " U – Uzumaki – san bercanda bukan ? " tanya Asia gemetar.

" Apa wajahku berkata seperti itu ? "

Asia merasakan pundaknya memberat begitu ia melihat Naruto sangat serius dengan ucapannya. Dalam hati ia telah memanjatkan doa agar diberikan keselamatan. " Tenang saja Argento – san. " Sasuke menepuk pundak gadis itu sukses membuat Asia terlonjak kaget dan refleks melompat menjauh.

Sasuke tersenyum kecil, berusaha menenangkan. " Master dan aku tidak bermaksud buruk. Gereja tua yang kau maksud ini merupakan pangkalan bagi para rogue Exorcist dan rogue Da – tenshi. Sebagai orang gereja, kau pasti mengerti betapa bahayanya mereka bukan ? "

Mendengar penjelasan Sasuke masih membuat Asia tidak dapat tenang, ia melirik ke Naruto hanya untuk mendapati pemuda pirang itu menatap tanpa emosi kepadanya. " Be – benarkah ?! " pertanyaan itu keluar secara spontan.

Naruto dan Sasuke serentak mengangguk. Namun, Asia belum percaya.

" Ta – tapi, pihak gereja mengatakan bahwa Freed Selzan akan merawatku di sini. Freed Selzan dikatakan sebagai Exorcist yang sangat berbakti kepada gereja beberapa tahun yang lalu. "

" Mereka menjebakmu " ujar Naruto cepat. Iris matanya menajam. " Yang kau katakana adalah Freed Selzan 12 tahun yang lalu, Exorcist itu sekarang telah menjadi bawahan dari da – tenshi. Hanya dari cerita singkat mengenai kehidupanmu di gereja, kami juga dapat mengerti … "

" M – mengerti ? " Asia mengulang.

" Mengerti bahwa pihak gereja hanya memanfaatkanmu " ucapan Naruto yang tajam itu sukses meruntuhkan pertahanan Asia. Gadis itu spontan jatuh berlutut, air mata mulai mengenai di pelupuk matanya. Pemandangan di depan mereka sekarang ini benar – benar membuat Sasuke menggertakkan giginya, ia menyesalkan pilihan kata – kata masternya yang sangat buruk.

Namun sebelum sempat berbuat apa – apa, Sasuke kembali dikejutkan begitu Naruto telah berada di sisi gadis tersebut,mengulurkan tangannya agar dapat membantu gadis itu berdiri.

" Seorang gadis harus kuat. Kau hanya akan mati bodoh jika terus membiarkan mereka memanfaatkanmu " ujar Naruto. Sebuah kata – kata yang pedas memang, namun ucapan itu membuat Asia menghentikan tangisnya, entah bagaimana ia merasa seperti pernah mendengar kata – kata tersebut.

" Na – Naruto – san ! " Asia terpekik begitu Naruto mengenggam erat pergelangan tangannya dan dengan tarikan lembut menarik gadis itu berdiri dengan kedua kakinya. " Terlebih dahulu, kau harus mendengar penjelasan orang lain sampai selesai sebelum mengambil kesimpulan ataupun menilai seseorang "

Senyuman kecil terbentuk pada wajah Naruto begitu tangis Asia mulai berhenti. Dengan kondisi mentalnya sekarang, Naruto yakin Asia akan lebih mudah menangkap apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

" Kami akan membawamu langsung ke Taman Eden "

Dan, Asia hanya dapat melebarkan matanya mendengar nama tempat yang akan ia singgahi selanjutnya.

XoX

Hades, dewa dari Olympus yang satu – satunya memiliki kekuatan untuk dapat menguasai daerah neraka sesungguhnya. Daerah neraka yang menjadi tempat persinggahan bagi para arwah, baik itu dari makhluk supranatural maupun nonsupranatural sekalipun. Dewa yang berwujud tengkorak hidup raksasa yang mana bagian tubuh atasnya diselimuti jubah hitam itu hanya dapat menguap bosan, rongga matanya yang kosong menatap bosan pada beberapa Grim Reaper yang sibuk mengurus para arwah yang terus berdatangan ke dalam wilayahnya. Dengusan terdengar dari kedua lubang hidungnya, beribu – ribu tahun mengurus Underworld membuatnya sangat bosan, beribu – ribu tahun pula ia menampung segala keirian atas dewa – dewa lain, terutama dewa Olympus. Bagaimana tidak ? Selagi ia tinggal di tempat gelap, sunyi , dan suram ini, kedua saudaranya bersama dewa – dewa lain mengadakan penjamuan setiap harinya di tempat yang begitu terang benderang, nyaman, dan ramai. Ibarat kata, hari – harinya selalu diliputi kesialan sedangkan para saudaranya selalu merasakan kegembiraan.

Hades dengan bosan mengarahkan pandangannya pada balik pintu raksasa ruangannya. Dari arah luar tersebut terdengar suara hiruk pikuk yang membuat sepasang Cerberus penjaga ruangannya menggeram.

BRAKKK

SYUUT

Sesosok tubuh yang menghancurkan pintu ruangannya melaju cepat ke arahnya. Hades tak berbuat apa – apa, seusin Grim Reaper di sekitarnya secara otomatis bergerak untuk melindungi pemimpin mereka itu. Hades perlahan bangkit dari singgasananya begitu melihat sosok yang datang tadi adalah sosok yang ia kenal dekat. Dengan cepat rongga – rongga di tubuhnya dipadati oleh daging dan kulit hingga penampilannya menjadi seperti pria paruh baya dengan rambut panjang.

" Thanatos … siapa yang membuatmu menjadi berantakan begini ?! "

Thanatos, sang Grim Reaper tingkat tinggi yang mana merupakan tangan kanan Hades terdiam. Jubah hitam yang meliliti seluruh tubuhnya telah penuh dengan kotoran, selendang hitam penutup wajahnya juga telah sobek di tengah memperlihatkan wajahnya yang sedikit memar, dan lagi 12 sayapnya yang berbentuk peti kubur kini hanya tersisa 3 pasang. Thanatos hanya diam tak mampu berbicara, atau bahkan terlalu terpuruk karena harus dipermalukan di hadapan tuannya seperti ini.

Hades masih menatap tajam Thanatos sebelum suara geraman dan raungan dari sepasang Cerberus menarik perhatiannya. Irisnya melebarnya begitu melihat kedua cerberusnya segera meringkuk ketakutan begitu melihat sosok apa yang datang. Sosok itu datang bersama dengan dua orang, satu seorang pemuda yang telah ia kenal dan satu lagi seorang gadis yang baru saja ia lihat.

" Penyambutanmu tak pernah berubah setelah hampir 500 tahun lebih, Hades "

Hades segera mendapatkan kembali kesadarannya begitu mendengar ' sapaan ' dari sosok tersebut. Beberapa Grim Reaper yang mengetahui siapa sosok tersebut sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka sebelumnya sementara itu beberapa grim reaper muda mulai bergerak berkerumun untuk mengepung tiga sosok itu.

" Berhenti, dia berbahaya ! " Intruksi Hades segera menghentikan para Grim Reaper muda itu. Sosok itu tersenyum menyeringai, ia mulai berjalan menuju Hades meninggalkan dua orang yang bersamanya di belakang, suasana benar – benar tegang di sana, para Grim Reaper berhenti bekerja hanya untuk mengeratkan genggaman atas sabit, senjata utama mereka.

Mata Hades tak pernah meninggalkan sosok tersebut hingga sampai sosok itu berdiri di hadapannya.

" Masih saja pakai penampilan penipu seperti itu … kheh apa yang kuharapkan dari tengkorak tua tanpa daya imajinasi sepertimu … "

" Berhenti bertindak sok akrab padaku monster. Cepat katakana apa maumu ?! " ujar Hades tegas. Bahunya membungkuk sedikit begitu merasakan aura mengerikan yang datang dari sosok tersebut setelah ucapannya. " Monster katamu ? " sosok itu tersenyum arogan.

" Apalagi kata yang pantas untuk mendeskripsikanmu "

" Bah, terserah apa katamu. Aku hanya singgah kemari, tapi tangan kananmu ini menghadangku " Thanatos bergetar begitu melihat tatapan tajam sosok tersebut..

" Kau ingin ke Heaven lagi bukan ?! "

" Jika kau tahu mengapa bertanya ?! "

" Aku tentu tidak akan mengizinkanmu. Sudah cukup 500 tahun lalu kau membuat hubungan antara Olympus dan Heaven memanas. "

Sosok itu tersenyum miring " Kau menginginkan sesuatu bukan ? Jangan bersikap seolah kau peduli dengan perdamaian "

Hades balas tersenyum miring " Aku menginginkan kau mengacau sesekali di Olympus sana, dan kalau bisa bawalah kepala Zeus atau Poseidon kemari "

" Itu bukan hal yang sulit. Tapi, aku benci hal merepotkan yang datang setelah membunuh kedua saudara durhakamu itu … "

" Kalau begitu, aku tak akan membiarkanmu lewat " Hades dengan percaya dirinya berdiri berhadapan dengan sosok tersebut. Dalam sekejap pula, Thanatos sudah bangkit berdiri di samping Hades bersama ribuan Grim Reaper lainnya di belakang Hades.

Asia, gadis yang sosok itu bawa bersamanya bergemetar karena tak terbiasa dengan aura di ruangan tersebut. Beruntung sebelum kemari, kedua pemuda yang mengantarkannya kemari telah lebih dulu memberikan perlindungan, jika tidak ia pasti langsung tewas akibat aura Hades semenjak berada di ruangan tersebut.

Hades dan sosok itu masih saling menatap dengan tatapan meremehkan, ketegangan di ruangan itu makin pekat. Tangan kanan pemuda yang bersama Asia telah berada di pegangan katananya, iris matanya telah bergantikan merah dengan pola shuriken berbintang enam. Terlihat pula seberkas aura keunguan yang kapan saja siap membalut tubuhnya.

Dari pihak Hades, para Grim Reaper dan Thanatos mengeratkan genggaman pada sabit mereka. Intinya, kedua belah pihak sudah siap untuk bentrok, hanya menunggu intruksi dari pemimpin masing – masing.

" Kau tak ingin menyerah, Uzumaki Naruto ?! "

" Apa kami terlihat terancam ! "

Hades menggertakkan giginya, mulut dari Hades dan Naruto telah sama – sama terbuka, akan tetapi suara mereka tertutupi oleh suara bising yang baru saja menghancurkan dinding ruangan tersebut.

" UZUMAKI NARUTO ! AKU MENEMUKANMU! " Hades dan Naruto menatap tanpa ekspresi pada pemuda bersurai merah lurus yang baru saja membatalkan genderang perang mereka. Pemuda bersurai merah lurus yang tanpa sadar baru saja menghentikan kekacauan di Tartarus itu menunjuk wajah Naruto dengan wajah antusias. Iris ungu berpola riak airnya bersinar begitu melihat Naruto menatap ke arahnya dengan tatapan membunuh.

Mengapa ia senang akan hal itu ? Karena setelah beberapa ratus tahun menantang pemuda pirang yang didaulat sebagai manusia terkuat sepanjang masa itu, namanya masih belum terpatri pada ingatan rival yang ia daulat sendiri tersebut. Berulang kali bertarung, ia selalu dilupakan.

" Kali ini, pada pertarungan ke 1000 ini … aku akan membunuhmu, Uzumaki Naruto "

" Ah, itu tidak benar. Dalam catatanku, kau telah menantang Master 99.999 ribu kali, dan jika ini di hitung telah 100.000 kali. Pertarungan terlama yang pernah terjadi hanya sekitar 5 menit, dan itu sekitar 300 tahun yang lalu "

Sasuke menginterupsi dengan buku kecil di tangannya. Sebuah kacamata juga entah darimana telah nangkring di batang hidungnya. Asia hanya dapat tersenyum polos mendengar informasi dari Sasuke.

" sudah lama sekali ya … " respon Asia singkat.

Hades memijit kepalanya. Satu lagi manusia yang merepotkan datang untuk mengacau di tempatnya, inilah mengapa ia sangat iri dengan kedua saudaranya yang selalu berpesta di atas sana.

" Tuan, jika kita bisa memanfaatkan keadaan ini. Maka sekali dayung, tiga pulau terlewati " Thanatos memberikan nasehat kepada Hades, ia tentunya telah tahu siapa sosok yang datang ke daerah kekuasaan tuannya sekarang ( terkecuali untuk Asia ).

" Kau benar juga. Uzumaki Naruto, Nagato, dan Uchiha Sasuke … tiga orang ini benar – benar membuatku jengkel. Khehe ini kesempatan yang tepat untuk mengirim mereka bertiga ke kedalam Cocytus. Untuk gadis itu, biar kan saja ia tewas. " Hades menggosok – gosok dagunya memikirkan betapa bagus ide tersebut.

Nagato yang masih menerima tatapan membunuh dari Naruto maju selangkah. Dengan arogan, ia membusungkan dadanya ke depan.

" Aku belajar dari pertarungan kita yang terakhir bahwa serangan yang dengan damage tinggi dan berjangka luas tidak berpengaruh untukmu. Maka dari itu, terimalah ini ! "

100 rantai raksasa keunguan mencuat keluar dari punggung Nagato. Bagian pendulum pada rantai itu seketika berubah menjadi kepala naga begitu melayang di langit, kemudian semuanya bergerak langsung untuk menerkam sekitar.

Para Grim Reaper yang tidak siap siaga segera kehilangan nyawa begitu kepala naga itu melewati mereka. Sasuke dengan sigap meraih tubuh Asia untuk membawa gadis itu menjauh, dua rantai yang mengincar mereka dapat dengan mudah ia tepis menggunakan katananya. Hades melompat hingga berdiri di singgasananya, irisnya menyipit melihat sekitar seratus bawahannya telah kehilangan nyawa sia – sia.

" Bwahaha bagaimana dengan teknikku ini, Naruto ?! Kau kewalahan bukan " Naruto tak membalas, ia dengan gerakan – gerakan sederhana menghindari setiap rantai yang berusaha menyentuhnya.

Kondisi Naruto ini membuat Nagato tertawa – rantainya berkurang hingga hanya tinggal 10 buah, ia sengaja melakukannya untuk meningkatkan kecepatan dan daya serangnya. Setiap benda yang bersentuhan dengan rantai itu akan langsung menghilang tanpa jejak, seolah waktu dari benda yang tersentuh rantai tersebut itu terkikis habis.

Pola serangan Nagato menjadi semakin rumit, Grim Reaper yang tak beruntung berada dalam jangkauan serang terus berjatuhan, Thanatos hanya dapat menggertakkan jarinya karena tak dapat bergerak begitu ruang gerak mereka dibatasi oleh pergerakan cepat rantai tersebut.

Melihat itu membuat Asia menjadi khawatir seketika akan sosok yang berniat menolongnya itu, sementara Sasuke ia hanya menatap bosan pada pertarungan di depan mereka, tangan kanan yang sedari tadi memegang katananya berpindah merogoh kantong di belakang celananya, dan dari sana ia mengeluarkan … dua gumpalan bola nasi.

" Jangan khawatir Argento – san. Master dapat mengurusnya " Sasuke memberikan segumpal bola nasi itu kepada Asia yang gadis itu terima dengan polosnya, mereka makan dengan diam melihat pertarungan Naruto.

Syut

Naruto menyipitkan matanya begitu perlahan jubah orangenya menghilang setelah tersobek oleh rantai tersebut. Ekspresi wajahnya itu semakin membuat Nagato tertawa pongah, pemuda itu sangat puas melihat rivalnya dapat tertekan hingga seperti ini, dan begitu melihat Naruto berlutut dengan kedua tangan yang mengerat, Nagato yakin sosok itu telah pasrah, 10 rantainya segera bergabung menjadi satu dan dengan cepat meluncur ingin langsung menusuk Naruto dari depan.

Naruto di lain sisi hanya diam selagi sekumpulan rantai itu menuju ke arahnya, ekspresinya tak terlihat dan kedua tangannya bergetar akibat eratnya cengkaramannya. Begitu rantai itu berjarak 10 cm darinya, pemuda itu bangkit berdiri mengayunkan lengan kanannya ke belakang dan sedetik kemudian ayunan bertenaga itu menghantarkan tinju yang membuat tekanan angin dari lintasan tinju itu menggumpal.

PRANGGGGGG

Hades, Thanatos, Nagato, Asia dan para Grim Reaper yang masih selamat membulatkan mata mereka melihat rantai energy itu hancur berantakan tak bersisa. Nagato tak sempat berbuat apa – apa begitu tiba – tiba sebuah lutut telah menghantam wajahnya keras hingga mengantarkannya terbang melewati lubang yang ia ciptakan sebelumnya.

" PENGANGGU ! " Teriak Naruto keras. Sasuke yang mendengar rutukan itu menepuk kepalan tangan kanannya kepada telapak kirinya yang terbuka.

" Jadi begitu … Master menatapnya dengan tatapan membunuh karena menganggap Nagato sebagai penganggu bagi pertarungannya dengan Hades, bukan karena mengingat pemuda bersurai merah itu. Ini informasi penting " Asia tak tahu harus merespon apa begitu melihat Sasuke telah mencatat cepat informasi yang ia simpulkan sendiri pada catatannya.

Hades berkeringat dingin begitu Naruto kembali menatapnya. Dengan berusaha menjaga wibawanya, Hades berdehem.

" Jika kau memang benar – benar ingin pergi ke sana, setidaknya kau harus mengatakan terlebih dahulu tujuanmu kepadaku. "

" Kheh .. apa pentingnya bagiku untuk mengatakannya kepadamu. Aku bisa saja bertempur denganmu, baru pergi ke sana. Ah ~ apa kau takut melawanku, Hades ? " tanya Naruto dengan senyuman jahil.

" T – tidak mungkin. Tidak mungkin bagi dewa kematian sepertiku takut padamu. Aku hanya tak ingin tempat tinggalku semakin berantakan setelah aku membunuhmu. "

Naruto melunak, ia juga tak ingin membuat keributan di tempat ini. Sasaran yang ia ingin bunuh hanyalah dua naga surgawi, pihak lain tidak menjadi masalah selama tidak menganggunya. Naruto melirik Asia dan Sasuke yang berjalan mendekat.

" Aku ingin membawa gadis itu ke Taman Eden untuk menjumpai Michael "

" Gadis pirang itu ?! Aku terkejut kau mau berbuat sejauh itu hanya demi gadis ini. Bahkan naga betina itu tak pernah kau pedulikan " senyuman jahil dan menggoda muncul pada wajah Hades. Thanatos mulai bingung sekarang, Hades ini menganggap Naruto sebagai lawan atau bahan guyonan.

" Naga betina ? " tanya Naruto sama sekali tidak mengerti.

" Aku tak menyangka anda senang mendengar gossip, Hades – dono. Ini informasi menarik " Sasuke langsung mencatat informasi tersebut mengabaikan tatapan garang dari sang dewa kematian. Asia masih seperti biasa menatap polos pada interaksi absurd di depannya.

Hades mengusap wajahnya kasar. " Baiklah, kau dan rombonganmu boleh lewat. Tapi, jika sampai terjadi kekacauan di sana, aku tidak akan bertanggung jawab "

Naruto mendengus, dan dengan santainya berjalan melewati Hades menuju sebuah portal yang menjadi tujuan ia datang ke Tartarus. Sasuke dan Asia yang mengekorinya terlebih dahulu memasuki portal tersebut.

Sebelum pergi Naruto melengos kea rah Hades yang telah kembali seperti semula " Seperti kau bisa memilih saja " ujarnya sarkatis

TBC

Wah, enggak berasa udah lebih satu bulan enggak update. Enggak nyangka juga responnya bakalan seperti ini pada saat membuat fic ini, jadi aku benar – benar tersanjung. Kerangka dari fic ini telah kususun, dan kemungkinan akan tamat bersamaan dengan Longinus Balancer. Ha, mengenai fic itu masih belum bisa update karena materi di chap depannya memiliki keterkaitan dengan fic Longinus 14 th, jadi masih kutahan sementara. Untuk chap depan fic ini : akan lebih banyak membahas reaksi surga akan kedatangan Naruto, juga akan dibahas perlahan sejarah Naruto memperoleh kekuatan dan apa hubungannya dengan Asia, serta gambaran singkat mengapa ia begitu berambisi membunuh dua naga surgawi.