Heavenly Dragon Killer
Naruto Masashi Kishimoto
High School DxD Ichie Ishibumi
Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain
HumanNaru,VeryGodLike Naru, SuperOverpowerNaru
Chapter 5
Asia Argento, gadis yatim piatu yang telah meninggalkan gereja itu hanya dapat melebarkan matanya begitu bayangan – bayangan buram yang terpotong – potong melintas di kepalanya setelah memasuki portal yang Naruto dan Sasuke tunjukkan padanya. Tepat begitu tubuhnya melewati sebuah gelembung raksasa yang mengantarkan kepadanya sensasi mengantuk, hingga akhirnya semua bayangan suram dan terpotong itu tersusun rapi memperlihatkan seorang kakek tua yang sedang mengobati seorang pemuda di gubuk tuanya, nalurinya sebagai mantan pendeta gereja bergerak cepat untuk mentransfer kekuatan penyembuhnya namun tak ada reaksi apa – apa, pendar hijau yang menjadi kemampuannya itu sama sekali tak keluar. Gadis itu tak sempat untuk shok begitu dalam seorang gadis pirang muncul dari belakang dan … menembus dirinya.
" Grandpa, siapa pemuda ini ? Mengapa ia begitu berantakan ? " Seorang gadis yang serupa dengan dirinya bertanya pada seorang kakek yang duduk bersimpuh di dekat tubuh seorang pemuda bersurai pirang. Asia tak dapat mengenali wajah pemuda tersebut karena entah mengapa wajahnya kabur.
Kakek tua yang sedang sibuk membalut beberapa luka di tubuh pemuda tersebut dengan perban itu hanya mengangkat bahunya. " Entahlah Eve, para penduduk menemukannya terbaring tak sadarkan diri di tepi pantai. Mengetahui bahwa ia masih hidup, para penduduk membawanya kemari untuk diobati "
Gadis yang serupa dengan Asia, Eve, itu mengangguk kepala lambat – lambat. " Kalau begitu, aku akan membantu Grandpa " ujarnya mengambil tempat duduk tak jauh dari kakek tersebut. Dengan telaten gadis itu meracik beberapa helai tanaman obat – obattan dan kemudian membasuhnya dengan lembut di beberapa luka pemuda tersebut. Gadis itu tersenyum tipis begitu melihat pemuda itu mengerang kecil setelah ia obati.
" Aku tak tahu apa yang telah terjadi padanya, namun hanya dengan melihat lukanya … ia sangat beruntung masih hidup " Kakek itu memulai perbincangan ringan, iris matanya yang telah menyipit terus memperhatikan langkah gadis itu mengobati pasien mereka. Tangannya naik mengelus janggut putih panjangnya begitu melihat Eve telah selesai merawat pemuda tersebut dengan langkah terakhir menempelkan secarik kain basah ke dahi pemuda tersebut.
" Kau benar Grandpa … aku tak tahu kemalangan seperti apa yang menimpanya hingga luka – luka seperti ini "
" Ugh … " Eve dan kakek itu sontak menoleh begitu mendengar erangan kecil dari pemuda tersebut, helaan nafas lega serentak mereka keluarkan begitu melihat pemuda itu mulai membuka kelopak matanya, memamerkan sepasang iris biru yang begitu indah.
" Dimana aku ? " tanya pemuda itu lemah, namun baik Eve ataupun kakek itu hanya mengernyit. Mereka sama sekali tak mengerti apa yang pemuda itu ucapkan, bahasa yang ia gunakan begitu asing di telinga mereka.
Pemuda itu bergumam pendek, dan akhirnya terlonjak bangun begitu menyadari terdapat orang lain di sampingnya.
" S – siapa kalian ?! " tanyanya lagi sambil menunjuk Eve dan kakek itu. Kedua tabib desa yang sama sekali tak mengerti apa yang diucapkan pemuda tersebut hanya dapat mengangkat tangan dengan canggung. Eve berdehem kecil, ia memajukan tubuhnya hingga condong kepada pemuda itu yang semakin merasa terancam. Gadis pirang itu menunjuk dirinya sendiri, dan dengan senyum lembut berucap.
" Eve " kemudian, telunjuk gadis itu mengarah kepada pemuda tersebut. Memberi isyarat untuk pemuda itu memperkenalkan dirinya.
" Na – "
SISTER ASIA ARGENTO – SAN!
Asia, gadis pirang itu mengerjapkan matanya berulang kali, kebingungan akan selintas bayangan ingatan yang terlintas di otaknya segera menghilang digantikan kekaguman akan keindahan dari pemandangan di hadapannya.
" Jadi begini kah Taman Eden itu ? tidak terlalu mengherankan mengingat tanah yang kita pijak sekarang adalah Heaven itu sendiri " komentar Sasuke. Dengan tangan yang tersembunyi di balik sakunya, murid satu – satunya Uzumaki Naruto itu mengobservasi sekelilingnya. Setelah puas, ia menghirup napas panjang dan segera menghembuskannya lagi dengan desahan lega.
" Bahkan udaranya jauh lebih segar … "
" Hentikan tingkah kampunganmu Sasuke. Bersiaplah, sebentar lagi para penjaga akan segera menyambut kehadiran kita " tegur Naruto dengan tatapan bosan, sama sekali tak ada binar ketertarikan dari iris birunya yang dingin. Pemuda yang disebut – sebut sebagai manusia terkuat sepanjang masa itu melirik sebentar ke arah gadis pirang yang menjadi alasan mereka kemari. Alisnya mengkerut melihat kekaguman yang tercetak jelas di wajah gadis itu.
' Bahkan, ekspresinya sama seperti Eve – chan. Apakah reinkarnasi itu mungkin ? '
Berbeda dengan kedua pemuda yang membawanya kemari, Asia masih tenggelam dalam ketidakpercayaan bahwa ia berdiri di tanah Taman Eden, sebuah tempat yang begitu suci bagi para penganut ajaran God Of Bibble sepertinya. Taman Eden yang dikatakan sebagai tempat awal mula Adam dan Eve diciptakan dan dipersatukan sebelum akhirnya dijatuhkan ke bumi karena tergoda oleh rayuan Samael. Sayangnya, keindahan yang tak dapat dilukiskan dengan kata – kata itu hanya terjadi sejenak, dalam sekejap satu battalion malaikat yang bervariasi jumlah sayapnya segera datang mengelilingi mereka dengan gerakan mengintimidasi.
Sasuke segera bertindak tanggap, menarik Asia hingga berlindung di balik punggungnya, tangan kirinya dibentangkan lurus untuk menutupi keberadaan gadis itu sedangkan jempol tangan kanannya berada pada pinggiran katanya siap untuk menyerang jika memang diharuskan ada pertempuran di sana.
Melihat gesture Sasuke membuat para malaikat penjaga itu segera membentuk gerakan waspada. Sebagian besar dari mereka bahkan telah membentuk sepasang pedang cahaya.
Keadaan masih tegang, dari kubu Naruto sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka datang dengan tujuan baik, Sasuke yang menunjukkan gesture siap bertarung sedangkan Naruto memberikan tatapan tajam lurus ke depan.
Beberapa malaikat yang tepat berada di hadapan pemuda pirang itu meneguk ludah begitu merasakan energy besar ketika melihat bibir pemuda itu mulai terpisah.
" Pertemukan aku dengan Michael. Ada yang harus ia jelaskan padaku "
Kata – kata yang dikeluarkan Naruto semakin memperkeruh suasana. Malaikat memang dikatakan sebagai makhluk yang diberkahi dengan segala kebaikan, akan tetapi mereka juga memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada pemimpin mereka dan kata – kata Naruto tadi jelas saja membuat mereka mulai terpancing emosi.
Naruto mengeluarkan intruksi, dan pada kalimat kedua jelas sekali pemuda itu menunjukkan bahwa pemimpin mereka, sang Archangel, tangan kanan God Of Bibble telah melakukan kesalahan fatal terhadap pemuda tersebut.
Tak tahan dengan situasi seperti itu, salah satu malaikat yang memiliki 4 pasang sayap maju selangkah berhadapan dengan pemuda tersebut yang telah menukikkan alisnya. " Sebelumnya, kami ingin mengetahui apa maksud dan tujuan kalian kemari … "
" Bukankah Master telah mengatakannya dengan jelas. Ia ingin bertemu dengan pemimpin kalian karena pemimpin kalian berhutang penjelasan pada Master "
Malaikat itu menoleh sebentar pada Sasuke yang menatap balik tanpa ekspresi. Suara bisik malaikat tingkat bawah mulai menggebu begitu kata – kata Sasuke menjorok pada provokasi untuk memulai pertarungan. Namun seketika malaikat itu mengangkat tangannya, keheningan kembali tercipta.
" Maaf tuan, Michael – sama tidak dapat menemui anda secara langsung. Beliau memiliki banyak urusan penting "
" Begitu ? Aku baru tahu bahwa Archangel memiliki urusan yang lebih penting dibandingkan keadaan salah satu umatnya " ujar Naruto sarkatis. Mendengar itu, malaikat itu menatap tajam Naruto.
" Maaf tuan, tapi ucapan anda terkesan begitu merendahkan Michael – sama. "
" Mah … mah … maaf saja, aku lupa bahwa Archangel itu sangat sibuk sekarang menggantikan ayah kalian yang telah tiada " balas Naruto santai.
Ucapan terakhir Naruto menghasilkan keheningan seketika di taman tersebut, bahkan tak ada lagi alunan melodi dari kicauan burung ataupun serangga di taman terindah itu. Sasuke masih tak berekspresi namun katananya semakin menampakkan diri begitu keheningan itu perlahan digantikan oleh aura yang begitu tak nyaman.
Berbeda dengan para malaikat, Asia begitu terkejut hingga kedua kakinya bergemetar hebat.
" Na – Na – "
" Bagaimana kau bisa mengetahuinya, manusia ? " niat Asia untuk mengkonfirmasi ucapan Naruto digantikan oleh malaikat bersayap 4 pasang itu. Berbeda dengan sebelumnya, malaikat itu tak lagi berbicara formal, iris matanya menatap tajam pemuda pirang itu dan sesekali terlihat beberapa kilatan cahaya mulai menggumpal di tangan kanannya.
" Nah, penampilanku memang tak mencerminkan usiaku. Namun, perlu kau tahu … " senyum dan sikap santai Naruto menguap digantikan seringai mengerikan " Aku telah hidup begitu lama hingga melupakan bagaimana cara menjalani kehidupan "
' Manusia ini sangat berbahaya. Beberapa malaikat tingkat bawah bahkan mulai menunjukkan gejala akan ' jatuh'. Untuk sekarang, pemuda ini memang harus dieksekusi ' batin malaikat itu melirik jauh ke belakang terdapat beberapa malaikat bersayap satu pasang yang terlihat terguncang mendengar kata – kata Naruto.
" Na – Naruto – san apakah itu benar – apakah itu benar bahwa Ayah telah ti – ada ? " tanya Asia terbata – bata, dan gadis itu segera jatuh terduduk begitu memperoleh anggukan kecil Naruto yang masih menatap ke depan.
" Brengsek kau ! " Malaikat bersayap empat pasang itu dalam waktu singkat segera memadatkan dua cahaya di masing – masing tangannya menjadi sebuah tombak dan melesat menuju Naruto yang hanya menggerakkan bibirnya, memberikan sebuah perintah tanpa suara
TRANG
Naruto menatap datar percikan cahaya akibat kehancuran dua tombak cahaya yang berniat menikamnya tadi, berbeda dengan pemuda pirang tersebut, malaikat yang menyerangnya hanya dapat melebarkan matanya melihat tombak cahayanya hancur berkeping – keping setelah seorang pemuda raven tiba – tiba menghalangi jalannya dengan kedua jarinya yang bergerak menahan tombak tersebut. Terlebih dari itu, pemuda itu hanya mengenakan dua jari dari tangan kanannya sementara tangan kirinya menyentuh punggung Asia yang digendong di atas pundaknya.
Memanfaatkan celah tersebut, dua jari Sasuke merapat, kemudian melaju kencang memukul wajah sang malaikat dengan ayunan pelan.
BUAKK
Melihat salah satu rekan mereka dengan mudahnya terhempas ratusan meter hanya karena pukulan yang tergolong pelan tersebut semakin membuat keadaan menjadi tegang, bahkan seluruh pasukan di sana telah bersedia dengan tombak ataupun pedang cahaya mereka masing – masing.
" Jangan serang mereka dari jarak dekat. Serangan jarak jauh atau menengah akan lebih efektif untuk melawan mereka " salah satu malaikat lain memperingati, berbeda dari yang lain malaikat itu lebih menggunakan otaknya dan mampu membuat analisis yang cukup bagus dalam waktu sesingkat itu.
" Baik ! " ujar serentak para pasukan malaikat itu mulai membentangkan sayap mereka untuk melakukan serangan jarak jauh. Melihat itu, Sasuke perlahan berjongkok, kemudian menurunkan Asia yang masih terguncang dari pundaknya. Uchiha terakhir itu melirik gurunya sebentar yang hanya menatap tanpa ekspresi pada pasukan malaikat yang mulai terbang mengitari mereka membentuk sebuah formasi kubah telur sehingga tak ada jalan keluar bagi mereka.
" Master, aku dapat menanganinya "
" Ya, lakukan dalam 5 detik " balas Naruto cepat dengan nada malas yang begitu dominan membuat Sasuke menarik seringai.
" Akan kuselesaikan dalam 3 detik "
Setelah selesai mengucapkan sumpahnya, aura keunguan segera membungkus tubuh pemuda raven tersebut, pergerakan aura itu hingga membuat para pasukan malaikat tanpa pikir panjang segera melemparkan serangan – serangan jarak jauh yang mereka miliki namun tetap saja tak ada satupun yang menggores aura tersebut hingga berwujud seorang tengu raksasa keunguan.
" Kalian tamat sekarang " bisik Sasuke mengeratkan genggaman pada tangannya sendiri dan seketika, tengu raksasa yang membungkusnya merunduk membentuk kuda – kuda dengan tangan kiri nya meraih sebuah pedang energy yang tersarung di pinggangnya.
BLESSHH
Suara tebasan itu berdengung nyaring di udara, seluruh serangan cahaya yang membombardir segera melenyap dan dalam sekejap kemudian sebuah tekanan angin luar biasa dirasakan masing – masing malaikat tersebut hingga mereka semua terhempas beberapa kilometer secara acak, bahkan tak sedikit malaikat rendahan yang tak mampu menahan tekanan angin itu hingga berakhir dengan tubuhnya yang terkoyak – koyak.
Melirik ke bawah tengu raksasa itu, Naruto berdiri dengan tenang, Asia yang masih terguncang berada dalam dekapannya terlindungi oleh mantel yang entah sejak kapan ia bawa.
" Kau berlebihan … " Komentar Naruto melihat area sekeliling mereka yang tadinya begitu indah menjadi horror dengan tubuh – tubuh para malaikat yang terbaring tak sadarkan diri dan juga bulu – bulu putih khas burung merpati dari para malaikat yang telah tak bernyawa.
Sasuke menutup iris matanya dan perlahan aura ungu yang membungkusnya memudar hingga ia berdiri sejajar kembali dengan masternya.
" Tidak juga master. Aku melakukan ini agar Michael – sama dan pemimpin mereka yang lain segera bergerak ke sini, mereka pasti akan bergerak cepat begitu mendeteksi serangan luar biasa di taman mereka. "
" Dan kelihatannya metodeku berhasil " ujar Sasuke dengan senyuman puas seraya menulis beberapa kata pada catatan usangnya setelah melihat 4 Seraph Heaven berdiri melayang tak jauh dari mereka.
" Akhirnya kalian datang juga para pemimpin dari merpati ini … " Naruto menatap keempat Seraph dengan pandangan bosan, sama sekali tak terpengaruh akan tekanan energy dari keempat seraph tersebut.
" Apa yang kau inginkan Uzumaki Naruto ?! dan mengapa kau dan muridmu membuat kekacauan di tempat ini ? " Raphael yang dahulu menyahut ' Sapaan ' pemuda terkuat tersebut.
Pemuda pirang itu menyingkirkan jubahnya yang menyelimuti Asia, dan dengan sebuah gerakan lembut ia membalik Asia hingga menatap keempat Seraph tersebut.
" Aku percaya kalian berhutang penjelasan pada gadis malang ini "
XoX
" Biar kuulangi … " Seorang pria berkulit pucat, bersurai hitam panjang, dengan iris mata merah menyala dan telinganya yang runcing mengucapkan kata tersebut dengan penuh intimidasi " kalian tidak menemukan keberadaan mantan Biarawati pemilik Twilight Healing yang seharusnya menjadi sandera kita " Pria itu berpaling pada 4 bawahannya yang hanya dapat menundukkan kepala mereka dalam – dalam, terlihat tubuh mereka sedikit bergetar menerima tatapan intimidasi dari pemimpin mereka ini. " Apa benar begitu, Raynare, Dohnaseek, Mitelt, dan Kalawarner ? "
Begitu nama mereka satu persatu disebutkan, keempat bawahan itu hanya sanggup meneguk ludah kepayahan. Salah satu gadis bersurai raven panjang dengan pakaian seksinya meneguk ludah dan mengangkat kepalanya " Maafkan hamba Kokabiel – sama, hamba telah memastikan bahwa sandera kita ini telah masuk ke kota Kuoh namun entah mengapa, dalam waktu sekejap tiba – tiba ia menghilang. Tapi, Kokabiel – sama tenang saja – "
" Tenang, kau bilang ?! " Kata – kota malaikat jatuh rendahan itu segera terputus begitu Kokabiel menghardiknya lantang. Tubuh mereka berempat semakin bergetar taktala pria itu bangkit dari kursinya memperlihatkan 5 pasang sayap merpati yang kehitaman layaknya seekor gagak. Bibirnya yang sedari tadi terkatup rapat melebar memperlihatkan deretan gigi runcing yang semakin membuat sosoknya terlihat menyeramkan.
" Kau sudah gagal Raynare. Aku telah mentolerir kesalahanmu sekali karena gagal membunuh salah satu manusia pemilik Longinus : Boosted Gear, yang bahkan memberikan keuntungan bagi ras musuh kita, ras Iblis. "
Tangan sang pria itu terkepal dan dalam sekejap tombak yang terbuat dari cahaya berada dalam genggamannya. Tombak itu begitu tipis layaknya sepotong lidi namun panjangnya menyetarai tubuh sang pemilik, dalam keadaan berdiri ujung runcing tombak itu bahkan hampir menancap pada kepala gadis malaikat jatuh yang bernama Raynare.
Raynare hanya dapat terdiam dengan tatapan horror, hanya dengan menambah konsentrasi dari tombak tersebut, maka kepalanya akan segera bolong dan akhirnya … ia mati. Memikirkannya saja sudah membuatnya gemetar tiada henti. Hal yang sama dirasakan oleh tiga malaikat jatuh lain yang bersimpuh bersampingan dengan Raynare.
" Maafkan hamba, Kokabiel – sama. Hamba bersumpah akan lebih giat lagi agar tak mengecewakan anda yang mulia Kokabiel. " Raynare memohon dengan ucapan terputus – putus.
Seketika, tombak cahaya itu memanjang dan menembus kepala Raynare yang dalam sekejap telah berubah menjadi tumpukan bulu – bulu gagak yang semakin lama terkikis menjadi debu. Pandangan mengerikan itu menjadi serangan mental tersendiri bagi tiga malaikat jatuh lain yang tak memiliki waktu hanya sekedar berbela sungkawa atas kematian rekan mereka.
Kokabiel dengan tenang menghilangkan tombak cahaya nya dan menatap tiga malaikat jatuh yang tersisa.
" Kalian harus belajar dari pengalaman ini. Aku tidak butuh sumpah kalian, yang kuinginkan kalian berhasil menjalankan misi yang kuperintahkan. Apa kalian mengerti ?! "
Anggukan cepat diberikan ketiga malaikat tersebut, mereka sama sekali tak memiliki keberanian untuk mengeluarkan satu huruf pun setelah melihat kematian sekejap rekan mereka.
Melihat itu, Kokabiel tersenyum sadis. " Kalau begitu, misi kalian selanjutnya adalah … buat kekacauan di kota Kuoh, pancing para iblis kecil itu untuk bertarung dengan kalian. Ini akan menjadi acara hiburan sebelum aku membunuh kedua pewaris tersebut dan saat – saat yang kita tunggu akan tiba … GREAT WAR jilid kedua HUAHAHAHAH "
Kokabiel tertawa pongah seraya mengistirahatkan kembali bokongnya pada singgasananya. 10 menit ia habiskan hanya untuk menunjukkan kepuasan atas rencana sederhana yang ia susun itu.
Setelah selesai mengaggumi rencananya, ia menatap kembali para bawahannya.
" Nah, pergilah ! dan jangan membuat kesalahan yang sama seperti rekan kalian yang baru saja tewas itu ! "
" Baik, Kokabiel – sama " Sepeninggal para bawahannya, Kokabiel melunturkan seringainya.
' Sepintas, aku sempat merasakan hawa keberadaan – nya di Kuoh seminggu yang lalu. Apakah dia ada hubungannya dengan mantan biarawati yang menghilang itu … '
Kokabiel menggelengkan kepalanya, merutuk pemikirannya sendiri " Tak mungkin manusia sepertinya dapat bertahan hidup hingga ribuan tahun. Kheh, kurasa aku hanya terlalu rindu pada arena pertempuran "
Sementara itu, di Akademi Kuoh, tepatnya di ruangan ORC 4 iblis remaja sedang berkumpul membahas hal yang serupa dengan para malaikat jatuh
" Buchou, setelah seminggu ini aku dan Koneko – san mengintai kegiatan malaikat jatuh di gereja terbengkalai. Kami masih belum menemukan keberadaan mantan biarawati yang anda sebutkan itu " Yuuto Kiba, seorang pemuda yang dijuluki Kuoh Academy Prince atas ketampanan wajah dan wibawanya sebagai pria sejati menyampaikan laporannya kepada gadis bersurai merah yang menopang kepalanya di atas lipatan tangannya sendiri.
" Apa itu benar, Koneko – chan ? " Gadis bersurai merah itu menatap gadis bersurai putih dengan perawakan mungil yang sedang sibuk mengemut lollipop warna – warni di tangannya.
Koneko menatap sang penanya tanpa ekspresi lalu memberikan anggukan singkat, kemudian kembali mengemut lolipopnya.
Melihat anggukan itu membuat sang gadis bersurai merah mendesah kecewa dan sukses pula menghasilkan kikikan geli dari gadis bersurai hitam panjang yang berdiri setia dibelakang kursi kerja sang gadis bersurai merah.
" Ara Rias – Buchou sepertinya, ada yang salah dengan informasi yang kita peroleh … "
Rias bangkit berdiri, berkacak pinggang sambil menatap bulan yang tengah bersinar terang.
" Itu belum bisa diputuskan ! Informasi ini kita peroleh langsung dari Nii – sama, tak mungkin Nii – sama bersama berbohong padaku. Yuuto, Koneko – chan … apa kalian tidak menangkap gelagat aneh dari mereka ? "
Yuuto dan Koneko berhenti melakukan kegiatan mereka, menerawang kembali kegiatan mereka sejak seminggu yang lalu. Koneko yang pertama kali menyadari sesuatu yang janggal " Ah, kalau diingat – ingat mereka juga seperti sedang menunggu seseorang "
" Bisa kau jelaskan, Koneko – chan ?! " Rias segera bersemangat mendengar ini.
" Ini hanya perkiraanku saja Buchou, sebab kulihat mereka sibuk mempersiapkan altar di ruang bawah tanah. Kemungkinan itu digunakan untuk mengambil sacred gear dari mantan biarawati yang Buchou maksud itu "
" Uhm, aku juga melihat salah satu malaikat jatuh yang membunuh Issei – kun dulu berada di sana. Dan gerak – gerik mereka terlihat begitu gelisah. Sepertinya ada pihak lain yang merusak scenario ini " Yuuto menambahkan.
" Begitu kah ? Kerja bagus Koneko – chan dan kau juga Yuuto. Untuk sementara hentikan dahulu misi kalian, dan Akeno bagaimana dengan tugasmu untuk melatih Issei dalam pengendalian sihirnya. "
Gadis bersurai hitam panjang itu membentuk sebuah senyum manis " Ara ara sejauh ini masih belum ada perkembangan yang signifikan, karena selama latihan Issei – kun selalu terpaku pada payudaraku fufufu "
" Mesum " celetuk Koneko
Sedangkan Rias dan Yuuto hanya dapat sweatdrop mendengar laporan dari Queen Rias itu.
Rias menghela nafas panjang " Aku tak peduli bagaimana caranya, Akeno kau harus mampu membuat Issei mengembangkan kemampuan Longinusnya sebelum Raiser kemari "
' Dan juga untuk memenuhi keinginan Nii – sama. Entah mengapa, Nii – sama begitu keras tentang membuat Issei menjadi kuat ' lanjut Rias dalam hatinya.
" Ara ara akan kulaksanakan Buchou. "
XoX
" Begitu ya … atas nama Heaven saya benar – benar minta maaf atas kemalangan yang telah menimpa anda, Asia Argento – kun " Asia, mantan biarawati yang polo situ terbelalak begitu melihat Michael, sang Archangel, tangan kanan dari God of Bibble menundukkan kepala padanya, kepada biarawati yang diusir dari gereja dan dicap sebagai penyihir karena menggunakan kemampuan penyembuhnya pada iblis.
" A- Ano Michael – s – sama, anda –"
" Baguslah jika kau mengerti bagaimana caranya meminta maaf, merpati " Ucapan gagap Asia segera dipotong kalimat penuh sarkatis dari Naruto yang berdiri tenang di belakang Asia, tak jauh dari mereka berdua, Sasuke berdiri santai di depan tiga Seraph lainnya, tangan kiri satu – satunya murid Naruto itu terus bertengger pada katananya.
" Naruto – san, saya akan sangat menghargai anda jika dapat menyaring kata – kata di tempat yang suci ini " Michael mengeluarkan sindiran dengan halusnya.
" Maaf, aku tidak mendengarkan ucapan dari seseorang atau makhluk yang kupandang rendah " balas Naruto tak berdosa.
Mendengar balasan yang sungguh mencoreng kehormatan dari saudara mereka, membuat Uriel dan Raphael mulai melangkah maju berniat melabrak Naruto, akan tetapi baru selangkah berjalan mereka segera melompat kembali ke belakang begitu lesatan energy melayang cepat ke arah mereka.
" Sudah kukatakan sebelumnya. Kami cuma butuh penjelasan dari Archangel, Seraph lain tak berguna bagi kami " peringat Sasuke yang telah kembali menyarungkan katana nya.
' Serangan tadi begitu cepat, tak mengherankan jika mengingat kepada siapa ia berguru ' batin Uriel menatap seksama Sasuke yang masih berdiri menghadang 3 Seraph lain.
Sasuke melirik sebentar ke belakang.
" Maaf Michael – sama, tapi anda sama sekali belum menjelaskan mengapa Sister Asia memperoleh nasib seperti itu. Permintaan maaf anda tak akan menghilangkan atau bahkan mengurangi penderitaan yang diterima gadis malang ini "
" Sasuke – san, anda tidak perlu sampai seperti itu " Asia tergagap melihat bagaimana Naruto dan Sasuke begitu mendukungnya walaupun dengan tindakan – tindakan tidak hormat kepada para pemimpin Heaven.
Michael menganggukkan kepalanya. " Anda benar Uchiha – san, baiklah Asia – kun … aku akan mencoba menjelaskannya. "
Dengan ekspresi sendu, Michael memulai ceritanya " Sebenarnya, semenjak ketiadaan ' Ayah ', sistem Heaven mulai mengalami kemerosotan. Dampak dari kemerosotan ini dapat dilihat dari tidak seimbangnya penyebaran kasih God Of Bibble di dunia, dan dalam dunia supranatural, hal itu terlihat begitu jelas begitu makhluk – makhluk setengah manusia berhasil mendapatkan Sacred Gear bahkan hingga ke tingkat Longinus sekalipun. Sacred gear milik mu Asia – kun merupakan artefak yang mewakili konsep akan kasih ' Ayah ', dengan kehadiran sacred gearmu ini, sistem Heaven mulai mengalami kemerosotan kembali, dan sebagai pemimpin Heaven setelah ' Ayah ' tiada, saya harus mengurangi dampak dari sacred gear Asia – kun untuk melindungi kehidupan yang lain "
Tangan Michael naik mengelus pelan pundak Asia
" Akibat kemerosotan ini melemahnya kepercayaan akan ' Ayah ' dan itu berdampak pula pada eksistensi kami semua. Untuk menjaga sistem berjalan dengan baik, maka kami para Seraph mengambil keputusan untuk menghilangkan faktor – faktor yang mungkin akan lebih memperparah kemerosotan sistem itu "
Asia terdiam, perlahan pelupuk matanya mulai banjir kembali " Da – n, berkah Tuhan i- ni ? "
" Benar Asia – kun. " Michael memberikan pandangan simpati setelah mendengar ucapan gagap dan tak percaya dari mantan biarawati yang hingga sekarang menaruh kepercayaan yang tinggi akan berkah dari ' Ayah' mereka. " Twilight Healingmu merupakan perwujudan kasih ' Ayah ' dan merupakan salah satu faktor yang akan memperlemah – "
" Memang apa gunanya eksistensi supranatural seperti kalian ? " Naruto memotong penjelasan Michael dengan ekspresi suram. Tangan sang pemuda pirang itu terkepal, dan terlihat bergetar pelan. Gabriel, Uriel, dan Raphael mulai tersinggung mendengar pertanyaan retoris Naruto, dan lagi sisa dari 10 Seraph surga lainnya telah berkumpul di sana.
Michael berbalik menatap Naruto " Naruto – san, anda tidak mengerti. Kami para malaikat ada untuk mengabulkan permintaan dari umat manusia, kami ada – "
" Kehadiran kalian hanya merusak keseimbangan alam itu sendiri. Dan hal itu telah terbukti dari ketidamampuan kalian untuk menghentikan Great War. " Michael terdiam, tak berani menatap langsung iris biru Naruto yang menyimpan kepedihan
" Bahkan hanya untuk melindungi satu desa kecil saja, kalian tak mampu ! " iris Michael melebar mendengar kalimat Naruto terakhir ini. " Naruto – san, apa anda berasal dari Konoha ? "
" Pertanyaan seperti apa itu ? Tentu saja, aku tidak berasal dari sana. Dan lagi, tidak ada nama tempat Konoha, karena tempat itu telah tiada karena kalian para malaikat tak mampu untuk melindunginya dari tingkah konyol dua naga surgawi "
Michael dan 9 Seraph lainnya hanya dapat terdiam. Sasuke yang tidak tahu situasi dengan antusiasnya mencatat setiap informasi yang ia simpulkan sendiri.
" Begitu ternyata, klausul satu, Master berasal dari desa yang bernama Konoha. Klausul kedua, Obsesi Master untuk membantai Ddraig dan Albion adalah karena telah menghancurkan desa asalnya. Ini info bagus ! "
Naruto mengabaikan tingkah muridnya itu dan kembali menatap Asia " Bagaimana sister – san, setelah mendengar penjelasan dari merpati ini ? "
Perhatian kembali terfokus pada Asia yang menjadi sumber dari kejadian hari ini " A – aku tak tahu harus bagaimana … namun ini berkat Naruto – san dan Uchiha – san yang dengan telah baiknya membawaku kemari. Jika ini bukan berkah dari ' Ayah ' aku tak tahu apa namanya ini "
Jawab Asia dengan senyum polos.
Michael tersenyum kecil ' Anak ini memiliki kepercayaan yang besar akan ' Ayah' '
" Kami dari Heaven hanya dapat mengucapkan beribu maaf atas tindakan ini. Untuk memperbaiki semua itu, maukah Asia – san bergabung dengan kami ? " Michael mengeluarkan selembar kartu Bridge yang bergambarkan Queen. Iris Naruto dan Sasuke menyipit melihat gerakan Michael.
" Bergabung dengan kalian ? Apa maksudnya Michael – sama ? "
" Aku bermaksud mengajakmu Asia – kun untuk menjadi seperti kami, malaikat, dengan menggunakan sistem Brave Saint yang mengadopsi Evil Pieces dari bangsa iblis. Sistem ini akan mereinkarnasikanmu menjadi malaikat. "
Naruto dan Sasuke hanya diam memberikan kesempatan bagi Asia untuk memutuskan. Dan iris mereka melebar begitu melihat sang gadis pirang berbalik menatap mereka. " Maaf, Michael – sama. Tapi, aku ingin mengikuti Naruto – san dan Uchiha – san, karena mereka telah berbaik hati mengantarkanku kemari. Pada taman yang menjadi awal mula manusia diciptakan. "
Asia tersenyum kecil " Ini pengalaman yang menyenangkan dan tak kan kulupakan. "
Michael menutup kekecewaannya dengan senyuman tipis. " Kalau begitu, maka sebagai gantinya, kami akan mempercayakan benda ini padamu " Seberkas sinar emas muncul di depan mereka, dan aura yang dikeluarkannya begitu kuat.
" Bukankah itu … " bisik Sasuke menatap kagum atas hadiah yang akan diberikan kepada Asia. Naruto hanya diam, iris matanya menatap bosan pada sinar emas tersebut yang perlahan meredup memperlihatkan sebuah pedang berdesain eropa.
" Pedang Ascalon. Pedang pembantai naga, gunakan pedang ini untuk melindungimu dan menolong orang lain, Asia – kun. Aku yakin, kau pantas menerimanya " Dengan gerakan perlahan, Asia mengangkat tangannya dan Ascalon dengan cepat melayang menuju Asia. Begitu pedang pembantai naga itu tergenggam erat di tangan mungil mantan biarawati itu, pedang bersinar sekali lagi.
" Are ? Kukira, pedang ini akan berat " ujar Asia polos sama sekali tak menyadari tatapan terkejut dari para Seraph. Namun, ekspresi terkejut yang paling dominan adalah pada Naruto, keringat dingin menetes dari dahinya.
" Tak kusangka, kau dapat menggunakan pedang tersebut, Eve ! "
Iris Michael menyipit melihat Ascalon menghilang terserap dalam tubuh Asia. ' gadis ini merupakan pemegang kedua Ascalon setelah gadis dari Konoha itu … mungkinkah ?! ' Begitu sebuah kesimpulan terjalin di otaknya, Michael dengan cepat menatap Naruto.
Sebuah senyum tipis terbentuk pada wajahnya ' Jika itu benar. Kami memiliki kesempatan untuk menebus kesalahan di masa lalu. '
" Baiklah, karena sudah tidak ada keperluan lagi di tempat ini. Kurasa, kami akan pamit ! " Naruto dengan nada bosan mengucapkan hal itu. Ia bersama dengan Asia segera bergabung kembali dengan Sasuke. " Tunggu Naruto – san, kami akan menteleport kalian langsung. Sehingga tak perlu melewati Purgatory lagi "
" Ide yang bagus " respon Naruto datar. Gabriel dengan senyum manisnya setelah mendengar keputusan Asia maju ke depan memeluk gadis tersebut " Teruslah berbuat baik Asia – chan "
" Ha'I Gabriel – sama " Gabriel tersenyum kecil dan segera mempersiapkan lingkaran sihir untuk menteleport ketiga manusia itu.
" Naruto – san … " Pemuda pirang itu menatap tak tertarik pada Michael. Michael menggaruk pipinya " Jika kau benar dari Konoha … kami meminta maaf dan .. " Untuk pertama kalinya Michael menatap Naruto tepat di matanya " Kami selalu menyesalinya dan berusaha untuk memperbaikinya. "
Naruto menutup matanya. Sebelum benar – benar menghilang, ia membalas " Aku sudah tak peduli lagi "
XoX
Naruto, Sasuke, dan Asia diteleport kembali di taman Kuoh tepat pada malam hari. Area taman Kuoh yang asri menyajikan langit malam yang menyejukkan mata. Satu – satunya gadis dalam kelompok tersebut terperangah melihat pemandangan langit itu.
" Indahnya … " gadis itu berkali – kali mengeluarkan decak kagum dari bibir tipisnya sukses mengantarkan kedua pemuda di belakangnya tersenyum kecil.
' Sepertinya Asia – san akan membuat perjalanan kami lebih berwarna ' batin Sasuke. Ia pun mendekati Asia, menatap langit malam itu " Pemandangan langit malam di gurun Sahara 10 kali jauh lebih indah dibandingkan di sini. Belum lagi, taman Aurora di Antartika. "
Asia menoleh pada Sasuke " Benarkah ? " tanyanya antusias.
Sasuke mengangguk kecil " Tenang saja, mulai sekarang kau akan melihat pemandangan itu sendiri. Ah, saat kau mengatakan bahwa ingin mengikuti kelompok kami berarti secara tak langsung kau telah menjadi murid dari master, dan kita menjadi saudara seperguruan "
" Ah, itu benar ! " ujar Asia baru menyadari fakta itu.
Sasuke menyeringai kecil, dengan gerakan cepat, catatan kecil dan usangnya telah bertengger di tangan kanan " Mulai sekarang kau harus memanggilku Uchiha – senpai dan mulai mengikuti jejakku. Karena akulah murid terbaik dari master ! "
" Ah, sou .. " Dengan polosnya, Asia menganggukkan kepalanya. Pemandangan absurd di depannya sukses membuat Naruto geleng – geleng kepala. Akan tetapi, pemuda terkuat itu mengeluarkan hembusan nafas lega dan senyum di wajahnya. ' Yah setidaknya masalah hari ini telah selesai '
Dan yah, setidaknya itulah yang dipikirkan Naruto.
Asia mendekati Naruto dengan langkah penuh semangat dan segera meraih tangan Naruto dan mengenggamnya erat. " Mohon bantuannya mulai sekarang, Master ! "
Belum sempat merespon, Naruto terlebih dahulu tersentak begitu robekan dimensi muncul di sampingnya menampakkan Ophis yang tercengang.
" Naruto – kun …. Siapa gadis ini ?! "
" Oh, ini menarik. Sebuah drama cinta segitiga … " Sasuke dengan cepat menulis scenario cerita yang terpikir dalam otaknya.
Pikiran Naruto blank seketika.
Bagaimana cara manusia terkuat menenangkan sang Dewi Naga Tanpa Batas yang terbakar api kecemburuan ?
TBC
Oke, gua rasa update kali ini kurang dibandingkan yang sebelumnya. Yah, gua hanya bisa minta maaf karena satu bulan terakhir ini begitu sibuk di dunia nyata. Gua rasa komen segitu aja, karena updatenya bersamaan dengan Longinus 14th maka, disana letak curahan hatinya hehe.
Okay, Thanks buat yang udah Nungguin dan maaf banget bagi yang udah nunggu lama. Stay tune ya
