Sakura Haruno adalah wanita yang cerdas namun memiliki banyak kekurangan dalam berbagai hal. Berbeda dengan sahabat karibnya, Sasuke Uchiha, pria rupawan dengan berbagai keistimewaan dan kesempurnaan yang ia dambakan. Bersahabat dengan pria itu sewaktu SMA mungkin adalah beberapa dari sedikit keistimewaan yang didapat Sakura.
11 tahun berlalu semenjak perpisahan mereka, Sakura mendapat kabar bahwa Sasuke Uchiha akan mengadakan pesta pertunangannya di hotel bintang lima tempat Sakura bekerja.
Disclaimer: semua karakter milik Masashi Khisimoto dan saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam bentuk material
cover art credit to lidatan
A SasuSaku Fanfiction
Privilege by miladyla 2020
Romance-Friendship (T)
Alternative Universe
.
.
Semua orang tahu hidup terkadang tidak adil. Faktanya, kesetaraan masih belum merata. Beruntunglah mereka yang tanpa repot-repot mencari keistimewaan dan alasan untuk terus melanjutkan kehidupan yang fana. Mereka yang kurang beruntung harus membuat alasan sendiri untuk terus berjalan apapun rintangannya.
Sakura Haruno sayangnya termasuk ke dalam orang-orang kurang beruntung itu. Ia tak pernah merasakan kehidupan mewah yang sangat ia impikan. Ibunya pergi dan tak pernah lagi kembali. Meninggalkan ayah dan dirinya yang waktu itu masih berumur 8 tahun. Kehidupannya tidak semenyenangkan anak-anak lain dan terkadang kurang berkecukupan. Ia tak pernah lagi memiliki bonekah baru karena ayahnya tidak lagi mampu membelikannya. Namun sebagai gantinya, Kizashi akan memutar otak untuk membuatkan Sakura sesuatu dari barang-barang yang sudah tidak lagi terpakai.
Kizashi sebenarnya adalah orang yang berputus asa, tapi rasa sayang dan tanggung jawab kepada puterinya melebihi segalanya. Ia berjuang mati-matian agar puteri semata wayangnya tersebut memiliki kehidupan yang layak. Satu-satunya alasan baginya untuk tetap hidup.
Menginjak usia ke-15, Sakura melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah atas. Ia tergolong murid yang biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tapi juga bukan anti sosial. Tak banyak yang tertarik untung bergaul dengannya, tapi juga tak sedikit yang mau berteman dengannya. Dia tumbuh menjadi gadis baik dan tak pernah terlibat masalah. Bisa dibilang, hidupnya cukup standar.
Tahun ajaran baru dimulai dan Sakura naik ke kelas sebelas. Karena prestasi akademiknya yang meningkat drastis membuatnya dipindahkan ke kelas unggulan A. Suatu kembanggaan sederhana yang berhasil ia capai. Kizashi bahkan mengapresiasi pencapaiannya dengan membuat banyak dumpling ayam sebagai makan malam.
Sakura merupakan salah satu dari lima orang yang berhasil masuk ke kelas itu. Yang artinya, saingannya akan bertambah banyak dan bahkan semakin sulit mengingat kelas A diisi oleh murid-murid ambisius dan genius.
"Hei, murid baru! Salam kenal!"
Sapaan pertama yang ia dapat berasal dari seorang murid laki-laki berambut pirang yang duduk menyandar di depan mejanya. Sakura tersenyum gugup tapi langsung membalas tak kalah ramah.
"Kau pindahan dari kelas mana?"
"10 C, Uzumaki-san."
Wajah pemuda itu tampak terkejut setelah mendengar Sakura menyebut marganya. Ia bahkan sampai memutar sempurna badannya agar dapat lebih jelas mengarah ke Sakura. "Kau kenal aku?"
"Ah, itu, anu-" Sakura menunjuk nametag yang tertera jelas di depan dada kiri lawan bicaranya.
Naruto Uzumaki refleks meraba dada kirinya. Kemudian menertawai kebodohannya. "Hahaha, astaga! Maaf aku kadang bertingkah bodoh di depan gadis manis."
Sakura balas tertawa pelan. Ia tahu kalau Naruto hanya sekadar bercanda tapi tetap saja semburat merah berhasil lolos di wajahnya yang sudah kemerahan. Kesan pertama di kelas itu ternyata tidak seburuk yang ia kira sebelumnya.
"Kau harus berkenalan dengan Sasuke."
Sakura menoleh ke arah telunjuk Naruto terpusat. Matanya menangkap sesosok pria tanpa ekspresi duduk dengan tenang tepat di sebelah mejanya. Pria itu cukup sadar namanya disebut, namun tidak menunjukan rasa tertarik sama sekali.
Tanpa berkenalan terlebih dahulu, Sakura sudah mengenali siapa pria itu. Sasuke Uchiha adalah nama yang sangat sangat familier di sekolahnya. Tiga perempat penduduk sekolah pasti tahu tentangnya. Wajah tampan rupawan, keluarga berada, prestasi di mana-mana. Siapa yang tidak akan mengaguminya?
Sakura tak pernah berada sedekat ini dengan Sasuke, walaupun tidak kenal persis tetap saja rasanya canggung berdekatan dengan orang keren. Gadis gulali itu bahkan beberapa kali mencuri-curi pandang ke arah teman barunya itu. Entahlah apa mereka bisa disebut sebagai teman, mengingat keduanya belum pernah berbicara satu sama lain.
Seperti dugaannya, sangat sulit mengakrabkan diri dengan pria acuh tak acuh seperti Sasuke. Selama satu semester, mereka hanya pernah berbicara ketika berada di dalam satu kelompok atau tugas bersama. Sekadar berbasa-basi tentang cuaca yang cerah ataupun soal topik hangat baru-baru ini pun tak pernah. Sasuke tak pernah terlihat akrab dengan siapapun, hanya Naruto yang pernah terlihat mengobrol panjang lebar dengannya.
Sakura pun tak ambil pusing. Toh, ia mendapat teman-teman baru yang membuatnya betah dan bersyukur bisa dipindahkan ke kelas ini. Murid-murid kelas A lebih sopan dan ramah, berbeda dengan kelas lamanya yang setengahnya diisi oleh murid-murid bandel.
Di sini ia bertemu dengan Naruto, Ino, Lee, dan lain-lain. Dirinya bahkan sekelas bersama salah satu cowok populer di sekolahnya.
Sasuke tak pernah meliriknya, dan Sakura juga kehilangan rasa ketertarikannya kepada si bungsu Uchiha. Untuk apa memikirkan seseorang yang bahkan tak pernah menganggapmu ada?
Tapi hidup selalu penuh kejutan.
"Apa itu buku karya Richard Clarke keluaran tahun 1889?"
Sakura menggeser ratusan halaman buku lawas dari wajahnya untuk mengangkat kepalanya. Didapati Sasuke Uchiha yang berdiri diam menunggu jawaban. Sedikit terlonjak keheranan, Sakura sampai sampai memasang wajah tak biasa.
"Iya, benar."
"Darimana kau mendapatkannya?"
"Ini milik kakekku," jawab Sakura sembari menunjukan sampul monokrom di genggamannya.
Keheningan di antara keduanya menambah suasana di dalam perpustakaan yang memang sedari awal sudah hening. Sakura menunggu respon Sasuke sedangkan pria itu tak kunjung menunjukan tanda-tanda dirinya akan menyumbang suara secara harfiah.
"Kau mau melihatnya?" ujar Sakura pada akhirnya menawarkan.
Hening kembali sebelum pernyataan "tidak" diucapkan sang pemilik wajah datar dengan telak sebelum pada akhirnya memutar badan dan pergi meninggalkan Sakura. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa, sih?"
Beberapa hari berlalu semenjak kejadian super membingungkan di perpustakaan, saat itu waktunya istirahat dan Sakura tengah membuka bekalnya untuk makan siang, Sasuke kembali menghampirinya.
Sakura menatap pria itu sambil memegang tutup bekal yang baru ia buka setengah.
"Jangan berpikir aneh." Pria itu mulai bersuara, nadanya datar dan sangat tidak ramah. "Aku sudah mencari buku versi itu di manapun. Yang kau punya itu sangat langka-"
"Ini?"
Belum sempat Sasuke menuntaskan kalimatnya, Sakura keburu menyodorkan sebuah buku berusia seratus tahun lebih dengan gambar yang mulai pecah di sampul, juga halamannya yang kekuningan dimakan waktu.
"Kebetulan baru selesai kubaca. Jika mau, pinjam saja."
"Aku tidak ingin meminjamnya," tolak Sasuke tanpa mengubah ekspresi atapun nada suaranya. "Aku ingin membelinya."
Sakura mengernyitkan dahinya dan mulai menanggapi Sasuke secara serius. Mengabaikan kotak makannya yang sedari tadi belum terbuka sepenuhnya.
"Kau mau jual harga berapa?"
"Aku tidak akan menjualnya, maaf." Sakura menuntaskan kalimatnya kemudian kembali mengalihkan perhatiannya kepada kotak berwarna hijau tua yang sempat terabaikan itu. Sedangkan lawan bicaranya seperti biasa tidak ingin repot-repot mengeluarkan suaranya, tapi terlihat jelas bahwa Sasuke tampaknya masih belum menyerah dengan tawarannya.
"Kau sepertinya sangat tertarik dengan Richard Clarke."
Raut Sasuke samar-samar berubah setelah mendengar perkataan Sakura.
"Baru pertama kali aku bertemu dengan pembaca buku Richard Clarke. Tak banyak yang tahu tentangnya padahal semua karyanya adalah mesterpiece. Satu-satunya orang yang kutahu sangat menggemari karyanya adalah kakekku yang sudah meninggal sejak aku masih kecil. Beliau juga yang memperkenalkanku kepada buku-buku karangan Richard Clarke, karena itu dia mengoleksi semua buku-buku Clarke, bahkan kopian pertama yang sudah mulai langka sekarang ini."
Sakura memandang ke arah sebuah buku tebal berisi 800 lebih halaman yang terlihat sudah sangat tua tapi masih terawat dengan baik. Buku berjudul The Tales Of Gordonia itu bercerita tentang sepasang adik kakak yang terpisah karena perang, kemudian bertemu kembali di sebuah kota bernama Gordonia. Sayangnya, mereka bertemu sebagai musuh dan tidak mengetahui kebenaran pahit tersebut. Hingga salah satu dari mereka mati dan kebenaran mulai terungkap. Cerita di dalamnya sangat kompleks dan eksekusi yang mantap. Ciri khas Clarke sebagai penulis di periode romantisme, selalu menuangkan bumbu-bumbu angst yang dapat mebubat hati siapapun meringis karenanya.
"Ya, aku sudah membaca semua bukunya."
Sakura menyunggingkan seulas senyuman kepada Sasuke. "Beruntungnya. Aku iri sekali."
"Kau belum membaca semuanya?"
"Ada dua buku yang belum kubaca. Yaitu Nemesis dan Porcelain Lady. Tapi sepertinya kakekku tidak memilikinya. Aku juga sudah mencoba mencari di manapun, entah perpiustakaan atau lelangan buku lama, aku tidak menemukannya," jawab Sakura sambil terkikik pelan. "Maklum saja, buku-buku itu sudah tidak lagi dicetak ulang sehingga menjadi langka."
Sasuke mendengarkan seluruh ucapan Sakura dengan seksama. Sebagaimana Sakura, Sasuke juga belum pernah bertemu dengan pembaca buku-buku klasik Richard Clarke. Karena itu ia dibuat terkesan oleh gadis berambut langka tersebut. Kelas sedang sangat sepi, hanya mereka berdua yang masih tinggal sehingga tak satupun orang melihat interaksi keduanya waktu itu.
"Astaga, aku lupa membawa jus." Sakura menutup kotak bekal dan peralatan lainnya, lalu berdiri dari kursi kayunya. "Sepertinya aku akan memakan ini di kantin."
"Uchiha-san, aku pikir lain kali kita bisa membahas tentang buku-buku Richard Clarke yang lain. Senang bisa mengobrol denganmu." Sakura menunduk pelan kemudian melangkah keluar kelas meninggalkan Sasuke seorang diri.
.
.
.
Awal bulan Juni di pertengahan musim semi, Sakura benar-benar dibuat keheranan karena tiba-tiba Sasuke Uchiha mendatanginya di perpustakaan dan memberikannya dua buah buku karya Richard Clarke yang belum pernah ia baca sebelumnya. Di tangannya terdapat buku berjudul Nemesis dan Porcelain Lady dengan sampul berwana menandakan buku itu diproduksi pada awal tahun 90an.
"Kau bilang belum pernah baca keduanya. Kurasa tidak salah untuk meminjamkanmu."
"Kau serius?"
"Aku mengoleksi semua mahakarya Clarke. Dari kopian pertama hingga yang terbaru. Dari yang berbahasa inggris, sampai yang sudah diterjemahkan ke bahasa jepang. Aku punya semua, kecuali kopian pertama The Tales Of Gordonia. Tapi kau tidak mau menjualnya."
Sakura menyengir. Buku itu terlalu berharga karena merupakan warisan kakeknya. Buku itu juga merupakan favorit kakeknya. Jadi, apabila Sakura tengah merindukan mendiang sang kakek, dia akan membaca ulang buku tersebut. Hal itu cukup mengobati rasa rindunya, mengingat sang kakek sering kali menceritakan buku-buku Clarke sewaktu dirinya masih belum mengenal angka dan tulisan.
"Aku tidak menyangka bahwa kau ini kutu buku sekali," pengakuan Sakura disambut desis lembut Sasuke. Pria itu memiliki reputasi yang baik dalam akademik maupun non akademik. Memenangkan olimpiade fisika sekaligus membawa tim basket sekolah mereka menuju kejuaraan antar provinsi di bulan yang sama bukanlah suatu pencapaian yang biasa. Mengetahui fakta bahwa pria itun juga merupakan maniak buku-buku klasik, rasanya agak aneh.
"Sasuke."
Pria dengar iris gelap itu menatap gadis bertubuh ramping yang duduk di depannya. Saat itu pertama kalinya Sakura memanggil dapa depannya."
"Terima kasih."
Dan untuk pertama kalinya, Sakura dapat melihat langsung senyuman tipis di wajah Sasuke.
.
.
Kabar itu cepat menyebar. Kabar bahwa Sasuke duduk di meja yang sama dengan gadis Haruno itu menjadi topik hangat. Tidak seperti sebelumnya, lumayan banyak orang lalu-lalang di dalam perpustakaan sekolah yang cukup lengkap tersebut. Entah memang sedang mencari buku pelajaran, novel, ataupun bersantai hingga tidur.
Gosip seputar hubungan Sasuke dan Sakura yang terlihat semakin akrab dari hari ke hari menjadi perbincangan hangat di kalangan para siswi.
"Eh, aku belum pernah melihat Sasuke-kun sedekat itu dengan gadis lain."
"Iya, aku sendiri pernah melihat mereka makan siang bersama."
"Apa jangan-jangan mereka berpacaran?"
"Hah?! Dengan gadis miskin seperti Haruno? Tidak mungkin!"
"Benar! Haruno itu tidak selevel dengan Sasuke-kun."
"Tapi aku pikir, Haruno itu cukup manis."
"Mereka pasangan yang serasi."
Demikian desas desus yang berseliweran di telinga Sakura. Dari yang berkontonasi negatif, tapi ada juga yang positif. Kebanyakan dari mereka yang iri akan mengatakan hal-hal yang tidak benar tentangnya. Kehadiran Sakura yang sebelumnya transparan mulai berubah. Mulai banyak yang menyadari kehadirannya di dunia ini berkat Sasuke Uchiha.
Sakura tak pernah ambil pusing. Kedekatannya dengan Sasuke murni sebatas teman, mereka memiliki hobi yang sama yang orang lain tak punya. Mereka sering berdiskusi mengenai mahakarya Richard Clarke, membahas secara dalam dan lebih mendetail. Tapi tentu saja, hal itu mengantarkan keduanya semakin lebih dekat di luar hobi mereka.
Watak dingin Sasuke yang pertama kali Sakura kenal perlahan sedikit memudar. Sasuke bisa berbica lebih banyak dari biasanya, yang mana membuat Sakura merasa tak biasa. Keduanya juga sering mengobrol tentang diri masing-masing. Sakura yang bercerita bahwa ia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ayahnya, dan Sasuke yang bercerita bahwa dirinya tinggal sendiri di sebuah rumah mewah dengan beberapa asisten rumah tangga. Orangtua Sasuke bekerja di Amerika, dan kakak laki-lakinya juga tengah membangun bisnis di Eropa.
Pernah sekali Sasuke mengajak Sakura untuk berkunjung ke rumahnya. Yang mana membuat para asisten rumah tangga pribadinya terkejut karena sang tuan muda tak pernah mengajak kenalan perempuannya sebelumnya. Ia mengajak Sakura melihat-lihat koleksi bukunya, sebuah rak antik yang khusus diisi buku-buku karya Richard Clarke sukses membuat Sakura berdecak kagum.
Sakura juga pernah beberapa kali menawarkan Sasuke untuk main ke rumahnya, namun Sasuke selalu menolak dengan halus.
"Aku akan berkuliah di Amerika."
Suatu hari Sasuke berkata kepada Sakura mengenai rencana masa depannya. Ia bercerita bahwa kedua orangtuanya telah mempersiapkan pendidikannya di jenjang selanjutnya.
"Wah, kalau begitu kita akan berpisah." Sakura berucap sambil menundukan kepalanya. Dalam di lubuk hatinya, kebersamaannya dengan Sasuke selama ini membuat dirinya merasa hangat dan nyaman. Tak ada yang tahu bahwa gadis Haruno itu diam-diam mulai menumbuhkan benih-benih cinta kepada pria pemilik marga terpandang itu. Tapi sayang, ia harus mengubur dalam-dalam perasannya, mengingat dirinya yang sangat tidak pantas untuk disandingkan bersama Sasuke. Sakura cukup tahu diri.
"Tidak terasa enam bulan lagi kita akan lulus."
Sasuke mengangguk setuju.
"Tapi kau akan kembali, kan?" tanya Sakura kemudian.
"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku akan kembali." Sasuke menjawab diselingi senyuman tipis. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Menikmati helaian angin musim gugur di pinggir taman kota.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
.
.
Pesta kelulusan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pertengahan bulan Maret, di saat itu bunga sakura sedang mekar-mekarnya dengan indah. Seperti Sakura, gadis itu tampak cantik dengan riasan tipis di hari kelulusannya.
Di luar aula sekolah, para murid dengan wajah berbinar menyalami satu sama lain. Beberapa di antara mereka yang terlalu menghayati sampai menangis karena harus meninggalkan segala kenangan indah yang mereka buat selama SMA.
Sakura berpelukan erat dengan Naruto dan Lee bergantian. Pria kurus berambut mangkok itu bahkan menangis sesugukan di pelukan Sakura. "Huaaaa, aku tidak ingin berpisah dengan Sakura-san!"
"Lee, lepaskan Sakura! Kau ini berlebihan sekali." bentak Ino Yamanaka yang baru terlihat bergabung dengan mereka. Bentakannya malah membuat Lee semakin berkaca-kaca sedangkan Sakura tertawa tak enak hati.
Melihat Sakura telah terbebas dari lilitan maut Rock Lee, Ino langsung memeluk Sakura erat dan langsung dibalas oleh dekapan yang tak kalah hangat.
"Selamat hari kelulusan, Saki."
"Selamat hari kelulusan juga, Ino-chan."
"Aku akan merindukan kalian," ucap Naruto keras. Orang-orang di sekitarnya turut tersenyum satu sama lain.
"Sakura-chan! Aku tidak melihat sahabatmu." Naruto menyengir lebar seraya berbisik kepada Sakura.
Sontak saja Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah. Menyadari ketidak hadiran pria yang telah akrab dengannya selama satu tahun terakhir.
"Aku pamit sebentar."
Sakura meninggalkan tempatnya. Berkeliling mencari sosok pria yang bahkan tak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Beberapa kali ia meminta maaf pada orang-orang karena tak sengaja menyenggol mereka. Pandangannya hanya fokus mencari sosok Sasuke Uchiha.
"Ketemu."
Di belakang sekolah terdapat sebuah danau yang jarang dikunjungi murid-murid lain. Di sana Sasuke mengarah ke sebuah pohon sakura yang juga baru Sakura sadari kehadirannya.
"Aku tidak tahu di sini ada pohon sakura," ucap Sakura sambil berjalan mendekati Sasuke. Pohon sakura itu tengah mekar, beberapa kelopaknya ada yang jatuh ke atas danau. Mata Sakura berbinar karena kagum.
"Yang satu itu mirip denganmu."
Wajah Sakura memerah bak kepiting rebus. Kericuhan yang terjadi di luar aula sekolah sayup-sayup terdengar. Suara angin lebih mendominasi keheningan seperti biasa.
"Tidak terasa kita akhirnya lulus. Aku perlu satu semester untuk bisa mengobrol denganmu tapi rasanya hanya satu hari kita bersama sebelum berpisah."
Keduanya saling bertatapan. Dalam tanpa suara.
"Oleh karena itu," Sakura mengeluarkan sesuatu dari seragam kelulusannya. Sebuah kotak dilapisi kertas kopi ia serahkan kepada Sasuke. "Anggap ini sebagai sebuah kenangan dariku."
Sasuke menerima pemberian Sakura. Ia membukanya, dan mendapati kopian pertama buku The Tales Of Gordonia dari penulis favoritnya.
"Kau yakin memberikan ini kepadaku?"
Sakura tersenyum hangat. "Yakin! Dua ratus persen yakin!"
"Tapi ini barang berharga."
"Aku rasa pertemanan kita juga berharga."
Perasaan. Perasaannya terhadap pria itulah yang lebih berharga. Tapi tentu saja Sakura tidak dapat mengatakannya.
"Terima kasih." Sasuke tersenyum simpul. "Maaf aku tidak memiliki apapun untukmu."
"Itu tidak perlu," balas Sakura tulus.
Keduanya kembali terdiam, tapi kali ini Sakura melangkah lebih dekat dengan Sasuke. Ia melingkarkan kedua lengannya pada lengan kiri Sasuke. Dan ragu-ragu menyenderkan kepalanya di pundak sahabatnya. Sasuke tidak menolak, ia menikmati masa-masa terakhir itu.
Tak terbayang oleh Sasuke sebelumnya bahwa ia bisa berteman seakrab ini dengan seseorang, terutama seorang perempuan. Sakura bukanlah perempuan yang biasa baginya.
Iris zamrud Sakura menyaksikan kelopak bunga sakura yang gagal mekar di tangkainya dan justru jatuh terombang-ambing ke danau. Persis seperti perasaannya yang harus ia kubur dalam-dalam.
END
