"Kita sudah putus sejak tiga bulan yang lalu, Kiba. Aku tidak ingin membicarakannya lagi!"

"Ayolah, Sakura! Berikan aku kesempatan. Kita harus bertemu untuk membicarakannya."

"Maaf, aku sedang sibuk," ucap Sakura final. Tanpa mempedulikan lawan bicaranya lagi, ia buru-buru memutuskan panggilan dari ponselnya secara sepihak seraya melempar benda persegi itu ke atas kasur.

Ini baru pukul 7 pagi dan mood-nya sudah dibuat tidak enak oleh mantan pacar gilanya itu, yang lebih mengutamakan anjing Siberian Husky miliknya dibandingkan seluruh alam semesta beserta isinya. Wanita berumur 28 tahun itu memeras rambutnya yang masih basah menggunakan handuk. Matanya sedari tadi terus bergerak mengikuti putaran jarum jam yang tertempel di tembok paling atas.

Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk berdandan dan berpakaian. Ia hanya menggunakan base make up seperti face primer, concealer, dan bedak tabur. Juga tak lupa memoles sunscreen sebelum menaburkan riasan lainnya seperti lipstik dan maskara.

Pagi itu seperti biasanya, ia berpenampilan rapi dengan kemeja putih lengan panjang serta celana hitam panjang. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ponytail, sedangkan poninya diselipkan bebas di belakang kedua telinganya.

Waktu cepat berlalu dan tak terasa jam telah menunjukan pukul 7:30. Sakura mengambil keranjang berisi banyak dumpling ayam yang masih hangat dari atas meja makan. Selain bekerja tetap sebagai pelayan di sebuah hotel bintang lima paling terkenal di Tokyo, Sakura juga mencoba menambah penghasilan lain seperti berjualan. Setiap hari ia akan bangun jam 5 pagi untuk memasak dan mempersiapkan dagangannya, lalu menitipkannya di toko kue tradisional milik seorang wanita tua yang ia panggil Nenek Chiyo.

Sebelum melangkah meninggalkan rumahnya, Sakura memandang bingkai berisi foto ayahnya yang telah meninggal tiga tahun lalu. Gadis itu menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada untuk mendoakan mendiang sang ayah. Kizashi Haruno telah berjuang melawan kanker paru-paru selama kurang lebih lima tahun namun gagal dan menghembuskan napas terakhirnya pada usia 51 tahun.

"Ayah, aku berangkat." Sakura bangkit setelah menyelesaikan doanya, menarik jaket abu-abu dan berjalan keluar pintu.

.

.

"Nenek Chiyo, selamat pagi!" Sakura menyapa wanita tua berusia kisaran 80 tahun itu dengan penuh semangat.

Nenek Chiyo yang saat itu tengah menyapu halaman tokonya menoleh kemudian membalas sapaan Sakura dengan ramah. "Ah, Sakura-chan. Selamat pagi."

"Nenek, aku ingin menitip dumpling-dumpling ini seperti biasa." Sakura mengeluarkan sebuah wadah yang berukuran lebih kecil dari keranjangnya. "Dan yang ini, khusus kubuat untuk Nenek dan Sasori-san."

Sakura pada awalnya telah menawarkan untuk bagi hasil atas jualannya karena jasa Nenek Chiyo yang telah membantunya. Namun wanita tua itu selalu menolak dengan halus, mengatakan bahwa dirinya iklas dan senang membantu gadis mandiri seperti Sakura. Selain itu, banyak sekali orang yang meminati dumpling buatan Sakura sehingga membuat pengunjung tokonya bertambah dan tentu berefek pada kue dagangannya yang lain. Tapi tentu saja Sakura tidak akan menerima bersih. Sebagai gantinya, ia selalu membuatkan dumpling spesial atau makanan lain yang dibuatnya khusus untuk Nenek Chiyo dan cucu laki-lakinya, Sasori.

"Sakura-san, selamat pagi." Sapaan tersebut datang dari seorang pria berambut merah yang baru saja keluar dari toko. Ia menghampiri Sakura dan membantu gadis itu untuk menyusun dagangannya ke dalam etalase.

"Sakura-chan, kemarilah!"

Sakura yang dipanggil langsung bergegas menghampiri wanita tua itu. Nenek Chiyo memberikan beberapa buah kue tradisional yang dibungkus kain berwarna biru tua kepada Sakura.

Gadis yang hampir memasuki kepala tiga itu tersenyum tidak enak namun tetap menerima pemberian wanita tua di hadapannya. "Astaga, Nek, tidak perlu repot-repot."

"Aku senang membuatkanmu sesuatu. Kapan-kapan datanglah untuk makan malam bersama."

Sakura tersenyum lembut. "Tentu." Ia memeluk Nenek Chiyo penuh kasih sayang. Wanita tua itu telah menganggap Sakura sebagai cucunya, begitu pula Sakura yang telah menganggap Nenek Chiyo sebagai neneknya sendiri dan Sasori sebagai kakak laki-lakinya. Mereka telah menjadi keluarga walaupun tanpa ikatan darah.

"Aku berangkat bekerja dulu, ya, Nek. Sampai jumpa, Sasori-san."

Setelah berpamitan dengan dua orang paling berati di hidupnya, Sakura melanjutkan perjalanannya ke arah stasiun terdekat. Semua orang sibuk dan terburu-buru terkumpul di sana mengakibatkan suasana semakin bising dan padat. Sakura mengambil kereta pagi yang melaju ke perkotaan dan menempuh perjalanan kereta selama kurang lebih setengah jam.

Dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 15 menit untuk sampai ke Konogeshu, sebuah hotel bintang lima dan merupakan salah satu hotel megah di Tokyo, Jepang. Sakura bekerja sebagai waitress atau pramusaji di restoran hotel tersebut. Tugasnya adalah melayani tamu hotel di bidang pangan, ia akan menyiapkan sarapan pada pukul 9 pagi dan makan siang pada jam 12 siang.

Saat istirahat makan siang, Sakura melihat beberapa rekan kerjanya yang sepertinya tengah membicarakan sesuatu dengan asik di ujung meja restoran. Sakura membawa kotak bekalnya mendelat menuju sebuah meja yang telah terisi tiga gadis berpakaian pramusaji seperti dirinya.

"Eh, Sakura, sudah dengar kabar baru?" Seorang gadis berambut kecoklatan yang baru menyadari kehadiran Sakura di dekatnya langsung menyapa dan memborbardirnya dengan pertanyaan.

Sakura meneggeleng. "Kabar yang mana?" Kemudian mendudukan dirinya tepat di sebelah gadis bersurai kecoklatan itu.

"Itu, loh!" Ayame menyibak-nyibakan tangannya penuh semangat. "Minggu depan, hotel ini akan disewa penuh untuk acara pesta pertunangan."

Sakura mengangguk-angguk. "Orang kaya memang gila. Menyewa hotel semewah ini untuk bertunangan? Luar biasa sekali," lanjutnya antara kagum tapi tidak terlalu peduli.

"Eh, kau tidak penasaran siapa yang melakukannya?"

"Siapa memangnya?"

"Keluarga konglomerat itu. Bisnis mereka ada di mana-mana! Siapa lagi kalau bukan Uchiha!" ucap Ayame mengebu-ngebu.

"Eh?" Sakura mengangkat alisnya. Tangannya yang tadi asik menelusuri kotak bekalnya kini lebih tertarik untuk diam dan membiarkan indra pendengarannya mengambil alih. Uchiha? Nama yang tidak asing baginya. "Uchiha yang mana maksudmu?"

"Aku dengar namanya Sasuke Uchiha. Dia akan menyelenggarakan pesta tunangan bersama kekasihnya di restoran hotel kita."

.

.

.

Hembusan angin malam terasa semakin dingin, menemani awan hitam yang dilewati sinar bulan. Malam semakin larut dan Sakura masih terjaga di ranjang kecilnya. Tatapannya yang kosong memandang lurus ke langit-langit. Perasaannya berkecamuk, ia tidak tahu harus bersikap atau bersuara seperti apa.

Sakura tak lagi merespon perkataan Ayame setelah gadis itu melafalkan nama pria yang sangat tak asing baginya. Sasuke Uchiha akan mengadakan pesta pertunangan di hotel tempatnya bekerja. Sebelas tahun berlalu dan mereka pada akhirnya akan berjumpa kembali. Sakura tidak pernah menyangka semua itu akan terjadi.

Satu dekade lebih lamanya mereka berpisah. Lost contact. Sakura tidak benar-benar melupakan Sasuke tapi juga tak pernah lagi memikirkan banyak tentang pria itu. Sakura hanya berusaha menjadi realistis. Ia tidak akan bisa untuk terus-menerus memendam rasa kepada pemuda itu sementara usianya akan tetap terus bertambah. Sakura bahkan tidak yakin apakah pria itu juga masih mengingatnya atau tidak. Mereka tidak pernah berkirim pesan dan keduanya juga tidak memiliki kontak pribadi masing-masing. Waktu itu teknologi belum secanggih saat ini. Pesan elektronik berbasis surel belum terlalu umum di kalangan anak sekolah.

Rasa cintanya yang sempat mekar di penghujung musim semi sudah lama menguap dan menghilang begitu saja. Butuh setidaknya dua tahun bagi Sakura untuk benar-benar melupakan perasaannya kepada Sasuke dan mulai menerima kehadiran laki-laki lain untuk mengisi kekosongan hatinya.

Tapi malam itu, segala kenangan bersama sang sahabat mendadak berputar di kepalanya layaknya piringan hitam yang berisi lagu-lagu lama. Sakura menikmatinya. Terjaga semalaman karena asik bernostalgia bersama masa lalu dirasa lebih menyenangkan daripada bayang-bayang masa depan yang selalu menghantui malamnya.

Ia kadang berpikir, bagaimana rupa dan keadaan pemuda itu saat ini. Dan rasa penasarannya itu akan berakhir pekan ini.

Tiba-tiba saja sebuah memori melintas begitu saja. Kenangan terakhirnya dengan Sasuke.

Tidak, lebih dari itu!

Sasuke tak pernah tahu jika gadis bersurai merah muda itu sempat mengejarnya sebelum lepas landas. Sakura berlari keluar stasiun menuju bandara dengan terburu-buru. Keringat bercucuran dan napasnya bertatih-tatih. Perasaannya memuncak kala itu. Ia ingat betapa akan tersiksa dirinya jika harus terus menahan untuk menyembunyikan semua rasa cintanya seorang diri. Maka saat itu, Sakura Haruno dengan nekat akan mengungkapkan perasaannya kepada Sasuke sebelum pria itu benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya.

Tapi Sakura kurang beruntung. Dia tidak pernah beruntung.

Sasuke telah terbang beberapa menit sebelum kedatangannya.

Sakura terlambat. Ia gagal menyatakan perasaannya dan berakhir dengan menyiksa hatinya sendiri.

Cairan bening tak habis-habisnya membanjiri wajahnya menyebabkan bekas kebiruan di bawah kedua kelopak matanya. Bahkan ketika ia sampai di rumah, air matanya masih tak menunjukan tanda-tanda akan habis. Tangisannya semakin pecah ketika Kizashi memeluknya erat, berusaha menenagkan gadis kecilnya yang baru saja mengalami patah hati pertamanya.

Secarik senyuman lolos dari bibir ranum Sakura. Ia menggeliat di bawah selimut, mencari posisi paling nyaman yang sekiranya dapat mengantarkan dirinya ke alam mimpi. Matanya mulai terpejam ketika semburat cahaya bulan berhasil lolos dari jendela kamarnya.

-oOo-

"Malam ini akan ada acara penting di restoran kita. Mohon kerja samanya."

Sakura berdiri di barisan para pramusaji ketika seorang pria paruh baya bersurai keemasan memimpin di atas podium. Gadis itu sesekali mencuri pandang ke arah lain, iris hijaunya tak berhenti memandang takjub pada dekorasi ruangan yang telah disulap seindah mungkin. Restoran megah itu sementara dikosongkan kemudian ditata sebaik mungkin dengan dekorasi berwarna merah dan putih mendominasi.

Ruang restoran yang besar sekiranya dapat menampung lebih dari seribu tamu. Tapi apakah Sasuke akan mengundang seribu lebih orang penting hanya untuk pesta pertunangan?

Tidak. Ia tidak menganggap bahwa pesta pertunangan bukanlah sesuatu yang penting. Hanya saja pertunangan tidaklah lebih sakral daripada upacara pernikahan, jadi baginya itu sedikit berlebihan.

Pandangannya asik berpendar sampai pada akhirnya sebuah objek berhasil menghentikannya. Sebuah papan berukuran satu meter dengan ukiran nama dua insan berbeda jender dipajang rapi tepat di sebelah podium. Nama Sasuke Uchiha dan Karin Uzumaki tertulis jelas disertai foto preweding keduanya. Sakura memandang foto tersebut lekat-lekat. Ia tak mengenali si calon perempuan dengan pasti namun marga keluarga wanita itu seperti tak asing baginya.

Matanya beralih pada gambaran pria dengan jas biru gelap yang berpose romantis dengan kekasihnya di pinggir pantai. Penampilan Sasuke tak akan banyak berubah jika saja bulu-bulu halus di wajah rupawannyanya tidak tumbuh. Sisanya masih sama. Matanya masih sama, wajahnya sedikit mengalami penuaan, potongan rambut yang sama walaupun kini terlihat lebih panjang. Pemuda itu tetap terlihat menawan dan sempurna walaupun hanya terlihat dari selembar foto.

"Tamu yang akan kita sambut malam ini bukanlah orang-orang biasa. Aku ingin kalian bekerja semaksimal mungkin karena akan ada bonus yang sedang menanti kalian, khusus malam ini!"

Pekikan gembira dari kawan-kawan sejawatnya menarik wajah Sakura berpaling dari foto preweding sahabatnya. Pria bersurai keemasan itu turun dari podium diikuti dengan bubarnya para pegawai. Sakura melangkah pergi meninggalkan tempatnya berdiri dan mulai menjalankan kewajiban yang ia geluti.

.

Waktu telah menunjukan pukul tujuh malam dan tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Sakura menyibukkan diri di dapur membantu para koki untuk menata kue-kue muffin lezat yang satuan harganya setara dengan uang saku bulanan miliknya sewaktu masih SMA. Ia meletakan kue-kue itu pada nampan logam berukuran raksasa sebelum ditarik keluar dengan meja beroda empat oleh pramusaji lain.

Setelah selesai berurusan dengan muffin-muffin coklat tadi, ia beralih menyiapkan berbotol-botol anggur merah yang kemudian dituangkannya ke dalam beberapa gelas burgundy sampai pada tetesan terakhir. Sakura juga beberapa kali berjalan bolak balik untuk mengambil persediaan anggur merah yang harus disajikan sebelum acara benar-benar dimulai.

Di sela-sela kesibukan Sakura mengambil kesempatan untuk sekadar membasuh keringat dan meluruskan punggungnya pada tembok. Rasanya sangat melelahkan sampai-sampai ia ingin sekali berjongkok tapi panggilan demi panggilan terus berdatangan dan Sakura hampir tak memiliki waktu untuk menghela napasnya sendiri. Memindahkan lusinan muffin coklat tentu membutuhkan energi ekstra

Pukul delapan malam.

Sakura mendengar samar-samar suara tepuk tangan yang cukup meriah. Punggungnya lemas tapi untungnya kini ia telah diberikan sedikit waktu beristirahat dan menggunakannya untuk bersandar. Pesta pertunangan super megah di luar sana telah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu dan sepertinya telah berjalan dengan baik. Sakura bisa membayangkan bagaimana sahabat karibnya sewaktu SMA—sekaligus cinta pertamanya—itu menyematkan sebuah cincin entah dari berlian atau emas atau bahkan keduanya kepada jari manis seorang wanita berambut merah darah.

Ia ingat dulu pernah mengkhayalkan kejadian itu akan terjadi kepadanya. Bagaimana jika Sasuke pernah diam-diam menyimpan rasa lalu kemudian berakhir melamar dirinya. Membayangkannya sungguh sangat menyenangkan, walaupun ia tahu bahwa segala peristiwa indah itu hanya akan berada di dalam kepalanya.

Jika saja perasaan Sakura masih sama seperti sepuluh atau sembilan tahun yang lalu, mungkin saja saat ini dia sudah terkapar di lantai dapur dengan air mata membanjiri wajah eloknya. Tapi saat ini ia tidak merasakan apa-apa melainkan rasa penasaran dengan kabar Sasuke, sahabatnya.

Sakura meremas ujung celemek putihnya ketika sebuah suara berat memanggil namanya.

"Haruno! Berhenti melamun dan antar anggur-anggur ini keluar!"

Wanita dengan surai bunga kebanggaan negaranya itu tertegun beberapa saat sebelum menjawab lantang, "Baik, Tuan!"

Lengan kirinya kini dalam sekejap telah penuh dengan sebuah nampan logam berwarna perak berisi lima buah gelas burgundy yang masing-masing telah diisi anggur merah segar. Untuk mempermudah gerakannya, Sakura menekuk lengan kirinya sampai berbentuk seperti huruf V dan tinggi nampan dibuat sejajar dengan bahu. Sedangkan lengan kanannya yang bebas ia sembunyikan di balik tubuh rampingnya.

Sakura berjalan pelan penuh kehati-hatian melewati kerumunan orang yang kini sudah tak lagi berdiam diri di meja mereka masing-masing. Pandangannya melebar mencari jika sekiranya ada orang yang tertarik dengan sesuatu yang ia bawa, seorang wanita muda berambut kecoklatan menjadi orang pertama yang memintanya segelas anggur dengan sopan dan Sakura melayaninya penuh hormat.

Kurang dari lima menit nampan yang dibawa Sakura telah kosong tak tersisa, gelas-gelas yang tadi berada di atasnya kini telah berganti tuan dan berada di tangan orang-orang yang Sakura tak tahu dan tak peduli siapa. Ia bergegas menuju dapur untuk membawa gelas-gelas baru. Di tengah-tengah langkah Sakura mengangkat wajahnya agar dapat melihat dengan jelas ke arah podium yang sayangnya tak bisa ia jangkau karena terhalang barisan orang-orang berpakaian rapi.

Sakura keluar dapur dengan nampan terisi penuh kembali dan tak butuh waktu lama untuk menunggu nampan logam tersebut menjadi polos. Empat kali gadis itu mengisi nampan perak di lengan kirinya, empat kali juga ia gagal menemukan sesosok pria bermata kelam dan berambut gelap yang sedungguhnya sangat ia rindukan. Tersisa dua gelas anggur di nampan yang ia bawa ketika seorang pria berusia pertengahan 30-an memanggilnya untuk mendekat.

"Isteriku sedang hamil tua dan tidak bisa minum anggur. Tolong berikan kami jus jeruk segar." Pria itu berucap sembari mengelus penuh sayang pada perut buncit isterinya yang berdiri anggun dengan gaun khusus wanita hamil.

Sakura mengangguk. "Segera, Tuan." Ia berjalan kembali ke dapur untuk meminta jus jeruk setelah meberikan dua gelas anggur yang tersisa di nampannya kepada dua perempuan muda berpenampilan glamour.

Baru beberapa langkah ia ambil sebelum suara beep dari mikrofon di atas podium menarik perhatian seluruh manusia yang berada di dalam ruangan. Sakura berhenti dengan nampan kosong di atas tangan kirinya dan ikut memusatkan perhatiannya ke depan sana. MC yang sedari tadi bertugas membawa jalannya acara kini kembali meminta perhatian para hadirin.

"Mohon perhatian para hadirin sebentar, sekarang waktunya bagi tuan muda Uchiha yang kita kagumi untuk menyampaikan beberapa patah kata pada malam spesialnya hari ini." Suara berat dari pria berkepala plontos itu menggema ke segala penjuru arah. Seorang pemuda berjas hitam gelap naik ke podium sembari menggandeng tangan wanita jelita bergaun hitam senada di sebelahnya. Mereka tampak serasi dan raut kebahagiaan tertampang jelas di wajah keduanya.

Sakura diam di tempat. Lengan kirinya perlahan turun sedangkan matanya asik menganggumi kesempurnaan yang tergambar jelas di depannya. Sasuke banyak tersenyum walaupun tipis sekali dan jemarinya belum lepas dari wanita cantik dengan kacamata merah senada dengan rambut panjang sepinggangnya yang terlihat lebih ekspresif.

"Wah, mereka serasi sekali," batin Sakura dalam hati. Ia tak berbohong, Sasuke sangat pantas disandingkan dengan wanita bermarga Uzumaki itu.

Mikrofon itu berdengung sebelum mendarat di tangan Sasuke Uchiha. Pria itu mengawali kalimatnya dengan basa-basi layaknya pria berdasi. Mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran tamu yang kebanyakan adalah rekan kerja, mitra, ataupun kolage perusahaannya. Pria seperti Sasuke tidak membutuhkan teman untuk menemaninya menikmati waktu luang. Ia hanya butuh para investor dan rekan bisnis yang mampu menaikkan perusahaannya. Sasuke melanjutkan kalimatnya dengan sedikit motivasi yang sepertinya lebih ditunjukan kepada para pekerja kelas bawah seperti Sakura.

"Aku awalnya hanyalah pria biasa yang tidak memiliki apa-apa."

Pria biasa.

"Tapi aku tetap berusaha dan bekerja keras, bahkan saat gagal berkali-kali aku terus bangkit."

Pekerja keras.

"Tidak mudah berada di posisi seperti sekarang ini dan aku bersyukur pada akhirnya bisa berdiri di sini saat ini."

Tidak ada yang mudah.

Tepuk tangan mulai terdengar membahana. Ucapan Sasuke begitu manis dan membangun tapi entah mengapa Sakura malah menelan kenyataan pahit. Matanya tak lepas dari sosok Sasuke yang istimewa dan ia sangat berharap agar pandangan mereka bisa bertemu. Tapi sayangnya, pria itu bahkan tidak menolehkan kepalanya ke arah Sakura berdiri sama sekali.

"Dan wanita yang kucintai ini, yang sebentar lagi akan menyandang nama belakangku, dialah yang selalu menemaniku semenjak aku tidak memiliki apa-apa."

Karin Uzumaki tersenyum dengan ekspresi haru. Sasuke mencium punggung tangan wanita itu dengan lembut dan suara derai tepuk tangan kembali meriah. Sakura yang berdiri di tengah-tengah para tamu ikut tersenyum haru. Sasuke terlihat sangat bahagia dan itu membuat suasana hati Sakura ikut menghangat. Gadis bermata zamrud itu bahkan ikut bertepuk tangan dengan nampan perak yang ia selipkan di lengan atasnya, mengapresiasi pencapaian sahabat lamanya malam ini dengan begitu tulus. Seulas senyum di wajah Sakura bahkan tidak pudar sampai pada saat ia mengambil langkah untuk menjalankan tugasnya kembali.

Sisa malam itu dihabiskan Sakura dengan berkeliling memberikan gelas-gelas anggur. Dalam beberapa kesempatan Sakura berusaha mendekati sosok Sasuke Uchiha yang tengah asik mengobrol dengan rekan-rekan bisnisnya. Mencoba menarik perhatian pria itu tapi selalu gagal. Sasuke tidak pernah menyadari kehadirannya, sedangkan Sakura hanya bisa melihat kehadiran pria itu dari jauh. Rasanya sangat ingin menegur sahabatnya itu. Tapi ketika Sakura pada akhirnya memiliki keberanian untuk sekadar menyapa setelah dilihatnya Sasuke yang sedang sendirian, seorang pramusaji pria memanggil dirinya untuk meminta bantuan. Dan ketika Sakura sudah selesai dengan urusannya, Sasuke sudah tak lagi di tempat.

Sakura menghela napas kecewa. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam dan para tamu satu persatu mulai berpamitan. Kesibukan Sakura perlahan mulai berkurang dan ia kembali berusaha untuk menemui sahabatnya.

Pukul sebelas malam, ruangan yang tadi penuh kini telah kosong setengahnya. Sakura masih tetap mengantarkan gelas-gelas burgundy sembari terus mencari sosok Sasuke Uchiha yang batang hidungnya sudah tak lagi ia temukan sejak empat puluh menit yang lalu.

Pria itu pasti sudah lelah dan kini tengah beristirahat di salah satu kamar VIP bersama tunangannya. Jadi, mungkin saja pria itu sudah tidak ada lagi di sini. Memikirkannya membuat Sakura menelan pahit ludahnya sendiri. Tidak, ia tidak cemburu sama sekali. Perasaan cintanya pada Sasuke sudah hilang beberapa tahun yang lalu tapi rasa sayangnya sebagai seorang sahabat yang merindukan kawan lama tentu masih tertinggal di lubuk hatinya.

Manik emerald yang awalnya membulat sempurna karena berdebar-debar itu kini berubah layu. Rasa lelah di tubuhnya semakin terasa memuakkan karena ditambah rasa kecewa dan ekspetasi berlebihan yang kini ia sesali. Tentu saja bertemu dengan Sasuke Uchiha tidaklah mudah ditambah kini status sosial mereka sangat berjarak jauh.

Di sela-sela langkah kaki jenjang berbalut celana hitam panjangnya, tubuh Sakura tiba-tiba saja membeku di tempat kala sebuah suara bariton menusuk indra pendengarannya. Ia menoleh ke belakang. Mendapati sesosok pria tak disangka yang sangat ia kenal sewaktu SMA.

"Sakura?"

To Be Continued