"Sakura?"
Suara bariton itu tiba-tiba muncul dari arah belakang, melewati indra pendengaran hingga mengakibatkan jantungnya mulai berdetak tak karuan. Sakura menoleh pelan penuh keheranan serta harapan. Iris hijaunya kembali membulat sempurna kala tatapannya jatuh kepada seorang pemuda berusia sebaya sepertinya juga tengah berdiri dengan ekpresi tak kalah terkejut.
"Eh?" Sakura memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan pemuda itu. "Naruto?"
Naruto Uzumaki mengubah raut wajahnya seratus persen saat mengetahui fakta bahwa wanita di hadapannya ternyata masih mengenalinya. "Sakura-chan! Ini benar-benar kau! Astaga, aku fikir salah orang," ucap pemuda itu seraya memukul pelan kepalanya sendiri.
Sakura melebarkan senyum senang. Naruto adalah salah satu teman baiknya semasa SMA dan tentu saja dia tidak akan melupakan sosok pemuda pirang menyenangkan itu. Pantas saja Sakura merasa tidak asing dengan nama belakang dari tunangan Sasuke, ia baru sadar bahwa wanita itu ternyata memiliki marga yang sama dengan Naruto. Tapi seingat Sakura pria itu tidak memiliki saudara kandung, jadi mungkin saja wanita itu adalah kerabat atau sepupunya.
Pandangan Sakura bergulir ketika menyadari bahwa Naruto tidak berdiri seorang diri. Sesosok laki-laki mungil dengan wajah kemerahan dan warna rambut yang sama seperti Naruto juga turut berdiri di sebelah pria itu seraya menggenggam erat tangannya. Naruto menyengir lebar ketika menyadari Sakura tengah memberikan perhatian penuh kepada bocah berusia tiga tahun di sebelahnya.
"Ya ampun, siapa pria manis ini?" Sakura merjongkok, berusaha menyamakan tinggi badannya dengan bocah laki-laki yang kini bersembunyi di balik kaki jenjang sang ayah dengan malu-malu. Sakura masih terus menatap bocah itu ramah dengan wajah berbinar seraya berkata, "dia tampan sekali."
"Boruto, ayo beri salam pada Bibi Sakura." Naruto berujar lembut dan mendorong pelan tubuh mungil putranya untuk menjauh beberapa senti dari kakinya. Tapi bocah itu sepertinya tidak terlalu suka untuk berinteraksi dengan orang baru sehingga membuat wajahnya menjadi semakin merah karena kesal.
Sakura yang awalnya tersenyum gemas kini beranjak berdiri dan mengganti raut wajahnya dengan ekpresi kesal yang dibuat-buat. "Bibi katamu? Hey, aku tidak setua itu!"
"Ayolah, Sakura. Terima saja kalau kau ini sudah tidak muda lagi."
Ucapan terakhir dari Naruto membuat keduanya tertawa geli di tengah-tengah hiruk pikuk manusia yang satu per satu kini mulai meninggalkan ballroom restoran. Sakura memandang Naruto dengan rasa bahagia yang sangat tulus. "Aku merindukanmu, Naruto."
"Aku juga merindukan Sakura-chan," balas pria itu tak kalah riang dengan senyuman lebar sampai sampai matanya menyipit. "Terakhir kali kita bertemu hanya selepas perpisahan waktu SMA. Kau kemana saja selama ini?"
"Aku tidak kemana mana, Naruto. Kau yang kemana saja?"
"Oh, benar juga. Hahaha!"
Sama seperti Sasuke, Naruto juga melanjutkan pendidikannya di luar negeri yakni lebih tepatnya di Inggris dan Sakura tidak pernah lagi mendengar kabar si pemuda pirang dengan segala macam tingkah konyolnya semejak saat itu. Tapi malam ini, tiba-tiba saja Sakura dipertemukan dengan orang-orang penting dari masa lalunya. Hatinya menghangat menahan rasa gembira atas reuni kecil mereka.
"Pendidikan di Inggris sangat berbeda jauh dengan Jepang. Aku selalu punya banyak tugas sampai-sampai tidak bisa memikirkan hal lain. Tapi tentu saja bersekolah di sana merupakan sesuatu yang luar biasa! Ada begitu banyak hal yang bisa kuceritakan dan satu malam saja rasanya tidak cukup."
Sakura mendengarkan segala ocahan Naruto dengan seksama dan penuh minat. Naruto sungguh beruntung karena dapat mengalami hal-hal paling mengesankan selama hidupnya. Sungguh berbeda jauh dengan kehidupan Sakura yang biasa-biasa saja dan tidak istimewa sama sekali. Gadis bersurai merah muda itu telah menghabiskan separuh hidupnya hanya agar dapat memperoleh sesuap nasi untuk kebutuhan sehari-hari. Sakura bahkan tidak pernah berpergian keluar kota untuk alasan liburan.
"Kau hebat sekali, Naruto."
Cengiran Naruto bertambah lebar ketika mendengar pujian tulus Sakura. "Eh, ngomong-ngomong, apa Sakura-chan sudah menikah?"
Pertanyaan Naruto yang tiba-tiba sukses membuat Sakura merona salah tingkah. Kedua alisnya terangkat diikuti mimik kikuk dan tubuhnya menegak kaku. Namun, dengan cepat wanita itu menyembunyikan rasa kekagetannya dengan mengulum senyum.
"Haha, aku masih lajang."
"Hah? Wanita cantik sepertimu masih melajang? Tidak bisa dipercaya!"
Raut wajah Sakura menghangat. Namun jauh di dalam lubuk hatinya menyimpan kekecutan yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, berprofesi sebagai pramusaji selama delapan jam setiap harinya bukanlah apa yang Sakura bayangkan ketika usianya masih belia. Ia berharap, mungkin saja suatu hari nanti akan ada pria penuh tanggung jawab menariknya keluar dari kehidupan super monoton dan membawanya menikmati kehidupan yang baru.
Tapi tentu saja realita tak pernah seindah itu. Sakura masih terus membanting tulang dan hidup sebatang kara.
Tapi bisa saja mimpinya menjadi nyata. Kapan terjadinya, ia tidak tahu.
"Naruto-kun, bicara dengan siapa?"
Seorang wanita cantik tampak berjalan menghampiri Naruto yang masih asik berbincang-bincang dengan kawan lamanya. Sakura menolah dan mendapati seorang wanita yang tengah berjalan anggun ke arah mereka, ia terkagum-kagum pada kecantikan wanita berhelai hitam kebiruan itu yang tampak mempesona dengan balutan gaun putih gading. Rambutnya yang lurus panjang sepinggang dibiarkan berkilau dan bergoyang mengikuti arus gravitasi. Sorot mata lavendernya lembut, menenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Sakura bisa menyimpulkan bahwa wanita itu merupakan isteri Naruto.
"Hinata-chan!" Naruto menyambut kehadiran wanita itu dengan mendekap lembut perut rampingnya. "Perkenalkan ini Sakura. Kami bersekolah di SMA yang sama dulu," ucapnya sambal mengarahkan tangan kanannya ke arah Sakura. "Ini isteriku, Hinata."
Hinata Uzumaki née Hyuuga mengalihkan pandangannya ke arah Sakura yang berdiri dengan wajah bersemu kemudian menunduk pelan penuh hormat. "Salam kenal, Sakura-san."
"Sa-salam kenal juga, Uzumaki-san."
Sakura menunduk selama beberapa saat ketika perasaannya mulai terasa bercampur aduk. Dua orang dewasa yang berdiri tepat di depannya saat ini tentu bukanlah orang biasa seperti dirinya. Bisa hadir sebagai tamu khusus pada acara super megah malam ini merupakan suatu keistimewaan yang tidak biasa. Bahkan dari baju yang dikenakan mereka, orang-orang akan mudah menilai dan berspekulasi atas ketimpangan sosial yang begitu jelas tergambar.
Rasanya tidak sama. Rasanya tidak pantas untuk berbincang-bincang ringan bersama Naruto dengan gaya bahasa yang sama seperti yang mereka gunakan sewaktu masih bersekolah. Sakura merasa lebih rendah dan kurang, walaupun ia tahu Naruto tak akan pernah mempermasalahkannya.
"Aku sungguh terpesona. Naruto, kau memiliki isteri yang sangat cantik. Aku sampai sempat salah mengira bahwa yang datang tadi adalah sesosok malaikat tanpa sayap."
Wajah rupawan Hinata memerah atas pujian tulus Sakura, ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya ketika suara tawa pelan lolos dari bibir tipisnya.
Benar-benar wanita berkelas yang anggun, pikir Sakura.
"Sakura-san, kapan-kapan datanglah berkunjung untuk makan malam bersama."
"Heeee!" Sakura tersentak karena tawaran yang diberikan Hinata sangat tiba-tiba, ia bahkan belum memproses perkataan wanita itu secara menyeluruh ketika Naruto mengangguk penuh semangat.
"Ide yang bagus! Kami akan sangat senang menyambutmu sebagai tamu."
"Eh, ah anu, itu tidak perlu, kalian tidak perlu repot-repot."
"Jangan sungkan, Sakura-chan. Bagaimanapun juga, kau adalah sahabatku. Dan aku juga selalu menganggapmu sebagai saudara." Naruto berucap diselingi senyuman lebar yang memamerkan deretan gigi rapinya dengan raut berseri-seri.
"Naruto." Ucapan Sakura tertahan di kerongkongannya. Ia tersenyum penuh haru, mensyukuri kehangatan yang ia dapatkan malam itu. Sejak hari itu, keluarga Uzumaki akan menjadi salah satu alasan dan harapan baginya untuk terus menjalani kehidupan yang jarang berpihak ke sisinya.
Sakura tersenyum penuh arti. "Terima kasih banyak." Ia kembali menunduk dalam penuh rasa hormat serta kebahagiaan. "Dengan senang hati, itu akan sangat berarti."
Sungguh kemurahan hati yang langka bisa Sakura dapatkan dari sepasang suami-isteri itu. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan status sosial Sakura yang jelas jauh di bawah mereka. Mungkin ia tidak memiliki keistimewaan berupa harta atau jabatan, tapi ia memiliki keistimewaan lain berwujud orang-orang berhati malaikat yang patut ia syukuri.
"Sakura-chan, apa kau sudah bertemu dengan Sasuke?"
Deg. Jantung Sakura seketika berdebar saat ia menggeleng untuk menjawab. "Aku sudah melihatnya tapi untuk sekarang ini, rasanya agak mustahil untuk menemuinya."
"Aku bisa mengantarmu menemuinya!" tawar Naruto dan entah untuk keberapa kalinya, pemuda pirang itu selalu membuat perasaan Sakura semakin campur aduk dengan cara tak biasa.
"Aku rasa ini bukan waktu yang tepat. Lagipula, aku tidak yakin apa dia masih mengenaliku atau tidak."
"Tentu saja masih! Bagaimana bisa ia melupakan satu-satunya gadis yang pernah dekat dengannya sewaktu SMA."
Hinata yang tidak tahu apa-apa merasa sedikit penasaran namun tetap menahan diri untuk menjaga sikap dan hanya menjadi pendengar pasif tanpa berkomentar.
Sakura menarik bibirnya, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sebuah gejolak aneh tiba-tiba memaksa bola matanya untuk bergelincir delapan senti meter ke arah kanan. Saat itu juga iris hijaunya membulat kala sesosok pria berambut gelap yang berjarak 3 meter darinya terlihat berdiri dan tengah berbincang dengan beberapa pria dewasa berjas rapi di sekitarnya.
Dan Sakura tidak yakin apakah tadi pria itu, Sasuke Uchiha, tengah menatapnya atau tidak. Karena kini, Sasuke tampak lebih sibuk untuk mengobrol dengan rekan-rekannya. Tidak memandang ke arah mereka sama sekali.
Beberapa menit kemudian, Sakura mengundurkan diri untuk kembali pada pekerjaannya. Tentu saja setelah bertukar kontak dengan Naruto sehingga mereka bisa kembali berinteraksi di kemudian hari. Dan kebetulan juga Naruto sedang akan pulang setelah berpamitan dengan Karin Uzumaki yang ternyata merupakan sepupunya.
Sakura berjalan kembali dengan dua gelas anggur tersisa di nampan peraknya. Ketika wajahnya terangkat, ternyata tanpa sadar ia berjalan melewati segerombolan pria berjas yang sedari tadi asik berdiskusi. Dan Sakura mendapati bahwa Sasuke ada di sana, berdiri di antara mereka.
Kali ini Sakura bersumpah karena yakin, pandangan mereka baru saja bertemu.
Namun, seperti yang ia kira. Mereka berdua saat ini hanyalah dua pasang manusia yang tak lagi saling mengenal.
.
.
.
Gelas terakhir. Sakura bersandar pada tembok dingin yang dicat berwarna putih di belakangnya. Sudah pukul setengah dua belas malam dan acara sudah benar-benar selesai. Kini hanya tersisa pegawai kebersihan yang berada di dalam ruangan untuk merapikan sisa-sisa acara.
Sakura melepas rompi waitress hitam miliknya dan bersiap-siap untuk pulang. Malam itu sangat melelahkan dan lengan kirinya bahkan sudah mati rasa akibat menumpu beban selama berjam-jam lamanya. Sakura membuka loker miliknya untuk mengambil sepasang sepatu sneakers berwarna hijau gelap kemudian memasukan sepatu pantofel hitam yang sedari tadi digunakannya.
"Sakura, aku duluan, ya!"
"Iya, sampai jumpa!"
Sakura membalas lambaian tangan Ayame yang sedang berjalan keluar ruang ganti khusus wanita. Sekarang hanya tersisa beberapa perempuan yang masih belum selesai dengan urusan mereka masing-masing. Sakura menarik sebuah jaket tabu-abu dan langsung mengenakannya mengingat udara malam itu sudah sangat dingin. Ia harus bergegas sebelum ketinggalan jadwal kereta api terakhir.
Dengan langkah besar Sakura berjalan meninggalkan ruang ganti dan menyusuri koridor hotel yang senyap. Suara sneakers usang miliknya bergesekan dengan karpet coklat yang menutupi lantai dengan sempurna. Sakura semakin mempercepat langkahnya saat sebuah lift yang hampir penuh terisi manusia akan segera tertutup. Tapi Sakura terlambat karena kedua pintu lift telah tertutup sempurna dan bergerak turun. Wanita bermarga Haruno itu mendecih terutama ketika ia melihat tujuan akhir lift itu adalah lantai paling dasar sementara dirinya masih di lantai paling atas.
Sakura berpaling untuk mencari elevator lain yang berjarak lumayan dekat dari tempatnya semula. Tapi sayangnya lagi-lagi ia terlambat untuk yang kedua kalinya.
"Ah, sial!" umpatnya kesal.
Bukan hal yang mengherankan mengingat sekarang adalah waktu jam pulang. Pasti para pegawai lain juga berebutan menggunakan elevatror untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan tidak mungkin bagi Sakura untuk menggunakan tangga biasa karena ia masih berada di lantai 55.
Dengan sekali hentakan napas, Sakura mencari elevator terdekat lainnya. Totalnya ada lima belas lift namun hanya ada tiga lift yang dikhususkan untuk para pegawai. Dan ketika ia menemukan lift terakhir, dengan cepat Sakura berlari dan bahkan meminta untuk ditunggu.
"Tunggu saya!"
Posisinya terlalu jauh bagi orang-orang di dalam lift untuk bisa mendengarnya. Alhasil, Sakura terlambat untuk yang sekian kalinya.
Wanita itu mengaum kesal. "Lupakan saja! Hidup tidak pernah memihakku!"
Tubuhnya yang kurus terjongkok dan napasnya tersendat-sendat. Mata hijaunya yang telah sayu karena rasa lelah menatap lurus ke karpet lantai. Sakura menyerah, kali ini dia memutuskan akan menunggu daripada mengejar. Ia lelah berlari.
Suara bising terdengar dari arah ballroom restoran yang tadi digunakan sebagai acara pertunangan Sasuke. Sakura tanpa sadar telah berjalan cukup jauh sampai-sampai ia kembali ke tempat itu. Dan tanpa wanita itu sadari, kakinya tanpa alas an mulai melangkah memasuki area ballroom.
Beberapa hiasan serta ornamen telah diturunkan dan tempat itu hampir terlihat sama seperti sedia kala. Foto Sasuke bersama tunangannya bahkan sudah tidak ada. Sakura berjalan menyusuri ruangan sampai kakinya berhenti di depan balkon yang menghadap langsung ke arah kota.
Satu langkah keluar dan desiran angin malam langsung menampar wajahnya. Sakura menarik jaketnya karena udara malam itu tidak terlalu bersahabat. Emerald bening miliknya yang semula sayu perlahan mulai kembali memancarkan cahayanya.
Ribuan lampu berwarna-warni menghiasi setiap sudut kota. Walaupun waktu sudah hampir menunjukan tengah malam, Tokyo tidak pernah kehilangan kesibukannya. Masih banyak manusia dan kendaraan yang berlalu lalang di tengah-tengah kota metropolitan.
Sakura tersenyum tipis karena kekagumannya pada pemandangan indah malam itu. Bintang bahkan tidak berani menampakkan kehadirannya karena kalah terang oleh lampu-lampu kota. Jemari lentiknya menempel pada besi dingin yang membatasi dirinya dan angin. Kulitnya yang putih menjadi kemerahan karena sentuhan angin yang ganas. Untuk sesaat, Sakura menikmati kesendiriannya.
"Jadi kau bekerja di sini?"
Suara yang datang tiba-tiba dari arah belakang membuat kepala Sakura menoleh cepat. Matanya lagi-lagi membulat sempurna dan rasa tidak percaya tergambar jelas pada ekpresinya.
"Sakura, ya?"
Sasuke Uchiha berdiri tepat di belakangnya. Pria itu bahkan mulai melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan Sakura. Menghampiri wanita bersurai musim semi yang masih mematung karena kehadirannya.
"Sasuke?"
Dua pasang mata gelap pria itu menatapnya datar, menunggu kelanjutan ucapan Sakura yang masih tertahan di ujung kerongkongan.
Sadar dengan suasana yang mulai tidak enak, Sakura memutuskan untuk kembali bersuara. Wanita itu menunduk pelan sebelum melanjutkan, "lama tidak berjumpa."
Sasuke ternyata masih sama. Masih irit dalam berbicara dan minim ekpresi. Tapi Sasuke bukan lagi teman sejawatnya seperti dulu. Hal itu membuat Sakura kekurangan kata-kata dan cenderung enggan untuk mengakrabkan diri, pria di hadapannya ini bukanlah pria biasa, ia tidak boleh melakukan sesuatu yang akan mengantarkannya kepada masalah.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Sakura merasa senang dan lega. Sasuke ternyata masih mengingat bahkan mau menyapanya.
Sungguh di luar dugaan.
"Kau bekerja di sini?"
Wajah Sakura terangkat mendengar pertanyaan dari Sasuke. Pria itu masih menatapnya datar tanpa arti.
"Iya."
"Sebagai pelayan?"
Ia tahu dirinya tidak punya hak, tapi pertanyaan Sasuke yang terakhir sedikit membuatnya tak nyaman.
"Kau benar."
"Oh."
Sasuke berjalan ke sebelah Sakura dan ikut menikmati suasana indah kota Tokyo malam itu. Sasuke terlihat sangat tampan dan berkarisma dengan mantel kulit yang menutupi tubuh tegapnya.
"Apa itu mengganggumu?"
"Maksudmu?"
"Pekerjaanku."
Sasuke mengambil celah untuk bernapas. "Tidak juga."
Hening kembali, suara hembusan angin malam lebih mendominasi daripada interaksi keduanya. Mereka tidak pernah sekaku ini dulu.
"Hanya saja," pria itu memutar tubuhnya dan bersandar pada besi. "kupikir kau bisa menjadi sesuatu yang lebih baik."
Dahi lebar Sakura berkerut, ia mulai merasa tersinggung.
"Apa?"
"Kau cukup cerdas. Seharusnya nasibmu bisa berubah sekarang."
Sakura benar-benar tidak menyangka Sasuke akan mengatakan hal seperti itu. Apakah secara tidak langsung pria itu sedang merendahkan status sosialnya sekarang? Sakura tidak mengerti.
Bukan ini yang Sakura bayangkan ketika ia bisa bertemu kembali dengan Sasuke. Oh, benar. Mimpi-mimpi dan ekpetasinya tidak pernah terwujud.
"Aku akan ketinggalan kereta terakhir. Aku pamit pulang."
Sakura memutar tubuhnya dan mulai melangkah pergi. Ia menyibak jaket dari tangan kirinya untuk melihat arloji dan terkejut. Sudah pukul dua belas lewat lima menit. Dia terlambat lagi.
"Kau sudah terlambat."
Wanita itu meringis hingga matanya mulai berkaca-kaca. Kereta api terakhir telah berangkat lima menit yang lalu dan tidak ada lagi bus yang berkeliaran sejak pukul sebelas malam. Mau tak mau Sakura harus menaiki taksi yang biayanya berkali-kali lebih mahal daripada kendaraan umum lainnya.
"Bodoh! Bodoh!"
Sakura memukul kepalanya berkali-kali, merutuki kesialan yang menimpanya bertubi-tubi. Bahkan ia telah lupa kalau Sasuke masih berdiri di belakangnya, memperhatikan tiap detik gerakannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak."
"…"
"Aku hanya mau pulang." Suara Sakura mulai meninggi. "Tapi alam semesta terlalu membenciku." Sakura berucap pelan seperti berbisikan agar Sasuke tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Desir angin lagi-lagi mengambil alih suasana. Setelah beberapa detik tanpa suara, Sakura memutuskan untuk mengambil langkah berat.
"Aku akan mengantarmu."
"Ha?" Sakura menoleh dengan mulut terbuka. "Tidak. Tidak usah repot-repot."
Langkah ketiga Sakura terhenti karena sebuah tangan menarik lengan atasnya. Memaksanya berhenti dan kembali menoleh sembilan puluh derajat.
"Tidak aman bagi wanita sepertimu pulang larut malam. Kau biasa menaiki kereta cepat? Artinya rumahmu lumayan jauh dari sini, kan?"
Sakura sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Wanita itu ingin sekali menerima tawaran Sasuke namun ia teringat akan satu hal.
"Bagaimana dengan tunanganmu? Kau akan meninggalkannya?"
"Dia sudah pulang sejak tadi."
"Oh." Sakura pikir Sasuke dan tunangannya akan menginap di hotel. Ternyata mereka hanya sekadar menyelenggarakan acara. Dan beberapa detik kemudian, Sakura mengangguk setuju.
.
.
Mereka menuruni lantai dengan lift khusus tamu VIP. Dan ini merupakan pengalaman pertama bagi Sakura setelah bekerja kurang lebih tiga tahun sebagai pramusaji. Tanpa interaksi, mereka berjalan beriringan dalam hening. Tidak ada yang mau atau tertarik membuka suara dan bagi Sakura ini lumayan menyiksa.
Lima menit kemudian mereka telah sampai di parkiran, VIP tentu saja. Sebuah mobil berjenis Porsche Macan 2.0. berwarna hitam mengkilap terpakir sempurna di deretan paling ujung.
Sakura masih mematung saat pria itu mulai memasuki mobil. Melihat teman perempuannya yang terlihat malu-malu membuat Sasuke sedikit meninggikan suaranya. "Masuklah! Jangan sungkan."
"Sasuke, kau yakin mau mengantarku? Aku hanya merepotkanmu. Sepertinya lebih baik bagiku untuk naik taksi."
Tidak ada jawaban langsung. Tapi wajah Sakura seketika mulai memerah saat Sasuke menunjukan seulas senyum kepada dirinya setelah sebelas tahun lamanya.
"Aku tidak merasa keberatan untuk mengantar sahabatku pulang dengan selamat."
Sakura tersenyum hangat. Dan kali ini tanpa keraguan, wanita manis itu membuka tutup mobil dan duduk di sebelah kursi pengemudi.
Di tengah perjalanan suasana perlahan mulai mencair. Sakura mulai berani bersuara walaupun tidak terlalu banyak. Selain itu, dia juga tidak mau mengganggu fokus Sasuke yang tengah menyetir.
Sakura tak habis berucap wow dalam hati, mengagumi kemewahan mobil pribadi Sasuke yang sangat canggih. Sepuluh menit mereka terakhir dihabiskan tanpa suara.
Kurang dari satu jam mereka sampai, rumah Sakura terletak di pinggiran kota yang sangat jauh dari pusat kota. Sakura bergegas turun saat rumah kecilnya mulai terlihat jelas.
"Terima kasih banyak, Sasuke. Aku berhutang padamu."
"Kau tidak menawariku untuk mampir?"
Mata sakura terbelalak karena kaget. "Eh, ten-tentu saja. Kau boleh mampir, aku akan membuatkanmu minuman."
Sasuke tersenyum tipis karena tingkah aneh sahabat lamanya.
"Lain kali saja."
Pria itu mulai menyalakan mesin mobilnya kembali dan setelah berpamitan singkat, kendaraan roda empat mewah miliknya mulai bergerak maju. Meninggalkan Sakura yang masih diam tak bergerak di tengah siulan angin malam.
Tapi sebuah senyuman dan semburat merah tak lekas hilang dari wajahnya.
To Be Continued
