Mobil mewah itu mulai lenyap di ujung jalan saat Sakura melangkah masuk ke halaman rumahnya. Kotak surat dengan cat merah darah yang mulai mengelupas masih berdiri kokoh di halaman rumahnya yang cukup sederhana. Sebuah amplop coklat terlihat menjalar keluar dari dalam kotak, jantung Sakura kembali berdetak tak karuan ketika menyadarinya.

Dengan segera tangan kanannya membuka tutup kotak untuk mengambil isinya keluar. Ia memeriksa alamat sang pengirim dan tebakannya ternyata tepat. Bibirnya tertarik dan perasaannya semakin riang, buru-buru ia berjalan masuk setelah mengambil kunci rumah yang tersembunyi di bawah pot bunga kaktus.

Sakura meletakan amplop itu di atas meja makan. Namun, ia menahan rasa penasarannya dengan mandi terlebih dahulu. Walaupun hawa di luar sangat dingin, tubuhnya tetap terasa lengket akibat keringat yang disebabkan oleh aktivitas padat dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman. Selesai memanjakan dirinya dengan sentuhan air panas serta harum sabun yang tercium manis di tubuhnya, Sakura merebus air dan menyeduh secangkir teh hijau.

Ia meletakan teh hijau yang masih panas itu di sebelah amplop sebelum mendudukan dirinya sendiri pada kursi. Aroma menenangkan dari cangkir putih itu menyerbak ke seluruh penjuru dapur layaknya aromaterapi dengan rasa varian matcha. Membuatnya sedikit tenang sekaligus mengobati kegelisahan.

Sakura menarik napas dalam-dalam selama beberapa detik. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja dan menimbulkan suara gaduhnya sendiri. Akhirnya dalam satu helaan panjang, tangannya dengan mantap mulai merobek ujung amplop secara perlahan dan hati-hati. Amplop itu cukup tebal karena berisi ratusan halaman kertas. Dan di antara ratusan kertas tersebut, terdapat satu buah amplop berukuran lebih kecil yang sengaja diselipkan.

Tangan Sakura bergetar ketika amplop itu telah berada di tangannya. Ia merobek dengan penuh harapan, menarik isinya, dan mulai membacanya.

Perasaannya kembali memuncak ketika iris hijaunya mulai membaca kata demi kata dari selembar surat yang memiliki peluang untuk mengubah masa depannya. Surat yang sudah ia tunggu sejak dua bulan yang lalu.

Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada penerbit kami. Editor kami telah membaca dan menyaring keseluruhan naskah yang Anda kirim pada bulan September tanggal 8. Namun, dengan berat hati kami nyatakan bahwa naskah Anda DITOLAK. Kami telah mengembalikan naskah dan memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Saudari Haruno.

Tubuh Sakura langsung lemas seusai menyelesaikan bacaannya. Kertas yang ia kira berharga itu ternyata tak bernilai apa-apa. Hanya goresan tinta yang dibuat oleh mesin ketik. Tidak berguna.

Ini sudah keempat kalinya Sakura mencoba peruntungan dengan mengirim karyanya ke empat penerbit berbeda. Dan terhitung empat-empatnya menolak naskahnya dengan mentah.

Apa ia memang tidak berbakat di bidang sastra? Apakah ia harus membuang jauh-jauh mimpinya yang tidak cukup realistis?

Andai ia punya jawabannya saat itu juga.

Tanpa menyentuh cangkir the hijaunya lagi, Sakura beranjak dari kursi dengan perasaan kosong. Rasa kecewa yang sama telah menimpannya empat kali, dan itu membuatnya sedikit terbiasa. Bingkai foto mendiang ayahnya, Kizashi terpajang rapi di atas furnitur. Dan entah mengapa, matanya mendadak terasa berat.

Sakura meraih bingkai coklat yang sepenuhnya terbuat dari kayu palet. Kizashi tersenyum ke arahnya. Kosong. Foto itu hanyalah sebuah benda mati tapi Sakura tetap bisa merasakan kehadiran sang ayah di dekatnya. Tangannya kembali bergetar ketika dirinya mendekap bingkai itu lebih erat.

"Ayah, aku merindukanmu."

Desiran angin malam memenuhi seisi rumah dan Sakura mulai menangis dalam diam.

.

.

.

"Dari mana saja kau?"

Sasuke menoleh saat menyadari kehadiran orang lain di apartemen elit miliknya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa itu masalah besar? Aku adalah tunanganmu sekarang."

Sasuke tak lagi menjawab. Ia terlalu lelah memulai pertengkaran dan lebih tertarik untuk melonggarkan dasinya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku." Karin melantangkan suaranya.

"Hanya urusan kecil dan itu tidak penting."

"Urusan tidak penting macam apa yang membuatmu pulang lebih larut dari biasanya?" Wanita berkacamata senada dengan warna rambutnya itu beranjak berdiri dari sofa empuk yang sedari tadi telah menampung tubuh rampingnya. Ia berjalan mengejar Sasuke yang hampir meninggalkan ruang tamu. Menahan pria itu untuk tetap berdiri di tempatnya. "Katakan dengan jelas!"

Sasuke kini menatap Karin sepenuhnya. Rautnya wajahnya datar tanpa ekspresi, sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan beberapa jam lalu kepada khalayak ramai.

"Sasuke, ini sudah pukul 2 pagi!" Suara Karin semakin meninggi, mengintimindasi pria di hadapannya yang masih berdiri dengan perasaan penuh sabar.

"Mengantar seorang teman," jawab Sasuke singkat pada akhirnya.

Karin menaikan sebelah alisnya tak percaya. Sorot batu ruby yang tersembunyi di balik bingkai kacamata itu menajam dan menusuk. Dan itu membuat Sasuke semakin enggan untuk menatapnya.

"Kau tidak punya teman."

"Karin—"

"Apa dia perempuan?"

"Kami hanya teman lama, dan tidak ada lagi yang penting!"

Hening. Tak ada lagi yang bersuara di antara keduanya. Sasuke memegang kepalanya yang mulai terasa pusing, tenaganya sudah terkuras habis akibat pesta tak masuk akal yang direncanakan kedua orang tuanya itu. Ditambah pertengkaran tak berkesudahan dengan wanita yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi tunangannya.

"Yang benar saja."

Emosi Karin sudah memuncak di ujung kepala, dan jika Sasuke melakukan kesalahan sedikit saja, kepalanya bisa meledak-ledak. Maka dari itu Sasuke memilih diam dan membiarkan wanita itu untuk berkompromi dengan emosinya sendiri.

"Kau mau ke mana?" tanya Sasuke heran saat mendapati tubuh Karin berputar untuk bergegas melangkah pergi meninggalkannya.

"Pulang," jawab Karin tanpa menoleh sedikit pun.

Sasuke mengejarnya. "Biar kuantar." Namun, Karin menepis kasar pergelangan tangannya yang berupaya merangkul lengan wanita itu.

"Aku sudah memanggil supirku."

"Kau yakin?"

Dan untuk sesaat, Karin menghentikan langkahnya sebelum menoleh. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan, "kau tidak pernah peduli."

Entahlah sudah berapa banyak hadiah dan perhiasan yang Sasuke berikan demi menunjukan kepada wanita keras kepala itu bahwa ia mencintainya. Tapi semua itu tak akan lagi bernilai apa-apa jika keduanya sudah terlibat pertengkaran.

"Kau mulai berbicara tak masuk akal."

"Tidak masuk akal menurutmu karena memang kau tidak peduli!"

Sosoknya menghilang diiringi suara pintu yang dibanting keras. Sasuke membeku untuk beberapa saat, kepalanya kembali terasa pusing dan kini ia memilih untuk mengakhiri hari.

Hubungan mereka sudah bertahan empat tahun lamanya. Dan tentu saja perkelahian mereka juga telah berlangsung selama itu. Keduanya bahkan pernah beberapa kali putus tetapi pada akhirnya tak satupun dari mereka yang bisa melupakan kenangan antara satu sama lain. Sasuke mencintai wanita keras kepala itu, sungguh. Pertemuan mereka enam tahun silam di acara pernikahan Naruto benar-benar mengubah hidupnya. Sasuke ingat dirinya harus repot-repot menahan egonya demi meminta bantuan kepada Naruto agar bisa mendekati sang sepupu. Dan itu ternyata tidak begitu susah karena seperti dugaannya, Karin juga menyukainya sejak awal.

Dua tahun awal hubungan mereka benar-benar manis. Namun, semakin lama tentu saja sifat asli keduanya mulai terungkap. Karin memang wanita yang keras kepala tapi Sasuke tak menyangka bahwa wanita itu bisa menjadi sangat buas. Terlahir dengan berbagai kesempurnaan membuat keduanya saling mencurigai dan kurang percaya satu sama lain. Juga banyak faktor lainnya yang membuat hubungan mereka menjadi semakin tidak sehat.

Tapi Sasuke percaya setiap hubungan pasti akan selalu ada masalah yang menanti. Dan ia yakin bisa melewatinya. Entah sampai kapan ia bisa bertahan.

-oOo-

Sakura meraih ponselnya yang bergetar dari atas nakas. Sembari berebah di ranjang kecilnya, ia mengecek beberapa pesan yang belum dibuka. Salah satu pesan dari nomor tak dikenal menarik perhatiannya. Dengan satu gerakan, jarinya membuka pesan seluler tersebut.

'Sakura, hari ini kau libur, 'kan?'

Alis merah mudanya tertarik, penasaran dari siapa sebenarnya pesan itu berasal. Ia lantas membalas pesan itu dengan menulis, 'Siapa?' dan tak lama setelah terkirim, ponselnya kembali bergetar menandakan masuknya sebuah balasan.

'Sasuke.'

"Eh?"

Tubuh Sakura refleks bangun, pesan singkat dari Sasuke lebih menarik minatnya ketimbang kasur empuk yang biasanya selalu menjadi magnet bagi tubuhnya.

'Kau tahu nomorku dari mana?'

'Tidak begitu penting. Kau luang?'

'Ini hari minggu, kurasa iya.'

'Kalau begitu temani aku berbelanja sore ini.'

Sakura menatap pesan terakhir dari Sasuke dengan rasa heran juga penasaran. Jarinya bergerak-gerak tapi tidak ada niatan dalam dirinya untuk segera membalas. Dan ketika jemarinya mulai mengetik, sebuah pesan singkat dari Sasuke kembali memenuhi layar notifikasi ponselnya.

'Kenakan saja baju yang kau terima.'

Sakura mulai kebingungan sekarang. "Baju?! Baju apa?"

Suara ketukan dari pintu depan hampir membuatnya terlonjak akibat kaget bukan main. Segera Sakura melangkah keluar kamar dengan sedikit berlari untuk membukakan pintu.

Sesosok pria berseragam biru gelap tengah membawa sebuah kotak berukuran sedang. "Paket Anda, Nona," ujarnya sembari menyerahkan paket itu ke arah Sakura.

"Eh— a-aku, tidak memesan apa-apa." Ucapan Sakura terbata-bata karena ia berpikir mungkin saja pria itu salah alamat.

Pria berseragam biru gelap itu juga menunjukan ekpresi tak kalah heran dari Sakura. Ia lantas memeriksa beberapa lembar kertas berisi alamat dan penerima yang dituju, memastikan apakah dirinya memang salah atau tidak.

"Apakah Anda adalah Sakura Haruno?"

"Ya, itu aku."

"Kalau begitu paket ini tidak salah tujuan."

Dengan rasa penuh kebingungan, Sakura pada akhirnya menerima paket misterius itu dengan tangan bergetar. Setelah menandatangani sebuah dokumen dan mengucapkan terima kasih, pria itu langsung pergi dengan mobil penuh paket yang harus diantar hari itu juga.

Sakura memeriksa paket itu sekali lagi. Nama pengirim tidak tertera sama sekali, hanya terdapat nama dan alamat rumahnya. Dengan penuh rasa penasaran ia lantas membuka paket itu tidak sabar. Sebuah kertas minyak mulai terlihat seusai Sakura memotong tiap isolasi bening yang terekat pada kotak. Tangannya menyibak kertas minyak tersebut dan mendapati sesuatu berwarna lembut terlipat rapi. Ia mengambil benda itu dan mengangkatnya tinggi.

Sebuah baju terusan berwarna hijau pastel dengan bahan dasar sutra disertai manik-manik putih yang dijahit manual pada beberapa bagian. Baju itu sungguh sangat—menawan. Iris hijau Sakura membulat sempurna, mengagumi baju yang terlihat sederhana tetapi juga sangat mewah itu. Ia memeriksa label di bagian belakang leher dan mendapati bahwa baju tersebut ternyata merupakan salah satu merek pakaian terkenal dari Eropa.

Saat itu juga Sakura baru menyadari dari siapa paket ini berasal. Ia menarik ponselnya dan menggerakan jarinya dengan lihai, menulis pesan singkat kepada Sasuke.

'Baju ini darimu?'

'Ya.'

'Aku tidak ingin menerimanya begitu saja. Kau tidak seharusnya melakukan ini.'

'Akan kujemput nanti pukul 4 sore.'

'Sasuke, itu tidak perlu!'

'Tidak perlu berterima kasih.'

Sakura mendecak kesal. "Apa-apaan dia itu!"

.

.

.

Hari minggu pukul setengah lima sore dan Sakura telah berdandan rapi dengan baju terusan berwarna hijau pastel pemberian Sasuke. Ia duduk pada sofa kecil yang sudah sangat tua di ruang tamu rumahnya sembari memeriksa ponselnya berkali-kali. Belum ada tanda-tanda kehadiran sang sahabat, pesan yang ia kirim dua puluh menit yang lalu bahkan belum mendapatkan balasan.

Ketika dirinya mulai merasa tidak yakin, suara klakson mobil dari luar menerobos indra pendengarannya. Sakura menarik tas lengan sederhana berwarna putih yang ia beli dari pasar tradisional dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Mobil mewah Sasuke telah terpakir rapi tepat di depan rumahnya, kaca jendelanya turun saat Sakura mendekat ragu-ragu.

"Langsung masuk saja."

Suara Sasuke terdengar seperti perintah dan Sakura menurutinya.

"Maaf aku terlambat."

Sakura baru saja akan protes tapi ucapannya tertahan oleh pernyataan Sasuke yang mendahuluinya. Sasuke memandang ke arahnya, memperhatikan penampilan wanita berhelai musim semi itu. Baju yang ia berikan kemarin sangat pas pada tubuh ramping Sakura. Warnanya yang senada dengan iris emerald Sakura menambah nilai keindahan itu sendiri.

"Cantik."

"Kau terlihat—baik."

Sakura menatap Sasuke bingung. Tidak begitu mengerti apa maksud kalimat terakhir dari pria itu sebenarnya. "Ya, tentu. Aku baik-baik saja."

Sasuke mulai menjalankan mobilnya. Perempuan di sebelahnya ternyata tak menangkap maksud ucapannya.

"Omong-omong, Sasuke. Terima kasih banyak atas baju ini, aku sangat menyukainya. Tapi jika kau melakukan hal ini lagi, aku tidak akan mau menerimanya lagi. Aku tidak akan pernah bisa membalasmu."

Sasuke mengambil jarak sebelum menjawab, "kau berlebihan."

"Aku hanya merasa tidak pantas."

Sasuke melirik Sakura yang sedang menunduk. Rambutnya yang panjang dan lurus dibiarkan terurai, sementara poninya dikait dengan dua jepit runcing berwarna hitam seperti jarum.

Beberapa menit dalam keheningan, Sakura mengangkat kepalanya tiba-tiba. "Oke, serius! Kau mau membawaku ke mana? Kenapa aku? Ada urusan apa?"

Pertanyaan beruntun Sakura layaknya alarm yang berbunyi tiba-tiba membuat Sasuke menyipitkan matanya. "Aku tidak mengerti wanita, dan aku ingin meminta bantuanmu sebagai salah satu perempuan yang kukenal baik."

"Oh, ya? Bantuan apa."

"Mencarikan hadiah untuk tunanganku."

Sakura melipat kedua lengannya di depan dada. "Maksudmu, kau tidak tahu sesuatu yang disuka tunanganmu sendiri?"

"Aku hanya kehabisan ide."

"Kau biasanya memberinya apa?"

Sasuke memutar otaknya dan baru saja menyadari, dia tak pernah memberikan Karin hadiah yang murni pemberian darinya. Dia selalu membiarkan wanita itu berbelanja sesuka hati dan tugasnya hanyalah membayar tagihan menggunakan kartu kredit tanpa limit. Tidak pernah terpikirkan baginya untuk turun ke lapangan langsung hanya demi membeli sebuah hadiah. Bahkan baju yang dikenakan Sakura saat ini merupakan pilihan dari bawahannya yang kemarin ia beri perintah.

"Segalanya." Sasuke mengangkat alisnya saat mendengar Sakura tertawa pelan.

"Hey, kau cukup romantis ternyata."

"Itu tidak cukup."

Sakura mengunci bibirnya rapat. Membiarkan suara mesin samar-samar mengambil alih suasana. Sementara pandangan Sasuke tetap fokus ke ujung jalan.

"Apa bunga kesukaannyaa?"

Sasuke menaikan alisnya. Sadar akan satu hal lagi. Dia tidak tahu. "Bunga? Apa itu sesuatu yang penting?"

"Tentu saja! Sebuket bunga akan selalu menjadi satu dari jutaan pilihan terbaik untuk diberikan kepada orang yang kita sayangi." Sakura menoleh kea rah Sasuke yang tengah menyetir. "Jadi, apa bunga favoritnya?"

"Aku tidak tahu."

Senyum lebar di wajah Sakura pudar seketika. "Kau tidak tahu?"

"Entahlah, aku tidak pernah berpikir sejauh itu," aku Sasuke sedikit ragu. "Aku selalu memberikannya puluhan buket mawar setiap hari valentine. Dan lagi pula—"

Sakura memberi jeda dan tak berniat sedikit pun untuk memotong kalimat Sasuke.

"Dia bukan tipe yang seperti itu. Dia lebih suka kemewahan dibandingkan keindahan."

"Oh." Sakura menganggung-angguk mengerti. Ia menatap lurus ke depan dan tersenyum. "Aku tahu apa yang harus kaulakukan."

To Be Continued