Hola Minna~ Akhirnya setelah sekian lama Velo bisa update cerita ini! Maaf atas keterlambatannya ya karena berhubung Velo kemarin-kemarin sibuk serta ada UAS. Tapi semua itu udah lewat hahaha!
Astaga Velo ga nyangka dan berterima kasih untuk yang review, fav dan follow cerita ini *terharu*. Pokoknya makasih banyak karena kalian berharga! *Ngacungin kedua jempol*
Lalu setelah dibaca lagi ch.1 itu bener-bener butuh koreksi, duh malu~
Dan makasih banyak buat saran sama koreksinya ya Hanna Luchetta -san hehehe. Ya ampun Velo khilaf, nama mama Ichigo seharusnya Masaki :') (Maafkan aku Om Kubo, aku seenaknya saja seperti itu *cry*).
Ya pokoknya semoga di ch 2 ini lebih baik dan Velo seneng bisa ngelanjutin cerita ini!
Selamat menikmati~ I hope you like it!
Bleach by Kubo Tite. Story was mine.
Oasis di Tengah Gurun
Chapter 2 : A bit Closer
Inoue berjalan memasuki kantor tempat dimana ia bekerja sekarang. Mungkin sudah hampir sebulan ia bekerja di sini. Namun, dirinya masih penasaran dengan designer yang membuatnya terkagum-kagum. Kata Nanao-chan, dia orang yang sangat berbakat bahkan para perusahaan top di dunia menginginkannya. Lalu yang ia dengar lagi, dia merupakan sahabat baik Ichigo sejak dulu. Hal ini membuat rasa penasarannya terus bertambah apalagi ia jarang melihat designer itu alias Rukia.
"Huft, inilah akibatnya jika nonton drama korea semalaman." Ujar Inoue berjalan menuju lift dengan lunglai.
Lift terbuka dan ia melihat Rukia dengan dress putih yang elegan. Inoue sempat tertegun melihatnya apalagi mata besar violet milik Rukia yang sangat indah bagaikan permata yang berkilauan. Bukan hanya itu, auranya begitu anggun dan bersinar.
"Wah, cantiknya. Ups, maaf." Ujar Inoue segera masuk ke dalam lift.
Rukia melihat Inoue yang sempat mengantuk. Ia memberikannya permen mint.
"Untukku? Arigatou.. err.."
"Kuchiki Rukia, aku dengar kau sekertaris baru kepala jeruk ya?" ujar Rukia.
"Kepala jeruk.. Oh! Ya hehehe."
"Ups, sepertinya aku lupa kalau di sini dia direktur. Hm, sabar ya jadi sekertarisnya." Ujar Rukia.
-ting-
Inoue teringat sesuatu, hanya satu orang yang bisa mengejek direkturnya seperti itu kata karyawan yang lain. Siapa lagi kalau bukan sahabat baik Ichigo yaitu Rukia.
Rukia keluar dari lift namun berbalik ke arah Inoue sebelum melanjutkan perjalannya.
"Aku duluan ya, Inoue."
Inoue tertegun melihat Rukia yang berjalan menyusuri lorong kantor yang indah, ternyata designer handal itu adalah Rukia.
"Wah, mengagumkan!"
Tak lama liftnya sampai di lantai dimana ruangan Ichigo dan dirinya berada,
Tidak seperti Direktur yang ia bayangkan, biasanya seorang Direktur pasti sedang duduk manis di kursi panasnya sambil mengerjakan berkas-berkas penting. Namun berbeda dengan Ichigo, ia sedang tiduran di sofa sambil menonton TV dengan santainya. Asalnya Inoue kaget karena sikap Ichigo yang seperti itu, seperti tidak niat bekerja. Namun seiring berjalannya waktu ia sudah terbiasa dan percaya bahwa Ichigo pasti mengerjakannya pekerjaannya dengan baik walau entah kapan.
"Kurosaki-kun, ohayou~"
"Ohayou Inoue, sarapanmu ada di meja."
Inoue melihat nampan berisi roti selai strawberry dan susu yang masih hangat bertengger di atas mejanya.
"Arigatou~ Eh Kurosaki-kun, tadi aku bertemu dengan Kuchiki-san! Dia sangat mengagumkan! Dan dia memberiku permen mint!"
"Hm begitu? Heh sepertinya dia memang judes terhadapku saja, dasar anak itu. Oya, Setelah beres makan, kita langsung kerjakan berkas yang menggunung itu ya Inoue."
"Hai..! aku makan dulu ya kalau begitu."
"Hm ok, nikmati selagi bisa."
-K-
Rukia melihat layar HPnya dengan wallpaper seorang anak laki-laki berumur 8 tahun yang sedang bermain pasir di pantai. Ia tersenyum melihatnya, bagi dirinya anaknya adalah salah satu semangatnya untuk terus hidup dan berkarir.
Ia jadi ingat, sejak kecil kakak perempuannya sangat ahli dalam alat musik koto dan ikebana. Rangkaian bunga atau bonsai nya selalu dipamerkan dalam pameran dan membuat para penikmatnya kagum. Bahkan banyak pengusaha yang ingin membelinya. Uang hasil barang jualannya itu ia sumbangkan bagi anak-anak yang kelaparan atau orang-orang yang membutuhkan. Saat Hisana hamil anak pertamanya dirinya dan Byakuya merupakan orang paling bahagia di dunia ini walaupun sebenarnya Dokter sudah memperingati kalau dirinya yang lemah tak sanggup untuk melahirkan anak nanti. Antara Ibunya yang selamat atau bayinya yang selamat. Namun Hisana bersikukuh untuk melahirkan anaknya bersama dengan Byakuya. Ia tidak perduli dengan nyawanya sendiri karena ia ingin bayinya yang selamat. Ia ingin anaknya melihat indahnya dunia. Lalu setelah kematian Hisana, suaminya alias kakak angkatnya pergi ke luar negri untuk melancarkan bisnis keluarga. Ia memfokuskan dirinya sendiri pada pekerjaan karena takut larut dalam kesedihan yang mendalam.
"Nee-sama.. Andai kau masih ada, pasti Nii-sama dan Ryuu.. Hah, sudahlah mungkin sudah ditakdirkan begitu.." ujar Rukia dengan lemas, ia menaruh kuasnya di meja.
Rasanya akhir-akhir ini ia kurang mood. Karena setiap malamnya ia bermimpi tentang kakaknya dan seolah sang kakak berbicara dengan dirinya lewat mimpi. Hal ini terjadi jika sudah mendekati hari peringatan kematian kakaknya. Bukan hanya itu, ia juga memikirkan sikap Byakuya yang masih dingin terhadap anaknya sendiri.
"Semakin aku memikirkannya semakin aku ingin menangis rasanya…"
-tuk tuk tuk-
"Masuk."
"Kuchiki-san? Apakah aku menggangumu?"
Rukia menoleh, "Inoue? ada apa?"
"Erm, maaf jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, bahkan sudah lewat waktunya lho. Kau tidak lapar?"
Rukia melihat jam dan baru sadar. Dirinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga lupa akan waktu makan.
"Wah.. wanita ini sangat cantik dan mirip denganmu! Apa dia kakakmu?" tanya Inoue melihat foto Hisana terbingkai rapi di dinding ruangannya.
"Ya, dia kakakku namun sudah lama meninggal.."
"Ah.. aku turut berduka cita Kuchiki-san.."
"Tidak apa-apa kok. Aduh perutku mulai lapar nih, ayo kita makan." Ajak Rukia.
"Ayo!"
Mereka berdua mengobrol sepanjang perjalanan menuju cafeteria. Mungkin Rukia butuh mengistirahatkan pikirannya sejenak.
-K-
"Iya dulu itu Ichigo selalu membolos. Aku heran kenapa dia bisa naik kelas," ujar Rukia yang sedang memakan bento.
"Apakah pelajaran biologi?" tanya Inoue memastikan.
Rukia memberikan acungan jempol, "Benar sekali! Ternyata sampai SMA pun dia masih suka membolos pelajaran yang sama ya, ckcck aku tidak menyangka dia bisa jadi direktur lho. Kukira dia bakal jadi gelandangan di jalanan."
Inoue hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rukia tentang Ichigo.
Ichigo hanya menatap keduanya datar, ia bingung kenapa keduanya bisa langsung akrab yang tengah duduk di hadapannya sampai sekarang. Bukan hanya itu, mereka malah mengosipinya secara terang-terangan.
Dasar Rukia, ia memberitahukan yang tidak-tidak pada Inoue pikir Ichigo.
"Aku ini direktur kurang baik apa coba? Yang diomongin pas di depan mukanya tapi tetap sabar." Ujar Ichigo.
"Itu tandanya kita bukan orang yang munafik, Ichigo. Kita harus jujur dan mengutarakan pendapat satu sama lain." Ujar Rukia.
"Tapi bukan yang seperti ini. Oya aku dengar pekerjaanmu mandet, tidak biasanya. Ada apa?"
Rukia menatapnya, "Ohya? Kata siapa? Aku baik-baik saja."
"Heh berbohong sesuka hatimu deh." Ujar Ichigo sambil menatap arah lain.
Rukia hanya menaikkan bahunya dan tersenyum angkuh tak perduli. Inoue menatap keduanya.
"Kalian tidak berantem kan?"
"Tidak kok, kepala jeruk ini memang suka bikin naik darah saja. Aku khawtir padamu Inoue, semoga kau tidak stress bersama dengannya ya."
"Hei, apa maksudmu? Inoue baik-baik saja."
"Karena dia memang orang yang baik, buktinya dia bekerja dengan cepat. Coba kalau tidak ada dia, pasti kau sudah lengser dari jabatanmu. Aku masih tidak percaya kau jadi Direktur."
"Sialan Rukia, kerjaku sudah teruji klinis tahu."
"Memangnya kau makanan apa? Dasar kepala jeruk."
"Heh. Oya mengenai masalah pekerjaanmu, aku mau bicara padamu nanti."
"Silahkan datang ke ruanganku, aku malas ke ruanganmu."
"Seharusnya kau yang datang ke ruanganku. Aku kan Direkturnya."
"Siapa yang ingin bicara? Kau kan? Kau yang punya urusan kau yang datang padaku."
Ichigo sebal, "Yaya baiklah! Aku akan datang ke ruanganmu, nona Rukia." Ujar Ichigo dengan penuh penekanan sambil tersenyum sarkastik.
Rukia hanya tersenyum puas dan melanjutkan makannya.
Inoue menatap keduanya, dia bingung yang mana atasan yang mana bawahan. Mungkin karyawan lain tidak berani bersikap seperti itu. Hanya Rukia lah yang bisa begitu pada Ichigo. Ia membuat Ichigo tak dapat berkutik sama sekali.
-K-
Sesuai permintaannya tadi, Ichigo yang mendatangi ruangan Rukia. Kapan lagi seorang Direktur mendatangi ruangan bawahannya seperti ini? Dia sudah sangat baik hati dan rela lho!
-tuk tuk tuk-
"Rukia, aku masuk"
Ichigo tak mau Rukia mengusirnya, ia sudah belajar dari pengalaman bahwa sebelum masuk ke ruangan milik Rukia harus mengetuk dahulu.
"Kau mulai mengetuk pintu sekarang, Ichigo. hahahaha."
"Yaya, jadi ada apa?" tanya Ichigo yang mulai duduk di sofa dengan santainya.
Rukia duduk di hadapannya, "Ada apa apanya Ichigo?"
"Memangnya kita sudah berapa lama berteman heh, aku tahu kau sedang menyimpan sesuatu kan?"
"Heh sok tahu. Tapi memang sih aku sedang jenuh."
"Heh sudah kuduga, dilihat dari wajahmu. Lalu kerjaanmu yang mandet."
"Tenang saja boss aku tidak akan mengecewakanmu dan perusahaan ini." Ujarnya sambil tersenyum angkuh.
"Bukan itu masalahnya, jika kau masih banyak pikiran begitu beban di dirimu juga."
Rukia hanya diam dan sempat berpikir.
Ichigo juga diam sambil menatapnya.
"Sebentar lagi hari peringatan Nee-sama." Ujar Rukia menatap gelas yang ada di meja.
Ichigo sudah menduganya. Pasti ini yang membuatnya kepikiran. Ia mengenal baik keluarga Rukia dan Hisana merupakan orang terdekat serta kesayangan Rukia. Saat kematiannya pun Rukia sepertti mayat berjalan, ia seperti tak punya semangat hidup dan ekspresinya sangat dingin. Ia kira setelah memakan waktu yang cukup lama mungkin ia akan baik-baik saja. Namun ia tak menyangka sampai sekarang pun Rukia masih belum bisa melepaskan kepergian Hisana. Ah tidak juga, dirinya sama sepertinya dulu, yang belum bisa m elepaskan Ibunya yang meninggal secara tragis.
"Anakku.. Ryuu, adalah anak Nee-sama dan Nii-sama."
Ichigo sekali lagi kaget ternyata Ayahnya benar. Apakah sang Ayah seorang cenayang?
Tidak Ichigo, kau saja yang lemot dan tidak peka.
"Aku tahu rasanya kehilangan orang tua karena aku tidak tahu siapa Ayah dan Ibuku. Aku diangkat anak oleh keluarga Kuchiki karena bakatku dan mereka menyayangi serta melindungiku. Bukan hanya itu, Hisana nee-sama lah yang menyuruh Nii-sama mencariku dan menjagaku. Lalu saat melihat Ryuu, aku seperti melihat diriku sendiri. Maka dari itu aku sangat menyayanginya dan memastikan bahwa ia hidup dengan baik dan benar." Ujar Rukia sambil berjalan menatap ke luar jendela.
Ichigo sudah tahu hal itu sejak dulu kala jadi dia biasa saja, ya lagipula yang menceritakannya Rukia sendiri.
"Mungkin saat ini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena diriku masih terbayang-bayang kematian Nee-sama. Namun aku tahu aku masih bisa menjalaninya dengan baik karena ada orang-orang yang aku sayangi di sekelilingku." Ujar Rukia sambil tersenyum ke arah Ichigo.
Ichigo tertegun melihat Rukia. Dari dulu dia memang mandiri dan tidak pernah memperlihatkan kelemahannya pada orang lain. Namun sekuat apapun Rukia, dia hanyalah perempuan biasa yang membutuhkan seseorang yang mengerti akan dirinya.
Ichigo berdiri dari tempatnya,
"Rukia, mulai besok sampai minggu depan kau libur saja dulu."
Rukia menggeleng, "Tak usah Ichigo. Aku tidak enak sama karyawan yang lain, apalagi aku belum lama bekerja di sini."
"Tidak bisa, aku mau kau liburan dan tenangkan pikiranmu itu. Sudah ya, masih banyak yang harus aku kerjakan. Pokoknya kau harus liburan! Dengar dan turuti perintah direkturmu ini!"
-blam!-
Ichigo pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Rukia.
Rukia yang asalnya kaget sekarang tertawa, "Hahahaha. Ichigo kau memang kepala jeruk. Arigatou.."
-K-
Ichigo melamun dan pikirannya entah kemana. Apa yang ia lakukan tadi benar-benar tidak keren! Seharusnya dia memberinya kata-kata mutiara atau memeluknya.
"Memeluknya? TIDAK MUNGKIN!"
"Ada apa Kurosaki-kun?" tanya Inoue kaget mendengar seruan Ichigo yang tiba-tiba.
"Ah maaf Inoue abaikan saja. Tadi aku hanya membual. Oya, bagaimana pekerjaanmu? Apa kau merasa kesulitan?"
"Hm tidak kok, aku baik-baik saja. Dan tidak ada masalah sejauh ini."
"Baguslah, jika ada apa-apa langsung bilang padaku ya. Oya Inoue, minggu depan aku ada urusan jadi tidak ke kantor. Sepertinya aku akan merepotkanmu lagi."
"Oh begitu baiklah, tenang saja Kurosaki-kun!"
"Hari ini sampai sini saja deh, aku pulang duluan ya,."
"Baiklah, hati-hati Kurosaki-kun. Aku masih akan tetap di sini karena masih banyak yang harus aku kerjakan."
"Ok, segera pulang jika sudah beres ya,"
Inoue mengangguk dan fokus kembali pada layar komputernya.
Ichigo berjalan menuju lift. Sebelum pulang ia ingin melihat kembali keadaan Rukia.
-ting!-
Rukia dan Ichigo sama-sama kaget ternyata keduanya bertemu saat pintu lift terbuka.
"Kau mau pulang?" tanya keduanya bersamaan.
Mereka hanya diam dan mengangguk. Rukia masuk ke dalam lift tanpa bicara apapun, begitupula Ichigo yang langsung memencet tombol basemest. Keduanya diam tanpa kata. Ichigo berharap cepat sampai ke basement karena kesunyian yang tidak mengenakkan ini.
-ting!-
Akhirnya mereka sampai di basement. Ichigo menuju mobilnya begitupula Rukia. Namun rasanya ada yang kurang. Ichigo hendak menghampiri Rukia namun Rukia sudah ada di belakangnya.
"Wuh! Kau mengagetkanku!" seru Ichigo.
"Hari minggu jam 4 sore di tempat biasa kita bertemu. Bye." Ujar Rukia dengan cepat lalu kembali ke dalam mobilnya.
Ichigo hanya diam menatap mobil Rukia mulai melaju meninggalkan parkiran. Ia pun masuk ke dalam mobil.
"Hari Minggu..? Jangan-jangan…"
-K-
"Tadaima~"
"Okaerinasai Hime-sama." jawab para pelayan rumah dengan hormat.
"Okaerinasai Mommy!"
Ryuu langsung menghambur ke arah Rukia dengan senang. Rukia memeluknya dengan hangat.
"Ryuu, bagaimana sekolahmu tadi?" ujar Rukia menggandeng tangan mungil anaknya.
"Menyenangkan! Aku dapat nilai 100 dalam semua test!" ujar Ryuu dengan antusias.
"Wah anakku memang pintar, aku bangga padamu.." ujar Rukia mengusap kepala Ryuu.
"Hehehe, aku juga bangga punya Ibu sepertimu! Tak ada Mommy lain selain dirimu!"
Rukia sedikit kaget namun ia kembali tersenyum, "Hehehe kau bisa saja. Karena selama ini Ryuu menjadi anak yang baik bagaimana kalau Sabtu kita pergi main?"
"Ma-main?! Ke taman bermain?" tanya Ryuu memastikan dengan mata berbinar-binar.
Rukia mengangguk, "Kemanapun yang kau mau, akan aku turuti."
"Hore! Aku sangat senang Mommy! Ah! sudah jam segini, aku harus latihan pedang bersama kakek buyut di halaman belakang. Sudah ya!"
Rukia melambaikan tangannya melihat Ryuu menuju halaman belakang bersama seorang maid dan butler yang mengawasinya.
"Tidak biasanya anda kembali lebih awal, Hime-sama." Ujar seorang pelayan sambil membungkuk hormat.
"Bossku memberi libur untukku, katanya aku tidak akan bisa maju jika tak menjernihkan otakku."
"Wah boss yang baik ya."
Rukia tersenyum, "Mungkin. Ryoko-san, bisa buatkan aku minuman special buatanmu? Aku sangat lelah."
Ryuko sang pelayan mengangguk, "dengan senang hati Hime-sama. Tolong tunggu sebentar."
Ia pun langsung menuju dapur.
Rukia memikirkan sesuatu dan berjalan menyusuri lorong mansion berstyle Jepang itu dengan perlahan. Kakinya terus berjalan dan sampai tepat di depan meja sembahyang milik Hisana. Rukia tidak mengerti mengapa ia bisa ada di sini atau mungkin kakinya membawanya kemari karena ia ingin sekali bertemu dengan kakaknya.
"Nee-sama…"
Rukia meraih foto Hisana dan memeluknya sambil tiduran. Matanya yang mulai lelah tertutup rapat dan ia mulai tertidur.
"Hime-sama? Hime-sama? Tehnya sudah siap.. Ah ya ampun Hime-sama.." ujar Ryoko terhenti melihat Rukia tiduran di atas tatami sambil memeluk foto Hisana.
"Selalu saja jika mendekati peringatan kematian Hisana-sama pasti Hime-sama mulai begini. Aku jadi khawatir.. Apalagi melihat wajahnya yang tak tenang walaupun sedang tertidur lelap." Sambung Ryoko dengan khawatir.
"Hime-sama.." panggil Ryoko sambil menggoyangkan pundak Rukia dengan perlahan.
Rukia membuka matanya perlahan. Ia mulai tersadar dan bangun sambil melihat ke arah kanan dan kiri. Lalu memegangi kepalanya dengan tatapan lemas.
"Astaga aku ketiduran.."
Ryoko memberikan teh tsb pada Rukia,"Ini tehnya. Minumlah selagi hangat.."
"Ah ya arigatou.."
Rukia meminum teh itu secara perlahan dan tersenyum, "Hmm enak.."
"Syukurlah kalau begitu.. Hime-sama, aku permisi dulu ya, masih banyak yang harus aku kerjakan. Dan satu hal lagi! Hime-sama, beristirahatlah di kamar.. Nanti anda sakit jika tiduran tanpa alas seperti itu."
"Hm ya, arigatou Ryoko-san.." ujar Rukia sambil tersenyum.
Ryoko tersenyum balik dan pergi lagi ke dapur karena ia harus memasak untuk makan malam.
Rukia menyimpan foto Hisana kembali di atas meja sembahyang. Ia memandangi kembali foto tersebut sambil tersenyum sendu, "Aku bermimpi sejenak tentangmu tadi."
-ping pong-
HP Rukia berbunyi tanda SMS masuk. Ia membuka sms tsb
'From: Kepala Jeruk
Siap-siap nanti aku jemput jam 7 malam. Ada Restoran yang enak yang ingin aku kunjungi.'
Rukia merasa hatinya sedikit cerah dan senyuman terulas di bibirnya, ia membalasnya dengan cepat. Namun ada acara apa sampai Ichigo menjemputnya segala? Ah sudahlah
'To: Kepala Jeruk
Ok, yang enak ya dinnernya.'
-send-
Ia memasukkan kembali HPnya ke dalam saku lalu kembali ke kamar.
-K-
Pukul 7.15 malam
Rukia memakai dress berwarna milky violet diatas lutut dengan cardigan berwarna putih. Ia sedang duduk di ruang tengah menunggu Ichigo yang telat menjemput karena macet.
"Mommy mau kemana?" tanya Ryuu sudah memakai piyamanya dengan wajah yang tampak mengantuk.
Rukia mendekap tubuh kecil Ryuu dan terkejut, ia langsung menyentuh kening Ryuu dan wajahnya sangat merah seperti kepiting rebus.
"Badanmu panas..! Astaga.. Kau demam..!"
"Hime-sama, Ichigo-sama sudah datang." Beritahu pelayan.
Ichigo berjalan masuk ke dalam rumah Rukia dengan santai, "Yo, sorry telat."
Rukia memandang Ichigo dengan wajah panik, "Maaf Ichigo, aku tidak bisa pergi.. Ryuu demam tinggi."
"Mommy, aku tidak apa-apa kok. Kasihan kan paman Ichigo jauh-jauh datang menjemputmu."
Ichigo memandang Ryuu dan menggendongnya membuat Rukia terkejut,
"Ayo ke rumah sakit, lihat Ibumu khawatir begitu melihat keadaanmu."
"Tapi paman…"
Rukia menahan Ichigo, "Tidak usah, biar-"
"Demam seorang anak kecil tidak boleh diremehkan. Ayo." Ujar Ichigo dengan serius dan jalan duluan.
Rukia mengambil tasnya dengan segera dan berjalan menghampiri Ichigo.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan Ryuu dipeluk oleh Rukia. Kekhhawatiran tampak jelas di wajahnya.
-K-
"Demam dan masuk angin, sepertinya karena kelelahan juga. Sebaiknya aktivitasnya dikurangi dulu untuk sementara waktu. Apakah makannya teratur?" Ujar Dokter sehabis memeriksa Ryuu pada Rukia dan Ichigo.
"Makannya teratur, namun yang jelas anakku tidak kenapa-napa kan dok?" tanya Rukia memastikan.
"Tenang saja, anakmu akan membaik. Istirahat yang cukup lalu makan dengan teratur dengan begitu tubuhnya akan kembali segar. Ini resep untuk obatnya," ujar sang Dokter lalu memberikan resep obat pada Rukia.
"Syukurlah, terima kasih dok." Ujar Rukia dengan perasaan lega.
Dokter pun tersenyum. Rukia dan Ichigo pun permisi keluar.
"Aku baru tahu kalau Kurosaki-sama sudah punya istri.. Punya anak lelaki pula!" ujar seorang suster pada Dokter tadi yang memeriksa Ryuu.
"Bukan, gadis tadi itu adalah heiress Kuchiki sekaligus sahabat baiknya sejak dulu. Dan yang aku dengar anaknya itu bukan anak Kuchiki Rukia melainkan kakaknya."
"Oh begitu, mereka dijodohkan?"
"Kudengar Isshin-san mau menjodohkannya tapi entahlah tidak jadi katanya. Mungkin ia ingin semuanya berjalan secara natural."
"Hmm begitu~"
Rukia terus mengusap dengan lembut tangan Ryuu yang sudah tertidur pulas.
"Maaf aku merepotkanmu, Ichigo."
"Merepotkan apanya kayak kita baru kenal saja. Kau belum makan kan?"
Rukia menggeleng, "Maaf makan malamnya batal."
"Jangan minta maaf terus. Aneh rasanya."
Rukia hanya diam dan Ichigo terkejut melihat tetesan air mata jatuh membasahi pipi Rukia. Ia menangis sambil menatap anaknya tersebut. Pasti Rukia sangat menyayangi dan mengkhawatirkan Ryuu.
Ichigo langsung memberikan saputangan padanya. Rukia baru sadar dan menyusut air matanya dengan saputangan milik Ichigo.
"Padahal aku tidak mau menangis, apalagi di hadapanmu."
"Cih, ga usah sok gengsi gitu. Pas aku lupa beli boneka chappy limited edition saja kau nangis meraung-raung. Sampai aku babak belur dicakari olehmu."
Rukia tersenyum, "Kau selalu saja ingat peristiwa yang memalukan."
"Heh, tentu saja."
-tuk tuk tuk-
Ichigo membuka pintu dan melihat Kuchiki Ginrei datang.
Ichigo menghormat pada Ginrei.
Ginrei menatap Ichigo, "Ada anak Isshin. Hmm kalian mau pergi ya?" ujarnya memperhatikan Rukia dan Ichigo dengan pakaian yang rapi siap untuk pergi ke acara penting.
"Ah ya, tapi tidak jadi karena Ryuu sakit.." ujar Rukia.
"Urusan kakek sudah selesai?" tanya kembali Rukia.
Ginrei menghampiri Ryuu sambil menatapnya khawatir, "Aku langsung meninggalkan pekerjaanku saat mendengar Ryuu dirawat."
"Bukannya pekerjaan itu sangat penting? Itu rekan bisnis kakek dari Amerika kan?"
"Ya memang, namun aku lebih mementingkan keluargaku di bandingkan yang lain. Ohya Ryuu biar aku yang jaga, kalian pergi saja dulu." Ujar Ginrei menatap Rukia san Ichigo.
Ichigo menatap Rukia, "Aku sih gimana Rukia saja."
Rukia diam sebentar dan menatap Ryuu. Ia tidak mau meninggalkan anaknya yang sedang terbaring lemah.
"Rukia, aku mengerti kau khawatir dengan Ryuu. Namun tidak baik menolak ajakan seseorang yang sudah datang jauh-jauh. Sekarang lebih baik kau pergi dulu tepati janji yang kalian buat."
Rukia menatap Ginrei seolah-olah ia tahu apa yang dipikirkan cucunya tersebut.
Ia pun mengambil tasnya, "Baiklahh.. Aku pergi dulu ya kakek."
Ichigo berdiri dari sofa dan menghormat pada Ginrei,
"Pergi dulu kek."
"Hm, hati-hati."
Rukia dan Ichigo pun keluar dari ruang rawat dan berjalan menyusuri rumah sakit.
"Sudah lama aku tidak melihat kakekmu, dia masih sama seperti dulu." Ujar Ichigo.
"Tentu saja,"
"Apa ini pertama kalinya dia datang seperti itu?"
Rukia menggelengkan kepalanya,
"Dari dulu kakek memang seperti itu. Orang melihatnya pasti dia orang yang dingin dan sangat serius. Serius sih iya tapi kakek sangat menyayangi keluarganya. Maka dari itu setiap ada keluarganya yang sakit dan kakek sedang sibuk dia lebih mementingkan keluarganya."
"Hm begitu."
Mereka berhenti mengobrol dan terus berjalan.
"Selamat malam tuan muda Ichigo." Sapa seorang Dokter.
"Ohya malam." Jawab Ichigo.
"Selamat malam Ichigo-sama." Sapa seorang Suster
"Ya selamat malam." Jawab kembali Ichigo.
Setiap kali ada pekerja rumah sakit yang lewat pasti mereka membungkuk hormat pada Ichigo dan menyapanya.
"Tuan muda memang beda ya." Cibir Rukia.
"Heh aku kira kau sudah tak bisa mengejek."
"Tenang saja aku masih sama manisnya kok."
Ichigo menatapnya datar dan memukul pelan kepalanya, "Apa urusannya? Ga nyambung."
Rukia mencubit perutnya.
"AW! HEI SAKIT TAHU!"
Orang-orang menatap ke arah Ichigo, membuatnya malu seeketika. Sedangkan Rukia jalan duluan dan tertawa kecil, "Bakka~"
"Tunggu, Rukia..! Kau membuatku malu saja.!"
"Konbanwa~"
Ichigo menoleh dan melihat Senna menyapanya sambil berjalan menggunakan tongkat.
"Oh, kau gadis yang waktu itu. Apa kabar?"
"Baik hehehe, tidak biasanya kau kemari. Ada apa lagi?"
"Oi Ichigo." Panggil Rukia yang berjalan menghampiri.
Senna menoleh dan tersenyum ke arah Rukia. Rukia membalas senyumannya.
"Oh kalian sedang mengobrol, kalau gitu aku tunggu-"
Ichigo menahan tangan Rukia, "Tunggu, jangan kemana-mana. Ohya kita sudah 2 kali bertemu tapi sepertinya aku mengenalmu deh. Apa aku salah?"
"Betul sekali, kita sering bertemu lho padahal masa kau lupa? Aku Senna.."
Ichigo sempat berpikir dan baru ingat sesuatu, "Apakah kau anak dari Paman Ryuuzaki? Jangan bilang kau Senna yang waktu itu..? Astaga dulu kau selalu menangis jika tidak bersama Ayahmu hahaha." Ujar Ichigo mengusap kepala Senna.
"Akhirnya kau ingat juga, uh jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Aku sudah besar sekarang."
"Hehehe aku tidak menyangka saja, kau sudah sebesar ini. Ah ya kenalkan ini Kuchiki Rukia, sahabat baikku."
Rukia tersenyum, "Salam kenal, aku Kuchiki Rukia."
Senna tersenyum balik, "Salam kenal juga... Astaga! Kau Kuchiki Rukia yang designer handal itu kan?! Aku sangat menyukai karyamu lho! Bahkan aku sempat membeli lukisanmu sebagai hadiah untuk Ayahku! Karena Ayah sangat menyukainya! Ah ya ampun maaf aku jadi kegirangan sendiri hehehe. Juga maaf jadi panjang lebar begini padahal kalian sedang dalam perjalanan mau pergi ke suatu tempat."
"Terima kasih, namun aku masih harus banyak belajar." Ujar Rukia tersenyum anggun.
"Ohya kami mau makan malam jadi asyik mengobrol di sini. Kalau begitu sudah dulu ya, Senna." ujar Ichigo.
Rukia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Hai, hati-hati." Ujar Senna sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Keduanya pun pergi meninggalkan Senna. Senna yang asalnya tersenyum berubah menjadi datar. Ia melanjutkan jalannya, "Kalian lebih dari sahabat pasti. Membuatku jadi sebal saja~"
-K-
Ichigo menatap Rukia yang sedang melamun dengan makanan yang tersisa banyak. Entah apa yang dimakannya hingga menyisakan sebanyak itu. Biasanya walaupun tubuh Rukia mungil tapi makannya sangatlah banyak. Jika makan dengannya, Ichigo bisa tekor.
"Aku ga mood makan."
"Sudah tidak usah dihabiskan."
"Tapi kau sudah susah payah reserved di restoran bintang 5 ini kan,"
"Sudah sering jadi biasa saja. Kalau kau merasa eneg jangan dimakan."
Rukia hanya diam dan menatap makanannya. Ichigo menjentikkan jarinya, seorang pelayan langsung datang sambil membawakan cheese cake berbentuk wajah chappy.
"Selamat hari sahabat." Ujar Ichigo.
Rukia menatap kue tersebut dan menatap Ichigo, "Astaga aku baru ingat. Aku tidak menyiapkan apapun untukmu."
"Sudahlah, yang penting sekarang aku mau kau senang."
"Aku senang dengan kuenya tapi aku tidak bisa makan sekarang."
"Bungkus saja makan di rumah sakit nanti."
Ichigo memanggil pelayan untuk membungkus kue tsb. Rukia menatap Ichigo dan perasaannya selalu lega jika melihat dirinya.
"Ichigo bisa antarkan aku ke suatu tempat?"
"Hm ok."
-K-
Deburan ombak menerpa pesisir pantai, angin kencang meniup sekitarnya.
Rukia keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah pesisir. Ichigo berjalan mengikutinya dari belakang.
Rukia mulai duduk dan menatap langit yang cerah di malam hari tanpa adanya awan yang menutupi. Bahkan terlihat bulan sabit yang sedang bersinar terang.
"Sudah lama sekali aku tidak ke pantai, terakhir ke sini itu.. dulu sekali." Ujar Rukia.
Ichigo duduk di sebelahnya, "Iya bahkan seingatku dulu, aku terakhir kali kemari saat SMA. Untuk pertama kali aku kemari lagi, aku merasa tua jadinya."
"Kau memang tua, kepala jeruk."
"Heh aku masih fresh."
"Ya namanya juga jeruk."
Ichigo hanya diam sedangkan Rukia tersenyum jahil.
"Hei, ceritakan padaku siapa mantanmu dulu."
Ichigo berbalik ke arahnya, "Buat apa? Tidak penting ah."
"Jangan begitu~ Kau tidak mau cerita karena disangka playboy ya? Hm aku sudah mengiranya."
"Tidak, aku belum pacaran sama sekali."
"Jangan bohong~"
"Aku serius! Aku belum pacaran karena aku sudah menyukai orang lain sejak dulu."
Rukia terdiam sejenak,
"Oh begitu, heh aku tak menyangka."
"Cih bawel. Kau sendiri?"
"Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu."
"Kau serius? Kau bukan robot kan?"
"Ya, aku serius." Rukia menatap lurus Ichigo.
Ichigo yang asalnya menatap Rukia sekarang menoleh ke arah ombak yang sedang menari. Mereka pun terdiam dan membiarkan deburan ombak menemani kesunyian di antara malam yang cerah. Rukia melihat jam di tangannya,
"Ayo pulang, aku ingin lihat keadaan Ryuu dan kasian Kakek."
"Baiklah ayo."
Keduanya berdiri bersamaan dan membersihkan pakaiannya masing-masing. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka karena lebih baik diam. Waktu berjalan begitu cepat namun entah kenapa ada yang kurang.
-K-
Rukia berganti pakaian dengan piyama, ia tiduran di kasur khusus untuk tamu yang menunggui sambil menonton TV. Setelah ia dan Ichigo sampai di rumah sakit, Ginrei pulang ke rumah. Itu pun dipaksa oleh Rukia.
'Aku serius! Aku belum pacaran karena aku sudah menyukai orang lain sejak dulu.'
"Aku tak menyangka si kepala jeruk itu punya seseorang yang dia suka, ya namanya manusia sih wajar." celoteh Rukia mengingat perkataan Ichigo tadi.
Ia tiduran dan menatap jam dinding, tak lama teleponnya berbunyi.
"Halo?"
"Hai Rukia, apa kabarmu?"
Rukia mengerutkan alisnya, ia menatap layarnya HPnya dan menyesal telah mengangkat telpon tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, mau tak mau ia harus menjawab telponnya tersebut.
"Kau mau apa?"
"Judes sekali sikapmu itu."
"Kenapa?"
"Hanya ingin tahu saja. Jadi kapan kau akan kembali padaku?"
Rukia menghela nafas, "Ashido dengar ya, dari awal pun aku bukan milikmu."
"Rukia, aku yakin suatu saat kau akan kembali padaku."
"Daripada membual seperti itu, lebih baik kau melakukan hal yang lebih bermanfaat dan jaga dirimu baik-baik."
"Walaupun kau judes tapi kau tetap perhatian ya. Aku senang. Kau tahu? Hari ini aku kembali ke Jepang."
Rukia menatap dinding dengan malas, "Lalu? Apa urusanku?" jawabnya dengan dingin.
"Tentu saja kau harus tahu, aku mau melakukan bisnis. Aku juga orang yang sibuk tahu,"
"Oh begitu. Ya baguslah. Dimana?"
"Kenapa? Kau penasaran?"
Rukia menatap layar HPnya sebal, "Dih, bukan. Cepatlah, aku mau tidur."
"Kurosaki Corp. Kudengar dia sahabat baikmu ya? Ah sudah jam segini, bye."
-pip-
"Ha-halo? Oi Ashido?"
Rukia terdiam dan mengusap rambutnya ke belakang dengan nada kesal.
"Malapetaka. Mau apa lagi sih orang ini? Buat aku kesal saja deh. Absurd pula heh. Aku harus cek nanti, apa dia berbual atau tidak!"
-K-
Seminggu kemudian.
Rukia berjalan dengan cepat menuju ruang kerja Ichigo. Dari kemarin Ichigo tak bisa dihubungi dan ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Maka dari itu ia datang langung ke kantor untuk mengecek apakah orang itu ada di sini atau hanya bualan semata.
-tuk tuk tuk-
Inoue membuka pintu ruang kerja Ichigo, "Oh Kuchiki-san! Bukannya kau sedang libur ya?"
"Hai Inoue. Dimana Ichigo?"
"Hm ada di dalam tapi sedang ada tamu."
Rukia langsung masuk dan terkejut melihat Ichigo sedang berbicara akrab bersama seorang lelaki berambut merah dengan wajah yang tampan. Pembicaraan keduanya terhenti saat melihat kedatangan Rukia.
"Rukia? Ada apa?" tanya Ichigo kaget dan bingung.
Rukia menghiraukan pertanyaan Ichigo. Ia berjalan ke arah Ashido dan menariknya, "Kau ikut denganku."
Ashido tak bicara apapun dan mengikuti Rukia lebih tepatnya ditarik pasksa oleh Rukia. Mereka meninggalkan Ichigo yang bingung dan tercengang atas sikap Rukia.
"Oi Rukia! Oiii!"
Ichigo menatap datar pintu yang dilalui keduanya.
"Sebenarnya ini kantor siapa sih." Ujar Ichigo dengan sebal.
"Tadi aku melihat Ashido-san pergi bersama Kuchiki-san? Benar kan?"
"Ya benar, ah sudahlah aku tidak perduli." ujar Ichigo sebal dan melemparkan dirinya pada sofa.
Inoue memiringkan kepalanya bingung
Mereka berdua berjalan menjauhi ruangan Ichigo menuju tempat yang sepi.
Tatapan Rukia cukup sebal melihat wajah Ashido. Kebalikan dengan Ashido yang menatapnya senang dengan senyuman terulas di bibirnya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?!" tanya Rukia kesal.
"Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya balik Ashido dengan senyuman arogan,
"Kau bilang kan kau ada urusan dengan Kurosaki Corp, sudah jelas aku tahu."
"Aku tidak bilang kapan akan kemari, kau mencaritahu tentangku ternyata."
"Pedean banget sih! Sudahlah, bicara dengan narsis sepertimu tak akan ada habisnya. Sekarang aku mau tanya, ada urusan apa kau kemari?"
"Tentu saja aku melakukan bisnis dengan teman baikku."
"Apa? Teman baik? Sejak kapan kau berteman dengan Ichigo?"
"Aku dan Ichigo satu perguruan di dojo dan kami berteman dengan baik setelahnya. Kau tidak lihat kami berbicara dengan akrab tadi?"
Rukia hanya diam sambil menatapnya ragu. Setelah itu ia menghela nafas, "Baiklah. Aku percaya. Intinya, Jangan buat onar! Awas kau!"
Rukia pun mulai berjalan melewati Ashido.
"Sepertinya kau sangat menyukai Ichigo. Apa aku benar?"
Rukia berhenti dengan alis saling bertaut, "Apa?"
"Aku tahu kok, maka dari itulah aku ingin lihat apakah Ichigo laki-laki yang pantas untukmu."
Rukia menatapnya, "Apa yang kau lakukan itu adalah hal yang tidak berguna. Perasaanku pada Ichigo bukan perasaan yang seperti itu. Lagipula kami sudah bersahabat baik sejak dulu."
Rukia berjalan meninggalkan Ashido. Ashido berbalik dan tersenyum.
"Kau naïf sekali sih Rukia, semakin kau bersikap seperti itu semakin kau jauh dengan orang yang kau sayangi."
-K-
Rukia berjalan sambil terus menatap ke arah lantai.
"Seenaknya saja datang seperti itu." gumam kecil Rukia.
Rukia mendongakkan kepalanya dan melihat Ichigo muncul dari pintu lift. Rukia merasa lega saat melihat Ichigo muncul di hadapannya.
"Kau ternyata, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rukia dengan sebal sembari memasuki lift.
Ichigo menatapnya sebal sambil menaikkan sebelah alisnya, "Ini kantorku, tentu saja aku ada di sini. Ikut aku sekarang."
"Ke?"
Ichigo menghiraukannya dan memencet tombol menuju basement.
Tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di basement. Ini bukan basement mobil Rukia berada namun entah kenapa ia ingin mengikuti Ichigo.
Mereka masuk ke dalam mobil namun Rukia hanya diam.
"Pakai seatbelt." suruh Ichigo ketus.
Rukia menarik seatbelt dengan malas, Ichigo memerhatikannya terus lalu mengubah pandangannya ke depan dan menyalakan mobil.
"Kau kenal Ashido?" tanya Rukia.
"Ya dia teman baikku saat di dojo dulu. Dan seharusnya aku yang tanya begitu padamu. Ada hubungan apa kau dengannya?"
"Dia mantan tunanganku."
"Oh begitu."
"Ya."
Keadaan hening kembali, hanya musik yang mengalun menemani mereka di dalam mobil. Cuaca yang asalnya cerah kini mulai mendung dan rintikan hujan mulai membasahi kota.
Rukia melihat jam dan teringat sesuatu.
"Astaga! Aku lupa hari ini Ryuu aku yang jemput! Pasti dia sudah menunggu sedari tadi, " Ujar Rukia panik.
"Yasudah kita jemput saja. Ryuu sudah sembuh?"
"Sudah, walau sudah seminggu berlalu tetap saja aku khawatir dia kenapa-napa. Hm tunggu dulu tadi kau bilang apa?"
"Kita jemput Ryuu."
Rukia kembali tenang, "Oh ok."
Rukia menatap keluar kaca mobil. Tak lama telpon Ichigo berbunyi.
"Ya? Kebetulan sekali. Kalau begitu aku minta tolong jemput anak lelaki bernama Kuchiki Ryuu di bagian SD sekarang. Yaya aku langsung bertengger di depan sekolahmu tenang saja."
Rukia menoleh ke arah Ichigo, merasa ditatap Ichigo tahu dengan jelas apa yang akan Rukia ingin tanyakan.
"Kebetulan sekali ternyata adikku juga pulang lebih awal karena gurunya ada rapat."
"Begitu.."
"Aku menyuruh Yuzu menjemput Ryuu ke bagian SD. Jadi sekalian."
"Aku sangat berterima kasih kalau begitu.."
"Tidak biasanya."
"Berterima kasih pada Yuzu. Bukan padamu."
Ichigo menatapnya datar, "Ya ya ya, baiklah."
"Jangan lupa mobilku masih ada di basement kantor."
"Nanti aku suruh seseorang untuk membawanya."
"Hm ok."
-K-
Hujan semakin lebat dengan suara Guntur yang ikut menemaninya. Anak-anak yang tidak membawa payung atau belum dijemput oleh jemputan pribadi harus menunggu di sekolah hingga hujan reda. Maka dari itu suasana di sekolah masih cukup ramai.
"Hujannya lebat dan sialnya aku lupa bawa payung." Oceh Karin melihat ke luar jendela.
"Karin-chan aku ke bagian SD dulu ya,"
"Eh ngapain? Memangnya kau bawa payung?"
"Tentu saja aku bawa, aku mau menjemput Ryuu-kun dulu!" ujar Yuzu berjalan dengan cepat meninggalkan Karin di koridor sekolah.
"Ryuu? Siapa? Oi Yuzu! Astaga.. yasudah deh." Karin hanya geleng-geleng. Ia memutuskan duduk di lantai dan memainkan PSP daripada mengikuti Yuzu lalu kehujanan karena dirinya tidak membawa payung.
Beberapa menit kemudian ia melihat mobil hitam milik Kakaknya bertengger tepat di depan sekolah. Ichigo keluar dari mobil dan menatap Karin.
"Dimana Yuzu?"
"Dia ke SD mencari anak bernama Ryuu."
"Nii-chan!" seru Yuzu yang sudah kembali lagi dengan Ryuu.
Rukia keluar dari mobil menghampiri mereka semua. Ryuu menoleh dan tersenyum senang melihat Rukia.
"Mommy!" seru Ryuu sambil memeluknya.
"Maaf ya aku telat menjemputmu."
"Ga apa kok! Ohya arigatou gozaimasu nee-chan!" ujar Ryuu pada Yuzu.
"Hehehe santai saja Ryuu-kun."
Karin menatap Rukia dan Ichigo, "Ichi-nii, kami mengganggu acara ngedate mu dengan Rukia-chan ya?"
"Bukan!" Sanggah Ichigo dengan cepat.
Untung saja Rukia sedang focus mengobrol dengan Ryuu sehingga ia tidak mendegar ucapan adiknya yang jahil.
"Hai Rukia-chan, hari ini makan malam di rumah kami yuk. Pasti Ayah sangat senang melihatmu." Ajak Karin menghampiri Rukia.
"Benar juga ya! Ayo Rukia-chan juga Ryuu-kun!" ajak Yuzu juga dengan senang hati.
"Ehm tapi.."
"Ayo mommy! Aku ingin bertemu dengan keluarga Paman Ichigo yang lain!"
Rukia menatap Ryuu dengan mata berbinar-binar. Ia pun mengusap kepalanya dan tersenyum, "Pasti niatmu membolos les kan, yasudah untuk kali ini saja deh boleh.."
"Yeah!" seru Ryuu dengan senang.
"Ayo masuk ke dalam mobil semuanya hujan semakin lebat. Hujan angin pula." Ujar Ichigo berjalan menuju mobil.
Mereka pun masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan kawasan sekolah.
Yuzu menatap Rukia dan Ichigo dengan senang dan berbisik ke arah Karin.
"Nii-chan dan Rukia-chan sangat serasi ya! Aku ingin sekali mereka jadian!"
Karin menatap keduanya.
"Kalau Rukia-chan mau dengan Ichi-nii itu juga."
Ryuu hanya menatap keduanya yang berbisik-bisik. Pasalnya ia duduk diantara keduannya jadi tentu saja kedengaran apa yang sedang mereka bicarakan. Ia pun menatap Rukia dan Ichigo yang sedang membicarakan sesuatu, mungkin tentang pekerjaan.
"Mommy, apakah kau menyukai Paman Ichigo?"
Semua yang ada di dalam mobil terkejut dengan pertanyaan yang sangat ditunggu-tunggu jawabannya itu. Ichigo hampir saja rem mendadak, sedikit lagi dan mobilnya mencium mobil di depannya.
"Pertanyaan yang bagus, bocah!" ujar Karin dengan suara kecil pada Ryuu.
"Ayo jawab Rukia-chan..!" seru Yuzu dengan antusias.
Jantung Ichigo berdegup dengan cepat walau ekspresinya biasa saja.
"Tentu saja Ryuu.. Paman Ichigo kan sahabat baikku, tentu saja aku menyukainya." Ujar Rukia dengan senyuman terulas di bibirnya.
Karin dan Yuzu cukup kecewa dengan jawaban yang seperti itu, mereka mengharapkan jawaban yang lebih.
Ryuu angguk-angguk, "Pantas kau suka senyum-senyum sendiri jika ada pesan dari Paman Ichigo. Ternyata begitu ya.."
"A-Apa yang kau bicarakan Ryuu..? Sudah ah," ujar Rukia langsung menoleh ke samping.
Karin menatap Ichigo dengan wajah tengil, "Masih ada harapan," bisiknya kecil.
Ichigo tak banyak bicara dan terus menyetir walau sebenarnya dia deg-degan sih.
"Kau memang anak yang pintar, Ryuu." Ujar Karin sambil mengusap kepalanya.
Ryuu tersenyum pada Karin sambil mengacungkan jempol.
-K-
"MY LOVELY DAUGHTER! KAU DATANG JUGA! AKU SANGAT MERINDUKANMU!" seru Isshin dengan antusias dan membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk Rukia.
Namun langsung dihalangi oleh Ichigo dengan wajah mengancam,
"Pergi kau oyaji mesum."
"Sudah lama tidak berjumpa Paman. Ryuu, beri salam pada ayahnya paman Ichigo." Ujar Rukia pada Ryuu yang bersembunyi di balik tubuh Ichigo.
Ia pun mengintip dan melihat Isshin malu-malu, "Konnichiwa.."
Isshin menatap Ryuu dan hatinya bagaikan dipanah oleh panah asmara karena keimutannya. Ia seperti melihat Byakuya saat masih kecil dulu.
"Ya ampun, siapa anak manis ini!? Salam kenal! Aku ayahnya Ichigo, panggil saja aku Oyaji!"
"Ga, ga! Kau mengajarkan sebutan yang ga sopan. Panggil dia kakek. " ujar Ichigo menentang dengan keras.
"Ayolah Ichigo, biarkan dia yang memilih. Ya kan Ryuu-kun?"
Ryuu menatap Isshin, "Oyaji..? Aku baru kali ini mendengarnya dan terdengar keren! Baiklah, aku akan memanggilmu Oyaji."
"Paman, apakah tidak apa-apa?" tanya Rukia memastikan pada Isshin.
"Jangan khawatir Rukia-chan! Nah, ayo kita main ke taman, Ryuu-kun! Ada bak pasir dan ayunan! Oya, pasti kau cape ya.. Mau ku gendong?" seru Isshin memberikan pundaknya.
Ryuu menatap Rukia dengan mata berbinar-binar. Rukia ingat bahwa Ryuu tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, bahkann bertemu Ayahnya pun sangatlah jarang.
Rukia mengangguk, "Jangan merepotkan paman Isshin ya, sekali lagi arigatou Paman." ujar Rukia. Isshin nyengir ke arahnya sambil mengacungkan jempol.
"Nah ayo naik!" ujar Isshin sambil berjongkok.
Ryuu naik ke atas pundak Isshin dengan wajah senang saat isshin mulai berdiri tegak.
"Woah, aku lebih tinggi dari Mommy dan paman Ichigo! Keren!"
"Hahaha, pegangan yang kuat ya! Kami main dulu, oya kalian mengobrollah di ruang tamu."
Isshin berlari sambil menggendong Ryuu yang senang tak terkira menuju taman belakang.
"Hati-hati!" seru Ichigo khawatir terhadap Ryuu yang dibawa oleh Ayahnya.
Keadaan hening seketika.
"Woi, kepala jeruk aku haus nih. Mana minumannya?" ujar Rukia berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan tv layaknya rumah sendiri.
"Setelah sepi begini baru saja kau memperlihatkan sikapmu yang sebenarnya, dasar. Mau minum apa?"
"Jus jeruk."
"Baiklah."
Ichigo mengambil jus jeruk di kulkas dan menuangkannya pada 2 cangkir berwarna biru.
"Ini." Ujar Ichigo memberikan segelas jus jeruk pada Rukia.
"Arigatou." Ujar Rukia dan mengambil jus jeruk tsb.
Ichigo duduk di sebelahnya dan memainkan HP. Rukia terus mengganti channel yang ada di TV.
"Kau mau nonton apa sih? Nanti remotenya jebol kalau kau penceti terus seperti itu."
"Entahlah, tak ada yang menarik. Hmm, aku jadi mengantuk jika berada di sini!"
"Kenapa bisa?"
"Entahlah, mungkin karena suasananya? Hangat dan nyaman. Apaalgi melihat Ryuu diajak main seperti itu."
"Kakekmu..?"
"Kakekku sangat menyayangi dan memanjakan Ryuu lebih dari apapun. Namun aku melarangnya untuk terus seperti itu, apalagi kemarin kakek kecapean karena meladeni Ryuu bermain terus. Hah.."
Ichigo tersenyum, "Semenjak ada Ryuu, kau semakin ceria."
Rukia menatap Ichigo lalu menatap TV kembali, "Bisa dikatakan Ryuu itu semangat baruku dalam menjalani hidup. Dia seperti pengobat hatiku atas kehilangannya Nee-sama."
"Seperti oasis di padang gurun?"
"Ya bisa juga namun bukan berarti itu semua ilusi ya. Eh, Ichigo menurutmu Inoue itu bagaimana?"
"Maksudnya? Kok tiba-tiba sih?"
"Ya memangnya kenapa? Dia cantik, putih, baik, dan tubuhnya ideal. Kau kan bersamanya terus di kantor. apakah kalian sudah tumbuh perasaan saling suka?"
Ichigo melongo menatap Rukia, "Ngaco, aku tidak pernah punya pikiran seperti itu. Inoue dan aku hanyalah teman baik dan partner kerja. Itu saja. Kau sendiri dengan Ashido apa kabar?"
Rukia memutar matanya dengan tampang sebal, "Jangan bahas Ashido. Aku tak mau membicarakannya di saat moodku sedang baik, kau tahu."
"Dih, padahal kau yang pertama kali mengaitkan aku dengan Inoue. Hah.. Tapi bagaimana pun juga dunia ini memang sempit ya, ckckck."
"Ya, tapi kadang yang dekat pun sulit untuk bertemu." Ucapnya dengan tatapan sendu.
Ichigo tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Rukia namun ia tak melanjutkan pembicaraan tsb, takutnya malah melebar ke arah yang tak jelas.
"Huft, aku lelah." Ujar Rukia langsung bersender pada tangan Ichigo.
Ichigo sudah biasa dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti itu, tapi itu dulu! Sekarang ia merasa jantungnya hampir mau copot.
"Ichigo kau ngegym terus ya?"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak, hanya tanya saja."
"Absurd."
Rukia tersenyum kecil dan memejamkan matanya, sedangkan Ichigo diam menonton TV dengan perasaan yang absurd.
Tanpa mereka sadari Yuzu dan Karin memperhatikan mereka berdua dari belakang.
"Aku greget sama mereka deh," ujar Yuzu dengan gemas.
"Jangankan kau, aku saja ingin sekali mengunci mereka di suatu ruangan yang dingin agar mereka selalu berdekapan dengan erat."
"Ya ampun Karin, pikiranmu jorok ah..!" ujar Yuzu dengan wajah memerah sambil memukul pundak Karin dengan pelan.
"Kau kali yang jorok. Sudah yuk, nanti kita ketahuan."
"Hai~~~"
-K-
"Terima kasih atas makanannya! Masakan Yuzu nee-chan sangat enak! Hehehe." Ujar Ryuu yang baru saja selesai makan malam bersama dengan Rukia dan keluarga Ichigo.
"Aih senangnya~ Sering-sering main kemari ya Ryuu-kun, nanti aku masakkan makanan kesukaanmu!" ujar Yuzu dengan wajah senang.
"Un!"
Rukia menatap jam menunjukkan pukul 8 malam. Ia melihat misscall dari kakeknya tertera di layar HP.
"Sepertinya kami harus pulang sekarang, kakek sangat khawatir."
"Memangnya kau tidak bilang pada kakek kalau ada di sini?" tanya Ichigo.
"Sudah, cuman ya tau sendiri kan kakek itu tetap saja khawatir. Ryuu, cuci tanganmu dan siap-siap karena kita akan pulang."
Ryuu langsung menatap Rukia kecewa, "Yah.. secepat itu kah? Padahal aku masih ingin di sini. Di rumah membosankan habisnya."
"Yasudah menginap saja, lagipula bagian SD sekolah sampai kamis saja kan? Alhasil keesokannya libur." Ujar Karin sambil sesekali menatap Ichigo.
Ichigo menyipitkan matanya menyadari hal terselubung yang direncakan adiknya itu.
"Iya menginap saja Ryuu-kun! Kita main air sambil mandi!" ujar Isshin menambahi.
Ryuu terbuai oleh ajakan mereka berdua dan menatap Rukia dengan wajah memelas. Berharap sang ibu mengizinkannya untuk menginap.
"Hmm.. tapi kita tidak bawa pakaian sama sekali dan belum minta izin kakek. Bagaimana kalau kita pulang dulu lalu minta izin pada kakek?"
"Ga mau ah! Kalau sudah sampai rumah pasti kakek tidak akan mengizinkannya… huft." Ujar Ryuu dengan tampang cemberut.
Rukia berpikir dan tak lama menemukan ide, "Baiklah, kita telpon saja kakek. Tapi Ryuu yang bicara ya?"
Ryuu dengan cepat tersenyum dan mengulurkan tangannya., "Ok!"
Rukia menyerahkan HPnya pada Ryuu untuk menelpon sang kakek.
"Hallo? Kakek? ini Ryuu. Aku baru saja makan di rumah Paman Ichigo dan masakan Yuzu nee-chan sangatlah enak! Hm? Kakek mau pergi malam ini? Kemana? Hokkaido? Berapa lama? Oh 2 minggu. Oya kalau begitu boleh tidak Ryuu menginap di rumah paman Ichigo? Sendiri? Ga, tentu saja bersama Mommy! Iya kan Mommy?"
Ryuu menoleh ke arah Rukia untuk memastikan bahwa dirinya ikut sedangkan Rukia pikir bahwa Ryuu saja yang menginap. Karena dirinya masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan.
Ryuu menunggu jawaban sang ibu dan menyuruhnya cepat. Mau tak mau Rukia pun mengangguk.
"Ya dengan Mommy! Baiklah, kami akan pulang dulu untuk mengambil baju dll juga untuk mengantar keberangkatan Kakek. Tidak usah? Baiklah. Kalau begitu, tunggu kami kek."
Pembicaraan mereka akhirnya selesai. Ryuu mengembalikan HP tsb pada Rukia dan ekspresi senang terus terpancar di wajahnya seperti mendapatkan mainan baru.
"Mommy ayo kita pulang! Oyaji, jangan mandi dulu ya! hehehe."
"Ok! Cepat kemari ya Ryuu-kun. Aku akan selalu menunggumu." Ujar Isshin sambil memberi tanda hormat.,
Ryuu memberi tanda hormat juga dan mengambil tasnya.
"Arigatou gozaimasu, paman. Maaf aku akan merepotkanmu lagi."
"Sok basa-basi." Celetuk Ichigo.
"Hahaha! Santai saja Rukia-chan. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri! Bisa dibilang kalian adalah keluargaku yang sangat berharga. Jadi jangan sungkan."
Rukia tersenyum mendengar pernyataan tulus dari Isshin, "Baiklah, aku pulang dulu."
"Ayo aku antar." Ujar Ichigo sembari mengambil kunci mobil dan jalan duluan menuju mobil.
"Sok basa-basi." Balas Rukia dengan perkataan yang sama.
"Ih, aku serius lho!"
"Ya,ya,ya~" jawab Rukia dengan malas.
"Ampun deh kalian ini~ Ayo nanti keburu larut." Ujar Isshin menyuruh keduanya untuk cepat bergegas.
Ichigo, Rukia dan Ryuu berjalan bersamaan. Lalu Isshin, Yuzu dan Karin mengantarkan ketiganya sampai mobil Ichigo, hingga keluar dari rumah.
"Mereka seperti keluarga bahagia ya." Ujar Karin.
"Iya! Pas sekali! Aku juga berpikir begitu!" komentar Yuzu dengan wajah excited.
"Aku jadi tak sabar mereka benar-benar menjadi sepasang suami istri, hahaha."
"Suami istri apanya, pacaran aja belum." Ujar Karin.
"Ya langsung saja menikah,"
-K-
20 menit kemudian mereka sampai di mansion Kuchiki. Ketiganya turun dari mobil sambil disapa hormat oleh para pelayan yang masih terjaga. Saat masuk ke dalam sang kakek sudah siap dengan yukata berwarna coklat kebanggannya dan koper yang siap dibawa.
"Tadaima~" ujar Rukia dan Ichigo.
Rukia menatap Ichigo, "Kau ngapain bilang tadaima?"
"Suka-suka aku."
Rukia sedang malas berdebat dan memutuskan untuk jalan lebih cepat meninggalkan Ichigo.
"Kakek!" seru Ryuu dengan antusias.
"Tadaimanya mana Ryuu." Ujar Rukia memperingati.
"Oya, tadaima!"
"Okaerinasai. Hm ada anak Isshin juga. Oya kalian cepatlah beres-beres," ujar sang kakek dengan santai.
"Baiklah, ayo Ryuu." Ujar Rukia menggandeng Ryuu menuju kamar.
Ichigo duduk di hadapan sang kakek dan keadaan begitu sunyi. Seorang pelayan menuangkan teh untuk Ichigo serta menyuguhkan 3 buah mochi yang harum.
"Apa kabarmu kek?"
"Baik, kudengar keluargamu mengajak Ryuu dan Rukia menginap ya?"
"Iya."
"Ryuu pasti sangat senang berada di sana, kedengaran dari nada bicaranya tadi di telepon dan ekspresinya saat pulang. Aku jadi tersaingi, fufufu bercanda. Hm dan sebenarnya aku agak keberatan sih."
Ichigo menatapnya, tatapan sang kakek yang lembut berubah menjadi sangat serius.
"Aku tahu di rumah itu ada ayah dan kedua adikmu lalu nanti ada Ryuu. Tapi jangan sekali-kali berbuat aneh dengan Rukia ya. Sampai ketahuan ada apa-apa, aku tidak akan diam." Ujar sang kakek sambil mengelap katana yang entah darimana asalnya.
Ichigo menelan ludahnya, "Tenang saja kek, aku janji tidak akan ada apa-apa…"
Tatapannya kembali tenang dan memasukkan katana itu ke kolong meja, "Hanya itu saja, tapi aku cukup berterima kasih padamu karena kau selalu menolong dan sabar menghadapi Rukia. Dia itu cuek, dingin dan tidak mau terbuka tapi jika berada di dekatmu dia bisa bebas mengekspresikan dirinya. Hm, jujur aku takjub."
"Kalau begitu, bolehkan aku meminta izin padamu..?"
"Katakan saja,"
"Aku-"
"Ayo berangkat paman!" seru Ryuu datang dengan suara yang lantang.
"Ryuu, suaramu terlalu kencang. Ingat sekarang sudah malam." Ujar Rukia yang berjalan di belakangnya.
"Nanti saja deh kek." Ujar Ichigo karena ucapannya tadi terpotong. "Kau sudah siap?" sambungnya kembali sambil menghampiri Ryuu.
"Tentu! Ayo! Kakek, kami berangkat dulu ya dan hati-hati di jalan nanti ke Hokkaido." Ujar Ryuu sambil memeluk kakeknya.
"Hm, kau juga. Jadilah anak yang baik dan menurut perkataan orang tua. Jangan lupa bilang terima kasih dan berdoa." Ujar Kakeknya panjang lebar.
Ryuu mengangguk dengan senyuman terulas di bibirnya. Setelah itu ia menggandeng tangan Rukia dan Ichigo. Keduanya tersenyum.
"Kami pergi dulu ya kek, hati-hati saat perjalanan nanti ke Hokkaido." ujar Rukia.
"Kami berangkat dulu kek, hati-hati di perjalanan nanti." Ujar Ichigo juga.
"Ya kalian juga hati-hati. Biar aku antar." Ujar sang kakek mengikuti ketiganya sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Ketiganya melambaikan tangan dari dalam mobil lalu melaju pergi meninggalkan kawasan mansion Kuchiki. Sang kakek tersenyum,
"Jika dilihat-lihat cocok juga, hm tadi dia mau ngomong apa ya? Ya ampun sudah jam segini. Aku juga harus siap-siap."
-K-
"Tadaima~" ujar ketiganya sudah sampai di rumah Isshin.
"Kau ngapain bilang tadaima?" ujar Ichigo mengulangi pertanyaan Rukia tadi saat di rumahnya.
"Suka-suka aku," ujar Rukia yang mengulangi jawaban Ichigo tadi.
Ichigo menyipitkan matanya.
"Okaerinasai~" jawab ketiganya yang sedang ada di ruang tengah menunggu kedatangan mereka.
"Rukia-chan, kamar untukmu dan Ryuu-kun sudah aku siapkan hehehe. Jika ada yang kurang bilang saja ya." Ujar Yuzu.
"Ya ampun maaf ya jadi merepotkanmu, arigatou nee~"
"Tidak apa-apa kok, lagipula aku sangat senang jika ada orang yang menginap. Rasanya ramai dan menyenangkan!"
Rukia hanya tersenyum.
"Nah, sekarang ayo kita mandi! Ohya bagaimana kalau Ryuu-kun tidur bersamaku? Aku punya cerita menarik lho~" ujar Isshin dengan senang.
"Jangan cerita yang aneh-aneh." Celetuk Ichigo dengan mata menyipit.
"Ok! Bye Mommy!" ujar Ryuu membawa tasnya sambil dituntun oleh Isshin menuju kamar mandi.
"Rukia-chan, sering-seringlah menginap seperti dulu." Ujar Karin.
"Iya Rukia-chan! Dengan adanya dirimu, rumah ini terasa lebih menyenangkan! Apalagi.. ga jadi deh hehehee." Ujar Yuzu sambil diam-diam melirik sang kakak.
Ichigo mengangkat bahunya lalu meneguk air putih,
"Ah aku mau mandi dulu deh~"
"Ichi-nii bawakan barang-barang milik Rukia-chan. Bagaimana sih kau ini?" ujar Karin.
Ichigo menatapnya lalu membawa barang-barang milik Rukia sesuai yang diperintahkan Karin.
"Baiklah~"
Mereka pun menuju lantai 3 dimana kamar Ichigo dan Rukia bersebelahan.
"Sudah lama aku tidak naik ke lantai ini." Ujar Rukia sambil menengok kanan-kiri melihat keadaan rumah Ichigo.
"Ya, dan kau selalu mengacak-acak kamarku setelah membaca manga dan menyimpannya dimana saja. Menyebalkan."
"Hehehe habisnya malas sih."
"Dasar."
"Ohya manganya masih ada? Aku belum selesai nih, pas lagi itu mau baca cuman keburu pergi. Sudah end kan?"
"Sudah dari sejak kapan astaga. Yasudah, tapi aku mau mandi dulu." Ujar Ichigo sambil membuka pintu kamar Rukia.
-cklek-
Kamarnya cukup luas dengan kasur king bed berseprei galaxy yang indah seprti nyata. Lalu ada meja berbentuk persegi panjang berukuran sedang terbuat dari kayu serta sofa memanjang terbuat dari kulit berwarna putih menemaninya, setelah itu ada TV Flat 40 inch menempel di dinding berhadapan dengan ranjang, pintu geser menuju balkon, lemari besar berwarna putih, dan kamar mandi.
Ichigo menaruh koper kecil milik Rukia di dekat lemari baju.
"Bye, aku kembali ke kamar."
"Ok,"
-blam-
Rukia mengunci kamarnya. Ia mengambil baju tidur dan handuk yang ada di koper lalu langsung masuk ke kamar mandi. Sekitar 15 menit, ia telah selesai mandi lalu mengenakan baju kaos kebesaran berwarna putih serta celana pendek dari kain berwarna violet. Walaupun umurnya sudah kepala 2 tapi penampilannya masih sama seperti dulu, seperti anak SMA atau mungkin SMP. Ia mengambil laptop yang ada di tas dan menuju ruang tengah. Keadaan cukup sepi karena kedua adik Ichigo sudah di kamar begitupula dengan Isshin dan Ryuu.
Tak lama ia mendengar derap kaki menuruni tangga.
"Oh, kau belum tidur?"
"Hm. Mana manganya?"
"Di kamar, ambil saja." Ujar Ichigo yang sedang asyik memainkan game di HPnya.
"Hm, nanti saja deh nanggung soalnya."
"Apa sih yang kau lakukan memangnya ?"
Ichigo berjalan mendekat dan melihat apa yang sedang Rukia kerjakan di laptopnya. Ternyata bermain game.
"Kukira kau sedang bekerja."
"Nanti aku selesaikan boss."
"Ewh, jangan panggil aku begitu. Menjijikkan tahu,"
Rukia hanya memeletkan lidahnya dan kembali asyik bermain game. Sedangkan Ichigo duduk di sebelahnya sambil menonton TV. Tepatnya nonton berita.
"Kau semakin kayak bapak-bapak saja nonton yang begituan." Komentar Rukia walau pandangannya masih tertuju pada laptop
"Biarin, kau malah kayak bocah main game online terus."
"Sedang tournament nih, jangan ganggu."
Ichigo menyipitkan matanya, 'Padahal dia yang nyeletuk duluan.'
Mereka kembali pada dunianya masing-masing hingga dua jam berlalu. Rukia mulai bosan dan menutup laptopnya. Ia menuju dapur untuk mengambil minum lalu kembali duduk.
"Kudengar dari paman, kau menolak untuk dijodohkan ya?"
"Cih ember sekali pak tua itu. Iya memang."
"Kenapa?"
Ichigo diam sejenak, "Karena aku tidak mau dan sudah aku bilang bahwa aku menyukai orang lain."
"Masa? Kalau tak salah dulu kau pernah deh bertunangan dengan seorang putri keluarga kerajaan? Beritanya sampai kemana-mana lho~ Bahkan bukannya kalian mau menikah ya?"
"Kalau itu pengecualiaan. Aku dan dia sering bertemu dalam party dan kami selalu mengobrol karena pembicaraan kami nyambung. Dia anak yang baik dan ceria, semua orang menyukainnya." Ujar Ichigo mengantungkan ucapannya.
"Lalu?" tanya Rukia yang sebenarnya sangat penasaran.
"Ada deh~ Intinya kami sudah selesai namun hubungan kami baik-baik saja. Nah, sekarang aku mauu tanya, aku masih penasaran bagaimana kau dengan Ashido bisa bertunangan?"
"Hah.. Kau ini kepo sekali sih. Keluargaku dan keluarganya adalah kerabat lama, dan untuk mempererat hubungan kami maka kakek menjodohkan kami sejak aku.. masuk SMA mungkin ya? Lupa. Intinya sih begitu."
"Lalu kenapa kalian memutuskan hubungan tersebut?"
"Ashido yang memutuskan, ya sudah aku sih ikut saja. Lagipula itu hanya hubungan politik semata jadi hanya status saja, tidak lebih."
"Bagaimana jika kau sudah tumbuh perasaan suka padanya?"
"Aku ini bukan perempuan yang mudah jatuh cinta Ichigo, bahkan untuk membuka hatiku saja itu cukup sulit."
Ichigo terdiam sesaat, ia speechless. Ucapan Rukia tadi itu terus mengiang di kepalanya. Jika seperti itu terus, kapan Rukia akan menemukan calon pendamping? Bahkan mungkin untuk dirinya masuk ke dalam hati Rukia nihil kemungkinan.
"Oya, kenapa sih kau ingin tahu sekali tentang aku dan Ashido?" tanya Rukia penasaran.
"Ya aku penasaran saja, Ashido bisa suka seorang gadis sepertimu yang berhati baja ini.. "
"Heh, kalau begitu jangan sampai kau suka padaku ya. Awas kau."
"Sepertinya aku dan Ashido itu sama anehnya."
Rukia hanya diam berusaha mencerna kata-kata Ichigo.
"Suka perempuan bertubuh kecil sepertiku? Astaga, aku memang manis aku tahu tapi jangan sampe segitunya Ichigo."
Ichigo menyipitkan matanya, "Pede banget sih kau ini."
"Sudahlah Ichigo, aku tahu kok bahwa-"
"Namun bagaimana jika suatu saat aku menyukaimu?" tatapan Ichigo berubah menjadi serius dan ia menatap lurus mata Rukia.
Rukia langsung menoleh ke arah gelas yang ada di meja. Ia meminum air yang ada di gelas itu hingga habis,
"Entahlah ya. Ah aku jadi mengantuk gara-gara obrolan gaje-mu Ichigo, bye."
"Kau juga sama gajenya."
Rukia pun berjalan naik ke lantai 3 menuju kamarnya.
-Blam-
Mendengar pintu kamar Rukia tertutup rapat, Ichigo langsung tiduran di sofa dan memikirkan apa yang baru saja ia katakan pada Rukia.
"Hampir saja,"
Rukia mengunci pintu kamar dan langsung melemparkan dirinya di kasur. Ia teringat tatapan Ichigo yang begitu serius, seolah-olah itu semua benar.
"Menyebalkan."
-ping pong ping pong-
HP Rukia berbunyi tanda panggilan masuk. Ia langsung mengangkat telponnya tanpa melihat siapa penelpon tersebut.
"Halo?"
"Hai Rukia, kau belum tidur ternyata."
Rukia terkejut dan menjauhkan HPnya untuk melihat nama penelpon di layar HPnya. Untuk kedua kalinya ia melakukan kesalahan yang fatal.
'Eyeshadow sialan (JANGAN DIANGKAT!)'
Ia sengaja menulis DN contactnya seperti itu dan menambahkan kata 'jangan diangkat' khusus untuknya.
Rukia mau mematikan telponnya namun ia ragu. Sebenarnya Ashido tidak pernah menelponnya kecuali jika keadaan itu benar-benar penting. Dia lebih ke SMS dan LINE, dan itu sangat menyebalkan karena ia terus mengiriminya pesan dengan isi yang tak jelas. Contohnya seperti stiker atau hanya memanggil namanya.
"Mau apa kau Ashido?"
"Hanya ingin tahu saja apakah kau sudah tertidur atau belum."
"Ok, kalau begitu aku tutup telponnya. By-"
"Kau yakin mau menutupnya? Aku dapat perintah dari kakakmu untuk kita berdua."
Tatapan Rukia menjadi serius seketika saat sang kakak disangkut pautkan.
"Apa?"
"Rahasia. Besok jam 8 pagi aku tunggu di Restoran Dreamlight. Goodnight~"
Rukia menatap datar layar HPnya. Ia sempat ingin membanting HPnya namun sayang karena baru saja beli. Jika Ashido ada di hadapannya saat ini mungkin ia langsung melemparkannya.
"Absurd sekali sih, sudah ah. Lagipula besok aku kan sudah janji mengajak Ryuu ke Disney Land. Apa siangan saja gitu ya? Ya siang. Kalau begitu aku tidur dulu deh, awas saja sampai besok pagi tidak penting. Aku siram kepalanya pake air biar rambut kebanggaannya rusak."
Rukia langsung tertidur dan memikirkan scenario terbaiknya dalam menghancurkan rambut kebanggan Ashido.
-K-
"Ohayou~ Lho? Nii-chan? Kau semalaman tidur di sofa?." ujar Yuzu menemukan sang kakak tertidur di sofa.
Ichigo membuka matanya perlahan sambil menutupi wajahnya, "Aku ketiduran.. Jam berapa sekarang?"
"Jam 08.30, makanya aku sengaja bangunkan karena yang lain sudah siap untuk sarapan."
Ichigo meregangkan tubuhnya lalu mencuci muka dan menggosok gigi di wastafel.
Setelah itu ia menuju meja makan, semua sudah duduk menunggu Ichigo sedangkan Ichigo bingung dan mencari seseorang.
"Cari Rukia-chan? Dia sudah duluan pergi, katanya ada urusan penting." Ujar Karin seolah tahu apa yang dipikirkan kakaknya.
"Pagi-pagi dan yang kau cari Rukia-chan, seperti sepasang suami istri saja~" goda Ayahnya dengan senyum jahil.
"Berisik Oyaji." Ujar Ichigo mulai duduk di kursi meja makan.
"Hmm jadi paman Ichigo akan menjadi suami Mommy nantinya?" tanya Ryuu dengan polosnya pada Isshin.
"Mungkin." Ujar Isshin sambil menatap Ichigo.
Ryuu juga ikutan menatapnya dan matanya seolah meminta konfirmasi apakah benar atau tidak.
Ichigo meneguk air putih lalu menatap Ryuu, "Ya mungkin, aku menyukai Ibumu. Tapi bukan hanya dia, kau dan keluarga kalian juga."
"Ichi-nii~ Kau so sweet sekali pagi-pagi, ada angin apa~" goda Yuzu terharu melihat sang kakak yang tidak biasanya seperti itu.
"Kekuatan cinta." Celetuk sang Ayah.
Ichigo menatap Ayahnya dengan jijik.
Ryuu tampak takjub dan mengangguk-angguk, "Wah hebat! Jika Paman Ichigo menjadi bagian keluarga kami maka keluarga paman Ichigo akan menjadi keluargaku juga! Paman Ichigo, cepatlah nikahi Mommy!"
"Sudah dapet restu tuh dari anaknya, apa lagi?" bisik Karin.
"Masalahnya tidak semudah itu, yang aku hadapi Rukia lho. Kuchiki Rukia."
"Ada apa dengan Mommy? Apa dia kurang baik untukmu?"
"Bukan Ryuu, Ibumu sangat baik lebih dari apapun bahkan aku tidak pernah melihat perempuan seperti ibumu. Maka dari itu dia sangat special bagiku, akan tetapi aku tidak tahu apa yang dia rasakan terhadapku. Ermm singkatnya belum tentu Mommy mu ingin bersama denganku."
"Aku yakin Mommy menyukai paman juga. Aku tidak mau lelaki lain selain paman yang bersama Mommy."
Ichigo menatapnya dan mengusap kepala Ryuu, "Tingkat percaya dirimu benar-benar turunan Rukia ya."
Ryuu tersenyum senang dengan perilaku hangat Ichigo. Ia melihat Ichigo merupakan sosok seorang Ayah yang ia dambakan karena selama ini ia tidak tahu bagaimana sosok ayah yang sebenarnya.
"Nah, sekarang mari kita makan." Ajak Isshin.
"Un!" jawab Ryuu dengan semangat.
Pagi hari mereka diawali dengan semangat yang cerah berkat kedatangan sosok malaikat kecil yang membuat sekitarnya hangat.
-K-
Sekarang Rukia sedang berhadapan dengan lelaki yang membuatnya pusing. Yang datang tiba-tiba dengan pernyataannya yang mencengangkan. Rukia menatap makanannya dari 5 menit yang lalu dan sama sekali belum ia sentuh.
"Jangan dilihat doang, makanlah sebelum dingin Rukia." Ujar Ashido yang tengah memakan steak.
Mereka berada di restoran bintang 5 dengan interior yang indah. Ashido memakai kemeja berwarna biru dongker dengan rapi ditambah wajahnya yang tampan. Sedangkan Rukia memakai dress berwarna krem dan terlihat elegan seperti biasanya.
"Aku tidak nafsu makan jika di dekatmu. Sekarang langsung ke topic saja, apa yang ingin kau katakan?"
"Apa kau belum mendengar dari kakakmu?"
"Belum, ada apa?" tanya Rukia dengan serius.
Ashido menatapnya sambil tersenyum, "Kakakmu setuju kalau kita menikah 2 bulan lagi."
Rukia menatapnya kaget, "Apa? Menikah katamu? Tidak, aku tidak mau."
"Kalau begitu bicara pada kakakmu. Dia yang ingin kita menikah."
"Aku tidak mau menikah denganmu, bahkan saat itu pun kau tidak jelas memutus pertunangan kita. Apalagi menikah nanti? Bisa-bisa aku jadi janda muda."
Senyuman Ashido pudar dan matanya menatap serius, "Alasanku memang tidak jelas, aku akui itu. Karena kau tidak perlu tahu. Ah, sudah jam segini, aku harus ke Beijing untuk urusan bisnis. " Ujar Ashido kembali tersenyum lalu pergi.
Rukia meninggalkan makanannya dan mengejar Ashido sampai parkiran.
"Kau gila!" seru Rukia dengan mata melotot pada Ashido. Ashido tercengang dengan teriakan Rukia dan mematung di tempat.
Rukia berjalan menuju mobilnya sendiri lalu pergi.
Ashido terkejut melihatnya dan tersenyum sendu, "Aku tidak mungkin bilang alasan yang sebenarnya padamu. Karena itu memalukan.."
Rukia menyetir dengan perasaan kesal campur aduk,
"Apa-apaan si Ashido itu! Menyebalkan sekali dan seenaknya pula! Aku harus bilang pada Nii-sama dan meminta kebenarannya!"
HP milik Rukia berbunyi seketika, ia menyambungkannya dengan sambungan mobil lalu memakai headset.
"Ya?"
"Oi Rukia, dimana kau?" tanya Ichigo.
Wajah Rukia yang asalnya kesal kembali tenang.
"Aku sedang dalam perjalan pulang menuju rumahmu dan ada yang ingin aku bicarakan."
"Ok, Ryuu sedang diajak main ke alam terbuka untuk memancing dll bersama Ayah dan kedua adikku."
"Oh begitu pasti dia sangat senang." Ujar Rukia tersenyum mengingat wajah ceria milik Ryuu.
"Ya, dia sangat excited tadi hahaha. Apa kau sudah makan?"
"Belum,"
"Kebetulan Yuzu sudah memasakkan bagianmu. Tinggal dipanaskan kembali."
"Ok.. Sebentar lagi aku akan sampai."
"Ok. Hati-hati."
Ia mematikan panggilannya dan fokus menyetir.
"Ryuu sedang main ternyata kalau begitu main ke Disneyland nya tidak jadi. Baiklah lagipula aku lelah.."
-K-
Rukia sampai di kediaman milik Kurosaki, ia turun dari mobil dan berlari lalu mengetuk pintu dengan cepat.
-TUKTUKTUKTUKTUKTUKTUKTUK!-
"Ichigo..!"
Ichigo langsung membuka pintu, "Sabar woi! Kau seperti dikejar setan saja!"
Rukia menatapnya, "Dimana makanannya?"
"Ada di dapur, masuk dululah!"
"Hai~"
Rukia membuka sendalnya dengan sembarang dan berlari layaknya anak kecil menuju dapur. Ichigo membetulkan sendalnya dan menggelengkan kepala melihat sikapnya yang seperti itu. Ia melihat Rukia sudah duduk dengan manis di kursi meja makan dan siap melahap hidangannya yang sudah Ichigo siapkan di meja.
"Makanan buatan Yuzu memang paling enak." Ujar Rukia dengan senang sambil melahap makanannya.
Ichigo menuangkan air putih untuknya dan duduk di hadapannya sambil terus memandangi Rukia dengan tatapan serius.
"Apa Ichigo?" tanya Rukia yang menyadari tatapan Ichigo.
"Justru aku ingin menanyakan ada apa denganmu?"
Rukia menatapnya lalu kembali menatap makanan yang ada di hadapannya.
"Sepertinya aku akan kembali dengan Ashido."
"Oh begitu, lalu apa masalahnya?" tanya Ichigo dengan santai walaupun sebenarnya ia cukup sedih.
Rukia menghabiskan makanannya dan menyimpan piring bekas makan di tempat cuci piring.
"Jelas saja aku tidak mau, namun masalahnya Nii-sama yang ingin kami bersama kembali."
"Jika kau benar-benar tidak mau, bilang saja. Jangan memaksakan diri begitu. Lagipula nanti yang menjalaninya kan kau bukan Byakuya."
"Ya aku tahu, tapi tetap saja.. Ah ya Ichigo,"
Rukia menatap Ichigo begitu lama membuat Ichigo gugup seketika walaupun ia tidak menunjukkannya langsung.
"Katakan cepat."
"Mari kita menjalin hubungan."
Ichigo menaikkan sebelah alisnya, "Maksudnya? Kita kan sudah menjalin hubungan sejak lama bukan?"
Rukia menghela nafas, "Hah.. Maksudku kita pacaran Ichigo."
Ichigo terdiam sejenak, "Kau dan aku?"
"Tentu saja."
Ichigo tersenyum, "Rukia..."
Rukia melipat kedua tangannya di depan dada dan menunggu jawaban dari Ichigo.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa."
"Bodoh, pura-pura saja. Aku juga tahu kau tidak mau pacaran dulu,"
"Tetap saja tidak bisa. Aku tidak mau membohongi Byakuya dengan hubungan palsu begini, rasanya tidak menyenangkan."
Rukia menutup matanya sebentar lalu tersenyum, "Sudah kuduga kau akan bicara seperti itu."
Ichigo tersenyum, "Tentu saja. Namun beritahu saja jika kau akan bertemu dengan Byakuya."
"Untuk apa? Buang waktu."
"Hei aku ini Direktur-mu, sudah sepantasnya seorang atasan tahu kegiatan bawahannya."
"Direktur kepo sepertimu itu sangat menyebalkan. Sudah, aku mau ke kamar dulu."
"Kau juga menyebalkan, yasudah sana."
Rukia menatapnya sebal dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 3. Setelah masuk ke dalam kamar, ia langsung menghambur ke arah kasur.
"Astaga memalukan sekali..! Sudah kuduga, pasti ucapannya yang tempo hari itu benar-benar ngawur.. Astaga.. Aku harap tadi aku menyelam ke dalam samudera yang sangat luas lalu ditelan oleh gelapnya kedalaman.. heh bicara apa aku ini.."
Ichigo menaiki tangga menuju kamarnya.
Saat ia memasuki kamarnya ia langsung menyenderkan tubuhnya pada pintu sambil menatap langit-langit.
"Keputusan yang kau ambil benar Ichigo. Jangan sampai kebawa suasana deh. Lagipula si Byakuya mau ngapain sih ikut campur urusan Rukia dan Ashido? Ckckck."
Rukia menatap layar HPnya dan mencari kontak sang kakak. Ia agak ragu untuk menelponnya apalagi takut jika sang kakak sedang sibuk.
-ping pong ping pong-
Rukia terkejut karena Byakuya mendahuluinya. Ia langsung mengangkat telpon darinya.
"Halo Nii-sama. Kebetulan sekali aku akan menelponmu."
"Rukia, kau sudah bertemu dengan Ashido?"
"Iya sudah tadi pagi, aku dengar nii-sama ingin kami menikah 2 bulan lagi ya? Jika aku boleh tahu kenapa?"
"Ya benar, alasannya tidak ada."
"Nii-sama maaf tapi aku tidak setuju dengan pernikahan ini."
"Kenapa? Kau masih marah dengannya atas kejadian yang lalu?"
"Tentu saja. Dia memutuskan hubungan pertunangan kami saat itu dengan seenaknya dan alasannya tidak jelas. Intinya aku tidak mau kembali dengannya."
"Kau seperti itu karena tidak tahu alasan Ashido yang sebenarnya."
"Aku sudah tahu."
'Sebenarnya aku tidak tahu sih, tapi peduli amat.' Gerutu Rukia dalam hati.
"Hm, jika begitu terserah. Nanti aku telpon lagi, aku masih ada pekerjaan."
"Nii-sama!"
Byakuya menunggu ucapan Rukia selanjutnya sebelum ia mematikan telponnya.
"Nii-sama pulang kan nanti untuk peringatan kematian Nee-sama..?"
"….. Tentu saja. Sudah ya,"
-pip-
Rukia menatap layar HPnya dan perasaannya campur aduk. Antara pusing, bingung, senang dan sedih. Ia memutuskan bangun dan keluar dari kamar untuk mencari angin segar.
-cklek-
Rukia dan Ichigo keluar dari kamar secara bersamaan. Mereka saling tatap,
"Apa?" tanya Rukia ketus.
"Apaan?" tanya balik Ichigo sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Oi kepala jeruk, mana manganya? Dari kemarin aku nagih ga di kasih."
"Ambil saja di kamar, aku mau ke supermarket dulu."
"Mau ngapain? Tidak biasanya."
"Beli kopi, kau mau nitip sesuatu?"
"Es krim vanilla satu sama potato chips."
"Ok." Ichigo menuruni tangga meninggalkan Rukia.
Sedangkan Rukia masuk ke dalam kamar Ichigo. Ia melihat dalamnya agak berubah namun ia masih bisa ingat dirinya dengan Ichigo selalu belajar bareng di sini dan megobrol. Ia berjalan ke lemari buku dan mengambil manga yang sangat ingin ia baca. Ia membaca manga tersebut sambil tiduran di kasur. Kasur Ichigo berdekatan dengan jendela ke arah luar sehingga angin meniup dengan santai ke arahnya.
Satu setengah jam berlalu dan Rukia sudah selesai membaca manganya. Ia mulai tiduran sambil menatap keluar jendela.
"Ichigo lama sekali sih? Tidak mungkin kan dia dikepung wartawan?"
-K-
Ichigo baru saja keluar dari supermarket dengan sekantung keresek kecil. Ia memakai topi berwarna hitam dan masker takutnya orang-orang mengenalinya karena bagaimanapun juga dia salah satu orang yang berpengaruh di negaranya. Dan hidupnya mulai disorot wartawan makanya ia kadang sebal karena kehidupannya merasa terganggu.
"Duh harus cepet pulang nih kalau ga eskrimnya meleleh." Ujar Ichigo berjalan dengan cepat berjalan menuju rumahnya.
Sebuah mobil limusin hitam berhenti sesaat ia melewati mobil tersebut. Seorang gadis memakai dress panjang berwarna putih keluar dan melihat Ichigo yang berjalan menjauh. Ia berlari mengejarnya namun tidak ada. Orang-orang menatapnya kagum karena kecantikannya.
"Gadis itu cantik sekali!"
"Sepertinya aku pernah melihatnya."
Para bodyguard berbadan besar mengejar gadis itu dan menjaganya dari tatapan orang-orang.
"Hime-sama, ada apa?" tanya pelayan pribadinya mengejar sang putri.
"Aku seperti melihatnya.."
"Siapa?"
Gadis itu tersenyum sendu, "Mungkin aku salah lihat. Ayo."
Mereka kembali masuk ke dalam mobil.
"Jika boleh bertanya.. Apakah lelaki yang tadi anda cari itu Ichigo-sama..?"
"… iya.."
"Hime-sama, padahal kan anda sudah berjanji tidak akan menemuinya lagi."
"Aku tahu tapi.."
Sang putri hanya diam sambil menatap dress putihnya yang cantik.
'Tidak salah lagi, pasti tadi itu Ichigo..'
Sedangkan Ichigo akhirnya sampai di rumah. Ia langsung melepas semua atribut penyamarannya dan berlari ke arah kamar. Ia tidak mau eskrimnya meleleh dan Rukia mengomel.
"Oi Rukia nih eskrim.." ucapannya terhenti melihat Rukia tertidur pulas di kasurnya dengan jendela terbuka lebar.
Ia berjalan mendekat lalu menutup jendela kamarnya.
"Jendela terbuka begini nanti kau masuk angin, ckckck." Ujar Ichigo lalu meninggalkan Rukia.
Ia berjalan ke bawah menuju kulkas dan menyimpan eskrim tersebut di freezer. Pikirannya terus teringat wajah Rukia yang tertidur pulas.
"Astaga.. Saat tidur pun dia tetap cantik dan anggun. Cih aku ini mikir apa sih? Sudah ah mending nonton saja. Lagipula kok oyaji dan anak-anak lama sekali sih?"
-tring tring-
Telpon rumah berbunyi, Ichigo langsung mengangkatnya.
"Halo dengan kediaman Kurosaki."
"Oi ini aku! Bagaimana keadaan di rumah?"
"Baik-baik saja. Kapan kalian pulang?"
"Entahlah, ceritanya aku akan membawa anak-anak menginap di villa dan melakukan api unggun."
"Hah? Kok mendadak sih oyaji?"
"Hahaha sebenarnya aku sudah berjanji pada Ryuu kemarin malam jadi sebagai orang tua yang baik aku harus menepati janjiku. Bukannya bagus ya kalian ku tinggal berdua? Jadi nanti-"
"Bicara apa sih kau ini oyaji, jangan mikir yang engga-engga deh! Jadi intinya kalian akan menginap di villa? Berarti aku dan Rukia menyusul begitu?"
"Tidak-tidak. Kalian diam saja di rumah. Jangan menyusul ke sini. Ini hari ku bersama anak-anak dan cucuku hahahah!"
"Aku kan anakmu juga Oyaji ckckck. Yasudah deh hati-hati."
"Hahaha ya tentu saja! Kau anak kebanggaanku! Jadilah pria jantan dan buktikan!"
"Ya ya ya sudah deh, bye."
"Bye! Aku titip Rukia padamu ya! Dia anakku yang paling manis!"
"Dia bukan anakmu, sudah."
-pip-
"Sebenarnya anaknya tuh aku atau Rukia sih ckckck."
Ichigo menatap jam menunjukkan pukul 2 siang. Tak terasa sebentar lagi sore.
"Heh kalau begitu aku masak dulu deh untuk makan sore nanti."
-K-
Seorang gadis berkimono putih sedang menyirami bunga di pekarangan rumahnya yang luas. Bunga-bunga itu tumbuh dengan sehat dan menghiasi pekarangan rumahnya dengan indah.
"Bunga-bunga yang sangat indah.." ujar Rukia melihat bunga-bunga tersebut.
Gadis berkimono putih tersebut berbalik dan tersenyum,
"Bunga-bunga ini sudah seperti anakku sendiri.. Aku menyayangi mereka semua sepenuh hati."
"Nee-sama kau sangat baik. Tapi jangan terlalu memforsir dirimu sendiri.."
"Hehehe aku tahu kok, aku menyimpan energiku untuk anak ini." Ujar Hisana mengusap perutnya yang sudah membesar.
Rukia menatapnya dan perasaannya sungguh senang namun juga khawatir.
"Aku senang aku punya keponakan sebentar lagi. Apakah Nee-sama sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Ya sudah kemarin aku periksa ke Dokter dan anak ini laki-laki. Hehehe aku berharap dia jadi anak yang baik, sehat dan pemberani seperti Byakuya-sama."
Rukia tersenyum, "Tentu saja.."
Rukia membuka matanya perlahan. Sinar matahari dari langit senja menyeruak ke dalam kamar Ichigo, menghiasi kamarnya yang gelap. Ia langsung terbangun dan menepuk jidatnya.
"Astaga sudah berapa jam aku ketiduran di sini? Hm.. Jam 5.. Lebih baik aku mandi dulu deh."
-cklek-
Ichigo masuk ke dalam kamarnya dan melihat Rukia yang baru saja terbangun. Ia menyalakan lampu kamar agar tidak gelap.
"Kau sudah bangun rupanya."
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Rukia.
"Baru saja aku mau membangunkanmu. Oya makan malam sudah siap."
Rukia meregangkan tubuhnya dan berjalan, "Ya, aku mau mandi dulu."
"Ok."
Ichigo melihat Rukia yang terlihat lemas kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan menuju kamar mandi.
"Aku juga mandi dulu deh."
-K-
"Gochisousamadeshita."
Keduanya telah selesai makan malam. Rukia dan Ichigo memberesi piring-piring habis makan dan menyimpan di tempat cuci piring.
"Kau kelihatan lesu sesudah bangun tidur." Ujar Ichigo.
"Ohya? Mungkin perasaanmu saja. Dimana eskrimku?"
"Di kulkas."
Rukia membuka kulkas dan mengambil eskrimnya lalu duduk di sofa sambil menonton TV. Sedangkan Ichigo mencuci piring habis mereka makan.
"Ohya kata Paman Isshin mereka menginap di Villa ya? Ryuu sangat senang katanya dan excited untuk melakukan api unggun nanti malam." Ujar Rukia.
Ichigo menyusut tangannya pada lap setelah selesai mencuci piring,
"Ya. Kok tahu sih?"
"Tadi Paman chat padaku sambil mengirimkan foto Ryuu. Lihat deh." Ujar Rukia memperlihatkan foto Ryuu di HPnya.
Ichigo duduk di sebelahnya dan melihat Ryuu tersenyum senang menangkap ikan yang sangat besar, selanjutnya foto Ryuu sedang bermain air di sungai bersama Karin dan Yuzu.
Ichigo tersenyum senang melihatnya, "Baguslah kalau semuanya senang."
Rukia tersenyum dan memakan eskrimnya.
"Ohya besok kan minggu, kau masih ingat kan janjiku yang tempo hari?" tanya Rukia.
Ichigo mengangguk, "Tentu saja. Mau pergi jam berapa?"
"Pagi saja, lebih cepat lebih baik."
"Ok."
Keadaan hening seketika.
Tak lama telpon Ichigo berdering,
"Halo? Undangan? Dari? Jam berapa? Oh ok, aku bisa. Tentu saja aku ada. Aku bersama dengannya kok saat ini. Ok terima kasih."
Rukia menatap Ichigo, "Ada apa?"
"Siap-siap Rukia, kita pergi ke acara undangan rekan bisnisku."
"Hah? Jam berapa? Aku tidak bawa baju formal lho." Ujar Rukia bingung.
"Jam 8, sudah siap-siap saja dulu. Soal baju itu gampang." Ujar Ichigo berlari ke kamarnya.
Rukia tercengang, "Ckck kau ini."
Ia juga berlari ke dalam kamarnya dan berganti pakaian. Celana jeans sobek-sobek dan kaus berwarna putih bertuliskan 'Naughty Angel' dan membawa tas kulit berwarna hitamnya. Ia keluar dari kamar dan melihat Ichigo sudah menunggu di bawah. Ia memakai celana jeans dan kemeja polo berwarna putih.
"Ayo!"
-K-
Rukia keluar dari kamar pas dengan memakai gaun berwarna silver yang terlihat dengan belahan samping kakinya serta memperlihatkan pundaknya yang putih. Aksesoris bunga dari perak menghiasi kanan rambutnya. Ia terlihat sangat cantik dan anggun.
"Wah nona sangat cantik! Tuan muda, nona sudah siap!" ujar pelayan memperlihatkan Rukia pada Ichigo.
"Aneh tidak?" tanya Rukia agak gugup.
Ichigo yang sudah rapi dengan jasnya terpukau melihat Rukia,
"Hmm bagus. Ayo. Ini kartuku." Ujar Ichigo memberikan kartu kreditnya pada seorang pelayan untuk membayar semuanya.
"Eh tidak usah Ichigo, aku—"
"Sudah, ini sebagai tanda terima kasih karena kau bersedia jadi partnerku untuk menghadiri acara pesta. Waalu sebenarnya kau diundang sih."
"Heh dasar."
"Hahahaha, ayo."
"Terima kasih banyak ya tuan muda." Ujar para pelayan butik terkenal dan mewah itu.
Mereka keluar dari butik tersebut dan masuk ke dalam mobil menuju tempat pesta.
"Rekan bisnismu ini sangatlah penting ya?"
"Ya, dia sahabat baik Oyaji dan orangnya sangat baik. Kau ingat anaknya Senna yang kita temui di rumah sakit?"
"Oh Ryuuzaki-san? Ah yaya aku tahu. Aku ingat bertemu dengan Ayahnya dalam pameran lukisanku. Dia tamu yang sangat baik dan supel."
"Oh gitu, baguslah. Sebentar lagi kita sampai."
10 menit kemudian
Mobil mereka memasuki kawasan gedung yang mewah dan terang oleh lampu-lampu yang cantik. Mobil-mobil mewah bertengger di sana dan muncul tamu-tamu penting yang menghadiri acara tersebut. Seorang pelayan membukakan mobil Ichigo.
Ichigo turun dan semua mata tertuju padanya terutama mata para gadis yang kagum akannya. Ia sangat terkenal sebagai CEO muda yang tampan dan pintar. Mereka penasaran karena ia menuju pintu mobil sebelahnya, itu berarti ia membawa pasangan.
Mata mereka menangkap sosok Rukia yang turun dari mobil dengan anggunnya.
"Itu Nona bangsawan Kuchiki kan?"
"Astaga itu Kuchiki Rukia!"
"Pelukis handal sekaligus seorang noblewoman Kuchiki."
Mereka terpukau dengan Ichigo dan Rukia yang datang berpasangan.
"Aku merasa orang-orang menatap kea rah kita." Ujar Rukia pada Ichigo.
"Biarlah, aku memang tampan."
"Dih kepedean banget sih."
Ichigo hanya tersenyum jahil, "Pegang tanganku nanti kesasar."
Rukia menatapnya, "Aku bukan anak kecil." Ujarnya namun menggaetkan tangannya.
"Heh, ayo kita hampiri Paman Ryuuzaki dulu."
Keduanya berjalan dan menghampiri lelaki paruh baya yang sedang mengobrol dengan tamu-tamunya yang lain. Matanya menangkap Ichigo dan Rukia dan permisi.
"Akhirnya kau datang juga Ichigo! Hm.. Oh! Nona Kuchiki terima kasih telah mau hadir dalam acaraku." ujarnya mengulurkan tangannya pada Rukia.
Rukia menjabat tangannya sambil tersenyum, "Terima kasih tuan."
"Aku juga mengirim undangan pada keluargamu dan aku tak menduga kau akan datang, suatu kehormatan sekali."
"Iya aku senang bisa menghadiri pestamu."
"Kalian datang bersamaan dan terlihat serasi. Dan aku dengar Isshin sedang mengasuh ya hahaha. Jadi kapan akan diresmikan?"
Orang-orang seperti menunggu jawaban Ichigo dan Rukia.
"Kami hanya-"
"Secepatnya." Ujar Ichigo memotong ucapan Rukia.
"Oh baguslah! Hahaha aku tunggu undangannya. Nah, silahkan nikmati pestanya. Jika ada apa-apa cari saja aku ok? Aku permisi dulu."
"Iyaa Paman." Ujar Ichigo.
Keduanya mematung dan tidak bicara apapun.
"Kau ini seenaknya saja." Ujar Rukia. "Tapi tidak apa-apa sih, aku tidak keberatan." Sambung Rukia sambil tersenyum ke arahnya.
Ichigo terkejut dan tersenyum, "Heh kau ini."
"Rukia!"
Rukia menoleh ke samping dan melihat gadis berambut panjang bergelombang dengan wajah cantik memakai gaun berwarna merah berjalan menghampirinya. Ia memeluk Rukia.
"Long time no see my angel!" seru gadis itu dengan senang.
"Rangiku-san!"
"Rangiku?"
Gadis bernama Rangiku tersebut menoleh ke arah Ichigo, "Eh? Ichigo?! Hmm.." ia menatap keduanya dan terkejut.
"Kalian pacaran? Kok tidak bilang-bilang? Hei Ichigo kau jangan seenaknya sama Rukia ya!"
"Nanti aku ceritakan ya. Bukannya kau sedang ada di New York?"
"Iya namun aku sedang kangen rumah makanya aku pulang ke Jepang dan kebetulan Paman Ryuuzaki mengundangku hihi tepatnya Gin sih yang diundang."
"Gin? Dimana rubah itu?" tanya Ichigo.
"Gin sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya yang lain. Tadi aku lihat mereka mencarimu tuh, sana pergi. Aku mau mengobrol dengan Rukia."
Ichigo menatap Rukia, "Baiklah aku pergi dulu."
Rukia mengangguk pelan dan Ichigo meninggalkan mereka berdua.
"Hmm sudah lama kita tidak mengobrol ya, dulu kita selalu bersama. Lalu setelah lulus sekolah kita semua berpencar."
"Iya.. Ohya cincin itu jangan bilang.."
Rangiku tersenyum dengan semburat merah di pipinya, "Aku dilamar Gin hihi, secepatnya kami akan menikah."
Rukia merasa hatinya senang saat melihat sahabatnya tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
"Selamat ya Rangiku-san..! Aku tunggu undangannya hehehe."
"Tentu saja hihiiii. Nah sekarang ayo kita bersenang-senang!" ujarnya sambil menggandeng Rukia.
-K-
Ichigo yang sedang mengobrol dengan rekan-rekan bisnisnya sesekali menoleh ke arah Rukia berada.
"Ichigo-kun, beruntung sekali mendapatkan Nona Kuchiki."
"Nona Kuchiki sangat berbakat dan anggun ya, bagaimana menurutmu Ichigo-kun?"
"Ya benar, namun sebenarnya dia itu keras kepala dan seenaknya."
"Hahaha perempuan memang begitu pada lelaki yang ia sukai."
"Hmm begitu ya."
'aku harap sih benar.' Pikir Ichigo dalam hati.
"Ah maaf permisi, saya ke toilet dulu." ujar Ichigo.
"Baik nak Ichigo."
Ichigo meninggalkan mereka. Setiap berjalan orang-orang menyapanya dengan baik. Sebenarnya ia bukan ingin ke toilet, melainkan ingin mencari Rukia yang hilang dari pandangannya.
Tak lama ia menemukan Rukia bersama Rangiku sedang mengobrol dengan perempuan-perempuan lainnya.
Ichigo hendak berjalan ke arahnya namun seseorang menepuk pundaknya.
"Ichigo..?"
Ichigo langsung berbalik dan terkejut melihat gadis di hadapannya.
"Ichigo..!" ia langsung memeluk Ichigo dan tidak perduli dengan yang lain.
"Aku merindukanmu!"
To Be Continue~
Yey! Ch 2 selesai! *clap*
Tunggu kelanjutannya di ch 3 ya minna~ Arigatou gozaimasu telah membaca hihi. *bow*
Preview for the next chapter
'Siapa gadis itu?'
'Ampun deh Ichigo dikelilingi banyak gadis cantik begitu! Dia bukan player kan? Kau tidak takut kehilangannya Rukia?'
'Takut kenapa?'
'Kau akan menyesal nantinya hihi.'
'Kurasa aku melangkah ke tempat yang seharusnya tidak boleh aku masuki.'
