Hola Minna-san! Minna-san, mohon maaf. setelah sekian lama akhirnya cerita ini lanjut lagi. mohon maklum author lagi ngurusin skirpsi dan lain-lainnya jadinya belum ada waktu untuk nerusin lagi. And then~~~ akhirnya bisa lanjutin juga di waktu libur ini *YEAH*! Makasih untuk yang udah pada review, fav and follow cerita ini di sbelum-sebelumnya. Btw itu semua sgt berharga dan berarti buatku! *love*

Ok, intinya semoga kalian suka dengan chapter ini yap. Jangan lupa review, saran dan kritiknya ya. selamat membaca! and i hope you like it.


BLEACH BY TITE KUBO

BUT THIS STORY WAS MINE


Oasis di Tengah Gurun

Chapter 3 : Who's care?

[WARNING: TOO MUCH DIALOGUE]


Pesta pada malam itu masih berlanjut meriah. Semakin larut semakin ramai oleh para tamu dan atraksi yang diperlihatkan oleh para penghibur. Tak lupa mereka meminum wine terbaik yang disajikan pada malam itu.

Rukia menenggak winenya sambil menatap langit malam yang indah. Sekarang ia sedang berada di balkon sendirian. Baginya malam ini adalah malam yang menenangkan. Bisa menikmati indahnya malam tanpa harus memikirkan apapun. Kerja? Apa itu kerja? Bosnya saja sedang berpesta.

Ngomong-ngomong tentang boss. Ia teringat kembali kejadian tadi, dimana Ichigo bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang tersenyum padanya secara misterius. Walaupun Rukia menganggap itu hal yang biasa saja.

[Flashback]

Semua mata tertuju pada Ichigo dan gadis yang memeluknya. Mereka terpukau dengan kecantikan gadis itu dan ingin tahu siapakah gadis itu sebenarnya.

"Oh Riruka! Sejak kapan kau kembali ke sini?"

Semua orang langsung membicarakan gadis itu dan terkejut saat mendengarnya.

"Oh Riruka yang model itu?"

"Aku ingat! Dia selalu muncul di bebagai iklan kecantikan dan high end fashion!"

"Mereka ada hubungan apa?"

Riruka mendengar semua bisikan orang-orang tentangnya. Ia tidak peduli dan menggaet lengan Ichigo.

"Sepertinya mereka mengira kita ini punya hubungan spesial. Padahal memang iya sih hahaha. Ayo kita makan kue, Ichigo!"

"Heh kau ini. Pulang tidak bilang-bilang sekarang menyuruhku seenaknya."

"Sudah tidak usah banyak omong! Btw, aku punya berita penting untukmu."

Ichigo menatap Riruka. Ia tersenyum sambil mengisyaratkan bahwa jika ia tidak mau mendengarkannya ia akan menyesal.

Riruka menatap Rukia yang sedang menatap mereka. Ia tersenyum pada Rukia lalu pergi bersama Ichigo. Rukia mengerjapkan matanya.

"Rukia!"

Rangiku seolah memecah pikirannya. Jujur, ia selalu kaget oleh lengkingan suara milik Rangiku.

"Ada apa Rangiku-san?"

Rangiku menatap Rukia sambil menghela nafas.

"Kau tidak cemburu!? Gadis itu mengambil Ichigo di depan matamu!"

"Hmm, lalu?"

Rangiku menepuk jidatnya, ia tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini. Apa ia masih berhati dingin seperti dulu?

"Ampun deh.. Ichigo sejak tadi dikelilingi banyak perempuan cantik! Dia bukan player kan? Kau tidak takut kehilangannya?"

"Takut kenapa?"

'Kehilangan Ichigo? Untuk apa aku takut? Ah, mungkin takut karena aku nanti ga ada yang gaji lagi. Secara dia bossku.'

"Jujur aku takut sih, tapi tak apa deh." ucap Rukia kembali pada Rangiku.

"Tuh kan! Hati es sepertimu pasti ada rasa takutnya juga jika kehilangan orang yang kau sukai! Nah sekarang, lebih baik kita lihat apa yang akan dia lakukan dengan gadis itu."

Rukia menatap Riruka dan Ichigo sedang berbicara jauh dari kerumunan orang. Ia bisa melihat ekspresi senang dari keduanya. Bukan hanya itu, Ichigo seakan menunjukkan ekspresi kaget, setelah itu mereka pergi entah kemana.

"Rukia, mereka pergi! Ayo-"

Rukia menahan tangan Rangiku. Rangiku menatap Rukia bingung.

"Aku rasa mereka butuh privasi. Lebih baik biarkan saja, ga enak juga kan tiba-tiba kita mengikuti mereka taunya itu merupakan hal yang sangat penting."

"Hmm, aku tidak mengerti. Kau ini terlalu baik atau apa, tapi yang jelas. Aku akan sangat marah pada Ichigo jika dia berani mempermainkan hatimu!"

Rukia tersenyum, "Tenang saja Rangiku-san. Si jeruk itu tidak akan berani melakukannya.."

"Ah Rukia kau ini... Oh! Sudah jam segini! Aduh, aku harus kembali pada Gin. Aih, gimana dong ya.. Hmm.. Maaf ya Rukia, aku harus pergi.."

"Ok. Ga apa Rangiku-san."

Rangiku meninggalkan Rukia sendirian.

Memang sudah seharusnya Rangiku kembali ke sisi pasangannya, dengan ia mau menemaninya sedari tadi hingga sekarang sudah membuatnya senang.

Rukia memutuskan menuju balkon yang sepi untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan. Karena ia merasa setelah Ichigo dan Riruka pergi entah kemana, semua tatapan tertuju padanya. Apalagi para perempuan yang haus akan gosip.

[End of flashback]

Bulan malam ini sangatlah indah. Rukia sangat menikmatinya dan berharap ia bisa melihatnya setiap malam di perkotaan. Bukan cuma monitor komputer, tumpukan kertas serta para netizen yang ingin mengetahui hidupnya. Tapi mau gimana lagi, hidupnya memang seperti itu. Ia harus menjalaninya sebaik mungkin. Hah, jika dipikir-pikir... kadang hidup populer itu melelahkan.

"Sedang banyak pikiran?"

Rukia langsung menoleh mendengar suara yang tidak asing baginya. Hingga ia ingin sekali melupakan suara itu, suara orang yang paling menyebalkan dalam hidupnya.

Si eyeshadow.

"Mau apa kau eyeshadow? Tidak lihat aku sedang menikmati indahnya malam?" ujar Rukia sambil mengangkat pelan gelas wine nya. Bergaya bak sosialita sedang menikmati wine di malam hari.

Ashido tersenyum dan berjalan mendekati Rukia. Rasanya ia ingin menghindar dari Ashido namun memlih diam karena terlalu malas untuk kembali ke dalam. Untunglah pintu menuju ke dalam tertutup sehingga tak ada yang melihatnya saat ini. Jika iya, bisa-bisa gosip beredar dimana-mana. Hah, bikin pusing saja.

Tangan Ashido meraih gelas wine Rukia, lalu ia menukarnya dengan gelas berisi teh panas. Wangi teh itu langsung menyeruak dan membuat Rukia senang walau ia tidak memperlihatkannya.

"Gadis sepertimu tidak cocok minum wine." ujarnya lalu meminum sisa wine milik Rukia.

Rukia menatap gelas berisi the pemberian Ashido. Rasa hangat dari teh tersebut menyelimuti tangannya yang dingin oleh angin malam. Ia mulai meminum teh panas itu secara perlahan. Baginya rasa panas dari teh itu adalah rasa yang paling nikmat, ditambah kepahitan yang khas. Mengingatkannya pada tehh yang selalu disuguhkan oleh kakaknya sejak dulu.

Ia menatap Ashido yang tengah menatap gelas wine di genggamannya. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Ia selalu ingin tahu, tapi kadang ia berharap tidak ingin tahu. Hanya buang-buang waktu saja pikirnya.

"Apa kau masih membenciku?" tanya Ashido, tatapannya masih terpaku pada gelas wine.

Rukia menatapnya sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada langit malam.

"Iya, jika ini rumahku maka aku sudah mengusirmu."

Ashido tertawa kecil, "Hahaha, sudah kuduga kau akan bicara seperti itu. Ah ya, tadi aku lihat Ichigo dengan perempuan lain. Kau tidak keberatan?"

"Aku tidak peduli."

Ashido tersenyum namun ada rasa pedih dalam hatinya. Ia menatap Rukia yang membelakanginya. Rasanya ia ingin memeluknya dari belakang dan mengatakan hal yang ingin ia katakan sejak dulu.

Tangannya mencoba meraih pundak Rukia,

"Ngomong-ngomong."

Ucapan Rukia mengejutkannya. Ashido langsung mengurungkan niatnya dan memilih duduk di bangku dekat Rukia.

Rukia berbalik dan duduk di samping Ashido. Ia pun menatapnya.

"Hahh.. Kau mengganggu malam tenangku."

Ashido hanya diam.

"Tapi tak apa, untuk kali ini aku tidak akan marah." ujar Rukia tersenyum padanya.

Ashido terkejut. Sudah lama sekali ia tidak pernah melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu memberikan semangat padanya. Yang selalu membuatnya ingin terus berusaha apapun rintangannya.

"Kau tahu, kau ini seperti perahu. Selalu pergi mengikuti mata angin..."

Ia tidak bisa mendengarkan omongan yang Rukia bicarakan saat ini. Entah kenapa ia merasa sekelilingnya bergoyang. Bukan hanya itu, suara pun tidak terdengar sama sekali.

"Kau dengar tidak? Hei? Halo? Ashido?"

Ashido memeluk Rukia.

Rukia membelalakkan matanya, ia terkejut bukan main. Mentang-mentang ia baik sedikit, Ashido cari kesempatan rupanya!

"Hei! Jangan main-main! Kau! Ashido..?"

Rukia melihat wajah Ashido berubah merah, nafasnya terus memburu seakan-akan hanya sedikit oksigen yang dapat ia hirup. Bukan hanya itu ia menunjukkan rasa sakit yang luar biasa.

"Ashido? Astaga, kepalanya panas tapi tangannya dingin sekali..! Apa yang terjadi sebenarnya? Ashido? Jangan-jangan kau alergi wine? Atau jangan-jangan wine ini beracun!?" Rukia mulai panik dan memeriksa gelas bekas wine tadi.

Ashido berusaha meraih HP di saku jasnya lalu memberikannya pada Rukia, "Haha.. Jika aku alergi wine aku tidak akan mengkoleksinya.. Hah.. hah.. Tolong telpon... sekertarisku.."

Tanpa pikir panjang, Rukia langsung menelpon sekertaris Ashido di hpnya.

Ashido melihat Rukia yang tampak panik sambil menelpon sekertarisnya. Ia merasa, rukia pasti akan menganggapnya lebih merepotkan dari sebelumnya.

'Hah, diriku sungguh memalukan..' pikir Ashido dalam hati.

Ia berharap sekertarisnya itu cepat datang dan membawanya pulang.

.

.

.

"Terima kasih banyak, Kuchiki-sama. Jika tidak ada anda, mungkin Tuan muda sudah terkapar sendirian." ujar sekertaris kepercayaan Ashido.

"Ah, tidak.. Aku hanya menelponmu lagian."

Ashido sedang beristirahat di salah satu kamar di villa. Kamar tersebut disiapkan untuk tamu, jika sedang dalam keadaan darurat. Seperti Ashido saat ini.

Rukia menatap Ashido yang sedang tertidur. Keadannya mulai membaik dibandingkan tadi. Sebenarnya ia pernah melihat Ashido seperti itu, cuma itu dulu.

"Sebenarnya Ashido sakit apa?"

"Oh.. Sepertinya tuan muda hanya kelelahan saja. Semenjak pulang ke Jepang, ia terlalu excited dan menemui semua rekan bisnisnya bahkan hingga lupa waktu untuk beristirahat. Terutama saat akan bertemu dengan anda, Kuchiki-sama."

Rukia tampak canggung menanggapinya, "Ah begitu.. Hahaha."

"Hmm.."

"Ah tuan muda!"

Sekertaris Ashido langsung menghampiri dan membantunya untuk duduk.

"Aku baik-baik saja. Bisa tinggalkan aku berdua dengan Rukia?"

"Baiklah, tuan muda. Saya permisi dulu."

Sang sekertaris membungkuk hormat pada Ashido dan Rukia. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

-blam-

Keadaan sangat sunyi, apalagi hanya ada dirinya bersama Ashido di kamar ini.

Rukia menuangkan segelas air dari teko gelas di meja dekat kasur. Lalu memberikannya pada Ashido.

Ashido menerimanya dan meminum air itu dengan perlahan.

"Aku tidak mengerti kenapa aku bisa ada di sini bersamamu." ujar Rukia sembari duduk di sofa dekat kasur.

"Jika kau mau kembali, kembalilah."

"Seenaknya mengusirku. Jika bukan aku yang menolongmu kau sudah mati terkapar di balkon."

"Padahal aku tidak maksud untuk mengusir."

Rukia hanya diam, ia baru saja ingat. Tadi, sekertaris Ashido memberikan obat-obatan dengan jumlah banyak padanya. Apa kecapean butuh makan obat sebanyak itu ya?

"Kau sakit apa sih sebenarnya?" Rasa penasaran Rukia mulai memuncak.

"Kau mau tahu?"

Ashido menatap lurus mata Rukia. Ia pun melambaikan tangannya agar Rukia mendekat.

Rukia yang penasaran pun mendekati Ashido.

Ashido hendak membisikkan sesuatu.

"Fuhhh~~"

Ia meniup kuping Rukia dan membuatnya bergidik geli.

"EYESHADOW!" seru Rukia marah sambil mengusap-ngusap kuping kirinya. Ia paling tidak suka orang lain menyentuh kupingnya. Apalagi meniupnya seperti tadi.

"hahahaha! Lihat kulitmu! Seperti kulit jeruk!" ujar Ashido memegang tangan Rukia dengan bulu kuduk yang berdiri.

Rukia langsung menarik tangannya, "Kau ini! Sedang sakit juga masih menyebalkan! Sudah! Aku mau kembali ke pesta! Bye!"

Rukia meninggalkan Ashido yang tertawa melihatnya.

-blam-

Ashido tak bisa berhenti tertawa. Sudah lama sekali ia tidak mengerjai Rukia seperti tadi. Ya jika kejadian pada waktu itu tidak terjadi mungkin ia masih bisa terus mengerjainya kapanpun.

Ia pun tersenyum dan menatap ke luar jendela.

"Dengan begini kau tidak perlu tahu apa yang terjadi padaku Rukia. Karena gadis sepertimu, tidak boleh memikirkan atau mengkhawatirkan aku yang tidak pantas untukmu."

-tuk tuk tuk-

"Tuan muda, barusan Kuchiki-sama baru saja.." ujar sang sekertaris dengan ekspresi bingung.

"Tidak apa, biarkan saja."

"Tuan muda.. Apakah anda yakin tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kuchiki-sama?"

Ashido tersenyum sendu, "Tidak apa. Bisa berbicara sedekat itu dengannya saja, sudah membuatku senang."

"Tuan muda..."

-K-

Rukia berjalan dengar perasaan kesal. Terlihat jelas dari langkahnya yang kasar sambil menghentakkan kaki di setiap langkahnya.

"Kurang ajar si ashido itu! Berani-beraninya ia melakukan itu padaku! Seharusnya tadi aku biarkan saja mati terkapar di balkon."

Ia terus berjalan tanpa melihat ke depan. Lagipula di lorong yang sepi ini tidak mungkin ada orang yang berkeliaran.

-Dug!-

"Maaf."

"Tunggu dulu!"

Rukia berhenti dan berbalik. Sepertinya ia sudah membuat kesal orang yang tak sengaja ia dupak. Well, persepsinya tadi salah. Ternyata ada orang yang berkeliaran di lorong sepi ini selain dirinya.

"Oh, kau gadis tadi~ Yang berperan sebagai kekasih Ichigo, betul? Kuchiki Rukia?"

Rukia menatap gadis itu. Ah si rambut pink kuncir dua.

"Ya, kenapa?" tanya Rukia dengan nada dingin. Wajahnya tampak kesal walau ia tidak menunjukkan sepenuhnya.

Riruka menaikkan alisnya, "Heh, seharusnya aku yang sebal karena terdupak olehmu. Aku heran kenapa Ichigo mau denganmu? Gadis tidak sopan."

'Bicara apa sih gadis ini? Padahal aku sudah bilang maaf.'

"Coba saja kau tanya pada si kepala jeruk itu. Ngomong-ngomong aku sedang buru-buru. Permisi." ujar Rukia berusaha menghindari Riruka.

Bisa-bisa emosinya meledak di hadapan gadis itu. Karena ia merasa mulut Riruka cukup berbahaya.

"Tunggu! Kau mau kemana?! Hei-"

Riruka menahan pundak Rukia. Rukia mematung dan tidak berbalik.

"Kau ini ya.." Riruka memotong pembicaraannya.

Ia melihat Rukia yang diam mematung. Melihat itu, ia tersenyum.

Mereka melihat Ichigo bersama seorang gadis bertubuh tinggi dengan rambut yang sengaja ia urai. Gadis itu sangatlah cantik dengan gaun berwarna hijau pastel dengan kilauan pemata-permata yang indah serta, memperlihatkan punggungnya yang ramping. Mereka terlihat akrab dan dekat. Menghabiskan waktu berduaan di balkon. Namun dengan 2 bodyguard yang menjaga mereka di luar, seakan-akan pertemuan rahasia yang tidak boleh orang ketahui. Ichigo menatap lembut gadis di hadapannya itu sambil menyentuh tangannya. Baru kali ini Rukia melihatnya seperti itu.

Riruka langsung menarik Rukia untuk bersembunyi. Bisa gawat kalau para bodyguard mengetahui keberadaannya.

"Heh, seharusnya ini rahasia. Tapi, kau tahu kan sekarang?"

Rukia menatap Riruka, memilih untuk diam daripada menghabiskan tenaganya menjawab bualan Riruka yang tidak ia mengerti sama sekali.

"Ichigo hanya mempercayakan statusnya padamu. Bukan hatinya. Kau mengerti kan?"

Rukia menghela nafas, "Dengar ya, nona model. Aku tidak mengerti sedari tadi kau bicara apa. Yang terpenting adalah, aku tidak peduli. Permisi."

Mendengar ucapan Rukia, Riruka merasa tercengang dan malu. Ia tampak geram dan menghentakkan kakinya.

"Hish! Menyebalkan!"

Rukia melangkahkan kakinya lalu baru ingat hal paling penting.

"Ah aku baru ingat. Lebih baik aku cepat tinggalkan tempat ini."

-K-

Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Sejam yang lalu Rukia sampai di rumah Ichigo, beruntunglah kunci rumah serta kunci mobil ada padanya. Jadi ia bisa sesuka hati pulang ke rumah. Jika tidak, mungkin ia sudah bete dan merusak hari indah Ichigo. Lagipula tidak ada lagi yang ia ingin lakukan di pesta tersebut.

Memang, hal paling indah dan menenangkan adalah bersantai di rumah. Tepatnya di kasur yang empuk. Ya walaupun ini bukan rumahnya. Tapi karena sudah terbiasa dari dulu ia suka menginap di sini, jadi bisa dibilang ini merupakan rumah keduanya.

"Hah.. Rasanya enak sekali. Setelah mandi air hangat, berganti piyama yang nyaman dan sekarang aku sudah berada di kasur. My heaven~"

Ia mengecek hpnya, "Ah aku baru ingat. Batrenya habis semenjak acara berlangsung tadi. Aku harus cas sekarang, takutnya ada pesan penting dari Ryuu."

Ia langsung mengecas HPnya lalu mematikan lampu kamar. Berhubung ia sudah mengantuk dan ingin mengistirahatkan tubuh serta pikirannya.

Rukia langsung menghambur ke kasur lalu menarik selimut menutupi tubuhnya dan memejamkan mata.

"Good night, me."

-tuk! Tuk! Tuk!-

Baru saja ia ingin menutup matanya menuju alam mimpi. Seseorang sudah mengganggunya dan mengetuk pintu kamarnya dengan keras.

"Rukia! Buka pintunya!"

Ia mengenal jelas pemilik suara itu.

Dengan perasaan malas dan wajah mengantuk, rukia berjalan menggapai pintu kamarnya.

-cklek-

Pintu kamar terbuka, ia melihat Ichigo baru saja kembali dengan wajah masam dan kesal.

"Kenapa tidak bilang dulu kalau mau pulang!?" seru Ichigo.

"Aku kira kau masih mau berlama-lama di sana, jadi aku pulang duluan karena aku memang ingin pulang."

Ichigo tak habis pikir dengan jawaban simple Rukia. Ah tapi pasti dia akan jawab seperti itu sih. Tidak mungkin yang aneh-aneh. Secara Rukia ini tipe yang realistis.

"Hah.. Kau ini... jangan buat aku panik begitu. Lagipula jika kau mau pulang, sudah pasti kita akan pulang."

"Seharusnya kau berterima kasih padaku."

"Berterima kasih untuk apa? Tidak mengantarkanmu pulang?"

"Ah sudahlah, kau juga pasti mengerti nanti. Sekarang aku ngantuk mau tidur. Bye."

"Eit tunggu!"

Rukia menatap Ichigo,

"Apa kau menikmati pestanya?" tanya Ichigo sambil menatapnya.

"Lumayan. Kalau kau ingin tahu perasaanku saat pesta mending tanya nanti. Sekarang aku lelah, ingin tidur. Bye."

"Oi-"

-Blam!- -clek-

Rukia menutup serta mengkunci pintu kamarnya.

Ichigo menghela nafas kecil, lalu membuka dasi yang ia kenakan.

"Hah.. Malam yang melelahkan."

Ia berjalan menuju kamarnya sambil mengecek HP. Sesaat melihat layar HPnya, ia tersenyum sambil mengetik sesuatu di layar HPnya.

"Good night."

-K-

Pagi yang cerah dengan sinar matahari hangat menyinari sekitarnya. Tak lupa suara burung yang saling bersaut-sautan. Untunglah hari ini adalah hari Minggu, sehingga tidak harus bangun pagi untuk pergi kerja ataupun pergi ke sekolah. Apalagi tadi subuh Ichigo dan Rukia baru pulang dari pesta.

Namun sepertinya mau itu hari Minggu atau bukan, sepertinya sama saja bagi Ichigo. Ia hanya tidur selama 3 jam dan terbangun karena ada meeting dadakan. Walaupun lewat video call.

"Ya, jika ada apa-apa hubungi saja aku."

Ichigo baru saja selesai berbicara dengan bawahannya melalui telepon. Ia langsung menghempaskan dirinya ke kasur sambil menyimpan kacamata bacanya di meja kecil samping kasurnya.

"Aku kira jadi bos itu enak dan tidak harus banyak bekerja. Tapi malah lebih sibuk."

Ia mengganti pakaian formalnya dengan pakaian santai. Walaupun meeting lewat video call tetap saja ia harus memperlihatkan bahwa dirinya siap dan menjadi contoh yang baik bagi bawahannya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 08.20 pagi. Biasanya ia selalu lari pagi, tapi sepertinya untuk hari ini libur dulu deh. Bisa-bisa ia tepar. Apalagi sekarang perutnya sudah berbunyi, minta dikasih makan.

-tuk tuk tuk-

"Hei, bangun! Sarapan sudah siap! Aku tunggu di ruang makan, ok?"

Ichigo membuka pintu kamarnya, ia mencium aroma manis muncul. Tumben sekali Rukia mau masak pagi-pagi.

Daripada menunggu lama, ia langsung berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.

Rukia tengah duduk di kursi meja makan. Di hadapannya ada pancake dengan guyuran situp maple. Serta segelas susu hangat di sampingnya.

Ichigo duduk di hadapan Rukia, ia tercengan melihat makanan yang ada di hadapannya.

"Ini apa?"

"Sunny side up kesukaanmu."

Ichigo melihat telur yang lumayan gosong dengan beberapa sosis yang hampir gosong juga. Hanya kentang rebus saja yang aman baginya untuk ia konsumsi. apanya yang sunny side? Ini sih seperti telor yang diurak-arik dengan beberapa kegosongan di sana-sini.

"Kau mau buat aku sakit perut?" Ichigo mulai memakan kentang rebusnya. hambar.

"Hah? Kalau tidak mau, tidak usah dimakan." ujar Rukia mulai memakan pancake-nya.

Ichigo menatapnya lalu kembali menatap makanannya. Hmm, kapan lagi ia bisa makan sarapan buatan Rukia. Persetan dengan rasa gosong!

Ichigo melahap telur serta sosis hampir gosong itu. Rasa pahit, asin, aneh, bercampur jadi satu. Semoga sesudah ini, ia tidak sakit perut. Yah.. Setidaknya ia sudah menghargai Rukia yang mau membuatkannya sarapan pagi ini. Walau sebenarnya ia ingin sekali makan pancake yang Rukia makan.

Rukia merasa Ichigo menatap pancakenya sedari tadi. Sebenarnya ia ingin membuatkan pancake untuk Ichigo dibandingkan masak sosis dan teman-temannya. Tapi entah kenapa ia merasa Ichigo tidak suka makan manis di pagi hari. Merasa makanannya terus ditatap, ia jadi merasa tak tega kepada Ichigo.

"Ah dasar. Ini." ujar Rukia memberikan potongan terakhir pancake miliknya pada Ichigo.

Merasa senang Ichigo langsung menerima suapan dari Rukia.

Enak. Dibandingkan makanannya tadi.

Setelah itu Rukia mengambil piring serta gelas bekas dirinya dan Ichigo makan. ia menyimpannya di tempat cuci dan mencucinya satu persatu. Sebenarnya ia jarang cuci piring, karena biasanya yang melakukan perkjaan rumah tangga itu pelayannya.

"Ga usah sok cuci piring, nanti piringnya pecah semua." celetuk Ichigo.

"Heh, cuci piring doang!" ujar Rukia tidak mau kalah. walau awalnya ia bingung sih, bagaimana caranya.

"Ah ya, hari ini kan bukannya minggu."

Rukia menoleh ke arah Ichigo, "Oh kau masih ingat janji waktu itu? Haha, lupakan. Aku saja baru ingat."

Ichigo menaikkan sebelah alisnya, seperti ada yang aneh dengan dirinya. Tapi jika ia berkata begitu, ya sudah. Daripada ia memaksa dan bikin Rukia jadi bad mood.

Ia memilih berkutat dengan HPnya dan tiduran di sofa ruang tengah.

Rukia menatap Ichigo. Ia menatap jam tangannya. Setelah selesai mencuci piring, ia bergegas menuju kamarnya.

Tak sampai dari 10 menit, ia sudah berganti pakaian dengan rok jeans pendek dengan atasan casual blouse berwarna hijau pastel. tak lupa sling bag kecil berwarna krem yang ia bawa di bahu kirinya. Melihat itu, Ichigo penasaran. mau kemana ia pagi-pagi begini. walau sebenarnya ini sudah hampir jam 10 sih.

"Kau mau kemana?" tanya Ichigo melihat Rukia sudah siap dengan tas dan kunci mobil di tangannya.

"Bukan urusanmu."

"Hah?"

Ia berjalan keluar rumah, menghiraukan tatapan Ichigo yang penasaran padanya. Ichigo berjalan mengejar Rukia, namun Rukia sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakannya. Tak lama, mobilnya melaju meninggalkan rumah Ichigo.

Ichigo menggelengkan kepalanya.

"Pagi-pagi begini mau kemana anak itu?"

-ting tong!-

Bel rumah Ichigo berbunyi nyaring. Pagi-pagi begini siapa yang bertamu ke rumahnya? Ga ada kerjaan. kebetulan sekali ia ada di luar rumah.

Ia membuka gerbang rumahnya dengan tombol otomatis dan melihat siapa tamu tersebut. Jika itu hanya wartawan, awas saja.

"Ya sebentar!"

Muncul seorang gadis bertubuh tinggi mengenakan topi berwarna hitam. Ia memakai dress berwarna putih di atas lulut dengan cape berwarna hitam menutupi bahu serta punggungnya. Bukan hanya itu, ia memakai kacamata hitam. Seakan-akan ia ingin menutupi identitasnya dari orang lain.

"Sudah aku kira, pasti kau ada di sini." ujar gadis itu sembari melepaskan kaca matanya.

Mata Ichigo terbelalak, ia langsung menarik masuk gadis itu dan menutup gerbang rumahnya dengan cepat. Bukan hanya itu, ia langsung panik melihat ke sekeliling penjuru rumahnya. walau[un hanya ada tembok-tembok tinggi menutupi, tetap saja ia memastikan tidak ada orang mencurigakan di luar rumahnya. Hanya saja tadi ada mobil mewah milik gadis ini di luar rumah. Untunglah kawasan rumah keluarganya ini sepi sehingga tidak ada yang tahu.

"Tenang saja, aman kok." ujar gadis itu tahu apa yang ada di pikiran Ichigo saat ini.

Ichigo langsung menatap gadis itu, "Kenapa tidak bilang kalau kau mau ke sini?"

"Anggap saja kejutan! Yang lain pada kemana?" tanya gadis itu melihat ke dalam rumah yang sepi tidak ada suara sama sekali.

"Mereka sedang menginap di villa keluarga. Ah itu tidak penting! Yang aku ingin tahu sekarang, ada apa kau kemari?" tanya Ichigo bingung.

"Kenapa? Kau tidak suka ya?" tanya gadis itu.

Ichigo menyentuh tangannya, membuat gadis itu agak terkejut.

"Bukannya tidak suka, hanya saja.. Kita sudah berjanji tidak akan bertemu lagi."

Gadis itu tersenyum sendu, ia menggenggam tangan Ichigo.

"Aku tahu. Jika keluargaku tahu bahwa aku menemuimu, pasti kau dalam masalah... tapi, aku.." gadis itu berhenti berbicara. Lidahnya kelu, serta rasa sedih bercampur aduk di hatinya.

Ia pun melepaskan tangan Ichigo, "Aku bingung.. Aku tahu apa yang perbuat itu salah, tapi tetap saja, aku ingin bertemu denganmu Ichigo."

Ichigo hanya diam sambil menatap gadis di hadapannya. Bukannya ia takut dengan keluarganya. Hanya saja ia tidak mau kejadian lalu kembali terulang. Ia tidak mau gadis di hadapannya ini merasakan hal yang sama. Ia sudah bertekad tidak akan menemuinya lagi. walaupun, sebenarnya, ia ingin bertemu dengannya.

"Aku mengerti. Setahun yang lalu, kita memutuskan untuk tidak bertemu lagi. Namun, tadi malam Riruka mempertemukan kita berdua. Antara senang dan perasaan sedih menghampiriku setelah itu."

"Iyaaa.. Begitu pula denganku. Sebenarnya, waktuku tidak lama. Sebentar lagi aku harus kembali ke tempat asalku.. Jadi selama masih di sini, bisakah kita terus bertemu..?"

Ichigo terdiam sejenak. Ia ingin sekali mengatakan iya, tapi di lain sisi ia juga enggan. Mungkin rasanya bodoh jika ia berkata Ya, namun jika tidak sekarang kapan lagi? Ia tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.

"Tentu. Jika kau ingin bertemu denganku, datang saja ke rumahku. Aku kebetulan sedang ada di sini. Tapi, nanti malam aku sudah kembali ke rumahku."

Gadis itu tersenyum, "Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu."

Ichigo menahan tangan gadis tersebut, "Tetaplah di sini. Sudah lama juga kan kita tidak mengobrol? Bagaimana jika ditemani dengan segelas kopi?"

Ia tersenyum, "Ok."

-K-

Rukia menatap lemonade di hadapannya. Sekarang ia sedang berada di suatu cafe kesukaannya. Café dengan interior artistik ala eropa dengan interior yang mewah dan instrumen cello serta violin berkumandang di cafe itu. Membuat dirinya larut dan tenang mendengarnya. Entah kenapa setelah pulang dari pesta ia merasa perasaannya tidak karuan. ia merasa sebal sekaligus senang melihat Ichigo. Apa mungkin ia sebal karena Ichigo asyik yang lain? Ah tidak mungkin. Ohya, ia ingat, ia sebal karena Ashido bertingkah menyebalkan padanya kemarin. Jika diingat lagi, ia ingin sekali menghajarnya.

Ia menatap layar HPnya, Isshin mengirimi beberapa foto Ryuu beserta dengan yang lain. Ah, rasanya pikirannya tenang dan lega melihat wajah Ryuu. Rasanya ia kangen sekali dengan anaknya itu dan tidak sabar ingin bertemu kembali dengannya!

"Rukia-chan?"

Rukia terkejut dan langsung menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia melihat seorang gadis jumpsuit panjang berwarna putih dengan cape blazer berwarna hitam. Tak lupa dengan kacamata gaya berwarna hitamnya. Ia tampak stylish dengan gayanya yang eye-catching.

Gadis itu meletakkan kacamatanya di atas kepala. Rukia menaikkan sebelah alisnya.

"Orihime? Sedang apa kau ada di sini?' ujar Rukia melihat pakaian Orihime yang cukup formal.

"Justru aku yang mau tanya begitu. Sebenarnya aku baru pulang dari suatu pameran, dan berpikir ingin bersantai di sini. Tak kusangka aku bertemu denganmu!" ujar Inoue sembari duduk di hadapannya.

"Oh, kau suka ke sini juga?" tanya Rukia antusias.

"Tentu saja! Aku suka ke sini bersama kakakku, tapi dulu sih hehehe."

"Ah begitu... Cafe ini menjadi cafe langgananku sejak dulu. Dan entah kenapa, aku ingin ke sini." ujar Rukia kembali menatap lemonadenya. Pikirannya sedang tidak fokus akhir-akhir ini.

Inoue menatap Rukia yang kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Rukia,-chan. Bagaimana kalau sesudah ini kita pergi jalan-jalan? kau mau?"

Rukia langsung menatap Inoue. Entah kenapa, ia senang saat ada yang mengajaknya bepergian seperti itu.

"Boleh juga, ayo."

Inoue tersenyum senang, "Hehehe ok deh, tapi aku makan dulu ya. Aku belum sarapan soalnya.."

"Ok."

Rukia menatap Inoue yang sedang memesan makanan pada waitress. sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktunya, makan seperti ini dengan teman perempuan. Ya mau gimana lagi, semua sahabatnya saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dengan bertemu Rangiku di pesta kemarin pun, sudah membuatnya cukup senang. Jika dipikir-pikir, ia sudah lama tidak menghubungi sahabatnya yang lain. Apa kabarnya ya?

"Rukia-chan kau mau pesan apa?"

"Ah, aku spaghetti carbonara."

"Baik, ditunggu pesanannya." ujar waitress pergi sambil membawa menu makanan.

Inoue menatap Rukia, "Rukia-chan, sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu ya?"

"Hm? Masa?"

"Kelihatannya sih."

"Orihime, sebenarnya aku mau tanya sesuatu. Walaupun tiba-tiba sih, tapi aku selalu penasaran. Artis sepertimu, pernah pacaran?"

Inoue mengerjapkan matanya, "Eh? Pacaran? Hmm.. Ah, pasti karena gosip-gosip itu ya."

Rukia penasaran dengan jawaban Inoue yang ngegantung. tidak mungkin kan, Inoue yang secantik dan sepopuler ini tidak pernah pacaran.

"Sebenarnya.. Aku belum pernah pacaran."

"Masa?!"

Rukia terkejut, lalu kembali tenang.

"Serius! Aku tahu, pasti aneh... di umurku yang sudah kepala 2 ini aku masih menjomblo. Hah.. Aku tidak mengerti kenapa? Tapi hingga saat ini aku memang sedang tidak suka siapapun sih. Apalagi dengan gosip-gosip gajelas tentangku dan orang lain. Ah ya, bagaimana denganmu?"

"Tentu saja aku tidak pernah. Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu." ujar Rukia dengan nada tidak peduli.

"Aku kira kau punya hubungan khusus dengan Kurosaki-kun."

"Hah? Kata siapa?"

"Kelihatannya saja. Soalnya semua orang di kantor bilang seperti itu. Ya aku bisa mengerti sih dengan melihat kalian berdua orang pasti mengira kalian punya hubungan spesial."

"Hmm.. Padahal aku dan Ichigo hanya teman. Dasar. Kalau begitu, aku harus jaga jarak dengannya."

"Menurutku sih tidak apa, Rukia-chan. Maksudku, jika kalian merasa nyaman satu sama lain, itu bukan masalah bukan? Jika kita terus mendengarkan apa kata orang, lama-lama kita yang pusing. Ah, maaf aku bicara begini, soalnya saat dulu aku masih di dunia keartisan, aku selalu disangkut pautkan dengan aktor yang menjadi lawan mainku. Padahal kami cuman teman biasa tidak lebih. Tapi orang melihat keakraban kami menjadi suatu hal yang tidak biasa. Hah.. pertama-tama sih biasa saja namun lama-lama aku lelah.. Makanya aku hiatus dulu..." ujar Inoue merasa lemas memikirkan masa lalunya yang penuh dengan berita tentangnya pacaran dengan orang lain. Memang sih, menjadi artis itu tidaklah mudah. Apalagi artis papan atas seperti Inoue.

Rukia tertawa kecil, "Hehehe, aku tidak menyangka kau banyak omong."

"Eh, ya ampun! Maaf kau merasa terganggu ya? Entah kenapa aku bisa menceritakan segalanya padamu, Rukia-chan.." ujar Inoue yang mulai panik.

"Tentu saja tidak, aku malah senang punya teman ngobrol sepertimu."

Inoue menatap Rukia, "Rukia-chan... aku juga! Sebenarnya aku sudah lama ingin banyak curhat padamu.."

"Eh benarkah? Padahal kau bilang saja padaku. Hehehe, aku senang bisa bertemu denganmu, Orihime."

"Aku juga! Ohya ngomong-ngomong..."

Keduanya pun larut dalam obrolan yang tiada henti. Rukia senang, akhirnya ia menemukan teman yang bisa ia ajak ngobrol sekian lama. Walaupun sebenarnya ada Ichigo, tapi tidak mungkin kan ia terus bercerita padanya? Karena ada hal yang tidak bisa ia ceritakan pada teman laki-laki. Yang jelas ia butuh teman perempuan untuk mengerti perasaannya.

Sedangkan Inoue, ia juga senang bisa akrab dengan Rukia. Sebenarnya ia sudah lama sekali ingin mengajak atau sekedar mengobrol banyak hal dengan Rukia seperti ini. Tapi melihat Rukia yang sibuk dan serius, ia jadi gugup dan mengurungkan niatnya. Ia tak menyangka pertemua mereka tadi menuntun mereka menjadi lebih dekat.

Mereka terus mengobrol hingga makanannya tiba.

-K-

"Makasih ya Rukia-chan! Maaf merepotkanmu.. Harusnya kau mampir dulu ke rumahku.." ujar Inoue sudah berada di depan rumahnya dengan membawa banyak kantong belanjaan yang ia beli tadi bersama Rukia.

Rukia menatapnya dari dalam mobil, "Pengennya sih begitu, tapi aku harus pulang. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat."

"Iyaaa.. Rasanya cuman sebentar, tapi sekarang sudah hampir jam 2! Baiklah kalau begitu, kapan-kapan main ke sini ya, Rukia-chan!"

"Ya, sampai jumpa besok, Orihime."

"Yup! Hati-hati di jalan!" Inoue melambaikan tangannya.

Rukia membalasnya lalu menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Inoue.

Inoue menatap mobil Rukia yang melaju menjauhi rumahnya hingga tidak terlihat lagi. Ia kembali masuk ke dalam rumah.

-ping pong-

Saat mencari kunci rumahnya ia mendengar HPnya berbunyi. Tanda panggilan masuk.

"Halo? Hm begitu.. Baiklah besok akan aku urus.. Tidak apa-apa, memang sudah pekerjaanku kok. ohya ngomong-ngomong aku baru saja bersama Rukia-chan tadi. Oh... dia baru saja pulang. Tidak sih, dia tidak bilang mau kemana. Ya, ok. Sampai jumpa, Kurosaki-kun."

Inoue memutuskan panggilannya.

"Ada apa ya..? Kurosaki-kun terdengar gelisah."

.

.

.

Rukia sudah sampai di rumah Ichigo. Sebelum masuk tadi, ia melihat ada mobil mewah yang ia tidak kenal parkir di dekat rumah. Mungkin tamu sedang berkunjung ke rumahnya. Tumben sekali, padahal Paman Isshin kan sedang tidak ada di rumah. Apa itu tamu untuk Ichigo?

Setelah memarkirkan mobilnya, ia keluar dari mobil sembari membawa barang belanjaannya. Tak ia sangka banyak sekali yang ia beli!

"Hmm, ini untuk paman Isshin, Yuzu, Karin. Untuk Ryuu dan milikku sebaiknya aku simpan saja di mobil. Sepertinya ada yang kurang.. Hmm... Oh! Aku lupa beli buat Ichigo!"

Rukia cekikikan sendiri. Pantas saja sedari pulang tadi ia merasa ada yang kurang. Ternyata ia tidak membelikan apapun untuk Ichigo.

"Ah, ya, untung ada ini. Semoga saja dia suka." ujar Rukia mengambil 1 box berisi sushi. Ia berpikir untuk memakannya saat pulang nanti, tapi ia menggantinya untuk Ichigo.

-cklek-

Ichigo membuka pintu rumahnya.

"Jika sudah sampai, hubungi aku."

"Ya tentu saja. Aku pulang dulu... hm?"

Mereka berdua menatap Rukia sedang berjalan ke arah pintu. Mata mereka bertiga saling bertemu dan terdiam sejenak.

Ichigo tak menyangka Rukia sudah pulang. Dan ia tidak sadar sama sekali. Pantas saja ia seperti mendengar ocehan-ocehan kecil di luar rumahnya. Ia melihat kedua tangan Rukia yang penuh dengan barang belanjaan.

"Oh, ada tamu?" ujar Rukia memecah kesunyian sembari memberikan barang belanjaan serta sushi pada Ichigo.

"Rukia! Kau dari mana saja? Tadi aku dengar dari Inoue, kau pergi bersamanya?" seru Ichigo.

"Itu kau tahu. Ngapain nanya lagi? Ah maaf ya, dia berisik." ujar Rukia pada gadis itu.

Gadis itu masih terpaku melihat Rukia, "Tunggu.. Kau.. Kuchiki Rukia?"

"Hm? Ya..? Ada apa? Apa kau mengenalku?"

Ia membelalakkan matanya, "KAUUUU...!"

Rukia terkejut dengan gadis di hadapannya. 'Hah?'

.

.

.

.

To be continue...


Akhirnya chapter 3 selesai! Ah, senangnya bisa ngelanjutin cerita ini setelah sekian lama.. Well, jangan lupa reviewnya ya ma readers. Thank you *love*

.

.

.

Preview for the next chapter

"Ah, ternyata kau~ Pantas saja aku mengenalmu!"

"Perkenalkan beliau adalah rekan bisnis Kurosaki Ichigo-sama. Kelak, ia akan menjadi atasanmu."

"Kau bercanda."

"Apa-apaan nih?! Hah? Kau mau bawa kemana dia?"

"Aku tidak akan kalah olehmu, Rukia-chan.."