Konnichiwa semuanya! Akhirnya setelah telat kurang lebih setahun dan sekarang baru bisa upload lagi untuk chapter yang baru ini. Maafkan ya karena skripsi dan perihal lain jadinya terbengkalai, padahal pengen banget nyelesain chapter ini.
Oke daripada lama-lama, silahkan membaca.
Thank you and i hope you will enjoy it.
Chapter 4 : Our Path
Gadis itu langsung menggenggam kedua tangan Rukia, setelah itu menyentuh wajahnya dan memastikan bahwa di hadapannya adalah Rukia sungguhan. Ichigo yang melihatnya merasa aneh dan bingung, apalagi Rukia yang sedari tadi disentuh oleh gadis di hadapannya. Jika itu laki-laki, mungkin sudah dihajar olehnya.
"Ehm.. Anu.. Ada apa ya?" tanya Rukia merasa tidak nyaman.
Gadis itu terkesiap dan langsung menatap Rukia dengan wajah senang.
"KAU BENERAN KUCHIKI RUKIA! AKU FANSMU!" seru gadis itu langsung memeluk Rukia.
Rukia sempat akan terpingkal jika ia tidak menahan pelukan gadis di hadapannya. Bayangkan saja, tubuh kecilnya di peluk oleh gadis yang jauh lebih tinggi dan berisi darinya. Ngomong-ngomong, tubuhnya wangi lemon.
"Ah maaf! Pasti kau kaget ya hehehe."
"Eh~ Aku tidak menyangka kau fans Rukia?" ujar Ichigo.
"Ichigo! Kenapa kau tidak bilang kalau Kuchiki Rukia-sama ini adalah temanmu? Kalau tahu kan aku bisa bertemu dengannya..!"
"Ehmm.."
"Ah ya! Maaf aku pasti mengagetkanmu ya hehehe. Sebenarnya ini bukan pertemuan pertama kita. Namaku Nelliel Tu Odelschwanck. Panggil saja aku Nel. Aku penggemar beratmu! Aku selalu datang ke setiap pameranmu." ujar Nel begitu antusias sembari menggenggam erat kedua tangan Rukia.
Rukia tampak canggung dan kikuk. Sebenarnya bukan kali pertama ia bertemu dengan fans-fansnya yang lain. Hanya saja, gadis di hadapannya ini sangatlah antusias dan membuatnya terkejut. Dan seperti apa kata Nel, sepertinya ia juga merasa pernah bertemu dengannya. Tapi dimana ya?
"Ah, terima kasih. Aku tak menyangka gadis cantik sepertimu menyukai hasil karyaku." ujar Rukia agak malu.
"Oh kau bisa malu juga Rukia~" cemooh Ichigo melihat Rukia yang mengeluarkan semburat merah di pipinya.
Rukia langsung menatap tajam Ichigo, merasa ditatap. Ichigo langsung memalingkan wajahnya. pasti sudah ini dia kena semprot.
"Sebenarnya aku ingin sekali menyapamu saat pesta dansa yang diadakan oleh sepupuku. Tapi saat itu kau sedang sibuk dengan yang lain. Hehehe."
Rukia memutar memorynya. banyak sekali pesta yang ia hadiri, terutama pesta kerajaan atau dari kalangan bangsawan. Pantas saja ia merasa pernah melihatnya.
"Ah, pantas saja aku merasa pernah melihatmu. Tuan putri dari kerajaan Hueco Mundo ya. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu."ujar Rukia sambil membungkuk.
"Ku-Kuchiki-sama! Tidak usah formal seperti itu! Panggil aku Nel saja ok?" ujar Nel panik melihat sikap sopan rukia terhadapnya.
Rukia tersenyum, "Ok Nel, dan jangan panggil aku pake embel-embel 'sama' ya. rasanya ga enak. Cukup Rukia, oke?"
"Bolehkah!? Senang bertemu denganmu, Rukia-chan!" ujar Nel antusias.
Mereka terus bercakap dan tidak sadar bahwa sedari tadi Ichigo hanya diam mematung memperhatikan keduanya. Mereka merasa Ichigo tidak ada di situ dan lebih asyik dengan dunianya sendiri.
"Kayak reunian aja sih,"
Nel menatap jam tangannya, "Ah gawat! Sudah jam segini! Astaga, maaf Rukia-chan! aku harus segera kembali karena ada pertemuan selanjutnya! Ohya, nanti keluargaku akan mengadakan pesta dansa. Jangan lupa datang ya! Undangannya akan kami kirimkan ke rumahmu. Bye!"
"Oh ok, hati-hati." ujar Rukia melambaikan tangannnya.
"Sebentar ya." ujar Ichigo menyimpan tas belanjaan serta sushi pemberian Rukia di meja kecil dekat beranda.
Rukia menatapnya berlari mengejar Nel. Percakapan mereka tidak terdengar jelas namun terlihat di ekspresi keduanya bahwa mereka begitu senang. Terutama ekspresi khawatir Ichigo pada Nel. Daripada terus memperhatikan keduanya, ia memilih masuk ke dalam rumah membawa semua belanjaannya.
"Nel!"
Nel berbalik menatap Ichigo, sebelum kakinya melangkah keluar gerbang rumah Ichigo.
"Ada apa Ichigo?"
Ichigo merogoh sakunya. Ia menarik pelan tangan Nel dan memberikan sesuatu di atas tangannya.
Sebuah kotak berbahan kaca berukuran hampir sebesar telapak tangannya. Nel menatap kotak kaca tersebut sambil mengerjapkan matanya.
"Ini apa?"
Ichigo tampak canggung dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Er, maaf telat. Happy birthday." ujarnya agak malu sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
Rasa senang tak terkira muncul di hati Nel. Ia senang bukan karena hadiah pemberian Ichigo, namun karena Ichigo masih mengingat hari ulang tahunnya.
"Aku tahu kau tidak suka hadiah seperti itu. Tapi saat melihatnya, kayaknya cocok untukmu."
Rasa senangnya tak bisa terbendung lagi.
"Ichigo, jika kau selalu berbuat ini kepadaku, bisa-bisa aku gila."
"Eh?"
Nel langsung memeluk Ichigo. Rasanya ia tidak ingin melepaskannya bahkan memberikannya pada siapapun. Andai saja waktu bisa berhenti, sekarang juga ia akan menghentikannya.
Ichigo terkejut, namun ia tidak memperlihatkannya dan memilih untuk memeluk balik Nel.
Setelah cukup lama berpelukan dalam diam, keduanya melepaskan pelukan tersebut dan saling bertatapan.
Nel menatapnya dengan wajah rindu dan senyuman manis terulas di bibirnya. Ia langsung mengelus pipi Ichigo, "Sampai jumpa, my love." Ujarnya lalu pergi.
Ichigo melihatnya masuk ke dalam mobil. ia ingin sekali mengantarnya pulang, namun jika seperti itu bisa-bisa masalah menghampirinya. Bertemu dengannya seperti ini pun sudah cukup baginya. Setelah mobil Nel melaju pergi, rasa hampa menghampiri Ichigo. Ia langsung mengunci gerbang lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
"Rasanya kepalaku penat. Hah..." ujarnya dengan wajah lesu.
-K-
Nel memegangi kotak kaca pemberian Ichigo sejak ia masuk ke dalam mobil hingga saat ini. Matanya menatap kotak itu dengan penuh kepastian. Rasa ingin tahu dan senang terus mengisi hatinya. Namun entah kenapa ia tidak bisa dan tidak ingin membuka kotak tersebut.
"Nel-sama, kotak itu..."
Nel menatap wanita berpakaian formal di sebelahnya lalu kembali menatap kotak kesayangannya.
"Hadiah."
"Anda tidak membukanya?"
"Aku ingin membukanya, tapi di sisi lain aku tidak bisa membukanya. Ah! Sebal!"
"Kalau begitu, mau aku bukakan?."
Nel menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau orang lain selain dirinya membuka kotak ini, kotak pemberian Ichigo untuknya. Seketika jantung Nel berdebar sangat kencang seraya membuka kotak tersebut. Tangannya meraih tutup dari kotak tersebut dan membukanya.
Matanya terbelalak saat melihat isi kotak tersebut. Ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dasar bodoh.. Kenapa ia selalu berhasil mengejutkanku?" ujarnya seraya meraih isi kotak tersebut.
Sebuah kalung berbahan emas putih dengan tali tipis, ditambah liontin berbentuk clover bersegi 4 dengan permata-pemata kecil mengisi daunnya. Begitu cantik dan indah.
Ia jadi teringat di masa lalu saat dirinya dan Ichigo masih dekat tanpa ada gangguan yang lain. Dimana mereka masih bisa dan bebas untuk bertemu. Ia ingat sekali saat sedang pergi ke suatu tempat, Nel melihat kalung itu di suatu toko perhiasan dan sangat menyukainya. Walaupun ia tidak pernah memperlihatkannya pada Ichigo dan itu sudah lama sekali. Belum tentu Ichigo juga tahu tentang kalung itu, tapi sekarang kalung itu sudah ada di tangannya saat ini. Membuat hatinya goyah dan rasa sedih langsung menghampirinya. Air mata tidak bisa lagi terbendung di pelupuk matanya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya saat ini. Sontak sang sekertaris terkejut melihat Nel yang menangis saat ini.
"Nel-sama.." Ia merangkul tuan putrinya itu yang tengah menangis memegangi kalung pemberian Ichigo.
'Nel-sama.. Sungguh malang tuan putriku ini. Kisah cintanya seperti Romeo dan Juliet. Andai keluarganya tidak ikut campur akan kisah cinta Nel-sama, mungkin sekarang ia sudah bersama dengan Kurosaki Ichigo.' ujar sekertaris Nel dalam hati. Ia mengkhawatirkannya dan berharap yang terbaik untuknya.
-K-
Setelah kepulangan Nel, Ichigo dan Rukia belum berbicara sama sekali. Sekarang mereka sedang makan sushi yang dibawa Rukia di ruang tengah sambil menonton TV.
"Sebentar lagi Ayah dan anak-anak pulang." ujar Ichigo pada Rukia.
"Aku tahu."
Keadaan hening kembali di antara keduanya. Hanya suara TV yang mengisi keheningan mereka.
"Sebenarnya aku melihatmu dan Nel kemarin malam." ujar Rukia dengan mata masih terfokus ke layar TV.
Ichigo langsung menoleh ke arahnya, "Kau lihat darimana?"
"Sebenarnya ga sengaja sih. Aku cuman sekedar lewat, dan ternyata ada kalian. Hmm.. Aku penasaran sih.. Kau dan Nel ada hubungan apa?"
Ichigo terdiam sejenak, "Aku dan-"
"MOMMY!" Ryuu membuka pintu serta sendalnya dan langsung berlari ke arah ruang tengah.
"Tadaima!" seru Yuzu dan Isshin.
"Tadaima~" ujar Karin seraya menguap.
Keduanya menoleh kaget melihat ke arah pintu terbuka lebar. Isshin dan anak-anak kembali dari acara menginap mereka di villa.
"Okaeri! Bagaimana liburannya? Menyenangkan?" tanya nya seraya memeluk Ryuu.
"Ya! Villa Oyaji sangat menyenangkan! Lalu masakan Yuzu nee-chan sangat enak! Selain itu Karin nee jago sekali bermain bola! Sungguh menyenangkan!" cerita Ryuu penuh antusias.
Melihat ekspresi senang Ryuu, Rukia gemas sendiri dan memeluknya erat.
"Syukurlah kalau kau menyukainya.. Ah Paman, terima kasih ya.. Maaf merepotkanmu.." ujar Rukia sambil membungkuk pada Isshin.
"Hehehe tidak usah sungkan Rukia-chan! Kami senang membawa Ryuu jalan-jalan. Lain kali, kau dan Ichigo ikut juga ya. Biar makin rame!" ujar Isshin sambil mengacungkan jempol.
"Rukia-chan, ini oleh-oleh untukmu." ujar Yuzu memberikan tas kertas berisi mochi pada Rukia.
"Wah, arigatou.." ujar Rukia menerimanya,
"Buatku?" ujar Ichigo.
"Apaan sih Ichi-nii. Kalau mau beli aja sendiri." ujar Karin sembari meminum soda di sebelah Ichigo.
"Tega sekali sih. Oh Ryuu, sepertinya kau sangat senang." ujar Ichigo pada Ryuu.
Ryuu berlari menghampirinya, "Ya! Tapi lebih rame lagi kalau ada paman Ichigo dan Mommy!" ujarnya sambil nyengir.
Ichigo tersenyum balik, "Pasti kau lelah, duduk sini."
"Yeay!"
Ryuu duduk di pangkuan Ichigo sambil menyender pada dada bidangnya. Melihat itu Karin tersenyum usil.
"Udah cocok jadi bapak." bisiknya kecil pada Ichigo.
Ichigo hanya diam menanggapi bisikan adiknya itu.
Sedangkan Rukia mengambil 3 tas belanjaan dan memberikannya pada masing-masing Yuzu, Karin dan Isshin.
"Oh arigatou Rukia-chan!" ujar Karin dan Yuzu.
"OMG! AKU SENANG SEKALI DAPAT HADIAH DARIMU MY DAUGHTER!" seru Isshin sambil mengangkat-ngangkat tas belanjaan itu dan berputar-putar senang.
Ichigo menatap sebal ayahnya karena secara ia ga kebagian. Sedangkan Ryuu tertawa melihat Isshin yang berputar-putar gajelas.
Rukia tersenyum melihat suasana di rumah saat ini. Ia sangat menyukai suasana seperti ini. Hangat dan ramai. Untunglah mereka cepat pulang, kalau tidak ia bisa menghabiskan kesunyian bersama Ichigo. Ia penasaran dengan jawaban Ichigo tadi yang terpotong. Cuman ya sudah deh, simpan itu buat nanti.
Tak lama, HPnya berdering. Ia menatap layar HPnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? Ya, baru saja pulang. Oh.. Baiklah kalau begitu, kami beres-beres dulu. Ya kek.."
Raut wajah Rukia kembali serius setelah mendapat panggilan singkat dari sang kakek. Ia berjalan menghampiri Ryuu.
"Ryuu, tadi kakek baru saja telepon. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Jadi, kita harus pulang sekarang." ujar Rukia dengan nada selembut mungkin sekaligus membujuk anaknya itu untuk pulang.
"Eh suidah mau pulang?" tanya Ichigo.
"Hm begitu. Ya sudah, lagipula aku kangen sama kakek buyut!" ujar Ryuu.
Rukia merasa lega, ia tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membujuk anaknya tersebut.
"Kalau begitu, tunggu di sini ya. Aku ke kamar untuk beres-beres." ujar Rukia lalu menuju kamarnya di lantai atas.
Isshin menatap Rukia yang baru saja memasuki kamarnya. Ia berjalan menghampiri Ryuu,
"Ryuu sudah mau pulang lagi?"
"Iya. Soalnya kakek buyut sudah telpon tadi dan sepertinya ada berita penting."
"Oh begitu. Yasudah kapan-kapan kita main lagi ok?"
"Yup!"
Rukia menuruni tangga sambil menjinjing tas besar miliknya. ia sudah siap pulang dan berpamitan dengan semuanya. Melihat itu, Ichigo membawa barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam mobil.
Yuzu dan Karin sudah tepar di kamarnya sehingga hanya Isshin saja yang mengantarkan mereka ke dalam mobil.
"Paman, aku pulang dulu ya. Sekali lagi terima kasih sudah mau membawa Ryuu jalan-jalan. Dan juga membawakan oleh-oleh untukku." ujar Rukia.
"Oyaji aku pulang dulu!" seru Ryuu memeluknya.
"Ya, kapan-kapan main lagi ya Rukia-chan, Ryuu!" seru Isshin dengan senang sambil memeluk balik Ryuu.
Ryuu mengangguk. Rukia menuntunnya hingga memasuki mobil. Ichigo meregangkan tubuhnya dan hendak masuk ke dalam mobil.
"Ichigo,"
Ichigo menoleh ke arah Ayahnya. Raut muka Isshin tampak serius, "Sesudah pulang aku mau bicara."
Melihat raut muka Ayahnya yang serius, menunjukkan pasti ada sesuatu yang sangat penting yang harus dibicarakn.
"Ya, aku pergi dulu."
Ichigo masuk ke dalam mobil. ia mengendarai mobilnya menjauhi kediamannya.
Isshin melihat mobil anaknya semakin menjauh dan hilang dari penglihatannya.
"Hah.. Anak itu.."
-K-
20 menit kemudian, mereka sampai di kediaman Kuchiki.
Rukia turun dari mobil sambil membawa tasnya. Sedangkan Ichigo menggendong Ryuu yang sedari tadi tertidur sepanjang perjalanan.
"Tadaima," ujar Rukia seraya masuk ke dalam rumah.
"Okaerinasai, hime-sama." sapa para pelayan membantu Rukia untuk membawakan barang bawaannya.
Tak lama muncul sang kakek dari balik ruang tamu,
"Okaeri. Hm, ada anak Isshin juga. Ryuu tidur?" sapa sang kakek menghampiri mereka.
Ichigo membungkuk hormat pada sang kakek, "Ah ya, aku harus cepat pulang. Soalnya tadi Ayah ingin membicarakan sesuatu. Sepertinya penting."
"Oh sudah mau pulang lagi? Kalau begitu, biar Ryuu aku yang antar ke kamarnya." ujar sang kakek menghampiri Ichigo.
Ia mengambil alih Ryuu lalu membawanya ke kamar.
"Yasudah, aku pulang dulu." ujar Ichigo berjalan keluar rumah.
"Aku antar."
Rukia berjalan di belakang Ichigo hingga mereka sampai di dekat mobil. Ichigo berbalik,
"Untuk pertemuanku dan Nel, aku harap kau tidak memberitahukannya pada siapapun. Sudah ya."
Ichigo langsung masuk ke dalam mobilnya. Rukia hanya diam, ia tidak bisa membalas ucapan Ichigo sama sekali.
Tak lama mobilnya meninggalkan kawasan mansion Kuchiki.
Sambil menggelengkan kepalanya, Rukia melipat kedua tangannya dan teringat kata-kata Ichigo tadi tentang pertemuannya dengan Nel. Ia menghela nafas,
"Lagian aku mau kasih tau ke siapa coba? Dasar kepala jeruk."
-K-
Ichigo baru saja sampai di rumahnya. Ia masuk ke dalam dan melihat Yuzu sedang berdiri menunggu dirinya.
"nii-chan, Ayah ingin bicara denganmu di ruang kerjanya." ujar Yuzu dengan wajah agak gelisah.
"Kau dalam masalah besar, Ichi-nii." ujar Karin dari sofa sambil tersenyum meremehkan.
Ichigo menghela nafas kecil. Ia menaiki tangga menuju ruang kerja Ayahnya.
Sesampainya di sana, ia mengetuk pelan pintu ruang kerja Isshin.
"Masuk."
Mendengar perintah sang ayah, ia langsung membuka pintu ruang kerjanya. Isshin tengah meminum kopi sambil menatap keluar jendela. Ichigo menutup pintunya dan berdiri tepat di depan meja kerja sang Ayah.
"Kau ingin bicara apa Oyaji?"
Ichigo sebenarnya sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Ayahnya saat ini. Pasti masalah itu.
Isshin berbalik, "Kau menemuinya lagi ya?"
Tepat sekali. Mau serahasia apapun, pasti sang Ayah akan tahu. Jika sudah seperti ini, Ichigo tidak mungkin berbohong pada Ayahnya. Bisa-bisa dia kena batunya. Mau tak mau ia harus menjawab sejujur mungkin pertanyaan sang ayah.
"Kau tahu darimana?" tanya balik Ichigo.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui. Pesta kemarin, seseorang melihatmu menemuinya secara diam-diam. Walaupun aku tahu ada sesaeorang yang mempertemukan kalian secara rahasia." ujar Isshin sambil memperlihatkan foto Riruka dari tabletnya.
Ichigo menghela nafasnya kecil, "Aku hanya menemuinya, tidak lebih. Apa salahnya?"
"Tentu saja salah!"
Ichigo tekejut dan memilih untuk diam sambil menundukkan kepalanya. Ia tak bisa berkutik sama sekali karena apa yang dia lakukan memang salah.
"Dan saat jalan pulang tadi, aku melihat mobilnya melewatiku dari arah jalan rumah kita. Jika bukan untuk menemuimu, lalu apa lagi?"
Ichigo masih memilih untuk diam dan tidak menjawab ucapan Ayahnya. Karena lebih baik diam daripada nambah masalah.
Isshin berjalan menuju sofa lalu duduk di situ sambil meminum kopinya.
"Duduk."
Ichigo mengikuti perintah Isshin lalu duduk di hadapannya.
"Oyaji, aku tahu aku salah. Tapi kejadian itu sudah berlalu, bahkan sudah sangat lama hingga aku pun lupa. Aku rasa sekarang keadaannya sudah berbeda dan-"
"Lalu kau mau mengulang kesalahan yang sama lagi?! Begitu!?" seru Isshin sambil menggebrak mejanya.
"Tentu saja tidak! Kalau begitu kenapa tidak sejak awal saja oyaji tidak mempertemukanku dengannya?! Maka sejak itu mungkin aku tidak akan dekat dengannya!"
"Kau tidak mengerti Ichigo. Hingga saat ini pun kau tidak akan mengerti."
"Apa?"
"Jika kau begini terus, jangan harap kau bisa bersama Rukia." ujar Isshin dengan tatapan yang dingin.
Ichigo membelalakkan matanya, ia pun menunduk sambil mengepalkan tangannya. Hatinya saat ini benar-benar kacau. Bukan hanya hati namun juga pikirannya. Sudah lama sekali ia menyimpan rasa pada sahabat kecilnya itu. namun kehadiran Nel membuatnya sadar betapa berharganya ia bagi Ichigo. Ia tidak mungkin melupakan jasa Nel begitu saja padanya. Karena dulu saat dirinya sedang terpuruk, Nel lah yang berada di sisinya dan selalu mensupportnya. Tidak mungkin ia melupakan Nel begitu saja.
Dilema.
Itulah yang Ichigo rasakan saat ini. Matanya selalu mencari Rukia namun saat Nel hadir, ia tidak bisa lepas dari Nel.
Melihat ekpresi Ichigo yang tampak merenung. Isshin menghela nafasnya. Sebenarnya ia tahu dan sadar bahwa hal ini bukan salah Ichigo sepenuhnya. Hanya saja mereka bertemu di waktu dan tempat yang salah. Andai saja saat itu Isshin bisa langsung memisahkan mereka, mungkin keduanya tidak akan merasakan pahitnya perpisahan.
"Anggap saja kau sedang memegang gelas dengan isi setengah air dan ada 2 gelas air berisi setengah masing-masingnya. Tidak mungkin kan kau memasukkan keduanya ke dalam gelasmu?"
Ia mengerti apa maksud Ayahnya. Ia tidak ingin bicara lagi dan memilih untuk diam. Rasa kantuk menyerangnya, ia ingin mengistirahatkan pikirannya saat ini juga. Berharap sang Ayah menyudahi pembicaraan mereka.
"Jika kau masih ingin menemui Nel, jangan pernah dekati Rukia lagi."
Ichigo langsung menatap sang Ayah dengan perasaan tak percaya.
"Sudah cukup."
"Apa?"
"Sudah cukup bagimu untuk mencampuri urusanku! "
"Apa maksudmu Ichigo?!"
"Kau tidak mengerti Oyaji! Dulu saat aku sedih dan terpuruk, Nel yang selalu berada di sisiku tanpa rasa keluh atau kesal terhadapku. Jika aku ingin berbuat baik padanya, apakah itu salah?" seru Ichigo berdiri dari sofa.
"Dasar bodoh!"
Ichigo membuka pintu ruang kerja Isshin dengan perasaan kesal dan marah. Ia membanting pintu ruang kerja dengan sangat keras. Dari dalam ia bisa mendengar sang Ayah masih menggerutu tak jelas. Dasar tua bangka, ikut campur saja urusannya!
Ichigo menuju kamarnya, ia memberesi segala baju serta barangnya. Ia berpikir untuk pulang nanti malam, namun berkat Ayahnya ia bisa pulang lebih cepat.
"Ichi nii, apa yang dikatakan Ayah bodoh itu... coba kau pertimbangkan. Bukan aku mau ikut campur, hanya saja Ayah khawatir denganmu." ujar Karin sudah ada di depan kamarnya.
Ichigo tidak menghiraukan ucapan Karin, ia sudah selesai memberesi barangnya. Ransel besar miliknya ia bawa serta tas laptop miliknya lalu pergi melewati karin.
Melihat sikap sang kakak, Karin sudah tahu pasti ia sangatlah kesal dan marah. Dasar. Selalu saja seperti ini. Apa isi kepala kakak dan Ayahnya itu hanya otot? Tidak bisa berpikir jernih jika keduanya sudah naik darah.
"Nii-chan! Kau mau pulang? Aku sudah masak makan malam padahal.." ujar Yuzu melihat sang kakak sedang memakai sepatunya.
Ichigo berbalik lalu mengusap kepala Yuzu, "Maaf ya. Lain kali aku akan makan malam di sini. Ada urusan yang penting, sehingga aku harus pulang. Sudah ya."
"Eh? Nii-chan..!"
"Yuzu!"
Yuzu berbalik dengan wajah sedih pada Karin. Karin menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan untuk tidak usah mengejar sang kakak.
Ini bukan kali pertamanya sang kakak bertengkar dengan Ayah mereka. Namun bukan berarti mereka sering bertengkar seperti ini. Hanya saja jika mereka sudah bertengkar seperti ini maka masalahnya sangatlah serius dan itu menyangkut perasaan Ichigo.
Karin yang jeli dan peka terhadap apapun, tahu bahwa masalah yang mereka ributkan bukanlah masalah baru. Hanya masalah lama yang muncul kembali. Sebenarnya ia tidak mau ikut campur urusan Ichigo, hanya saja.. Ia tidak mau melihat kakaknya itu terlihat sedih.
"Ichi-nii..."
Sedangkan Ichigo melempar tasnya ke dalam mobil, sang Ayah melihatnya melalui jendela ruang kerja. Ia bisa melihat bahwa Ichigo benar-benar kesal. Namun ia tidak berusaha mengejar atau membujuk Ichigo. Bagaimanapun juga ia sudah dewasa, ia harus tahu apa yang terbaik untuknya.
"Hah... dasar anak keras kepala."
Isshin mulai menelpon seseorang, "Awasi gerak-gerik Ichigo. Jika ada yang kelihatan janggal, segera beritahu aku."
-K-
Malam ini angin bertiup sangat kencang, bukan hanya itu, dari luar terdengar suara guntur saling bersautan, menandakan akan turun hujan lebat. Malam yang dingin dan sepi, seperti hati Ichigo saat ini.
Pikirannya kacau, berkat dirinya yang bimbang. Terima kasih hati dan pikiran, kalian benar-benar membuatku sakit kepala.
Selama ini, ia selalu meremehkan pemain film yang dilema atas 2 wanita di film yang biasa Yuzu tonton. Mungkin dia kena karmanya sekarang. Sialnya, dirinya sendiri tidak mengerti apa yang ia inginkan. Sedari tadi ia memilih untuk bermalas-malasan di kasurnya. Padahal besok sudah hari Senin, pekerjaannya sudah menggunung disertai janji-janji bersama rekan bisnisnya. Beruntunglah ia memiliki sekertaris cekatan seperti Inoue, yah.. Walaupun sebenarnya ia kasihan dengan Inoue yang terbebani.
"Aku ini boss yang jahat ya..."
Matanya menatap layar HP yang dipenuhi oleh pesan serta chat yang belum ia buka. Ia melihat ada 2 nama yang membuat hatinya kacau. Rukia dan Nel.
Jemarinya membalas satu persatu pesan dan ia memilih membalas pesan Nel duluan ketimbang Rukia. Nel begitu antusias dan sangat senang dengan hadiah pemberian Ichigo, ia tidak sangka kalau Ichigo ingat hadiah yang ia inginkan saat dulu mereka bersama. Rasa senang juga menghampiri Ichigo namun di sisi lain ia juga sedih. Sekarang mereka tidak bisa bertemu secara leluasa seperti jaman dulu, semuanya berubah dan sulit untuk diperbaiki lagi.
"Nel.."
Rasa lelah dan kantuk menjadi satu. Ia memilih untuk tidur supaya besok tidak kesiangan.
.
.
.
.
-LALALALALALALAL~
Ichigo menggeliat dari kasurnya, ia mencari suara HPnya yang berhasil membangunkannya di pagi hari.
Dengan perasaan masih setengah sadar dan mengantuk, ia mengangkat panggilan tersebut.
"Hmm..? Halo?"
"Kurosaki-kun! Akhirnya kau mengangkat telponku! Kau tidak lupa kan hari ini hari apa?"
Suara Inoue tampak gusar dengan nada-nada yang tinggi. Sepertinya ia sangat panik. Memangnya ada apa sih? Ini kan hari Senin.
"Hari senin..? Ya kan? Ini masih pagi Inoue-" ujar Ichigo masih sangat mengantuk.
"Tolong lihat jam Pak, ini sudah jam 9 pagi!"
Mata Ichigo langsung terbuka lebar. Ia melihat jam dan memang benar sudah jam 9. seketika perasaan kantuk dan malasnya hilang. Ia sangat telat di hari yang penting ini! Bisa-bisa rekan bisnisnya tidak jadi berinvestasi pada perusahaannya ini.
"Astaga! Aku telat! Thanks Inoue sebentar lagi aku-"
"Kau tidak usah datang ke kantor Kurosaki-kun.."
"Hah? Maksudnya?"
"Ermm.. Sebenarnya saat ini.. Aku bersama kenalanmu sedang menuju ke rumahmu."
Ichigo menaikkan sebelah alisnya, perasaannya tampak bingung.
"Hah? Ke rumahku? Kenalanku yang mana?" ujar Ichigo sembari bangun dari kasurnya. Ia mulai membuka bajunya satu persatu untuk mandi dan bersiap-siap.
"Dia bilang dia sudah memberitahumu sejak kemarin bahwa ia akan datang. Ah maaf ya Kurosaki-kun nanti dilanjut lagi, sepertinya ia ingin bertanya sesuatu. Sampai ketemu nanti."
-pip!-
"Hah?! Halo? Inoue?! What the-!? AKU BISA GILA!" seru Ichigo frustasi.
Ia langsung menuju kamar mandi untuk bergegas karena tiba-tiba tamu tak diundangnya akan segera tiba. Dasar bodoh, seharusnya kemarin ia mengecek semua email yang masuk ke dalam inboxnya. Pantas saja ia tidak tahu sama sekali! Semoga saja bukan yang aneh-aneh.
.
.
.
Inoue menatap layar HPnya dengan perasaan bingung. Ia tidak nyaman dalam situasi seperti ini. Sekarang ia sedang duduk di limusin berwarna putih. Dari mobil yang luas itu hanya ada dirinya dan laki-laki berbaju serba putih dengan wajah stoic. Tak lupa pak supir yang ada di depan.
Ia tak berani menatap mata laki-laki tersebut yang menurutnya dingin dan judes. Bahkan sepanjang perjalanan pun mereka tidak bicara sama sekali dan mata laki-laki itu terus menatap Inoue.
"Onna."
Inoue menoleh sambil menunjuk dirinya sendiri. Onna? Aku?
"Ya kau. Apa katanya?"
"Ia sedang bergegas."
"Hm."
Inoue sedikit menatap ke arahnya, merasa ditatap pria tersebut menatap Inoue. Inoue merasa malu dan langsung membuang mukanya, pura-pura melihat ke luar jendela.
Di hari senin ini ia berniat untuk mengerjakan tugasnya lebih cepat sehingga bisa pulang lebih awal, karena ada drama Korea yang sangat ingin ia tonton. Tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi. Apalagi mengingat kedatangannya pagi ini..
[2 jam yang lalu]
Pagi yang cerah untuk pagi ini walaupun tadi subuh sempat hujan kecil. Namun itu semua tidak menyurutkan semangat Inoue untuk datang lebih awal ke kantor. Tentu saja itu menjadi kewajibannya, apalagi ia berperan sebagai sekertaris CEO yang sangat dipercayai.
Inoue selalu datang lebih awal dari karyawan yang lain, sehingga ia bisa menyiapkan segalanya untuk Ichigo sehingga Ichigo tidak susah-susah menyiapkannya. Ia melakukan itu dengan senang hati dan tanpa paksaan siapapun. Bahkan saking rajinnya, Ichigo selalu memberikannya waktu untuk libur namun ia menolaknya.
Hari-harinya tampak menyenangkan dengan dikelilingi orang-orang yang menyenangkan. Walaupun kadang masih ada saja orang yang bersikap seperti fans setianya, tapi ia menanggapinya dengan baik. Untuk bertemu dengan klien atau rekan bisnis Ichigo, ia ahlinya, bahkan semua menyanjungnya dengan baik.
Ia selalu datang meggunakan kendaraan pribadinya, yaitu mobil bmw warna silver. Sesaat turun dari mobilnya, ia berjalan masuk ke dalam kantor yang ia naungi sekarang. Kurosaki corp. Hari ini ia memakai baju favortinya. Rok span berwarna putih dengan blouse berwarna pink kesuakaannya. Tak lupa high heels berwarna hitam dengan ornament bunga yang cantik di sekitarnya.
Walaupun ia sudah lama hiatus dari dunia keartisan, tapi sosoknya masih bersinar di mata orang-orang terutama bawahannya.
Semua mata menatapnya kagum dan seakan terhipnotis olehnya.
"Ohayou gozaimasu, Inoue-san."
"Ohayou.."
"Inoue-san, Ohayou."
Sapaan demi sapaan terus membanjiri Inoue. Tentu saja Inoue membalasnya dengan ramah dan senyuman. Ia melihat jam tangannya dan berjalan masuk ke dalam ruangan Ichigo. Sepertinya hari ini Ichigo akan telat. Tak apa sih, lagian pagi ini tidak ada pertemuan yang penting atau meeting. Ia melihat di meja dekat sofa sudah ada sarapan untuknya. Tak lupa segelas susu hangat dengan note di sampingnya.
'Untuk Nona Inoeu.
Ini pesananmu. Jika sudah beres, simpan saja. Biar kami yang akan ambil nanti.
From : Ibu kantin'
Ia tersenyum membaca isi dari note tersebut lalu mulai memakan sarapannya sambil menonton TV. Ia kira bekerja sebagai tangan kanan seorang boss akan sangat melelahkan dan menyebalkan, namun kebalikannya. Atau mungkin hanya dirinya saja yang seperti ini? Well, jangan salahkan dirinya karena boss nya sendiri pun tidak melarang. Ngomong-ngomong tentang Boss, tumben ia belum datang jam segini? Biasanya jika telat ia sudah membertiahukan Inoue terlebih dahulu. Aneh.
-trilili-
Telpon di mejanya berbunyi dengan nyaring. Telpon tersebut tersambung dengan telpon yang ada di bagian resepsionis. Biasanya untuk memberi tahukan sesuatu. Seperti tamu misalnya.
Inoue memakan habis rotinya dan langsung meneguk tetes terakhir susu di gelas. Ia berjalan menghampiri telpon tersebut dan menjawabnya.
"Halo? Ada apa?"
"Sekertaris Inoue, ada tamu untuk Pak Ichigo. Beliau bilang, sudah membuat janji dengan Pak Ichigo."
"Hmm.. Siapa namanya?" ujar Inoue mengecek kembali tabletnya. Seingatnya pagi ini tidak ada janji dengan siapapun. Apa ia meninggalkan sesuatu?
"Namanya.. Ah tuan! Mohon tunggu sebentar! Tuan! Sekertaris Inoue, tolong kemari secepatnya!"
-pip!-
Inoue tercengang. Perasaan tidak enak menghampirinya. Daripada berlama-lama, lebih baik ia langsung bergegas ke meja resepsioni yang beada di lantai 1.
Ia berjalan keluar ruangan dan menuju lift.
-ting!-
Pintu lift terbuka lebar.
Matanya terkejut menangkap sosok para pria berbadan kekar berpakaian tuxedo hitam lengkap dengan kaca mata hitam mereka. Bisa dipastika bahwa mereka adalah bodyguard milik seseorang, tapi siapa? Dan kenapa mereka bisa ada di sini. Hanya orang yang memiliki izin saja yang boleh masuk ke lantai ini.
Satu persatu dari mereka keluar dan berbaris. Dari dalam muncul seorang pria bertubuh kurus tinggi. Badannya yang ramping terbalut baju serba putih dengan scarf berwarna hijau tua. Wajahnya yang dingin dengan tatapan yang tajam, menatap Inoue yang tepat berada di hadapannya saat ini.
"Sekertaris Inoue!"
Ia melihat bagian resepsionis berada di belakang pria di hadapannya.
"Ah, jangan bilang.."
"Siapa kau?" tanya laki-laki di hadapannya.
"Ah maaf tuan, ini sekertaris Pak Ichigo. Ia mengganti sekertaris yang lama, namanya Inoue Orihime."
Lelaki tersebut menatap Inoue dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu keluar dari lift. Dari dalam lift orang resepsionis berbisik dan meminta tolong agar mengurusi orang di hadapannya itu lalu menutup pintu lift untuk kembali ke tempatnya.
Saat ini Inoue bingung dan terdiam. Ia sama sekali tidak tahu jika orang ini adalah tamu Ichigo! Karena tadi dia sudah cek dan memang tidak ada janji sama sekali. Mana Ichigo belum datang pula.
"Dimana Ichigo?" tanyanya kembali tanpa mempedulikan Inoue.
"Maaf tuan, Pak Kurosaki masih belum ada di ruangannya."
"Dasar pemalas. Aku akan tunggu di ruangannya," ujar laki-laki tersebut berjalan menuju ruangan Ichigo.
Inoue hanya bisa mengikutinya hingga masuk ke dalam ruangan. Sedangkan para bodyguard menunggu di depan ruangan.
Inoue berusaha agar tidak bertatapan dengannya dengan menyibukkan dirinya yaitu menuangkan air di gelas dan menyiapkan kue. Ia membawanya menggunakan nampan lalu memberikannya pada laki-laki tersebut yang sekarang sedang melihat sesuatu di tabletnya.
"Silahkan." ujar Inoue.
Laki-laki tersebut seakan tidak peduli. Ia terus memperhatikan layar tabletnya.
Merasa penasaran, Inoue mengintip apa yang ada di layar tablet laki-laki tersebut.
"Wah..."
Ia kagum dengan permata-permata cantik yang ia lihat saat ini.
"Sungguh tidak sopan, onna." ujar laki-laki tersebut mematikan tabletnya sambil menatap Inoue dingin.
Inoue terkesiap namun ia memberanikan dirinya, "Tapi itu indah sekali... Apakah itu milikmu?"
"Bukan urusanmu."
"Baiklah.." ujar Inoue tidak mau membuat masalah dan memilih duduk di kursi mejanya.
"Ah ya aku permisi ke toilet dulu ya tuan."
Inoue langsung pergi menuju toilet, ia langsung memencet setiap alfabet di layar HPnya. Lalu mulai menelpon Ichigo.
"Aku mohon angkat Kurosaki-kun!"
"Panggilan yang anda tuju sedang-"
-pip!-
Berkali-kali ia menelponnya namun jawabannya selalu seperti itu. Kemana sih perginya? Apa dia lupa bahwa ini hari senin? Ditambah lagi ada tamu mengejutkan yang hadir di kantornya. Untuk kali ini Inoue merasa kelimpungan. Bagaimana pun juga ia tidak terbiasa dengan sikap laki-laki tersebut. Seperti ada sesuatu yang membuatnya segan.
10 menit kemudian.
Mungkin sudah lebih dari 10x Inoue menelponnya namun hasilnya nihil. Ia kembali ke ruangan Ichigo berharap sang tamu tidak marah padanya.
"Maaf tuan sepertinya-"
"Kita pergi."
"Eh?"
"Cepat, onna. Bawa dia." perintah laki-laki tersebut pada salah satu bodyguardnya.
"Hah? Hei! Kita mau kemana!? Tuan!"
[Now]
10 menit kemudian, ia sudah selesai. Memakai kemeja slim fit berwarna navy blue, tak lupa celana berbahan kain berwarna hitam. Ia melihat ke arah kaca yang besar sambil memakai dasi serta jam tangan terbaiknya. Tak lupa mengatur rambutnya, walaupun hasilnya sama saja.
-ting tong!-
Pas sekali! Tamu yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang!
Ia langsung keluar dari kamarnya menuruni tangga menuju pintu rumahnya.
-cklek-
Matanya menangkap Inoue yang tampak canggung bersama seorang lelaki berpakaian serba putih, dikelilingi para bodyguard berbadan besar dan menyeramkan. Senyuman andalannya langsung pudar saat melihat orang yang menjadi tamunya tersebut. Ia menghela nafas dan melonggarkan dasinya.
"Hah.. Kukira siapa, ternyata kau." ujarnya tanpa menyapa tamunya dan memilih masuk kembali sambil melemparkan dirinya ke sofa.
Laki-laki tersebut dan Inoue masuk ke dalam. Mereka duduk di sofa sedangkan Inoue dengan canggungnya duduk jauh dari mereka berdua.
"Oh Inoue, terima kasih ya kau mau repot-repot mengantarnya kemari. Yah.. walaupun dia sudah hafal rumahku sih."
"Ah bukan apa-apa kok Kurosaki-kun."
"Hm? Kurosaki-kun? Kau pacaran dengan gadis itu?" tanya laki-laki itu secara terang-terangan.
"Hah?! Bukan! Kurosaki-kun sudah milik orang lain! Ah ya, aku permisi! Kurosaki-kun, aku pinjam dapurmu!" ujar Inoue kaget dan langsung pergi.
Sepanjang jalan menuju dapur, Inoue menggerutu. tidak mungkin ia pacaran dengan Ichigo! Untung saja Rukia tidak ada di sini, bisa-bisa ia salah paham! Ia tidak mau menyakiti hati temannya yang berharga.
"Ini dimana!? Dapur dimana!? Nooooo!"
Sedangkan Inoue sedang nyasar di rumah Ichigo yang seperti labirin. Sekarang Ichigo sedang bersama tamunya, lebih tepatnya sahabat lamanya.
"Aku baru saja melihat pesanmu tadi. Tumben sekali kau mau repot-repot kemari. Ada angin apa, Ulqui?"
Laki-laki bermata hijau dengan tatapannya yang dingin menatap Ichigo. Ia tidak memperdulikan Ichigo dan masih berkutik dengan tabletnya. Ichigo menghela nafas kecil dan tersenyum. Dari dulu hingga sekarang ia tak banyak berubah. Bahkan saat mereka pertama kali bertemu di Inggris tepatnya saat masa kuliah. Keduanya bertemu dan berteman baik sejak itu dan selalu kemana-mana bersama. Mereka berdua bergitu bertolak belakang mau sikap ataupun gaya. Ichigo yang ceria, ramah dan bersinar bagai matahari. Sedangkan sahabatnya ini tipe yang cuek, dingin dan cool namun tetap memesona seperti sunyinya malam. Walau pendiam, sikapnya yang misterius itu digilai banyak perempuan. Mereka berdua merupakan duo populer pada masa kuliah dan banyak yang ingin menjadi pacar mereka. Tapi tak ada yang berhasil satupun untuk mendapatkan dua sejoli ini.
Walaupun keduanya bertemu dengan tidak sengaja dan dalam situasi yang canggung, namun pada akhirnya mereka berteman baik.
"Bukannya kau sibuk dengan pekerjaanmu?" tanya Ichigo pada Ulqui.
Biasanya ia tidak mau kemana-mana jika itu tidak berhubungan dengan pekerjaan.
"Sudah aku serahkan pada sekertarisku."
"Lalu sekarang ada apa lagi? Jangan bilang kau mau menanyaiku tentang Nel?"
Ulqui mengangguk, "Nel cerita di grup. Dasar perempuan labil."
"Heh, begitu-begitu juga dia sepupumu. Tunggu! Grup mana dulu?! Jangan bilang grup kalian bertiga!? Itu berarti bukan cuman kau doang yang tau tapi si neon itu juga dong?!"
Ulqui mengangguk.
Ichigo langsung memutar bola matanya dan menghela nafas panjang. "Hah.. Aku harap ia tidak datang juga kemari. Repot soalnya."
"Saat Nel cerita seperti itu, ia tertawa dan tampak puas. Katanya dia akan datang sebentar lagi saat urusannya sudah selesai."
"Ah begitu, aku harap urusannya tidak akan pernah selesai sehingga ia tidak bisa datang."
"Maaf menunggu lama. Ah ya Kurosaki-kun, maaf jika seenaknya menggunakan dapurmu. Aku membuat ini untuk kalian berdua." ujar Inoue memberikan mangkuk berisi mushroom soup yang masih hangat dengan segelas air putih pada kedua laki-laki yang ada di hadapannya.
"Oh! Wanginya enak! terima kasih Inoue! Kau tidak makan?" tanya Ichigo.
"Ah aku sudah sarapan tadi di kantor."
"Yasudah kalau gitu aku makan dulu. Hei Ulqui, kau mau sampai kapan menatap makananmu? Ah ya Inoue kenalkan. Dia Ulquiorra Schiffer. Sahabatku sejak masa kuliah. Ia CEO sekaligus pendiri dari SS Foundation."
"SS Foundation!? Yang memproduksi aksesoris ternama dan mewah itu kan? Pantas saja tadi aku melihatnya sedang melihat berlian-berlian yang indah di tablet miliknya.." ujar Inoue tampak kagum dan antusias.
"Ya, semua itu ia sendiri yang mendesign-nya. Dan dibantu oleh designer-designer ternama lainnya. Ah ngomong-ngomong tentang designer, aku jadi ingat. Ia ingin sekali merekrut Rukia ke dalam perusahaannya namun gagal."
"Wah... hebat."
Ulqui hanya diam dan tidak merespon apapun. Tatapannya masih terpaku pada sup buatan Inoue. Makanan apa ini? Pikirnya.
Ia mengambil sendok dan menyendokkan sup tersebut. agak encer.
"Ini instan?" tanya Ulqui.
"Ah ya, aku hanya memakai apa saja yang ada di dapur Kurosaki-kun."
"Hm,"
Ia menyendokkan sup tersebut ke dalam mulutnya. Tidak buruk hanya saja masih kalah dengan buatan koki nya di rumah.
"Rasanya aneh." komentar Ulqui namun masih terus menyuap makanan tersebut.
"Iyaa aku tahu kok.." ujar Inoue dengan senyuman canggung, ia sudah mengira pasti Ulqui akan berkata seperti itu.
"Dia memang seperi itu, jadi jangan dimasukkan ke dalam hati ya." bisik Ichigo pada Inoue.
Inoue tersenyum dan mengangguk.
Tak lama hp Ulqui berdering dan ia melihat siapa yg menelpon dan langsung memberikannya pada Ichigo. Ichigo merasa bingung dan melihat nama penelpon tersebut. Ia memilih tak menjawab nya dan mengembalikan hp tersebut pada ulqui.
"Aku malas mendengar ocehannya. Kau saja," ujar Ulqui
"Kalau kau tidak angkat nanti dia malah menelpon ku! Ah mati, sial! Pastk sebentar lagi dia menelepon ku."
Benar apa kata Ichigo. Tak lama hpnya berdering. Ia menatap malas dan memberikannya pada Inoue.
"Eh?"
"Bilang saja aku sedang meeting dan tak bisa diganggu." Ujar Ichigo.
Mau tak mau Inoue menjawab telpon tersebut. Dan kenapa namanya begitu unik dan sulit dieja.
"Halo.."
"Hei kepala jeruk! Apa si stoic itu sudah sampai?! Heh dasar kurang ajar, ia pasti sengaja tak mengangkat telponku. Eh tunggu, kurasa tadi suara perempuan."
"Maaf tuan, Boss ku sedang meeting. Ini dengan sekertaris nya."
"Yang kutahu sekertaris nya itu sudah tua. Oh kau yg baru itu ya? Heh mau-maunya kau kerja di kepala jeruk itu. Dia benar-benar payah kau tahu?"
Inoue merasa tersinggung dengan perkataan orang yang ada ditelpon nya saat ini. Beraninya ia bicara seperti itu tentang boss nya. Ia tidak tahu seberapa baiknya Ichigo padanya.
"Memangnya kenapa? Kurosaki-kun itu baik dan sangat peduli dengan pegawainya. Kalau kau tidak mengerti tidak usah menjudgenya."
"Hah!?"
-pip-
Inoue mematikan panggilannya. Ichigo dan ulqui menatap Inoue. Inoue baru sadar dengan perbuatannya saat ini. Astaga, ia lupa berhadapan dengan siapa saat ini. Apa yang harus ia lakukan?
"A-ah maaf Kurosaki-kun! Aku jadi kesal soalnya dia bicara yang tidak-tidak tentangmu." Ujar inoh dengan wajah malu. Dan ia pun duduk menjauh.
"Dia tidak tahu siapa yang dia hadapi." Ujar Ulqui pada Inoue.
"pasti sudah ini dia marah-marah padaku. Nah kan dia malah video call.. nih kau saja yang jawab ah!" ujar Ichigo langsung memberikannya pada Ulqui.
Ulqui menjawabnya dengan santai. Muncul laki-laki tampan dengan wajah sangar dan rambut biru yang mencolok. Wajahnya tampak kesal dan siap mengeluarkan segala ucapannya.
"MANA ONNA ITU!"
Ulqui menatapnya datar sedangkan Ichigo sudah mengira dan Inoue terkejut. Ulqui dengan santainha menekan kamera agar Inoue terlihat.
"HEI KAU! APANYA YANG MEETING!? MALAH DUDUK SANTAI DI RUMAH ICHIGO! SEENAKNYA BILANG AKU TAK MENGENAL DIA. AKU DAN ICHIGO ITU SAHABAT BAIK!" seru nya dengan sangat kencang.
Inoue baru sadar, "Heh!" ia langsung pergi.
"HIH DASAR WANITA ULAR! TUNGGU SAJA!" ia langsung mematikan panggilannya.
Ulqui mengembalikan hp itu pada Ichigo.
"Jika dia bilang begitu, berarti ia akan segera kemari. Btw, kau cukup berani juga bicara seperti itu." Ujar Ulqui pada Inoue.
"Habisnya dia duluan."
"Jangan khawatir Inoue. Dia memang orangnya seperti itu dari dulu. Tapi dia orang yang baik kok hanya saja dia memang suka ngegas dan asal jeplak." Ujar Ichigo mengerti dengan sifat sahabatnya yang bar-bar.
"Memangnya dia siapa Kurosaki-kun?"
"Sahabatku, ah maksudnya kami. Dari dulu dia memang terkenal barbar dan suka party. Bahkan jika tidak party bukan dia namanya. Tapi kalau tentang perempuan dia pilih-pilih."
"Aku juga mengira dia akan pacaran dengan wanita manapun yang ada di pesta."
"Memang beda kalau mama boy."
Keduanya pun larut membicarakan teman mereka sendiri. Sedangkan Inoue berjalan melihat keluar rumah. Sepertinya ia mendengar suara bising dari arah luar.
Sebuah limusin putih berhenti tepat di depan rumah Ichigo. Dari dalam keluar seorang gadis cantik yang wajahnya tidak asing bagi Inoue. Setelah ia turun, mobilnya melaju pergi meninggalkan rumah Ichigo.
"Eh.. seperti itu.."
"Nel."
Inoue terkejut karena Ulqui sudah berdiri tepat di belakangnya. Mendengar nama Nel, Ichigo langsung berdiri dari tempat duduknya dan menatap Ulqui. Ulqui mengerti dan menarik tangan Inoue.
"Lebih baik kita pergi, onna." Ujar Ulqui hendak keluar dari rumah Ichigo. Namun Nel keburu membuka pintu rumahnya. Ia agak terkejut melihat Ulqui dan Inoue yang ada di hadapannya, setelah itu ia tersenyum ke arah Inoue.
"Ulqui kau mau kemana?"
"selesaikan saja dulu urusanmu dengannya. Sebelum semuanya terlambat."
Setelah itu ia pergi sambil membawa Inoue pergi.
Inoue tampak bingung dan terus memperhatikan Nel yang tersenyum namun raut wajahnya begitu sedih, tak lama Ichigo menyuruhnya untuk masuk ke dalam. Tatapan keduanya begitu dalam, ia merasakan ada sesuatu di antara mereka. Namun apa daya, sekarang inoue sudah berada di dalam mobil bersama Ulqui.
"Tunggu! Kita mau kemana?"
"Makan. Jika kau ada di sana, kau hanya merusak suasana."
"Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Tapi aku baru kali ini melihat kurosaki-kun menatap seorang gadis seperti itu. Dan bukannya dia tuan putri Nelliel? Astaga, aku baru menyadarinya!"
Ulqui menatapnya datar, sebenarnya ia malas menjelaskan nya namun jika tidak, pasti Inoue terus menanyakannya. Ia tidak mau ada radio rusak di dalam mobilnya.
"Kami ber4 adalah sahabat baik sejak kuliah. Aku, Nel dan yang tadi di telpon adalah saudara sepupu. Setelah itu Nel dan Ichigo mulai saling kenal dan jadi dekat."
Inoue menatapnya dengan serius dan membuka kuping nya lebar-lebar.
"Jangan bilang Nel itu mantan Kurosaki-kun?"
Ulqui mengangguk. Inoue cukup kaget walaupun ia sudah menerka hubungan yang mereka miliki.
"Kalau begitu mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa kan? Lagipula kurosaki-kun sudah menyukai seseorang." Ujar Inoue mengingat wajah Rukia.
"Maksudmu gadis bangsawan dari klan Kuchiki? Omong kosong."
"Apa?"
"Ichigo berubah karnanya, jika bukan Nel yang menemani dan mensupportnya mungkin sekarang Ichigo tidak akan seperti ini."
"Rukia-chan punya alasan pastinya. Aku percaya padanya.."
Ulqui menatap Inoue, "Terserah kau saja onna."
Inoue yang selama ini bertanya-tanya kenapa Ichigo tidak bersama Rukia mungkin karena hatinya masih dilema. Walau Ichigo menyukai rukia sedari dulu namun saat masa-masa sulitnya, Nel yang selalu berada di sisinya. Apalagi dengan keberadaan Rukia yang tiba-tiba menghilang di hadapan Ichigo. Dan sekarang Nel hadir kembali dalam hidup Ichigo. Namun itu semua bukan berarti salah Rukia, bagaimanapun juga Rukia tidak pernah tahu perasaan suka Ichigo padanya.
Ia berharap apapun pilihan Ichigo merupakan pilihan yang terbaik untuknya.
Setelah mobil Ulqui pergi dari kediaman Ichigo, keduanya sekarang tampak canggung. Nel dan Ichigo saling duduk berhadapan di sofa. Keduanya tak ada yang ingin untuk memulai pembicaraan.
"Ah ya kau mau minum apa?" tanya Ichigo memecahkan keheningan.
"Apa saja.."
"baiklah kalau begitu, tunggu sebentar."
Saat Ichigo hendak pergi, Nel menahan tangannya. "Aku tidak akan lama. Sebentar lagi aku akan kembali ke tempat asalku."
Nel menatap Ichigo, "Dan ini merupakan pertemuan kali terakhir kita."
Mendengar itu Ichigo terkejut dan langsung duduk di sebelah Nel sambil menggenggam tangannya.
"Maksudmu apa Nel?"
"saat aku kembali nanti aku akan menjadi ratu dari kerajaan ku. Aku akan menjalankan misi serta impian ku, namun semua itu butuh pengorbanan Ichigo.. sebagai ganti dari kebebasan ku, aku akan jarang sekali ke luar jika bukan pertemuan penting. Tidak mungkin kan seorang ratu meninggalkan negerinya?"
"Akhirnya apa yang kau inginkan tercapai juga Nel.. walau sedih namun aku tetap mendoakan yang terbaik untuk mu."
Nel tersenyum, "terima kasih Ichigo… and sorry if I ask something unbelievable from you. Can I hug you for the last time..?" ujar nya dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa bicara apapun, Ichigo langsung memeluk nya erat. Ia merasakan air mata Nel yang mengalir dengan kesunyian diantara mereka.
"Aku tidak pernah menyesali pertemuan kita, Nel. Sampai kapanpun kau berarti untukku."
"Aku juga.. thank you my dear.." ujarnya sembari melepaskan pelukan Ichigo sambil menatapnya.
Ichigo menyeka sisa air mata dari pipi Nel. Wajah ini, senyuman ini dan suara ini. Dia, yang pernah mengisi kekosongan serta keterpurukan nya. Sampai kapanpun ia tidak pernah melupakannya. Tangannya dengan lembut mengelus wajah Nel.
Ia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Nel. Nel tampak terkejut namun ia tersenyum dalam diam.
For the last time, that kiss was the bitter and the sweetest.
Seketika langit pun ikut berduka, rintikan hujan mulai menuruni muka bumi dengan begitu deras, membasahi seisinya. Kilat demi kilat saling bersautan dan bergemuruh begitu kencang. Keduanya tidak perduli dan terlarut dalam dunia mereka, hingga mereka tidak sadar bahwa seseorang datang ke rumah Ichigo, namun pergi lagi dan membiarkan pintu terbuka begitu saja. Ichigo sempat melihat ke arah pintu, namun ia tidak terlalu peduli. Pikirnya mungkin hanya angin.
Tanpa mereka sadari seorang gadis berlari menjauhi rumah Ichigo dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Payungnya tertinggal di depan rumah, karena ia merasa ia harus meninggalkan rumah itu dengan berlari secepat mungkin. Akibat itu, sekarang tubuhnya basah kuyup. Ia tidak perduli dan mengeringka tubuhnya seadanya dengan tissue. Setelah itu tangannya dengan cepat menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan rumah Ichigo.
Mata violetnya tampak tak fokus. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Seharusnya itu bukan pemandangan yang aneh baginya. Tapi entah kenapa ia merasa tidak berhak berada di sana. Seperti mengganggu momen terpenting dalam hidup mereka. Padahal niatnya ke sana hanya untuk membicarakan suatu pekerjaan dan mengajaknya makan siang tapi sepertinya tamunya saat ini sangatlah penting. Bisa-bisa ia merusak momen penting mereka dan terlihat canggung berada di sana.
Sekarang ia tidak tahu harus kemana. Biasanya ia selalu membawa pakaian lebih jika akan bepergian namun sayangnya hari ini ia tidak menyiapkan nya sama sekali. Tak lama hpnya berdering.
"Halo? Ada apa Rangiku-san?"
"Rukia, kau dimana? Sekarang juga kau ke butikku ya. Skalian makan siang. Bagaimana?"
"Baiklah.. tunggu aku di sana."
Rukia langsung menuju ke arah tempat butik milik rangiku berada.
-K-
"OMG! APA YANG TERJADI PADAMU!?" seru Rangiku melihat sahabat kesayangannya itu basah kuyup. Ia langsung menariknya masuk ke ruangan belakang tokonya, tempat ia beristirahat.
"Aku kehujanan dan lupa bawa baju ganti."
"Astaga! Tunggu sebentar akan aku buatkan coklat panas dan baju ganti untukmu."
Rangiku menyuruh karyawannya mengambil baju butik yang terbaik milknya dan memberikannya pada Rukia lalu ia juga dengan cepat membuat cokelat panas untuknya.
"Ini minum. Ya ampun apa yang terjadi?" ujar Rangiku yang saat ini sedang sibuk mengeringkan rambut Rukia dengan handuk kecil. Ia seperti sosok Ibu bagi teman-teman nya.
Rukia tampak melamun sambil meminum coklat panasnya. Masih memikirkan hal tadi.
"Sudah ini kau langsung mandi, ok? Ini bajumu, semoga kau suka. Setelah itu kau turun ke bawah untuk makan dan ceritakan semuanya padaku." Ujar Rangiku.
Rukia menaruh coklat panasnya di meja, ia mengambil baju pemberian Rangiku.
"Arigatou, Rangiku-san. Aku mandi dulu."
Rangiku mengangguk. Matanya mengikuti Rukia yang masuk ke dalam kamar.
Ia duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ada apa dengan sahabatnya itu? Tidak biasanya ia seperti itu...
"Hari ini benar-benar aneh. Tadi pagi Orihime bilang ia tidak bisa ikut karena sedang makan bersama rekan lama Ichigo, dan sekarang Rukia datang dengan wajah bengong serta tubuh yang basah kuyup. Ini pasti ada sesuatu!"
10 menit kemudian
Rukia sudah mandi dan mengganti pakaiaannya. Dress berbahan denim selutut dengan lengan panjang. Saat ini ia baru saja selesai mengeringkan rambutnya. Ingatannya masih mengingat Nel yang sedang bersender di dada Ichigo dengan wajah senang dan Ichigo yang mendengarnya dengan senang juga. Ia melihat keduanya tampak serasi dan sangat dekat. Membuat dirinya tidak nyaman.
Seharusnya ia bisa mendukung kebahagiaan sahabatya sendiri tapi ia malah sebaliknya. Merasa tidak nyaman dan tidak mau melihat mereka lebih lama. Aneh sekali.. apa yang terjadi pada dirinya?
Daripada terus memikirkan itu lebih baik ia turun ke bawah untuk makan.
Saat sudah sampai bawah, ia melihat Inoue sudah ada di sofa sambil terkapar lemah.
"Aku menyesal mengikutinya… hm.. Rukia-chan!?" inoue langsung bangun dari sofa saat melihat Rukia juga berada di sini.
"Oh, hai Orihime. Kau ada di sini juga rupanya.."
"Lebih tepatnya aku kabur kemari. Kadang aku tidak bisa mencerna jelas ucapan orang kaya."
"Kudengar kau mengantar teman kuliah Ichigo ya? Ulquiorra Schiffer bukan? Aku dengar dia orang yang perfeksionis dan sulit didekati." Ujar Rukia ingat pernah bertemu Ulqui di suatu acara penggalangan dana bagi yang membutuhkan. Walau dingin dan kaku tapi ia menjadi favorit para wanita.
"Tepat sekali! Sebenarnya aku bingung. Aku kira semuanya selesai tapi nanti malam ia ingin bertemu denganku dan membicarakan suatu hal." Ujar Inoue.
"Ga apa kali, mungkin aja dia kepincut olehmu hehehe. Lihat, dia sampai membelikanmu kue mahal ini." Ujar Rangiku memasukkan kue dengan warna cantik dan mewah bahkan kotaknya saja berwarna hitam dove dan garis-garis emas. Kue ini menjafi favorit semua orang dengan rasa yang enak dan tampilan yang indah tapi harus rela mengantri dan membayar dengan harga yg cukup mahal.
"Padahal aku tidak menunjukkan ingin dibelikan kue.."
"Hahaha biarlah. Ayo semuanya, makanan sudah siap!" ujar Rangiku sudah selesai menata makanan di meja makan.
Rukia dan Inoue langsung duduk di kursi meja makan.
"Itadakimasu!" ujar ketiganya langsung melahap makanan yang ada di hadapan mereka.
"Tadi kan kita sudah mendengar cerita dari Orihime. Sekarang, giliran mu ." ujar Rangiku sambil menatap Rukia.
Mereka bertiga baru saja menyelesaikan makannya. Inoue baru teringat bahwa Ichigo sedang berduaan dengan Nel di rumahnya. Jika Rukia lihat, bagaimana reaksinya ya?
Rukia menaruh sendoknya.
"Hmm biar aku saja yang cuci." Ujar Inoue langsung memberesi peralatan makan mereka dan membawanya ke tempat cuci. Pura-pura menyibukkan diri sehingga ia tidak membuat Rukia untuk mengurungkan niatnya bercerita.
"Tidak apa-apa, aku hanya kehujanan. Tadi aku mau membicarakan sesuatu dengan Ichigo. Pagi tadi aku pergi ke kantor tapi ia belum datang dan Orihime pun tidak ada. Bahkan telpon mereka sibuk, sehingga aku menghampiri rumahnya."
-trang!-
Keduanya terkejut, Inoue tak sengaja menjatuhkan piring yang ia cuci di tempat cuci. Untung saja tidak pecah.
"Hehehe maaf licin." Ujarnya melanjutkan dengan perasaan dag dig dug. Padahal ini tentang mereka tapi kenapa jadi dia yang gugup.
"Lalu?" tanya Rangiku dengan tatapan serius.
"Aku melihatnya sedang bersama Nel. Sepertinya mereka sangat dekat."
-Brak!-
"APA!?"
Rukia dan Inoue terkejut melihat Rangiku dengan murka menggebrak meja. Dengan cepat Inoue menyelesaikan cuciannya dan kembali duduk di dekat mereka.
"Sabar Rangiku-chan.." ujar Inoue.
"Tidak bisa begitu! Nel maksudnya tuan putri itu!? Bukannya mereka sudah berpisah? Dan-"
"Rangiku-chan!" sela Inoue menutup mulut Rangiku. Ia memberi isyarat agar diam dan melihat reaksi Rukia.
Rukia terpaku diam. Apakah dia shock?
"Ru-Rukia.."
Mereka berdua menatap wajah Rukia yang sedang terdiam saat ini. ia menunduk dan tubuhnya bergetar. Apakah Rukia menangis?
"Ru-Rukia..? kau tidak-"
"AHAHAHAHHAHAHAHA!" Rukia tertawa sekencang-kencangnya.
Sekarang giliran Rangiku dan Inoue yang kaget akibat ledakan tawa Rukia. Ia terus tertawa terbahak-bahak, bahkan untuk pertama kali nya mereka melihat Rukia tertawa sepuas itu.
Jangan bilang, otak Rukia sudah konslet gara-gara ucapan Rangiku tadi. Ia begitu shock sehingga tak bisa lagi berpikir.
"Rukia, kau baik-baik saja kan?" tanya Rangiku mulai khawatir.
"Hahahhaa, astaga, hahahah aku baik-baik saja. Aku hanya tak habis pikir kenapa gadis secantik Nel mau berpacaran dengan si kepala jeruk itu. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ichigo saat itu. Astaga ahahhaa geli!" ujar Rukia sekarang sudah duduk di sofa sambil memegangi perutnya yang mulai sakit akibat tertawa.
Inoue menatapnya lalu kembali menatap Rangiku.
"Sepertinya ada saraf yang putus." Ujar Rangiku.
"Tapi aku juga cukup kaget. Walaupun berpisah, mereka cukup mesra."
"intinya aku akan bicara 4 mata dengan Ichigo. Jika benar ia mempermainkan hati Rukia, lihat saja." Ujar Rangiku dengan mata yang membara.
Inoue hanya diam.
Sedangkan Rukia sekarang sudah kembali normal. Ia memilih diam sambil tiduran di sofa, matanya menatap langit-langit rumah Rangiku. Pantas saja tatapannya itu berbeda saat menatap Nel. Ternyata mereka pernah memiliki hubungan yang spesial. Tapi kenapa mereka berpisah? Padahal tadi saat ia lihat mereka masih kelihatan dekat, bahkan mesra.
"Tapi mereka kenapa pisah?" tanya Rukia penasaran.
"Kudengar ada suatu masalah besar sehingga keduanya harus berpisah. Kau tahu kan kalau keluarga kerajaan itu sangatlah ketat, dan seorang putri kerajaan haruslah patuh pada aturannya. Mau tidak mau mereka berpisah. Bahkan paman Isshin pun tidak setuju dengan hubungan mereka. Beliau sampai menantang keras dan marah besar pada Ichigo."
"Paman Isshin yang baik dan lucu itu? Aku tidak menyangka.." ujar Inoue.
Rukia kembali tiduran, "itu berarti mereka berpisah secara terpaksa. Sepertinya ini merupakan momen berharga bagi mereka."
Keduanya hanya diam.
-tring tring!-
Hp inoue berbunyi, ia langsung mengangkatnya.
"Eh? Kurosaki-kun? Besok? Baiklah kalau begitu akan aku atur. Oh aku sedang berada di rumah Rangiku-chan. Ok akan aku sampaikan. Sampai jumpa."
"Apa katanya?" tanya Rangiku penasaran.
"katanya malam ini dia akan pergi hingga besok sehingga menyuruhku untuk mengatur semuanya. Sepertinya aku harus pulang. Ohya tadi ada salam untukmu, Rangiku-chan."
"Heh dasar. Mentang-mentang boss jadi seenaknya saja si kepala jeruk."
Rukia mengecek hpnya , ada pesan masuk dari no yang ia tak kenal.
'Hai Rukia-chan, ini aku Nel. Malam nanti sekitar jam 7, kita makan di restoran Six Star. Aku akan mengirimkan alamatnya di tautan. See you tonight.'
Ia langsung membalas pesan tersebut.
'Hai Nel. Ok kalau begitu. See you.'
Ia bangun dari sofa dan mengambil tas serta kunci mobilnya.
"Orihime, kau pulang bareng aku saja. Kebetulan aku juga mau pulang,"
"Ok kalau begitu. Rangiku-chan, arigatou. Aku pamit dulu,"
"Arigatou Rangiku-san dan untuk bajunya.."
"Untukmu. Padahal aku ingin sekali kalian masih lama di sini, well next time kalian harus menginap. Dan jika ada apa-apa hubungi aku," Ujar Rangiku sambil memeluk kedua sahabatnya. Ia sangat menyayangi mereka dan selalu memikirkan mereka.
Keduanya tersenyum dan memeluk balik Rangiku, "Our mom is the best."
Setelah itu mereka berpamitan pulang. Orihime pulang bersama Rukia menggunakan mobil. Setelah mereka pergi, Rangiku kembali ke dalam tokonya.
"Kenapa sahabat-sahabat ku kalau dalam urusan cinta selalu tidak beruntung. Ya ampun.."
Baru setengah jalan keluar dari jalan ruko milik Rangiku, mereka sudah dilanda macet. Sambil menunggu macet, Rukia menyalakan musik di mobilnya.
"Rukia-chan,"
"Hm?"
"Apa kau baik-baik saja? Maksudku, soal Kurosaki-kun dan Nelliel-san."
Rukia terdiam sejenak sambil menatap setirnya.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. Karena bagaimanapun juga, aku dan Ichigo tidak ada hubungan spesial apapun kami hanya sahabat baik sejak dulu,"
"Tapi aku merasa ada yang berbeda di antara kalian bedua. Kalian tampak cocok bagiku,"
Rukia menatap Inoue, lalu tersenyum.
"Aku tidak pernah memikirkan tentang cinta. Bagiku semua itu merepotkan. Dan aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika kami jadian. Rasanya aneh bukan?" ujar Rukia sambil tertawa kecil.
"Hmm.. tapi apa kau tidak merasa ada sesuatu gitu dengan Kurosaki-kun?"
Rukia jadi teringat perasaan tak karuan yang ia rasakan saat melihat Ichigo dan Nel bersama. Rasa tak enak itu kembali menghampiri nya. Benar-benar menyebalkan. Apa dia harus jaga jarak dengannya? Bagaimana caranya, dia kan bossnya.
"Rukia-chan, aku rasa kau harus memikirkan kembali apa yang benar-benar kamu rasakan. Karena penyesalan selalu datang belakangan."
Rukia menatap Inoue yang serius. Sepertinya ada maksud di dalam omongannya tersebut.
Inoue langsung tersenyum dan tertawa kecil, "Hehehe maaf Rukia-chan, bukan maksud nakut-nakutin. Aku jadi teringat masa laluku soalnya.. Ah tapi lupakan! Itu tidak penting! Intinya aku mendukung kalian berdua."
"Arigatou, Orihime. Walaupun mungkin hal itu tidak akan terjadi pada kami."
Mendengar ucapan Inoue tadi, Rukia merasa sedikit lega. Entah kenapa. Dan ia ingin sekali bertemu dengan Ichigo dan Nel malam ini.
-K-
Malam yang dinantikan pun tiba. Rukia memakai dress berbahan silky berwarna violet dengan style sabrina. Ia tampak cantik dan elegan. Tak lupa tas pra*a kecil tersoren di pundaknya. Ia sudah siap pergi ke acara makan malam yang diundang oleh Nel.
"Mommy mau pergi kemana?" tanya Ryuu baru saja kembali latihan pedang bersama sang kakek buyut.
"Mommy ada acara makan malam bersama teman mommy. Tunggu di rumah ya bersama kakek buyut." Ujar Rukia lalu mengkecup kening Ryuu.
Ryuu mengangguk sambil tersenyum dan mengecup pipi Rukia,
"Hati-hati mommy. Kalau boleh pulangnya beliin eskrim ya."
"Oke nanti aku belikan. Kakek, aku pergi dulu." Ujar Rukia.
"Kau pergi bersama anak Isshin?"
"Hmm tidak, tapi kami akan bertemu di sana. Kenapa?"
"Lalu kenapa sekarang dia ada di ruang tamu menunggumu. Sudah rapi dengan jas dan rambut yang klimis."
Rukia tampak tak percaya, ia langsung bergegas menuju ruang tamu.
Saat dilihat ternyata benar. Ichigo sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Matanya bertemu dengan mata Rukia.
"Ichigo? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Rukia bingung.
"Paman Ichigo!" seru Ryuu langsung berlari menghampiri Ichigo.
"Ryuu!"
Ichigo langsung memeluk dan menggendongnya. Mereka tampak hangat dan akrab. Sepertinya Ryuu sangat senang bertemu dengan Ichigo.
"Wah kau baru beres latihan pedang ya? Sudah makan?" tanya Ichigo pada Ryuu.
"Yap! Belum, sebentar lagi aku akan makan bersama kakek buyut. Paman mau pergi bersama mommy ya?"
"Ya betul sekali."
"Tuan muda Ryuu, ayo ke ruang makan. Tuan besar sudah menunggu." Ujar pelayan menjemput Ryuu.
"Ok! Ohya,"
Ryuu membisikkan sesuatu pada Ichigo. Ichigo tertawa dan tersenyum padanya.
"tenang saja, aku pasti akan menjaganya." Ujar Ichigo balik membisikkan nya pada Ryuu.
Mereka saling high5 dan Ryuu turun dari pangkuan Ichigo. Setelah itu ia pergi bersama maid menuju ruang makan.
Rukia yang sedari tadi berdiri di dekat pintu menunggu penjelasan Ichigo.
"Ehem, jadi, mau apa kau kemari?" tanya Rukia mengulangi pertanyaannya.
"Tentu saja menjemputmu. Tidak lihat aku sudah sekeren dan serapih ini?" ujarnya sambil membenarkan kerah kemejanya.
Rukia hanya menatapnya datar, tapi baginya sikap Ichigo yang seperti ini merupakan Ichigo yang ia kenal. Ichigo narsis yang menjengkelkan dan sok keren.
Rukia tertawa kecil, "Hahaha, apanya yang keren. Ya sudah ayo!"
Ia langsung menarik tangan Ichigo. Ichigo tersenyum dan akhirnya mereka pergi mengendarai mobil Ichigo.
Selama perjalanan, mereka hanya diam. Rukia memilih mendengarkan musik di dalam mobil sedangkan Ichigo fokus menyetir.
"Besok pagi Nel akan kembali ke negara asalnya."
"Dan kau mau mengantarkan nya bukan? Aku dengar dari Inoue."
"Hmm begitulah."
"Aku cukup kaget saat tahu dulu kalian berpacaran. Kok mau sih Nel bersama mu?"
"kau tahu darimana? Ya aku juga tidak mengerti hahaha tapi itu masa lalu."
Rukia terdiam, ia melihat Ichigo yang masih tetap tersenyum. Keduanya tidak melanjutkan obrolan mereka. Rukia diam-diam curi pandang dan melihat ekpresi sama yang dikenakan Ichigo saat ini. ekpresi senang dengan senyum terulas di bibirnya. Mungkin benar kalau Ichigo masih belum bisa melupakan Nel.
"Ah kita sudah sampai!"
Rukia melihat keluar. Mereka masuk ke dalam suatu jalan yang sepi dan melalui gerbang yang tinggi dan penuh dengan pengamanan yang ketat. Mereka keluar dari dalam mobil dan melihat bangunan besar yang tampak megah dan mewah dengan warna putih seperti salju.
Keduanya keluar dari dalam mobil lalu menyerahkan kunci mobilnya pada seorang pelayan untuk diparkirkan.
Tak lama dari arah pintu keluar Nel dengan gaun panjang berbahan gliter berwarna silver. Dengan bagian dadanya yang agak terbuka dan potongan yang memperlihatkan punggung serta kakinya, Ia tampak anggun, cantik dan seksi. Ditambah rambutnya yang disanggung dengan ornamen permata yang cantik. Tak lupa sentuhan make up tipis yang membuat wajahnya tampak glowing. Benar-benar cantik dan mempesona.
Ia berjalan dengan cepat menghampiri keduanya dan tersenyum pada Ichigo. Lalu mengalihkan tatapannya pada Rukia, ia tampak senang dan tak sabar untuk menemuinya.
"Aku senang kau mau datang, Rukia-chan!" seru Nel sambil memeluk Rukia.
Rukia memeluk balik Nel,
"Terima kasih sudah mengundangku kemari, Nel."
Nel menggeleng kan kepalanya,
"Justru aku yang berterima kasih padamu. Karena kau mau datang ke acara makan malamku. Semoga aku tidak mengganggu malammu ya."
"Tentu saja tidak."
"Mau sampai kapan ngobrol di sini?" tanya Ichigo sedari tadi berdiri menunggu kedua perempuan di hadapannya mengobrol dengan asik. Seperti tidak peduli dengan keadaannya.
"Oh hahaha ya ampun. Saking excited nya aku jadi lupa ada kau Ichi! Ayo masuk kalau begitu! Makan malamnya sudab siap." Ajak Nel pada keduanya.
"Biarkan saja si kepala jeruk itu, Nel." Timpal Rukia sambil nyengir jahat pada Ichigo.
"Begitu kata-katmu pada seseorang yang menjemputmu? Dasar."
Ketiganya masuk ke dalam. Acara ini diadakan khusus hanya untuk mereka dan secara rahasia. Jadi tidak ada yang tahu bahkan media pun tidak tahu tentang tempat ini. Bisa dibilang ini rumah tenang bagi Nel dimana hanya segelintir orang yang tahu.
Apalagi saat ini ia bertemu dengan Ichigo, bisa-bisa kalau orang lain tahu hancurlah acara mereka. Bukan hanya itu, ada Rukia juga yang termasuk jejeran orang paling penting dan populer. Jadi bisa dikatakan mereka bertiga ini semacam big shot.
Ketiganya sampai di ruangan yang isinya seperti restoran dengan berbagai macam makanan tersedia, ada mini bar dan bartender yang siap membuat minuman untuk mereka.
Mereja duduk di kursi dengan meja yang sudah dipenuhi makanan mewah dengan aroma yang lezat. Mulai dari western food hingga Japanese food berupa lobster sashimi dll.
"Ah ya aku lupa bilang, masih ada 3 orang lagi yang datang kemari."
"Jangan bilang si kepala neon itu juga kemari?"tanya Ichigo dengan wajah malas.
"Hehehe betul sekali!"
Tak lama pintu ruangan terbuka, muncul Ulquiorra dengan jas serba putih dan dasi berwarna hitam.
Rukia melihatnya dan terkejut melihat orang yang ada di sebelahnya. Ia memakai dress berbahan sutra berwarna pink muda dengan tali yang tipis. Panjang dress itu hingga menjuntai kebawah dengan depan yang terbuka. Ia tampak cantik dan elegan.
"Orihime?"
Inoue menatap kaget Rukia beserta Ichigo dan Nel. Kombinasi yang luar biasa.
"Rukia-chan! Dan Kurosaki-kun? Serta tuan putri Neliel!"
"Hai Ulqui, dan salam kenal Inoue Orihime. Cukup panggil aku Nel, terima kasih sudah mau datang kemari." Ujar Nel dengan ramah menyapa Inoue.
Inoue terpukau dengan kecantikan dan keramahan Nel.
"Justru aku yang berterima kasih padamu. Aku tak menyangka bisa diundang olehmu.. padhaal aku bukan siapa-siapa."
"Jangan bicara begitu, teman Ichi berarti temanku juga dan aku sangat mengagumi akting serta suaramu yang indah."
"Ya ampun aku tak menyangka, terima kasih atas sanjungannya padahal aku biasa-biasa saja. Mendengarmu, aku jadi terharu hehehe."
Selagi Nel asik menyambut Inoue, Ulqui meninggalkan mereka dan bergabung di meja makan bersama Rukia dan Ichigo.
Ia menatap Rukia, "Kau ada di aini juga Kuchiki Rukia?"
"Kebetulan aku diundang oleh Nel. Aku tak menyangka kau merupakan teman dekatnya."
Keduanya diam dengan tatapan yang datar. Mereka tak ingin bicara lebih jauh. Rukia bukannya tidak suka dengan Ulqui hanya saja ia tak jadi bekerja di perusahaan Ulqui karena suatu hal. Dan Ulqui juga merasa Rukia bukan perempuan yang baik karena sudah meninggalkan Ichi, pikirnya.
Ichigo menatap keduanya yang sepertinya tidak suka satu sama lain walau keduanya tampak tenang tapi mereka tampak dingin satu sama lain.
"Hahaha hime-chan, bicara denganmu cukup menyenangkan." Ujar Nel kembali bersama Inoue ke meja makan.
"Hehehe kau bisa saja Nel-chan," ujarnya sembari duduk di sebelah Ulqui.
"Dimana dia? Jangan bilang telat." Ujar Ulqui menanyai satu orang yang belum datang.
"Sebentar lagi juga sampai " ujar Nel.
Tak lama terdengar derap langkah yang bising mendekati ruang makan.
-BRAK!-
Pintu ruang makan terbuka lebar dengan suara yang amat keras. Mereka terkejut tapi Nel, Ichigo dan Ulqui sudah biasa dengan kedatangan nya yang heboh.
Dengan kemeja berwaena hitam dengan motif naga di belakangnya dan kancing yang terbuka setengah menunjukkan dadanya yang bidang, jasnya sengaja ia bawa dengan sebelah tangan. Rambut birunya yang mencolok dan tinggi begitu menarik perhatian. Ia menyeringai lebar,
"Hello my fcking best friend!" Serunya langsung berjalan menghampiri mereka semua.
Namun langkahnya berhenti saat melihat ada 2 orang asing di dalamnya. Inoue dan Rukia. Tatapannya langsung menajam ke arah Inoue. Ia ingat dengan wajah itu!
"KAU! GADIS KURANG AJAR TADI PAGI KAN!?" seru nya sambil menunjuk Inoue.
"Datang-datang sudah membawa keributan." Ujar Ulqui.
"Dasar kepala neon, abaikan saja Inoue." Ujar Ichigo.
"Grimmy, jangan tidak sopan pada Hime-chan." Ujar Nel.
Inoue menatapnya lekat-lekat dan baru sadar bahwa di hadapannya itu adalah pria yanga da di telpon tadi pagi. Suara dan tampangnya pas sekali. Barbar.
Nel menatap Grimmjow dengan tampang mengancam, jika tidak duduk diam, awas saja.
Mau tak mau Grimmjow duduk di sebelah Ichigo tepatnya di hadapan Inoue. Ia terus menatapinya tidak suka. Sedangkan Inoue hanya pura-pura tidak peduli dan melihat arah lain.
Dengan perasaan senang, Nel berdiri dari tempat duduknya. Ia mengangkat gelas wine di tangan kanannya. Semua ikut berdiri dan mengambil gelas wine mereka masing-masing.
"Sekali lagi terimakasih sudah mau hadir dalam acara makan malam ini. Terutama untuk Rukia-chan dan Orihime-chan yang baru saja bergabung dengan kami, aku menyambut kalian dengan sangat senang hati. Malam ini akan menjadi malam yang berharga dan tak akan pernah aku lupakan. Semoga ini menjadi pertemuan yang indah dan tak terlupakan untuk kita semua, cheers!"
"Cheers!"
-tring!-
Mereka saling bersulang lalu meminum wine tersebut. Setelah itu mereka menikmati makan malam mereka dengan keadaan yang hangat ditemani dengan alunan violin serta cello dan penyanyi seriosa. Suara yang indah dan alunan musik klasik menambah kesan menenangkan dan megah di ruangan tersebut.
Tak lama setelah selesai makan, mereka disuguhi makanan penutup berupa dessert beserta buah-buahan.
Grimmjow menatap Inoue,
"Kenapa gadis ini bisa ada di acara kita?" Tanya Grimmjow tiba-tiba memecah ketenangan.
Inoue menatap Grimmjow yang bertanya seolah ia tidak berhak ada di sini.
"Aku mengundangnya dan aku ingin mengenalnya lebih dekat. Ada apa Grimmy?" tanya balik Nel.
"Aku datang kemari bersama Ulquiorra-san." Jawab Inoue dengan penuh keberanian.
"Hah? Bagaimana bisa Ulqui mau pergi bersama seorang perempuan? Kau memeletnya?"
"Jaman sudah modern begini kau masih percaya hal magis." Ujar Ulqui.
"Ini benar-benar aneh. Ah ya, kepala jeruk sesudah ini kita harus bicara." Ujar Grimmjow.
"Jangan yg ga-ga." Ujar Ichigo.
Grimmjow menatap Rukia, dan tersenyum meremehkan. Sementara Rukia sedang mengobrol dengan Nel.
Acara malam ini cukup menyenangkan dan hangat. Itu yang Rukia pikirkan tapi entah kenapa, perasaannya saat ini tidak nyaman, ia merasa bahwa ia tidak seharusnya berada di sini. Apalagi melihat tanggapan Grimmjow dan Ulquiorra terhadapnya, walau tidka bicara yang aneh-aneh tentangnya tapi bisa dirasakan bahwa mereka menatap tidak suka ke arah Rukia. Untunglah Nel menyambutnya dengan hangat dan perasaan yang tulus.
"Ah ya banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu dan Hime-chan. Aku senang saat bertemu dengan perempuan sebayaku hehehe. Apalagi kalian orang yang santai." Ujar Nel dengan senang.
"Aku juga. Senang bisa mengenal lebih dekat denganmu, Nel." Ujar Rukia sambil tersenyum tipis.
Sedangkan Inoue hanya angguk-angguk sambil tersenyum.
Tak lama Nel berdiri dari tempat duduknya,
"Rukia-chan, hime-chan bagaimana kalau kita mengobrol di kamarku? Heheheh," ajak Nel pada keduanya.
"Kami bagaimana?" tanya Ichigo
"No boys allow! Ayo girls!"
Lalu ketiganya pun pergi meninggalkan para cowo. Setelah itu Ichigo, Ulqui dan Grimmjow saling tatap. Ini kesempatan yang pas untuk mereka berbicara.
"Ah di sini pengap, kita pindah ke balkon saja." Ujar Grimmjow.
"Aku menyusul, ada yang harus aku urus dulu." Ujar Ulqui sedang mengerjakan sesuatu dari tabletnya.
"Heh dasar sok sibuk. Ya sudah." Ujar Grimmjow meninggalkan Ulqui.
Grimmjow dan ichigo pun pergi ke balkon. Di balkon ada kursi yang terbuat dari kayu. Dari balkon terlihat pemandangan yang begitu indah. Karena tempat ini berada di bukit sehingga semua yang ada di bawah terlihat kecil dan berkilauan. Untunglah malam ini tidak hujan dan langit malam begitu terang dengan bulan purnama.
Grimmjow mengambil rokok di balik saku celananya. Ia mulai memantik rokoknya itu dan menyesapnya. Ia melemparkan rokoknya pada Ichigo.
"Aku sudah tidak merokok lagi." Ujar Ichigo menyimpan rokok tersebut di sebelah nya.
"Heh aku tahu. Tapi aku yakin kau butuh rokok ini untuk menenangkan pikiranmu." Ujar Grimmjow seperti tahu apa yang Ichigo pikirkan. Tepat sekali, Ichigo memang sedang pusing.
Ichigo menatap rokok tersebut. Sudah lama ia melepaskan kebiasaan merokoknya. Karena rokok memang tidak sehat bukan? Namun hari ini berbeda dari biasanya. Ya untuk kali ini saja ia merokok lagi, seudah itu tidak.
Dengan penuh pertimbangan akhinya ia menyalakan satu batang rokok dan menyesapnya.
Grimmjow tersenyum, "Nyalimu cukup besar untuk mempertemukan mereka."
Ichigo tahu maksud dari ucapan Grimmjow.
"Nel memang perempuan naïve dan masih menyukaimu hingga detik ini. Jujur aku tidak peduli dengan kisah cinta kalian tapi jangan sampai kau menyakitinya." Ujar Grimmjow dengan mata serius.
Karena bagaimanapun juga Nel adalah sepupunya. Keluarganya mempercayakan Grimmjow untuk menjaga Nel. Dan Grimmjow akan menepati janji itu. Walau ichigo adalah sahabat baiknya tapi ia tak akan tinggal diam jika ia berani menyakiti Nel.
"Aku tahu maka dari itu aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Dan aku sudah memutuskannya."
Grimmjow menatap tampang Ichigo yang serius.
Melihat itu ia tertawa, "Hahahaha! Serius sekali sih kepala jeruk! Sebenarnya aku tak peduli kau mau dengan Nel atau si gadis es itu. Hanya saja kau harus jelas, Nel atau gadis es itu."
"awalnya aku bingung karena keduanya berharga bagiku. Tapi setelah aku pikir kembali, aku yakin sekarang.."
Grimmjow menyesap rokoknya sambil meniupkan asapnya, "Heh, kau benar-benar brengsek Ichigo. Bodohnya Nel masih mencintaimu padahal ia tahu walau kalian bersama tapi hatimu bukan untuknya kan?"
Ichigo terdiam sejenak, ia tidak mau mengakuinya tapi apa yang dikatakan sahabatnya itu memanglah benar. Nel memang berharga baginya tapi rasa sayangnya itu sama seperti rasa sayang kepada seorang sahabat. Dulu ia belajar untuk mencintainya dengan menjalin hubungan dengan Nel, tapi ia merasa bahwa apa yang ia lakukan salah. Ia tidak bisa memiliki perasaan yang sama sepeti yang Nel rasakan padanya. Untuk itulah ia mengakhiri hubungan mereka, apalagi dengan tentangan kedua keluarga mereka. Dan ia tidak mau menyakiti hati Nel lebih jauh.
"Ini semua salahku. Tapi perasaanku dengan Nel saat itu asli, aku menyayangi nya. Aku pikir dengan bersamanya aku bisa melupakan segalanya tapi kau tau kan semua tidak berjalan sesuai harapan kami."
"Heh aku mengerti, sesuatu yang dipaksakan memang tidak enak. Aku cukup salut padamu. Tapi Ichigo, aku harus mengatakan sesuatu yang tidak akan menyenangkan bagimu."
"Apa?
"Tanpa kau ketahui, gadis es itu bertemu kembali dengan mantan tunangannya. Jika kau tidak cepat, kau akan benar-benar kehilangan untuk selamanya." Ujar Grimmjow dengan seringaiannya.
Ichigo menghela nafas,"Aku tahu itu dasar kepala neon."
"Hah?"
"Tentu saja dia tahu, dasar bodoh." Ujar Ulqui yang sudah ada di belakang mereka.
"Tidak asyik ah!" seru Grimmjow kesal.
"Ah ya Ichigo, aku akan membawa Inoue Orihime bersamaku."
Grimmjow dan Ichigo menatapnya tidak percaya. Apa-apaan sih si stoic ini? Bercanda juga ada batasnya.
"Hah!?" seru keduanya bersamaan.
"Kau ngapain ikut kaget!?" tanya ichigo pada Grimmjow.
"Tentu saja aku kaget! Apa dia sudah gila!? Perempuan seperti itu mau kau bawa kemana? Jangan bilang kau kepincut olehnya?"
"Ulquiorra coba jelaskan, ini tidak lucu sama sekali."
"Aku serius. Setelah aku teliti, dia merupakan orang yang cekatan dan profesional. Dan aku merasa penjualaan kami akan meningkat drastis dengan adanya kehadiran Inoue Orihime." Ujar Ulqui sambil memperlihatkan data yang ia cari selama ini melalui intelnya. Padahal ini pertama kalinya ia bertemu Inoue tapi ia sudah mengetahui segala informasi tentangnya. Benar-benar mengerikan.
"Heh gawat, jika dia sudah seperti ini kau bakal susah Ichigo."
"Aku tahu. Tidak bisa, Inoue adalah sekertaris ku yang berharga dan aku tidak mungkin memindah kerjakannya seperti itu."
"Semuanya sudah diurus olehku, tempat tinggal, akomodasi serta biaya hidupnya di hueco mundo. Bahkan gajinya akan lebih besar dibanding darimu."
"Kau bercanda."
Ulqui menatapnya datar. Ia serius dan ia siap membawa Inoue kapanpun yang ia mau.
Ichigo menepuk jidatnya, "Tidak, tidak."
Ulqui menunjukkan bahwa ia serius. Ichigo pun berdebat dengan Ulqui dan menyuruhnya untuk tidak gegabah.
"Aneh sekali, apa bagusnya perempuan sepertinya. Heh,"
Saat ini Inoue sedang berkutat dengan tabletnya. Walau ia dalam keadaan acara tapi masih ada yang harus ia kerjakan. Sedangkan Nel dan Rukia sedang duduk santai sambil menikmati wine mereka. Mereka saat ini sedang berada di kamar Nel.
"Aku sangat senang bisa mengobrol seperti ini denganmu, Rukia-chan."
"Aku juga Nel. Ohya maaf jika aku tidak sopan. Sebenarnya tadi pagi saat aku ke rumah Ichigo aku melihat kalian berdua tapi aku takut mengganggu sehingga langsung pergi."
Nel terdiam sebentar laku ia tertawa kecil.
"Ahahhaa astaga Rukia-chan. Padahal tidak apa-apa lagipula kami berdua sudah tak ada hubungan spesial lagi." Ujarnya tersenyum pada Rukia.
Senyuman tulus yang seakan lepas tanpa beban apapun.
"Taoi aku merasa kau cocok dengannya."
"Ohya? Terima kasih Rukia-chan tapi tetap saja kami tidak akan bersama kembali."
"Maksudnya?"
"Aku dan Ichigo tidak akan bertemu kembali. Dan ini malam terakhirku di sini."
Rukia tercengang mendengarnya,
"Kau serius? Apa kau yakin? Maksudku.. kau tidak akan menyesalinya?"
"Pertama aku tidak yakin. Karena bagaimanapun aku tetap mencintainya…"
Mendengar itu entah kenapa Rukia merasa kaget dan ada rasa tak enak.
Nel menatapnya sambil menyentuh tangan Rukia
"Tapi tidak dengannya.. aku tahu sedari dulu hati Ichigo itu bukan milikku. Walau ia bersikap baik dan begitu perhatian padaku tapi aku menyadarinya itu bukan dirinya yang sebenarnya."
"Nel.."
"Tapi aku tidak sedih kok! Justru aku senang ia bisa bersama seseorang yang lebih mengerti akannya suatu hari nanti." Ujar Nel sambil tersenyum.
Rukia hanya bisa diam. Nel begitu mencintainya hingga ia rela melepaskan Ichigo. Ia ingun Ichigo menemukan seseorang yang bisa membahagiakan dan mencintainya sepenuh hati.
Respect, itulah yang Rukia rasakan terhadap Nel.
"Tapi walau begitu aku tidak akan kalah darimu, Rukia-chan."
"Eh? Maksudnya?"
Nel hanya diam sambil memandangnya dengan senyuman manis terulas di bibirnya. Sedangkan Rukia tidak bisa berkata apa-apa dan memilih diam.
"Hiyahh akhirnya beres juga! Maaf menunggu lama!" ujar Inoue memotong keheningan mereka.
Nel berbalik ke arah Inoue,
"Akhirnya selesai juga ya Hime-chan! Oya, aku punya sesuatu untuk kalian! Tunggu sebentar ya!" ujar Nel lalu pergi menuju ruangan satu lagi yang ada di kamarnya. Seperti ruang kerja pribadinya dan hanya dirinya saja yang boleh masuk ke sana.
Rukia masih diam mematung dan bingung dengan kata-kata Nel tadi. Apa maksdunya dia tak akan kalah? Sepertinya ada sesuatu yang ia tak mengerti. Atau apakah ada sesuatu yang ia tinggalkan? Sepertinya Rukia harus lebih teliti lagi.
"Rukia-chan, rukia-chan? Halo?"
Inoue mengibaskan tangannya di depan wajah Rukia
Rukia baru sadar, langsung menatap Inoue.
"Ke-kenapa Orihime?"
"Kau melamun ya? Sedari tadi aku memanggilmu. Btw, nel-chan orang yang baik dan ramah ya."
"Ya.."
Saat ini perasaan nya tak karuan. Kenapa bisa Ichigo rela melepaskan Nel yang begitu cantik dan baik. Bahkan walau sudah bersamanya, Ichigo tetap tidak bisa melupakan gadis yang ia sukai sejak dulu. Sebenarnya siapa sih gadis itu? Sebegitu hebatnya dia hingga si kepala jeruk tak bisa berpaling pada gadis manapun.
Rukia terus berpikir dan berpikir. Sepertinya ia jadi penasaran dan ingin mencari tahu siapa gadis pujaan hati Ichigo.
Jika dipikir-pikir, Ichigo tidak pernah menceritakan gadis kesukaannya pada Rukia. Tapi, bukan berarti Rukia juga ingin tahu siapa kesukaan Ichigo. Hmm mungkin mulai sekarang ia harus bertanya padanya siapa gadis itu.
Sementara Rukia sedang berimajinasi.
Nel sedang berada di ruang kerjanya saat ini. Ia sedang mengambil gelang yang terbuat dari batu-batu permata yang cantik dan berkilauan. Gelang tersebut merupakan buatannya, jika dijual harganya begitu mahal dengan angka yang tak bisa dihitung.
Ia sengaja membuat 2 untuk Inoue dan Rukia.
"Ahahaha aku ini aneh ya. Aku menyukai dan ingin menjadi teman baik dari perempuan yang Ichigo harapkan. Tapi pantas saja Ichigo begitu menyukai dan tak bisa melupakannya. Aku pun tidak bisa membencinya."
Ia tersenyum namun hatinya juga kelu. Ia harua merelakannya. Merelakan pria yang ia cintai bersama dengan seseornag yang lebih bisa bahagia dengannya.
Malam ini merupakan malam terpanjang yang pernah ada bagi mereka. Malam yang penuh kebahagian sekaliagus perpisahan yang menyedihkan. Perasaan mereka, cukup mereka saja yang tahu. Semoga esok hari menjadi esok yang cerah. Tanpa adanya penyesalan dan kesedihan.
Karena ada keperluan mendadak, Ulquiorra harus pulang duluan. Membuat Ichigo sedikit bernafas lega karena akhirnya taka da lagi yang bersi kukuh untuk membawa paksa Inoue, ya untuk saat ini.
Namun karena hari sudah semakin larut Ichigo dan Rukia memutuskan untuk pulang juga. Mengingat bahwa Rukia itu seorang Ibu yang harus mengurus anaknya. Mereka mengajak Inoue untuk pulang bersama. Tapi karena tidak mau mengganggu momen kebersamaan mereka ia memilih pulang dengan supir suruhan nel.
"Kau yakin?" Tanya Rukia memastikan.
"Tentu saja Rukia-chan! Kalian pulang duluan saja."
"Padahal bareng saja. Ohya Inoue jika ada yang menawarimu yang aneh-aneh atau ada yang datang padamu kau harus menolaknya ya." Ujar Ichigo dengan mata meyakinkan.
"Eh? O-ok.." jawab Inoue agak bingung.
Rukia memeluk Nel, "terima kasih untuk malam ini. Aku senang bisa berkenalan dan bertemu denganmu."
"Justru aku yang berterima kasih padamu Rukia-chan. Aku sangat senang bisa bertemu idolaku bahkan bisa menjadi teman, tolong jangan lupakan aku ya."
"Tentu saja. Dan terima kasih gelangnya, ini sangat indah. Akan aku jaga baik-baik, Nel." Ujar Rukia sambil memperlihatkan gelang yang terbuat dari permata berkilauan berwarna violet di tangan kanannya.
Nel tersenyum, ia senang rukia menyukai gelang buatannya. Begitu pula dengan Inoue yang sangat senang dan kaget karena mendapatkan gelang yang sangat berharga. Walau pertemuan mereka hanya sebentar tapi mereka bisa dengan mudahnya berteman dengan baik. Nel tidak menyesal datang kemari dan bertemu mereka semua.
Setelah itu Rukia melihat Ichigo dan mengambil kunci mobil. Ia tahu pasti ada hal yang ingin Ichigo sampaikan pada Nel begitupula sebaliknya. Dan ia tidak mau menganggu hal tersebut.
"Aku tunggu di mobil ya. Sampai jumpa Nel." Ujar Rukia lalu pergi meninggalkan mereka.
Inoue juga melihat mereka berdua dan tersenyum.
"Ah aku kelupaan sesuatu di dalam hahaha."ujar Inoue kembali masuk ke dalam rumah Nel. Sebenarnya ia tidak kelupaan sesuatu sih, hanya saja ia tak alasan lain untuk pergi dari situ.
Sekarang tinggal mereka berdua saja. Keadaan menjadi begitu sunyi seketika.
"Sekarang aku tahu kenapa kau tidak bisa melupakannya. Bahkan aku menyukainya dan ingin berteman baik dengannya." Ujar Nel.
Ichigo tersenyum. Nel menyentuh tangan Ichigo.
"Terima kasih sudah mengenalkan ku pada mereka. Dan Ichigo untuk besok kau tidak usah mengantarku ok? Kau harus berangkat ke kantor."
Tatapan Ichigo agak terkejut dan ingin sekali menanyakan perihal mengapa ia tidak usah mengantar Nel. Namun Nel menggelengkan kepalanya, ia tahu apa yang akan Ichigo tanyakan.
Dengan helaan nafas pelan, Ichigo menatap Nel
"Baiklah.. Nel, terima kasih." Ujar Ichigo lalu memeluknya.
Sedangkan Nel tak bisa berkata apa-apa. Ia takut ia menangis seperti tempo hari. Cukup dalam diam memeluknya untuk terakhir kali.
Keduanya berpisah dengan perasaan lega tanpa ada beban ataupun penyesalan. Menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Tanpa mereka sadari, Inoue sedari tadi mengintip dari balik jendela. Walau tak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan tapi tak apa. Yang penting ia bisa melihat ekspresi mereka saat ini. Tampak senang tanpa ada beban atau kesedihan.
"Ternyata hobby mu buruk juga."
Inoue terkejut dan berbalik. Melihat Grimmjow sudah ada di belakangnya dengan senyuman meremehkan. Inoue tidak suka dengan wajah arogannya itu.
"Kau? Hmm… Gri gri gri apa ya?"
Grimmjow menatap sinis Inoue sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Grimmjow Jaegerjaquez."
"Pantas saja kau terlihat asing."
"Heh, kau ngapain masih di sini? Ohya Ulqui balik dan meninggalkan mu. Malang sekali, hahahaha!"
"Sebentar lagi aku akan pulang dengan supir suruhan Nel-chan." Ujar Inoue mengambil tasnya di sofa. Membiarkan Grimmjow menertawakannya. Dan ia tidak mau berlama-lama dengan pria menyebalkan itu.
Grimmjow menatapnya pergi melewatinya. Ia melihat Inoue dan langsung menahan tangannya.
"Aku masih belum memaafkan mu. Ikut aku!"
"Kemana? Aku harus pulang, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan." Ujar inoue menahan tarikan Grimmjow.
"Persetan dengan pekerjaan! Biarkan si kepala jeruk itu pusing kelabakan hahaha! Lebih baik kau ikut aku atau aku beritau kepada semuanya bahwa hobbymu menguping."
Inoue menatap serangaian lebar Grimmjow. Ia tidak takut sama sekali tapi daripada ia memperpanjang masalah lebih baik ia mengikuti kemauannya.
"Baiklah tapi jangan lama-lama ya. Aku harus cepat pulang karena bagaimanapun pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawab ku.."
"Heh dasar sok rajin. Yasudah ayo." Ujar Grimmjow menariknya.
Inoue mengikutinya hingga keluar dan bertemu dengan Nel yang akan kembali masuk.
"Lho Grimmy? Hime-chan?"
"Si kepo ini aku yang antar. Bye Nel!"
"Nel-chan, sekali lagi terimakasih ya . Aku pulang dulu. Hati-hati di jalan, sampai sana jangan lupa hubungi aku ya!" ujar Inoue memeluk Nel lalu pergi masuk ke dalam mobil Ferrari berwarna hitam milik Grimmjow.
Tak lama mobilnya pergi meninggalkan Nel.
Kini Nel sendirian. Ia tersenyum sambil menatap langit.
"Aku akan sangat merindukan kalian semua."
Saat ini Inoue sedang berpacu dengan jantungnya. Bukan karena gugup akan dibawa kemana oleh pria barbar ini. Tapi kecepatan mengemudi Grimmjow bisa dikatakan gila. Untung saja dia tidak jantungan. Setiap mobil maupun motor ia selip dengan lihai bahkan jaraknya hamper berdekatan. Apa dia tidak saying dengan mobilnya ini? Apalagi ini kelihatan seperti mobil yang sangat mahal. Ah tapi ia tidak peduli, yang ia pedulikan adalah keselamatan mereka berdua.
Dengan segala kecepatan dan kelincahan, akhirnya mereka sampai di suatu jalan yang asing bagi Inoue. Bisa dikatakan ini distrik merah, dimana hal-hal berbau dewasa muncul di sini. Bahkan pakaian para perempuan nya tampak minim dengan gaya manja kepada tiap lelaki yang lewat.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya inoue.
"Lihat saja nanti." Ujar Grimmjow dengan senyuman khasnya.
Dengan perasaan waswas dan tidak nyaman, inoue berdoa semoga bukan hal yang aneh dan menyeramkan.
Hingga akhirnya mereka sampai di suatu gedung yang tampak megah dan cahaya yang tampak benderang. Kasino ini berbeda dari yang lain, lebih besar, megah dan mewah. Bahkan pakaian para orang-orangnya seperti mau ke pesta. Begitu banyak mobil mewah terparkir di area gedung kasino tersebut. Dan mobil mereka berhenti tepat di depan gedung tersebut.
"Sampai."
Inoue masih diam sambil memperhatikan sekitarnya. Grimmjow menatapnya,
"Kau dengar tidak sih? Kita sudah sampai."
"Kau yakin? Kita mau apa di sini?"
"kau pikir kita ke sini mau apa? Belanja? Tentu saja gambling! Hahahah! Sudah jangan banyak tanya, dasar bawel. Turun!"
Gambling!? Ia tidak bisa dan tidak mau!
Saat Grimmjow turun dari mobil. Semua orang menatapnya dan langsung berbisik. Bahkan para pekerja di kasino tersebut menghormati nya.
"Selamat datang Grimmjow-sama!"
"Grimmjow-sama!"
Grimmjow membuka pintu mobil sebelahnya, inoue keluar dan semua orang menatapnya.
"Eh itu?"
"Bukannya dia artis papan atas yang sedang hiatus ya?"
"Ada hubungan apa dia dengan Grimmjow-sama?"
Tak lama seseorang mengenakan tuxedo datang menghampiri dan menghormat kepadanya.
"Selamat datang Grimmjow-sama. Suatu kehormatan bagi kami anda mau mampir kemari."
"Hanya kebetulan saja, aku ingin lihat bagaimana kasino ini berjalan."
"Mari ikuti saya. Oh dan siapa nona cantik ini? Hmm sepertinya saya mengetahuinya~"
"A..aku.."
Grimmjow merangkulnya,"Pacarku."
Inoue tercengang, "maksudmu!?"
"Sudah, ikuti saja onna." Bisik Grimmjow pelan.
Mereka masuk ke dalam. Tidak seperti yang Inoue bayangkan. Dalamnya begitu mewah dan tampak menyenangkan. Bahkan mereka tampak santun dan mengikuti aturan. Tidak seperti yang Inoue bayangkan.
Semua orang menyapa Grimmjow dengan baik. Sepertinya Grimmjow merupakan orang penting di sini.
Mereka masuk ke dalam lift dan menuju lantai paling atas. Inoue menunggu dengan harap-harap cemas. Sebenarnya apa yang diinginkan Grimmjow dengan membawanya kemari? Ia tidak bermaksud untuk melelang atau mempertaruhkan nya kan!?
Pintu lift pun terbuka, lantai ini berbeda dari yang sebelumnya. Lantai ini tampak lebih tenang dan anggun dengan karpet berbahan beludru berwarna merah maroon. Dan wallpaper berwarna hitam meninggalkan kesan karismatik.
Mereka bertiga keluar dari lift, melewati lorong hingga akhirnya sampai di suatu ruangan.
Seorang pelayan yang menunggu di depan pintu membungkuk hormat dan membukakan pintu ruangan tersebut.
Pemandangan malam tampak begitu jelas dari kaca-kaca besar yang ada di ruangan tersebut. Bukan hanya itu, terdapat meja kerja sofa serta mini bar.
Grimmjow dan Inoue duduk di kursi minibar. Seorang bartender menyapanya.
"Akhirnya anda kembali lagi kemari, tuan muda. Dan siapa gadis cantik yang ada di sebelahmu?"
"Hanya seorang artis yang sedang hiatus." Ujar Grimmjow lalu mengambil rokoknya dari balik jas.
Inoue menatapnya dan menahan tangan Grimmjow. Grimmjow tersenyum,
"Berani juga kau onna. Merepotkan. Oi seperti biasa." Ujar Grimmjow lalu pergi ke balkon ruangan. Dari sana terlihat Grimmjow yang mulai menyalakan rokoknya sambil menatap pemandangan malam.
Inoue menatapnya dalam diam. Entah kenapa ia bisa merasakan bahwa Grimmjow ini orang yang misterius.
"Tuan muda memang terlihat kasar dan sembrono tapi ia merupakan boss terbaik." Ujar bartender pada Inoue.
"Ah begitu.. Oya, maaf jika terdengar aneh. Kasino ini miliknya? Karena aku melihat semua menghormatinya dengan baik."
"Oh aku kira anda tahu. Tumben sekali, padahal tuan muda hanya mengajak orang yang sangat penting dan ia percayai saja untuk masuk kemari."
"Ah, sebenarnya aku ini temannya teman dekatnya. Hehehehe. Bahkan pertemuan pertamaku dengannya kurang baik."
"Hohoho anda mengingatkan saya dengan nona Madeleine."
"Eh?"
"Jangan suka banyak omong Henry, atau aku ganti kau dengan yang lain." Ujar Grimmjow yang baru saja kembali.
Tubuhnya walau bau tabako tapi wangi parfumnya masih bisa menutupi.
Henry tersenyum dan memberikan minuman yang ia buat pada Grimmjow.
Grimmjow duduk di sebelah Inoue sambil meminum minumannya.
"Kau tidak minum?"
"Ah aku sedang tidak minum."
"Heh, payah."
Inoue melihatnya dan masih kepo dengan perempuan bernama Madeleine yang Henry bilang tadi, tapi sepertinya Grimmjow tidak mau orang lain tahu. Ya mungkin ini cukup privasi sehingga orang luar tidak berhak tahu.
Inoue memperhatikan jam tangannya kembali. Sudah sangat malam bahkan hampir subuh. Gawat, jika ia tidak cepat pulang maka ia harus begadang untuk menyelesaikan segala pekerjaannya.
"Aku rasa aku harus pulang."
"Kerja kantoran itu merepotkan ya. Kalau kau mau, kau bisa kerja padaku."
Inoue menatapnya bingung,
"Maksudnya?"
"Aku selalu mendengar dari si kepala jeruk tentang kinerja mu yg sangat bagus hingga aku muak mendengarnya. Dan aku jadi penasaran, apa benar perempuan seperti mu sebagus itu?"
"Maaf Grimmjow-san, tapi aku masih ingin bekerja di perusahaan Kurosaki-kun. Dan aku harus cepat pulang." Ujar Inoue terus memperhatikan jam tangannya. Gelisah.
Grimmjow menelpon seseorang lalu menatap Inoue. Ia melemparkan sesuatu padanya.
Inoue melihat apa yang ia tangkap dari Grimmjow. Kartu nama berbahan silver yang begitu indah dengan kilap menghiasi. Tertera nama lengkap Grimmjow beserta tanda tangannya serta nama perusahaanya. "Jaegerjaquez Corp."
Ia tahu benar perusahaan asing itu! Perusahaan yang bekerja di bidang property serta alat berat. Produknya dipakai dimana-mana karena terkenal akan kualitasnya.
"Simpan itu."
Grimmjow menyuruh bawahannya untuk mengantar Inoue pulang. Inoue berpamitan dan pergi.
Setelah inoue pergi, Grimmjow menyalakan kembali sebatang rokok.
"Gadis aneh."
"Nona itu begitu mirip dengan nona Madeleine."
"Apanya yang mirip? Ckckck. Dan untuk apa aku membawanya kemari."
Henry menatap Grimmjow yang sedang bingung. "Hahaha mungkin itu yang namanya takdir."
"Kau banyak omong sekali Henry."
Grimmjow teringat wajah Inoue dan ia terkekeh geli
"Sepertinya menarik."
Akhirnya Inoue sampai di rumahnya tadi. Ia sudah mandi dan memakai piyama yang nyaman. Rasanya ia ingin tidur saja sekarang juga tapi mengingat masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, ia mengurungkan niatnya dan duduk di kursi meja kerjanya. Ia siap untuk menuntaskannya!
Jari jemarinya terus menari di atas keyboard laptop, diikuti gerakan matanya yang cepat mengikuti tiap kata yang ia ketik. Untuk membuat dirinya tetap segar dan terjaga, ia membuat secangkir jeruk panas.
Setelah setengah jam mengerjakan pekerjaannya, ia beristirahat sejenak. Mengingat kejadian kemarin yang cukup mengejutkan bagi hidupnya.
"Hari ini, ah tidak ini sudah subuh. Ah pokoknya kemarin itu benar-benar menyenangkan karena bisa bertemu Nel-chan. Dan tentu saja dua orang yang mengejutkanku.. Sebenarnya apa sih yang dipikirkan Schiffer-san dan Grimmjow-san?"
Ia melihat kembali kartu nama dari Grimmjow dan Ulquiorra. Beda ya kartu nama orang penting dengan orang biasa sepertinya. Bahannya benar-benar bagus, bahkan milik Ulquiorra ada permata di bagian nama perusahaan nya. Benar-benar elite.
Untung saja Ichigo merupakan boss yang baik dan tidak sombong. Sehingga ia masih setia dengannya dan ia berterima kasih padanya, berkat Ichigo dan pamannya ia bisa bekerja kantoran tanpa repot.
Apalagi dia yang sedang hiatus saat ini. Tapi ia masuk ke perusahaan bukan hanya karena ada orang dalam, ia juga mengikuti interview dan memberikan surat CV sebagai prosuder melamar perusahaan Ichigo. Sehingga orang-orang tidak akan berpikir yang bukan-bukan.
Walau sekarang inoue sibuk dengan pekerjaan kantoran nya tapi ia masih setia membalas para fans yang ingin mengetahui kabar terkini nya sekarang. Ia juga masih aktif di Kimitube dan Bleagram untuk endorsement atau berbagi vlog.
Inoue tersenyum melihat komenan di vlog nya tapi ada sesuatu yang mengganjal.
'Inoue-sama, tolong jelaskan siapa pria yang bersamamu tadi siang!?'
'Pria mana?!'
'Cek fotonya sekarang! Sedang viral!'
'Oh aku tahu! Pria itu bukannya pengusaha kaya dan tampan ya!?'
'Lah? Tadi aku melihatnya di area Roppongi bersama seorang laki-laki tampan berambut biru. Aku rasa itu pacarnya!'
'Roppongi mana!? Yakin!? Mana mungkin sih,'
Inoue terus membaca semua komentar yang tidak berujung itu dan ia tercengang. Secepat itu kah netizen mengintainya!? Hiyaah bisa-bisa ini semua menjadi salah paham terbesar. Ini bukan kali pertamanya ia diisukan memiliki hubungan spesial dengan seorang laki-laki.
Dulu saat pertama kali ia bekerja di perusahaan Ichigo dan berita menyebar baik di media manapun terutama di internet. Ada yang menyangka ia jatuh miskin dan terlilit hutang sehingga hiatus dan bekerja kantoran. Ada yang bilang bahwa ia stress. Dan parahnya ada yang mengira ia masuk ke kantor Ichigo karena Ichigo merupakan pacarnya dan mereka akan segera menikah. Benar-benar gila! Ia bersumpah ingin sekali menemui dalang dari berita tersebut! Dan demi kenyamanan semua orang terutama dirinya ia memberikan klarifikasi dan keadaan dirinya yang baik-baik. Setelah itu ya terserah.
Semua berita tak berujung tanpa adanya kebenaran. Tapi untungnya sifat Inoue yang cuek dan happy go lucky tidak membuatnya menjadi stress atau bagaimana. Cukup jalani saja dan menjadi dirinya sendiri.
Setelah berkutik 2 jam lebih akhirnya selesai juga. Rasanya semua beban terangkat dari pundaknya. Benar-benar melegakan! Ia sudah mengirim semua file-file yang ia kerjakan pada Ichigo.
"Beres! Hah… leganya! Oh sudah ada balasannya, aku kira Kurosaki-kun belum tidur." Ujar Inoue sembari membuka balasan dari Ichigo.
From : Kurosaki-kun
Subject : Good job
Filenya sudah aku terima. Kerja bagus, sekali lagi terima kasih Inoue. Sekarang tidurlah dan sebagai gantinya nanti kau dating siangan saja. Aku yakin bangun pagi dan tidur hanya 2 jam itu sungguh menyiksa. See you.
Membaca pesan itu Inoue langsung menjerit girang.
"Yey! Kurosaki-kun memang boss terbaik! Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak!"
Inoue langsung mematikan laptop dan lampu kamarnya.
Ia langsung menghambur diri nya ke kasur dan tertidur lelap.
Saat ini Ichigo sedang mengerjakan sesuatu di tabletnya di balkon belakang dengan pemandangan halaman yang dipenuhi oleh pohon sakura dan kolam berisi ikan-ikan koi yang indah. Suasananya begitu sejuk dan sunyi, hanya suara pancuran air dari bamboo dan tiupan angin. Beginilah subuh hari di mansion Kuchiki.
Karena sudah sangat larut, kakek menyuruhnya untuk menginap dan di sinilah ia berada.
Rukia menggeser pintu balkon sambil membawa baki berisi teh hijau panas dan dango.
Ia duduk di sebelah Ichigo dan menggeser baki itu ke dekatnya
"Ini coba."
"Ga diracun kan?"
"Enak saja. Dijamin enak, coba deh."
Ichigo memakan dango tersebut, begitu lembut wangi dan enak. Setelahnya ia meminum teh hijau dengan aroma yang wangi, membuat dirinya hangat dan rileks.
"Enak."
"Tentu saja, karena aku yg buat."
"Heh masa sih? Nyuci piring saja kau tak bisa."
Ya memang benar sih, ia jadi ingat saat mencuci piring di rumah Ichigo dan berakhir tragis karena Ichigo harus membeli piring-piring baru berkat Rukia.
Rukia tersenyum kecil mengingat kejadian tersebut,
"Oya, gara-gara mengantarkanku jadinya kau harus menginap di sini."
"Hahaha, tak apa. Untungnya aku selalu membawa baju ganti di mobilku. Btw, kapan Byakuya kembali?"
"entahlah, kalau urusannya sudah selesai ia akan pulang. Ah udah jam segini ternyata, aku harus tidur." Ujar Rukia melihat jam di hp menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Hmn ok."
Rukia kembali ke kamarnya. Sedangkan Ichigo masih betah di balkon.
-sret!-
"Ada apa Rukia? Ada yang-"
Ichigo melihat seorang laki-laki dengan rambut panjang hitam dan wajah yang tampan. Berdiri tepat di belakangnya. Ia masih mengenakan kemeja berwarna putih dan celana kain berwarna biru dongkee dengan garis-garis horizontal.
Matanya menatap dingin Ichigo,
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya nya.
"Oh byakuya! Kau sudah kembali." Sapa Ichigo dengan senyuman tersungging di wajahnya.
"heh, bicara denganmu sama saja dengan bohong. Dan itu bukannya bajuku?"
Ichigo melihat yukata yang ia kenakan.
"Ohya tadi kakek yang memberikannya. Sebenarnya aku mau pulang cuma aku disuruh menginap di sini."
"Hm begitu. Yasudah, asal kau tidak macam-macam dengan Rukia," ujar Byakuya langsung pergi dari tempatnya.
Ichigo terdiam, ada-ada saja. Tidak kakek atau kakaknya, sama-sama protektif terhadap Rukia.
"Ah lebih baik aku kembali ke dalam deh, udaranya semakin dingin di sini!" ujar Ichigo merasakan dinginnya malam memasuki sela-sela pakaiannya.
Ia masuk ke dalam dan berjalan menuju kamarnya yang berada diujung koridor. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat kamar Ryuu sedikit terbuka. Mau apa dia malam-malam begini? Apa dia mimpi buruk dan menuju kamar Rukia? Tanpa pikir panjang ia menuju kamar Ryuu dan mengintip.
Dari balik kegelapan seseorang menutup jendela kamar Ryuu yang terbuka. setelah itu ia kembali mendekati dimana Ryuu tertidur. Setelah dilihat lebih teliti, ternyata itu Byakuya.
Byakuya menatap anaknya dalam diam. Setelah istrinya, Hisana, meninggal dunia setelah melahirkan Ryuu, perasaannya menjadi kaku dan dingin. Saking cintanya dengan Hisana ia bahkan tidak bisa melupakannya hingga saat ini, bahkan ia berharap Hisana tidak meninggal dan memilih dirinya saja yang menggantikannya. Bohong jika ia tidak merasakan rasa penyesalan dan kesal terhadap anaknya. Padahal bukan salahnya bahwa ia lahir ke dunia ini. Hisana yang menginginkannya. Ingin anaknya bisa melihat dunia dan tumbuh besar bersama orang-orang yang menyayanginya.
Tapi Byakuya, tidak bisa memberikan semua itu. ia memilih untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang tak kunjung usai, bahkan ia hampir tidak ada di rumah. Sudah jelas ia menghindari Ryuu dan menyerahkannya pada sang adik, Rukia.
"Mommy.."
Byakuya agak terkejut mendengar ocehan kecil Ryuu saat ia tertidur. Sepertinya ia memimpikan sesuatu. Dengan penuh pertimbangan, ia mencoba untuk menyentuh wajah lembut Ryuu yang sedang terlelap. Tiba-tiba sekelebat ingatan dirinya akan Hisana muncul, ia langsung menarik kembali tangannya. Dengan cepat dirinya langsung pergi meninggalkan kamar Ryuu. Mungkin ini belum saatnya.
Tanpa ia ketahui, Ichigo bersembunyi di balik pilar. Kenapa bisa Byakuya sedingin itu terhadap anaknya sendiri? Melihat itu rasanya ia kesal, entah kenapa.
Ia menoleh ke segala sisi, memastikan Byakuya sudah kembali ke ruangannya. Dengan langkah pasti, ia masuk ke dalam kamar Ryuu. Masih tertidur lelap.
Ichigo mendekati Ryuu lalu membetulkan selimut yang dipakainya.
"Hm..? Oh, paman..?"
Ryuu terbangun dengan mata masih mengantuk.
"Oh maaf, aku membangunkanmu ya?" tanya Ichigo dengan perasaan bersalah.
Ryuu menggelengkan kepalanya, "Tidak kok.. Paman jadinya menginap di sini ya?"
"Iyaa, kakek yang menyuruhnya. Ya sudah kalau gitu ayo tidur lagi."
"Ok.. tapi aku pipis dulu sebentar." Ujar Ryuu bangun dari tempat tidurnya.
Ichigo menuntunnya hingga kamar mandi setelah itu mereka kembali lagi ke tempat tidur.
"Paman.. boleh aku minta sesuatu padamu?"
"Hmm apa itu?"
Ryuu memendamkan setengah kepalanya ke dalam selimut, ia menatap Ichigo.
"Mau tidak paman temani aku tidur?"
Ichigo tersenyum dan mengusap lembut kepala Ryuu. Memang sih rasanya sepi juga kamar seluas ini dengan kasur yang luas hanya di isi satu anak kecil. Ia masih ingat dulu saat masih kecil ia masih suka tidur dengan ibunya. Saat itu merupakan hari-hari yang membahagiakan baginya. Berada dalam dekapan orang yang sangat kita sayangi. Dan ia tidak bisa merasakannya sekarang, bahkan selamanya. Sehingga ia mengerti apa yang dirasakan oleh Ryuu walaupun ada Rukia di sisinya.
"Tentu saja."
Ichigo mulai tiduran di sebelah Ryuu. Sebelum tidur, Ryuu meminta untuk diceritakan suatu dongeng. Ia ingat dulu ibunya juga suka menceritakan dongeng sebelum tidur. Untung saja ia masih ingat dengan ceritanya. Ternyata hal itu bisa bermanfaat juga sekarang.
Tak sampai 10 menit, Ryuu sudah kembali terlelap. Ichigo pun menguap dan mulai menutup matanya.
"Good night, little dragon."
.
.
.
.
.
To be continue..
Ya sekian dulu untuk chapter ini. Terima kasih yang sudah membacanya. *kiss*
Preview for next chapter :
"Mom, kenapa aku tidak punya papa?"
"Soal itu..."
"Ada kiriman paket untuk anda, Inoue-sama."
Inoue terbelalak melihat balkon depan rumahnya dipenuhi beberapa bucket bunga dan kotak-kotak mewah berwarna silver, saat dibuka isiya..
"Apa maksudnya semua ini?"
"Did you miss me?"
"Kau mabuk!"
