Untuk sekian lama akhirnya bisa update juga, maaf untuk keterlambatannya.

Tanpa panjang lebar, selamat membaca!

Bleach by Tite Kubo, Story was mine.


CHAPTER 5 : Small Torn

Mentari mulai bersinar terang menyinari muka bumi, semua orang sudah mulai bangun untuk mengawali aktivitas mereka. Namun berbeda dengan seorang gadis yang masih terlelap dalam tidurnya. Beruntunglah ia karena memiliki boss yang sangat baik hati serta pengertian sehingga dirinya bisa mendapatkan hari libur dadakan. Itu juga sebagai bayaran karena telah membuat dirinya lembur hingga tadi subuh.

-RING! RING! RING!-

Suara bel berbunyi nyaring di rumahnya. Siapa pula yang bertamu sepagi ini? Seingatnya ia tidak memiliki janji dengan siapapun.

"Permisi! Pakeet!" seru suara laki-laki dari luar gerbang.

Tak ada sautan sama sekali, karena sang pemilik rumah masih terlelap. Namun, sang pengantar paket terus memenceti bel rumah.

Hingga akhirnya sang pemilik rumah membuka matanya secara terpaksa, dengan wajah masih mengantuk ia beranjak dari kasurnya. Ia tak menyangka di luar sudah terang benderang dan kamarnya begitu gelap berkat gorden merah maroon miliknya. Dengan cepat ia membuka tirai itu dan langsung merasa silau oleh sinar matahari.

Ia langsung mencuci wajahnya di wastafel dan menggosok gigi. Tidak mungkin ia keluar dengan muka bantal seperti tadi, bisa-bisa paparazzi jahat menulis hal yang tidak-tidak nanti.

Dengan cepat ia keluar kamar dan melihat ke arah monitor yang menunjukkan CCTV luar gerbang. Ternyata itu tukang pengirim paket, pantas saja dia tidak mau beranjak dari tempatnya.

Tapi ada yang aneh. Ia merasa tidak memesan apapun. Oh atau bisa jadi itu dari para fans yang biasanya suka mengiriminya hadiah.

Ia langsung memakai cardigan sepanjang mata kaki berwarna biru dongker. Lalu mengambil kunci dan membuka pintu.

Saat mendengar pintu dibuka, sang pengantar paket tersenyum lebar dari balik gerbang. Gadis itu langsung membuka kunci gerbang rumahnya.

"Aduh, maaf ya lama.. aku baru saja bangun.." ujar gadis itu sambil membuka gembok gerbang rumahnya.

Dengan wajah ramah dan tersipu malu, ia tersenyum, "Ti-tidak apa-apa.. A-apakah anda nona Inoue Orihime?"

Orihime tersenyum, "Betul sekali."

"Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda sedekat ini! Ah maaf jadi ngelantur.. Silahkan tanda tangan di sini." ujar sang kurir begitu senang sambil memberikan kerta dan pen untuk Orihime tanda tangani.

Ia megambil kertas tersebut dan pen yang dipinjamkan kurir lalu menandatanganinya.

"Jika aku boleh tahu darimana paket ini ya? Seingatku aku tidak memesan apapun atau mendapatkan pesan dari klien ku." Ujar Orihime, biasanya ada juga client yang mengiriminya produk untuk ia review di social medianya. Tapi biasanya itu melalui persetujuan dirinya dan tidak langsung dikirimi tanpa ia ketahui seperti ini.

"Oh ini dari Tuan Grimmjow Jaegerjaquez." Ujar kurir.

Inoue makin terkejut karena ia mendapatkan sesuatu dari laki-laki yang baru saja ia temui kemarin. Lagipula darimana ia tahu alamat rumah ini?! Padahal alamat ini sangatlah rahasia, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Ah mungkin saja ia bertanya kepada Ichigo, tapi rasanya tidak mungkin kalau Ichigo memberitahukan alamat bawahannya semudah itu.

Orihime hanya bisa berdiri mematung sambil terus berpikir darimana Grimmjow mengetahui alamat rumahnya.

Setelah menerima tanda tangan dari Orihime, ia langsung menuju mobil pick up dan mengambil paketnya.

Orihime makin terkejut saat sang kurir mengangkat box berukuran besar dibungkus dengan kertas berwarna silver dengan pita besar berwarna hitam berbahan sutra.

"Maaf Nona Inoue, ini cukup berat, mau diantarkan ke dalam?"

"Ah tidak apa-apa, aku bisa membawanya." Ujar Orihime lalu menerima paket tersebut. Cukup berat tapi masih bisa untuk ia bawa.

Kurir itu pun membungkuk hormat, "Baiklah kalau begitu. Saya permisi dahulu, semoga hari anda menyenangkan." Ujar kurir dengan ramah.

"Terima kasih banyak!"

Sang kurir melambaikan tangannya lalu pergi.

Ia langsung masuk ke dalam lalu mengunci gerbangnya kembali. Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu mengunci gerbang saat dirinya tinggal sendiri seperti ini, apalagi dulu ada kejadian tidak mengenakkan terjadi dan membuatnya trauma.

Saat masuk ke dalam rumah, ia dengan cepat menyimpan box tersebut di ruang tengah. Makin lama semakin terasa berat! Tangannya agak gemetaran karena mengangkat terlalu lama. Lagipula apa sih isinya? Bukan yang aneh-aneh kan?

Tak lama telpon rumahnya berdering, membuatnya terkejut seketika.

Dengan cepat ia mengangkat telpon tersebut.

"Halo?"

"Oi onna, kau sudah terima paketnya?"

Orihime sangat mengetahui siapa pemilik suara arogan tersebut.

"Sudah.. lagipula ada apa kau mengirimiku paket ini, Jaegerjaquez-san?"

"Hah.. jangan sok formal begitu, aku muak mendengarnya. Btw, cepat buka dan lihat isinya. Aku yakin kau menyukainya!"

"Baiklah kalau begitu aku matikan telpon-"

"Hah?! Janganlah!"

"Tapi kan aku mau membuka paket darimu, lalu kau mau apa? Diam saja begitu? Mendengarkan aku yang membuka paket ini?"

"Cih kau ini tidak ada manis-manisnya. Yasudah."

-tut tut tut tut-

Orihime hanya menggelengkan kepalanya, baru kali ini ia menemukan laki-laki seperti Grimmjow.

Dengan cepat Orihime membuka bungkusan box tersebut dengan sangat hati-hati dan rapi. Setelah selesai membuka bungkusannya, ia mengangkat tutup box tersebut dengan perlahan sambil mengintip isinya. Entah mengapa jantungnya berdetak cepat, takut isinya yang aneh-aneh.

Matanya terbelalak saat melihat keseluruhan isi dari box tersebut. Ada beberapa box kecil tersusun rapih di dalamnya.

Ia mengambil salah satu box kecil tersebut dan membukanya.

Isi box pertama merupakan sebuah dress panjang warna merah maroon berbahan sutra dengan belahan pinggir, talinya mengikat ke leher, dan punggungnya terbuka lebar sehingga pemakainya nanti dapat memperlihatkan punggungnya yang indah. Bahannya benar-benar halus dan keliahatannya nyaman untuk dikenakan. Saat ia melihat merknya, ia terkejut bukan main. Ini dress dengan merk high end yang baru saja liris dan limited edition.

"Tapi apa muat? Lagipula dia tidak tahu ukuran bajuku kan?"

Penasaran, ia langsung mencoba dress tersebut. Saat dicoba, ternyata ukurannya pas! Ia menatap ke arah kaca, lekukan tubuhnya terlihat jelas. Baju itu benar-benar indah dan seksi tentunya.

"Se-seksi sekali.." ujar Orihime agak malu.

Walaupun sebenarnya ia sudah biasa memakai baju seperti ini tapi itu karena tuntutan pekerjaan, biasanya untuk menjadi model atau sedang berakting. Ia juga suka mengenakannya saat pergi ke acara-acara penting. Tapi untuk sehari-hari, Orihime lebih suka mengenakan baju atau dress simple yang manis.

Ia pun langsung mengganti kembali pakaiannya dengan piyama. Lalu menggantung dress tersebut di dekat lemari baju. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah untuk melihat kembali isi box yang lain. Selain box-box kecil tadi, ada 3 botol wine yang cukup mahal dan dengan kualtas terbaik.

"Padahal aku kurang suka minum.." ujar Orihime menyimpan 3 botol wine tersebut di kabinet dapurnya.

Ia pun membuka beberapa box yang lain. Isinya tak kalah menarik dari yang sebelumnya. Ada high heels berwarna rose gold yang cantik, sneaker berwarna putih, tas berwarna hitam dengan merk high end, dan yang terakhir adalah gelang berbahan emas putih dengan tali yang kecil dan tipis dengan hiasan berbentuk snowflake yang dikelilingi oleh berlian-berlian kecil.

Orihime mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa benar ini untuk dirinya? Dan untuk apa semua barang ini?

"I-ini maksudnya apa? Kenapa dia mengirimiku semua ini?"

-Ting tong!-

Siapa lagi yang bertamu ke rumahnya sepagi ini? Apa tukang pengirim paket lagi?

Ia langsung melihat ke arah monitor cctv di depan gerbang rumahnya. Kali ini bukan seorang kurir melainkan seorang pengantar bunga. Ia sudah bertengger di depan gerbang sambil membawa sesuatu yang sangat besar. Karena penasaran, ia langsung keluar dan menuju pintu gerbang rumahnya.

Orihime membuka pintu gerbang rumahnya dan terkejut melihat buket bunga rose yang begitu besar dan cantik.

"Selamat pagi, Nona Inoue! Ini ada kiriman bunga untuk anda." Ujar pengantar bunga memberikan box berbentuk bulat berwarna hitam dengan garis-garis emas. Begitu elegan dan mewah, isinya terdiri dari kurang lebih 100 bunga rose puth tersusun rapi memenuhi box tersebut.

"Maaf tapi dari siapa ya?" tanya Orihime sembari memegangi buket bunga tersebut, agak kewalahan saking besarnya.

"Ah ini ada kartu ucapannya. Kalau begitu, saya permisi dahulu nona Inoue." Ujar pengantar bunga lalu pergi menaiki mobilnya.

Orihime menatap kartu ucapan berwarna hitam dengan bahan yang lembut.

"'From Ulquiorra Schiffer.' Hah?! Schiffer-san?!"

Orihime tampak terkejut. Untuk apa dia mengiriminya bunga?

Baru saja ia mendapatkan barang-barang mewah dari Grimmjow dan sekarang ia menadapatkan bunga dari Ulquiorra. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kedua orang itu sih? Padahal mereka belum lama kenal, baru kemarin lho mereka bertemu dan kenalan.

'Jika ada yang menawarimu yang aneh-aneh, jangan terima!'

Seketika Orihime teringat kembali perkataan Ichigo tempo hari yang lalu. Ah mungkin mereka berdua memberikan semua barang ini untuk menarik perhatiannya agar mau terbujuk masuk ke perusahaan mereka. Apalagi kemarin keduanya sangat menginginkan Orihime untuk pindah kerja ke perusahaan mereka. Setelah mengingat semua itu, Orihime sadar ini semua pasti ada maksudnya. Dan inilah maksudnya, sogokan yang pas untuk seorang wanita. Namun sayangnya Orihime bukan tipe yang gampang terbuai oleh barang-barang seperti itu. Ia malah merasa aneh dan bingung, apalagi didapatkan dari orang yang belum lama ia kenal. Berbeda jika itu berasal dari para fansnya, ia sangat mengharagai dan menyayangi semua pemberian dari mereka.

"Hah tapi tetap saja aku tidak akan terbujuk dengan semua ini.." ujarnya dengan bangga sambil menggelengkan kepalanya.

"Matahari sudah di atas kepala dan kau masih memakai piyama? Aktris macam apa sebenarnya kau ini?"

Orihime terkejut sambil menoleh ke arah suara yang tidak asing baginya.

Sejak kapan Grimmjow beserta mobilnya sudah bertengger di dekat rumahnya!? Anehnya lagi kenapa ia tidak menyadarinya? Apa dia terlalu banyak berpikir sehingga tidak fokus dengan yang lain?! Ini benar-benar gawat, Orihime. Kau tidak boleh seperti ini lagi lain kali!

"Sedang apa kau di sini Jaegerja- erm.. maksudku.. Grimmjow-san?"

Grimmjow mengunci mobilnya dan mendekati Orihime lalu melihat bunga yang saat ini ada di tangannya. Ia juga membaca kartu ucapan itu lalu tersenyum meremehkan.

"Sialan si stoic itu. Aku tak menyangka dirinya yang kaku dan dingin bisa memberikanmu bunga seperti ini." Ujar Grimmjow terkekeh geli.

"Kau belum menjawab pertanyaanku Grimmjow-san."

"Ckckck, sebagai tuan rumah yang baik seharusnya kau menyambut tamumu terlebih dahulu." Ujar Grimmjow.

Orihime mengerti maksudnya namun ia tidak terlalu mengenali Grimmjow, bukannya ingin berprasangka buruk. Namun karena kejadian buruk pernah menimpanya dulu, sehingga dirinya sedikit waspada dengan orang yang ingin masuk ke dalam rumahnya. Ia hanya memperbolehkan orang yang sangat ia percayai saja.

"OI, kau ini dengar tidak sih? Tidak lihat aku kepanasan di sini?" ujar Grimmjow sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Padahal di luar sama sekali tidak panas, malah terasa dingin karena sudah memasuki musim gugur.

Orihime terdiam sejenak sambil berpikir. Rasanya tidak enak juga kalau ia tidak memeperbolehkan Grimmjow masuk ke dalam rumahnya, apalagi ia sudah memberikan banyak sekali barang padanya.

Grimmjow terus memperhatikannya dengan gayanya yang kegerahan. Benar-benar menyebalkan pikir Orihime. Mungkin untuk kali ini saja ia akan membiarkannya masuk.

"Silahkan masuk." Ujar Orihime sedikit terpaksa.

Grimmjow mengikuti Orihime masuk ke dalam rumah. Sebelum itu, ia kembali mengunci gerbang rumahnya. Grimmjow memperhatikan sekitar rumahnya, taman di halaman depan rumahnya cukup luas dan terawat. Halamanya begitu bersih dengan tanaman-tanaman yang indah dan tertata cukup rapi. Bisa dipastikan kalau Orihime orang yang apik dan sangat memperhatikan sekitarnya.

Grimmjow membuka sneakernya, sedangkan Orihime langsung menyimpan buket bunga itu di atas meja di ruang tengah. Setelah itu ia langsung menyiapkan 2 gelas minuman berisi jus lemon untuk dirinya dan Grimmjow.

Grimmjow melihat sekeliling rumah Orihime dan memperhatikan tiap detail rumahnya. Dalamnya cukup luas, bersih dan wangi vanila. Ruang tengahnya tersambung dengan pintu kaca menuju halaman belakang, ada gazebo kecil dan kolam renang berbentuk persegi panjang dengan tanaman-tanaman di sisi-sisi kolam renang. Keadaannya cukup sejuk dan aesthetic, cocok dengan image Orihime.

Setelah cukup puas melihat seluk beluk rumah Orihime, ia kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa sambil meminum jus lemon suguhan Orihime tadi. Ia melihat box pemberiannya sudah dibuka oleh Orihime.

"Ternyata kau sudah membukanya, jadi bagaimana? Itu semua pilihan terbaik dariku untukmu." ujar Grimmjow dengan bangga.

Orihime tidak menanggapi pertanyaan Grimmjow, ia malah kembali ke dalam kamar. Setelah itu keluar membawa dress pemberian Grimmjow lalu menyimpannya kembali ke dalam box beserta barang-barang lainnya.

Bingung akan perilaku Orihime, Grimmjow langsung menghentikan aksinya tersebut.

"Maksudnya apa?" tanya Grimmjow dengan wajah terkejut sambil menautkan kedua alisnya.

Orihime merengut sambil menatapnya, "Aku menyukainya dan semuanya begitu indah. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Ini aku kembalikan." Ujarnya melepaskan tangan Grimmjow dan melanjutkan merapihkan box tersebut.

"Maksudnya? Hei!" Grimmjow langsung menarik tangan Orihime dan jarak mereka begitu dekat. Orihime terkejut dan menatap arah lain.

'De-dekat sekali..'

Grimmjow baru sadar dan langsung melepaskan tangannya. Sedangkan Orihime hanya terduduk diam.

Grimmjow menghela nafas, "Hah.. Kau ini perempuan yang aneh, seharusnya kau senang dengan segala pemberianku."

"Justru aku ingin tahu alasanmu memberikan semua ini padaku. Apa jangan-jangan kau memberikan semua ini karena ada maksud lain?"

Grimmjow baru sadar aka napa yang Orihime pikirkan terhadapnya. Ia pun menghela nafas kembali sambil menatapnya malas, "Heh dengar ya onna. Aku tidak akan menggunakan trik murahan seperti itu, jika aku mau aku bisa memaksamu masuk perusahaanku tanpa harus basa-basi seperti ini."

Orihime menatapnya dalam diam. Jika dipikir-pikir, memang benar sih apa kata Grimmjow. Tidak mungkin orang seperti Grimmjow mau berbasa-basi memberikan semua ini padanya. Berarti selama ini ia sudah berburuk sangka padanya. Seketika wajahnya memerah karena malu.

"Ma-maafkan aku telah berprasangka buruk!" ujar Orihime sambil membungkuk meminta maaf.

"Entah kau ini sudah teracuni oleh si kepala jeruk atau memang setia dengannya. Yang jelas aku tidak punya niatan seperti itu."

'Aku memberikan ini semua karena mau saja, dan rasanya semua itu cocok untukmu.' ucap Grimmjow dalam hati. Ia tidak mungkin bicara seperti itu pada Orihime, bisa-bisa harga dirinya jatuh.

Orihime tidak menyangka bahwa Grimmjow bisa berbuat seperti itu, padahal kan mereka baru saja ketemu. Walaupun sebenarnya ia juga sering mendapatkan banyak hadiah dari para lelaki yang baru saja ia temui tapi kali ini rasanya berbeda.

"Heh daripada kau diam tidak ada sebab seperti itu, lebih baik kau mandi dan bersiap-siap. Kita maka di luar. Aku yakin masakanmu tidak enak."

"Ya ampun kau ini benar-benar ya.. baiklah kalau begtiu, tunggu sebentar. Ohya aku lupa untuk menyuguhkan camilan untukmu." Ujar Orihime langsung menuju kulkas untuk memotong dark chocholate cake pada piring kecil berwarna biru muda dengan corak bunga. Ia memberikannya pada Grimmjow.

"Silahkan!" ujarnya lalu kembali ke dalam kamar.

Grimmjow langsung memakan kue tersebut sambil menonton TV. Setelah kuenya habis, ia mulai rebahan di sofa dan menguap sesekali karena suasana di rumah Orihime begitu tenang. Apalagi dengan hembusan angin sejuk dari arah halaman membuat matanya semakin berat.

Sekitar 45 menit kemudian Orihime akhirnya selesai. Ia keluar dari kamarnya menggunakan midi dress santai berwarna hitam dengan motif bunga sakura berwarna emas, ia mengepang samping rambutnya tak lupa jepitan khasnya yaitu jepit berbentuk snowflake yang tersemat di sisi kanan kepalanya. Tas kecil berwarna beige tersoren di bahu kirinya. Ia begitu manis dan anggun.

Melihat Orihime yang sudah siap, Grimmjow langsung bangun dari sofa dan berjalan keluar rumah. Orihime mengikutinya hingga mereka masuk ke dalam mobil.

Orihime memperhatikan isi mobil Grimmjow, dalamnya begitu bersih dan wangi. Ia juga menatap Grimmjow yang tampak serius saat menyetir. Padahal mereka tidak terlalu kenal satu sama lain, tapi entah kenapa ia mau saja diajak pergi dengan Grimmjow. Ia juga tidak merasa was-was atau merasakan bahaya dari Grimmjow padahal Grimmjow orang yang seenaknya dengan ucapan yang pedas.

Setelah 20 menit perjalanan dikarenakan macet, akhirnya mereka sampai di suatu bar ternama dengan live music yang merdu dengan penyanyi jazz yang handal. Orang-orang yang datang ke sana menikmati makan dan minum mereka sambil bercakap-cakap. Ini pertama kalinya Orihime mendatangi tempat seperti ini. Ia cukup menyukai pemandangan dan suasana baru seperti ini.

Mereka masuk ke dalam dan Grimmjow tampak akrab dengan para pekerja bar yang ada di situ. Mereka diarahkan ke tempat yang berada di pojokan agar tidak terlalu kelihatan oleh orang lain, apalagi mengetahui sosok Orihime adalah seorang artis ternama yang sedang hiatus dan sosok Grimmjow yang sangat mencuri perhatian.

"Wah, saya tidak menyangka tuan Grimmjow membawa nona Inoue kemari. Silahkan menunya," ujar seorang pelayan menyapa mereka berdua.

"Kalau aku seperti biasa," ujar Grimmjow sambil memainkan HPnya.

Sedangkan Orihime melihat-lihat makanan dan minuman yang ada di menu setelah itu ia langsung memesannya.

"Aku mau wagyu tenderloin steak dengan bumbu mushroom ya. Minumnya air putih."

"Baiklah mohon ditunggu," ujar pelayan mencatat pesanannya lalu pergi.

Inoue masih terpukau dengan café yang mereka datangi, kesannya begitu kental dengan gaya koboi amerika. Terasa cozy dan hangat.

"Kau baru pertama kali ke tempat seperti ini?" tanya Grimmjow yang sedari tadi memperhatikan Orihime.

Orihime hanya tertawa kecil, "Hehehe, kok tau sih?"

"Tau lah kelihatan dari tampangmu itu, aku seperti sedang membawa orang udik kemari." ujarnya dengan senyuman menyeringai.

Orihime hanya terkekeh dengan ucapan Grimmjow yang seenak jidat, ya namanya juga Grimmjow.

"Oh iya Grimmjow-san.. Memangnya kau tidak sibuk?"

"Heh, kau pikir aku ini siapa? Aku bukan si kepala jeruk yang sok sibuk padahal punya orang-orang handal di sekitarnya."

"Baiklah boss Grimmjow.."

Orihime memilih untuk diam sambil memainkan HPnya. Mereka fokus dengan HPnya masing-masing dan tidak bicara sama sekali. Tak lama pesanan mereka datang, Orihime terbelalak saat melihat hidangan yang tersaji di hadapan Grimmjow. Satu potong chocolate cake tersaji dengan indah dan harum, tak lupa secangkir kopi americano yang pahit di sebelahnya. Ia tak menyangka bahwa Grimmjow suka makanan manis, pantas saja kue yang tadi ia suguhkan langsung habis. Cukup mengejutkan karena agak kontras dengan imagenya saat ini.

"Kenapa kau lihat-lihat? Mau?" tanya Grimmjow menyendok kue tersebut dan melahapnya.

Orihime menggelengkan kepalanya, "Aku tidak menyangka kau menyukai makanan manis seperti itu. Tad ikan baru makan cake, apa kau tidak merasa mual?"

"Heh, asalkan enak kenapa tidak? Aku yakin masakanmu lebih bikin mual dibandingkan ini."

"Teganya, padahal kau belum pernah mencicipi masakanku. Heh, baiklah aku akan tunjukkan padamu bahwa masakanku ini layak."

Grimmjow menyeringai, "Heh, kita lihat saja nanti."

Orihime langsung merasa semangat dan memikirkan makanan apa yang akan ia suguhkan nanti untuk Grimmjow. Sebenarnya ia sudah lama sekali tidak masak masakan rumit, ia hanya masak seadanya saja atau makan di luar.

Ngomong-ngomong makan di luar, sudah lama sekali Orihime tidak makan keluar dengan seorang laki-laki. Terakhir ia keluar makan dengan seorang actor lawan mainnya dan setelah itu ia diisukan memiliki hubungan khusus dengan lawan mainnya tersebut. Dasar media gossip, tidak pernah bisa lihat orang bersama-sama. Tapi berkat berita tersebut, drama yang dibintangi Orihime waktu itu langsung melejit dengan rating paling tinggi diantara yang lain. Namun untuk saat ini ia berharap hal itu tidak terjadi. Ia tidak mau merepotkan Grimmjow dan namanya jadi tersorot karena jalan bersamanya saat ini. Masalahnya, Grimmjow bukanlah orang biasa. Ia cukup terkenal di kalangan anak muda sukses dan masuk ke dalam jajaran anak muda paling kaya di dunia. Bahkan dirinya juga masuk ke dalam headline news dan majalah-majalah bergengsi yang mengulas tentang lifestyle papan atas. Bisa dibayangkan apa jadinya jika orang lain terutama para media melihat mereka saat ini.

-Poing poing-

HP Orihime berbunyi tanda email masuk, ia melihat email tersebut yang berasal dari Grimmjow. Ia menatap Grimmjow dengan bingung dan Grimmjow mengerti apa yang ingin Orihime tanyakan padanya.

"Itu undangan untuk party yang akan aku adakan akhir minggu ini, dan kau harus datang."

Orihime membuka undangan virtual tersebut, isinya begitu indah dan glamour. Diadakan di villa pribadi milik Grimmjow yang letaknya jauh dari keramaian kota dengan pemandangan indah dari atas bukit. Banyak sekali tamu undangan ternama yang akan menghadari acara tersebut dan ini bukan acara sembarangan. Maka dari itu hanya orang-orang tertentu saja yang diundang kemari.

Sudah lama sekali Orihime tidak datang ke acara seperti ini, rasanya jadi gugup. Acaranya diadakan akhir minggu ini dan ia tidak memiliki janji dengan siapapun di hari itu. Kalau begitu, ia harus mempersiapkan segalanya untuk datang ke acara nanti.

'Apa aku pakai baju pemberiannya saja ya? Tapi rasanya malu.. Itu terlalu sexy..' pikir Orihime.

"Baiklah terima kasih undangannya Grimmjow-san, tapi aku tidak janji akan bisa hadir nanti." ujar Orihime. Ia bilagn begitu karena takutnya ada sesuatu yang mendadak yang terjadi di hari itu. Ia paling tidak mau berjanji pada seseorang dan tidak bisa menepatinya.

"Aku tidak peduli pokoknya nanti supirku akan jemput ke rumahmu," ujar Grimmjow.

Orihime mengangkat bahunya, lalu menatap jam tangan. Ia baru ingat kalau sebentar lagi drama favoritnya akan segera tayang di TV. Ia menatap Grimmjow yang saat ini sedang membaca sesuatu di HPnya. Ia langsung menghabiskan kopinya dan beranjak dari kursi.

"Kita pulang sekarang. ada hal penting yang harus aku kerjakan." ujarnya dengan wajah serius masih tertuju pada HP.

Orihime mengangguk dengan senang. Syukurlah ia tidak harus menyiapkan suatu alasan agar dapat pulang dengan cepat.

Grimmjow langsung mengantar Orihime pulang. Untung saja tadi di jalan tidak macet dan Grimmjow mengendarainya begitu cepat. Sepertinya ia sedang buru-buru. Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit mereka sampai di rumah Orihime.

Orihime langsung turun dari mobil Grimmjow dan menunduk ke arah Grimmjow.
"Terima kasih makan siangnya Grimmjow-san.." ujar Orihime sambil tersenyum senang.

Setelah itu ia langsung berjalan menuju gerbangnya.

"Oi,"

Orihime berbalik dan melihat Grimmjow turun dari mobilnya. Ia berjalan menghampiri Orihime sambil membawa tas kertas berwarna putih yang isinya strawberry short cake dan langsung memberikannya.

Orihime melihat kue tersebut dan tersenyum, "Ah terima kasih.."

Grimmjow tersenyum lalu mengusap kepala Orihime,

"Bye, onna."

Grimmjow langsung pergi mengendarai mobilnya meninggalkan Kawasan perumahan Orihime.

Orihime masih mematung di tempatnya. Ia mengerjapkan matanya dan menyentuh kepalanya yang tadi diusap oleh Grimmjow. Ia merasakan perasaan yang aneh dan tidak biasa. Sentuhannya tadi begitu lembut walaupun senyumannya terlihat arogan.

"Eh kok jadi melamun di sini! Aduh, semoga tidak ketinggalan!" seru Orihime baru sadar, buru-buru ia langsung membuka gerbang pintu rumahnya dan mengunci kembali. Setelah itu ia langsung berlari memasuki rumahnya dan menyalakan TV. Pas sekali, drama yang ia ingin tonton baru saja dimulai.

"Yeay! Untung saja keburu!" seru Orihime senang bukan main.

Ia melihat actor di drama yang sedang ia tonton sekarang sedang mengusap kepala perempuan yang ia sukai. Melihat itu ia jadi teringat perilaku yang sama yang Grimmjow lakukan tadi padanya. Ia jadi terus terbayang sosok Grimmjow yang menurutnya unik. Sikapnya yang bar-bar dan seenaknya saja benar-benar membuatnya sebal tapi ada satu hal yang membuat dirinya jadi semakin penasaran.

"Hentikan Orihime, kau bukan gadis yang ada di novel-novel yang sukanya sama bad boy!"

-OTG-

Grimmjow baru saja sampai di mansion besar berarsitektur eropa yang megah. Ia langsung berhenti tepat di depan mansion dan keluar dari mobilnya. Para pria berbadan kekar dengan wajah sangar sudah berbaris dengan rapi di depan mansion. Mereka sengaja menunggu kedatangan Grimmjow dan berniat menyapanya.

"Selamat datang tuan muda!" sapa mereka dengan serentak dan penuh hormat.

Grimmjow mengangguk dan tatapannya begitu serius, lebih tepatnya tatapan dingin dengan aura tidak senang. Ia bisa menerkam siapa saja yang berani menghalangi jalannya saat ini. Mereka semua yang melihat itu, bergidik ngeri dan memberikan jalan untuk Grimmjow.

Tak lama dari dalam mansion muncul seorang sekertaris kepercayaan Grimmjow. Wajahnya tampak panik dan ia berlarian menghampiri Grimmjow.

"Tuan muda, boss sudah menunggu anda di ruang tengah..! Sepertinya beliau sangat marah.." ujarnya dengan ekspresi takut.

"Heh, mau apa pak tua itu," ujarnya dengan ekspresi tak kalah menyeramkan dan membuat sekertarisnya semakin takut sambil berjalan membuntuti.

Grimmjow berjalan dengan tenang tanpa memperdulikan sekertarisnya yang sedang ketakutan. Saat sampai ruang tengah, banyak sekali laki-laki berjas dengan tampang sangar berdiri di sekitaran seorang pria paruh baya dengan rambut klimis, jas berwarna coklat dengan syal putih dan cerutu di mulutnya. Auranya begitu karismatik dan membuat segan sekelilingnya.

"Selamat siang tuan muda!" sapa para anak buah pria paruh baya tersebut pada Grimmjow.

Grimmjow berjalan menghampiri pria tersebut tanpa ada basa-basi apapun. Ia berdiri tepat di depannya dengan wajah tidak suka. Begitupula dengan pria paruh baya tersebut.

"Grimmjow, sudah kau temui gadis itu?" tanya pria tersebut sambil mengepulkan asap dari cerutunya.

"Ya,"

"Bagus, ingat misimu. Jangan sampai kejadian dulu terulang kembali," ujarnya.

Grimmjow menghela nafasnya, "Tidak usah bawa-bawa masa lalu. Itu saja kan? Aku harus pergi lagi."

Grimmjow pun langsung pergi dan tidak peduli dengan pria yang merupakan ayahnya tersebut. Wajahnya tampak lebih kesal dari sebelumnya, rasanya ia ingin menghancurkan mansion ini beserta isinya. Ia ingi sekali langsung kembali ke rumahnya namun sebelum itu, ada seseorang di rumah ini yang wajib ia temui.

Ia berjalan memasuki lift menuju lantai 3 menggunakan ID card khusus yang hanya dimiliki dirinya, sang ayah dan orang-orang kepercayaan mereka. Pintu lift terbuka dan memperlihatkan lantai yang berbeda dari lantai-lantai sebelumnya. Bebas dari asap rokok, polusi dan suara bising lainnya. Hanya ada pelayan wanita yang bertugas di lantai ini dan mereka tampak tenang juga sopan. Lantai ini dipenuhi sentuhan yang lembut dengan harum mawar yang khas.

Ia berjalan menuju ruangan yang berada di ujung lorong. Di sana sudah ada dua pelayan yang berjaga di depan pintu ruangan tersebut. Walaupun mereka tampak lembut tapi jangan diremehkan, mereka begitu cekatan dan bisa melakukan Teknik bela diri apapun untuk melindungi orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Selamat siang tuan muda," sapa kedua pelayan tersebut pada Grimmjow lalu membukakan pintu untuknya.

Dalam ruangan tersebut terdapat seorang wanita cantik yang tengah terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya dipenuhi alat medis untuk menopang kesehatannya. Selang oksigen terpasang di mulutnya.

Para dokter dan suster yang bertugas pun langsung permisi untuk pergi meninggalkan Grimmjow dengan wanita tersebut.

Grimmjow duduk di sebelah kasur wanita tersebut, ia meraih tangan kurus wanita tersebut dengan tatapan sedih.

"Moma, aku harap kau sembuh sekarang juga."

Bagi Grimmjow hanya ibunya lah hal paling penting di dunia ini. Setelah Ibunya koma selama 6 bulan lebih, hidupnya berubah drastis. Suasana rumah serta perilaku sang ayah berubah menjadi sedingin es. Hal tersebut membuat Grimmjow menjadi tidak betah dan memutuskan untuk pindah ke rumahnya sendiri untuk menghindari sang ayah. Ia kemari hanya ingin melihat Ibunya atau terpaksa disuruh oleh sang Ayah. Hubungannya dengan sang Ayah jadi renggang dan tidak sehangat dulu waktu ia masih kecil. Apalagi ia selalu menyuruh-nyuruhnya melakukan hal yang tidak ia suka.

-tuk tuk tuk-

"Permisi, maaf mengganggu waktu anda tuan muda. Aku hanya ingin memberikan titipan Boss padamu." ujar salah satu bawahan ayahnya sambil memberikan map berwarna hitam pada Grimmjow.

Grimmjow menghela nafas dan mengambil map tersebut, "Bilang padanya setelah urusan ini selesai aku harap dia tidak menggangguku lagi."

"Baik tuan muda, akan saya sampaikan. Kalau begitu saya mohon undur diri," ujarnya membungkuk hormat lalu pergi dari hadapan Grimmjow.

Grimmjow membuka map tersebut dan melihat surat berisikan titah dari sang ayah, di kertas satu lagi terdapat profile seorang wanita lengkap dengan foto terbarunya.

"Cih, baiklah akan aku lakukan untuk kali ini saja."

Ia menatap sang Ibu lalu mengecup lembut keningnya, "Moma aku pergi dulu ya.. Nanti aku kembali lagi." ujar Grimmjow lalu pergi meninggalkan Ibunya.

Ia keluar dari kamar sang Ibu dan masuk ke dalam lift menuju basement. Tangannya meraih HP yang berada di saku celana dan menelpon sekertarisnya.

"Reservasikan restoran bintang lima terbaik untuk dua orang untuk malam ini."

Teleponnya berakhir bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Ia langsung keluar dan menuju mobilnya yang terparkir rapi pas di depan lift. Perasaan Grimmjow saat ini benar-benar campur aduk, ia merasa tidak nyaman dan kesal.

Malam pun tiba,

Seharusnya malam ini Orihime sudah tidur dengan nyenyak di kasurnya yang empuk sambil memainkan HP. Ia bahkan berniat untuk memanjakan dirinya dengan masker yang baru saja ia beli dan meminum minuman herbal yang diberikan fansnya. Namun ekspetasi tidak sesuai kenyataan. Dirinya kini sudah rapi mengenakan dress putih gading, rambutnya distyle dengan kepang yang manis dan ia nampak anggun. Wajahnya begitu cantik dan tampak bersinar, semua orang menatapnya kagum dan tahu kalau ia merupakan si aktris cantik yang sedang hiatus. Bukan itu saja yang menarik darinya, tetapi pria yang saat ini yang tengah bersamanya begitu karismatik. Dengan jas serba putih dan kulit seputih susu, wajahnya begitu cool dengan mata hijau yang indah, tak lupa rambut hitamnya yang nampak berkilauan. Semua wanita yang menatapnya jatuh kepayang dibuatnya. Apalagi ia nampak misterius dengan ekspresi yang minim.

Orihime nampak gugup tidak seperti biasanya bahkan ia harus memutar kembali ingatannya saat lelaki di hadapannya ini mengajaknya untuk makan malam.

-Sekitar dua jam yang lalu-

Setelah selesai menonton drama, Orihime langsung melakukan aktivitas rutinnya tiap sore yaitu berolahraga di halaman belakang rumahnya. Ia selalu melakukannya setiap hari demi menjaga daya tahan tubuh dan berat badan idealnya.

30 menit berlalu dan ia langsung berenang menggunakan one piece berwarna merah maroon dengan tali yang mengikat ke leher dan punggung yang terlihat jelas.

-ring ring ring-

HP Orihime terus berbunyi dengan nyaring. Ia langsung keluar dari kolam renang dan mengeringkan tangannya lalu melihat siapa penelpon tersebut.

"No siapa ini..? Coba aku angkat deh.. Halo?"

"Onna, dimana kau sekarang?"

Orihime terdiam sejenak sambil berusaha mengenali siapa pemilik suara dingin tersebut. Jangan bilang kalau ini..

"Sch- uhmm.. maksudku. Ulquiorra-kun?"

"Ya. Sebentar lagi aku akan menjemputmu untuk makan malam, bersiaplah."

"Se-sekarang?! Serius?" tanya Orihime panik sambil memakai kimono handuknya dan masuk ke dalam rumah.

"Sejak kapan aku suka bercanda? Ah, aku sudah memasuki perumahanmu, 10 menit lagi sampai."

"Eh!? Tapi aku baru saja beres berenang, bisa tunggu sebentar?"

"Waktumu 20 menit. Sampai jumpa,"

-pip-

"Hallo..? Astaga ada apa sih hari ini? Lebih baik aku cepat mandi dan siap-siap!"

Orihime langsung masuk ke kamarnya dan bersiap-siap. Ia mandi super cepat setelah itu memilih baju sepengelihatannya, midi dress berwarna biru muda dengan tali tipis, tak lupa jaket jeans dan tas slempang kecil berwarna hitam. Setelah memakai baju, ia hanya berdandan seadanya (sebenarnya tidak dandan pun Orihime tetap cantik), mengeringkan rambutnya yang basah habis keramas secepat mungkin.

-Ting tong!-

"OMG!" Orihime langsung mematikan hair dryer miliknya dan memastikan dirinya kembali di depan kaca sebelum pergi.

"Hmm, sip." ujar Orihime cukup oke dengan penampilan seadanya ini.

Kakinya langsung melangkah menuju lemari sepatu dan mengambil sepatu kets berwarna putih juga kaos kaki di bawah mata kaki berwarna abu-abu. Dengan cepat ia memakai sepatunya dan bergegas keluar rumah.

Ia melihat seorang bodyguard menunggu di depan gerbang rumahnya,

"Hmm selamat sore tuan.." sapa Orihime dengan ramah padanya sembari membuka kunci pintu gerbang.

"Selamat sore none, Ulquiorra-sama sudah menunggu anda di mobil. Mari saya antar."

"Ah baik.." ujar Orihime mengikuti bodyguard tersebut menuju mobil limusin berwarna putih yang saat ini bertengger di dekat rumah Orihime.

Sesaat membuka pintu, Orihime melihat Ulquiorra berpakaian cukup formal dengan jas putih kesukaannya. Seperti akan pergi ke suatu acara atau tempat penting, berbeda sekali dengan pakaian yang Orihime kenakan saat ini, begitu santai dan simple.

'Astaga tahu gitu aku pakai dress yang agak formal..' ujar Orihime dalam hati.

Ulquiorra menatap Orihime yang sedari tadi diam dan tidak masuk ke dalam mobilnya,

"Kau membuang waktuku, onna. Cepat masuk."

"Ah ya maafkan aku!" ujar Orihime malu dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia memilih duduk berhadapan dengannya.

Ia menatap dirinya sendiri lewat layar HP dan tidak tahu harus bicara apa di depan Ulquiorra.

Ulquiorra pun hanya diam sambil terus fokus mengerjakan sesuatu di tabnya.

Tak lama mobil mereka berhenti tepat di depan butik designer ternama. Orihime bingung karena seingatnya mereka akan makan malam, bukan pergi ke butik.

Seorang bodyguard membukakan pintu mobil mereka, Ulquiorra keluar dan menatap Orihime agar ia mengikutinya. Mau tak mau Orihime masuk ke dalam butik bersama dengan Ulquiorra.

"Selamat datang, tuan Schiffer. Barang yang anda pesan sudah jadi, ah kebetulan sekali anda membawanya kemari. Selamat sore nona, mari ikut saya." ujar pelayan butik sambil tersenyum ramah pada Orihime.

Orihime nampak bingung, "Hmm maksudnya? Ulquiorra-kun?"

"Aku tunggu di sini,"

Orihime masih dalam keadaan bingung dan mengikuti pegawai butik untuk menuju ruang VVIP. Ruangan tersebut khusus untuk konsumen VVIP dengan ruang ganti yang luas dan bantuan pegawai butik. Di sana sudah berjejer banyak sekali baju baru yang stylish dan indah.

"Ini dress pilihan Ulquiorra-sama, apakah anda menyukainya?"

Orihime menatap midi dress berwarna putih gading berlengan panjang dengan bagian atas yang agak menerawang namun dilapisis oleh brukat lembut dan dalaman berwarna putih, dress itu tampak elegan dan manis.

"Wah cantiknya.."

"Hehehe ini memang special dibuatkan untuk anda nona. Mari kami bantu pakaikan,"

Orihime langsung berganti pakaian dengan dress tersebut. Ia tampak manis dan elegan bahkan ukurannya pun pas dengan tubuhnya. Setelah itu Orihime dibawa menuju lantai 2 dimana salon berada. Ia didandani dengan sentuhan natural yang manis dengan rambut yang dikepang membentuk bun. Tak lupa anting dengan bentuk bunga sakura dilengkapi permata yang berkilauan. Terakhir, ia memakai high heels berwarna silver dengan style tali mengikat di pergelangan kakinya. Ia nampak takjub dengan dirinya sendiri sesaat menatap ke arah cermin.

Setelah semuanya selesai, Ia ditemani dengan pelayan toko yang tadi berjalan menuruni tangga. Ia melihat Ulquiorra yang kin tengah membaca berita di tabnya.

"Ulquiorra-kun, maaf menunggu lama.."

Ulquiorra berbalik dan melihat Orihime. Ia begitu cantik dan berkilauan. Semua orang yang ada di butik pun ikut menatap Orihime dengan mata terpukau. Salah satu dari mereka sadar siapa Orihime dan mengeluarkan HPnya untuk memotret Orihime.

"Eh bukannya itu Inoue Orihime?"

"Ah benar!"

"Inoue-sama!"

Keadaan menjadi ricuh namun dengan segera bodyguard milik Ulquiorra melindungi Orihime dan membawanya keluar dari butik hingga memasuki mobil. Ulquiorra menatap sosok Orihime yang gugup sambil melihat keluar kaca mobil. Semoga saja yang lain tidak sadar dengan siapa Orihime pergi saat ini. Masalahnya Ulquiorra juga bukan orang biasa. Ia juga masuk ke dalam jejeran anak muda sukses yang sudah tajir melintir sejak lahir. Ia dikenal sebagai pebisnis brilian dengan produk yang sangat digemari kaum hawa yaitu perhiasan. Ulquiorra juga termasuk jejeran laki-laki populer yang belum memiliki kekasih dan sulit untuk didapatkan menurut salah satu majalah anak muda.

Orihime baru sadar akan sesuatu, ia menatap kembali dirinya di layar HP dan masih tidak percaya dengan apa yang ia kenakan saat ini. Saat mau membayar tadi, katanya semua ini sudah dibayar oleh Ulquiorra dan khusus diberikan padanya.

"Ini benar-benar untukku..? Bukannya ini sangat mahal..? Aku jadi sangat merepotkanmu. Tapi terima kasih Ulquiorra-kun.. Ohya juga dengan bunganya.. Aku sangat menyukainya.." ujar Orihime tersenyum manis padanya.

Ulquiorra terdiam dan tersenyum tipis, "Itu bukan apa-apa,"

-Kembali lagi ke masa sekarang-

Seorang pelayan menuangkan wine putih untuk Orihime dan Ulquiorra. Mereka baru saja selesai makan dan sedang menikmati hidangan penutup. Sebenarnya sedari tadi Orihime ingin mengobrol dengannya namun ia bingung untuk memulai percakapan. Ulquiorra pun bukan tipe orang yang suka bercakap-cakap, namun sesekali ia menatap Orihime dan tahu dari gerak-geriknya kalau Orihime ingin berkata sesuatu padanya.

"Onna, jika ingin ada yang kau katakan, katakanlah."

"Eh? Kau tahu ternyata hehe.. Aku hanya penasaran, apakah kau tidak keberatan jalan bersamaku seperti ini..?"

"Jika kau takut akan tersebar rumor tentang kita maka kau tidak usah khawatir. Asistenku akan mengaturnya sehingga hal tersebut tidak akan terjadi."

"Ah, begitu.. Dan sebenarnya aku juga penasaran.. Padahal kita kan baru kenal tapi kenapa kau bisa sebaik ini padaku?"

Ulquiorra diam sejenak, "Tidak ada alasan apapun,"

'Jawabannya dan Grimmjow-san hampir mirip.'

"Ah, begitu.."

Mereka pun melanjutkan obrolan mereka, sedikit demi sedikit Orihime merasa nyaman dan bisa membawa dirinya untuk lebih dekat dengan Ulquiorra. Ulquiorra pun merasa tidak keberatan menjawab segala pertanyaan Orihime dan ia cukup senang mengobrol dengannya. Baru kali ini ada seseorang yang bisa membuatnya mengobrol lebih lama tanpa merasa terganggu sedikit pun.

Waktu pun tak terasa sudah berlalu cukup lama. Keduanya sudah selesai makan dan bersiap untuk pulang. Orihime cukup menikmati makan malamnya dengan Ulquiorra. Ia memang tipe yang cool dan tak banyak bicara tapi entah kenapa pembawaannya yang tenang dan ucapannya yang agak baku membuat Orihime cukup nyaman.

"Ah, maaf Ulquiorra-kun aku permisi ke toilet sebentar." ujar Orihime lalu pergi ke toilet.

Setelah selesai ia langsung menghampiri Ulquiorra yang saat ini sedang berdiri di dekat lift. Ia seperti sedang mengobrol dengan seseorang yang terhalangi oleh pillar.

"Maaf menunggu lama, Ulqu- Eh?"

Orihime terkejut saat melihat orang yang saat ini tengah mengobrol dengan Ulquiorra adalah Grimmjow. Begitupula dengan Grimmjow yang sama terkejutnya melihat Orihime.

Ia memakai jas berwarna biru dongker dengan kemeja putih dan kancing atas yang terbuka. Matanya masih menatap kaget Orihime namun kembali biasa.

"Kau? Jangan bilang orang yang bersamamu itu dia?" tanya Grimmjow pada Ulquiorra sambil menunjuk Orihime.

"Ya, benar. Kami baru saja selesai dan akan pulang." ujar Ulquiorra.

"Ah begitu, kalau begitu aku duluan." ujar Grimmjow lalu menuju area outdoor melewati Orihime begitu saja.

Ia tidak menyapa atau bicara apapun pada Orihime bahkan ia tampak tidak peduli. Padahal tadi siang mereka baru saja bertemu namun rasanya Grimmjow seperti pura-pura lupa dan menghindarinya. Orihime merasa aneh namun ia berusaha biasa saja. Namun matanya terus

mengikuti arah Grimmjow berjalan, hingga ia sampai di meja dengan seorang gadis cantik. Grimmjow nampak berbeda, ia bersikap lembut dan sopan terhadap gadis itu sambil mengecup punggung tangannya. Gadis itu pun tampak senang bertemu dengan Grimmjow.

Ulquiorra melihat kemana arah pandangan Orihime. Wajah Orihime terlihat sedikit kurang nyaman dan ia pun menunduk. Ulquiorra langsung menarik tangan Orihime untuk masuk ke dalam lift,

"Apakah yang tadi itu-"

"Tunangan Grimmjow. Sepertinya yang kali ini akan berhasil, walaupun aku tahu Grimmjow terpaksa melakukannya." ujar Ulquiorra.

"Tapi aku lihat mereka tampak serasih dan Grimmjow-san tampak senang melihatnya."

"Itu hanya sandiwara. Sikapnya jelas berbeda saat Grimmjow bersama dengan 'perempuan itu'."

"Perempuan itu?"

Orihime jadi teringat perkataan pegawai bar yang tempo hari ia datangi bersama Grimmjow. kalau tidak salah ia pernah menyebutkan nama seorang perempuan yang katanya mirip dengan Orihime.

"Madeleine?"

Ulquiorra terkejut mendengarnya dan menatap Orihime dengan serius,
"Darimana kau tahu nama itu?"

"Aku mendengarnya dari seorang karyawan yang bekerja di tempat Grimmjow-san, ia berkata bahwa aku mengingatkannya dengan perempuan bernama Madeleine.."

Ulquiorra menatap Orihime, jika dipikir-pikir ada benarnya juga. Orihime sedikit mirip dengannya, mungkin dari sikap dan perilakunya.

"Lupakan semua itu onna dan jangan pernah sebut nama itu di depan Grimmjow jika kau tidak mau kena masalah."

"Hmm..? Baiklah.."

Orihime memilih diam, ia juga tidak mau ikut campur urusan orang lain. Lagipula hal wajar jika Grimmjow sudah punya seorang gadis di sisinya.

'Kenapa kau jadi kepikiran sih Orihime? Aneh sekali.' ujar Orihime dalam hati.

'Maaf menunggu lama Ulqu- ..Eh?'

Ucapan dan sosok Orihime masih terus teringat di pikiran Grimmjow saat ini. Ia tak habis pikir bisa bertemu dirinya di restoran ini bersama dengan Ulquiorra. Lagipula tumben sekali si stoic itu mengajak seseorang untuk pergi makan, padahal ia orang yang paling malas bepergian kalau itu bukan hal yang penting atau berhubungan dengan pekerjaan.

"Grimmjow? Halo? Kok melamun sih?" tanya gadis di hadapan Grimmjow nampak bingung dengan sikap tunangannya.

Grimmjow baru sadar dan menatap kembali tunangannya,

"Ah maaf, tadi aku kepikiran sesuatu."

Gadis itu tersenyum lalu menyentuh kedua tangan Grimmjow,

"Tidak apa, aku mengerti kok. Oya aku dengar kau akan mengadakan acara di villa pribadimu, kok tidak mengundangku sih? Aku kan sudah resmi jadi tunanganmu sekarang."

'Darimana dia tahu? Cih pasti si pak tua itu, menyebalkan.' pikir Grimmjow dalam hati.

"Benarkah? Sepertinya asistenku lupa untuk memberitahumu, padahal aku sudah berikan dari kapan tahu." ujar Grimmjow yang jelas-jelas berbohong.

"Heh seharusnya kau pecat langsung asistenmu itu. Sangat tidak berguna, bisa-bisanya dia lupa memberitahuku." ujarnya dengan wajah kesal.

Grimmjow hanya diam menanggapi tunangannya yang sedang kesal. Sebenarnya ia agak muak dan ingin sekali pergi dari sini sekarang juga kalau bisa.

"Hm ya, bagaimana kalau kita makan dulu?"

"Oh ya aku hampir lupa hehe, ayo!" ujarnya kembali riang sambil membaca buku menu.

'Cih apa aku batalkan saja acara tersebut? Malas sekali harus ada dia.' pikir kembali Grimmjow.

Namun tiba-tiba ia membayangkan Orihime mengenakan gaun merah maroon pemberiannya. Ia begitu cantik dan menawan.

"Heh, mikir apa sih aku ini."

Ia berusaha membuang jauh-jauh pikirannya terhadap Orihime. Namun semakin ia ingin membuangnya, semakin terbayang wajah serta suara dari Orihime. Ia jadi sedikit merasa bersalah terhadap Orihime karena sudah menghiraukannya tadi. Mungkin besok atau lusa ia akan berkunjung kembali ke rumah Orihime atau janjian dengannya di suatu tempat. Memikirkannya saja sudah membuatnya semangat. Aneh sekali.

-TRINGGGGGGGGGG-

Bel sekolah berbunyi dengan nyaring, anak-anak berhamburan keluar dari Gedung sekolah. Ada yang dijemput oleh supir mereka namun ada juga yang dijemput oleh orang tuanya.

"Sampai jumpa besok Ryuu-kun!" seru anak perempuan berlari menghampiri ayahnya yang sedang menunggu di dekat mobil.

"Ah ya sampai jumpa!" balas Ryuu dengan semangat.

Ia melihat temannya tertawa riang sambil memeluk ayahnya. Muncul rasa sesak dalam hatinya namun ia berusaha tidak peduli. Sebenarnya ia ingin sekali merasakan dijemput oleh seseorang yang dipanggil dengan sebutan 'ayah' tapi nyatanya ia tidak punya sosok tersebut.

"Ryuu!"

Ryuu berbalik dan melihat seorang pria yang sangat ia kenali. Wajahnya langsung berubah senang dan ia berlari menghampirinya.

"Paman Ichigo! Ada apa paman kemari?"

"Hehehe maaf ya bukan Ibu-mu yang jemput melainkan aku. Apa kau menunggu lama?"

Ryuu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum senang,
"Sama sekali tidak! Tapi jika boleh Ryuu tahu kenapa paman yang menjemput?"

"Ibu-mu sedang bertemu tamu penting dan tidak bisa diganggu makanya aku yang menjemputmu. Tidak apa kan?"

"Tidak apa paman, justru aku senang hehehe."

Ichigo tersenyum, "Kalau begitu apa kau sudah makan? Kalau belum kita makan ke tempat favorit paman!"

Ryuu mengangguk, "Ayo!"

Mereka pun masuk ke dalam mobil, Ichigo langsung memasangkan seatbelt milik Ryuu dan Ryuu terus memperhatikannya. Beginikah rasanya jika dijemput seorang 'ayah'?

'Andai paman Ichigo adalah ayahku..' pikir Ryuu dalam hati.

"Sudah siap?" tanya Ichigo memastikan.

Ryuu mengangguk sambil tersenyum.

"Let's go!"

Ichigo langsung mengendarai mobilnya menuju suatu restoran. Melihat Ryuu yang tampak antusias dan ceria, membuat Ichigo ikut senang. Ia tampak manis dan menggemaskan.

Rukia menghela nafas lega, ia baru saja berhasil melakukan kerja sama dengan salah satu investor. Ia tidak menyangka bahwa semua ini akan lelah dan menegangkan. Karena semuanya sudah selesai, ia memutuskan untuk pulang.

Ia berjalan keluar ruangan dan disapa oleh para pekerja lainnya. Ia masuk ke dalam lift menuju basement dimana mobilnya parkir.

Pintu lift terbuka, pas sekali mobilnya berada di sebrang pintu lift. Ia langsung berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelum menyalakan mobilnya, ia menelpon dulu Ichigo karena tadi ia berinisiatif untuk menjemput Ryuu. Niatnya ia ingin mengajak mereka makan dahulu sebelum pulang ke rumah.

"Halo? Ichigo kau dimana? Oh kalian sedang makan? Kalau gitu, aku ke sana sekarang. Sudah beres dan berjalan lancar. Tentu saja, namanya juga aku. Heh, sampai jumpa."

Rukia mematikan panggilannya dan tersenyum senang. Ia langsung menyalakan mobilnya lalu pergi menuju tempat Ichigo dan Ryuu berada.

-O-

Rukia sudah sampai di depan restoran keluarga bernuansa China. Ia masuk ke dalam dan menemukan Ichigo serta Ryuu begitu akrab sambil memakan makanan mereka. Terlihat wajah bahagia Ryuu dan tawanya yang tidak henti.

"Kalian ramai sekali," ujar Rukia duduk di sebelah Ryuu.

"Oh kau sudah datang rupanya."

"Mommy..!" Ryuu memeluk Rukia dengan lembut.

Rukia membalas pelukannya dan mencium kening anaknya, "Maaf ya mommy tidak bisa menjemputmu. Bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan?"

"Tidak apa Mommy, kan ada paman Ichigo yang menjemputku hehehe. Tentu saja menyenangkan!"

"Syukurlah kalau begitu.."

Ichigo memperhatikan keduanya, yang mencuri perhatiannya saat ini adalah ekspresi Rukia yang begitu lembut dan penuh kasih. Ia jarang sekali melihatnya ekspresinya yang seperti itu. Ini benar-benar momen langka, rasanya ia ingin sekali mengabadikan momen tersebut dengan kamera terbaiknya.

"Ichigo, terima kasih sudah jemput Ryuu. Untuk kali ini aku yang traktir."

"Kau ini seperti dengan siapa saja. Sudah pesan saja makanannya, aku yang bayar. Kau sudah bekerja keras hari ini." ujar Ichigo memanggil pelayan untuk meminta menu.

Rukia tersenyum, ia memang tidak salah dekat dengan laki-laki di hadapannya ini. Beruntung sekali gadis yang kelak bersamanya.

'Mikir apa sih aku ini,' ujar Rukia dalam hati.

Tak lama seorang pelayan datang dan memberikan buku menu pada Rukia. Setelah itu Rukia memesan makanannya. Sambil menunggu mereka pun mengobrol.

Ryuu menatap Rukia dan Ichigo yang mengobrol begitu akrab. Rasanya menyenagnkan melihat mereka bersama.

'Aku berharap mereka bisa bersama..'

-o-

Malam semakin larut, setelah makan mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Wajah Ryuu masih tersenyum senang.

"Tadaima..!" seru Ryuu seraya memasuki rumah.

"Okaeri.." sapa kakek langsung memeluk cucu kesayangannya itu.

"Kakek, menunggu sedari tadi?" tanya Rukia.

"Haha kelihatan ya. Kalian pasti lelah, jangan lupa mandi dan istirahat."

"Baik! Apa kakek sudah makan?" tanya Ryuu.

Sang kakek mengangguk, "Tentu saja sudah. Nah sekarang mandi lalu tidur yang nyenyak ya."

Ryuu mengangguk dan menarik tangan Rukia, "Aku mandi dulu ya kek!"

"Permisi kek,"

Mereka berjalan menyusuri lorong hingga sampai di kamar Ryuu. Seorang pelayan langsung membantu Ryuu untuk mandi sedangkan Rukia memeriksa tas Ryuu. Ia selalu melakukannya setiap pulang sekolah untuk mengecek apakah ada tugas atau ulangan besok. Matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di pojok tasnya. Ada satu kertas yang sengaja ia gulung dan seperti tidak ingin dilihat oleh siapapun. Dengan segera, ia langsung mengambil gulungan kertas tersebut dan membacanya.

'Puisi untuk Ayah'

Hanya satu kalimat itu yang tertulis di kertas selebihnya hanya coretan-coretan tidak jelas yang hampir memenuhi kertas tersebut.

"Selesai!"

Rukia terkejut dan memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam tasnya. Ia berbalik pada Ryuu yang sudah memakai piyama berwarna biru muda dengan gambar lumba-lumba.

"Wah sudah wangi anak mommy..! Ayo sisir dulu rambutnya."

Ryuu duduk membelakangi Rukia. Ia langsung menyisir dengan lembut rambut hitam milik Ryuu. Pikirannya dipenuhi oleh isi dari kertas yang ia temukan tadi, bagaimana perasaan Ryuu saat menulis puisi tersebut? Bagaimana sikap yang terhadapnya saat tahu kalau Ryuu tidak memiliki seorang ayah? Semua pertanyaan itu terus memenuhi isi kepala Rukia.

"Mommy..?"

Rukia menghentikan gerakannya, "Ya?"

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Rukia terdiam sejenak dan berusaha tersenyum. "Tentu saja sayang, memangnya mau tanya apa?"

Ryuu terdiam dan ia pun memberanikan dirinya untuk menanyakan hal yang selama ini ingin ia tanyakan pada Rukia.

"Kenapa Ryuu tidak punya ayah?"

Seperti tertembak tepat di depan mata, itulah yang Rukia rasakan saat ini. Tangannya seketika lemas dan sisir yang ia pegang langsung terjatuh. Ryuu terkejut dan berbalik menatap wajah Rukia yang begitu shock dibuatnya.

"Ji-jika Mommy tidak bisa jawab, tidak apa-apa kok.."

Rukia tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa diam dan dadanya terasa sesak. Begitu pengertian dan baiknya Ryuu pada dirinya.

Rukia menyentuh pipi lembut anaknya, "Maaf.. Untuk saat ini Mommy belum punya jawaban yang pas untuk Ryuu. Apa Ryuu mau bersabar?"

Ryuu tersenyum dan mengangguk, "Maaf jika pertanyaan Ryuu membuat Mommy jadi tidak nyaman.. Ryuu hanya penasaran saja hehe. Walaupun Ryuu tidak punya sosok ayah, bagi Ryuu Mommy pun sudah lebih dari cukup."

Rukia tersentuh mendengar ucapan anaknya yang tulus sambil menatapnya lembut dan tersenyum manis ke arahnya.

Ia tak kuasa membendung air matanya dan memeluk anaknya tersebut. Ia bersyukur menjadi orang yang mau mengasuh Ryuu dan menjadi orang tua tunggal. Padahal sebelumnya ia bukan tipe keibuan dan lemah lembut, ia benar-benar orang yang free spirit dan tidak ingin terikat oleh apapun. Tapi setelah kakaknya meninggal melahirkan Ryuu, ia merasa bahwa dirinya lah yang harus menjaga dan merawat anak tersebut.

'Nee-sama, aku berjanji akan merawat dan membesarkannya sebaik mungkin. Maaf aku berbohong padanya tapi izinkan aku untuk memlih waktu yang tepat untuk mengungkap yang sebenarnya.' ujar Rukia dalam hati. Di satu sisi ia merasa senang namun di satu sisi ia juga merasa bersalah karena ia telah berbohong kepada Ryuu dan tidak memberitahukan siapa orang tua kandungnya. Ia juga merasa bersalah kepada Hisana karena Ryuu tidak mengenalinya sebagai Ibu melainkan sebagai bibi yang meninggal karena suatu penyakit.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya, dengan pikiran mereka masing-masing.

-o-

Setelah Ryuu tidur dengan nyenyak, Rukia baru bisa mandi dan berganti pakaian dengan piyama yang nyaman. Ia jadi tidak bisa tidur karena terus memikirkan Ryuu dan perkataannya. Ia masih belum siap untuk mengungkap kebenaran ini pada Ryuu tapi ia juga tidak mau terus berbohong kepadanya. Hatinya berkecamuk dan ia memilih untuk mencari udara segar di halaman belakang.

Tempat ini menjadi spot favorit Rukia jika ia sedang banyak pikiran, rasanya di sini begitu tenang dan bebannya sedikti terangkat. Mungkin karena tempat ini jugalah yang mengingatkannya akan sang mendiang kakak. Hisana selalu memberi makan ikan koi di tepi kolam, ia juga selalu merawat seluruh tanaman yang ada di sini terutama pohon sakura yang saat ini memenuhi seluruh halaman mansion. Dirinya begitu bersinar dan hangat, kehadirannya membuat seisi rumah ini begitu nyaman. Setelah dirinya pergi, suasana rumah kembali sepi, bahkan terkesan hampa. Byakuya pun jadi jarang pulang ke rumah dan memilih menyibukkan dirinya dengan segala pekerjaan. Ia hanya pulang saat hari raya dan acara peringatan kematian Hisana.

"Kau belum tidur?"

Rukia terkejut dan berbalik mendengar suara itu.

"Nii-sama?!"

Byakuya sudah ada di belakangnya, ia mengenakan yukata berwarna hitam dengan garis-garis putih. Rukia sama sekali tidak sadar kalau Byakuya sudah pulang. Biasanya ia selalu mengabari orang rumah sehari sebelumnya. Mungkin karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari akan kepulangannya.

"Kenapa? Kau seperti habis melihat hantu."

"Ah maaf, aku hanya tidak menyadari bahwa kakak sudah pulang. Bagaimana kabarmu?"

"Aku mendadak pulang karena ada yang harus aku urus di sini. Kabarku baik, bagaimana denganmu dan juga kakek?"

Rukia terdiam sejenak, sepertinya ada yang kurang dari pertanyaan Byakuya tadi.

"Nii-sama, apa aku tidak salah dengar?"

Byakuya bingung, "Kurasa tidak, memangnya ada yang salah dari perkataanku?"

Rukia terdiam sejenak. Ia pun menghela nafas kecil lalu menatap kea rah pohon besar di halaman belakang.

"Ah lupakan.. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." ujar Rukia.

"Hm?"

Rukia berbalik menatap Byakuya dengan serius, ia sudha siap mengatakan hal ini kepada kakaknya tersebut.

"Sampai kapan nii-sama mau menghindar seperti ini? Apa Nii-sama tidak merasakan sedikitpun kekhawatiran terhadap Ryuu?"

Byakuya terdiam, "Ini bukan saatnya Rukia. Kau tahu kan aku-"

"Sampai kapan kak?!"

Byakuya terkejut melihat Rukia yang nampak berani dari ia tahu sifat dan karakter Rukia itu agak tomboy dari perempuan kebanyakan tapi ini pertama kalinya Rukia bicara dengan nada yang tinggi terhadapnya. Apalagi tatapannya saat ini benar-benar menyeramkan.

"Kau tidak akan mengerti."

"Tentu saja aku tidak mengerti. Bagaimana aku bisa mengerti kalau kakak saja tidak pernah cerita? Aku tahu kakak masih terpukul dan tidak bisa kehilangan Hisana nee-sama. Tapi aku mohon setidaknya perhatianlah sedikit pada Ryuu, anak kakak dan nee-sama."

"Ryuu sudah menjadi tanggung jawabmu, Aku harap kau menepati janjimu." ujar Byakuya nampak dingin dan pergi meninggalkan Rukia.

Rukia tercengang melihat sikap kakaknya tersebut. Untuk pertama kalinya ia merasa kesal dan muak terhadap kakak yang selama ini ia banggakan. Sikapnya benar-benar pengecut dan tidak bisa menghadapi kenyataan.

"Percuma aku bicara dengan bongkahan es." ujar Rukia dengan kesal lalu kembali ke kamarnya.

Ia tidak habis pikir kakaknya sebegitu tidak peduli dengan anaknya sendiri. Pasti nee-sama akan sedih melihatnya dari sana. Mulai sekarang ia tidak mau bicara lagi atau berusaha meyakinkan Byakuya akan Ryuu. Ia akan menjaga dan membesarkan Ryuu tanpa bantuan kakaknya tersebut. Mungkin kebenaran ini tidak harus terungkap.

Sedangkan Byakuya kini termenung berdiri di depan kamar Ryuu. Ia hanya bisa mengintip dari sela-sela pintu. Tanpa banyak orang ketahui, di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali dekat dan meraih anaknya tersebut. Tapi di sisi lain ia masih tidak percaya bahwa Hisana meninggal karena melahirkannya. Untuk saat ini ia sudah cukup senang melihat perkembangan anaknya atas asuhan dari Rukia dan kakek. Diam-diam kakek selalu mengirimi foto serta perkembangan Ryuu pada Byakuya. Ia selalu menyimpannya dengan baik dan ingin sekali membanggakannya pada orang lain.

"Byakuya,"

Byakuya menoleh dan melihat sang kakek berjalan mendekatinya. Ia melihat Byakuya yang berdiri di depan kamar Ryuu. Bahkan ini bukan yang pertama kalinya, sudah sering kakeknya kedapatan Byakuya berdiri tanpa melakukan apapun di depan kamar Ryuu. Ia juga tahu kalau Byakuya memperhatikan anaknya dari kejauhan agar tidak ketahuan oleh siapapun (walaupun tetap saja ketahuan oleh sang kakek).

"Aku sudah sering melihatmu seperti ini tapi aku biarkan. Namun tidak untuk kali ini. Aku mendengar keributan di halaman belakang, sepertinya Rukia kesal denganmu."

'Sepertinya kakek punya indra ke 6.' pikir Byakuya dalam hati.

Byakuya memilih diam, ia tidak mau berdebat dengan kakeknya apalagi di malam hari seperti ini.

Sang kakek menghela nafas, ia menepuk pundak Byakuya.

"Aku tahu kau masih belum bisa melupakan kematian Hisana, tapi aku harap kau tidak terus terbelenggu dengan masa lalu. Saat ini ada yang lebih membutuhkanmu. Jangan menyesal sebelum terlambat." ujar sang kakek dengan serius lau pergi meninggalkannya.

Byakuya hanya diam sambil menatap kamar Ryuu. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan sang kakek memang ada benarnya. Tapi darimana ia harus memulai? Rasanya canggung dan aneh jika tiba-tiba ia datang dan mendekati anaknya.

Ia terus berpikir dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Ryuu. Ia menghampiri Ryuu yang saat ini sudah tertidur dengan lelap. Wajahnya begitu tenang dan mengingatkannya pada Hisana. Dengan perlahan namun pasti, tangannya menggapai kepala kecil milik Ryuu.

Hatinya langsung sakit saat tangannya menyentuh kepala Ryuu. Semua ingatan akan Hisana langsung terbayang di pikirannya. Ia juga membayangkan wajah Hisana yang begitu sedih melihat Byakuya acuh terhadap anak mereka.

"Maafkan aku.."

-O-

Sejak pergi bersama Grimmjow dan Ulquiorra, kini Orihime merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap mereka. Mereka jadi sering menanyangkan tetang kabarnya atau ingin mengajaknya pergi keluar. Orihime cukup senang karena ia mendapatkan dua teman baru yang tidak ia sangka-sangka akan akrab dengannya. Hanya saja ia sebisa mungkin membatasi diri dengan Grimmjow, karena ia tahu bahwa Grimmjow sudah memiliki tunangan. Ia tidak mau kedekatannya malah membawa kesalahpahaman di antara mereka dan yang lain. Sudah cukup dulu dirinya terkena skandal tidak jelas dan membuat dirinya terus dihujat oleh para fans fanatic actor yang pernah menjadi lawan mainnya.

Kini dirinya ingin fokus berkarir mengerjakan dokumen-dokumen penting dan membantu bossnya sebaik mungkin. Banyak sekali yang bertanya kepadanya, kenapa Orihime memilih untuk single padahal banyak sekali yang ingin menjadi pacarnya. Sebenarnya Orihime ingin merasakan hal tersebut, tapi belum ada yang pas di hatinya. Dan tanpa pasangan pun ia sudah merasa bahagia.

Setelah selesai mengerjakan beberapa dokumen dari Ichigo, kini Orihime sedang bersantai di sofa sambil memakan sandwich dan memainkan HPnya. Sedangkan Ichigo sedang meminum kopi sambil mengerjakan sesuatu di komputernya.

"Inoue,"

Orihime langsung menoleh pada Ichigo, "Ya Kurosaki-kun? Ada apa?"

"Kudengar kau jadi dekat dengan si stoic dan si kepala neon. Aku cukup kaget kau bisa dekat dengan mereka." ujar Ichigo.

"Stoic? Kepala neon? Ah maksudmu Ulqui-kun dan Grimmjow-san? Hehehe iyaa. Aku juga tidak mengerti kenapa kami bisa jadi dekat, mereka cukup menyenangkan."

Ichigo menaikkan sebelah alisnya, "Hoo? Benarkah? Padahal mereka tipe orang yang susah dekat dengan orang baru."

"Hmm begitu.."

Tak lama telpon Ichigo berbunyi nyaring.

"Heh baru saja dibicarakan. Halo? Hmm tidak, ada apa? Oh? Yakin? Tunggu sebentar. Hei Inoue, apa malam ini kau sibuk? Grimmjow mengajak kita untuk minum-minum di bar dekat sini. Kau mau?"

"Dengan siapa saja? Rukia-chan tidak diajak?"

"Hmm.. Inoue tanya apakah Rukia boleh ikut? Cih, ini beneran Inoue yang tanya bukan aku. Aku tidak malu-malu astaga. Ya baiklah sampai jumpa."

Ichigo mematikan panggilannya lalu menatap Orihime, "Ya dia juga diajak. Bisa kau beritahu dia? Aku masih harus menyelesaikan ini."

Orihime tersenyum senang, ia mengangguk dan langsung pergi menuju ruangan miliki Rukia.

-tuk tuk tuk-

"Masuk."

Orihime membuka pintu ruangan Rukia dengan perlahan. Ia melihat Rukia sedang mendesign suatu produk di komputernya.

"Orihime? Ada apa?"

"Hehehe maaf aku mengganggumu Rukia-chan. Apa malam ini kau sibuk? Grimmjow mengajak Ichigo, aku dan Rukia-chan untuk pergi minum di bar dekat sini. Bagaimana? Ikut ya?" ujar Orihime dengan mata penuh pengharapan.

Rukia berpikir sejenak lalu mengecek jadwal di HPnya. Tidak ada acara penting untuk malam ini untungnya. Dan sudah lama juga ia tidak pergi minum-minum dengan teman.

"Baiklah kalau begitu. Kau ikut naik mobilku saja ya Orihime."

Orihime tersenyum dan memeluk Rukia,

"Yeay! Kalau gitu aku siap-siap dulu ya Rukia-chan. Nanti kalau sudah beres jangan lupa telpon aku. Bye Rukia-chan!" ujar Orihime langsung pergi dari ruang Rukia menuju ruangannya untuk bersiap-siap pulang.

Rukia tersenyum sambil menghela nafas kecil, "Dasar anak itu.. Baiklah kalau gitu aku juga harus menyelesaikannya sekarang."

Ia kembali fokus pada layar komputernya dan lanjut mendesign produk.

-O-

Malam pun tiba, ketiganya sudah selesai dan bergegas menuju basement.

"Kau tahu kan bar and cafe 'Starlight'?" tanya Ichigo pada Rukia.

"Ya aku tahu."

-ting-

Pintu lift yang mereka naiki pun terbuka. Rukia dan Orihime berjalan menuju mobil sedan berwarna putih milik Rukia, sedangkan Ichigo berjalan menuju mobil sport berwarna hitam dengan garis silver. Setelah memasuki mobilnya masing-masing, mereka pun pergi ke tempat tujuan.

Kurang lebih 10 menit akhirnya mereka sampai di depan café dengan gaya artsy dan klasik. Setelah memarkirkan mobil mereka di tempat parkir, ketiganya masuk dan disapa seorang pelayan dengan ramah.

"Selama datang tuan dan nona, smoking atau non smoking?"

"Teman kami sudah menunggu di dalam. Atas nama Grimmjow." ujar Ichigo.

"Oh tuan Grimmjow. Baiklah mari saya antar."

Ketiganya berjalan mengikuti pelayan tersebut. Mereka berjalan menuju mini bar yang ada di luar ruangan yang di booking khusus oleh Grimmjow. Di sana sudah terlihat Grimmjow sedang merokok sendirian sambil menyender pada pagar kaca sambil menatap pemandangan kota.

"Oi," sapa Ichigo menepuk pundak Grimmjow.

Grimmjow menoleh dan menyeringai, "Lama sekali sih kepala jeruk. Heh, aku tak menyangka kau bisa membawa si ratu es ini." ujarnya sambil menatap Rukia.

Sedangkan Rukia menatapnya tanpa berekspresi apapun. Ia sudah biasa mendengar julukan tersebut dan tidak masalah.

"Grimmjow-kun, jangan panggil Rukia-chan seperti itu. Dia orang yang manis dan hangat tahu," ujar Orihime membela Rukia sambil memeluknya dari samping.

Grimmjow menaikkan alisnya, "Heh begitu? Ah ya aku lupa."

Grimmjow langsung mematikan rokoknya karena ingat kalau Orihime tidak suka ada asap rokok di dekatnya. Setelah itu ia duduk di kursi meja bar bersama Ichigo. Mereka memesan minuman sambil mengobrol. Sedangkan Orihime dan Rukia memilih duduk di sofa sambil melihat buku menu. Mereka memanggil seorang pelayan dan langsung memesan makanan mereka. Sambil menunggu, keduanya pun mulai mengobrol.

Sesekali Grimmjow curi pandang pada Orihime yang kini tengah tertawa bersama Rukia. Entah mengapa ia tampak lebih manis dari biasanya.

Ichigo memperhatikan sahabatnya tersebut dan mulai merasakan ada yang aneh.

"Kalau suka bilang saja,"

Grimmjow terkejut dan menatap Ichigo aneh.

"Bicara apa sih kau kepala jeruk? Kau tidak ingat kalau aku sudah punya tunangan? Ck."

Ichigo menghela nafas, "Tunangan di atas kertas? Biasanya juga cuma bertahan sekitar 1-2 bulan. Memang kau sudah yakin dengan yang sekarang?"

Grimmjow hanya diam, ia memilih meminum minumannya hingga habis.

"Berisik kepala jeruk." ujar Grimmjow dengan wajah sebal dan terus meminum minumannya.

Ichigo menggelengkan kepalanya, ia tahu kalau Grimmjow masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya. Sebenarnya ia berharap Grimmjow dekat dengan Orihime agar ia bisa melupakan mantan kekasihnya itu tapi sepertinya masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Melihat Grimmjow yang terus meminum minumannya tanpa henti membuat Orihime yang melihatnya khawatir. Ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Ichigo dan Grimmjow bicarakan karena dentuman suara yang cukup keras dari live music yang sedang berlangsung saat ini.

"Orihime? Halo?"

"Ah ya?! Ada apa Rukia-chan?"

Rukia merasa bingung dan menoleh ke belakang, ia melihat Ichigo sedang mengrobol dengan Grimmjow.

"Bagaimana kalau kita pindah ke sana setelah makan? Aku ingin sedikit minum soalnya." ujar Rukia menunjuk kursi kosong sebelah Ichigo.

Orihime mengangguk, lalu mereka menyelesaikan makan mereka.

Sebenarnya Rukia kemari bukan hanya ingin berkumpul dengan teman-temannya tapi ia juga ingin menghilangkan penat dan rasa kesalnya terhadap Byakuya. Sampai sekarang ia masih kepikiran dengan ucapan anaknya dan sikap dingin Byakuya. Bahkan tidurnya pun terganggu dan ia jadi kurang mood makan. Mungkin dengan minum sedikit dapat menghilangkan penatnya sejenak.

Setelah selesai makan, keduanya berpindah tempat duduk di kursi meja bar. Rukia duduk tepat di sebelah Ichigo sedangkan Orihime duduk di sebelah Grimmjow karena tempat duduk di sebelah Rukia satunya lagi sudah diisi orang lain.

Ichigo melihat Rukia yang langsung memesan minuman, "Sudah makannya?"

"Ya. Tumben kau hanya minum sedikit," ujar Rukia melihat gelas Ichigo yang sudah kosong dan tidak diisi kembali.

"Aku kan harus menyetir nanti jadi sebisa mungkin aku tidak banyak minum. Dan kau, jangan kebanyakan minum," ujar Ichigo mengingat kejadian tidak mengenakkan saat dulu Rukia mabuk berat dan mengamuk seperti orang gila.

Rukai tersenyum meremehkan, "Heh, bawel. Aku bukan anak kecil Ichigo."

Ichigo menatap Rukia dengan perasaan tidak enak, 'Heh, itu artinya dia akan minum banyak hari ini.'

Sedangkan Grimmjow sudah menghabiskan entah yang ke berapa gelas. Wajahnya tampak mengantuk dan memerah, ia berniat untuk menuangkan kembali botol minuman tersebut ke dalam gelasnya namun langsung ditahan oleh Orihime.

"Sudah cukup Grimmjow-san, kau mabuk.." ujar Orihime tampak khawatir.

Grimmjow menoleh dan menatap wajah Orihime. Bayangannya berubah menjadi seorang gadis yang mirip sekali dengan Orihime hanya saja warna rambutnya berbeda dan sedikit bergelombang.

"Madeleine?"

Orihime terkejut, "Eh?"

Grimmjow mencium tangan Orihime yang menahannya tadi, "Aku merindukanmu, kau kemana saja sih..? Dasar.." ujar Grimmjow mulai menyentuh pipi Orihime dengan lembut.

Orihime terkejut dan langsung menarik tangannya. Jantungnya berdegup dengan cepat dengan wajah yang memerah.

Grimmjow menatap Orihime yang tampak gugup, ia langsung merangkul bahu Orihime dan memeluknya.

"Kau tampak manis jika sedang malu seperti itu.."

"EH?! Ka-kau mabuk berat, Grimmjow-san!" seru Orihime langsung melepaskan rangkulan Grimmjow dengan wajah yang semerah tomat.

Semua orang menatapnya dan Orihime baru sadar atas kelakuannya tadi. Ia meminta maaf dan kembali duduk. Sedangkan Ichigo menghela nafas, "Sepertinya aku harus mengantar si neon pulang sekarang juga-"

Rukia menahan ujung baju Ichigo, "Kau mau kemana?"

Ichigo merasakan hawa yang tidak enak, ia menoleh dan benar saja. Rukia juga sudah mabuk dengan wajah memerah. Ia tampak merengut sambil menatap Ichigo sedih, hal itu langsung membuat Ichigo tak bisa berpaling padanya.

"Kau mau kemana Ichigo..? Kau mau meninggalkanku lagi..?"

"Ah tidak Rukia haha, kau sepertinya mabuk.."

Rukia langsung menarik kerah Ichigo, "Tidak usah bohong dasar kau -pip-!" seru Rukia.

Semua orang menoleh ke arah mereka dan tertawa dibuatnya. Ichigo menghela nafas dan merasa sangat malu. Ia menatap ke arah Orihime.

"Inoue, maaf boleh aku minta tolong padamu? Bisakah kau antar Grimmjow pulang? Aku akan berikan alamatnya padamu. Kau bisa menyetir kan?" tanya Ichigo sambil merogoh saku celana grimmjow dan memberikan kunci mobilnya pada Orihime.

Orihime melihat Grimmjow yang saat ini sudah memeluknya dari belakang. Ia hanya bisa pasrah, "Baiklah.. Kalau begitu aku antar Grimmjow-kun pulang sekarang juga.. Tolong jaga Rukia-chan dengan baik ya."

"Thanks, Inoue. Ohya semuanya biar aku yang bayar." ujar Ichigo sambil membopong Rukia yang sudah mabuk berat.

Orihime mengangguk dan ia berjalan sambil begandengan dengan Grimmjow memasuki lift. Mereka turun menuju basement dimana mobil Grimmjow diparkirkan. Orihime masih ingat mobil yang Grimmjow pakai tempo hari saat menjemputnya, mobil sport berwarna biru dongker dengan garis-garis api berwarna silver. Dirinya agak kesusahan berjalan karena tubuh Grimmjow yang terus menyender padanya.

Ia menemukan mobilnya dan langsung masuk ke dalam lalu menyalakan mobilnya. Grimmjwo langsung menahan setir mobil dan menatap wajah Orihime dengan jarak yang begitu dekat.

"Aku tidak mau pulang."

"Kau bicara apa Grimm-"

Grimmjow langsung menutup mulut Orihime lalu menatapnya dengan tatapan sedih.

"Jika aku pulang sekarang, kau akan menghilang lagi."

Jarak mereka begitu dekat. membuat jantung Orihime terus berdegup dengan cepat. Padahal ia sudah sering beradu acting dengan actor menjadi sepasang kekasih. Ia tidak pernah merasakan perasaan gugup atau jantung yang terus berdebar. Padahal para actor yang jadi lawan mainnya tidak kalah tampan dan mempesona. Entah kenapa, malah sekarang ia merasa dag-dig-dug tidak jelas di hadapan Grimmjow. Apa dia sakit?

Ia menghela nafas dan berusaha menjernihkan pikiranya sambil terus berusaha tenang. Dengan perlahan ia mendorong tubuh Grimmjow untuk duduk di tempatnya kembali, untung saja Grimmjow menuruti perbuatannya sambil terus memperhatikan wajah Orihime. Ia langsung menarik sabuk pengaman milik Grimmjow dan memasangkannya.

Orihime menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya secara perlahan. Pikiran dan jantungnya sudah tenang sekarang.

"Lalu kau mau kemana Grimmjow-san?" tanya Orihime.

Grimmjow tidak menjawab sama sekali. Orihime menoleh ke arahnya dan melihat Grimmjow sudah tertidur lelap. Orihime mendorong pelan tubuh Grimmjow namun ia tidak bangun, ia mengencangkan dorongannya dan kepala Grimmjow terjeduk pada kaca mobil. Orihime terkejut dan takut kalau Grimmjow langsung bangun memarahinya tapi untungnya tidak.

"Bagaimana ini? Ohya aku tanya Kurosaki-kun saja deh.."

Orihime mencoba menghubungi Ichigo namun ia tidak mengangkat telponnya. Ia terus menghubunginya tapi hasilnya nihil. Padahal tadi Ichigo bilang akan membeitahukan alamat Grimmjow padanya, tapi mana, sama sekali tidak ada.

'No yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area. Coba-'

"Sekarang no nya tidak aktif. Astaga, Kurosaki-kun…"

Apa dia harus menelpon Ulquiorra? Tapi ini sudah sangat larut malam dan rasanya tidak sopan menghubunginya selarut ini. Apalagi Ulquiorra tipe orang yang tidak mau diganggu jika itu bukan hal penting atau berhubungan dengan pekerjaan.

"Heh baiklah, untuk kali ini saja.." ujar Orihime langsung menjalankan mobilnya.

-O-

Setelah Orihime membawa Grimmjow pergi, kini Ichigo berusaha membawa Rukia pergi. Tapi masalahnya Rukia tidak mau beranjak dari tempat duduknya dan terus menambah minumannya.

"Rukia, sudah hentikan." ujar Ichigo menahannya.

"Tidak usah mengaturku kepala jeruk.. Aku harus menjernihkan pikiranku hehehe." ujar Rukia dengan wajah memerah.

Ichigo menatapanya dengan serius lalu langsung menariknya.

"Sudah kuduga kau melakukan ini untuk menghilangkan stressmu. Kita pulang sekarang." ujar Ichigo terus menariknya hingga meja kasir.

"Lepaskan..!" seru Rukia meronta-ronta seperti anak kecil.

Ichigo membayar bilnya dengan cepat. Ia menghela nafas dan langsung memanggul Rukia seperti karung beras. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan orang lain kepadanya atau Rukia yang terus memukuli punggungnya.

Dengan segera mereka keluar dari café dan masuk ke dalam mobil Rukia yang terparkir tepat di depan cafe.

"Lepaskan! Biarkan aku minum lebih banyak!" seru Rukia memukuli tubuh Ichigo.

Ichigo mulai kesal dan langsung menahan kedua tangan Rukia.

"Rukia!"

Rukia terkejut dan menatap Ichigo. Ichigo menatapnya dengan serius lalu menghela nafas,

"Sudah kubilang jika ada apa-apa kau kan bisa cerita padaku. Bukan mabuk berat seperti ini.." ujar Ichigo.

Rukia terdiam, "Kau tidak akan mengerti.." ujarnya lirih sambil menatap arah lain.

"Rukia memangnya sudah berapa lama kita kenal? Aku tahu semua kebiasaan dan sifatmu. Kau selalu menyimpannya sendiri tanpa mau merepotkan orang lain. Padahal sudah aku bilang, aku siap mendengarkanmu apapun itu." ujar Ichigo dengan tulus.

Rukia terdiam lalu menyender pada pundak Ichigo, "Kalau begitu bolehkah aku bersandar padamu?"

Ichigo menatap Rukia, jantungnya berdegup kencang.

'Ya Tuhan, rasanya aku ingin memeluknya sekarang juga..!' pikir Ichigo dalam hati.

"Tentu saja bodoh. Ya sudah aku antar kau pulang sekarang."

Rukia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau pulang, aku tidak mau bertemu dengan Nii-sama.."

"Lalu?"

"Aku mau menginap di rumahmu saja."

"Hah? Kau ngomong apa sih Rukia?"

"Kalau aku bilang ke rumahmu ya ke rumahmu!" seru Rukia mencengkram kerah Ichigo.

Ichigo menghela nafas, "Baiklah.. Tunggu sebentar aku mau hubungi orang rumahku untuk mengambil mobilku. Hmm? Cih malah habis batre."

Ichigo menatap HPnya yang mati total. Daripada Rukia makin menggila dan mengamuk tidak jelas, lebih baik ia mengikuti kemauannya dulu sekarang.

Ia langsung menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah.

Sembari menyetir, ia curi-curi pandang terhadap Rukia yang saat ini terdiam dengan tatapan kosong. Hatinya tidak tenang melihat sikap Rukia yang seperti ini. Ia paling tidak mau melihat gadis pujaannya menderita. Entah apa yang terjadi tapi dari ucapannya yang tadi, ia bisa menebak bahwa ini pasti berhubungan dengan Byakuya dan Ryuu.

Kembali lagi pada Orihime yang kini tengah menyetir dengan perasaan bingung. Mungkin ini keputusan terbodoh yang ia ambil tapi apa boleh buat. Ia tidak tahu harus kemana membawa Grimmjow. Tidak mungkin kan ia membiarkan Grimmjow tidur di jalanan? Rasanya tidak manusiawi apalagi Grimmjow sedang mabuk.

Orihime terus berpikir

Ichigo juga berpikir.

'Semoga keputusanku ini tepat...' pikir Ichigo dan Orihime secara bersamaan.

.

.

.

.

To be continue