Hola semuanya! Maaf baru update lagi setelah sekian lama huhu.

Baiklah kalau gitu langsung aja ya, selamat membaca!


Chapter 6

Haunted Past, Uncertain Future

Kehidupan dan kematian selalu berjalan beringinan. Tidak tahu siapa yang akan hidup dan mati. Kadang bergantian namun kadang juga bersamaan. Jika sudah terjadi, tidak tahu apa yang harus dirasakan. Apakah harus senang atau sedih? Begitulah yang Rukia rasakan saat Hisana meninggal setelah melahirkan Ryuu.

Masih teringat di benaknya, tangan Hisana yang sehangat cahaya matahari berubah menjadi sedingin es. Ia sudah tahu bahwa resikonya tinggi untuk dirinya melahirkan, tapi ia bersikukuh ingin anaknya lahir dan memperkenalkan dunia ini kepadanya. Bahkan sebelum persalinan dimulai, Hisana sudah berpesan pada Rukia.

"Rukia.. Jika anak ini lahir dan aku tidak selamat.. Aku ingin kau menyayanginya juga seperti anakmu sendiri.. Tolong bombing dia dan sayangi dia.."

"Nee-sama bicara apa? Nee-sama harus selamat bersama dengan anakmu..!"

Hisana hanya tersenyum lembut dan apa yang dikatakannya pun terjadi.

Saat itu bukanlah kebahagian yang hadir tapi kesedihan yang mendalam karena kematian yang menjemput. Berita kematian Hisana langsung gempar, kelurga besar Kuchiki ikut bersedih bahkan para penggemar Hisana pun tak kuasa menahan kesedihan mereka karena kehilangan artis sebaik dirinya. Setelah itu, sikap dan perilaku Byakuya berubah drastis menjadi dingin dan seakan tidak peduli pada anaknya. Ia hanya bisa meratapi kesedihannya dengan cara menyibukkan dirinya sendiri. Begitupula dengan Rukia yang merasa bahwa dunianya hancur berkeping-keping. Semudah itukah Tuhan mencabut nyawa kakak kesayangannya?

Hari demi hari pun berlalu, keadaan di kediaman Kuchiki begitu dingin dan sepi. Semua masih dirundung kesedihan dan mereka seolah lupa akan kehadiran seseorang. Kehadiran malaikat kecil yang merenggut nyawa Hisana. Semua menganggap bahwa anak tersebut hanyalah pembawa sial. Ayahnya tidak peduli, tantenya tidak mau melihat sosoknya menganggap seolah ia tidak ada. Untungnya tidak dengan sang kakek, ia masih memperhatikan anak tersebut dan menyuruh para pelayan merawat serta menjaganya sebaik mungkin. Ia tidak bisa turun langsung karena sibuk dengan pekerjaan serta perusahaannya.

Makin lama sang kakek mulai geram melihat sikap kakak beradik itu. Ia mulai menasihati keduanya namun keduanya seakan tidak peduli dan malas untuk mendengarkan ocehan tak berarti dari sang kakek.

Hari yang tenang terlewati begitu saja hingga pada akhirnya suara tangisan dari anak tersebut terdengar begitu nyaring di mansion Kuchiki yang sepi. Saat itu Byakuya juga kakek sedang tidak ada di mansion. Mereka sedang pergi ke luar negri untuk menjalankan bisnis. Hanya ada Rukia dan beberapa pelayan saja yang ada di mansion.

Para pelayan yang menjaga anak tersebut berusaha meredakan tangisannya namun ia tidak berhenti. Padahal biasanya ia tipe yang tenang dan tidak pernah rewel. Seorang pelayan menyentuh kening anak tersebut.

"Astaga tuan muda badannya panas sekali!"

"Kita harus lapor pada tuan besar..!"

"Tapi tuan besar kan sedang pergi ke luar negri dan beliau paling tidak suka diganggu."

"Kalau begitu aku akan beritahukan Rukia hime-sama!"

"Hah!? kau yakin!?"

Para pelayan begitu bingung dengan perasaan gelisah. Saat itu Rukia baru saja memberi makan ikan koi di halaman belakang dan melewati kamar anak itu. Tatapannya masih kosong seperti biasa. Ia mendengar keributan di dalam kamar tersebut dan penasaran apa yang para pelayan sedang ributkan. Ia juga mendengar suara tangisan anak kecil yang begitu nyaring. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar dan membuat para pelayannya terkejut.

"Rukia-sama..! Tolong kami! Tuan muda menangis terus..!"

"Sepertinya ia harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga!"

"Kami mohon! Tolong selamatkan tuan muda..!"

Rukia hanya menoleh dan menatap anak tersebut dalam diam. Ini pertama kalinya Rukia melihat wajah anak tersebut. Ia mirip sekali dengan Hisana. Dengan perlahan namun pasti, ia menyentuh wajahnya.

'Perasaan ini.. Kehangatan ini..'

Tak sadar, Rukia menjatuhkan air matanya. Ia terkejut dan menyentuh pipinya yang basah akan air mata. Dengan cepat ia langsung meraih anak tersebut dan memeluknya dengan hangat. Wajahnya berubah panik dan matanya meantap para pelayannya yang terkejut.

"Cepat panggilkan dokter anak terbaik kemari!" seru Rukia pada para pelayannya.

"Baik hime-sama!"

Dengan cepat mereka menelpon salah satu dokter anak terbaik untuk datang ke rumah.

Rukia memangku bayi tersebut dengan perasaan cemas dan air mata yang terus mengalir.

"Maafkan aku.. Semua ini bukan salahmu.. Tolong maafkan aku ya bayi kecil.." ujar Rukia dengan penuh penyesalan di dalam hatinya.

Kematian Hisana terjadi karena memang sudah takdirnya. Anak ini tidak memiliki salah apapun, ia hanya dilahirkan ke dunia ini. Rukia mulai menyadari hal tersebut dan merasa sangat bersalah. Padahal Hisana sudah menyampaikan pesannya pada Rukia untuk menjaga dan menyayanginya. Ia benar-benar bodoh dan pengecut karena sudah menyalahkan anak yang tidak tahu apa-apa bahkan mungkin ia juga tidak minta untuk dilahirkan jika Ibunya harus meregangkan nyawa.

Tak lama dokter pun datang dan langsung memeriksanya. Rukia terus memperhatikannya dengan perasaan cemas.

"Untung saja cepat ditangani kalau tidak mungkin tuan muda tidak akan selamat. Saya akan menuliskan resep obat untuknya, apakah anda Ibunya?" tanya dokter pada Rukia.

"Eh soal itu-"

"Ya saya ibunya." jawab Rukia dengan tegas dan tatapan yang serius.

Setelah itu dokter menuliskan resep obat dan apa saja yang harus diperhatikan pada Rukia. Rukia mendengarkannya dengan seksama. Setelah selesai dokter berpamitan untuk pulang.

Rukia menyuruh pelayannya untuk menebus obat tersebut di apotik sedangkan Rukia kini menjaga anak tersebut dari dekat. Ia menatap lembut bayi tersebut dan menyentuh tangan mungilnya.

"Hisana Nee-sama bilang kalau ia memiliki anak laki-laki ia akan menamainya Ryuu. Kalau begitu namamu Ryuu.. Sekali lagi salam kenal Ryuu, mulai sekarang mommy yang akan menjaga dan menyayangimu sebaik mungkin.." ujar Rukia lalu mengecup lembut kening dan pipinya.

Ryuu tertawa bahagia seolah mengerti apa yang dikatakan Rukia. Rukia tersenyum manis dan kehangatan dalam dirinya muncul kembali. Tatapannya kembali menunjukkan kehidupan dan semangatnya seakan tumbuh kembali.

Rukia tersadar bahwa Hisana tidak benar-benar meninggalkannya. Justru ia meninggalkan secercah cahaya yang amat berkilauan yaitu Ryuu. Ia berjanji akan terus menjaga dan menyanginya.

-O-

Rukia mulai membuka matanya, kepalanya seperti habis dihantam oleh palu. Ia baru ingat kalau semalam ia mabuk berat dan Ichigo yang membawanya. Membawanya? Kemana?

Rukia melihat kamar serta kasur yang tidak asing baginya hanya saja ada beberapa perubahan yang terjadi di kamar ini. Entah dari interior atau furniturenya. Pakaiannya pun sudah berbeda dari yang semalam. Kini ia memakai piyama berbentuk dress berwarna pink muda.

Ia bangun dengan perlahan lalu menuangkan teko kaca berisi air pada mug biru muda di sampingnya.

Setelah meminum air putih, ia mengambil cardigan putih di gantungan belakang pintu dan keluar kamar. Ia mencium masakan yang begitu lezat, kebetulan sekali perutnya lapar.

"Kau sudah bangun rupanya. Apa kepalamu sakit? Oya sebagai pemberitahuan saja, yang mengganti pakaianmu itu adikku kebetulan ia sedang menginap di sini." ujar Ichigo yang baru saja selesai berolahraga.

Badan sixpacknya terlihat jelas dari atasannya yang ketat dan basah oleh keringat.

"Kau menjijikan." ujar Rukia pergi menuruni tangga menuju ruang makan.

Ichigo menggelengkan kepalanya, "Ckck, masih pagi dan dia sudah mengataiku. Dasar midget." ujar Ichigo langsung masuk ke dalam kamar.

Rukia berjalan dan melihat seorang gadis sedang asyik memasak di dapur.

"Yuzu?"

Yuzu menoleh dan tersenyum riang, "Selamat pagi Rukia nee-chan..! Bagaimana tidurmu? Ah ya sebentar lagi sarapannya selesai, tunggu sebentar ya hehehe."

Rukia tersenyum lalu duduk di kursi meja makan.

Akhirnya Yuzu selesai memasak sarapan untuk mereka bertiga lalu menyiapkannya di meja makan. Tak lupa ia juga menyiapkan teh madu hangat untuk Rukia.

"Ah, terima kasih Yuzu."

"Sama-sama..!"

Menu sarapan hari ini adalah nasi, ikan tuna, sayuran, dan sup miso. Cukup simple namun bergizi.

"Oh sepertinya enak..!" ujar Ichigo yang sudah selesai mandi dan kini memakai kaos simple hitam dengan celana pendek selutut. Ia langsung duduk di sebelah Rukia dan memperhatikan Rukia yang saat ini sedang meminum teh nya.

Yuzu tersenyum melihat keduanya, "Baiklah kalau begitu, selamat makan!"

"Selamat makan..!" ujar Ichigo dan Rukia.

Ketiganya langsung mulai memakan sarapan mereka. Rukia agak lupa apa yang terjadi malam kemarin rasanya semua ingatannya hilang begitu saja. Mungkin karena mabuknya yang luar biasa.

"Rukia nee-chan sangat manis saat mabuk kemarin. Nii-chan sangat kelimpungan dan ia-"

Ichigo langsung menutup mulut adiknya dengan ikan tuna miliknya. Wajahnya sedikit memerah dan tidak mau Rukia tahu akan hal tersebut. Adiknya yang satu ini memang tidak bisa jaga rahasia.

"Memangnya apa yang terjadi semalam?" tanya Rukia dengan penasaran.

Ichigo memberi isyarat lewat matanya pada Yuzu agar ia tidak menceritakan hal tersebut pada Rukia. Yuzu hanya tertawa kecil dan mengedipkan matanya.

"Intinya kau sangat manis Rukia nee-chan hehehe."

"Begitu..? Hmm.." Ia melirik Ichigo dengan mata penasaran.

Ichigo langsung menghabiskan makanannya dengan cepat.

"Terima kasih atas makanannya..! Cepat kalian habiskan makannya biar aku yang cuci piring." ujar Ichigo langsung merapikan piring bekasnya makan dan langsung mencucinya.

Tak lama Rukia dan Yuzu juga sudah menyelesaikan makannya. Rukia membawa piring bekas mereka makan dan menaruhnya di tempat cuci piring.

"Biar aku bantu." ujar Rukia melipat lengan cardigannya.

"Heh nanti piring-piring pada jatuh semua, kau sudah sadar sepenuhnya memang?"

"Ck menyebalkan." ujar Rukia langsung mencuci piring yang sudah diberi sabun oleh Ichigo.

Ichigo hanya terkekeh geli melihatnya yang jutek. Entah kenapa ia merasa Rukia yang kemarin itu benar-benar bukan Rukia yang sebenarnya.

Tanpa mereka ketahui, Yuzu diam-diam memotret mereka dan mengirimkan foto tersebut pada grup keluarga dengan berisikan dirinya, sang Ayah dan Karin. Grup ini khusus mereka berbagi tentang Ichigo dan apa saja yang terjadi padanya.

'Pagi yang cerah dengan sepasang calon suami istri yang mesra.' ketik Yuzu pada grup chat tersebut.

'OHHHH BAGUS YUZU!' balas sang ayah dengan emoji berbentuk hati sampai menghabiskan satu baris chat.

'Kau lebay sekali sih Yah -_-. Tapi itu foto yang bagus.' balas Karin.

Yuzu tertawa kecil dan larut dalam chatnya. Dirinya, Karin dan sang Ayah sangat berharap bahwa hubungan Ichigo dan Rukia bisa lebih dari seorang teman. Sang Ayah sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengadakan pesta pernikahan yang sangat megah dan spektakuler bagi Ichigo dan Rukia, sayangnya hubungan mereka masih dalam batas sahabat.

'Ya Tuhan semoga mereka cepat-cepat jadian, kalau bisa langsung nikah deh.' ujar Yuzu memohon sedalam-dalamnya.

Ia tidak mau kakaknya terus melajang dan jadi bujang lapuk nanti.

-O-

Pagi yang cerah di kediaman Orihime. Walau matahari sudah bersinar dengan cerah di luar tapi sang pemilik rumah masih tertidur dengan lelap di kasurnya. Bahkan ia tidak menyadari ada sesuatu yang asing di dekatnya. Semakin lama ia pun merasakan ada sesuatu yang berat sedang memeluknya saat ini. Wangi yang tidak ia kenal dan hembusan nafas lembut terasa di atas kepalanya. Dengan perlahan ia membuka matanya yang berat. Ia masih mengantuk berkat perilaku menyebalkan Grimmjow kemarin. Tangannya mencari HP untuk menyalakan flashlight dan mengarahkannya tepat di depan wajahnya. Matanya langsung terbuka lebar melihat apa yang berada di depan matanya saat ini. Wajah yang tampan dengan rambut biru yang mencolok, tubuh kekar dan tidak mengenakan apapun tapi untungnya ia masih mengenakan celana training hitam milik kakak Orihime.

Ia langsung bangun dari tempat tidurnya dan wajahnya memerah seketika.

"Ke-kenapa kau ada di sini Grimmjow-san!?" seru Orihime panik.

Grimmjow terganggu mendengar suara nyaring milik Orihime dan menutup kepalanya sendiri dengan batal.

"Berisik kau onna.." ujar Grimmjow dengan nada masih mengantuk.

"Bangun!" seru Orihime menarik bantal yang menutupi kepala Grimmjow.

"Apaan sih!?"

Grimmjow membuka matanya, ia melihat wajah Orihime yang memerah dan kamar yang tidak ia kenali sama sekali. Ia juga melihat tubuh bagian atasnya yang tidak memakai apapun dan langsung menutupinya dengan selimut. Ia langsung menatap Orihime dengan wajah terkejut lalu menunjuknya.

"Ka-kau!? Ini dimana!?" seru Grimmjow yang baru saja sadar.

"Keluar!" seru Orihime dengan wajah masih memerah. Ia mulai melemparinya dengan bantal, guling dan barang lainnya pada Grimmjow.

"Cih baiklah!"

Grimmjow langsung keluar dari kamar Orihime dan Orihime langsung mengunci pintu kamarnya. Ia langsung terduduk lemas, jantungnya masih berdegup dengan kencang dan wajahnya masih semerah tomat. Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang tidur di sebelahnya dengan tidak sengaja, biasanya hal itu terjadi saat ia bermain drama atau film tapi itu juga hanya tiduran dalam beberapa menit saja.

Ia sudah menyangka bahwa keputusan yang ia buat pasti salah dan beresiko. Seingatnya setelah mereka sampai di rumah, Grimmjow langsung tidur di kamar khusus tamu. Kenapa ia bisa ada di kasurnya tadi? Sejak kapan ia masuk ke dalam kamarnya dan anehnya Orihime tidak menyadari hal tersebut.

Grimmjow masih belum beranjak dari tempatnya. Ia mengetuk pelan pintu kamar Orihime.

"Oi onna, kau bisa dengar aku?"

Orihime tak menjawab.

Grimmjow menghela nafas, sepertinya mabuknya yang kali ini benar-benar parah, bahkan ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam.

"Aku sama sekali tidak sadar bahwa aku ada di kamarmu jadi jangan salah paham."

Tak lama Orihime membuka pintu kamarnya, ia menatap Grimmjow dengan wajah merengut.

"Serius? Jangan bilang kau masuk kemari karena mengira aku ini Madeleine..?"

Grimmjow terkejut begitupula Orihime. Ia langsung menutup mulutnya karena sudah salah bicara, padahal Ulquiorra sudah mengingatkannya untuk tidak menyebutkan nama tersebut di hadapan Grimmjow. Habisnya entah kenapa ia cukup terganggu saat Grimmjow mabuk dan menyangka bahwa dirinya adalah Madeleine. Semirip itukah kami berdua?

"Ma-maafkan aku.." ujar Orihime menunduk dengan wajah bersalah.

Grimmjow terdiam dan tidak bicara apapun. Ia mulai berpikir keras dengan apa yang terjadi semalam, pikirannya mulai melayang dan akhirnya ia teringat akan hal bodoh yang ia lakukan tanpa ia sadari. Ia melihat Orihime sebagai Madeleine dan memperlakukannya sebaik mungkin. Ternyata ia masih belum bisa melupakannya.

"Aku pulang sekarang." ujar Grimmjow mengambil bajunya yang tergantung di belakang pintu dan langsung memakainya. Ia berjalan dengan cepat menuruni tangga dan mengambil kunci mobilnya yang tersimpan di atas meja dekat TV.

Orihime langsung menahannya, "Apa kau sudah baik-baik saja? Lebih baik kau sarapan dulu, Grimmjow-san.." ujar Orihime dengan wajah khawatir.

Grimmjow menoleh dan terkejut karena melihat sosok Madeleine. Ia langsung menggelengkan kepalanya agar tetap tersadar. Sejujurnya hal itu terjadi diluar kendalinya. Ia tidak mau menganggap Orihime sebagai pengganti Madeleine. Jika begini terus, bisa-bisa dirinya..

"Tidak usah." tolaknya tegas dan melepaskan tangan Orihime.

Orihime terkejut dan merasa kecewa. Penolakannya yang dingin cukup membuatnya tersentak dibandingkan dirinya yang berkata dengan pedas padanya. Jika sudah begini ia tidak mau memaksakan kehendaknya dan memilih untuk diam.

Grimmjow mengepalkan tangannya, ia terpaksa bersikap seperti itu pada Orihime. Mungkin kelihatanya sikapnya itu benar-benar tidak tahu terima kasih dan sangat menyebalkan, pasti setelah ini Orihime akan membencinya. Tapi itulah yang ia harapkan. Ia tidak mau ada orang lain lagi terlibat dalam masalah kehidupannya dan terluka karena dirinya.

Orihime langsung berjalan ke depan gerbang rumah dan membukanya, setelah itu Grimmjow masuk ke dalam mobil lalu pergi tanpa bicara apapun.

Orihime masih terdiam melihat kepergian Grimmjow. Mobilnya sudah menjauh hingga menghilang dari penglihatannya sekarang.

"Grimmjow-san.."

Orihime masuk ke dalam rumahnya kembali. Ia jadi tidak semangat melakukan apapun bahkan langit di luar pun langsung berubah menjadi mendung seperti mendukung perasaanya saat ini. Apa ia pura-pura izin sakit pada Ichigo ya? Rasanya ia malas masuk kerja untuk hari ini.

Tak lama HPnya berbunyi, ia melihat penelpon tersebut ternyata Ichigo. Pasti ia menanyakan dimana Grimmjow berada saat ini.

"Ohayou, Kurosaki-kun.. Maaf aku-"

"Justru aku yang harusnya minta maaf, Inoue! Maaf ya semalam HPku lowbat dan saat sampai rumah aku benar-benar lupa untuk memberikan alamat Grimmjow padamu. Aku dengar dari Grimmjow bahwa semalam ia menginap di hotel terdekat, maaf ya sudah merepotkanmu.."

Orihime terdiam sejenak mendengar ucapan Ichigo. Kenapa Grimmjow berbohong padanya?

"Ah tidak apa-apa kok hehehe.. Ohya bagaimana keadaan Rukia-chan? Apa dia baik-baik saja?"

"Ya dia baik-baik saja. Ini kami sedang pergi menuju kantor. ohya Orihime sebagai permintaan maaf ku kau boleh libur hari ini."

Sepertinya Ichigo bisa sekali membaca isi hati Orihime saat ini. Dengan begini kan ia tidak harus pura-pura sakit agar tidak masuk ke kantor.

"Ah ya terima kasih Kurosaki-kun.."

"Suaramu terdengar lesu. Apa kau baik-baik saja?"

Orihime terkejut, "A-aku baik-baik saja kok! hehehe.. mungkin karena belum sarapan. Ah ya sepertinya kau sedang menyetir, hati-hati ya Kurosaki-kun. Tolong sampaikan salamku untuk Rukia-chan."

"Ah ok, kalau ada apa-apa hubungi saja aku atau Rukia ya. Sampai jumpa,"

"Ya sampai jumpa,"

Orihime mematikan panggilan mereka. Ia menatap ke arah halaman belakang rumahnya, langit semakin gelap dan rintikan hujan mulai berjatuhan membasahi tanah. Cuaca ini benar-benar mendukungku untuk jadi malas.

"Huh lebih baik aku tidur lagi.." ujarnya langsung masuk ke dalam kamarnya.

Ia langsung melemparkan dirinya ke atas kasur. Ia mencium aroma parfum milik Grimmjow yang masih menempel di bantalnya. Ia jadi tidak bisa tidur dan memilih bangun.

"Lebih baik aku mandi dan makan di luar."

-0-

Ichigo masih terus memperhatikan Rukia yang saat ini duduk di sampingnya. Setelah mengantarkan adiknya ke sekolah, keduanya langsung menuju kantor. Rukia sama sekali tidak bicara apapun padanya. Ia seperti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri

'Sebenarnya apa yang terjadi padaku kemarin sih? Aku ingin tanya pada Ichigo tapi rasanya aku tidak siap mendengar jawaban darinya.' ujar Rukia dalam hati.

'Apa Rukia marah padaku? Aku sudah biasa mendengar ocehanya tapi sikapnya yang cuek ini benar-benar membuatku bingung.' pikir Ichigo dalam hatinya.

Mereka terus bicara dalam hati mereka masing-masing hingga akhirnya sampai di kantor.

"Sampai, ah ya ini kunci mobilmu." ujar Ichigo memberikan kunci mobil Rukia pada pemiliknya. Mereke sengaja pergi menggunakan mobil Rukia agar nanti Rukia bisa pulang tanpai harus mengambil mobilnya di rumah Ichigo.

Rukia melihat Ichigo hendak pergi dan langsung menahannya.

"Apakah pagi ini kau sibuk?"

Ichigo memutar ingatannya, "Kurasa tidak. Aku hanya menandatangai beberapa dokumen saja dan mengecek dokumen lainnya. Ada apa?"

Rukia terdiam, "Ada yang ingin aku bicarakan padamu.."

Ichigo mengerjapkan matanya, "O-ok.."

Rukia membuang mukanya lalu pergi meninggalkan Ichigo yang masih mematung di tempatnya. Sekarang ia jadi kepikiran tentang apa yang Rukia ingin bicarakan padanya. Ia langsung masuk ke dalam lift menuju ruangannya.

Ichigo menatap layar komputernya dan merasa lelah dengan kerjaan yang tidak ada habisnya. Ia mulai menguap padahal ini masih jam 10 pagi.

-tuk tuk tuk-

"Ya masuk,"

Rukia membuka pintu ruangan Ichigo. Wajahnya tampak lelah dari biasanya, ia masuk ke dalam sambil melemparkan dirinya ke atas sofa.

"Ngantuknya~" ujar Rukia mulai tiduran di sofa lalu memainkan HPnya.

Ichigo menatap Rukia lalu menyuguhkan teh untuknya.

Rukia melihat teh tersebut dan tersenyum, "Mana ada atasan menyuguhi bawahan seperti ini? Hehe thanks Ichigo."

Ichigo hanya diam sambil duduk di hadapannya. Ia memilih meminum kopi kalengan yang ia ambil dari kulkas di dapur kecil miliknya.

"Jadi, kau mau bicara apa?" tanya Ichigo menatap Rukia.

Rukia meminum tehnya lalu ia menatap ke arah ichigo,

"Sebenarnya tempo hari yang lalu aku bertengkar dengan Nii-sama.."

Ichigo terkejut sambil menaikkan sebelah alisnya, "Heh? Kau serius? Byakuya yang selalu kau banggakan itu?"

"Aku tahu pasti kau akan bicara begitu.. Tapi aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang cuek pada Ryuu. Aku benar-benar kesal dan tidak tahu harus bicara apalagi dengannya."

Ichigo menatapnya, "Aku tahu kau kesal dengannya tapi coba kau tanya dia baik-baik. Mungkin Byakuya punya alasan tersendiri mengapa ia bersikap seperti itu."

Rukia tersenyum, "Sudah kuduga kau akan bicara seperti itu. Aku bicara dengan orang yang tepat.. Aku cukup menyukai sikapmu yang seperti itu."

Wajah Ichigo sedikit memerah, ia membuang mukanya ke arah lain.

"Kau ini bicara apa sih.. Lalu kau mau bicara apa lagi? Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?"

Rukia meregangkan tubuhnya, wajahnya tampak lebih lega dari sebelumnya. Ia menatap Ichigo sambil tersenyum, "Ternyata aku bisa sedikit lega dengan bercerita padamu. Thanks Ichigo.. Dan aku kesini bukan untuk curhat saja."

Ia bangun dari sofa dan mendekati Ichigo, tangannya mengeluarkan satu undangan berwarna rose gold dari balik blazer yang kini ia kenakan. Ia berikan undangan tsb pada Ichigo.

"Kau mau kan jadi partnerku saat acara Jaegerjaquez nanti?" ajak Rukia.

Ichigo tersenyum, memang dari awal ia ingin mengajak Rukia untuk datang ke acara Grimmjow nanti. Tapi ia tidak menduga bahwa dirinya akan keduluan oleh Rukia dan ia sendiri yang mengajaknya pergi. Padahal Rukia bukan tipe yang mengajak seseorang melainkan seseorang yang selalu diajak oleh orang lain. Ia ingat sekali saat dulu ada acara prom night atau apapun itu banyak sekali lelaki yang mengajaknya untuk pergi bersama. Untungnya ia memilih untuk menolak dan pergi tanpa partner.

Ichigo masih tidak percaya bahwa hari itu akan tiba. Ia senang bukan main bahkan dirinya bisa saja loncat kegirangan sekarang juga. Tapi ia tidak mau terlihat seperti itu di hadapan Rukia. Bisa-bisa ia menarik kembali ajakannya tersebut.

"Baiklah, kebetulan aku juga tidak tahu mau pergi dengan siapa." ujar Ichigo.

"Ok kalau gitu aku kembali lagi ke ruanganku. See you." ujar Rukia lalu meninggalkan ruangannya.

"Rukia tunggu!"

Ichigo berlari mengejarnya dan hampir saja Rukia masuk ke dalam lift.

"Ada apa Pak?" tanya Rukia dengan sopan karena mereka sedang berada di luar ruangan Ichigo. Mereka harus bersikap selayaknya atasan dan bawahan jika sedang seperti ini.

"Pulang nanti mau makan denganku? Skalian kita jemput adik-adik ku dan Ryuu."

Rukia tersenyum, "Baiklah, terima kasih atas ajakannya Pak Kurosaki. Kalau begitu saya permisi dulu karena masih banyak yang harus saya kejakan." ujarnya membungkuk hormat laku masuk ke dalam lift.

Ichigo menunggunya hingga lift menutup setelah itu ia kembali ke ruangannya. Ia tidak sabar menunggu pulang kerja nanti.

-O-

Rintik hujan mulai membasahi muka bumi. Pas sekali dengan bunyi bel dari sekolah Ryuu yang berbunyi nyaring tandanya pulang. Anak-anak langsung mengenakan payung mereka menuju jemputan mereka masing-masing.

Ryuu menatap keluar dan tidak ada yang menjemput nya. Biasanya pak supir sudah menunggu sebelum pulang sekolah. Namun sekarang dirinya tidak nampak sama sekali.

Apakah ini waktunya dia pulang sendiri?

Sebenarnya sudah sejak lama ia ingin mencoba pulang sendiri menggunakan transportasi umum tapi sang Ibu dan Kakek melarangnya karena dia belum cukup umur.

Tak lama terdengar suara cipratan air menghampiri Ryuu. Sosok Ichigo sedang berlari menerjang hujan dengan payungnya. Ia berlari menghampiri Ryuu.

"Maaf membuatmu menunggu lama." ujar Ichigo sambil nyengir padanya.

"Eh paman? Sedang apa paman kemari?"

"Lho? Tentu saja menjemputmu! Nah ayo, yang lain sudah menunggu di mobil." ujar Ichigo langsung menggendong Ryuu karena ia tidak mau Ryuu terkena cipratan air hujan.

Ryuu terkejut namun senang oleh sikap Ichigo. Ia memeluk hangat tubuh Ichigo, 'Andai Paman Ichigo menjadi papaku..'

Ichigo berlari menuju mobil sambil memakai payung dan menggendong Ryuu. Ia tidak peduli dengan cipratan hujan yang mengenai celana serta jasnya yang mahal. Baginya yang terpenting adalah cepat sampai dan Ryuu tidak kehujanan.

Mereka pun sampai, Karin langsung membuka pintu belakang mobil untuk Ryuu masuk ke dalam. Setelah itu Ichigo masuk ke dalam jok pengemudi. Di sebelahnya sudah ada Rukia yang sedang mengobrol dengan Ryuu.

"Halo Karin nee-chan, Yuzu nee-chan!" sapa Ryuu pada keduanya.

"Yo!/Hai Ryuu-kun!" sapa balik keduanya.

Rukia tersenyum melihat keakraban ketiganya. Matanya kini tertuju pada Ichigo yang lengan baju dan kakinya basah. Ia langsung mengambil sapu tangan dari tasnya dan menyusut lengan Ichigo yang basah. Ichigo terkejut dengan sikap Rukia yang seperti itu. Karin langsung memotret momen tersebut secara diam-diam dan mengirimkannya di grup berisikan dirinya, Yuzu dan sang Ayah.

"Thanks.." ujar Ichigo lalu menyalakan mobilnya.

Rukia tersenyum, ia langsung memasang kembali seatbeltnya.

-O-

Kini kelimanya sedang makan di restoran terbaik yang sudah Ichigo reservasi sebelumnya. Ia memilih tempat ini karena suasananya yang hangat dan pas untuk berkumpul bersama keluarga. Sebelumnya sang ayah sudah diajak tapi ia tidak bisa ikut karena sibuk.

Karin menatap jam tangannya, "Ichi-nii, Rukia-chan, maaf sepertinya sesudah makan nanti aku harus pergi lagi. Tiba-tiba ada latihan dadakan dari kapten." ujarnya yang baru saja mendapat pesan dari kapten tim sepak bolanya.

Karin memang terkenal atletis dan ia menjadi ace tim sepak bola perempuan di sekolahnya. Ia juga mendapat banyak penghargaan dari setiap perlombaan olahraga yang ia ikuti.

"Oh oke, kudengar tim mu akan ikut pertandingan lagi ya? Semoga menang ya." ujar Ichigo mengelus kepala Karin.

"Semangat ya Karin." ujar Rukia sambil tersenyum

Karin tersenyum, "Thanks Ichi-nii, Rukia-chan."

"Semangat Karin nee-chan! Aku tahu kau pasti menang!" ujar Ryuu ikut menyemangati Karin.

Karin tersenyum senang dan mengelus kepala Ryuu, "Yeap, thanks Ryuu."

Tak lama makanan mereka pun datang. Kelimanya langsung makan dan larut dalam obrolan mereka.

Ryuu memperhatikan Rukia dan Ichigo yang saat ini sedang mengobrol tentang pekerjaan. Entah kenapa ia begitu senang melihat mereka berinteraksi seperti itu.

Setelah menyelesaikan makannya, Karin langsung berpamitan pergi. Yuzu juga berpamitan untuk pulang duluan karena ia harus mengerjakan tugasnya. Kini tinggal Rukia, Ichigo dan Ryuu. Ryuu sedang menikmati eskrim coklat yang ia pesan tadi bersama Rukia. Sedangkan Ichigo sedang menikmati kopinya sambil membaca berita yang ada di HPnya.

Ichigo melihat keduanya dan tersenyum. Diam-diam ia memotret keduanya dan menyimpannya sebagai wallpaper HP.

"Ichigo,"

Ichigo terkejut dan hampir menjatuhkan HPnya, "Y-ya?"

"Kami sudah beres, mau pulang sekarang?" tanya Rukia. Ia dan Ryuu sudah menghabiskan eskrim mereka.

Ichigo menghabiskan kopinya, "Oke kalau gitu, kita pulang sekarang. Kalian duluan saja ke parkiran, ini kuncinya." ujar Ichigo memberikan kunci mobil pada Rukia.

Setelah itu Rukia dan Ryuu pun pergi menuju parkiran dimana mobil Ichigo berada.

"Mommy hari ini sangat menyenangkan! Kapan-kapan kita makan bareng lagi ya!" ujar Ryuu.

"Syukurlah kalau kau senang.. Tentu saja, semoga paman Ichigo tidak sibuk ya." ujar Rukia sambil tersenyum.

Mereka masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian Ichigo sudah datang menyusul mereka.

"Ryuu apa kau menyukai makanannya?" tanya Ichigo.

"Tentu saja paman! Aku sangat menyukainya, terima kasih ya paman hehehe."

"Syukurlah kalau begitu, kapan-kapan kita pergi makan lagi oke?"

Ryuu mengangguk senang. Ia memang berharap kejadian hari ini terulang lagi bahkan kalau bisa ia ingin alami setiap hari.

"Sekali lagi terima kasih ya Ichigo." ujar Rukia tersenyum.

Ichigo hanya tersenyum lalu menyalakan mobilnya untuk mengantarkan Rukia dan Ryuu pulang ke rumahnya.

Selama perjalanan mereka tidak bicara apapun bahkan Ryuu sudah tertidur lelap di kursi belakang. Rukia langsung menyelimutinya dengan mantel yang ia kenakan. Ichigo menatap jalanan yang tiba-tiba macet.

"Tumben sekali hari ini macet." ujar Ichigo.

"Kudengar ada kecelakaan di depan."

"Ah begitu.."

Rukia menatao Ichigo yang saat ini sedang memainkan HPnya. Entah kenapa akhir-akhir ini sosoknya cukup menarik. Ia juga bingung kenapa bisa ia berpikir seperti itu terhadap Ichigo padahal sebelumnya ia merasa biasa saja.

"Rukia,"

Rukia langsung menatap ke depan, "Ya?" ujarnya berusaha tenang padahal jantungnya berdegup dengan cepat.

"Sepertinya Inoue tidak akan bisa masuk untuk beberapa hari karena katanya ia sakit. Hmm... Mungkin ini terdengar aneh, tapi maukah kau menemaniku pergi besok? Acara dua hari jadi pastikan kau bawa pakaian yang cukup "

"Hmm.. Oke.."

Ichigo tersenyum, "Tumben kau langsung mau. Kalau gitu aku jemput besok pagi ya, bersiaplah."

"Aku sedang tidak sibuk dan mana mungkin aku menolak pemintaan atasanku. Baiklah aku tunggu besok.."

Rukia tersenyum, entah kenapa ia merasa senang padahal ia hanya diajak pergi untuk menemani Ichigo menjalankan bisnisnya. Ia jadi tidak sabar untuk pulang ke rumah dan memberesi pakaian apa saja yang akan ia bawa nanti.

Ichigo juga merasa senang karena Rukia mau diajak oleh dirinya. Biasanya ia suka menolak dan banyak alasan tapi tidak untuk sekarang. Ia tidak sabar untuk menanti hari esok.

-O-

Orihime menatap termometer, pantas saja ia merasa lelah dan kepalanya begitu berat ternyata ia demam. Ia baru saja izin pada Ichigo dan meminta maaf padanya karena sudah menghambat pekerjaan mereka namun untunglah Ichigo tidak marah, ia malah mendoakan kesembuhannya dan mengirimkan makanan untuknya.

Ia menatap kaca dan mukanya begitu merah seperti kepiting rebus. Matanya lelah dan berair dan ia tak berhenti bersin. Hal ini benar-benar menyiksa dirinya.

"Kenapa aku bisa sakit sih.."

-ting tong-

"Ah sepertinya sudah datang, sebentar!" seru Orihime memakai jaketnya yang tebal, masker dan kacamata hitam(untuk menyembunyikan mata sembabnya).

Ia langsung keluar dan membuka gerbangnya.

"Astaga!"

Orihime terkejut karena bukan tukang makanan yang datang melainkan Grimmjow.

"Gr-Grimmjow-san! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Orihime ikut kaget padahal tadi dia pergi begitu saja meninggalkannya. Mau apa dia kemari lagi?

"A-aku dengar dari si kepala jeruk kau butuh makan dan ada barang yang tertinggal di rumahmu." ujar Grimmjow.

'Dasar Kurosaki-kun.. Aku harus bicara dengannya nanti.' ujar Orihime dalam hati sedikti sebal dengan tindakan suka-suka dari Ichigo.

"A-ah begitu, kalau begitu silahkan masuk." ujar Orihime.

Grimmjow masuk ke dalam dan menunggu Orihime menutup gerbangnya. Setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah bersamaan. Orihime langsung melepaskan atributnya. Grimmjow bisa melihat jelas apa yang terjadi pada Orihime. Wajahnya merah, matanya sembab dan suaranya terdengar sengau. Kini dirinya memilih untuk duduk di sofa.

Grimmjow langsung menuju kamar yang ia tempati tadi pagi dan menoleh ke arah meja kecil dekat kasur. Ada sebuah cincin emas dengan pahatan Madeleine di bagian dalam cincinnya. Cincin tersebut milik Madeleine dan ia menyimpannya sebagai memento dari dirinya. Ini merupakan barang paling berharga baginya. Makanya ia langsung balik lagi ke rumah Orihime untuk mengambilnya.

Orihime tahu akan keberadaan cincin tersebut dan melihat nama Madeleine terpahat di dalamnya. Ia sengaja tidak mengambilnya atau memberitahukan Grimmjow bahwa barangnya ketinggalan karena ia yakin pasti Grimmjow akan kembali lagi ke sini untuk mengambilnya.

"Sudah?" tanya Orihime pada Grimmjow yang keluar dari kamarnya.

"Ya,"

Orihime bangun dari tempat duduknya dan mengantar Grimmjow yang saat ini sedang mengenakan sepatunya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat.

"Thank- Oi! Hidungmu!" seru Grimmjow terkejut sambil menunjuk wajah Orihime.

Orihime merasakan ada yang mengucur dari hidungnya. Ia memegangnya dan ternyata itu darah. Pandangannya langsung kabur dan badannya terhuyung. Grimmjow langsung menangkap tubuhnya.

"Astaga panas sekali! Oi! Sadarlah!" seru Grimmjow langsung membawanya ke sofa. Ia langsung mengambil tisu dan menahan hidung Orihime dengan tisu tersebut. Orihime memegangi tisu yang berada di hidungnya saat ini. Grimmjow langsung mengambil kompres dan memasangkannya pada dahi Orihime.

"Aku baik-baik saja Grimmjow-san.."

"Kau bicara apa sih!? Apa kau mati rasa!?" seru Grimmjow yang khawatir terhadap Orihime. Ia langsung membuat teh hangat dan memberikannya pada Orihime. Orihime memperhatikan setiap gerakan yang Grimmjow lakukan padanya. Terlihat jelas bahwa Grimmjow khawatir dan berusaha yang terbaik untuknya. Ia menatap tisu yang penuh oleh darah dan merasakan bahwa hidungnya sudah tidak mimisan lagi. Hanya saja dirinya semakin lemas dan tidak berdaya.

"Grimmjow-san.. Maaf merepotkanmu.. Bisa tolong bantu aku ke kamarku?"

"Kau sama sekali tidak merepotkanku," ujar Grimmjow langsung menggendongnya menuju kamar.

Ia langsung menempatkannya di atas kasur dengan perlahan lalu menyelimutinya dengan lembut.

"Apa kau mau makan sekarang?"

Orihime mangangguk. Grimmjow langsung berlari ke dapur dan mempersiapkan makanannya. Ia menatanya di atas nampan lengkap dengan air putih dan buah-buahan yang sengaja ia bawa tadi. Dengan segera ia menghampiri Orihime dan langsung menyuapinya makanan.

Orihime sempat menolak karena ia bisa makan sendiri tapi Grimmjow tidak peduli dengan penolakan tersebut dan tetap menyuapi hingga habis.

Setelah semua makanannya habis, ia langsung memakan obatnya dan mulai tiduran. Grimmjow memperhatikan Orihime yang kini mencoba untuk memejamkan matanya.

"Kalau begitu aku pergi," ujar Grimmjow merasa bahwa Orihime mungkin tidak nyaman dengan keberadaannya. Mengingat hal yang terjadi tadi pagi.

Orihime langsung menahan tangannya

"Aku tahu ini merupakan permintaan yang egois.. Tapi bisakah kau tetap di sini menemaniku..?"

Grimmjow menatap Orihime. Padahal ia berniat untuk langsung pulang dan melupakan kejadian hari ini tapi melihat Orihime membuat dirinya tidak menolak nya apalagi ia sedang sakit.

"Baiklah," ujar Grimmjow.

"Terima kasih Grimmjow-san.." ujar Orihime lalu memejamkan matanya.

Grimmjow menatapnya,

'Kau terlalu baik, tidak seharusnya kau langsung percaya padaku.' ujar Grimmjow dalam hati..

Ia langsung mematikan lampu kamar Orihime. Setelah itu ia menggelar futon di sebelah kasurnya. Matanya menatap Orihime yang kini tertidur. Tangannya menggapai wajah Orihime dan mengelusnya dengan lembut.

"Orihime.."

'Perasaan aneh apa ini? Sial, bikin pusing kepalaku saja. Sepertinya aku tertular olehnya.' ujar Grimmjow dalam hati dan langsung tidur memunggungi Orihime.

Sebenarnya Orihime belum tidur dan ia merasakan tangan Grimmjow mengusap wajahnya lembut tadi. Jantungnya berdebar dengan keras dan cepat, ia langsung berbalik membelakangi Grimmjow. Sebenarnya apa maksudnya tadi? Ah.. Sepertinya ia tahu kalau Grimmjow bersikap seperti itu karena dirinya mirip dengan Madeleine. Rasanya menyesakkan.

-O-

Rukia terbangun dari tidurnya mendengar alarm di HPnya berbunyi dengan nyaring. Berkat dirinya yang terlalu antusias, ia jadi kurang tidur dan baru tidur dua jam lalu. Kini matanya terasa berat dan ia mengantuk. Namun badannya sudah bergerak untuk mandi, sebelum itu ia minum air hangat segelas karena hal itu penting untuk dilakukakan setelah bangun pagi hari.

10 menit kemudian ia sudah selesai mandi dan sekarang memakai pakaiannya. Ia memakai celana bahan berwarna lilac senada dengan blazernya, dipadu kemeja berwarna putih.

Setelah selesai memakai pakaian dan berdandan, kini ia sarapan bersama sang kakek.

"Selamat pagi kek.." sapa Rukia sembari duduk di hadapannya.

"Selamat pagi. Jam berapa Ichigo akan menjemput?" tanya kakek sudah mengetahui keberangkatan cucunya.

"Mungkin sebentar lagi."

Tak lama seorang pelayan datang menghampiri.

"Maaf mengganggu sarapan anda, Tuan Ichigo sudah datang menjemput."

"Ah kalau gitu biarkan dia masuk." ujar kakek.

"Baik."

Pelayan tadi pergi untuk menemui Ichigo. Setelah itu ia datang bersama dengannya.

Ichigo memakai celana kain berwarna moka senada dengan blazer dan kemeja putihnya. Ia nampak rapi sepeti biasanya.

"Selamat pagi kakek," sapa Ichigo membungkuk hormat.

"Oh kau sudah datang, apa kau sudaj sarapan? Kalau belum lebih baik sarapan dulu."

"Ah ya terima kasih kek." ujar Ichigo lalu duduk di sebelah Rukia.

Seorang pelayan langsung menyiapkan sarapan untuk Ichigo. Rukia hanya menatapnya dan melanjutkan memakan makanannya.

Sang kakek sudah selesai dan saat ini menikmati teh hijau panas kesukaannya.

"Kudengar kalian akan menginap, aku harap kau menjaga Rukia." ujar Kakek menatapnya serius.

"Tentu saja kek."

"Aku bersiap-siap dulu. Mana kunci mobilmu Ichigo, aku mau masukin koperku." ujar Rukia baru saja menyelesaikan makannya.

Ichigo memberikan kunci mobilnya setelah itu Rukia pun pergi.

Keadaan diantara keduanya begitu hening.

"Ichigo, apa kau serius dengan Rukia?"

Ichigo langsung tersedak, ia meminum teh di hadapannya. Pertanyaan dari sang kakek selalu saja membuatnya terkejut.

"Tentu saja kek! Ah maaf aku jadi sedikit berteriak.."

Sang kakek tersenyum, ia berdiri dari tempat duduknya dan menepuk pundak Ichigo.

"Kalau begitu tolong jaga dia." ujarnya lalu pergi.

Ichigo mengangguk. Tentu saja ia serius dengan Rukia dan berusaha memperjuangkan dirinya walau Rukia tidak menyadari akan hal itu. Jika waktunya sudah tepat, Ichigo akan langsung menyatakan perasaannya pada Rukia. Ia tidak mau dirinya keduluan lagi seperti dulu saat Rukia bertunangan dengan Ashido.

"Oi makanmu sudah beres? Bukannya kita harus buru-buru?" ujar Rukia sudah berada di belakangnya.

Ichigo langsung menghabiskan makanannya.

"Ini sudah mau beres kok."

"Ck lama. Kalau gitu aku pamitan dulu dengan kakek dan Ryuu."

"Eh tunggu!"

Ichigi menghabiskan makanannya setelah itu ia langsung menghampiri Rukia untuk ikut berpamitan dengan kakek dan Ryuu. Setelah beres berpamitan keduanya langsung masuk ke dalam mobil.

"Hati-hati di jalan ya Mommy, paman!" seru Ryuu yang mengantar keduanya sampai depan mansion bersama kakek dan beberapa pelayan.

Rukia melambaikan tangannya setelah itu keduanya pun berangkat menuju bandara. Mereka menggunakan jet pribadi milik Ichigo untuk berangkat ke Okinawa. Ia diundang ke acara yang diadakan rekan bisnisnya di sana sekaligus bisnis.

-O-

Perjalanan menuju Okinawa cukup lancar. Keduanya langsung menuju hotel mewah yang sudah ia reservasi. Sesampainya disana ia langsung bertemu dengan rekan bisnisnya dan membicarakan pekerjaan mereka. Rukia memperhatikan sosok Ichigo yang penuh wibawa dan santai saat bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya. Terlihat jelas bahwa mereka menyukai sosok Ichigo.

Dua jam berlalu dan pertemuan mereka pun selesai.

"Sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktumu yang sibuk. Ohya kudengar kau belum ada pasangan, bagaimana jika berkenalan dengan anak perempuan ku?" tanya salah satu rekan bisnisnya.

"Anakku juga kebetulan sedang single."

Ichigo hanya tersenyum,

"Terima kasih, akan aku pertimbangkan." ujarnya seramah dan sebaik mungkin.

"Fufu jangan bilang kau sudah ada calon ya."

"Hehe begitulah." ujar Ichigo sedikit malu karena calonnya berada tepat di sebelahnya alias Rukia.

Rukia mendengar hal itu dan merasa aneh. Pantas saja selama ia masih melajang ternyata ia sudah punya seseorang. Rasanya sedikit kecewa juga mendengar hal itu tersebut. Tapi kecewa karena apa?

"Kalau begitu sampai jumpa acara malam nanti."

"Ya. Sampai jumpa semuanya."

Mereka pun pergi dan meninggalkan keduanya. Ichigo menghela nafasnya lega.

"Selalu saja berakhir dengan jodoh-jodohan. Apa kau lapar Rukia?" tanya Ichigo.

"Ah tidak, aku baik-baik saja."

"Hm kalau begitu kau mau istirahat atau jalan-jalan?"

"Bebas."

HP milik Ichigo bergetar tanda telepon masuk. Ichigo langsung mengangkatnya.

"Halo? Eh kau sudah di lobby? Padahal aku tidak ingin merepotkanmu. Ah baiklah aku ke sana sekarang." ujar Ichigo mengajak Rukia ikut bersamanya menuju lobby hotel.

Mereka berjalan hingga melihat beberapa bodyguard sedang menjaga seorang gadis yang tengah duduk sambil menelpon.

Rukia menatap bingung sedangkan Ichigo tersenyum, "Aku sudah ada di belakamgmu."

Gadis itu bangun dari tempat duduknya dan berbalik, ia tersenyum senang menatap Ichigo namun terkejut menatap Rukia yang berada di sampingnya.

Ichigo langsung menghampirinya,

"Sudah aku bilang kau tidak usah repot-repot menghampiriku, Senna." ujar Ichigo mematikan teleponnya.

Rukia menatap Senna,

"Ah kau.."

Senna tersenyum, "Halo Kuchiki-san, kita bertemu lagi. Aku kira kau datang bersama sekertarismu."

"Ah senang bertemu lagi denganmu," ujar Rukia tersenyum.

"Sekertarisku sedang sakit jadi aku meminta Rukia untuk menemaniku. Oya bagaimana keadaan paman?"

"Ah begitu.. Ayahku baik-baik saja justru ia sangat senang dan menanti kehadiranmu malam nanti. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan denganmu katanya."

"Heh tentu saja aku datang ke pestanya. Ohya selamat sudah keluar dari rumah sakit ya Senna."

"Hehe ucapkan itu saat pesta nanti. Padahal aku sudah bilang pada ayah untuk tidak mengadakan pesta perayaan diriku, rasanya berlebihan."

"Bagiku itu tidak berlebihan. Beliau melakukan hal tersebut karena sayang padamu."

Senna tersenyum, "Hehehe ya juga sih. Ah ya apa kalian sudah makan? Kalau belum, bagaimana kalau kita makan bersama?"

"Ah kebetulan kami juga mau pergi makan ya kan Rukia?"

Rukia terdiam dan ia sadar akan lamunannya. Ia merasaa bahwa keduanya begitu akrab dan Senna seperti menaruh perasaan pada Ichigo.

"Sepertinya aku ingin istirahat. Kalian saja yang pergi.." ujar Rukia.

"Eh? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ichigo khawatir.

Rukia tersenyum, "Aku baik-baik saja Ichigo. Lebih baik kau temani Senna-san makan siang."

"Err aku bisa atur itu, tapi apa benar kau baik-baik saja?"

"Kau ini terlalu parno, aku baik-baik saja, Ichigo. Ya sudah kalau gitu aku tinggal dulu ya Ichigo, Senna-san."

"Eh apa kau yakin? Baiklah kalau begitu.. Sampai jumpa nanti, Kuchiki-san." ujar Senna.

Ichigo menatap Rukia khawatir.

Rukia berjalan memasuki lift dan melihat Ichigo yang masih menatapnya. Ia memajamkan matanya dan langsung menutup pintu lift. Entah kenapa sosoknya bersama gadis lain membuatnya sebal. Ia cukup muak dengan pemandangan tersebut dan ingin cepat kembali ke kamarnya.

Pintu lift terbuka, ia langsung menuju kamarnya yang berada di pojok lorong. Ia masuk ke dalam dan menghempaskan dirinya ke atas kasur berukuran king size yang empuk. Baru sampai bukannya senang malah bete. Ia langsung mengambil HP dan melihat tempat-tempat menarik di Okinawa untuk menjelajahinya seorang diri. Pasti sekarang Ichigo sedang makan bersama Senna sambil menatap indahnya lautan.

"Hah.. Kenapa aku jadi kepikiran yang tidak-tidak sih!?" seru Rukia kesal.

-ting tong-

Rukia langsung menatap kesal ke arah pintu kamarnya. Siapa pula yang mendatanginya di saat dirinya kesal.

Ia menatap dari lobang pintunya dan melihat Senna sudah berada di depan kamarnya. Ia datang bersama dua bodyguardnya namun tidak terlihat ada sosok Ichigo di sebelahnya.

Rukia langsung merapihkan pakaiannya dan memperhatikan wajahnya di cermin. Setelah merasa sudah cukup rapi, ia langsung membuka pintu kamar sambil menyambut Senna dengan senyuman seramah mungkin.

"Senna-san? Ada apa? Kau tidak pergi makan dengan Pak Kurosaki?"

"Ah Ichigo menolakku dan pergi entah kemana. Ohya bisa kita bicara di dalam?"

Rukia merasa bingung namun ia mengangguk dan mempersilahkan Senna masuk ke dalam dan dua orang bodyguardnya menjaga di depan pintu. Senna langsung duduk di sofa sambil memperhatikan seisi kamar hotel Rukia. Sedangkan Rukia menyiapkan teh dan memberikannya pada Senna. Setelah itu ia duduk di hadapannya.

"Terima kasih tehnya Kuchiki-san.. Kalau begitu aku langsung ke intinya saja." ujar Senna meminum teh tersebut.

Setelah meminum tehnya, senyumannya pudar. Wajah Senna langsung berubah serius dengan mata yang tajam. Rukia bisa merasakan ada yang berbeda dari Senna.

"Aku harap kau tidak datang ke pesta nanti." ujar Senna.

"Apakah itu perintah?" tanya Rukia. Ia tidak takut sama sekali dengan Senna hanya bingung saja kenapa Senna mengintimidasinya seperti ini.

"Kalau kau benar-benar ingin datang, aku tidak menjamin perasaanmu."

"Maksudmu?"

"Malam ini adalah malam yang spesial bagiku, jadi aku tidak mau ada gadis lain datang bersama Ichigo. Kau mengerti?"

Rukia menaikkan sebelah alisnya. Mana dia tahu kalau pesta malam ini adalah pesta penting bagi Senna. Ia datang hanya karena diajak oleh Ichigo. Baginya pesta ini tidak terlalu penting baginya jadi mau ia datang atau tidak itu sama saja. Rukia mengerti sekarang kalau Senna ingin memiliki Ichigo seorang diri di pesta malam ini.

"Maaf saja aku mengganggu acaramu, aku datang kemari murni karena diajak oleh Ichigo bukan karena hal lain. Jika itu maumu maka aku akan mengikutinya karena aku tidak ingin berbuat onar di acara orang lain. Apakah sudah cukup atau ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" tanya Rukia dengan wajah tak kalah sinis.

Senna tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya.

"Baiklah kalau kau mengerti. Dengan begitu aku bisa bernafas lega dan memikirkan pesta malam ini. Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, semoga harimu menyenangkan, Kuchiki-san." ujar Senna lalu pergi meninggalkannya.

-blam-

Rukia menghela nafas dengan perasaan kesal. Ternyata dugaannya benar kalau Senna memiliki perasaan terhadap Ichigo dan ia tidak menyukai kehadirannya di samping Ichigo. Kalau begitu buat apa ia kemari jika dirinya saja tidak diperbolehkan untuk datang?

"Rasanya aku seperti orang bodoh datang kemari tanpa tahu apa-apa. Lebih baik aku pulang saja nanti malam." ujar Rukia langsung menelpon orang rumahnya untuk menjemputnya menggunakan jet pribadi miliknya.

-O-

Malam pun tiba, Rukia sudah bersiap-siap akan pulang dan dijemput orang kepercayaannya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Ichigo dan pesta bodohnya malam ini. Mengingatnya saja sudah membuatnya muak.

-tuktuktuk-

Rukia menatap dari lubang pintunya dan melihat sosok Ichigo sudah rapi dengan jasnya, ia sudah bersiap untuk pergi ke pesta. Rukia sama sekali tidak memberitahu Ichigo bahwa dirinya akan pulang malam ini.

"Rukia apa kau sudah selesai?"

Rukia berniat pulang diam-diam tanpa sepengetahuan Ichigo. lagipula ada dirinya dan tidak ada pun sama saja bukan? Dirinya hanya partner sementara untuk Ichigo tidak lebih.

Namun rasanya tidak sopan jika ia pulang diam-diam tanpa memberi tahu Ichigo. Terpaksa ia membuka pintu kamarnya. Ichigo menatap bingung sosok Rukia yang saat ini nampak santai dengan pakaiannya.

"Lho kok belum siap?"

"Maaf Ichigo aku sepertinya tidak bisa ikut. Aku memutuskan untuk pulang malam ini sendirian."

Ichigo terkejut, "Apaa? Kau bicara apa?" tanya Ichigo masuk ke dalam dan menutup pintunya.

Rukia masih menunduk dan enggan menatap wajah Ichigo. Rasanya memuakkan menatap wajahnya.

"Rukia, kau sakit?" ujar Ichigo menyentuh dahi Rukia.

Rukia langsung menepis tangan Ichigo, ia terkejut dengan sikapnya sendiri. Tangannya reflek menepis tangan Ichigo.

"Ma-maaf aku.. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku seperti orang bodoh yang hanya mengganggu pestamu.."

"Kau bicara apa sih!? Kata siapa kau menggangguku? Justru aku mengajakmu karena itu kau."

"Ya aku mengerti.. Aku sahabatmu dan bisa kau andalkan.. Tapi alangkah baiknya kau pergi sendirian ke pesta malam ini. Aku tidak mau merusak suasanamu."

Ichigo bingung dengan sikap Rukia yang tiba-tiba. Kenapa bisa ia bicara seperti itu? Padahal sebelumnya ia nampak baik-baik saja. Atau jangan-jangan ia terpaksa datang kemari?

"Maaf sepertinya aku memaksamu untuk ikut bersamaku." ujar Ichigo menatap sedih Rukia.

Rukia menggelengkan kepalanya,

"Aku tidak terpaksa kok, justru aku senang tapi aku memang harus pulang malam ini."

"Kalau begitu aku akan ikut pulang bersamamu."

Rukia terkejut, "Kau tidak usah ikut pulang, bukannya pesta malam ini penting? Pasti Senna-"

"Bagiku yang terpenting adalah dirimu, Rukia."

Rukia tertegun entah kenapa perasaannya penuh oleh rasa senang saat mendengar hal tersebut. Namun ia tidak boleh bersikap egois dan membiarkan Ichigo pulang bersamanya. Karena ia merasa bahwa Senna sangat menginginkan kehadiran Ichigo pada pestanya nanti.

"Ichigo.. Kau juga penting bagik dan aku senang mendengarnya.. Tapi Senna-san sangat mengharapkan kedatanganmu. Kau harus menghargainya dan pergi sekarang juga." ujar Rukia mendorong tubuh Ichigo pelan.

Ichigo menghela nafas dan menggenggam tangan Rukia,

"Rukia tolong tatap mataku sekarang. Apa kau betul-betul senang saat aku pergi menemui gadis lain?"

Rukia menatapnya dan tersenyum, "Tentu saja Ichigo. Aku selalu menghargai keputusanmu. Aku akan senang denga-"

"Kau bohong."

"Eh?"

"Memangnya sudah berapa lama aku mengenalmu? Jika kau benar-benar tidak ingin aku datang maka aku tidak akan datang."

Rukia tersenyum dan melepaskan tangannya, "Astaga Ichigo, sejak kapan aku seegois itu hehe. Sudah aku bilang aku baik-baik saja dan aku pulang karena ada keperluan lain yang lebih penting. Ah jemputanku sudah datang, aku duluan ya Ichigo." ujar Rukia langsung mengambil kopernya dan memakai mantelnya.

Ichigo mengepalkan tangannya dan mendecih. Rukia hendak membuka pintu kamarnya namun langsung ditahan oleh Ichigo. Kini dirinya terperangkap oleh sosok Ichigo yang begitu dekat dengannya.

"Jika kau benar-benar pergi, maka kau benar-benar tidak peduli denganku dan hubungan pertemanan kita selesai sampai di sini."

Rukia terkejut dan hatinya sedikit goyah. Ia sama sekali tidak mengharapkan perkataan tersebut keluar dari mulut Ichigo. Bagaimanapun juga, Ichigo merupakan orang paling penting baginya dan ia tidak mau kehilangan dirinya. Tapi ia juga tidak mau melukai perasaan gadis lain yang mengharapkan diri Ichigo, mungkin saja gadis itu bisa membahagiakan Ichigo.

Rukia memejamkan matanya, "Maaf Ichigo.." Ia langsung membuka pintunya.

Ichigo terkejut dan kecewa melihat Rukia yang pergi begitu saja meninggalkannya saat ini. Kejadian ini sama seperti dulu, dimana Rukia pergi meninggalkannya begitu saja ke luar negeri setelah itu tak ada kabar lagi darinya. Ia tidak percaya bahwa kejadian itu akan terulang lagi sekarang.

"Rukia!"

Rukia tidak bergeming dan terus melanjutkan perjalanannya. Ichigo langsung terduduk lemas dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sedangkan Rukia melanjutkan perjalanannya dengan matanya yang sedikit basah. Hatinya benar-benar sakit dan ia benci terhadap dirinya sendiri. Sejujurnya ia ingin sekali menghampiri Ichigo sekarang juga tapi ia mengurungkan segala niatnya tersebut.

-O-

Pesta yang diadakan di suatu resort mewah dihadiri oleh orang-orang penting dan populer. Banyak sekali wartawan yang datang meliput acara tersebut. Acara ini sengaja diadakan oleh Ryuuzaki Group untuk mengadakan penggalangan dana bagi mereka yang membutuhkan sekaligus merayakan kesembuhan Senna. Senna merupakan anak satu-satunya dan sangat disayangi oleh ayahnya sang pendiri dari Ryuuzaki Group. Senna memiliki wajah yang cantik serta citra yang baik di mata orang-orang. Ia selalu terlibat dengan acara amal maupun bakti sosial. Maka dari itu sosoknya dielu-elukan oleh semua orang.

Sedari tadi ia bertemu dengan para tamu undangannya namun hanya satu orang yang benar-benar ia tunggu yaitu Ichigo. Sudah hampir setengah jam acara berlangsung namun Ichigo belum juga hadir.

"Ah itu bukannya Kurosaki-sama!?"

"Astaga dia tampan sekali!"

"Cepat ambil fotonya sekarang!"

Ichigo keluar dari mobilnya, tatapannya lebih dingin dari biasanya dan ia tampak karismatis. Ia menyapa baik para tamu undangan yang menyapanya namun ia memilih untuk langsung bertemu Ayah Senna.

"Selamat malam paman, maaf aku datang terlambat."

"Oh nak Ichigo! Akhirnya kau datang juga!"

Ichigo tersenyum, "Tentu saja, maaf membuatmu menunggu. Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja, seperti biasa kau selalu sopan dan ramah ya. Kau datang sendirian? Kudengar nona Kuchiki datang bersamamu?"

"Ah Kuchiki-san tidak bisa hadir karena ada keperluan yang mendadak sehingga ia harus kembali ke Karakura malam ini juga. Ia menyampaikan pesan maafnya karena tidak bisa hadir."

"Hmm sayang sekali ya padahal aku ingin mengobrol banyak dengannya. Ah kalau begitu kau nikmati acaranya ya,"

Ichigo tersenyum lalu pergi menuju balkon yang sepi sambil meminum segelas wine. Sebenarnya ia sama sekali tidak mood datang ke acara pesta seperti ini karena ia harus berpura-pura ramah dan tersenyum seperti orang bodoh sedangkan aslinya ia sedang bad mood dan ingin sekali menerkam seseorang. Ini benar-benar bukan waktu yang tepat untuk sosialisasi namun ia harus tetap bersikap profesional.

"Ichigo..!"

Ichigo menoleh dan melihat Senna berjalan dengan wajah berseri menghampiri dirinya.

Ichigo berusaha tersenyum padanya, "Ah Senna,"

Senna melihat Ichigo sendirian tanpa ada kehadiran Rukia di sampingnya.

"Kuchiki-san dimana?" tanyanya pura-pura ingin tahu.

"Ah dia ada keperluan mendadak sehingga harus cepat pulang, maaf ya."

"Ah begitu sayang sekali ya.. Kalau begitu kau sendirian dong Ichigo?"

"Ya begitulah," ujar Ichigo dan kembali terdiam sambil menatap langit malam. Ia sama sekali tidak ingin mengobrol dengan siapapun, rasanya ia ingin cepat pulang ke Karakura.

Senna tersenyum dan mendekatkan dirinya dekat dengan Ichigo. Ichigo menyadari hal tersebut namun biasa saja.

"Ichigo, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu.."

Ichigo terdiam dan tidak peduli dengan apa yang Senna bicarakan. Perasaannya seakan mati dan pikirannya dipenuhi oleh wajah Rukia.

"Apa?"

Wajah Senna memerah, "Apakah ada seseorang yang kau sukai saat ini..?"

Ichigo terdiam, tentu saja ada, siapa lagi kalau bukan Rukia. Rasanya ia ingin sekali bicara seprti itu pada Senna bahkan pada dunia tapi ia mengurungkan niatnya.

"Kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja. Karena sebelumnya kau pernah ada hubungan dengan nona Neliel dan setelah putus dengannya, kau selalu dikabarkan dekat dengan beberapa wanita.."

Ichigo tidak pernah menyangka bahwa ia selalu menjadi bahan gosip para awak media jika kelihatan dengan seorang wanita. Tapi ia tidak pernah melihat berita dirinya dan Rukia tertulis di media. Padahal ia sangat mengharap berita tersebut.

"Hmm aku tidak peduli dengan gosip seperti itu. Oh ya ngomong-ngomong Senna ada yang ingin aku bicarakan mengenai suatu hal."

"Apa itu Ichigo?"

Ichigo membicarakan tentang project yang akan ia buat nanti dan meminta saran Senna. Senna cukup senang ditanyai hal tersebut dan pembicaraan mereka tampak asyik. Ichigo tidak menyadari bahwa dari bawah ada beberap awak media yang mengabadikan momen kebersamaan mereka berdua. Sedangkan Senna sudah tahu dan sengaja agar berita tentang mereka mencuat di media nantinya.

.

.

.

.

To be Continued..


Preview for next chapter

Mata keduanya saling bertemu namun tidak peduli, seperti ada tembok es yang membatasi keduanya.

'Perkenalkan ini Senna, dia rekan kerja kepercayaanku.'

'Oh jadi itu pacar baru Pak CEO.'

'Kau yakin Rukia-chan!?'

'Tentu saja, dia bilang pertemanan kami sudah selesai. Aku rasa itu sudah cukup bagiku.'

'Rukia, aku datang menjemputmu. Aku sangat merindukanmu..'

'Ah, kau..'